Visi Keluarga yang Harus Diperjuangkan, meski Aral Menghadang

Rumah tangga ibarat sebuah kendaraan.

Ia digunakan untuk menempuh sebuah perjalanan.

Seluruh anggota keluarga ibarat penumpang dengan perannya masing-masing.

Penumpang Ayah dan Ibu ibarat nahkoda dan navigatornya. Merekalah yang memiliki rencana dan akan mengumumkan kepada seluruh anggota keluarga; ke mana tujuannya, lama perjalanan yang ditempuh, dan apa yang dilakukan ketika sampai di tujuan.

Berbekal informasi tersebut, maka setiap anggota keluarga dapat mengukur persiapannya, apa saja bekal yang dibutuhkan.

Continue reading

Yang Selalu Aku Rindu dari Ramadan

Setiap habis Ramadhan
Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat – saat padat beribadah
Tak terhingga nilai mahalnya

Alangkah nikmat ibadah bulan Ramadhan
Sekeluarga, sekampung, senegara
Kaum muslimin dan muslimat se-dunia
Seluruhnya kumpul di persatukan
Dalam memohon ridho-Nya

(BIMBO)

Bulan Ramadan kecintaan kita udah datang, gaess! Duh, senangnyaaaa. Banyak banget hal menyenangkan yang kita jumpai hanya di bulan suci ini. Hmm, aku mau bahas beberapa di antaranya ya. Cekidot!

Continue reading

Yuk, Tebar #BahagiaBersamaRamadhan bareng Rumah Zakat!

Setiap traveling ke luar negeri, satu hal yang amat sangat challenging itu masalah menjaga sholat. Baik dalam hal cari tempat sholat, trus pegimana caranya kita sholat tepat waktu, plus mencari arah kiblat. Jadi ingat euy, pas ngetrip ke San Francisco sekian tahun silam, saya numpang sholat di Gudang minimarket 😀 Trus, pas di Hotel, cari kiblatnya mengandalkan Muslimpro.com.

Waktu itu, saya sempat membatin, masak sih, punggawa IT di Indonesia gak bisa bikin aplikasi yang muslim-friendly? Bisa ngasih tau arah Kiblat. Trus, bisa ingatkan kita untuk senantiasa dzikir (mengingat Allah). Selain itu, ada kumpulan doa, sekaligus Al-Quran digital. Kan asyik ya, kalau ada aplikasi super-kece kayak gini.

Baca: Ngetrip ke Amerika, Bagaimana Sholatnya

MasyaALLAH TabarokALLAH…. Ternyataaaa, keinginan saya terwujud, sodara! Kemarin Selasa (23/Maret) saya mengikuti virtual Press Conference yang dihelat Rumah Zakat. Ternyata, dalam rangka menyambut bulan Ramadhan, Rumah Zakat (RZ) meluncurkan aplikasi Digital Islamic Style (DIS).

Continue reading

Akankah Ramadhan dan Lebaran 2021 Berjalan Seperti Tahun Lalu?

Coba deh, kalian main-main ke minimarket/supermarket. Yang namanya kurma, kaleng biskuit, sirup, susu penambah energi udah terpampang pasrah di sekujur toko. Artinya apa? Yuup, artinya…. bulan depan kita bakal memasuki bulan suci Ramadhan!

Oh, ya ampun… 2021 ini kok serasa terbaaang! Sumringah sekali, karena bulan suci sudah menanti di ujung pintu. Tapiii, tentu saja, ada sesuatu yang mengganjal di lubuk hati. Update kasus corona di Indonesia belum menunjukkan grafik yang menggembirakan. Jumlah pasien positif covid-19 masih banyak. Vaksinasi juga belum sepenuhnya merata, karena ya jumlah WNI segini banyak. Dan memang ada SOP (Standard Operational Procedure) serta kebijakan yang ditetapkan pemangku kepentingan.

So, pertanyaannya…. Akankah Ramadhan dan Lebaran 2021 berjalan begitu senyap, seperti Tahun Lalu?

Continue reading

Lebaran Tahun Ini, Momentum Tobat Kaum BPJS (Budget Pas-Pasan Jiwa Sosialita)

Euwwww, judulnya (tumben) panjang amat 🙂 Gapapa lah ya. Lagi pengin bikin judul yang puanjaaaanggg. Eniwei, hari ini daku mau ngobrolin soal gimana tips berhemat di momentum Lebaran. Tau sendiri lah, yang namanya lebaran, selain rentan bikin badan jadi lebar-an, juga menjadi tersangka utama ‘sakaratul maut’-nya isi dompet dan rekening bank.

