Parsel Lebaran dari Dompet Dhuafa

Ramadhan merupakan waktu yang tepat berbagi kebahagiaan dengan cara berzakat dan bersedekah, termasuk dengan memberikan hadiah. Hadiah merupakan bukti rasa cinta dan bersihnya hati. Dengan hadiah, terwujudlah kesempurnaan untuk meraih kecintaan dan kasih sayang.

Ramadhan tahun 2019 ini, Dompet Dhuafa Jawa Timur kembali mengadakan program PARSEL LEBARAN. Program berbagi parsel lebaran ditujukan untuk para dhuafa dan masyarakat marginal di seluruh Indonesia. Program ini memfasilitasi mereka yang berpunya untuk memberikan hadiah kepada mereka yang membutuhkan. Hadiah yang diberikan akan memberikan kesan yang berbeda bagi mereka di hari yang mulia.

Pernah satu waktu salah seorang penerima manfaat bernama Tama menyatakan kebahagiaannya seperti ini: “Senang sekali ya, berasa bahagia banget dapat bingkisan ini. Terima kasih buat donatur Dompet Dhuafa yang sudah peduli sama kami. Semoga Dompet Dhuafa lebih peduli dengan kaum-kaum yang seperti ini, dan semakin membawa keberkahan buat kami.”

Maka dari itu  program ini terus bergulir setiap tahunnya tidak lain karena kami melihat respon kebahagiaan yang luar biasa berkat bantuan para donatur Dompet Dhuafa. Pasalnya parcel lebaran yang dibagikan sangat membantu mereka dalam memenuhi kebutuhan, khusunya di Hari Raya Idul Fitri nanti.

Kami menargetkan dapat membagi lebih dari 200 paket parsel bagi mereka yang membutuhkan. Dari donasi Anda, hadiah parsel akan diterima dengan suka cita oleh para dhuafa. Kami mengajak Anda untuk beramal jariyah dalam Bagi Parsel Lebaran ini.

Adapun parsel yang disalurkan berisi:

  • Paket Sembako;
  • Paket Ibadah (Mukena dan Baju Taqwa);
  • Paket Perlengkapan Sekolah.

Di rumah para juru parkir, penggali kubur, guru daerah perbatasan, tukang sapu jalanan, penjaga palang pintu dan para penyandang disabilitas, parsel dari Anda selalu dinanti. Akan ada ribuan dhuafa yang terbantu, dengan mendapatkan lebaran yang layak, sekaligus mempersembahkan hari raya spesial bagi para keluarga ini di desa.

Tentang Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Wakaf, Infaq, Shadaqah, Wakaf serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga). Selama 26 tahun Dompet Dhuafa memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan ummat dan kemanusiaan dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi dan kebencanaan serta CSR.

Untuk Informasi Lebih Lanjut Silakan Menghubungi:

Associate Editor Dompet Dhuafa Jawa Timur

Jl. Ngagel Jaya Selatan No 111 B,

U.P : Aldhi Telp. 031-5023290

http://www.ddjatim.org @ddjatim

Advertisements

Ibadah Makin Semangat dengan Mukena Premium “Siti Khadijah”

Yuhuuu gimana manteman ibadah Ramadan-nya? Semangat tetap membara? Masih rajin tarawih, tadarus, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya? Atau….. justru lunglai loyo letih lemah lesu tidak bertenaga? HAHA. Sabaaaarrr, namanya orang puasa, pastilah banyak cobaan dong ya. Apalagi, kalau tinggal di bumi Suroboyo. Boabooo, entah kenapa di bulan puasa ini, Surabaya tuh panasnya enggak santeeee. Mak croooongg! Sebagai arek Suroboyo yang lahir, besar, dan bernafas sekian dekade di Surabaya, saya merasa puasa tahun ini sebagai momentum puasa dengan suhu udara ter-wakwaw!

Continue reading

HELP, AKU NGGAK PUNYA BAJU! (sebuah kontemplasi tentang media sosial)

HELP, AKU NGGAK PUNYA BAJU!

Follow me on twitter: @nurulrahma

“Aduuuhhh, gue nggak punya bajuuuu! Gimana dong? Besok mau ada acara kondangan sohib ikrib eikeh? Masak gue jadi satu-satunya orang yang datang dengan dandanan dan kostum ala itik buruk rupa? Mau ditaruh di mana muka gue? Heeeelllpppp!”

