Uncategorized

Segabruk Tips Kontes Blog

GR banget dah, di-mention ama Makpuh Teridola pada suatu siang yang puanasssnya jossss

Beberapa kali, memang Allah mengizinkan saya untuk mencicipi kemenangan di kontes blog. Manusiawi lah, kalau rasa bahagia itu menyelinap begitu saja. Begitu pula kalau tulisan bisa menembus media besar. Rasanya? Superrrr sekali, pemirsa :))

Kalau mau tahu tips ngontes blog, bisa banget cuzz ke postingan tiga blogger teridolaku ini

1. Postingan emak tjantik berkharisma yang namanya seriiiing banget jadi Jawara di berbagai kontes blog

2. Postingan emak bankir nan kece ini

3. Postingan koko-koko lutju bin medhok yang Suroboyo banget. 

Aku belajar banyak dari postingan-postingan plus tips yang mereka bagikan.

Begitu juga dengan resep tulisan tembus media. Oh, ternyata sudah pernah dibahas tuntas tas tas oleh mak Arin. Mak Arin juga pernah bikin tips tentang lomba blog, tapi aku lupa dimana link-nya 🙂

Lah, terusss tujuan postingan ini apa??

Enggak ada. Hehehe.

Sampai detik ini, aku belum punya formulasi yang mak nyuzzz tentang JURUS MANTAP dan MANJUR memenangi berbagai kontes blog.

Kalaupun menang, yaaa… anggap aja rejeki ibunya anak sholih. **uhuks, Sidqi langsung keselek nih**

Kalau belum menang? Ya gpp. Anggap aja sedekah review gratisss untuk para pemilik brand. Plus, itung-itung apdetin blog.

Bukankah kalau tidak pernah kalah, maka kita tidak akan pernah merasakan manis dan indahnya kemenangan?

#haseeeek

Yuk, ah. Segini dulu apdetannya. Saya masih dikejar-kejar editor buku BIP. InsyaAllah, saya akan menyusul jejak mak Leyla Hana untuk jadi penulis buku Islami.

Di-amin-kan aja yaa.. :))

kuliner

It’s Perfect Time to….. STARBUCKS EXPERIENCE!!

“Kita tidak bisa menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan.” (Dewi ‘Dee’ Lestari, Filosofi Kopi)

Yayy!! Para blogger Surabaya ‘mengguncang’ Starbucks! Seru banget merasakan experience ngopi-ngopi cantik, plus belajar soal kancah perkopian. Ada mas Zendy, selaku district coffee master Surabaya yang bagi-bagi ilmu seputar dunia kopi. Ngobrol ama doi, berasa lagi nongkrong dengan Ben, maestro kopi di novel “Filosofi Kopi” karya Dewi Lestari deh.

NH__5078

NH__5029

Para blogger diundang oleh tim Starbucks untuk feel coffee-experience di store Starbucks teranyar, yang nangkring di jalan tol Surabaya-Malang km 26.

Yak, buat yang capek-capek, mending istirahat dulu. Asik-asik ngopi di Starbucks. Kalau yang nggak sempat nongkrong?

No worries. Bisa drive-thru..!

Ini adalah store pertama di Jawa (non Jabodetabbek) yang ada fasilitas drive-thru-nya loh. Super-yayy!!

NH__5080

Saya dibikin ‘termehek-mehek’ dengan penjelasan super-duper komplet yang disampaikan oleh Mas Zendy. ”Kopi kami macam-macam variannya. Salah satunya, kopi Sumatra dengan rasa yang strong. Ada aroma herbal, sehingga after-taste-nya terasa strong banget.”

1287-l8dedod-starbucks-infographic

Naaah, kita juga diajak untuk menjajal ritual Starbucks nih.

Zendy (paling kiri) lagi jelasin ritual ngopi-ngopi cantik di Starbucks
Zendy (paling kiri) lagi jelasin ritual ngopi-ngopi cantik di Starbucks

CIMG6903

Sebelum kopi masuk lambung, sebelumnya kudu di-smell dulu, alias dicium aromanya. Hmmm…. Masya Allah…. aroma kopi nan menggoda iman bener-benerrr deh… Sistem syaraf seolah di-refresh, dan sepercik inspirasi langsung mak bedunduk….TING!! Wohooo… kopi memang “pahlawan” buat manusia-manusia yang lagi stucked, dunno what to do yak. Karena, dengan mencium aromanya aja, udah bikin kita “bangkit dari kubur”

CIMG6904

Abis di-smell, jangan diminum dulu, kawan! Woleess… woless… kita kudu slurp, alias diseruput dulu. Buat apa? ”Untuk mendapatkan rasa atau bold (ketebalan) kopi di mulut kita,” kata Zendy.

CIMG6901

Hmmm… SUPER SEKALI. Setelah itu, ada tahapan locate in your tounge. Ini untuk mengetahui tingkat keasaman kopi. Lalu, lalu, supaya acara ngopi-ngopi makin cihuyyy, kita kudu mencari “jodoh” buat si kopi. Kalau kopi berkarakter strong, plus ada herbal-taste-nya seperti kopi Sumatra, cocoknya “dijodohin” sama kue-kue yang manis, seperti cinnamon chocolate marble cake.

Wokeh. Kunyah kuenya pelan-pelan… lalu, slrrrppp… aaahh… Kopinya meluncur mulusss ke kerongkongaan… heaven!!

Gini nih, asiknya kalo kita kongkow di Starbucks. More than just drinking coffee, kita juga dapetin experience, plus wawasan seputar dunia kopi. Barista dan para coffee master-nya seru-seru banget. Mereka bener-bener menjiwai dan passionate banget sama dunia kopi. Mas Zendy nih, luar biasa cihuy saban ngejelasin tipikal kopi. Plusss…. bagaimana cara processing coffee sehingga menghasilkan secangkir Starbucks yang awesome.

NH__5018

Buat bocil-bocil, ada jus juga.
Buat bocil-bocil, ada jus juga.

“Ada 3 metode processing bijih kopi. Pertama, wash-method (butuh proses fermentasi selama 36-48 jam); lalu Semi-wash method dimana kopi tanpa melalui proses fermentasi, tapi langsung digiling basah. Metode ketiga adalah dry, dimana bijih kopi mulai panen ditaruh begitu saja di lahan kosong, sehingga mengelupas sampai jadi green bean,” ujar Zendy.

