Lebaran Tahun Ini, Momentum Tobat Kaum BPJS (Budget Pas-Pasan Jiwa Sosialita)

Euwwww, judulnya (tumben) panjang amat 🙂 Gapapa lah ya. Lagi pengin bikin judul yang puanjaaaanggg. Eniwei, hari ini daku mau ngobrolin soal gimana tips berhemat di momentum Lebaran. Tau sendiri lah, yang namanya lebaran, selain rentan bikin badan jadi lebar-an, juga menjadi tersangka utama ‘sakaratul maut’-nya isi dompet dan rekening bank.

Atas nama “Yaaahhh, namanya juga Lebaran, setahun sekali ini…” mayoritas dari kita, entah kenapa, jadi demen banget hambur-hamburin duit. Untuk apapun! Bukan hanya buat ngasih salam tempel ke ponakan atau krucils yang main ke rumah; tapi duit tuh kaya lenyap ziiiingggg begitu saja, dan ketika ditelusuri, embuh ra weruh ke mana tuh hengkangnya.

Continue reading

Selama Karantina Corona, Kita Ngapain Aja?

“Masa karantina akan berakhir. Manusia akan keluar dengan keadaan yang beragam. Ada yang menyelesaikan 25 kajian via online. Ada yang menamatkan 10 buku. Ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an 4 kali. Dan ada yang menghafalkan 100 hadits. Sebaliknya… ada yang kau temukan menghabiskan waktunya bermain game online, ada yang menamatkan 15 serial drama ditambah puluhan film, ada juga yang sibuk membaca berita dan mengritik kesalahan pemerintah.

Mereka semua mendapatkan jatah yang sama, yaitu WAKTU LUANG. Akan tetapi hasil yang didapatkan berbeda-beda sesuai dengan kadar ilmu, iman, dan semangat mereka. Maka, pilihlah, ingin menjadi bagian yang manakah dirimu?”

Continue reading

Merasa Baik

Merasa Baik

“Jika setan tak mampu membuatmu melakukan keburukan dan kebathilan, maka setan akan menjadikanmu MERASA BAIK.”

Saat diri merasa buruk, (biasanya) kita akan berusaha memperbaiki diri.

Namun, saat diri merasa baik, semua keburukan bakal terjadi. Karena pada hakikatnya, orang yang merasa baik, tidak ada yang dipikirkan selain diri sendiri.

Merasa baik, tidak sempat menilai diri terhadap kekurangan. Karena yang dirasakan hanya kebaikan dirinya. Karena yang ia rasa hanya kebaikan dirinya. Yang dia lihat adalah keburukan dan kekurangan orang lain, sampai ia melupakan kekurangan dirinya.

Merasa baik, adalah keburukan yang paling buruk. Karena merasa baik, adalah salah satu penyakit hati.

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati, hingga tidak seorang pun yang BANGGA atas yang lain, dan tidak ada yang berbuat aniaya/dholim terhadap yang lain.” (HR Muslim No. 2865)

Tampak baik bukan berarti baik. Bahkan sebaliknya. Merasa baik adalah seburuk-buruknya rasa. Karena rasa ini menjadikan pemiliknya tidak bisa menilai kesalahan diri sendiri. Tidak mungkin bisa menyesali kekeliruannya. Karena pemiliknya merasa tidak pernah bersalah. Yang ia rasa hanya kebaikan dirinya. Takjub dengan dirinya sendiri.

Padahal salah satu perintah Rasul adalah: agar kita pandai menangisi dosa-dosa kita. Bagaimana mungkin bisa, kalau yang dirasakan hanyalah kebaikan yang dipunya.

Tips Semakin Bahagia dan Menikmati Tantangan Hidup di 2019

Guys, gimana awal semester 2019 kalian? Penuh dengan aroma perjuangan? Kudu berjibaku menghadapi tantangan hidup yang seolah terus-menerus menggerojok? Beragam rintangan menghadang, dan tak kenal kata kompromi? Lalu raga dan jiwa ini terasa lelah, lantaran diberondong tugas, amanah dan kewajiban yang kualitas dan kuantitasnya super duper alaihim gambreng?

Sini, sini….. kita tossss dulu!