(Artika, seorang gadis berusia 22 tahun, yang berdiri termangu di depan lemarinya yang menampung 30 pasang baju dan gaun)

“Yaaaah, dress code gathering-nya Fuschia. Duh, semua cewek yang datang pasti bakal datang dengan penampilan unyu unyu ulala nggemesin gituuuh. Lah, aku piye? Baju-bajuku udah out of date semua! Udah gitu, jilbabnyaaa hadeeh, kagak ada yang matching! Ini gimana nih, masak pake baju fuschia dengan model enggak kekinian samasekali, trus dipaduin ama jilbab warna kuning? Idiiih, enggak banget deh! Aku kudu piyeeee?”

(Liana, cewek 19 tahun, yang bingung pilih baju di antara 50 koleksi busana miliknya. Dia bakal datang ke gathering socmed influencer, di salah satu tempat nongkrong ngehits di Surabaya)

“Yeah, I know. Baju gue banyak sih. Segabruk, nangkring di 5 lemari gede di rumah. Tapiii, tetep aja, aku ngerasa nggak punya baju yang layak buat masuk ke feed Instagram! Kalo pake baju yang merah, ntar aku kliatan genduts. Pake baju item, kok kesannya suram. Pake baju bling bling, ntar diledekin nggak sesuai usia. Pusing pala peyaaaang…!”

(Sinta, mami muda berusia 25 tahun, yang haus “like” dan comment “Aduh, kamu cantik banget, bunsaaaay!” di Instagram)

***

Gimana, gimana? Apakah perasaan resah, gundah gulana yang dialami Artika, Liana dan Sinta juga merongrong kalbu kalian? Apakah kegalauan “Aku nggak punya bajuuuuuu…!” juga sempat lo alami manakala membuka lemari? Dan bersiap untuk datang ke acara tertentu, plus upload aneka pose OOTD (Outfit ofThe Day) di Instagram?

Welll….. berhati-hatilah sodara!

Kita semua tahu kalo sekarang, tantangan buat ‘selalu tampil ketjeh memesona nan paripurna’ di Instagram seolah menjadi sebuah keharusan. Yeah, keharusan yang dibebankan entah oleh siapa. (lah iya, ngomong-ngomong siapa yak, yang nyuruh dan mewajibkan kita selalu kliatan cethar ulala dalamsetiap pose? Ngga ada kan?)

Namanya juga socmed. Social media. Beberapa dari kita menjelma menjadi orang yang begitu haus pengakuan… makin semangat kalo banjir like and comment. Dan ini pada gilirannya membuat kita terbebani dengan mikir 1000 kali, ntar kalo pergi aku pake baju apa ya? Posenya gimana ya? Ambil foto…angle-nya kayak gimana ya? Kan aku pengin juga poto OOTD ala selebgram yang itutuuuh. Jadi, gimana dong, aku kudu pake baju apa? Matching dengan jilbab apa? Aksesorisnya apa? Perlu pakai topi fedora atau enggak? Trus, kacamata item ntar yang frame-nya kotak apa bulet aja ya? Taruh di atas jilbab (kayak bando) atau dipake aja? Sepatunya piye? Mau pakai yang female boots atau wedges… atau stiletto, atau sneaker aja?

Ya ampyuuuuun…. Pusyiiiingg!

Waspadalah Dampak Buruk Instagram!

Oke, sebelum ngebahas lebih lanjut soal sindroma “Aku nggak punya baju!” ini, yuk lah kita baca dulu riset tentang dampak buruk Instagram bagi kesehatan mental.

Royal Society forPublic Health (RSPH), lembaga amal independen asal Inggris membuat sebuah survey yang melibatkan hampir 1.500 pemuda Inggris berusia 14-24 tahun untuk mengetahui dampak berbagai sosial media terhadap kesehatan mental pemuda.

Darihasil survey, didapatkan kesimpulan bahwa di antara lima media sosial populer yakni Facebook, YouTube, Instagram, Twitter dan Snapchat, Instagram menempati posisi paling atas sebagai media sosial yang paling punya dampak negatif bagi kesehatan mental generasi muda.

Kok bisa?

Yap, Instagram adalah media sosial yang tepat untuk mengekspresikan diri lewat macam-macam ide foto, plus ajang buat mencari dan menunjukkan self identity serta membangun relasi. Tapi, sisi gelap Instagram (dan socmed lainnya) adalah:

Menimbulkan Anxiety.Kalo kita lihat IG teman yang lagi update pergi ke kafe yang kece, have a fancy meal, belanja barang-barang cihuy, terkadang muncul pikiran, “Ih, ngiri deh, dia seneng-seneng melulu  kayaknya”, ya kan?

