Yeay, Aku Bangga Jadi Blogger di Era Digital!

Hai, Nodi.

Salam kenal! Aku Nurul Rahma, lifestyle blogger, domisili di Surabaya Jawa Timur. Bolak-balik aku lihat prestasi Nodi yang demikian cethar menggelegar di kancah blogging. Setelah baca artikel-artikel kamu, ya wajar lah, kalo para juri terpukau, ha wong dibikin dengan ide, kreativitas, dan eksekusi yang mantab djiwa!  

Terus terang, aku udah lamaaaa mau ikutan kontes yang kamu gelar ini, Nod. Tapiii, gimana ya, ada sesuatu yang mengganjal. Aku takut kalo malaikat Roqib Atid justru mengkategorikan postingan ini sebagai “Ujub” article. Duh… tulis, engga… tulis apa engga yaaa…

Setelah melakukan monolog dengan diri sendiri, akhirnya kuputuskan buat MENULIS! Moga-moga aja, goresan diksi yang ada di postingan ini, memberikan berkah dan manfaat buat yang baca. Moga-moga Allah senantiasa membimbing otak dan jemariku, agar memproduksi kalimat yang baik-baik saja.

Bismillah. Here we go.

***

Di suatu siang yang biasa-biasa saja, ada notifikasi dari WA-ku.

Artikel yang aku tulis di Kompasiana, tentang Ibu Sumirah
(tukang pijat yang punya panti asuhan)

“Ibu iki wes dpt umroh tak Rul?”

Nomor pengirim belum ada di database ponselku. Ini siapa ya? Trus, aku lihat prof pic nya…. Ya ampuuun… ini kan Kemchi! *bukan nama sebenernya*.  Kemchi temenku kuliah di ITS dulu!

“ini kemchi ya?”

“Sopo maneeeeh. Temenmu TC”

     “Ampun dijeeee… Where have you been?”

Wkwkwkwkwk…. Topo.

“Kagak ada kabar, mak bedunduk nanyain emak-emak pijet. Kenapa? Mau pijit juga? :P”

“HEH!!”

“Ini kamu dapat link artikelku dari siapa? Jadi, gini lho Kem. Aku kan sekarang jadi blogger. Ini lagi nulis sosok inspiratif. tentang Ibu Sum, beliau salah satu kandidat umroh (dari salah satu perusahaan asuransi), KALO MENANG :D. Tapi kapan hari udah ada pengumuman finalis, nama bu Sum kagak ada.”

“Wes nomor orangnya berapa? Tak minta orangku aturin ae dia umroh.”

“Serius Keeem?”

“InsyaAllah serius. Nomor telponnya piro? #Mumpung tangi turu. #Siangan dikit laen lagi

JREEENGGG!! Dan, bulan November 2018 lalu, Ibu Sumirah—tukang pijat yang punya panti asuhan sederhana di Rungkut, Surabaya—berangkat umroh.

Tukang Pijat Naik Umroh 😀

Memenuhi panggilan Sang Pemilik Semesta, dengan difasilitasi kemurahan hati Kemchi, temen kuliahku yang lamaaaaaa banget nggak pernah interaksi.

Siapa yang menggerakkan hati Kemchi? Tentulah ALLAH Sang Maha Besar.

Apa yang membuat Kemchi tertarik untuk mengumrohkan Ibu Sum? Karena ALLAH menggiring Kemchi untuk membaca artikel yang aku tulis dengan sepenuh jiwa.

Baca artikel tentang Ibu Sumirah di sini ya

***

Kalau mood ngeblog lagi ndelosor, aku buka lagi chat yang dikirimkan oleh Ibu Sum:

Assalamualaikum, semoga berkah dan rahmat senantiasa terlimpahkan kepada Ibu Nurul sekeluarga. Terima kasih banyak atas semua kebaikan dan jariyah Bapak Kemchi, yang sudah membiayai pemberangkatan umroh saya. Semoga Allah melipatgandakan berkah dan pahala.

Kagem Bapak Kemchi sekeluarga, semoga senantiasa dikaruniai kesehatan dan keselamatan. Semoga usahanya bertambah lancar dan barokah. Selamat dunia akherat. Aamiiin. Sumirah – Panti Asuhan Amanah.

Masih merinding banget… masih nggak percaya, kalau ternyata takdir Allah demikian indahnya.

Aku selalu percaya, ALLAH punya skenario dan maksud extraordinary tatkala menugasi kita sebagai khalifah fil ardl alias pemimpin di muka bumi.