Karakteristik kopi memang dipengaruhi oleh masing-masing daerah asal. Dengan belajar seputar kopi, seluruh tim Starbucks juga belajar geografi sekaligus karakter dan budaya masyarakat. Widih, asik bener yak. Dan ternyata… buat jadi barista kagak harus sekolah tata boga loh! Zendy ini misalnya. Doi lulusan FISIP Universitas Jember. Kagak nyambung kan?? Tapi, bermodal passion sekaligus kecintaan yang luar biasa terhadap kopi, doi malah terus berkiprah di Starbucks, dan saat ini, si cowok bujang 26 tahun ini, sudah menduduki posisi asisten manager di salah satu store Starbucks. Doi juga terpilih untuk ikut program Starbucks ambassador dimana dia harus berkompetisi dengan ratusan barista se-Indonesia. How cool is that?

NH__5033

Sembari baca postingan ini, pasti mupeng banget dong ikutan coffee tasting di Starbucks. No worries, ternyata setiap tanggal 17, tim Starbucks selalu bikin acara coffee tasting GRETONG alias GRATIIISS *langsung berbinar-binar* Silakan hubungi aja store Starbucks terdekat di kota kamu. Daftar, dan get ready to feel Starbucks experience!!

NH__5010

Uncategorized

Surat Terbuka untuk Pak Anies Baswedan (dimuat di LiputanIslam.com)

Gegara tulisan yang dimuat di Jawa Pos go viral banget, ada rezeki yang mengetuk dari pintu lain.

Yup, salah satu tim redaksi LiputanIslam dot com menawari saya untuk berkirim opini. Temanya boleh apa saja, asal senada dengan kebijakan redaksi *haish*

Ya iya deh, mana ada sih, media yang netral? **ambil kemenyan, bakar UU pers**

Pada intinya, kalau teman-teman pengin kirim tulisan, silakan kirim ke: redaksi@liputanislam.com

Panjang tulisan: 700 – 850 kata.

Contoh tulisan saya bisa dicek di sini

Berikut naskah aslinya:

Surat Terbuka untuk Pak Anies Baswedan

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Halo, Pak Anies! Senang rasanya begitu tahu bahwa seorang Anies Baswedan ditunjuk Jokowi menjadi Menteri Pendidikan Dasar, Menengah, dan Kebudayaan  di republik ini. Dari dulu, saya ngefans sama Pak Anies. Sejak program Indonesia Mengajar yang Bapak inisiasi itu, saya yakin betul, bahwa kita harus mengubah paradigma tentang edukasi. Pinjam istilahnya Jokowi, memang harus ada revolusi mental. Mentalnya siapa? Tentu mental semua orang yang terlibat di dunia pendidikan.

Anies Baswedan - Orang Baik Masuk Politik

Karena itu, manakala baca kutipan Pak Anies yang beredar di berbagai media online, saya lega sekaligus penuh asa. Bapak bilang begini, “Yang harus direvolusi mental adalah pendidiknya. Bukan anak yang menjadi fokus, tapi gurunya. Saya melihat dalam konteks pendidikan, jangan lihat anak-anak kita sebagai botol yang harus diisi sehingga harus diisi materi sebanyak-banyaknya.”

anies-baswedan-manusia

Wah, benar sekali itu Pak. Saya lihat sendiri, betapa anak saya—masih kelas 2 SD—gempor tatkala berhadapan dengan materi dan tugas-tugas sekolah. Belum selesai polemik seputar perkalian (ingat 4×6 atau 6×4 kan Pak?), anak saya dijejali dengan seabrek tuntutan yang lain. Menghafalkan perkalian angka 1 sampai 9, menghafalkan pembagian, mencerna logika pembagian dengan kalimat yang saya sendiri juga tidak paham, belum lagi tugas-tugas seputar keterampilan yang butuh upaya tidak sederhana. Bayangkan, pak Anies. Masih kelas 2 SD! Apalagi, anak saya kerap disengat rasa takut bin was-was saban ke sekolah. Kenapa? Gurunya galak. Duh. Atau, jangan-jangan, para guru menjadi lebih galak lantaran stres dengan beragam tuntutan Kurikulum 2013? Ah, entahlah. Yang jelas, saya saja sebagai orang tua murid ikut kelimpungan menghadapi semua materi yang tersaji di buku paket anak saya.

anies bas

O iya. Bicara soal buku tema, sampai detik ini, saya belum bisa merasakan dampak positif dari kurikulum 2013. Saya tahu, niat awalnya brilian. Ingin mengholistikkan semua materi pelajaran dalam satu tema, supaya anak-anak lebih memahami satu aspek (sesuai tema) secara komprehensif. Misalnya, ketika belajar tentang “Keluargaku”. Siswa sekaligus berlatih Bahasa Indonesia (dengan menyebutkan nama-nama anggota keluarga), Matematika (menghitung jumlah anggota keluarga), Kesenian (menyanyi lagu tentang keluarga) dan seterusnya. Bahkan apabila “metode holistik” ini diaplikasikan secara tepat, anak-anak akan terlatih untuk mengoptimalkan ilmu yang ia punya.

Ayahmu_Pilih_Turun_Tangan

Namun, sayang sekali, Pak Anies. Terkadang niat brilian semata, kerap menemui distorsi dan gatot alias gagal total di level eksekusi. Tidak banyak guru yang bisa menjiwai “ruh” Kurikulum 2013, kalaupun memang K-13 ini punya “ruh”. Yang saya tahu, dari berbagai berita plus curhat para guru, Kurikulum 2013 ini terlampau prematur dan terkesan dipaksakan. Para guru belum tuntas mengikuti pelatihan, eh, ternyata anak didik sudah dijejali beragam materi yang gurunya saja tidak paham. Terbayang amburadulnya kan?