Kita sering ngerasa insecure dan nggak happy lihat posting-an orang lain. Padahal, kehidupan di Instagram itu nggak 100% real alias versi setelah dipilah-pilih dan nggak jarang yang ditunjukkan hanya sisi yang bagusnya aja.

Negative Body and Fashion Image Nggak sedikit dari kita yang merasa “duh, kurang kece nih poto gue!” saban mau posting di IG, dan melakukan buanyaaaak hal (seleksi, editing, foto ratusan kali demi poto yang perfecto!) Blahhh. Belum lagi kita bingung dengan pilah/pilih baju, aksesoris,dan lain-lainnya demi foto kece paripurna di Instagram. Olala.

***

Padahal kita semua tahu kan, kalau di hari akhir nanti kita akan ditanya “Bagaimana cara kamu mencari rezeki dan gimana membelanjakannya?”

Kita memang harus memilah dan memilih mana yang halal dan baik. Untuk mencari rezeki, nggak boleh ngawur. Harus sesuai dengan syariat dan kaidah yang ditetapkan Allah. Hanya mencari rezeki yang halal dan berkah. Kemudian, setelah rezeki itu ada di tangan kita, cara membelanjakannya juga nggak boleh sakarepe dewe. Ada koridor yang harus kita taati. Jangan boros, karena boros itu temannya setan! Jadi, ketika belanja baju dalam sebulan bisa 20 kali, wadaaaww,hati-hati! Itu jebakan betmen gaes! Setan biasanya membisikkan kalimat-kalimat yang bikin kita tak berdaya

“Mumpung diskon!”

“Lagi SALE nih! Kapan lagi bisa belanja outfit terkini dengan harga murah meriah?”

Sooo… istighfar yuk! Isi lemari dengan pakaian SECUKUPNYA,jangan mau jadi “budak” Instagram hanya demi meraih like and comment, yang sesungguhnya sama sekali nggak bisa jadi jaminan buat kita untuk menggapai ridho Allah ta’ala.(*)

Saya Nurul Rahma. Saya Bukan Bocah Biasa

“Halo saya Nurul, blogger Bukan Bocah Biasa dot Com.”

“Waaaww, apa tadi, alamat blognya?”

“Bukan bocah biasa dot Com.”

Sang narasumber menyeringai sesaat. Ya bisa jadi, ia membatin, ”Alay amat nama blognya?”

Hehhehehe.

Saya udah pernah nulis tentang philosophy behind my blog’s name di postingan ini. Tapi karena hari ke-3 #30DayBlogChallenge by #BloggerPerempuan ini temanya tentang “Nama Blog kamu?” ya sutralaaah, sini, sini…… kita ngobrol dari hati ke hati, sambil siapin kopi dan cemilan kuaci.

***

Seperti yang udah saya paparkan, nama blog ini semacam doa,agar my little son becoming extraordinary kid. Ya itu tadi, bukan bocah biasa 😀

Walaupun sampai saat ini, Sidqi ya masih biasa-biasa aja.Dalam artian pencapaian duniawi doi ya (masih) gitu-gitu aja.

Sekolah, masuk tiap hari. Kalau ada PR, dikerjakan. Ad atugas kelompok, ya doi ikutan. Nothing special about him, sampai hari ini.

Meski demikian, saya sih tetap memegang renjana (ini Bahasa Indonesia baku dari kata passion)agar Sidqi bisa menjadi SOMEONE SPECIAL yang bisa berkontribusi banyak untuk masyarakat.

Secara spesifik, belum tahu lah dia mau menekuni profesi apa dan beramal kayak gimana. Yang penting, dia punya MANFAAT, ada FAEDAH untuk orang banyak.

Ya ibaratnya, kalo dulu eikeh disuruh nulis buku diary teman, kan suka ditanyain cita-cita tuh. Karena masih clueless, biasanya aku nulis “Jadi orang yang berguna untuk Nusa, Bangsa dan Agama.” Heheheheh!!

***

Selain menjadi “DOA DI KANCAH DIGITAL” buat my little kid, sesungguhnya secaratersirat, blog ini juga menunjukkan adanya innerchild dalam diriku. Wehehehehe. Yap, terkadang teman-teman (termasuk SAYA sendiri) juga terheran-heran sih, dengan sikapku yang mirip bocah alias anak kecil.

Contohnya gini. Ketika ada seseorang yang melakukan persekusi digital (weleh, bahasanya boooo) mayoritas orang DEWASA kan bakal terpancing ya. Trus membalas dengan digital bully dan aneka hate speech yang nggak kalah pedasnya. Terjadilah Tweet War atau IG war, kayak gitu gitu deh. Saling julid dan berbalas komen nyinyir

Kalo saya?