Menjadi blogger, misalnya. Apabila kita maknai dengan sepenuh jiwa, maka kita pun bisa menjelma menjadi blogger “di atas rata-rata”. Aneka pencapaian duniawi bisa kita gapai… begitu pula dengan target akherat! Heiii, bukankah “menjadi jalan narasumber berangkat ke tanah suci” bisa dibilang salah satu achievement yang (insyaAllah) berkontribusi untuk kampung akheratku?

***

Jadi, Nodi… aku sepakat banget dengan apa yang kamu sampaikan di blog. Apa gunanya bahagia jikalau hanya dirasakan seorang diri saja? Apa pentingnya kilauan materi jika tak pernah berbagi? Nah, sekaranglah saatnya aku ingin berbagi kebahagiaan kepada kalian semua.

Berbagi kebahagiaan, sharing and spread the happiness! Itulah sesungguhnya yang menjadi tagline, nyawa, jiwa, dan nafas tiap blogger. Berbagi apapun, asal sesuatu yang positif dan kontributif.

Jangan terpaku pada hitung-hitungan matematika ala manusia, ”Emangnya kalau aku begini, apa untungnya?” Wah… justru menjadi blogger adalah sebuah kesempatan intan berlian (bukan sekedar emas) supaya kita bisa menggapai salah satu sedekah jariyah! Yes, sedekah lewat ilmu. Ilmu yang bermanfaat dan terus ditularkan. InsyaAllah, pahalanya akan mengalir terus, kendati kita telah berpulang.

Maka dari itu, “semangat berbagi” adalah bahan bakar yang mengisi hari-hariku sebagai blogger.

Aku mengisi workshop seputar menulis dan social media untuk para penerima Beasiswa BI. Bersama Siberkreasi dan Kemenkominfo, aku juga jadi pemateri terkait menulis di kancah digital. Aku juga diamanahi Tim HRD Terminal Teluk Lamong untuk mengisi workshop “How to Manage Social Media” bagi karyawan millennials di sana.

Menjadi pemateri di SMA Wachid Hasyim Surabaya.
Bareng tim Siberkreasi.id (Kemenkominfo)

Wow…. It’s amazing!!

Tentu buanyaaak banget momen indah selama aku menjadi blogger. Yang paling cethar menggelegar, tentu saja, ketika aku terpilih sebagai delegasi Indonesia dalam Google Local Guides Summit yang berlangsung di San Francisco California, Amerika Serikat!

Aku (dua dari kiri) bersama delegasi Indonesia di ajang
Google Local Guides Summit yang berlangsung di San Francisco California,
Amerika Serikat

***

Tahun 2019, Mau Apa?

Yang pasti, tiga hal yang bakal kujadikan mantra dalam ngeblog di tahun ini.

(1). Always Share and Spread Happiness!

(2). Jangan Selalu Terbelenggu dengan Angka

(3). Blogging is Marathon

***

(1). Always Share and Spread Happiness!

Tahu sih, bahwa manusia itu terdiri dari dua rasa sekaligus: positif dan negatif. Film “Inside Out” sudah menjelaskan dengan sangat apik mengenai hal ini. Aku juga embrace all positive and negative feelings dalam diri. Ada saatnya aku marah, kecewa, dengki, sirik, dll. Tapiiii, nggak perlu ditulis di socmed ataupun blog dong yaaaa.

Aku berusaha keras untuk melakukan kurasi sekuat tenaga, agar artikel yang tersaji hanya menguarkan aura positif. Berbagi sesuatu yang kontributif. Yaaa, sesekali curcol boleh lah, tapi balik lagi, semuanya kudu disampaikan secara positif.

Kenapa?

Karena aku percaya, tulisan itu punya daya magis tersendiri. Kita tidak pernah tahu, apa efek yang menimpa orang lain setelah baca tulisan. Nah, ketimbang ‘menjejali’ pembaca dengan pengalaman yang menyesakkan, ada baiknya semangat always share and spread happiness yang kita kedepankan!

Tapi, Kak…. Kadang netizen malah sirik lho, kalau kita posting happy-happy melulu? Kesannya hidup kita kok bahagiaaaaaa terus, dan netizen penuh ujian dalam hidup.

Kalau tentang ini, ada prinsip yang aku pegang kuat: Kita bertanggung jawab atas konten yang kita tulis, tapi kita tidak bertanggung jawab atas persepsi/interpretasi orang lain terhadap tulisan kita.