😀

Awal hingga pertengahan 2019 ini—bagi aku —adalah tahun yang “gado-gado” banget. Semua mua adaaa di dalamnya. Kabar bahagia, berita duka, sepenggal nelangsa, semua campur aduk, dan yeah, kita semua paham begitulah hidup.

Continue reading

Teruslah Berkiprah, Wahai Pasar Syariah!

Saya paling suka kalau diajak blusukan ke pasar tradisional ala pakde Jokowi. Di mata saya, pasar itu kan semacam miniatur rakyat Indonesia. Jadi, bisa  merepresentasikan kondisi rakyat yang sesungguhnya.

Kita bisa ngobrol—dengan sangat-sangat humanis—bersama para pedagangnya. Kita juga bisa bercengkrama sejenak dengan tukang parkir. Atau, berbagi informasi dengan pembeli yang lain… Bisa dapet “hosip-hosip” hahahahaha, ataupun bisa membeli plus menikmati jajan pasar yang mak nyus dengan harga murah meriaaaah, pokoke mantaapp!

Walaupun tempat tinggal saya “dikepung” puluhan minimarket, hipermarket, toserba dan lokasi shopping modern lainnya, saya tak bisa move on dari pasar tradisional. Aura kehangatan, sapaan yang genuine, tidak dibuat-buat, interaksi yang ngangenin, itulah yang saya rindukan selalu dari pasar tradisional.

Persis seperti mas Riri Riza—sutradara handal itu—yang kerap blusukan di pasar demi mendapatkan plus mendalami karakter tertentu. Ya jelas lah, pasar kan kumpulan karakter manusia.

Mau cari pedagang bakhil? Ada! Pembeli yang nggak sopan karena nawarnya nggak kira-kira? Banyak! Tapi, percayalah, kita akan selalu merindukan semua “drama” yang terjadi di pasar tradisional!

Saya berusaha meluangkan waktu untuk silaturahim ke berbagai pasar di Surabaya. Meski terkadang kudu berjalan miring ala mister crab di kartun Spongebob (maklum badan saya kan “luas”) saya tetap “fanatik” dengan pasar tradisional. Salah satu yang saya jadikan jujugan adalah Pasar Syariah Az-Zaitun, di kawasan Kutisari Selatan Surabaya.

Pasar Syariah? Serius??

Yap, serius banget. Pasar ini memang mengusung semangat syariah dalam perjalanan bisnisnya. Adalah seorang Prof Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, SE, pakar sekaligus guru besar Ekonomi Syariah Unair (Univ. Airlangga) yang mengusung ide pendirian pasar syariah.

Beliau ingin mengaplikasikan prinsip syariah dalam sebuah pasar. Maklum saja, selama ini, tidak sedikit masyarakat yang skeptis dengan konsep syariah. Ada yang menuding bahwa syariah hanya sekedar “label”. Wuitss, ini nih, yang membuat Prof Suroso terpanggil untuk melahirkan gebrakan pasar syariah.

Prof Suroso terinspirasi sebuah riwayat, bahwa Rasulullah pernah mengumpulkan sejumlah sahabat di sebuah tanah lapang yang kosong untuk membahas pendirian pasar. Pada waktu itu, Rasulullah merasa prihatin lantaran menyaksikan aneka praktik ribawi, tipu muslihat dan sebagainya yang berlangsung di pasar. Dengan amar ma’ruf nahi mungkar (menyebarkan kebaikan, menolak kemungkaran), Rasul mengajak sahabat untuk mendirikan pasar yang menegakkan syariat Islam. Pasar ini harus bebas riba, bebas kecurangan timbangan, bebas tipu muslihat sekaligus hanya menjual barang-barang yang halal sesuai syariat. Dari situlah, Prof Suroso terinspirasi untuk meneladani jejak Rasul.