Karena itu, saya sepakat dengan kalimat Pak Anies, bahwa proses belajar anak-anak tidak bisa disamakan dengan berlari sprint. Proses belajar anak-anak kita laksana lari marathon yang stabil dan berkelanjutan. (Tempo.co 11 November). Tak perlulah menjejali anak dengan materi yang segabruk. Justru, yang paling penting anak harus merasa belajar (termasuk bersekolah) adalah kegiatan yang asyik, seru, menyenangkan dan membuat mereka “kecanduan”. Termasuk PR bagi jajaran kementerian Pak Anies, bagaimana membuat sekolah menjadi laboratorium hidup dan kehidupan bagi generasi muda. Supaya mereka tidak hanya berorientasi mengejar nilai. Tapi, para siswa itu belajar untuk menjadi calon pemimpin bangsa yang berkarakter kuat. Punya jiwa kepemimpinan yang hebat, mandiri, berdaya juang, berempati, sekaligus tahu dan paham akan tujuan hidup mereka.

Anies_Baswedan_Masih_Banyak_Orang_Baik

Kita sama-sama tahu Pak Anies, sungguh luar biasa tantangan yang menghadang anak-anak kita. Mereka dihadapkan pada zaman yang serba relatif. Benar atau salah, relatif. Penting atau tidak, relatif. Baik atau buruk, relatif. Anak-anak kita, setiap saat senantiasa berada pada perangkap syahwat duniawi yang mengerikan. Patut disayangkan apabila hidup mereka terombang-ambing tak tentu arah, karena sedari awal mereka tidak tahu untuk apa mereka hidup? Karena di rumah maupun di sekolah, mereka tidak pernah mendapatkan transfer “bekal hidup” secara memadai. Sehingga yang ada di benak mereka adalah, yang penting saya belajar yang baik, kerja yang baik, dapat uang yang banyak, saya bisa hidup kaya dan bahagia, that’s it! Maka, pendidikan kita hanyalah melahirkan insan-insan yang egosentris. Yang merasa bahwa dirinyalah sebagai center of universe, serta tidak mau tahu dengan ketimpangan hidup serta penderitaan sesama.

Dan, sungguh, saya luar biasa khawatir Pak. Karena anak-anak calon pemimpin bangsa ini sedang mengalami krisis teladan. Nyaris sulit kita temukan satu sosok yang bisa menjadi benchmark bagi mereka. Kalaupun ada orang-orang hebat itu, maka keberadaannya seolah tenggelam dengan berbagai berita busuk yang beterbangan di sekitar kita. Seputar perebutan kekuasaan, tentang isu-isu yang berkelindan dan (sekali lagi) serba relatif kebenarannya. Kepala saya nyaris meledak, saking berhamburannya berbagai gosip, selentingan, serta kontes adu kekuasaan yang tak kenal episode tamat. Duh.

Dan, tawa ria anak saya ketika bermain bareng sahabat-sahabatnya di depan kompleks rumah, adalah “obat penenang” bagi saya. Bahagia rasanya manakala menyaksikan mereka lebur dalam kehangatan permainan “sungguhan”. Main sepeda, sepakbola, petak umpet secara “nyata”. Karena, dalam beberapa momen, anak-anak saya terjebak pada permainan masa kini yang hanya bermodal sentuh-geser saja. Oh. Sangat tidak humanis. Sangat tidak natural. Karena itulah, Pak Anies, mungkin materi “permainan tradisional sederhana” bisa dimasukkan sebagai materi pemanasan sebelum anak-anak masuk ke dalam kelas. Dengan main gobaksodor sekitar 10 menit misalnya, anak-anak sudah diliputi keceriaan, belajar kerjasama dalam tim, strategi untuk menang tanpa harus membuat pihak lain sakit hati. Nah, ketika suasana hati sudah berbunga-bunga, maka mereka lebih siap menerima pelajaran.

Saya tahu Pak Anies sibuk. Sangat sibuk. Semoga surat ini bisa Bapak baca sebagai salah satu bahan diskusi ketika Bapak menggodok pola pendidikan terbaik bagi kandidat pemimpin masa depan.

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Uncategorized

Strategi Shopping Pasca BBM Naik

Okeh. BBM Naik. Lalu???

Aahhh… jambak-jambak rambut sendiri deh. Banyaaaak banget pos-pos pengeluaran yang kudu dicoret. Revisi budget bulanan. Anggaran-anggaran pembelanjaan yang enggak penting2 amat kudu dimusnahkan dari muka bumi. Termasuk… anggaran shopping?

Oh, noooo…!!

Walaupun saya bukan termasuk geng fashionista, tapi namapun perempuan lah yaa… shopping itu semacam “terapi jiwa” :))

Karena BBM naik, berarti saya kudu puter otak. Mensiasati pegimane caranya, teteup bisa shopping, tanpa kudu menguras dompet demi beli BBM

Dan, jawabannya adalaaaaah…… SHOPPING ONLINE…!! Yayyy…!!

Thanks GOD ada Zalora.

Tahu sendiri kan, zalora.co.id ini pemain kelas wahid di kancah shopping online.

Seneng banget, paket dari Zalora udah saya terima dengan selamat, sehat-wal-afiat tak kurang suatu apapun.

Sedaaaaappp… Siap-siap deh, pakai gamis meraaaah membaraaa :))

Karena happiness overload, panasnya Surabaya (yang ala-ala neraka bocor ini) jadi enggak ngaruh.

Thanks much, Zalora!

🙂

Uncategorized

Artotel = Anti-Mainstream Hotel

From: ferry@artotelindonesia.com

To: nurulnih@gmail.com

Dear Nurul,

ARTOTEL is a contemporary collection of hotels located in urban cosmopolitan centers across the country that fuse exceptional architectural style with art-inspired interiors.

Halaman Artotel Surabaya
Halaman Artotel Surabaya

With a powerful combination of top notch art from some of this country’s emerging artists and best-in-class service delivered by a talented hospitality team, ARTOTEL offers a hotel experience like no other.

IMG_0007

ARTOTELs are currently available in the city centers of Jakarta and Surabaya (with six others in the pipeline) which blend unparalleled design, art and hospitality.

