Teruslah Berkiprah, wahai Pasar Syariah!

Horraaaayyy…! Postingan tema #LBI2016 #LigaBloggerIndonesia kali ini membahas tentang Pasar Tradisional.  Hip hip horraaaayyy…!!

Saya paling suka kalau diajak blusukan ke pasar tradisional ala pakde Jokowi. Di mata saya, pasar itu kan semacam miniatur rakyat Indonesia. Jadi, bisa  merepresentasikan kondisi rakyat yang sesungguhnya.

Kita bisa ngobrol—dengan sangat-sangat humanis—bersama para pedagangnya. Kita juga bisa bercengkrama sejenak dengan tukang parkir. Atau, berbagi informasi dengan pembeli yang lain… Bisa dapet “hosip-hosip” hahahahaha, ataupun bisa membeli plus menikmati jajan pasar yang mak nyus dengan harga murah meriaaaah, pokoke mantaapp!

Walaupun tempat tinggal saya “dikepung” puluhan minimarket, hipermarket, toserba dan lokasi shopping modern lainnya, saya tak bisa move on dari pasar tradisional. Aura kehangatan, sapaan yang genuine, tidak dibuat-buat, interaksi yang ngangenin, itulah yang saya rindukan selalu dari pasar tradisional.

Persis seperti mas Riri Riza—sutradara handal itu—yang kerap blusukan di pasar demi mendapatkan plus mendalami karakter tertentu. Ya jelas lah, pasar kan kumpulan karakter manusia.

Mau cari pedagang bakhil? Ada! Pembeli yang nggak sopan karena nawarnya nggak kira-kira? Banyak! Tapi, percayalah, kita akan selalu merindukan semua “drama” yang terjadi di pasar tradisional!

Saya berusaha meluangkan waktu untuk silaturahim ke berbagai pasar di Surabaya. Meski terkadang kudu berjalan miring ala mister crab di kartun Spongebob (maklum badan saya kan “luas”) saya tetap “fanatik” dengan pasar tradisional. Salah satu yang saya jadikan jujugan adalah Pasar Syariah Az-Zaitun, di kawasan Kutisari Selatan Surabaya.

Pasar Syariah? Serius??

Yap, serius banget. Pasar ini memang mengusung semangat syariah dalam perjalanan bisnisnya. Adalah seorang Prof Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, SE, pakar sekaligus guru besar Ekonomi Syariah Unair (Univ. Airlangga) yang mengusung ide pendirian pasar syariah. Beliau ingin mengaplikasikan prinsip syariah dalam sebuah pasar. Maklum saja, selama ini, tidak sedikit masyarakat yang skeptis dengan konsep syariah. Ada yang menuding bahwa syariah hanya sekedar “label”. Wuitss, ini nih, yang membuat Prof Suroso terpanggil untuk melahirkan gebrakan pasar syariah.

prof suroso

Prof Suroso dan cucunya  saya, @nurulrahma 🙂

Prof Suroso terinspirasi sebuah riwayat, bahwa Rasulullah pernah mengumpulkan sejumlah sahabat di sebuah tanah lapang yang kosong untuk membahas pendirian pasar. Pada waktu itu, Rasulullah merasa prihatin lantaran menyaksikan aneka praktik ribawi, tipu muslihat dan sebagainya yang berlangsung di pasar. Dengan amar ma’ruf nahi mungkar (menyebarkan kebaikan, menolak kemungkaran), Rasul mengajak sahabat untuk mendirikan pasar yang menegakkan syariat Islam. Pasar ini harus bebas riba, bebas kecurangan timbangan, bebas tipu muslihat sekaligus hanya menjual barang-barang yang halal sesuai syariat. Dari situlah, Prof Suroso terinspirasi untuk meneladani jejak Rasul.

Ada lahan seluas 800 meter persegi milik Prof Suroso yang berada di kawasan Kutisari Selatan. Lahan inilah yang akan beliau “hidupkan” sebagai pasar syariah. Beliau menawari sejumlah pedagang (yang kesulitan cari lahan) untuk membuka lapak, dengan masing-masing kios berukuran 2×2 meter. Pasar ini diresmikan dan mulai beroperasi sejak tahun 2010. Harga sewanya amat terjangkau, 5000 rupiah per hari. Karena sewa kios amat murah, tak heran, pedagang juga bisa memberlakukan harga yang amat bersahabat. Saya sempat berbincang dengan Ibu Laila, salah satu pedagang sayur di sana. ”Alhamdulillah, saya bersyukur bisa berjualan di sini, karena suasananya enak,” ucap beliau.