Ada lahan seluas 800 meter persegi milik Prof Suroso yang berada di kawasan Kutisari Selatan. Lahan inilah yang akan beliau “hidupkan” sebagai pasar syariah. Beliau menawari sejumlah pedagang (yang kesulitan cari lahan) untuk membuka lapak, dengan masing-masing kios berukuran 2×2 meter. Pasar ini diresmikan dan mulai beroperasi sejak tahun 2010. Harga sewanya amat terjangkau, 5000 rupiah per hari. Karena sewa kios amat murah, tak heran, pedagang juga bisa memberlakukan harga yang amat bersahabat. Saya sempat berbincang dengan Ibu Laila, salah satu pedagang sayur di sana. ”Alhamdulillah, saya bersyukur bisa berjualan di sini, karena suasananya enak,” ucap beliau.

Yang jelas, para pedagang di Pasar ini harus memegang teguh 7 konsep khas pasar syariah Az-Zaitun Pertama, barang yang diperdagangkan halal. Kedua, alat timbang dan alat hitung tepat. Ketiga, kebersihan yang terjaga. Keempat, kejujuran. Kelima, persaudaraan  antar pedagang. Keenam, larangan merokok di dalam pasar. Ketujuh, harga yang murah meriah.  

Apabila dijalankan dengan benar, maka konsep pasar syariah bakal menguntungkan semua stakeholder di pasar. Yap, ketujuh konsep ini berpihak pada rakyat, para konsumen, pedagang (pelaku usaha) sekaligus investor atau pemilik lahan. Ada 120 kios yang beroperasi, dan ini adalah pasar syariah pertama di Indonesia.

Eh, karena namanya syariah, apakah semua stakeholder harus beragama Islam? Oh, tentu tidak. Konsep ekonomi syariah ini bermanfaat untuk seluruh penghuni semesta. Jadi, beberapa pedagang ada yang beragama Nasrani, Hindu dan sebagainya. Pembelinya juga begitu. Betul-betul pasar yang memberi kemanfaatan optimal untuk semua.

Prof Suroso menuturkan, bahwa apa yang beliau lakukan tulus untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan. Selain menghidupkan pasar, beliau juga mendirikan At Tiin Islamic Foundation. Yayasan ini yang memberikan fasilitas pendanaan, berupa bantuan pinjaman bagi para pedagang tanpa bunga. Tentu, ekonomi dan prinsip syariah berlaku di konsep pinjaman modal perdagangan ini. Tidak ada persaingan yang sampai “berdarah-darah” antara pedagang, karena yang ditonjolkan adalah prinsip saling menolong, sesuai perintah syariat Islam.

Wah, wah, wah… Keren sekali ya, pasar syariah ini. Barangkali, pengelola pasar lain bisa melakukan studi banding dengan Prof Suroso, di Kampus B Fakultas Ekonomi Syariah Universitas Airlangga Surabaya.

Hidup Pasar Rakyat!

Hidup Pasar Syariah!

Parsel Lebaran dari Dompet Dhuafa

Ramadhan merupakan waktu yang tepat berbagi kebahagiaan dengan cara berzakat dan bersedekah, termasuk dengan memberikan hadiah. Hadiah merupakan bukti rasa cinta dan bersihnya hati. Dengan hadiah, terwujudlah kesempurnaan untuk meraih kecintaan dan kasih sayang.

Ramadhan tahun 2019 ini, Dompet Dhuafa Jawa Timur kembali mengadakan program PARSEL LEBARAN. Program berbagi parsel lebaran ditujukan untuk para dhuafa dan masyarakat marginal di seluruh Indonesia. Program ini memfasilitasi mereka yang berpunya untuk memberikan hadiah kepada mereka yang membutuhkan. Hadiah yang diberikan akan memberikan kesan yang berbeda bagi mereka di hari yang mulia.

Pernah satu waktu salah seorang penerima manfaat bernama Tama menyatakan kebahagiaannya seperti ini: “Senang sekali ya, berasa bahagia banget dapat bingkisan ini. Terima kasih buat donatur Dompet Dhuafa yang sudah peduli sama kami. Semoga Dompet Dhuafa lebih peduli dengan kaum-kaum yang seperti ini, dan semakin membawa keberkahan buat kami.”

Maka dari itu  program ini terus bergulir setiap tahunnya tidak lain karena kami melihat respon kebahagiaan yang luar biasa berkat bantuan para donatur Dompet Dhuafa. Pasalnya parcel lebaran yang dibagikan sangat membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan, khusunya di Hari Raya Idul Fitri nanti.