IMG_0052

We are currently preparing our 2nd property in Surabaya and would love to welcome any inputs/suggestions from you as to how our next property would suit local pop culture in terms of lifestyle, likes and dislikes :))

IMG_0064

We would be delighted to welcome you to our Surabaya property for a luncheon gathering which will be held next week on:

Thursday, November 13th 2014 12 PM Onwards

RoCa Restaurant at ARTOTEL Surabaya

Jl. Dr.Soetomo no. 79-81,

Surabaya 60264,

We look forward to seeing you soon in Surabaya and do let me know if I could be of any further assistance!

We heART You!

Frederic Ferry

Corporate Creative Communications Manager

ARTOTEL Indonesia

***

From: nurulnih@gmail.com

From: ferry@artotelindonesia.com

Dear Ferry. Such an honour for me receiving this invitation. I will attend this accompanied with another friend,is it okay? Thanks in advance.

IMG_0059

***

From: ferry@artotelindonesia.com

To: nurulnih@gmail.com

Hello Nurul, thanks so much for your confirmation.

However this bloggers gathering is meant for us to communicate to bloggers only therefore seats are limited to ensure that we have a clear and effective (not to mention intimate) gathering.

I can guarantee that you will have fun with other bloggers at this event

Ga males naik tangga kalo dekornya keren bingits gini mah
Ga males naik tangga kalo dekornya keren bingits gini mah

***

From: nurulnih@gmail.com

From: ferry@artotelindonesia.com

The main problem is, I need someone who will drive the vehicle into your hotel and capture some pictures!! 🙂

No need to worry, because my friend also a blogger.
So, I guarantee he will deliver a very clear and good article related to this awesome hotel.
I promise he will cheer up this event.
Thanks in advance
***

From: ferry@artotelindonesia.com

To: nurulnih@gmail.com

Yaaaaay!!!

In that case I will need his name and blog details juga ya

See you two soon Nurul!

Yang mana patungnya?  :))
Yang mana patungnya?
:))

***

From: nurulnih@gmail.com

From: ferry@artotelindonesia.com

Loh, ini mas Ferry orang Indonesia tho?
Yaaaa… tahu gitu, dari tadi saya email2an pakai bahasa Indonesia aja deh 🙂
Hihihi
Namanya Erik. Spesialisasi dia di fotografi dan videografi.
((semua foto di sini adalah hasil jepretan kang Erik)). 
Thanks much ya.
Can hardly wait to attend this fabulous lunch
:))

Uncategorized

Inovasi Tiada Henti Sinar Mas Land

sinarmasland-0

Kalau hari-hari mulai terasa suram *tsaah* salah satu taktik yang kerap saya lakukan adalah browsing quote orang-orang hebat. Salah satu yang bikin hari saya jadi hore adalah kutipan dari Pak Eka Tjipta Widjaja. Wow, quote beliau ini nampol” banget. Bikin BANGKIT. Membaluri semangat, sekaligus menciptakan gairah yang meletup-letup untuk ACTION! Do it NOW! 

Yap. Integritas dan tanggung jawab adalah dua hal yang amat sangat krusial dalam hidup. Tanpa keduanya, maka kita (sebagai individu maupun korporasi) akan terjebak dalam kondisi stagnan, tak bisa move on, ataupun melahirkan beragam inovasi yang memberi manfaat bagi orang banyak.

INNOVATE or… DIE!

Inilah yang jadi pegangan teguh bagi seluruh awak Sinar Mas Land. Lebih dari 40 tahun (sejak 1972), perusahaan properti ini berkiprah di bumi Indonesia. Semangat yang mereka pegang teguh adalah: Building for a better future. 

Sinar Mas tidak semata-mata membangun properti. Tapi, mereka membangun integritas, reputasi, dan kepercayaan.

No wonder, baru-baru ini, Sinar Mas Land sukses meraih 2 (dua) Penghargaan prestisius level internasional. Grup properti ini mengharumkan nama Indonesia melalui Cityscape Awards For Emerging Market dan Asean Energy Award 2014.

Widiiih. Jadi makin ngefans ama Sinar Mas Land kan?

Biar lebih terasa feel-nya, silakan putar video ini. Kita bisa tertulari ruh semangat Pak Eka Tjipta Widjaja.

Keren kan?

Saya happy dan bangga banget, di Surabaya ada properti Sinar Mas Land. Salah satunya, komplek perumahan Wisata Bukit Mas di Surabaya Barat yang awe…awe… awesomeee…!!

SINARMASLAND-1
Arch de Triomphe di Wisata bukit Mas
Gerbang Utama Wisata Bukit Mas
Gerbang Utama Wisata Bukit Mas

Wisata Bukit Mas mengusung tagline “Hunian Sejuta Pesona”. Kalau menyaksikan beragam landmark yang bercokol di sana, kita benar-benar bisa merasakan European Experience… Sedaaaapppp :))

Di Wisata Bukit Mas, ada 14 cluster yang diberi nama dengan destinasi impian di Eropa. Yaitu: Madrid, Alexandria, Acropolis, Versailes, Venesia, Street of London, Rome, Palazzo, Palais du Luxembourgh, Royal Palais, Palais du Louvre, du Lyon, Grand Palais, Street of Paris.

Yang pasti, kompleks ini jadi lebih cihuy, lantaran dilengkapi fasilitas Collosseum Club House dan Adventure Park

Serasa lagi di Eropa!
Serasa lagi di Eropa!

Seperti yang saya singgung di awal, INOVASI adalah kata kunci yang menjadi ciri khas properti Sinar Mas Land, termasuk  di Wisata Bukit Mas.

Sinar mentari yang begitu bengisnya menjajah bumi Surabaya, dijawab dengan menghadirkan inovasi brilian. Apakah itu? Yap. Mereka menghadirkan Notredame Garden Suites

notredame
Notredame Garden Suites

Notredame Garden Suites bakal membawa suasana ala resort dan vila. Bayangkan… ada danau resort yang terpampang nyata di depan mata… Penghuni bakal dimanjakan dengan udara segar bebas polusi… plus setiap unit rumah punya private flying garden dengan pemandangan green area seluas 3 hektar!

Wowww…. heaven on earth..!!

Surgaa.....
Surgaa…..

Aaarrggh, sepertinya saya kudu banget merancang (plus mengeksekusi) financial planning dengan lebih smart.

Karena, salah satu tujuan finansial saya tahun depan adalah: punya properti di Wisata Bukit Mas Surabaya.

