Muhammad Assad : Tekad Menjadi Mu’min yang Kuat

“Muda berkarya, tua kaya raya, mati masuk surga”.

Tidak sedikit, orang yang punya cita-cita seperti kalimat barusan. Siapa yang tak mau? Menjadi manusia penuh karya, berharta di atas rata-rata, sibuk beramal kebaikan, hingga akhirnya, surga menjadi hadiah untuknya? Slogan ini boleh jadi, amat cocok disematkan pada seorang Muhammad Assad. Usianya masih 27 tahun. Namun, pria berkepala plontos telah melakoni bisnis yang luar biasa. Ia adalah CEO Rayyan Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang investasi syariah, bisnis travel dan restoran. Ya, dunia bisnis memang menjadi passion putra bungsu Abdul Mughni dan Revy Tharmidi ini. Assad merampungkan kuliah S-1 di program Sistem Informasi Bisnis University of Technology Petronas, Malaysia. ”Saya mendapat beasiswa dari Petronas. Lanjut S-2-nya, saya ambil Islamic Finance di Qatar Faculty of Islamic Studies, atas beasiswa dari Emir Qatar, His Highness Sheikh Haad bin Khalifa Al-Thani,” ungkap alumnus MAN Insan Cendekia Serpong Tangerang ini.

Image

Usia muda, cerdas, semangat menyala-nyala. Assad menuangkan pengalaman hidupnya, plus mengaitkan dengan nilai-nilai Islam dalam buku bertajuk “Notes from Qatar”. Assad juga mengangkat profil 99 muslimah berhijab, yang ia kemas dalam buku “99 Hijab Stories”. Profil para hijabers itu ditayangkan dalam acara berjudul sama, di TVOne setiap Ahad sore. Saya sempat berbincang sejenak dengan peraih penghargaan mahasiswa terbaik dari Mahathir Mohammad.

Kenapa harus berbisnis? Apa yang membuat seorang Assad begitu bersemangat berbisnis?

Di mata saya, setiap mu’min itu harus kaya. Dalam salah satu sabdanya, Nabi berpesan, “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.”

Allah lebih suka mu’min yang kuat. Tentu bukan hanya kuat secara fisik, tapi harus kuat secara materi. Coba kita lihat sahabat Utsman bin Affan, beliau itu raja poperti. Abdurrahman bin Auf, meninggalkan warisan senilai 6000 trilyun, kalau dikurskan ke rupiah saat ini. Rasul, ketika melamar Bunda Khadijah, memberikan mahar 100 ekor unta. Subhanallah, Islam itu harusnya identik dengan kaya. Yang jelas, menjadi kaya itu oke, tapi pertanyaannya, bagaimana kita memanfaatkan kekayaan dan harta yang kita punya untuk umat. Pada dasarnya, uang itu benda yang netral. Bagaimana kita menggunakannya, itulah yang menentukan apakah kita masuk surga atau neraka.

Bagaimana Assad memaknai konsep rezeki?

Rezeki itu kata dasarnya ‘rizq’ hampir mirip dengan ‘risk’ yang dalam Bahasa Inggris, berarti resiko. Artinya, semakin besar resiko yang kita hadapi, maka insyaAllah semakin besar rezeki yang bakal kita dapatkan. Hidup ini memang penuh dengan resiko kan? Bahkan sejak lahir, selalu ada resiko yang kita hadapi. Menurut saya, ada 3 (tiga) tipe rezeki. Pertama, rezeki yang sudah dijamin oleh Allah. Firman Allah dalam QS Huud:6, “Allah menjamin rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali.” Allah Maha Kaya dan Maha Baik. Siapa saja, orang kaya-miskin, baik-jahat, tua-muda, PASTI diberi rezeki oleh Allah. Tipe kedua, rezeki yang digantungkan. Rezeki ini hanya bisa didapat ketika seseorang berusaha. No pain, no gain. Persis seperti apa yang difirmankan Allah di QS Ar-Ra’d:11. Bekerja adalah ibadah, bekerja adalah aktivitas mulia. Tipe ketiga, rezeki yang dijanjikan. Rezeki ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan formil. Rezeki ini berhubungan dengan amal ibadah dan kebaikan yang kita lakukan. Salah satunya, ibadah sedekah. Life is all about giving. Tidak pernah seseorang dihormati karena apa yang ia terima. Kehormatan adalah penghargaan bagi mereka yang telah memberikan sesuatu yang berarti. Ketika bersedekah, tubuh kita akan mengeluarkan hormon endorfin. Rasul kita orang yang sangat dermawan. Tidak pernah ada orang yang minta kepada beliau dan tidak diberi.