Kami menargetkan dapat membagi lebih dari 200 paket parsel bagi mereka yang membutuhkan. Dari donasi Anda, hadiah parsel akan diterima dengan suka cita oleh para dhuafa. Kami mengajak Anda untuk beramal jariyah dalam Bagi Parsel Lebaran ini.

Adapun parsel yang disalurkan berisi:

  • Paket Sembako;
  • Paket Ibadah (Mukena dan Baju Taqwa);
  • Paket Perlengkapan Sekolah.

Di rumah para juru parkir, penggali kubur, guru daerah perbatasan, tukang sapu jalanan, penjaga palang pintu dan para penyandang disabilitas, parsel dari Anda selalu dinanti. Akan ada ribuan dhuafa yang terbantu, dengan mendapatkan lebaran yang layak, sekaligus mempersembahkan hari raya spesial bagi para keluarga ini di desa.

Tentang Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Wakaf, Infaq, Shadaqah, Wakaf serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga). Selama 26 tahun Dompet Dhuafa memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan ummat dan kemanusiaan dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi dan kebencanaan serta CSR.

Untuk Informasi Lebih Lanjut Silakan Menghubungi:

Associate Editor Dompet Dhuafa Jawa Timur

Jl. Ngagel Jaya Selatan No 111 B,

U.P : Aldhi Telp. 031-5023290

http://www.ddjatim.org @ddjatim

Ibadah Makin Semangat dengan Mukena Premium “Siti Khadijah”

Yuhuuu gimana manteman ibadah Ramadan-nya? Semangat tetap membara? Masih rajin tarawih, tadarus, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya? Atau….. justru lunglai loyo letih lemah lesu tidak bertenaga? HAHA. Sabaaaarrr, namanya orang puasa, pastilah banyak cobaan dong ya. Apalagi, kalau tinggal di bumi Suroboyo. Boabooo, entah kenapa di bulan puasa ini, Surabaya tuh panasnya enggak santeeee. Mak croooongg! Sebagai arek Suroboyo yang lahir, besar, dan bernafas sekian dekade di Surabaya, saya merasa puasa tahun ini sebagai momentum puasa dengan suhu udara ter-wakwaw!

Continue reading

HELP, AKU NGGAK PUNYA BAJU! (sebuah kontemplasi tentang media sosial)

HELP, AKU NGGAK PUNYA BAJU!

Follow me on twitter: @nurulrahma

“Aduuuhhh, gue nggak punya bajuuuu! Gimana dong? Besok mau ada acara kondangan sohib ikrib eikeh? Masak gue jadi satu-satunya orang yang datang dengan dandanan dan kostum ala itik buruk rupa? Mau ditaruh di mana muka gue? Heeeelllpppp!”

(Artika, seorang gadis berusia 22 tahun, yang berdiri termangu di depan lemarinya yang menampung 30 pasang baju dan gaun)

“Yaaaah, dress code gathering-nya Fuschia. Duh, semua cewek yang datang pasti bakal datang dengan penampilan unyu unyu ulala nggemesin gituuuh. Lah, aku piye? Baju-bajuku udah out of date semua! Udah gitu, jilbabnyaaa hadeeh, kagak ada yang matching! Ini gimana nih, masak pake baju fuschia dengan model enggak kekinian samasekali, trus dipaduin ama jilbab warna kuning? Idiiih, enggak banget deh! Aku kudu piyeeee?”

(Liana, cewek 19 tahun, yang bingung pilih baju di antara 50 koleksi busana miliknya. Dia bakal datang ke gathering socmed influencer, di salah satu tempat nongkrong ngehits di Surabaya)

“Yeah, I know. Baju gue banyak sih. Segabruk, nangkring di 5 lemari gede di rumah. Tapiii, tetep aja, aku ngerasa nggak punya baju yang layak buat masuk ke feed Instagram! Kalo pake baju yang merah, ntar aku kliatan genduts. Pake baju item, kok kesannya suram. Pake baju bling bling, ntar diledekin nggak sesuai usia. Pusing pala peyaaaang…!”