Can I have ‘Amiiiin’ for this? 🙂

458 kata

Diikutsertakan dalam lomba blog Sinar Mas Land

images

Uncategorized

Terus Kepakkan Sayapmu, Wahai Garuda Indonesiaku!

“Bu. Ibu. Nama Ibu, Nurul Rahmawati ya?”

Mataku mengerjap. Samar-samar tampak paras mas-mas ganteng yang terpampang nyata di hadapanku. Lho? Aku ini dimana tho? Trus, mas ini siapa? Kok dia tahu namaku?

“Eh, eehh… iya Mas… saya Nurul Rahmawati… Ngghhh…. Ada apa ya Mas? Saya ini dimana? Mas siapa?”

“Ibu lagi ada di Bandara Cengkareng, Bu. Executive Lounge Garuda Indonesia. Ibu tertidur. Sudah dipanggil berkali-kali oleh petugas pakai Loudspeaker. Mari Ibu, saya antar ke pesawat. Penumpang-penumpang lain sudah menunggu. Tinggal Ibu yang belum masuk.”

Astaghfirullah… Astaghfirullah… Maafkan saya, Mas….”

Buru-buru kuambil tas tenteng yang ada di sampingku. Mataku masih out of focus. Nyawa belum 100% on. Mas-mas petugas Garuda Indonesia lounge langsung mengajakku untuk sprint masuk ke badan pesawat. Dengan high heels 5 senti, apa boleh buat, aku harus berlari-lari cantik-tapi-panik. Diiringi tatapan heran dari para petugas airport. Seolah-olah mereka membatin, “Plis deh, kok bisa seh, tidur pulas di lounge bandara?”

“Oke-siap-ini Ibu Nurulnya sudah ketemu. Ternyata tidur di lounge Garuda. Sekarang Ibu Nurul menuju pesawat. Ganti.”

“Cek-cek-lapor! Ibu Nurul ternyata tertidur. Sekarang diantar petugas ke pesawat. Ganti.”

Mas-mas ganteng itu sibuk balapan sprint sambil tetap berbalas pesan dengan rekannya.

Kali ini kami siap masuk ke garbarata. Tak kuhiraukan pandangan ‘tepok jidat’ dari orang-orang di bandara.

Di ujung pintu masuk pesawat, sejumlah cabin crew menyambut saya. Duh, rasanya saya baruuu saja melakukan satu dosa besar yang tak termaafkan.

“Maafkan saya….”

Tak kuasa saya melihat senyum mereka. Tetap senyum ikhlas 2 senti ke kanan, 2 senti ke kiri. Tak ada yang meledek. Tak ada yang berkomentar negatif. Tak ada yang cemberut. Tak ada yang melengos. Padahal, boleh jadi, para cabin crew itu menyayangkan adanya satu penumpang terkutuk seperti saya.

Oke… tarik napasss… sekarang cari kursi pesawat….. Ough! Rupanya, cobaan saya belum berhenti sampai di sini. Saya lirik nomor kursi saya yang tertera di check-in-ticket.

Astaghfirullah! Nomor 25!! Belakang sendiri! Itu artinya, saya harus berjalan di sepanjang aisle diiringi tatapan penuh kebencian dari seluruh penumpang Garuda Indonesia. “Dasar penumpang ndeso! Katrok!” Mungkin mereka sibuk mencaci-maki saya dalam hati sanubari masing-masing. Hehehhe… frasa ini memang rada lebay.

Setelah saya mendaratkan pantat di kursi pesawat, beberapa menit kemudian, pilot segera take-off.

Pff… teramat-sangat feeling guilty kalau harus mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Kenapa kok saya sampai tidur sepulas itu? (dus kemungkinan besar sambil ngorok pula)

Kenapa saya bisa menodai harkat dan martabat diri saya sendiri? Apa mentang-mentang karena saya berhasil mendapatkan Tiket Pesawat Murah, sehingga dengan seenak udel, saya tidur sampai pules banget di Garuda Executive Lounge?

Kalau dirunut-runut, maka semua kesalahan saya tumpahkan pada Garuda Indonesia! Lho, kok bisa?

Ya dong.

Andaikata executive lounge yang disediakan tidak senyaman itu, kemungkinan besar saya tidak akan tergoda untuk merebahkan badan dan merem plasss di sana kan?

Andaikata makanan yang tersaji di executive lounge tidak membangkitkan selera, maka saya tidak akan tergoda untuk berwisata kuliner kan?

Andaikata kombinasi sofa empuk + AC sejuk + musik soft + menu-menu mak nyus tidak tersaji di sana, saya pasti memilih untuk hanging around di sekitar airport dan tidak tertidur dong. Iya kan? #Mental-doyan-blaming.

Apa moral of the story yang bisa diambil dari insiden “tertidur di lounge Garuda” ini? Yang jelas, apabila mau jadi penumpang Garuda, jadilah penumpang yang baik dan benar. Garuda Indonesia didedikasikan untuk Bangsa, Negara dan Rakyat Indonesia.

Garuda adalah Maskapai Terbaik Indonesia

Nah, karena pakai nama Indonesia, para penumpangnya jangan malu-maluin dong…

Salah satu contoh penumpang yang baik tapi tidak benar, adalah saya. Ketika hendak naik pesawat, saya sudah check in 1 jam sebelumnya. Jadi, fisik saya sudah hadir di Cengkareng. Dan ini artinya, saya penumpang yang baik.

Sayangnya, saya tipe penumpang yang “gila dimanja”. Karena menjadi pemegang “Gold” Garuda Frequent Flyer (GFF) card, saya dapat privilege untuk duduk manis-makan-minum-sepuasnya di Garuda Indonesia Executive Lounge.

Ya sudah, yang awalnya cuma niat mencicipi siomay, eh kok kayaknya soto kudus enak ya. Aduh, tapi itu ada roti arem-arem dan lemper yang kayaknya sayang kalau diabaikan… Trus, ada jus terong belanda pula, jarang-jarang lho bisa nemu jus suegeer yang sip-markosip beginian… Gratis pula….