Wolesin aja shaaaay 😀

Jiwa “anak kecil dalam diri saya” mengatakan, ”Choose your battle, darling!”

Nggak perlu semua hal kudu ditanggapi secara emosional. Kalaupun ada yang melontarkan negative or bad comment, then I should thank him/her for doing that! Itu artinya, aku nggak perlu repot-repot melakukan instropeksi.

Ouwww, ternyata sikap aku yang begini dan begitu tuh nggak disukai beberapa pihak, tho. Ya wis, itu jadi catatan aja, and super duper thank you for someone that has been delivering that message 😀

Kadang, orang lain yang malah gemassshhh melihat betapa saya lempeeeeng kayak begini. Ya sutralah, tidak semua “api” harus disiram bensin kan? Tidak semua emosi jiwa kudu dibalas dengan hal serupa. Let it go. Forgiving is good for your soul,anyway.

***

Jiwa “bukan bocah biasa” itu terus menemukan jalannya. Saya udah pernah cerita di postingan ini, tapi mau dibahas dikiiiit aja gapapa ya.

Tatkala menjadi kru media Majalah NURUL HAYAT, saya bertugas menghubungi para Ustadz yang menjadi kolumnis/pengisi rubrik tetap dimajalah kami.

One of them adalah Prof Mohammad Ali Aziz. Sewaktu saya mengirim friendly reminder untuk pengiriman artikel, Prof Ali Aziz mengatakan bahwa beliau akan keliling Amerika dalam beberapa hari ke depan.

Oh ya mbak. Saya juga sedang menyiapkan beberapa artikel karena saya akan memberi pelatihan shalat di kota-kota besar di AS selama dua bulan. Tks

Secara SPONTAN (Uhuuuuuiiii!!) saya bereaksi di FB messenger, ”Mohon doakan saya juga bisa mengikuti jejak Prof, safar ke bumi Amerika dan Eropa, aamiiin.”

Mungkin buat sebagian orang, cara saya berkomunikasi dengan beliau agak “kurang sopan”, tapi heiii… apa salahnya menjalin strong engagement dengan Ustadz? 😀 Apa salahnya minta doa pada beliau? Daaaannn, bisa jadi…..bisa jadi…. Doa orang shalih kan dikabulkan oleh Sang Maha Penguasa di muka bumi!

Baca: Bagaimana sholat di Amrik

***

To sum up, I’m beyond grateful dianugerahi inner child semacam ini. Nyantai. Rileks. Less ambitious and (hopefully) able to enjoy my life!

Lihatlah anak-anak kecil itu. 

Jaraaaaaanggg banget yang tampak stres atau depresi kan? Kalau gejala julid, nyinyir, emosi jiwa tak terkendali mulai merongrong Anda, main-mainlah ke rumah digital saya. Baca sejumlah tips yang saya goreskan dengan suka cita. Artikel penyejuk sukma ini, misalnya. 

Saya Nurul.

Saya Bukan bocah biasa dot com.

😀

Rebut Pahala Dunia-Akherat, melalui Asuransi plus Wakaf!

Setiap kali dengar kata “asuransi” so pasti aku langsung membayangkan sekian rupiah yang kudu disetor dalam wujud polis, juga nilai pertanggungan apabila terjadi apa-apa dengan si pemegang polis. Intinya langsung tertuju ke hal-hal yang sifatnya individu dan duniawi banget lah.

Misalnya, Bapak A selaku pemegang polis meninggal dunia, maka asuransi hanya membahas dan mengurus hal-hal berapa rupiah yang diterima oleh istri dan anak selaku ahli waris.

Jarang ada yang membahas, atau minimal terpikirkan, ”Sepeninggal Bapak A tadi, gimana ya untuk memanjangkan amal beliau? Gimana supaya pahala beliau tetap mengalir meskipun udah berpulang?”

HAMPIR KAGAK ADA, ye kaaan.

NHCM1514

Pengin siapin yang terbaik buat Sidqi 

Nah. Ternyata ada lho orang-orang brilian di balik Sun Life Financial Indonesia yang memikirkan hal tersebut. Bagaimana meng-combine aspek duniawi (masa depan ahli waris) dengan aspek akherat (gimana supaya pahala almarhum/pemegang polis tetap mengalir).