Tips lainnya adalah, kita tuliskan hal-hal bahagia, tapi tidak dengan semangat pamer. Melainkan, semangat untuk mengajak orang lain untuk merasakan hal serupa. Misalnya nih, tatkala aku berkesempatan ikut Google Local Guides Summit di Amerika Serikat, postingan yang muncul adalah seputar TIPS supaya teman-teman juga bisa lolos seleksi dan merasakan keseruan yang sama.

Baca: Jadi Local Guides dan ke Amerika GRATIS, Bagaimana Caranya?

Yaaaa, walaupun bisa jadi satu dua orang merasa aku lagi pamer, ya sutralaaahh. Balik lagi ke prinsip yang aku share barusan: Kita bertanggung jawab atas konten yang kita tulis, tapi kita tidak bertanggung jawab atas persepsi/interpretasi orang lain terhadap tulisan kita.

(2). Jangan Selalu Terbelenggu dengan Angka

Berapa DA/PA (Domain/Page Authority) blog?

Berapa traffic-nya?

Berapa yang comment?

Berapa yang nge-share?

Kalau di-googling ada di page berapa?

Sponsored job sebulan dapat berapa?

Wah… kayaknya fee kamu nggak segede blogger yang onoh ya?

Uhuuuk!! *batuk* Familiar dengan kalimat di atas? Tahu dan paham banget kok, kalau sebagai blogger, mau tidak mau kita kudu kerja keras sekuat tenaga untuk bisa menghasilkan performa score blog yang oke. Saya pun berjuang setiap hari, agar scale up! Pasti ada sejumlah blogger panutan, yang ngehits, yang DA/PA tinggi, yang nominal job review-nya bisa untuk DP rumah di pusat Surabaya.

Akan tetapi……. Kalau SEMUA HAL harus terus-menerus diukur dengan angka, statistik, dan sebangsanya, tidakkah lelah yang justru mendera? Lelah batin banget, lho, sist and bro.

Saking “ambisi”-nya meraup angka statistik, terkadang aku menulis dengan “hampa rasa”. Tidak ada “ruh” yang bergumul dalam gumpalan diksi dalam blog. Kalau ini terjadi sesekali, mungkin tidak mengapa. Tapiiii, heiii…. deraan deadline yang begitu ketat, tuntutan angka demi angka yang menjerat, sepertinyaaa……. Harus ada yang saya ubah!

TIDAK SEMUA HAL kudu diukur dengan angka. Yap, saya tentu masih berjibaku dengan statistik blog dan aneka turunannya itu. Akan tetapi, ayolah…. Tulisan yang digoreskan dari hati, niscaya akan sampai ke hati pembaca. Saya sudah lamaaaaaa banget tidak memproduksi artikel penyejuk jiwa. Sungguh rindu bisa menghadirkan postingan semacam ini.

Baca: Rumus Jitu Hadapi Persoalan Hidup

Bismillah. Semoga di tahun 2019, aku lebih banyak cerita tentang human interest, hal-hal “sepele” di sekitar, tapi bisa memberikan insight mendalam. Jangan melulu berkutat dengan angka!

(3). Blogging adalah Maraton

Pernah ikut lari marathon? Saya sih, belum 😀 Tapi, beberapa sahabat saya kerap ikut lari marathon, bahkan sampai ke Jepang segala.

Kata mereka, marathon itu bedaaaaaa jauh dengan sprint *ya iyalah*. Untuk bisa sukses finish strong di marathon, dibutuhkan pengendalian diri, emosi, fisik, dan semuanya harus stabil. Tidak boleh gampang salah fokus. “Bahkan banyak yang meragukan kemampuanku untuk marathon. Suara-suara sumbang itu jangan didengerin! Kita harus fokus untuk  lari dengan senang dan sehat selamat bahagia sampai garis finish,” begitu kata sahabat saya.  Intinya, harus konsisten.

Yep, saya menganalogikan blogging adalah marathon. Butuh “nafas yang kuat dan panjang”. Butuh semangat dan kemauan untuk latihan, mengonsumsi makanan bernutrisi, dan sikap “ndableg” agar kita tidak terpengaruh dengan omongan orang lain. Jangan dengarkan suara sumbang. Terus focus dan be happy ketika berkecimpung di dunia blogging!

***

To sum up, begitulah dunia blogger dan segala dinamika yang ada di dalamnya. Terima kasih Nodi sudah menghelat ajang ini. Tentu banyak PR yang harus terus kita hadapi, manakala ingin menjadi a better version of me di kancah blog. Aku akan menjalaninya dengan sepenuh jiwa. Menghindari energi negatif, berupaya sekuat tenaga untuk menebarkan positive vibe lewat konten blog.