Nah, kalau sudah jadi penumpang yang baik, Anda juga harus bersikap benar. Jangan asal molor di sembarang tempat. Apalagi, tidak meninggalkan pesan pada petugas lounge. Dipanggil bertubi-tubi dengan loudspeaker di sekujur bandara, eh, malah makin molooorrrrr….

Karena itulah, ketika menjadi passenger Garuda Indonesia, tidak pernah sekalipun saya menjumpai penumpang yang rese. Nyaris seluruh penumpang Garuda masuk dalam kategori baik dan benar.

Nggak ada ceritanya penumpang yang nyanyi-nyanyi kenceng dalam pesawat. Atau ngobrol berisik. Atau haha-hihi sama temen satu geng. Atau memukul si pramugari. Sama sekali tidak pernah! Padahal, ingat lho, saya pemegang GFF Gold, yang artinya saya lumayan sering menjelajah angkasa bersama Garuda.

Terkait Garuda (yang sangat) Indonesia inilah, saya teringat ucapan Bapak Emirsyah Satar, dalam sebuah wawancara. Orang nomor 1 di Garuda Indonesia ini bilang,

“Garuda harus berdaya saing. Maka, harus beda dari maskapai lain. Apa yang bikin orang memilih Garuda? Kami mesti cari positioning-nya. Kan, Garuda berbeda karena Indonesia. Lalu kami lihat, kelebihan Indonesia adalah terkenal ramah dan penuh diversifikasi. Diangkatlah ini sebagai selling point Garuda. Kemudian kami meluncurkan Garuda Indonesia Experience.”

Apakah Garuda Indonesia Experience itu?

Garuda ingin menghadirkan sebuah brand yang spesial sekaligus mempromosikan Indonesia ke level internasional. Masing-masing kita punya 5 indera kan? Sight, sound, scent, taste, touch. Nah, Garuda menghadirkan ‘experience’ ini dengan ‘menyerbu’ kelima indera kita.

sight03

Dari sisi sight, kita lihat tampilan selaras yang “Indonesia banget” ala Garuda. Motif seragam, warna yang begitu sejuk, semuanya adalah ciri khas Indonesia.

sound03

Bagaimana dengan sound? Awak Garuda siap meluncurkan music tradisional yang adem banget di kuping. Dan sapaan hangatnya itu lho… “Salam Garuda Indonesia”. Subhanallah, adeeem banget… sunggu­h menentramkan jiwa yang lara!

scent03

Kalau scent? Hmm… nikmati aroma herbal dan semerbak wangi bunga khas Indonesia. Masuk di kabin pesawat serasa disuguhi terapi aromatik.

taste03

Untuk taste, jelasss… aneka ragam menu mak nyus siap jadi ‘representasi Indonesia’ di mata dunia.

touch03

Untuk touch, kita tahu sendiri ya, bahwa masyarakat Indonesia identik dengan keramahtamahan yang luar biasa dan sangat khas. Nggak heran, negara kita jadi destinasi favorit di dunia. Konsep Garuda Indonesia Experience menyajikan pengalaman terbaik bagi para penumpang. Mulai dari reservasi penerbangan hingga tiba di bandara tujuan, para penumpang akan dimanjakan layanan yang tulus, bersahabat dan Indonesia banget deh. Ini salah satunya disimbolkan ‘Salam Garuda Indonesia’ dari para awak kabin.

Angkat topi buat Pak Emir dan seluruh tim Garuda! Sungguh strategi yang luar biasa. Selain menyajikan solusi transportasi dan jasa layanan, Pak Emir bisa menghadirkan “pengalaman” yang bakal memorable di benak konsumen. From Transportation to Travel Service Business. Wih, wih, wih… Dan, ini dijalankan oleh semua elemen Garuda, termasuk tim Garuda Balikpapan.

Indonesia ini Negara yang komplet. Eksotis, menarik, penuh dengan detail-detail unik yang tak bakal dijumpai di Negara lain. Kalau selama ini, banyak orang kerap mengeluh dengan birokrasi, korupsi, dan sebagainya; maka Pak Emir memilih untuk “Menghadirkan Pengalaman penuh kesan khas Garuda (dan) Indonesia.” Super sekali!

Sayup-sayup terdengar theme song Garuda Indonesia yang mampu memberdirikan bulu kuduk. Nasionalisme saya naik satu strip, setiap dengar theme song Garuda ini.

Melayang tinggi, menjelajah segala benua

mengibarkan sang saka

menebar citra bangsa

ke sluruh dunia, terbanglah

Garuda Indonesia

Kebanggaan bersama yang slalu kita bela

Garuda Indonesia

Akan kujaga demi nusa bangsa

Slalu kujaga kesetiaan kepercayaan

dari para sahabat Garuda Indonesia

senantiasa, bersama!

Garuda Indonesia

kebanggaan bersama yang slalu kita bela

Garuda Indonesia

Akan kujaga demi nusa bangsa

Garuda Indonesia

Kebanggaan bersama yang slalu kita bela

Garuda Indonesia

akan kujaga demi nusa bangsa

akan kujaga demi nusa bangsa.

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Garuda Indonesia

islam

Ada Apa dengan Cintamu, Wahai Ibu?

Tidak banyak air mata yang tumpah. Kendati tersendat, perempuan itu masih tetap sanggup berujar. Pilu membaluri hatinya, tapi ia tak kenal kata rapuh. Apalagi putus asa. Atau, menyalahkan takdir Tuhan. Dalam sebuah tragedi yang amat menyesakkan, berulang-ulang, ia sibuk mengucapkan mantra, ”Sabar… sabar… yang ikhlas… insyaAllah Bapak masuk surga…”

Tangisku pecah.

“Relakan Bapak pergi ya Nak… InsyaAllah Bapak masuk surga, dan ia akan bahagia berada di sana…”

Ibu berucap dengan suara bergetar. Seolah menahan air mata yang nyaris tumpah, Ibu memagari dirinya dengan ketegaran yang mengerikan.

Aku—si anak kecil berusia 10 tahun—tak henti-hentinya tergugu. Menangis dalam jeri.