(Sinta, mami muda berusia 25 tahun, yang haus “like” dan comment “Aduh, kamu cantik banget, bunsaaaay!” di Instagram)

***

Gimana, gimana? Apakah perasaan resah, gundah gulana yang dialami Artika, Liana dan Sinta juga merongrong kalbu kalian? Apakah kegalauan “Aku nggak punya bajuuuuuu…!” juga sempat lo alami manakala membuka lemari? Dan bersiap untuk datang ke acara tertentu, plus upload aneka pose OOTD (Outfit ofThe Day) di Instagram?

Welll….. berhati-hatilah sodara!

Kita semua tahu kalo sekarang, tantangan buat ‘selalu tampil ketjeh memesona nan paripurna’ di Instagram seolah menjadi sebuah keharusan. Yeah, keharusan yang dibebankan entah oleh siapa. (lah iya, ngomong-ngomong siapa yak, yang nyuruh dan mewajibkan kita selalu kliatan cethar ulala dalamsetiap pose? Ngga ada kan?)

Namanya juga socmed. Social media. Beberapa dari kita menjelma menjadi orang yang begitu haus pengakuan… makin semangat kalo banjir like and comment. Dan ini pada gilirannya membuat kita terbebani dengan mikir 1000 kali, ntar kalo pergi aku pake baju apa ya? Posenya gimana ya? Ambil foto…angle-nya kayak gimana ya? Kan aku pengin juga poto OOTD ala selebgram yang itutuuuh. Jadi, gimana dong, aku kudu pake baju apa? Matching dengan jilbab apa? Aksesorisnya apa? Perlu pakai topi fedora atau enggak? Trus, kacamata item ntar yang frame-nya kotak apa bulet aja ya? Taruh di atas jilbab (kayak bando) atau dipake aja? Sepatunya piye? Mau pakai yang female boots atau wedges… atau stiletto, atau sneaker aja?

Ya ampyuuuuun…. Pusyiiiingg!

Waspadalah Dampak Buruk Instagram!

Oke, sebelum ngebahas lebih lanjut soal sindroma “Aku nggak punya baju!” ini, yuk lah kita baca dulu riset tentang dampak buruk Instagram bagi kesehatan mental.

Royal Society forPublic Health (RSPH), lembaga amal independen asal Inggris membuat sebuah survey yang melibatkan hampir 1.500 pemuda Inggris berusia 14-24 tahun untuk mengetahui dampak berbagai sosial media terhadap kesehatan mental pemuda.

Darihasil survey, didapatkan kesimpulan bahwa di antara lima media sosial populer yakni Facebook, YouTube, Instagram, Twitter dan Snapchat, Instagram menempati posisi paling atas sebagai media sosial yang paling punya dampak negatif bagi kesehatan mental generasi muda.

Kok bisa?

Yap, Instagram adalah media sosial yang tepat untuk mengekspresikan diri lewat macam-macam ide foto, plus ajang buat mencari dan menunjukkan self identity serta membangun relasi. Tapi, sisi gelap Instagram (dan socmed lainnya) adalah:

Menimbulkan Anxiety.Kalo kita lihat IG teman yang lagi update pergi ke kafe yang kece, have a fancy meal, belanja barang-barang cihuy, terkadang muncul pikiran, “Ih, ngiri deh, dia seneng-seneng melulu  kayaknya”, ya kan?

Kita sering ngerasa insecure dan nggak happy lihat posting-an orang lain. Padahal, kehidupan di Instagram itu nggak 100% real alias versi setelah dipilah-pilih dan nggak jarang yang ditunjukkan hanya sisi yang bagusnya aja.

Negative Body and Fashion Image Nggak sedikit dari kita yang merasa “duh, kurang kece nih poto gue!” saban mau posting di IG, dan melakukan buanyaaaak hal (seleksi, editing, foto ratusan kali demi poto yang perfecto!) Blahhh. Belum lagi kita bingung dengan pilah/pilih baju, aksesoris,dan lain-lainnya demi foto kece paripurna di Instagram. Olala.

***

Padahal kita semua tahu kan, kalau di hari akhir nanti kita akan ditanya “Bagaimana cara kamu mencari rezeki dan gimana membelanjakannya?”