Atas nama “Yaaahhh, namanya juga Lebaran, setahun sekali ini…” mayoritas dari kita, entah kenapa, jadi demen banget hambur-hamburin duit. Untuk apapun! Bukan hanya buat ngasih salam tempel ke ponakan atau krucils yang main ke rumah; tapi duit tuh kaya lenyap ziiiingggg begitu saja, dan ketika ditelusuri, embuh ra weruh ke mana tuh hengkangnya.

Continue reading

Selama Karantina Corona, Kita Ngapain Aja?

“Masa karantina akan berakhir. Manusia akan keluar dengan keadaan yang beragam. Ada yang menyelesaikan 25 kajian via online. Ada yang menamatkan 10 buku. Ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an 4 kali. Dan ada yang menghafalkan 100 hadits. Sebaliknya… ada yang kau temukan menghabiskan waktunya bermain game online, ada yang menamatkan 15 serial drama ditambah puluhan film, ada juga yang sibuk membaca berita dan mengritik kesalahan pemerintah.

Mereka semua mendapatkan jatah yang sama, yaitu WAKTU LUANG. Akan tetapi hasil yang didapatkan berbeda-beda sesuai dengan kadar ilmu, iman, dan semangat mereka. Maka, pilihlah, ingin menjadi bagian yang manakah dirimu?”

Continue reading

Merasa Baik

Merasa Baik

“Jika setan tak mampu membuatmu melakukan keburukan dan kebathilan, maka setan akan menjadikanmu MERASA BAIK.”

Saat diri merasa buruk, (biasanya) kita akan berusaha memperbaiki diri.

Namun, saat diri merasa baik, semua keburukan bakal terjadi. Karena pada hakikatnya, orang yang merasa baik, tidak ada yang dipikirkan selain diri sendiri.

Merasa baik, tidak sempat menilai diri terhadap kekurangan. Karena yang dirasakan hanya kebaikan dirinya. Karena yang ia rasa hanya kebaikan dirinya. Yang dia lihat adalah keburukan dan kekurangan orang lain, sampai ia melupakan kekurangan dirinya.

Merasa baik, adalah keburukan yang paling buruk. Karena merasa baik, adalah salah satu penyakit hati.

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati, hingga tidak seorang pun yang BANGGA atas yang lain, dan tidak ada yang berbuat aniaya/dholim terhadap yang lain.” (HR Muslim No. 2865)

Tampak baik bukan berarti baik. Bahkan sebaliknya. Merasa baik adalah seburuk-buruknya rasa. Karena rasa ini menjadikan pemiliknya tidak bisa menilai kesalahan diri sendiri. Tidak mungkin bisa menyesali kekeliruannya. Karena pemiliknya merasa tidak pernah bersalah. Yang ia rasa hanya kebaikan dirinya. Takjub dengan dirinya sendiri.

Padahal salah satu perintah Rasul adalah: agar kita pandai menangisi dosa-dosa kita. Bagaimana mungkin bisa, kalau yang dirasakan hanyalah kebaikan yang dipunya.

Tips Semakin Bahagia dan Menikmati Tantangan Hidup di 2019

Guys, gimana awal semester 2019 kalian? Penuh dengan aroma perjuangan? Kudu berjibaku menghadapi tantangan hidup yang seolah terus-menerus menggerojok? Beragam rintangan menghadang, dan tak kenal kata kompromi? Lalu raga dan jiwa ini terasa lelah, lantaran diberondong tugas, amanah dan kewajiban yang kualitas dan kuantitasnya super duper alaihim gambreng?

Sini, sini….. kita tossss dulu!

😀

Awal hingga pertengahan 2019 ini—bagi aku —adalah tahun yang “gado-gado” banget. Semua mua adaaa di dalamnya. Kabar bahagia, berita duka, sepenggal nelangsa, semua campur aduk, dan yeah, kita semua paham begitulah hidup.

Continue reading

Teruslah Berkiprah, Wahai Pasar Syariah!

Saya paling suka kalau diajak blusukan ke pasar tradisional ala pakde Jokowi. Di mata saya, pasar itu kan semacam miniatur rakyat Indonesia. Jadi, bisa  merepresentasikan kondisi rakyat yang sesungguhnya.