Bapakku meninggal. Tak lagi bernyawa. Bapakku, tulang punggung keluarga kami, sekarang sudah tidak hidup lagi. Tak ada lagi, manusia ganteng, lucu, sabar, yang akan membawakan seplastik pisang goreng setiap sore. Yang memanggilku dengan bumbu sayang tak terbilang, ”Deeek, iki Bapak nggowo pisang goreng isih anget.” (Dik, ini Bapak membawa pisang goreng masih hangat).

Lalu, aku menghambur ke pelukannya. Bau badan Bapak yang masih terpanggang matahari, itu adalah parfum ternikmat yang aku rasai. Lalu, Ibu ikut nimbrung, sembari membawakan teh manis yang masih mengepul. Kalau kau tanya dimanakah aku berada, maka aku akan menjawab, inilah surga. Sebuah surga yang demikian indah, walaupun sederhana.

Dan, 16 April 1991, dinding surgaku bolong. Ada satu makhluk yang tak lagi berkontribusi dalam semarak surga kami. Lagi-lagi, aku melolong. Aku belum siap. Sungguh, kalau boleh memilih, aku lebih suka aku saja yang mati duluan. Jangan Bapakku. Jangan pria ganteng, baik, lucu itu.

“Bapak… bangun Pak… Aku setelkan lagu kesukaan kita Pak… “ aku—si bocah kelas 4 SD kala itu—membawa sebuah radio tape bermerek Sony, yang siap memutarkan lagu Bimbo. Kesukaan Bapak dan aku, apalagi kalau bukan Aisyah adinda kita. ”Bapak, bangun Pak… kita nyanyi lagi Pak…”

Surgaku kini tak sama lagi.

***

Ibuku bagai batu karang. Sekeras apapun badai yang mengoyak, ia tetap tegar. Kepergian Bapak di usia amat muda—44 tahun—sama sekali tak membuat ia menjadi pribadi yang lunglai. Justru, ibuku tampil sebagai superhero. Pahlawan sejati bagi aku dan abangku.

images

Ibuku tak sempat bersedih. Ia gembok rapat-rapat stok duka dalam dada. Ia coret jauh-jauh kosakata “Mengapa harus suami saya?” Ia menutup pintu kerapuhan, lalu melangkah mantap, demi mewujudkan masa depan bagi kami, kedua buah hatinya.

Maka, kalau ada yang bertanya siapa perempuan terkuat di dunia, tentu aku jawab dengan lantang: Ibuku. Tak pernah kudengar sepenggal keluhan yang terlontar dari bibirnya. Duka-nestapa separah apapun senantiasa ia telan sendirian.

Tak pernah kulihat bias lara di mata indahnya. Mata itu selalu pancarkan inspirasi sekaligus motivasi­­ untuk mau berbuat kebaikan dari hari-ke-hari. Ibu hadir untuk menguatkan jiwa. Ibu hadir membawa sekeping optimisme, berbalur rasa syukur yang tak kenal kata udzur.

”Sabar ya Nak… insyaAllah, setiap peristiwa yang kita alami, sepahit apapun, yakinlah, bahwa Allah PASTI memberikan yang terbaik untuk kita…”

***

Sebagaimana kisah-kisah para Nabi dan wali, yang selalu mendapat cobaan dalam hidup; maka begitulah aku menganalogikan kehidupan Ibu.

Pasca berpulangnya Bapak, hantaman cobaan seolah enggan hengkang. Mulai masalah finansial, yang membuat Ibu harus jumpalitan menambal kekurangan di sana-sini.

Sepulang mengajar—ibuku adalah guru—beliau harus pergi kulakan ke Pasar Turi. Beraneka alat masak pecah belah, sprei, baju, daster selalu ia bawa pulang, untuk kemudian dijual secara kredit ke tetangga.

Wajahnya memang penuh peluh, toh Ibu tak mau berkubang dalam keluh. Dan kau tahu, apa stigma yang melekat pada janda? Walaupun itu janda karena suaminya meninggal? Yang aku tahu, ada beberapa pasang mata yang menghadiahkan tatapan tidak suka. Janda. Ke sana ke mari bawa dagangan. Ada yang membeli karena ingin, ada yang karena kasihan, ada yang lantaran terpaksa.

Yang bikin sebal, beberapa customer Ibu terjerat “kredit macet”. Apa boleh buat, Ibu memang tak piawai berdebat. Dengan senyum simpul, Ibu membiarkan piutangnya berubah jadi sedekah.

Aku—yang memang bakat protes—menganggap apa yang Ibu lakukan sebagai tindakan “aneh” “menggelikan” “tak masuk akal”. Ibu kan jualan, jadi rugi dong kalau begini terus?

“Nggak papa. Allah tak pernah tidur. Pasti kita akan dapat ganti yang lebih baik,” begitu ucap Ibu, sembari mengelus-elus rambutku.

***

Mom_Quotes-Images_LikeLoveQuotes_SMS_Sayings_Messages_ImageQuotes

“Adik mau nggak, kalau punya Bapak lagi?” Seorang tante menanyaiku pada suatu pagi.

Bapak? Bapak tiri, maksudnya? Tidak. Bapakku cuma satu. Bapakku sudah di surga. Aku tidak mau punya Bapak jilid dua.

Sebenarnya, kalau mau, Ibuku sangat bisa menikah lagi. Beliau masih terbilang muda ketika menjanda. Pun, tidak sedikit pria—berstatus bujang ataupun duda—yang naga-naganya memang ingin menjadi bapak sambung. Tapi, ibuku bergeming.

Ada apa dengan cintamu, wahai Ibu?

Terkadang, aku merasa bersalah karena jangan-jangan aku yang membuat Ibu tak mau menikah lagi?

Tapi, rupanya Ibu bisa menjawab risau yang aku rasa. Ia punya satu cinta nan agung, yang ia persembahkan hanya pada bapakku. Maka, ketika bapak berkalang tanah, cinta itu ikut terkubur di sana. Bersemayam dalam jasad yang fana. Barangkali, cinta itu akan kembali menemukan mahkotanya, di surga firdaus. Kelak. Entah kapan.

***

Aku selalu ingat setiap serpihan kalimat yang meluncur dari Ibu. Segumpal kata yang sarat makna. Seutas diksi yang membekas di hati. Setiap melihat sorot matanya, yang begitu tangguh dan berani—kalau tak boleh dibilang nekad—nyaliku langsung bangkit. Tak mau aku jadi pecundang, yang terus merutuki nasib. Tak rela aku jadi perempuan menye-menye, yang gampang terperosok dalam sedih tak berujung. Aku mau TEGAR. Aku ingin BANGKIT.