Kita memang harus memilah dan memilih mana yang halal dan baik. Untuk mencari rezeki, nggak boleh ngawur. Harus sesuai dengan syariat dan kaidah yang ditetapkan Allah. Hanya mencari rezeki yang halal dan berkah. Kemudian, setelah rezeki itu ada di tangan kita, cara membelanjakannya juga nggak boleh sakarepe dewe. Ada koridor yang harus kita taati. Jangan boros, karena boros itu temannya setan! Jadi, ketika belanja baju dalam sebulan bisa 20 kali, wadaaaww,hati-hati! Itu jebakan betmen gaes! Setan biasanya membisikkan kalimat-kalimat yang bikin kita tak berdaya

“Mumpung diskon!”

“Lagi SALE nih! Kapan lagi bisa belanja outfit terkini dengan harga murah meriah?”

Sooo… istighfar yuk! Isi lemari dengan pakaian SECUKUPNYA,jangan mau jadi “budak” Instagram hanya demi meraih like and comment, yang sesungguhnya sama sekali nggak bisa jadi jaminan buat kita untuk menggapai ridho Allah ta’ala.(*)

Saya Nurul Rahma. Saya Bukan Bocah Biasa

“Halo saya Nurul, blogger Bukan Bocah Biasa dot Com.”

“Waaaww, apa tadi, alamat blognya?”

“Bukan bocah biasa dot Com.”

Sang narasumber menyeringai sesaat. Ya bisa jadi, ia membatin, ”Alay amat nama blognya?”

Hehhehehe.

Saya udah pernah nulis tentang philosophy behind my blog’s name di postingan ini. Tapi karena hari ke-3 #30DayBlogChallenge by #BloggerPerempuan ini temanya tentang “Nama Blog kamu?” ya sutralaaah, sini, sini…… kita ngobrol dari hati ke hati, sambil siapin kopi dan cemilan kuaci.

***

Seperti yang udah saya paparkan, nama blog ini semacam doa,agar my little son becoming extraordinary kid. Ya itu tadi, bukan bocah biasa 😀

Walaupun sampai saat ini, Sidqi ya masih biasa-biasa aja.Dalam artian pencapaian duniawi doi ya (masih) gitu-gitu aja.

Sekolah, masuk tiap hari. Kalau ada PR, dikerjakan. Ad atugas kelompok, ya doi ikutan. Nothing special about him, sampai hari ini.

Meski demikian, saya sih tetap memegang renjana (ini Bahasa Indonesia baku dari kata passion)agar Sidqi bisa menjadi SOMEONE SPECIAL yang bisa berkontribusi banyak untuk masyarakat.

Secara spesifik, belum tahu lah dia mau menekuni profesi apa dan beramal kayak gimana. Yang penting, dia punya MANFAAT, ada FAEDAH untuk orang banyak.

Ya ibaratnya, kalo dulu eikeh disuruh nulis buku diary teman, kan suka ditanyain cita-cita tuh. Karena masih clueless, biasanya aku nulis “Jadi orang yang berguna untuk Nusa, Bangsa dan Agama.” Heheheheh!!

***

Selain menjadi “DOA DI KANCAH DIGITAL” buat my little kid, sesungguhnya secaratersirat, blog ini juga menunjukkan adanya innerchild dalam diriku. Wehehehehe. Yap, terkadang teman-teman (termasuk SAYA sendiri) juga terheran-heran sih, dengan sikapku yang mirip bocah alias anak kecil.

Contohnya gini. Ketika ada seseorang yang melakukan persekusi digital (weleh, bahasanya boooo) mayoritas orang DEWASA kan bakal terpancing ya. Trus membalas dengan digital bully dan aneka hate speech yang nggak kalah pedasnya. Terjadilah Tweet War atau IG war, kayak gitu gitu deh. Saling julid dan berbalas komen nyinyir

Kalo saya?

Wolesin aja shaaaay 😀

Jiwa “anak kecil dalam diri saya” mengatakan, ”Choose your battle, darling!”

Nggak perlu semua hal kudu ditanggapi secara emosional. Kalaupun ada yang melontarkan negative or bad comment, then I should thank him/her for doing that! Itu artinya, aku nggak perlu repot-repot melakukan instropeksi.