Yang jelas, para pedagang di Pasar ini harus memegang teguh 7 konsep khas pasar syariah Az-Zaitun Pertama, barang yang diperdagangkan halal. Kedua, alat timbang dan alat hitung tepat. Ketiga, kebersihan yang terjaga. Keempat, kejujuran. Kelima, persaudaraan  antar pedagang. Keenam, larangan merokok di dalam pasar. Ketujuh, harga yang murah meriah.  

Apabila dijalankan dengan benar, maka konsep pasar syariah bakal menguntungkan semua stakeholder di pasar. Yap, ketujuh konsep ini berpihak pada rakyat, para konsumen, pedagang (pelaku usaha) sekaligus investor atau pemilik lahan. Ada 120 kios yang beroperasi, dan ini adalah pasar syariah pertama di Indonesia.

Eh, karena namanya syariah, apakah semua stakeholder harus beragama Islam? Oh, tentu tidak. Konsep ekonomi syariah ini bermanfaat untuk seluruh penghuni semesta. Jadi, beberapa pedagang ada yang beragama Nasrani, Hindu dan sebagainya. Pembelinya juga begitu. Betul-betul pasar yang memberi kemanfaatan optimal untuk semua.

Prof Suroso menuturkan, bahwa apa yang beliau lakukan tulus untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan. Selain menghidupkan pasar, beliau juga mendirikan At Tiin Islamic Foundation. Yayasan ini yang memberikan fasilitas pendanaan, berupa bantuan pinjaman bagi para pedagang tanpa bunga. Tentu, ekonomi dan prinsip syariah berlaku di konsep pinjaman modal perdagangan ini. Tidak ada persaingan yang sampai “berdarah-darah” antara pedagang, karena yang ditonjolkan adalah prinsip saling menolong, sesuai perintah syariat Islam.

Wah, wah, wah… Keren sekali ya, pasar syariah ini. Barangkali, pengelola pasar lain bisa melakukan studi banding dengan Prof Suroso, di Kampus B Fakultas Ekonomi Syariah Universitas Airlangga Surabaya.

Hidup Pasar Rakyat!

Hidup Pasar Syariah!

Diikutsertakan dalam postingan tema#LigaBloggerIndonesia2016 #LBI2016

(*)

 

Advertisements

49 comments

  1. tyasetarabitansardjono · January 27, 2016

    Wah pasar syariah kaya apa tu?
    @guru5seni8

  2. Kata Sie Lita · January 27, 2016

    Aku baru tahu…makasi infonya.

  3. nikarnis · January 27, 2016

    Menarik sekali Mbakyu. Jadi penasaran deh. Kutisari emang gaka jauh dari rumah tapi pengen dateng ke sana kapan-kapan. Maturnuwun ceritanya Mbakyu.

    • bukanbocahbiasa · January 27, 2016

      Iki Dani? Hihihiiii

      • dani · January 27, 2016

        Iya Mbakyuuu… Lupa gantiii. Hahahaha.

  4. Adib Hilman · January 27, 2016

    Wah baru tahu di Surabaya ada Pasar Syariah mbak. Nice Info.
    Kontennya berbobot sekali. Mantaaappp

    *semangat, kurang 2 komen lagi 1 poin nih. Hahaha

  5. dani · January 27, 2016

    Ealah. Salah akun. Hahaha. Iku munu aku Mbakyu. Dani. Lagi pake akun temen yang sedang disetting eh lupa logout. Hahaha. Ngapunten nggih Mbakyuuu..

  6. belalang cerewet · January 27, 2016

    Sama, Mbak, saya juga senang ke pasar tradisional. Aroma dan dinamikanya ngangenin hehe. Tiap hari saya beli kelapa. Senang lihat paprika, cabe keriting, pisang, dan beragam orang dengan aneka kerakter dan perjuangan. Viva pasar tradisional!