Kita bisa ngobrol—dengan sangat-sangat humanis—bersama para pedagangnya. Kita juga bisa bercengkrama sejenak dengan tukang parkir. Atau, berbagi informasi dengan pembeli yang lain… Bisa dapet “hosip-hosip” hahahahaha, ataupun bisa membeli plus menikmati jajan pasar yang mak nyus dengan harga murah meriaaaah, pokoke mantaapp!

Walaupun tempat tinggal saya “dikepung” puluhan minimarket, hipermarket, toserba dan lokasi shopping modern lainnya, saya tak bisa move on dari pasar tradisional. Aura kehangatan, sapaan yang genuine, tidak dibuat-buat, interaksi yang ngangenin, itulah yang saya rindukan selalu dari pasar tradisional.

Persis seperti mas Riri Riza—sutradara handal itu—yang kerap blusukan di pasar demi mendapatkan plus mendalami karakter tertentu. Ya jelas lah, pasar kan kumpulan karakter manusia.

Mau cari pedagang bakhil? Ada! Pembeli yang nggak sopan karena nawarnya nggak kira-kira? Banyak! Tapi, percayalah, kita akan selalu merindukan semua “drama” yang terjadi di pasar tradisional!

Saya berusaha meluangkan waktu untuk silaturahim ke berbagai pasar di Surabaya. Meski terkadang kudu berjalan miring ala mister crab di kartun Spongebob (maklum badan saya kan “luas”) saya tetap “fanatik” dengan pasar tradisional. Salah satu yang saya jadikan jujugan adalah Pasar Syariah Az-Zaitun, di kawasan Kutisari Selatan Surabaya.

Pasar Syariah? Serius??

Yap, serius banget. Pasar ini memang mengusung semangat syariah dalam perjalanan bisnisnya. Adalah seorang Prof Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, SE, pakar sekaligus guru besar Ekonomi Syariah Unair (Univ. Airlangga) yang mengusung ide pendirian pasar syariah.

Beliau ingin mengaplikasikan prinsip syariah dalam sebuah pasar. Maklum saja, selama ini, tidak sedikit masyarakat yang skeptis dengan konsep syariah. Ada yang menuding bahwa syariah hanya sekedar “label”. Wuitss, ini nih, yang membuat Prof Suroso terpanggil untuk melahirkan gebrakan pasar syariah.

Prof Suroso terinspirasi sebuah riwayat, bahwa Rasulullah pernah mengumpulkan sejumlah sahabat di sebuah tanah lapang yang kosong untuk membahas pendirian pasar. Pada waktu itu, Rasulullah merasa prihatin lantaran menyaksikan aneka praktik ribawi, tipu muslihat dan sebagainya yang berlangsung di pasar. Dengan amar ma’ruf nahi mungkar (menyebarkan kebaikan, menolak kemungkaran), Rasul mengajak sahabat untuk mendirikan pasar yang menegakkan syariat Islam. Pasar ini harus bebas riba, bebas kecurangan timbangan, bebas tipu muslihat sekaligus hanya menjual barang-barang yang halal sesuai syariat. Dari situlah, Prof Suroso terinspirasi untuk meneladani jejak Rasul.

Ada lahan seluas 800 meter persegi milik Prof Suroso yang berada di kawasan Kutisari Selatan. Lahan inilah yang akan beliau “hidupkan” sebagai pasar syariah. Beliau menawari sejumlah pedagang (yang kesulitan cari lahan) untuk membuka lapak, dengan masing-masing kios berukuran 2×2 meter. Pasar ini diresmikan dan mulai beroperasi sejak tahun 2010. Harga sewanya amat terjangkau, 5000 rupiah per hari. Karena sewa kios amat murah, tak heran, pedagang juga bisa memberlakukan harga yang amat bersahabat. Saya sempat berbincang dengan Ibu Laila, salah satu pedagang sayur di sana. ”Alhamdulillah, saya bersyukur bisa berjualan di sini, karena suasananya enak,” ucap beliau.

Yang jelas, para pedagang di Pasar ini harus memegang teguh 7 konsep khas pasar syariah Az-Zaitun Pertama, barang yang diperdagangkan halal. Kedua, alat timbang dan alat hitung tepat. Ketiga, kebersihan yang terjaga. Keempat, kejujuran. Kelima, persaudaraan  antar pedagang. Keenam, larangan merokok di dalam pasar. Ketujuh, harga yang murah meriah.  

Apabila dijalankan dengan benar, maka konsep pasar syariah bakal menguntungkan semua stakeholder di pasar. Yap, ketujuh konsep ini berpihak pada rakyat, para konsumen, pedagang (pelaku usaha) sekaligus investor atau pemilik lahan. Ada 120 kios yang beroperasi, dan ini adalah pasar syariah pertama di Indonesia.