Happy Blogging, semuanyaaaaa! (*)

77 thoughts on “Yeay, Aku Bangga Jadi Blogger di Era Digital!

  1. Rudi G. Aswan says:

    Amanakan komen pertamax.
    Merinding baca cerita Bu Sum. MasyaAllah, kalau Allah berkehendak, lewat tulisan ga menang pun Mbak Nurul bisa jadi sarana rezeki orang lain pergi ke Mekah. Aku jadi inget video Maher Zain soal penjual jagung yang akhirnya diberangkatkan umrah oleh anak-anak yang patungan. Duh, mberebes mili aku berkali-kali nonton video itu.
    Kalau kisah berkah bagi bloger, aku ingat sama kisah seorang kawan narablog yang Mbak mungkin juga tahu. Berkat tulisan sederhana di Kompasiana, dia dapat tiket haji ONH Plus jadi ga perlu ikut daftar tunggu. Subhanallah, kalau Allah yang urus–semua beres!! Memang salah satu problem utama blogging adalah niat, pamer ga pamer akhirnya kita sendiri yang tahu. OranPembaca atau bloger lain boleh nangkap gimana gimana, tapi kita ga bisa atur respons mereka. Gara-gara cerita itu, aku kadang ngarep ada orang tergerak kasih tiket ONH gara-gara baca blogpostku. Wkkwkwkw

    Makasih sharing-nya, Mbak. Top deh. Aku makin bangga jadi narablog! Sukses selalu….

  2. Rudi G. Aswan says:

    Eh, ada yang kurang. Soal angka, aku sepakat banget. Ada juga grup bloger yang isinya ngomongin angka dan pendapatan mulu, jadinya kurang gimana gitu. Ya tak apa, namanya juga dapet duit pasti senang. Tapi kalau ada omongan soal perbaikan dan peningkatan kualitas tulisan atau skill, pasti jauh lebih asyik. Ga angka fee an sich.

  3. Emakmbolang. Com says:

    Alhamdulilah. Ketika Allah sudah memanggil hamba ya untuk ke tanah suci akan ada berjuta cara menhampirinya untuk berangkat. Terharu.

    Baiklah, Kalau pun tidak Marathon, paling nggak tahun 2019 rajin jogging blogging. Hehehe

  4. Titik Asa says:

    Wah mbak keren tulisannya… Calon kuat untuk menjadi pemenang.

    Saya pengen ikutan, lagi nulis belum selesai, tapi bener mbak saya juga kepikiran seperti kalimat mbak yg ini “…ada sesuatu yang mengganjal. Aku takut kalo malaikat Roqib Atid justru mengkategorikan postingan ini sebagai “Ujub” article. Duh… tulis, engga… tulis apa engga yaaa…” meskipun prestasi ngeblog saya jauh dibawah mbak, tapi tetep aja kuatir kejebak ujub.
    Semoga saya dikuatkah hati untuk menyelesaikan tulisan, ya ikut meramaikan saja kompetisi yg digelar bang Nodi ini.

    Salam,

    • @nurulrahma says:

      Aaaakk, makasiyy udah main ke sini MakIrit chayaaaang!
      Iyaaa, pengennya sih, kita bisa teteup merasakan “energi berbagi” dari blogging. Enjoy the blogging process, gitulah yaa

  5. Rohmahdg says:

    I catch the poin tulisan ini mbak
    Suka aneh deh.
    Betul kita nulis blog tuh flow aja. Jangan terlalu fokus dg angka ya mbak
    Karena kadang jatuhnya malah kurang gimana gitu.
    Mbak Nurul inspiratif banget
    Proud of you mbak
    Seneng bisa dapet semangat dari yang samean tularkan 😘😘😘

    • @nurulrahma says:

      Haihaiii blogger Jember tsakeeepp nan shalihaat
      Jadiiii… emang ANGKA dan score itu penting buat blogger. Aku juga concern ke situ, tapiiii lebih baik kita TIDAK MELULU berkutat dengan angka angka angka yak.

