Dilarang Sombong

Memang Allah tidak mengizinkan hamba-Nya untuk sombong 🙂

Baiklah. Aku mulai ceracau tak karuan ini ketimbang kepala meledak karena emosi yang menggelegak.

Ceritanya, dua hari lalu, Sidqi anakku ditunjuk gurunya untuk ikut seleksi pra-olimpiade. Kayaknya sih, ujung-ujungnya bakal mewakili Kecamatan, dan at the end of the day bakal berkompetisi di level kotamadya.

FYI, dari 40-an siswa di kelas, Sidqi yang terpilih untuk mewakili lomba matematika. See? Jadi, anakku itu sebenernya enggak bodoh (lagian, siapa sih maaaak, yang bilang sidqi bodo? :P)

Aku sebagai emaknya tentu terhura, karena ngga biasanya guru memberi kesempatan pada Sidqi untuk maju berkompetisi. Dia ini anak tunggal, terbiasa dimanja, diasuh dengan helicopter parenting style (blame me for this!) dan yaaa  begitulah….

Sidqi bukan tipe petarung yang siap kalah ataupun menang. Bahkan, sempat bilang gini,

“Aku kan pemalu, Bu…. Nanti kalau aku menang trus disuruh naik panggung, aku malu…”

*sigh*

Buatku ini latihan kesabaran. Sekaligus berlatih untuk mengendalikan lidah. Diiih, ini susah banget! Maklum, emak2 sumbu pendek… Gampang banget merapalkan hal-hal buruk, yang bakal ia sesali sepersekian detik kemudian.

Semalam, Sidqi belajar ekstra. Yaaaa, disambi main game juga sik. Tapi, intinya, di mau belajar. Ini lumayan… lumayan bikin saya pede bahwa Sidqi bakal tetap ikutan seleksi Kamis pagi.

Kamis (19/1) pagi, dia bangun… sholat subuh… dan masih mau belajar tentang perkalian desimal, pohon faktor, endebrai endebrai. Aku yakin lah, dengan kemampuan dia. I mean, he will do his best gitu loo.. Masalah ntar kepilih atau nggak, urusan nanti. Yang penting Sidqi berani maju aja. Sarapan, minum susu… semua udah dilakoni.

Oke, jam 630 waktunya mandi…. Karena seleksi dimulai jam 7. (sekolah hanya ditempuh 5 menit perjalanan dari rumah kami)

Daaaan……. DRAMA dimulai. Setan pagi hari itu maknyus sekali yak (sekarang nyalahin setan). Genderang Perang Ibu-anak ditabuh. Sidqi mogok. Nggak mau meneruskan langkah ke kamar mandi. Memilih leyeh-leyeh di depan TV, dengan alasan “Aku capek… Kakiku capek… Ini capek… aku nggak mau ikut….”

Duh. Kulakan “sabar” ada di mana sih? Ada yang jadi reseller “kapsul ibu setrong nan tangguh” ala Dian Sastro ngga sih?

Udah… anakku cranky… dan emaknya juga ketularan hahahaha. Bubaaaaarrr…. Ambyaaarr semua persiapan yang dimulai sejak dua malam lalu.

Oke, sekarang saya akui saya kecewa. SANGAT KECEWA. Anak saya tidak bodoh, hanya saja, nyali dia buat bertarung sangat sangat sangat ciut. Saya salah mendidik dia. Tapi, gimana cara perbaikinya? Dibawa ke bengkel mana? Aseli, saya jadi benci sama diri sendiri.

Don’t get me wrong… Saya bukannya ambisi anak harus menang olimpiade atau gimana gimana. Tapi tentu saja saya malu sama wali kelas Sidqi. Saya malu, ketika harus mengakui bahwa saya ibu yang payah, tidak bisa mengondisikan anak untuk tetap bersemangat dan percaya diri maju berkompetisi.

Aaaah… sudahlah. Mungkin, ini pelajaran dari Sang Maha, bahwa memang saya nggak boleh sombong. Let it go. Let it go. Terima saja kenyataan bahwa memang, kali ini kami berdua resmi jadi pecundang.(*)

 

 

Advertisements

10 comments

  1. Emakmbolang · January 19

    najin juga manja. nggak pernah target ikutan apapun. kegiatan sesuka dia. cuman satu prinsip yang agak keras, jangan sampai dia nakal dan ganggu teman. nggak boleh curang. hormati dan bantu teman. dah sesimple itu.

    InsyaAllah ntar jiwa petarung anak sampeyan menguat seiring waktu.

  2. rosa · January 19

    saya juga tipenya kayak sidqi mbak, minderan, jadi sering tiba-tiba mundur sebelum bertarung

  3. Inayah · January 19

    itu balik ke anaknya sih mba. bu lekku anaknya yg pertama easy going, lomba ya lomba aja. adiknya, takut2 gitu…padahal di rumah cara ngasuhnya ya sama

  4. Ceritaeka · January 19

    Don’t say that. Nggak ada yang jadi pecundang. Every mom has their ups and downs moment. Ada anak yang memang nggak suka berkompetisi. Belum nemu referensi gimana membuat anak senang berkompetisi sih 😐
    Untuk sementara ini puk puk dulu ya.

  5. nyonyasepatu · January 19

    Ahhhh jgn bilang pecundang 😄

  6. Seiring waktu, mba. Nanti dek Shidqi kalau usianya nambah juga mau, insya Allah. Mungkin perlu diajak nonton pertandingan dulu aja, mba. Biar lihat, ada orang yang menang, ada juga yang udah berjuang tapi dia kalah. Semoga dek Shidqi makin pintar dan sholeh ya 🙂

    • @nurulrahma · January 22

      Aamiin, aamiin makasi banget tipsnya ya mbak 🙂 Iya nih, saya blum pernah ngajak dia (sekedar) nonton pertandingan ajah. Kapan2 ahhh mau dijadwalin 🙂

  7. lahiya · February 1

    Next time sidqi pasti bisa kok, kan semuanya perlu waktu, dari cerita mbak, insya Allah sidqi tumbuh soleh, dan kelak bisa membanggakan orangtuanya, aamiin aamiin aamiin.

    Salam,
    Pink

    • @nurulrahma · February 1

      Aamiiin aamiiin makasiiii banget support-nya mbaaa. It means a lot 🙂

  8. Pingback: Transformasi Sidqi – bukan bocah biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s