Terobosan yang ‘anti-mainstream’ di dunia asuransi itu berwujud ”Asuransi Briliance Hasanah Maxima” (ABHM). Produk ini dilengkapi manfaat WAKAF. Sehingga memungkinkan nasabah Asuransi Hasanah Maxima untuk bikin financial planning berorientasi dua hal sekaligus. Merencanakan keuangan masa depan, sekaligus beribadah wakaf di saat yang bersamaan, dengan Pasti, Kini dan Nanti.

Wakaf-sunlife-1

Wait, waiiit… WAKAF? Bukannya wakaf itu harus berupa rumah atau tanah ya?

 

Ternyata tidak, gengs! Bersyukur saya hadir dalam bloggers gathering Bersama Sun Life, yang digelar di Bangi Kopi Resto beberapa waktu lalu. Ada Pak Norman Nugraha, selaku Chief Sharia Business Sun Life Financial Indonesia, yang demikian bersemangat mengedukasi bloger bahwa WAKAF itu BISA BANGET pakai duit lho! Bisa dilakukan berkala, dan nggak harus dalam jumlah yang langsung sak hohah!

“Melalui produk ini, Sun Life membantu masyarakat agar dapat melaksanakan ibadah wakaf dengan pasti, kini dan nanti. Lebih PASTI karena wakaf disalurkan melalui Nazhir (badan wakaf) tepercaya, yakni Badan Wakaf Indonesia (BWI), Dompet Dhuafa, Rumah Wakaf, serta 174 lembaga yang terdaftar di BWI. Nantinya pemegang polis bisa memutuskan untuk berwakaf melalui nazhir yang mana. Kami hanya bekerjasama dengan nazhir yang kompeten, demi optimalnya pemanfaatan dana wakaf. Skemanya adalah, dana yang terhimpun akan disalurkan oleh nazhir ke berbagai sektor social yang membutuhkan, mulai dari Pendidikan, ekonomi hingga kesehatan. Salah satunya, wakaf akan dikelola oleh Dompet Dhuafa yaitu di RS Dhuafa AK Medika Sribhawono di Lampung Timur. Amal kita melalui wakaf tepat sasaran dan bisa menjadi amal jariyah,” ucap Pak Norman.

 

Terobosan yang sangat brilian!

Mengombinasikan perencanaan untuk dunia sekaligus berorientasi akherat! Now, let’s talk in a bigger picture. Kenapa WAKAF? Manfaat dan Hikmah Berwakaf tuh apa saja?

Jadi gini, teman-teman. Berdasarkan riset komprehensif yang dilakukan Badan Wakaf Indonesia (BWI), terkuak fakta yang cukup mencengangkan. Potensi Wakaf di Indonesia ini mencapai 180 TRILIUN Rupiah lho. Tahu sendiri kan, muslim di Indonesia jumlahnya banyak. Mereka seyogyanya antusias dong kalo diajak wakaf, karena ini termasuk amal jariyah yang pahalanya bakal terus mengalir, meskipun kita sudah meninggal dunia.

The thing is, potensi baru sebatas potensi doang. Data yang terhimpun mengabarkan bahwa pada tahun 2017, TOTAL penghimpunan dana wakaf di Indonesia ternyata baru 400 miliar saja.

Bayangkan.

Potensinya 180 TRILIUN. Eh, yang terhimpun baru 400 Miliar.

Njomplang banget, yhaaaa

Karena itu, kita patut angkat topi pada ide brilian yang diluncurkan Sun Life melalui ”Asuransi Briliance Hasanah Maxima” (ABHM) ini. Ketika kolaborasi digelar dengan pihak pengelola wakaf yang kompeten, maka ini bisa jadi upaya investasi strategis banget lho! Bisa untuk menghapuskan kemiskinan dan menangani ketertinggalan di bidang ekonomi, Pendidikan dan kesehatan

Eitss! Buat yang masih bertanya-tanya, apakah produk ini worth to buy atau engga… apakah dijamin aman atau engga… No need to worries! Karena Fitur wakaf bagi pemegang polis Syariah yang dibenamkan dalam ”Asuransi Briliance Hasanah Maxima” (ABHM) ini udah memperoleh dukungan dari DSN-MUI. So, peserta asuransi daam mewakafkan manfaat asuransinya hingga 45% dari santunan asuransi, dan 30% dari manfaat investasi dari polisnya. Asuransi Syariah ini juga didukung agen berdedikasi dan tersertifikasi wakaf, yang dikeluarkan Sun Life, bekerja sama dengan DSN Institute dan Badan Wakaf Indonesia.(*)

 

Resolusi Pasca Lebaran

Resolusi (Pasca) Lebaran

Follow me on twitter: @nurulrahma

 

Hadeeehhh, apa lagi ini?