      Kuatirnya malah angka-oriented banget 😀 malah lupa bersenang-senang ketika ngeblog

  6. Emak blogger says:

    Masyaallah… Saya kok merinding ya mbak baca tulisannya. Mengena banget dan saya merasa ditampar dengan es krim. Manis dan lembut tapi mengena di hati. Semoga amal jariyah mbak Nurul senantiasa menjadi jalan rezeki yang barokah. Amiin

  7. Sekar says:

    Mantap mbaaak. Baarakallahu fiik. Semoga istiqomah ya mbak. Sebab jadi narablog ini perlu kreativitas juga dan inovatif agar tulisan makin oke, makin berkembang, dan update wawasan baru.

  8. Admin says:

    Masyaallah tabarakallah, insyaallah yg baca tulisan ini jadi lebih termotivasi lagi untuk menulis mbak, yang paling menarik adalah berbagi kebahagiaan, insyaallah manfaat bagi banyak orang. Tabungan akhirat ini.

    Kalau pun dapat apa-apa dari situ, entah materi atau apa, itu bonus.

    Dan benar sekali, kejar angka-angka itu melelahkan (banget), terus saja menulis yang bermanfaat, titik.

    Salam ukhuwah dari Cepu, Jawa Tengah 🙂

  9. ngiringmelalifoto says:

    Wooooo aku suka pakai banget baca artikel ini
    Terasa mak jleb jleb jleb di beberapa bagian tapi tetap asik dan mengena di hati dengan lembut

    Sukaaaaaaaa
    Happy blogging mbak
    Tetap menulis dari hati

  10. Fauziah says:

    keren tulisannya.. aku jadi kueciiil bangey baca ini..
    Alhamdulillah ya..bisa menjadi perantara rezeki orang lain lewat kita..
    Ptoud of you mb..
    Semoga sukses terus

  11. Rani Yulianty says:

    Makasih sharing-nya Mba Nurul, kalau saya pribadi sekarang nggak ngoyo hehehe dari dulu juga santai, kadang pengen sih kayak orang lain, DA/PA tinggi, sering dapat job dengan nilai fantastis, atau blog ramai dikunjungi pembaca, tapi ya gitu lah, kadang suka capek sendiri kalau terlalu mikirin angka kayak mba Nurul bilang

  12. nuniekkharisma says:

    Masyaallah merinding saya,gitulah kalo nulis dg ikhlas tanpa beban dan harapan apapun, semata-mata untuk berbagi, suka adaaa aja kejutannya. Hehe.
    Saya jadi makin semangat buat nulis blog nih

  13. Iid Yanie says:

    Serius saya baca blognya mbak sampe merinding, inspiratif banget baca blognya, sampe saya tersentil juga karena selama ini sy masih belum bisa memberikan sumbangsih buat pembaca saya, terima kasih ya mbak semoga sukses lombanya 🙂

  14. Sam says:

    Duh. Kok aku jadi minder sendiri ya setelah baca artikel Mbak Nurul. Ini mah bukan sekedar cerita ya namanya tapi jadi pecutan semangat dan inspirator buat Bloger pemula seperti saya. Kalau Mbak mungkin sudah jauh berpengalaman dan merasakan asam garam kehidupan lebih dulu ya ketimbang saya. Saya jadi merasa seperti debu yang tertiup angin. Memang benar adanya sebenar-benarnya manfaat adalah yg bermanfaat untuk orang lain. Tidak hanya jadi jariyah di dunia semata tapi menuntun kita menumpuk amal di akhirat. Amiin ya rabbal alamiin.

  15. akuchichie says:

    Saya setuju nih mbak, karena saya saat ini ngeblog masih sebatas menuangkan apa yang saya lakukan dan pengalaman saja. Belum terpikir dengan DA/PA tapi sekarang kalau ada yang ngasih kerjaan pasti nanyai itu dan akhirnya dari awal tahun ini nampaknya harus bebenah nih biar blognya tambah kece.

  16. f.nugroho says:

    Berbuat baik (pun dengan perbuatan buruk) itu ibarat virus. Sekali berbuat baik akan menumbuhkan gairah berbuat kebaikan yang selanjutnya. Virus itu juga akan “menyerang” kita. Alhasil orang lain juga akan berbuat baik kepada kita.