Bagaimana cara memotivasi diri agar kian rajin dan semangat dalam bersedekah?

Memang sedekah butuh keyakinan. Sedekah yang kita lakukan tidak serta merta diganti oleh Allah, berupa harta. Terkadang sedekah kita diganti dengan kebaikan yang lain. Misalnya, selama setahun, badan kita sehat, sama sekali tak pernah opname di RS. Percayalah, tatkala kita bersedekah, maka pintu rezeki kita terbuka. Kalaupun tak diganti di dunia, maka akan jadi amal akherat kita. Sedekah tidak akan bikin kita miskin. Coba lihat orang-orang kaya di dunia. Bill Gates, misalnya. Tahun 2005, ia menyedekahkan 50% kekayaannya. Tapi, tidak pernah terlempar dari 3 besar orang terkaya di dunia. Warren Buffett juga begitu. Ia sedekah 80% dari kekayaannya, yang kalau di-rupiahkan, senilai 310 Trilyun! Orang kaya yang senang berbagi tidak akan kehilangan kekayaannya.

Orang-orang muslim yang rajin bersedekah juga semakin kaya. InsyaAllah, ini karena hartanya berkah. Satu hal yang perlu saya garisbawahi. Kita jangan mematok angka 2,5 % sebagai takaran sedekah. Justru, 2,5% itu angka zakat. Bukan angka sedekah kita. Zakat itu berperan untuk membersihkan harta, sementara sedekah menyuburkan harta yang kita miliki. Karena itulah, sedekah yang kita keluarkan harus lebih besar dari 2,5%. Ketika ayat Al-Qur’an memerintah kita untuk ‘menafkahkan sebagian harta…’ maka kita harus meneladani sikap Rasul dan para sahabat. Bahwa, yang kita infakkan mestinya ‘sebagian besar’, bukan ‘sebagian kecil’. Sedekah itu bukan perkara BISA atau TIDAK. Melainkan perkara MAU atau TIDAK. Ikhlas tidak ikhlas, ayo kita sedekah terus. InsyaAllah, keikhlasan itu akan ditumbuhkan di hati kita.(*) 

Aam Amiruddin: Tips ‘Ngobrol Asik’ Ortu dan Anak

“Kok, anak zaman sekarang susah diatur ya? Berani ngelawan orangtua? Beda banget dengan anak-anak zaman dulu…”

Image

Sering dengar keluhan semacam ini? Kalau melihat tren perkembangan anak dan remaja, kita semua memang patut mengelus dada. Menjadi orangtua di era kekinian sama sekali bukan hal yang mudah. Sejumlah orangtua mengeluhkan perilaku anaknya yang kian temperamen. Nah, liburan akhir tahun kemarin, saya sempat ikuti kajian Ustadz Aam Amiruddin. Sebagai ustadz pemateri acara religi di TVOne, RCTI, SCTV dan Trans TV, Aam akrab dengan beragam curhat jamaahnya seputar parenting. Yuk, simak obrolan dengan Ketua Pembina Yayasan Percikan Iman ini.

Ustadz, sebenarnya mengapa anak-anak sekarang begitu gampang ‘naik darah’ dan amat sulit dikendalikan orang tua?

Mengapa anak temperamental? Kita tidak bisa menuding hanya dari satu aspek saja. Karena, karakter anak terbentuk sejak dalam kandungan. Maka dari itu, ketika seorang wanita sedang hamil, usahakan temperamen ibu hamil (bumil) tidak naik. Orang kalau marah, hormon adrenalin melewati ambang batas. Hormon masuk plasenta, sehingga bayi ikut marah. Kalau bumil sering marah, maka bisa menyebabkan anak menjadi temperamental.

Jadi, ketika anak kita kerap naik darah, coba lihat masa lalu, kita flash back sejenak. Ibunya sering marah atau tidak? Bagaimana dengan lingkungan tempat anak kita bertumbuh kembang? Apakah anak kita dibesarkan di lingkungan yang juga keras dan kasar?