Ouwww, ternyata sikap aku yang begini dan begitu tuh nggak disukai beberapa pihak, tho. Ya wis, itu jadi catatan aja, and super duper thank you for someone that has been delivering that message 😀

Kadang, orang lain yang malah gemassshhh melihat betapa saya lempeeeeng kayak begini. Ya sutralah, tidak semua “api” harus disiram bensin kan? Tidak semua emosi jiwa kudu dibalas dengan hal serupa. Let it go. Forgiving is good for your soul,anyway.

***

Jiwa “bukan bocah biasa” itu terus menemukan jalannya. Saya udah pernah cerita di postingan ini, tapi mau dibahas dikiiiit aja gapapa ya.

Tatkala menjadi kru media Majalah NURUL HAYAT, saya bertugas menghubungi para Ustadz yang menjadi kolumnis/pengisi rubrik tetap dimajalah kami.

One of them adalah Prof Mohammad Ali Aziz. Sewaktu saya mengirim friendly reminder untuk pengiriman artikel, Prof Ali Aziz mengatakan bahwa beliau akan keliling Amerika dalam beberapa hari ke depan.

Oh ya mbak. Saya juga sedang menyiapkan beberapa artikel karena saya akan memberi pelatihan shalat di kota-kota besar di AS selama dua bulan. Tks

Secara SPONTAN (Uhuuuuuiiii!!) saya bereaksi di FB messenger, ”Mohon doakan saya juga bisa mengikuti jejak Prof, safar ke bumi Amerika dan Eropa, aamiiin.”

Mungkin buat sebagian orang, cara saya berkomunikasi dengan beliau agak “kurang sopan”, tapi heiii… apa salahnya menjalin strong engagement dengan Ustadz? 😀 Apa salahnya minta doa pada beliau? Daaaannn, bisa jadi…..bisa jadi…. Doa orang shalih kan dikabulkan oleh Sang Maha Penguasa di muka bumi!

Baca: Bagaimana sholat di Amrik

***

To sum up, I’m beyond grateful dianugerahi inner child semacam ini. Nyantai. Rileks. Less ambitious and (hopefully) able to enjoy my life!

Lihatlah anak-anak kecil itu. 

Jaraaaaaanggg banget yang tampak stres atau depresi kan? Kalau gejala julid, nyinyir, emosi jiwa tak terkendali mulai merongrong Anda, main-mainlah ke rumah digital saya. Baca sejumlah tips yang saya goreskan dengan suka cita. Artikel penyejuk sukma ini, misalnya. 

Saya Nurul.

Saya Bukan bocah biasa dot com.

😀

Rebut Pahala Dunia-Akherat, melalui Asuransi plus Wakaf!

Setiap kali dengar kata “asuransi” so pasti aku langsung membayangkan sekian rupiah yang kudu disetor dalam wujud polis, juga nilai pertanggungan apabila terjadi apa-apa dengan si pemegang polis. Intinya langsung tertuju ke hal-hal yang sifatnya individu dan duniawi banget lah.

Misalnya, Bapak A selaku pemegang polis meninggal dunia, maka asuransi hanya membahas dan mengurus hal-hal berapa rupiah yang diterima oleh istri dan anak selaku ahli waris.

Jarang ada yang membahas, atau minimal terpikirkan, ”Sepeninggal Bapak A tadi, gimana ya untuk memanjangkan amal beliau? Gimana supaya pahala beliau tetap mengalir meskipun udah berpulang?”

HAMPIR KAGAK ADA, ye kaaan.

NHCM1514

Pengin siapin yang terbaik buat Sidqi 

Nah. Ternyata ada lho orang-orang brilian di balik Sun Life Financial Indonesia yang memikirkan hal tersebut. Bagaimana meng-combine aspek duniawi (masa depan ahli waris) dengan aspek akherat (gimana supaya pahala almarhum/pemegang polis tetap mengalir).

Terobosan yang ‘anti-mainstream’ di dunia asuransi itu berwujud ”Asuransi Briliance Hasanah Maxima” (ABHM). Produk ini dilengkapi manfaat WAKAF. Sehingga memungkinkan nasabah Asuransi Hasanah Maxima untuk bikin financial planning berorientasi dua hal sekaligus. Merencanakan keuangan masa depan, sekaligus beribadah wakaf di saat yang bersamaan, dengan Pasti, Kini dan Nanti.