  17. mayarumi says:

    ah suka tulisannya mbak nurul ini, aq pun kadang merasa menulis yang seneng2 melulu, orang lain mikirnya kita pamer gak sih yah, padahal inginnya hati itu berbagi kebahagian dan bisa jadi informasi juga buat yang membutuhkan, dan 3 point terakhir jadi pengingat juga buat diri sendiri untuk tahun 2019 ini

  18. Elly Nurul says:

    Akupun membaca ini merinding.. sungguh kekuatan tangan dan tulisan kita jangan dianggap sepele atau dihitung dengan angka matematika saja.. tapi bagamana tulisan dapat bermanfaat buat orang lain serta menggerakan hati-hati yang bersih untuk berbuat sesuatu.. inspiratif banget.. terus menulis ya dan menebar inspirasi

  19. inez says:

    nice share. saya pun nothing to lose mengelola blog yg satu lagi, namun utk blog yg ini saya fokuskan sesuai dengan niche pekerjaan yg saya geluti skrg.
    Thanks for sharing and inspiring!

  20. blogger kendal says:

    MasyaAllah keren banget dirimu mba, setuju ngeblog bukan soal angka tingginya DA PA, tetapi lebih ke berbagi. Semoga kita semua dimudahkan dalam memberikan kebermanfaat untuk orang disekitar kita. Aamiin

  21. Inda Chakim says:

    Selalu senang mampir di sini, ada suguhan ilmu, sajian materi yg berhasil bikin aku menengok ke dalam diri sendiri, “Jejak seperti apa yang mau aku tinggalin, bisa buat bekalku di akherat nanti atau nggak atau malah jangan jangan jadi nambah dosa”. Makasih ya mbk nurul, dikau mmg cucok marucok.

  22. lifeascory says:

    Nyesel baru baca postingan ini hari ini. Makjleb banget. Mbak nurul memang bisa bikin orang jadi mbrebes mili. Aku baca aja sambil merogoh ke badan sendiri. Kira2 selama ini aktifitas ngeblogku bikin orang sakit hati nggak ya, terlalu pamer nggak ya, atau malah justru nggak ada nyawanya karena sedang berusaha mengumpulkan pundi2 rupiah. Bener2 jadi intropeksi diri. Keep inspiring mbak. :”)

  23. Syarifani Mulyana says:

    Masya Allah lewat sebuah tulisan bisa menghantarkan seseorang ke Tanah Suci. Everthing is Possible, apalagi di era digital ini, menjadi blogger bisa menjadi profesi yang menjanjikan asal digarap dengan hati dan konsisten. Sejak resign dan menjadi blogger, saya seperti punya dunia baru yang membuat saya tetap semangat berkontribusi positif tiap harinya, walo di rumah saja.

    Dan semangat Blog Walkingmu Luar Biasaa

    Keceeh bunda sidqy mahh..

  24. Dini Murti says:

    Semoga apa yang jadi target blogging Mbak Nurul di 2019 dapat terwujud. Senang bacanya, berangkat dari hal yang disukai jadi merembet buka pintu rezeki dan pahala orang lain :). Nice sharing Mbak, dan semoga menang!

  25. siskadwyta says:

    Maa syaa Allaah, bisa jadi perantara bu sum pergu umroh berkah artikel yang mbak nulis,jadi merinding bacanya…

    Benar-benar jadi blogger bisa membawa sejuta kebaikan ya mbak bukan cuma buat diri kita saja tp juga orang-orang di sekitar kita.

  26. Nadella says:

    Komentar saya sudah terwakili dengan komentar yang lain-lain di atas, Mbak. Tentang rezeki yang tak disangka-sangka, “postingan ujub”. Pokoknya membuat saya melihat diri kembali. Juga tentang mengejar angka tak ada habisnya. Bener banget mbak, “Tak semua bisa diukur dengan angka”.

  27. Tatiek Purwanti says:

    Beberapa kali baca tulisan Mbak Nurul di majalah NH tapi baru kali ini komen di blog sampean, Mbak.
    Sangat inspiratif dan jadi pengingat diri, nih. Semoga saya bisa ngikut untuk sering nulis yang mengandung insight. Baik dalam postingan yang nampak gembira ria atau yg mengandung kesedihan.
    Matur nuwun 🙂

  28. ulu says:

    wuaaaa baru baca! masih terkagum-kagum dengan kisah umroh ibu sum. perantara memang bisa darimana aja jalannya ya. subhanallah!

    blogging adalah marathon, setuju banget. kapan-kapan saya kutip ya, mba nurul. tepat banget itu kalimatnya untuk menggambarkan blogging. hehehe.

  29. iffa says:

    Wah baru baca tulisan mba Nurul terharu sekali :” pemikiran mba juga baik sekali menulis blog bukan hanya sekedar pamer tapi terkonsep dan inshaAllah ada niat baik dibalik itu. Semangat terus mbaa. Saya setia nunggu tulisan lain mba Nurul 😌

Leave a Reply to kacanakya Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s