Kalau orangtua mengajarkan dengan cara yang keras, dengan berteriak, “Sholaaaat!!!” maka anak kita pasti akan belajar untuk menjawab dengan cara serupa, “Bentaaaarrrr!!” Jadi, bentakan dibalas dengan bentakan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Misal anak main game, pas masuk waktu sholat. Elus punggungnya. Kita ajarkan bagaimana cara bernegoisasi. “Tadi kan sudah ibu kasih waktu main game selama 10 menit. Sekarang, ayo kakak berhenti dulu main game-nya. Sholat berjamaah dulu.”

Ingatlah, ibu-bapak, kalau anak dibesarkan dengan caci maki, maka ia akan belajar berkelahi. Kalau anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia akan belajar percaya diri. Besarkan anak kita dengan cinta kasih, supaya ia tidak menjadi anak yang temperamen tinggi.

Apa tips komunikasi yang bisa dibagikan pada kami?

Al-Qur’an sudah menjabarkan 6 (enam) strategi komunikasi yang harus dijalankan antara orangtua dan anak. Yang pertama, Qaulan Sadida, artinya perkataan yang benar, baik berdasarkan aspek isi, maupun cara penyampaian. Artinya, saat berbicara kepada anak, isi pembicaraannya harus benar menurut kaidah ilmu. Kalau anak bertanya, orangtua jangan asal menjawab, sebab bisa jadi jawaban kita itu salah menurut kaidah ilmu.

Misalnya, “Mama, kenapa ikan kok matanya nggak berkedip padahal ia ada di air?” Ibunya menjawab, ”Emang maunya gitu. Kamu yang gitu aja kok ditanyakan?” Ini adalah contoh jawaban yang asal-asalan dan tidak benar menurut kaidah ilmu.

Kalaupun orangtua tidak bisa menjawab pertanyaan anak, lebih baik berterus terang sambil memuji pertanyaan itu. Katakan, “Aduh sayang, pertanyaan kamu hebat sampai Mama nggak bisa jawab. Nanti kita cari jawabannya di buku ya.” Jawaban seperti ini adalah qaulan sadida.

Yang kedua, Qaulan Baligha. Artinya, perkataan yang berbekas pada jiwa. Agar ucapan berbekas pada jiwa anak, kita harus memahami psikis atau kejiwaan anak. Orangtua yang baik pasti mengetahui karakter anak-anaknya. Perkataan orangtua akan bisa menyentuh emosi atau perasaan anak, apabila mereka memahami karakter anaknya.

Yang ketiga, Qaulan Ma’ruufan. Perkataan yang baik, yang penuh dengan penghargaan, menyenangkan dan tidak menistakan. Apabila kita menemukan kesalahan dalam perilaku atau ucapan anak, tegurlah dengan tetap menjaga kehormatan anak, jangan dinistakan di depan orang banyak.

Yang keempat, Qaulan Kariiman. Perkataan yang mulia, yang memberi motivasi, menumbuhkan kepercayaan diri, perkataan yang membuat anak bisa menemukan potensi dirinya. Misal, ada anak yang mengeluh pada orangtuanya karena nilai fisika selalu jelek. Ayahnya berkata, “Waktu SMP, nilai fisika ayah juga selalu jelek. Tetapi, sekarang ayah malah jadi guru besar fisika. Ayah yakin kamu bukan bodoh, tapi belum menemukan teknik belajarnya.”

Ini contoh ucapan yang qaulan kariiman, ucapan mulia yang penuh motivasi. Apa contoh yang tidak qaulan kariiman? Ortu yang komentar, “Emang kamu nggak ada bakat di fisika, sampai kapan pun pasti jelek nilainya.” Hati-hati, ucapan ini bisa membunuh semangat dan karakter anak.

Yang kelima, Qaulan Layyinan. Perkataan yang lemah lembut. Ucapan lembut mencerminkan cinta dan kasih sayang, sementara ucapan kasar mencerminkan kemarahan dan kebencian. Islam mengajarkan kita layyin alias lembut, penuh cinta dan perhatian.

Dalam riwayat Imam Ahmad, diungkapkan bahwa Rasulullah bertemu dengan seorang sahabat yang sangat melarat. Rasul bertanya, “Mengapa kamu mengalami kesengsaraan seperti ini?” Sahabat itu menjawab, ”Ya Rasulullah, saya mengalami kemelaratan ini karena selalu berdoa, ’Ya Allah, berikanlah kepadaku kemelaratan di dunia, sehingga dengan kemelaratan itu aku bisa bahagia di surga.”