“Kalau saat ayah meninggal, ibu menangis kencang, barangkali saat ini aku tumbuh menjadi perempuan yang rapuh.”

Suatu sore yang cerah. Seperti biasa, kami minum teh, sambil menikmati jajan pasar. Berdua. Hanya aku dan dia.

“Kenapa begitu?”

“Ya, karena Ibu adalah role model buatku. Ibu itu panutanku, pahlawanku. Waktu itu, aku mau nangis dan protes sama Tuhan. Aku benci banget dengan kenyataan bahwa ayah meninggal. Kenapa ayahku yang begitu baik malah meninggal? Kenapa bukan orang jahat saja yang meninggal duluan? Ayah umurnya kan masih 44? Kenapa aku yang masih sekecil itu malah dibikin nggak punya ayah? Tapi, gara-gara lihat Ibu, aku malu kalau nangis. Wong Ibu nggak nangis, ya sudah, aku juga brenti deh, nangisnya.”

Setengah dipaksa, bibir Ibu mengukir senyum. ”Kamu ini bisaaaa aja!”

Pada akhirnya, aku belajar, bahwa untuk survive dalam menjalani hidup, kita hanya perlu berbekal syukur dalam volume yang tak berhingga. Agar kita punya hati dan kesabaran seluas samudera. Dan itu semua, kupelajari dari ibuku.

Laa Tahzan. Innallaha ma’ana…

Jangan sedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.

Mantra itu yang membuat ibu kuat.

Mantra itu yang membuat cinta kami kian rekat.

Mantra itu yang menjadikan hati Ibu begitu luas…. Seluas samudera….

I love you mom. I love you to the moon and back.

 

 

Uncategorized

Ada Apa dengan Cinta is Back…!!

Ada Apa dengan Cinta (AAdC) is Back…!!!

Wowww… Sebagai salah satu fans Dian Sastro, saya ngerasa “sekuel” AAdC ini bagaikan hujan sesaat yang mengguyur Surabaya nan kering-kerontang-panas-membara. Agensi yang bikin mini-drama ini emang brilian banget! Haqqul yaqin, salah satu tim kreatif AAdC dan LINE adalah member grup HITS ’80-’90 #eaaaa

Daaan…. TL twitter ramaaaaiii dengan AAdC ini.

Sebenarnya saya mau sok-sokan nostalgila dengan nonton film ini DUA BELAS TAHUN YANG LALU sik. Tapiii, banyak banget twit yang malah bikin saya meledaaak, pengin ketawa ngikik guling-guling.

Di antaranya ini nih:

Halooo, pak Jonan… ((dadah dadah ke Meneg BUMN)) Menteri Perhubungan :))

Yang bikin kzl to the max adalaaah…. kenapa Rangga musti nunggu sampe 12 tahun sik?? Lama amaaaat.

Plussss… meme-meme yang ya ampuuuunnnn

Kesimpulannya……

Buruaaaan… ke Youtube… Lihat videonya deh… SERU…!

Uncategorized

Outfit of The Day Para Bocah

Ada yang bilang, anak cowok itu sulit didandanin? Susah banget buat dibikin keren-an dikit? Hmm, tunggu dulu. Pantengin deh, foto-foto para bocil di bawah ini.

Credit: http://www.boredpanda.com/stylish-kids/

fashion-2 fashion-3 fashion-4 fashion-5

Gayanya boook. Nggak nguatiiin, sumpaaah deeh… :))

Well, me-make over bocil emang agak2 tricky ya. Rasanya pengin gitu loh, anak kita tampil dandy dan rada2 flamboyan kayak foto-foto di atas. Tapi, enggak semua bocah bisa didandanin kayak gitu kan? Apalagi kalo tinggalnya di negara tropis yang hot-hot potatoes (panas2 kentang, maksudnya panas banget nget).

Di Surabaya ini, kita (sekarang) berasa lagi mandi sauna loh.

Buat bocah, selain model busana yang oke, kita juga perlu merhatiin bahannya nih. Adem apa kagak? Menyerap keringat kah? Enak buat dipake gerak, lari-lari, loncat sana-sini, gulung-gulung di atas pasir? Errrr… ini sebenernya lagi ngomongin anak manusia atau….. hihihi….

DSC_0232 DSC_0266 DSC_0278 DSC_0293 DSC_0314 DSC_0324 DSC_0361 IMG_9130

Noh. Ternyata ada loh, produsen baju muslim nan syar’i yang mengakomodir jiwa eksplorasi para bocah.

Anak-anak diajarkan untuk menutup aurat. Iya dong, biarpun mereka masih kecil, jangan sampai kita abai dengan bab menutup aurat. Tahu sendiri kan, penjahat pedofilia berkeliaran di mana-mana. Selain kudu mendoakan kebaikan untuk anak, ortu juga wajib kasih bekal berupa “mana aurat, mana yang boleh terlihat” buat mereka.

Kalau main-main di toko online almakoleksi.com, kita bakal dimanjakan dengan berbagai varian model busana yang chic, fun, sekaligus sesuai prinsip syar’i. Bukan hanya untuk anak-anak, lini busana babies/newborn juga ada loh.

IMG_9006

Kalau buat mommies, gimana? Don’t worry. Almakoleksi.com juga punya serangkaian seri busana yang layak banget buat kita pakai di segala suasana.

IMG_9090 IMG_9184 IMG_9192

Makin gemeessss kan? Bisa sarimbit-an antara mommy + putra/i-nya. Kalau mau tahu info-info lebih lengkap seputar Alma’s collections, bisa cuzzz website-nya. Dijamin mupeng! Bukan hanya itu, website ini juga dilengkapi dengan dongeng anak muslim. Waah… asyik…!!

Website: www.almakoleksi.com

Fanpage Facebook : Almas Koleksi

Twitter: @almakoleksi

SMS / Hotline
Fax (031) 8790079
SMS/Call 085839079079
PIN BB 25BE5581
Call (031) 8790079