Yeay, Aku Bangga Jadi Blogger di Era Digital!

Hai, Nodi.

Salam kenal! Aku Nurul Rahma, lifestyle blogger, domisili di Surabaya Jawa Timur. Bolak-balik aku lihat prestasi Nodi yang demikian cethar menggelegar di kancah blogging. Setelah baca artikel-artikel kamu, ya wajar lah, kalo para juri terpukau, ha wong dibikin dengan ide, kreativitas, dan eksekusi yang mantab djiwa!  

Terus terang, aku udah lamaaaa mau ikutan kontes yang kamu gelar ini, Nod. Tapiii, gimana ya, ada sesuatu yang mengganjal. Aku takut kalo malaikat Roqib Atid justru mengkategorikan postingan ini sebagai “Ujub” article. Duh… tulis, engga… tulis apa engga yaaa…

Setelah melakukan monolog dengan diri sendiri, akhirnya kuputuskan buat MENULIS! Moga-moga aja, goresan diksi yang ada di postingan ini, memberikan berkah dan manfaat buat yang baca. Moga-moga Allah senantiasa membimbing otak dan jemariku, agar memproduksi kalimat yang baik-baik saja.

Bismillah. Here we go.

***

Di suatu siang yang biasa-biasa saja, ada notifikasi dari WA-ku.

Artikel yang aku tulis di Kompasiana, tentang Ibu Sumirah
(tukang pijat yang punya panti asuhan)

“Ibu iki wes dpt umroh tak Rul?”

Nomor pengirim belum ada di database ponselku. Ini siapa ya? Trus, aku lihat prof pic nya…. Ya ampuuun… ini kan Kemchi! *bukan nama sebenernya*.  Kemchi temenku kuliah di ITS dulu!

“ini kemchi ya?”

“Sopo maneeeeh. Temenmu TC”

     “Ampun dijeeee… Where have you been?”

Wkwkwkwkwk…. Topo.

“Kagak ada kabar, mak bedunduk nanyain emak-emak pijet. Kenapa? Mau pijit juga? :P”

“HEH!!”

“Ini kamu dapat link artikelku dari siapa? Jadi, gini lho Kem. Aku kan sekarang jadi blogger. Ini lagi nulis sosok inspiratif. tentang Ibu Sum, beliau salah satu kandidat umroh (dari salah satu perusahaan asuransi), KALO MENANG :D. Tapi kapan hari udah ada pengumuman finalis, nama bu Sum kagak ada.”

“Wes nomor orangnya berapa? Tak minta orangku aturin ae dia umroh.”

“Serius Keeem?”

“InsyaAllah serius. Nomor telponnya piro? #Mumpung tangi turu. #Siangan dikit laen lagi

JREEENGGG!! Dan, bulan November 2018 lalu, Ibu Sumirah—tukang pijat yang punya panti asuhan sederhana di Rungkut, Surabaya—berangkat umroh.

Tukang Pijat Naik Umroh 😀

Memenuhi panggilan Sang Pemilik Semesta, dengan difasilitasi kemurahan hati Kemchi, temen kuliahku yang lamaaaaaa banget nggak pernah interaksi.

Siapa yang menggerakkan hati Kemchi? Tentulah ALLAH Sang Maha Besar.

Apa yang membuat Kemchi tertarik untuk mengumrohkan Ibu Sum? Karena ALLAH menggiring Kemchi untuk membaca artikel yang aku tulis dengan sepenuh jiwa.

Baca artikel tentang Ibu Sumirah di sini ya

***

Kalau mood ngeblog lagi ndelosor, aku buka lagi chat yang dikirimkan oleh Ibu Sum:

Assalamualaikum, semoga berkah dan rahmat senantiasa terlimpahkan kepada Ibu Nurul sekeluarga. Terima kasih banyak atas semua kebaikan dan jariyah Bapak Kemchi, yang sudah membiayai pemberangkatan umroh saya. Semoga Allah melipatgandakan berkah dan pahala.

Kagem Bapak Kemchi sekeluarga, semoga senantiasa dikaruniai kesehatan dan keselamatan. Semoga usahanya bertambah lancar dan barokah. Selamat dunia akherat. Aamiiin. Sumirah – Panti Asuhan Amanah.

Masih merinding banget… masih nggak percaya, kalau ternyata takdir Allah demikian indahnya.

Aku selalu percaya, ALLAH punya skenario dan maksud extraordinary tatkala menugasi kita sebagai khalifah fil ardl alias pemimpin di muka bumi.