    • bukanbocahbiasa · January 27, 2016

      Beneeerrrr Bang… Kudu dipopulerkan lagi ya, eksistensi pasar traditional ini

      • belalang cerewet · January 27, 2016

        Betul, selain membantu ekonomi penduduk lokal juga bisa memperkaya pengalaman anal-anak loh, biar ga selalu belanja di mal aja, Mbak.

  7. ayanapunya · January 27, 2016

    keren euy ada pasar syariah. kalau saya juga setelah nikah jadi hobi ke pasar yang ada di dekat kantor. di situ ikannya banyak macamnya. malah sekarang sudah punya langganan sayur sendiri. heuheu

  8. Jenggala Aksara · January 27, 2016

    istilah dan penamaan baru buat saya tentang Pasar Syariah itu ^___^v

  9. nur fajar romadon · January 27, 2016

    aku baru denger hahaha, kaya apa sih? beda kah dengan pasar biasa?

  10. inda chakim · January 27, 2016

    aakkkk senengnyaaa, ada larang merokok di dalam pasar jugak
    saya suka saya suka 🙂

  11. Marfa · January 27, 2016

    Wah baru denger nih pasar syariah 😀

    @umimarfa

  12. Gilang Maulani · January 27, 2016

    perasaan di spongebob mr.crab jalannya lurus mba ehehe #SalahFokus waah pasar syariah pertama di Indonesia? keren ya. kalau gak ada yang ngerokok enak dong, nyaman belanjanya 🙂

    @gemaulani

  13. adibriza · January 27, 2016

    bagus konsep pasarnya 🙂

    @adibriza

  14. Rahmah Chemist · January 27, 2016

    Eh ada pasar Syariah ya? Tapi sayang ga menyebar ya di semua daerah
    Andai saja dekat, saya lebih memilih kesana

    @amma_chemist

  15. Ceritaeka · January 27, 2016

    Aku baru tau ada Liga Blogger Indonesia 😐 Ke mana aja ya aku 😦
    Btw aku juga suka ke pasar tradisional. Suka dengan nuansa keakrabannya ^_^

  16. Kang Darsono · January 27, 2016

    wah, baru tahu saya kalau ada pasar syariah…
    keren keren keren..

    Semoga di Banyumas bisa ada pasar kek gitu 🙂

  17. rahmiaziza · January 27, 2016

    Keren konsepnya, moga tambah banyak dan berkah rejekinya ya Prof 🙂

  18. Wulan Dalu · January 27, 2016

    Kalau kepasar suka kalap, gelap mata, ujug2 banyak aja bawaan haha

    Yg syariah-syariah ya…hmm…Hidup emas *eh

  19. Fera · January 27, 2016

    Makasih infonya mak,, aku baru tau nih ada pasar syariah… 😉

  20. Dita · January 27, 2016

    wow baru tau nih mbaaak, keren yaaa kalo pasar kayak gini. Pedagang sejahtera, pembeli juga senang. Luar biasa banget Prof Suroso

  21. Dini Febia · January 27, 2016

    Keren. 😀

  22. Inayah · January 27, 2016

    Eh iya juga ya mba:-) syar’e

  23. Elisa · January 27, 2016

    Saya taunya cuma pasar atom sama pasar turi kalau di Surabaya, Mbak.. Itu pun pasar yang sudah masuk semi modern. Kalau ke Surabaya kepoin pasarnya, ah..

  24. damarojat · January 27, 2016

    baru tahu mbak. di pasar itu juga nggak boleh ngamen dan ngemis mbak?

    kalo nggak salah di pasar di sragen ada tu larangan ngamen. tapi lupa-lupa ingat, larangan ngamen apa ngerokok gitu. *lah, jauh amat bedanya*

    @diahdwiarti

  25. diah siregar · January 27, 2016

    wah.. kereeen!!! semoga Prof Suroso selalu diberi kesehatan dan umur yang panjang ya mbak. dan semoga banyak yang meniru jejak beliau, berbuat tulus untuk kemaslahatan umat.
    btw, kalau ada kesempatan ke Surabaya, saya pengen main-main ke pasar ini ah 🙂

    @QuelleIdee07

  26. Susie Ncuss · January 27, 2016

    Wah keren banget.
    Pingin berkunjung!