Wakaf-sunlife-1

Wait, waiiit… WAKAF? Bukannya wakaf itu harus berupa rumah atau tanah ya?

 

Ternyata tidak, gengs! Bersyukur saya hadir dalam bloggers gathering Bersama Sun Life, yang digelar di Bangi Kopi Resto beberapa waktu lalu. Ada Pak Norman Nugraha, selaku Chief Sharia Business Sun Life Financial Indonesia, yang demikian bersemangat mengedukasi bloger bahwa WAKAF itu BISA BANGET pakai duit lho! Bisa dilakukan berkala, dan nggak harus dalam jumlah yang langsung sak hohah!

“Melalui produk ini, Sun Life membantu masyarakat agar dapat melaksanakan ibadah wakaf dengan pasti, kini dan nanti. Lebih PASTI karena wakaf disalurkan melalui Nazhir (badan wakaf) tepercaya, yakni Badan Wakaf Indonesia (BWI), Dompet Dhuafa, Rumah Wakaf, serta 174 lembaga yang terdaftar di BWI. Nantinya pemegang polis bisa memutuskan untuk berwakaf melalui nazhir yang mana. Kami hanya bekerjasama dengan nazhir yang kompeten, demi optimalnya pemanfaatan dana wakaf. Skemanya adalah, dana yang terhimpun akan disalurkan oleh nazhir ke berbagai sektor social yang membutuhkan, mulai dari Pendidikan, ekonomi hingga kesehatan. Salah satunya, wakaf akan dikelola oleh Dompet Dhuafa yaitu di RS Dhuafa AK Medika Sribhawono di Lampung Timur. Amal kita melalui wakaf tepat sasaran dan bisa menjadi amal jariyah,” ucap Pak Norman.

 

Terobosan yang sangat brilian!

Mengombinasikan perencanaan untuk dunia sekaligus berorientasi akherat! Now, let’s talk in a bigger picture. Kenapa WAKAF? Manfaat dan Hikmah Berwakaf tuh apa saja?

Jadi gini, teman-teman. Berdasarkan riset komprehensif yang dilakukan Badan Wakaf Indonesia (BWI), terkuak fakta yang cukup mencengangkan. Potensi Wakaf di Indonesia ini mencapai 180 TRILIUN Rupiah lho. Tahu sendiri kan, muslim di Indonesia jumlahnya banyak. Mereka seyogyanya antusias dong kalo diajak wakaf, karena ini termasuk amal jariyah yang pahalanya bakal terus mengalir, meskipun kita sudah meninggal dunia.

The thing is, potensi baru sebatas potensi doang. Data yang terhimpun mengabarkan bahwa pada tahun 2017, TOTAL penghimpunan dana wakaf di Indonesia ternyata baru 400 miliar saja.

Bayangkan.

Potensinya 180 TRILIUN. Eh, yang terhimpun baru 400 Miliar.

Njomplang banget, yhaaaa

Karena itu, kita patut angkat topi pada ide brilian yang diluncurkan Sun Life melalui ”Asuransi Briliance Hasanah Maxima” (ABHM) ini. Ketika kolaborasi digelar dengan pihak pengelola wakaf yang kompeten, maka ini bisa jadi upaya investasi strategis banget lho! Bisa untuk menghapuskan kemiskinan dan menangani ketertinggalan di bidang ekonomi, Pendidikan dan kesehatan

Eitss! Buat yang masih bertanya-tanya, apakah produk ini worth to buy atau engga… apakah dijamin aman atau engga… No need to worries! Karena Fitur wakaf bagi pemegang polis Syariah yang dibenamkan dalam ”Asuransi Briliance Hasanah Maxima” (ABHM) ini udah memperoleh dukungan dari DSN-MUI. So, peserta asuransi daam mewakafkan manfaat asuransinya hingga 45% dari santunan asuransi, dan 30% dari manfaat investasi dari polisnya. Asuransi Syariah ini juga didukung agen berdedikasi dan tersertifikasi wakaf, yang dikeluarkan Sun Life, bekerja sama dengan DSN Institute dan Badan Wakaf Indonesia.(*)