Yang namanya Resolusi biasanya Cuma di awal tahun aja kan? Ini kok mengada-ada banget! Resolusi Lebaran?! “Bid’ah” nih, wekekekeke.

Well, tenang dulu, sodara-sodara sekalian. Yang Namanya RESOLUSI itu kan murni bikinan manusia. Kita meng-create “Resolusi” karena ingin mencapai target atau cita-cita yang spesifik. Pergantian tahun biasanya dipilih sebagai momentum yang pas, karena kita ngerasa akan memasuki “hari yang baru”. Padahal…. Begitu masuk Januari, rasanya nggak jauh beda dengan hari-hari di bulan Desember kan? Ya kan? ya kan? (Apa Cuma gue yang ngerasa kayak gitu hehe)

Berbeda dengan tanggal 1 Syawal. Selepas menjalani bulan paling asyique, yaitu bulan Ramadhan, rasanya tuh… mixed feelings banget, campur aduk bosquuuu. Antara sedih karena harus berpisah dengan bulan yang paling mulia, menyenangkan, dan aduhaaaiii… pokoke nuansa dan citarasa Ramadhan itu greget banget deh! Tapi, di sisi lain, setelah menjalani ibadah secara kontinyu di bulan suci ini, ada perasaan bahwa kita telah “lulus” dan di bulan Syawal, kita bertransformasi jadi “manusia baru”. Yoi kaaan?

Nah… perasaan itulah yang menerbitkan semangat dan optimisme baru! Kenapa enggak kita manfaatkan untuk bikin Resolusi? Ketika jiwa raga sedang berkonspirasi untuk melahirkan hal-hal terbaik, inilah momentum yang amat cihuy dan sip markosip untuk bikin Resolusi!

So…. Apa Resolusi (pasca) Lebaran-mu

 

Kalo gue….. hmm… coba deh, ini kubikin semacam list-nya aja lah yaaaa

(1). Melanjutkan Upaya Hidup dengan Mengendalikan Nafsu

Di bulan puasa, gue bisa banget kok, makan dengan lauk dan sayur yang bersahaja. Enggak perlu jajan di lokasi yang Instagram-worthy, lalu posting foto dengan hastag #foodies #foodgram #foodgasm dan segabruk tagar lainnya di socmed.

Ini termasuk kebiasaan baik, kan. Mengonsumsi makanan bergizi tanpa harus ‘under-pressure’ dengan lilitan nafsu kudu posting di socmed, hahaha! Eitss, kamu, kamu dan kamu… juga bisa lho mengikuti jejak akyuuu. Udah deh, better kita makan dengan menu yang dimasak dari dapur sendiri. Lebih irit, higienis, sekaligus bisa men-challenge kita untuk semakin rajin belajar masak dan uprek-uprek resep, ya kan?

(2). Meresapi nikmatnya Ibadah dan Melakukannya secara Kontinyu

Kalau bulan Ramadhan, kaki ini rasanya (relatif) enteeeeeng gitu kan diajak ke Masjid?

Kalau bulan Ramadhan, tangan juga (lebih) ringaaan banget buat sedekah?

Kalau bulan Ramadhan, mata juga (semakin) semangaaaaat gitu buat baca Al-Qur’an?

Kalau bulan Ramadan, gampiiil gitu deh, mengarahkan diri kita buat beribadah

Setelah “lulus” dari “pesantren” Ramadhan, kok… sepertinya kita balik lagi ke awal ya? Jadi super males biarpun adzan udah berkumandang, eh, kita masiiih aja berkutat dengan aneka kesibukan. Kayak enggak ada dorongan buat segera berangkat ke Masjid. Excuse-nya segambreng. Apalagi, rutinitas baca dan memahami Al-Qur’an, duh… ini pedih banget nih. Buka mushaf aja, seminggu sekali udah bersyukur. Hadeuuuh. Piye tho iki?!

Nah! Yuk jadikan bulan Syawal ini sebagai momentum agar kita kian menikmati beragam ibadah SAMA seperti yang kita lakukan di bulan suci. Jangan sampai kita hanya gemar dan khusyu’ ibadah di bulan Ramadhan aja ya. Bulan-bulan lain juga menjadi ajang pembuktian kita sebagai muslim(ah) yang kaffah.

Lakukan berbagai cara agar kita bisa semangat beribadah. Misalnya nih, kita semangat banget pas tarawih, kira-kira kenapa ya? Oooo… soale kita tarawih bareng2 ama squad kesayangan. Teman-teman bolo plek satu kompleks. Ya udah, kalo gitu, kita juga bisa melakukan metode serupa, ajaklah sohib2 kamu untuk sholat berjamaah di Masjid! InsyaAllah, amal kebaikan kita nambah lagi lho, karena kita sudah menebarkan dakwah ke orang lain. Sip markosip banget kan?