Eh, karena namanya syariah, apakah semua stakeholder harus beragama Islam? Oh, tentu tidak. Konsep ekonomi syariah ini bermanfaat untuk seluruh penghuni semesta. Jadi, beberapa pedagang ada yang beragama Nasrani, Hindu dan sebagainya. Pembelinya juga begitu. Betul-betul pasar yang memberi kemanfaatan optimal untuk semua.

Prof Suroso menuturkan, bahwa apa yang beliau lakukan tulus untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan. Selain menghidupkan pasar, beliau juga mendirikan At Tiin Islamic Foundation. Yayasan ini yang memberikan fasilitas pendanaan, berupa bantuan pinjaman bagi para pedagang tanpa bunga. Tentu, ekonomi dan prinsip syariah berlaku di konsep pinjaman modal perdagangan ini. Tidak ada persaingan yang sampai “berdarah-darah” antara pedagang, karena yang ditonjolkan adalah prinsip saling menolong, sesuai perintah syariat Islam.

Wah, wah, wah… Keren sekali ya, pasar syariah ini. Barangkali, pengelola pasar lain bisa melakukan studi banding dengan Prof Suroso, di Kampus B Fakultas Ekonomi Syariah Universitas Airlangga Surabaya.

Hidup Pasar Rakyat!

Hidup Pasar Syariah!

Parsel Lebaran dari Dompet Dhuafa

Ramadhan merupakan waktu yang tepat berbagi kebahagiaan dengan cara berzakat dan bersedekah, termasuk dengan memberikan hadiah. Hadiah merupakan bukti rasa cinta dan bersihnya hati. Dengan hadiah, terwujudlah kesempurnaan untuk meraih kecintaan dan kasih sayang.

Ramadhan tahun 2019 ini, Dompet Dhuafa Jawa Timur kembali mengadakan program PARSEL LEBARAN. Program berbagi parsel lebaran ditujukan untuk para dhuafa dan masyarakat marginal di seluruh Indonesia. Program ini memfasilitasi mereka yang berpunya untuk memberikan hadiah kepada mereka yang membutuhkan. Hadiah yang diberikan akan memberikan kesan yang berbeda bagi mereka di hari yang mulia.

Pernah satu waktu salah seorang penerima manfaat bernama Tama menyatakan kebahagiaannya seperti ini: “Senang sekali ya, berasa bahagia banget dapat bingkisan ini. Terima kasih buat donatur Dompet Dhuafa yang sudah peduli sama kami. Semoga Dompet Dhuafa lebih peduli dengan kaum-kaum yang seperti ini, dan semakin membawa keberkahan buat kami.”

Maka dari itu  program ini terus bergulir setiap tahunnya tidak lain karena kami melihat respon kebahagiaan yang luar biasa berkat bantuan para donatur Dompet Dhuafa. Pasalnya parcel lebaran yang dibagikan sangat membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan, khusunya di Hari Raya Idul Fitri nanti.

Kami menargetkan dapat membagi lebih dari 200 paket parsel bagi mereka yang membutuhkan. Dari donasi Anda, hadiah parsel akan diterima dengan suka cita oleh para dhuafa. Kami mengajak Anda untuk beramal jariyah dalam Bagi Parsel Lebaran ini.

Adapun parsel yang disalurkan berisi:

  • Paket Sembako;
  • Paket Ibadah (Mukena dan Baju Taqwa);
  • Paket Perlengkapan Sekolah.

Di rumah para juru parkir, penggali kubur, guru daerah perbatasan, tukang sapu jalanan, penjaga palang pintu dan para penyandang disabilitas, parsel dari Anda selalu dinanti. Akan ada ribuan dhuafa yang terbantu, dengan mendapatkan lebaran yang layak, sekaligus mempersembahkan hari raya spesial bagi para keluarga ini di desa.

Tentang Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Wakaf, Infaq, Shadaqah, Wakaf serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga). Selama 26 tahun Dompet Dhuafa memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan ummat dan kemanusiaan dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi dan kebencanaan serta CSR.

Untuk Informasi Lebih Lanjut Silakan Menghubungi:

Associate Editor Dompet Dhuafa Jawa Timur

Jl. Ngagel Jaya Selatan No 111 B,

U.P : Aldhi Telp. 031-5023290

http://www.ddjatim.org @ddjatim