Menjadi blogger, misalnya. Apabila kita maknai dengan sepenuh jiwa, maka kita pun bisa menjelma menjadi blogger “di atas rata-rata”. Aneka pencapaian duniawi bisa kita gapai… begitu pula dengan target akherat! Heiii, bukankah “menjadi jalan narasumber berangkat ke tanah suci” bisa dibilang salah satu achievement yang (insyaAllah) berkontribusi untuk kampung akheratku?

***

Jadi, Nodi… aku sepakat banget dengan apa yang kamu sampaikan di blog. Apa gunanya bahagia jikalau hanya dirasakan seorang diri saja? Apa pentingnya kilauan materi jika tak pernah berbagi? Nah, sekaranglah saatnya aku ingin berbagi kebahagiaan kepada kalian semua.

Berbagi kebahagiaan, sharing and spread the happiness! Itulah sesungguhnya yang menjadi tagline, nyawa, jiwa, dan nafas tiap blogger. Berbagi apapun, asal sesuatu yang positif dan kontributif.

Jangan terpaku pada hitung-hitungan matematika ala manusia, ”Emangnya kalau aku begini, apa untungnya?” Wah… justru menjadi blogger adalah sebuah kesempatan intan berlian (bukan sekedar emas) supaya kita bisa menggapai salah satu sedekah jariyah! Yes, sedekah lewat ilmu. Ilmu yang bermanfaat dan terus ditularkan. InsyaAllah, pahalanya akan mengalir terus, kendati kita telah berpulang.

Maka dari itu, “semangat berbagi” adalah bahan bakar yang mengisi hari-hariku sebagai blogger.

Aku mengisi workshop seputar menulis dan social media untuk para penerima Beasiswa BI. Bersama Siberkreasi dan Kemenkominfo, aku juga jadi pemateri terkait menulis di kancah digital. Aku juga diamanahi Tim HRD Terminal Teluk Lamong untuk mengisi workshop “How to Manage Social Media” bagi karyawan millennials di sana.

Menjadi pemateri di SMA Wachid Hasyim Surabaya.
Bareng tim Siberkreasi.id (Kemenkominfo)

Wow…. It’s amazing!!

Tentu buanyaaak banget momen indah selama aku menjadi blogger. Yang paling cethar menggelegar, tentu saja, ketika aku terpilih sebagai delegasi Indonesia dalam Google Local Guides Summit yang berlangsung di San Francisco California, Amerika Serikat!

Aku (dua dari kiri) bersama delegasi Indonesia di ajang
Google Local Guides Summit yang berlangsung di San Francisco California,
Amerika Serikat

***

Tahun 2019, Mau Apa?

Yang pasti, tiga hal yang bakal kujadikan mantra dalam ngeblog di tahun ini.

(1). Always Share and Spread Happiness!

(2). Jangan Selalu Terbelenggu dengan Angka

(3). Blogging is Marathon

***

(1). Always Share and Spread Happiness!

Tahu sih, bahwa manusia itu terdiri dari dua rasa sekaligus: positif dan negatif. Film “Inside Out” sudah menjelaskan dengan sangat apik mengenai hal ini. Aku juga embrace all positive and negative feelings dalam diri. Ada saatnya aku marah, kecewa, dengki, sirik, dll. Tapiiii, nggak perlu ditulis di socmed ataupun blog dong yaaaa.

Aku berusaha keras untuk melakukan kurasi sekuat tenaga, agar artikel yang tersaji hanya menguarkan aura positif. Berbagi sesuatu yang kontributif. Yaaa, sesekali curcol boleh lah, tapi balik lagi, semuanya kudu disampaikan secara positif.

Kenapa?

Karena aku percaya, tulisan itu punya daya magis tersendiri. Kita tidak pernah tahu, apa efek yang menimpa orang lain setelah baca tulisan. Nah, ketimbang ‘menjejali’ pembaca dengan pengalaman yang menyesakkan, ada baiknya semangat always share and spread happiness yang kita kedepankan!

Tapi, Kak…. Kadang netizen malah sirik lho, kalau kita posting happy-happy melulu? Kesannya hidup kita kok bahagiaaaaaa terus, dan netizen penuh ujian dalam hidup.

Kalau tentang ini, ada prinsip yang aku pegang kuat: Kita bertanggung jawab atas konten yang kita tulis, tapi kita tidak bertanggung jawab atas persepsi/interpretasi orang lain terhadap tulisan kita.