  27. eda · January 27, 2016

    aku suka ke pasar tradisional, apalagi ke pabean, pasar ikannya wuuuh… sueneeeeng banget!

  28. Sie-Thi Nurjanah · January 27, 2016

    Waah..pasar syariah ?? baru dengar sebenarnya. Unik semoga memang menerapkan nilai-nilai berdagang secara islami ya mba. semoga semakin menular ke kota-kota lain

    @siethi_nurjanah

  29. Mutia Nurul Rahmah · January 27, 2016

    maaaakk… keren banget.. pasar yang sistematis yaaa

    @mutmuthea

  30. Prita P · January 27, 2016

    “Walaupun tempat tinggal saya “dikepung” puluhan minimarket, hipermarket, toserba dan lokasi shopping modern lainnya, saya tak bisa move on dari pasar tradisional.”

    Setujuuuuu

  31. Liza Fathia · January 27, 2016

    Wah wah, keren ya mbak. Aceh harus belajar nih

  32. Hafidh Frian · January 27, 2016

    Wah 3 tahun di sby baru tau ada pasar syariah macam begini. Msh awam, musti jalan2 lagi nih mumpung lg senggang. Nice info mbak..

  33. daniarjemi · January 27, 2016

    hidup pasar tradisional!!!

  34. andhikamppp · January 27, 2016

    Saya tertarik nih mbak sama poin kedua di 7 konsep khas pasar syariah Az-Zaitun :

    Mengenai alat timbang dan alat hitung tepat. Berarti kan maksudnya untuk menghindari “pencurian” timbangan dari si pedagang kan yaa.

    Nah untuk memastikan persyaratan kedua ini berjalan dengan baik, apa disana ada proses kalibrasi timbangan dan alat hitung mbk ??

    Soalnya, sensitivitas timbangan dan alat hitung itu sangat-sangat bervariasi 🙂

  35. sepintas awalnya kupikir dipisah antara laki dan perempuan, hicks. Dangkal amat pikiran saya. Wkwk

    tapi keren ya? kalau ikut teladan rasul insyaallah sejahtera deh semuanya, drama lebay nawar barang sampai gak kira-kira juga bakal terhindar. Hehe

  36. fauziqbal · January 28, 2016

    kebetulan ibu saya juga pedagang kecil di pasar tradisional. senang rasanya jika berkunjung ke lapak beliau 🙂 semoga ke depan, mereka-mereka inilah yang diberdayakan.

  37. aleksdejavu · January 28, 2016

    baru tau kalo ada pasar syariah 😀
    @aleksdejavu

  38. Ririe Khayan · January 29, 2016

    Ada pasar syariah di Surabaya? di kutisari…?

    eh. lah kayaknya aku belum pernah blusukan dan kesasar sampe kutisari neh Mbak. JAman kuliah, aku dulu suka belanja di pasar yg jalur lyn P, menur pumpungan kalau gak salah ya?

    sama di pasar yang ke arah kenjeran tapi masih gak jauh dari Poltek, kalau pagi ada pasar di pinggir jalan kala itu. *ketahuan gak apdet*

    @ririekayan

  39. rizalarz · January 30, 2016

    Itu baru pasar yang Syariah udah nyenening hati dan menentramkan ya, apalagi di setiap sendi kehidupan. Dan lebih lebih negara kita juga menerapkan hukum Syariah….. aamiin…Allahu Akbar!!
    @rizalarz

  40. Kania · February 1, 2016

    Kereeen ada pasar syariah sperti ini..andai di smua daetah ada ya mba..

  41. Iqbal Rois · February 2, 2016

    Wah.. Pasar soponyono.. Deket kampusku dulu.. 🙂

  42. rosyid · February 28, 2016

    keren lah pasar model begini, infonya sangat menarik

  43. adamsaljawiyu · March 10, 2016

    aku dukung mba…
    semoga progam ini bisa menyebar ke daerah-daerah lain di Indonesia…
    salam kenal mba

  44. Manda · March 15, 2016

    Semoga kedepannya pasar syariah lebih banyak lagi di daerah2 lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s