(3). Berusaha Keras agar Tidak Terjerumus ke Dosa

Ini mirip dengan poin nomor satu. Tapi, konteksnya lebih ke perbuatan dosa yang kerap kita lakukan. Entah dengan terencana, atau mak wuuusshh tiba-tiba aja tanpa kita sadari udah kadung ngelakoni itu dosa.

Misalnya?

Bergosip!

Wadaawww…. Walau udah berkali-kali baca ayat yang menyatakan bahwa “Ghibah/bergunjing/gossip/ngerasani itu bagaikan makan bangkai saudara sendiri” tapi gak tau ya…. Gossip ini kayak candu alias menerbitkan adiksi tersendiri. Udah gitu, kadang kita suka nyaru, akan bergosip pake embel-embel “Ini gue bukannya lagi ghibah yaaa…. Gue sedang mengevaluasi perilaku si anu tuh biar kita lebih hati-hati ke depannya.” Nah lo nah lo.

Astaghfirullah…… kudu istighfar beneran dari lubuk hati yang paling dalam. Kemudian, bertanyalah pada diri sendiri, apa sih faedah yang kita dapatkan dari nggosip? Apa setelah menebarkan racun gossip plus ngedengerin kelemahan orang lain, membuat harkat dan martabat diri kita jadi naik? Apa derajat keilmuan kita bertambah? Apakah kemuliaan kita juga makin wow di hadapan orang lain, gegara kita istiqomah ber-ghibah? Enggak kaan?

Ya sudah. Resolusi kita adalah canangkan sikap “No More Gossip at All!” termasuk cuss segera un-follow akun lambe-lambe di Instagram ntuh. Nggak guna kok ngurusin kehidupan personal orang lain. Nggak guna juga ketika kita jadi tahu kekurangan mereka.

Yuk lah, kita terus nikmati perjalanan pasca Ramadhan dengan melakukan aneka detail Resolusi Pasca Lebaran!(*)

 

 

 

 

 

 

 

 

Halo Arek Suroboyo! Siap-siap Ramaikan Kampoeng Ramadhan di JX International, ya

Waaahh, ngga terasa bulan Ramadhan sudah mau datang lagi, yeayy! Gimana hutang puasa tahun lalu? Sudah lunas semua kah?

Aku ingat banget, kalo bulan puasa, suasana kota Surabaya itu makin meriah! Orang-orang pada meramaikan Masjid, juga ngabuburit dan bikin ekonomi di kota ini kian hidup. Membahana banget deh, pokoknya. Salah satu entitas yang bikin Ramadhan kian cethar adalah event Kampoeng Ramadhan. Yap, event ini rutin dihelat di JX International, setiap bulan puasa. Udah daru tahun 2011 lho!

Memasuki gelaran yang ke-8, Kampoeng Ramadhan tahun ini menyajikan buanyaaak hal yang berbeda. Masyarakat Surabaya dan sekitarnya bisa menikmati rangkaian acara Kampoeng Ramadhan mulai 1-10 Juni.

Ada apa aja sih di sana?

Ada lomba mewarnai. Lomba tabuh bedug. Lomba Banjari. Juga ada Lomba Dangdut Religi. Pondok Ramadhan Kilat. Dan Kompetisi Ikhwan Ukhti! Widiiih, seru-seru banget!

Selasa (17/4) kemarin, sejumlah bloggers dan media mengikuti gathering yang digelar Max Media, selaku penyelenggara Kampoeng Ramadhan 2018.

Tentang Kompetisi Ikhwan-Ukhti nih. Ini bisa dibilang semacam “Cak dan Ning” gitu lho. Yaitu ajang penggalian bakat, yang bakal mengeksplorasi kemampuan peserta, khususnya dalam menampilkan diri sesuai ajaran Islam.

Siapa yang boleh ikutan? Siapa aja boleh! Asal, usia 17-25 tahun, menguasa bacaan Al-Qur’an dan tampil sesuai syariat Islam.

Buat yang menang kompetisi IKhwan-Ukhti, bisa berkesempatan jadi host di acara TV9 lho! Waaaaaww… pengiiiinnn *lirik KTP*

Buat yang mau daftar kompetisi ini, bisa kirim pertanyaan dll ke email: kampung.ramadhan2018@gmail.com 

IMG-20180418-WA0005

Banyak Stan, Banyak Hiburan, Banyak Hadiah!