Tips lainnya adalah, kita tuliskan hal-hal bahagia, tapi tidak dengan semangat pamer. Melainkan, semangat untuk mengajak orang lain untuk merasakan hal serupa. Misalnya nih, tatkala aku berkesempatan ikut Google Local Guides Summit di Amerika Serikat, postingan yang muncul adalah seputar TIPS supaya teman-teman juga bisa lolos seleksi dan merasakan keseruan yang sama.

Baca: Jadi Local Guides dan ke Amerika GRATIS, Bagaimana Caranya?

Yaaaa, walaupun bisa jadi satu dua orang merasa aku lagi pamer, ya sutralaaahh. Balik lagi ke prinsip yang aku share barusan: Kita bertanggung jawab atas konten yang kita tulis, tapi kita tidak bertanggung jawab atas persepsi/interpretasi orang lain terhadap tulisan kita.

(2). Jangan Selalu Terbelenggu dengan Angka

Berapa DA/PA (Domain/Page Authority) blog?

Berapa traffic-nya?

Berapa yang comment?

Berapa yang nge-share?

Kalau di-googling ada di page berapa?

Sponsored job sebulan dapat berapa?

Wah… kayaknya fee kamu nggak segede blogger yang onoh ya?

Uhuuuk!! *batuk* Familiar dengan kalimat di atas? Tahu dan paham banget kok, kalau sebagai blogger, mau tidak mau kita kudu kerja keras sekuat tenaga untuk bisa menghasilkan performa score blog yang oke. Saya pun berjuang setiap hari, agar scale up! Pasti ada sejumlah blogger panutan, yang ngehits, yang DA/PA tinggi, yang nominal job review-nya bisa untuk DP rumah di pusat Surabaya.

Akan tetapi……. Kalau SEMUA HAL harus terus-menerus diukur dengan angka, statistik, dan sebangsanya, tidakkah lelah yang justru mendera? Lelah batin banget, lho, sist and bro.

Saking “ambisi”-nya meraup angka statistik, terkadang aku menulis dengan “hampa rasa”. Tidak ada “ruh” yang bergumul dalam gumpalan diksi dalam blog. Kalau ini terjadi sesekali, mungkin tidak mengapa. Tapiiii, heiii…. deraan deadline yang begitu ketat, tuntutan angka demi angka yang menjerat, sepertinyaaa……. Harus ada yang saya ubah!

TIDAK SEMUA HAL kudu diukur dengan angka. Yap, saya tentu masih berjibaku dengan statistik blog dan aneka turunannya itu. Akan tetapi, ayolah…. Tulisan yang digoreskan dari hati, niscaya akan sampai ke hati pembaca. Saya sudah lamaaaaaa banget tidak memproduksi artikel penyejuk jiwa. Sungguh rindu bisa menghadirkan postingan semacam ini.

Baca: Rumus Jitu Hadapi Persoalan Hidup

Bismillah. Semoga di tahun 2019, aku lebih banyak cerita tentang human interest, hal-hal “sepele” di sekitar, tapi bisa memberikan insight mendalam. Jangan melulu berkutat dengan angka!

(3). Blogging adalah Maraton

Pernah ikut lari marathon? Saya sih, belum 😀 Tapi, beberapa sahabat saya kerap ikut lari marathon, bahkan sampai ke Jepang segala.

Kata mereka, marathon itu bedaaaaaa jauh dengan sprint *ya iyalah*. Untuk bisa sukses finish strong di marathon, dibutuhkan pengendalian diri, emosi, fisik, dan semuanya harus stabil. Tidak boleh gampang salah fokus. “Bahkan banyak yang meragukan kemampuanku untuk marathon. Suara-suara sumbang itu jangan didengerin! Kita harus fokus untuk  lari dengan senang dan sehat selamat bahagia sampai garis finish,” begitu kata sahabat saya.  Intinya, harus konsisten.

Yep, saya menganalogikan blogging adalah marathon. Butuh “nafas yang kuat dan panjang”. Butuh semangat dan kemauan untuk latihan, mengonsumsi makanan bernutrisi, dan sikap “ndableg” agar kita tidak terpengaruh dengan omongan orang lain. Jangan dengarkan suara sumbang. Terus focus dan be happy ketika berkecimpung di dunia blogging!

***

To sum up, begitulah dunia blogger dan segala dinamika yang ada di dalamnya. Terima kasih Nodi sudah menghelat ajang ini. Tentu banyak PR yang harus terus kita hadapi, manakala ingin menjadi a better version of me di kancah blog. Aku akan menjalaninya dengan sepenuh jiwa. Menghindari energi negatif, berupaya sekuat tenaga untuk menebarkan positive vibe lewat konten blog.

Happy Blogging, semuanyaaaaa! (*)

Advertisements