Mendengar jawaban ini, Rasul bersabda, ”Inginkah aku tunjukkan doa yang paling baik? Robbanaa aatina fid dunya hasanah, wafil aakhirati khasanah wa qinaa ‘adzaabannar (Ya Allah, berikan kepada kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akherat serta jauhkan kami dari azab neraka).”

Coba kita perhatikan kasus tersebut. Doa yang diucapkan sahabat itu salah. Ia minta melarat di dunia, karena berharap kebahagiaan di akherat. Akan tetapi, Nabi tidak memarahinya. Beliau menunjukkan doa terbaik dengan penuh kelembutan. Apa hikmah yang bisa kita ambil? Dalam berkomunikasi dengan anak, bila mereka melakukan kesalahan, jangan dihadapi dengan kemarahan, apalagi menggunakan bahasa yang kasar. Gunakanlah bahasa yang lembut, penuh cinta dan hikmah.

Yang keenam, Qaulan Maysuura, perkataan yang mudah. Maksudnya, ucapan yang mudah dicerna, tidak berbelit-belit. Bisa juga bermakna ucapan yang membuat anak merasa mudah untuk melaksanakan apa yang kita katakan. Misal, ada seorang anak mengeluh bahwa belajar Bahasa Inggris itu susah.

Ada orangtua berkomentar, ”Teman Mama sekarang sekolah di Amerika. Padahal dulu, nilai bahasa Inggrisnya jelek. Tapi, ia tekun, maka sesulit apa pun pelajaran, kalau kita tekun insyaAllah jadi biasa dan akhirnya bisa.”

Inilah contoh ucapan yang maysuura, ucapan yang membuat orang yang mendengarnya merasa mdah dan ringan. Sayangnya, ada ortu yang berkomentar begini, ”Emang Nak, kalau nggak cerdas, belajar sekeras apapun tetap aja bodoh!” Inilah contoh ucapan yang tidak maysuura karena ucapannya membuat anak menjadi semakin merasa sulit, bahkan jadi putus asa. (*)