Entah gimana ceritanya, yang namanya Bulan puasa itu identik dengan pengeluaran yang membengkak. Iya apa iya? Hehehhehe. Bisa pengeluaran buat kebutuhan keluarga kita, ataupun untuk alokasi sedekah dan sebagainya. Nah, pertanyaannya…. destinasi shopping mana nih yang paling recommended? Yang harganya asyique di kantong? Yang ada gimmick menarik, dan menghadirkan banyak hadiah?

Jawabannya… udah pasti cuss lah ke Kampoeng Ramadhan di JX International!

Tahun ini, ada 256 stan yang menjual beragam produk.  Mau cari properti? Ada 34 stan. Elektronik (gadget dan laptop) ada 32 unik. Stan sembako ada 19 unit. Pengin daftar buat umroh? Ada banyak banget stan tour Haji dan Umroh! Masih buanyaaaak stan lain, kayak fashion, beauty, udah deh, cari apa aja pasti ada! Bahka, ada stan Benelli, motor gede 250 cc asal Italia di momen Kampoeng Ramadhan kali ini.

Menariknya nih…  seluruh kegiatan stan di Kampoeng Ramadhan bakal di-shoot oleh kamera drone… dan ditampilkan di dua layar videotron ukuran 4×6 meter. WOW

Eh iya. Kalo puasaan kan kita bakal cari menu buat buka. Untuk stan Kuliner, gimana? Ada tiga lokasi yang disiapkan, mulai dari ruang tengah (20 unit), sisi luar (18 unit) bahkan di lantai 2 ada 27 unit.

“Ada 15 stan oleh-oleh khas kekinian Suroboyo yang mengisi Kampoeng Ramadhan,” kata Deny Haryanto, dari Max Media.

 

 

 

 

 

Begini Caraku Tunjukkan Cinta pada Ibunda

Tanah kubur Ibuku sudah mulai mengering. Matahari Surabaya sepertinya sedang garang-garangnya. Kuusap peluh yang mulai membanjir. Jilbab abu-abu kesayangan Ibu, yang kini kukenakan, mulai tampak noktah keringat di sana sini.

Ibu berpulang setahun lalu. Sudah 365 hari aku tak lagi punya Ibu. Tapi aku masih ingat setiap detil rasa sakit yang Ibu rasa di hari-hari terakhir beliau. Memori itu masih tersimpan di laci ingatan, tatkala Ibu harus berperang melawan nyeri, yang sekonyong-konyong hadir di rongga paru-paru beliau. Ibu kesakitan. Tapi dalam sakitnya, tak sekalipun ia mengeluh, ataupun menyalahkan takdir Sang Maha.

Baca: Surat untuk Ibu

Ibu memegangi dada beliau, yang ditusuk gelombang sakit akibat kanker yang terus merajam, beranak-pinak dan out of control. Ia tidak mengeluh. Ia tidak bertanya, “Ya Allah.. Apa salah saya? Kenapa harus saya?”

Ibu hanya bergumam pelan… “Laaa Ilaaha Illa Anta…. Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin…”

Continue reading

Tips Agar Tidak Menunda Pekerjaan atau Prokrastinasi

Prokrastinasi

Follow me on twitter: @nurulrahma

Salah satu kebiasaan diri sendiri yang gue benciii benciiiik banget adalah… ngerjakan tugas penting mepet-mepet tanggal deadline. Entah kenapa, kok ide tulisan baru nongol kalo udah menjelang garis mati yeaaaaa. Kadang, kalo udah bolak/balik diuber sama klien, baru deh gagasan buat tulisan langsung mecungul. Tapi kalau belum deket ama “tanggalnya”, beughh biarpun semedi di depan laptop berjam-jam, layarnya teteup aja kosooooong melompong. Kagak ada perubahan sama sekali. Hiks.  

 

Continue reading

Berkembang Pesatlah Duhai Ekonomi Syariah!

Berkembang Pesatlah Duhai Ekonomi Syariah!

Okai.

Sebelum cerita panjang lebar soal perkembangan ekonomi syariah, izinkan saya mengungkapkan satu data yang luar biaa. Di tahun 2016, sebanyak 258,7 juta jiwa (alias 85%) penduduk Indonesia adalah muslim. Jumlah ini sungguh WOW. Iya dong, gedeeee banget! Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Karena jumlah muslimnya gede, seharusnya aneka produk ekonomi dan keuangan syariah sangat potensial berkembang di Indonesia kan? Yeap, seharusnya. SEHARUSNYA.

Faktanya gimana, mak?

Continue reading