Interview with Syeikh Ali Jabeer

Syeikh Ali Jabeer
Hidupkan Jiwa Qurani di Tengah Keluarga
Image 
Nama Syekh Ali Jabeer kian berkibar di jagat para ustadz dan pengisi ceramah agama di Indonesia. Syekh yang rutin mengisi Program “Damai Indonesiaku” di TVOne ini menempati ruang khusus di hati jamaah. Sosoknya sangat khas Arab, menariknya ia amat piawai dan fasih berbahasa Indonesia. Kalimat yang ia tuangkan dalam tausiyahnya begitu lugas, mudah dicerna dan membangkitkan inspirasi.
Banyak jamaah yang tentu penasaran, bagaimana cara Syeikh Ali mendidik anak? Boleh dijelaskan?
Pendidikan anak memang hal yang amat penting dalam hidup kita. Memang, kita harus memberikan perhatian kepada anak sejak kecil hingga ia dewasa. Dengan perhatian, kasih sayang dan pendidikan yang berkualitas, insyaAllah kita akan mendapatkan anak yang sholih dan sholihah. Ini semua jelas bukan program pribadi saya sebagai ayah. Semua dimulai dari bagaimana memilih calon istri yang sholihah. Seperti yang pernah dikatakan Umar bin Khotob, ”Hak anak atas orang tuanya adalah memilihkan ibu yang sholihah, mengajarkan Al Qur’an dan memilihkan nama yang baik”. Karena kebaikan anak sangat bergantung dari kebaikan ibunya. Ibunya baik maka anaknya akan baik. Karena ibu yang baik akan memberikan perhatian yang serius bagi pendidikan anak-anaknya. Bahkan dia akan mengajar dan mendidik anaknya dengan kebiasaan yang baik.
Apa yang harus dilakukan seorang ibu selama mengandung putranya?
Banyaklah berdzikir. Biasakan baca Al-Qur’an, setelkan murottal, bisa dengan cara tempelkan earphone di dekat perut. InsyaAllah janin bisa merasakan indahnya kalam Ilahi.  Ini sangat berpengaruh positif, karena bacaan Al-Qur’an itu berdampak pada ruh. Ada proses lewat otak, janin kita menyimpan murottal Qur’an. Saya punya adik yang jadi guru mengaji. Ketika hamil, dia tidak pernah berhenti mengaji dan terus mengajarkan Qur’an. Salah satu surat yang sering ia baca adalah Ar-Rahman. Nah, pada saat anaknya sudah lahir, kemudian rewel menangis seharian, maka sang Ibu membacakan surat Ar-Rahman. Subhanallah, ternyata langsung ‘nyambung’. Si anak ingat ayat yang dia dengarkan ketika berada dalam kandungan. Rewelnya langsung berhenti.
Allahu Akbar, luar biasa! Bahkan nilai-nilai kemuliaan Al-Qur’an sudah bisa dicerna oleh janin dalam kandungan dan bayi yang baru berusia beberapa hari?
Tepat! Karena itulah, keluarga muslim harus menjadi Al-Qur’an sebagai rujukan dan pengajaran pertama bagi anak-anaknya. Kita ingat lagi sabda Rasulullah,”Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka baginya pahala mengajar dan pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)
Subhanallah, kalau orang tua mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya maka dia mendapat pahala mengajar dan pahala bacaan anaknya tanpa mengurangi pahala bacaan anaknya.  Kalau anaknya mengajarkan kepada cucunya maka dia akan mendapatkan pahala bacaan anak dan cucunya tanpa mengurangi pahala bacaan mereka.Tahukah Anda, berapa pahala orang yang membaca Al-Qur’an? Di dalam hadits yang shohih disebutkan, setiap hurufnya diberi pahala sepuluh. Bayangkan bacaan, bismillahirrohmanirrohim (arabnya) saja sudah 19 huruf. Maka pahala yang didapatkan bagi yang membaca dengan ikhlas sebanyak 190 pahala. Subhanallah…alangkah beruntungnya orang tua yang mau meluangkan waktu untuk mengajarkan Al Qur’an kepada anaknya.
Selain berbekal Qur’an, tips apa lagi yang harus selalu dikedepankan tiap orangtua dalam proses mendidik anak?
Orangtua harus jadi contoh baik. Jangan terbiasa hanya perintah-perintah saja, tapi justru kita sendiri tidak jadi teladan untuk anak. Anak akan meneladani kita. Biasakan diri berbuat kebaikan di depan anak. Karena jika kita berbuat sebaliknya, maka anak kita akan melihat banyak hal-hal yang bertentangan dan tidak sesuai dengan nurani. Selain itu, sedari kecil, biasakan anak kita untuk selalu berdisiplin. Untuk melatih disiplin, buatkan tabel perbuatan baik yang harus diisi sendiri oleh anak kita. Misal, buatlah tabel sholat 5 waktu. Kemudian minta anak untuk memberikan tanda centang (√). Juga perbuatan baik lainnya, misal: sedekah, mengucapkan salam, bersikap sopan pada orang tua dan lain-lainnya.
Tabel ini bermanfaat optimal untuk pembentukan karakter anak kita?
Ya. Selain bisa mendidik jadi lebih disiplin dan komitmen untuk berbuat baik, insyaAllah kita juga melatih anak untuk berbuat jujur. Sebab, ketika dia mengisi sendiri, maka dia bertanggungjawab untuk memberikan data yang salah pada dirinya sendiri. Lalu, bikin kesepakatan antara orangtua dan anak. Jika tabel perbuatan baik ini sudah mencapai nilai tertentu, berikan reward pada anak kita. Tidak harus hadiah yang mahal. Bisa berupa mainan atau majalah yang dia suka. Saya juga kerap memberikan hadiah berupa ‘kalimat motivasi’ yang saya letakkan dalam sebuah kotak, lalu saya taruh di tempat tidur anak. Jadi, ketika bangun, Al-Hasan, anak saya bisa mendapatkan ‘surprise’ berupa ‘surat penuh cinta’ dari ayahnya.
Untuk lebih membangkitkan percaya diri pada anak, bagaimana caranya syeikh?
Puji anak kita di depan banyak orang. Inilah yang membuat anak-anak merasa bahwa kita sebagai orangtua telah menghargai perjuangannya. Tapi jangan puji dengan sesuatu hal yang sebenarnya tidak ia lakukan. Selain itu, saya berpesan kepada tiap orangtua, jangan pernah memberikan janji yang sulit untuk kita tepati. Meskipun janji itu terkesan ‘remeh’, tapi sekalinya kita ingkar, anak kita akan mencap orangtuanya tidak amanah. Janji-janji dari orangtua ini bisa menghancurkan jiwa anak kita.