Sistem Zonasi Pendaftaran SMP yang Menafikkan Kerja Keras Siswa SD

Zonasi yang Menafikkan Kerja Keras Siswa SD

Begitu membaca Headline di halaman Metropolis Jawa Pos Sabtu (27/4) dan Minggu (28/4) lalu, jantung saya serasa melorot ke dengkul. Penerapan Sistem Zonasi PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tingkat SMPN tanpa nilai UNAS, tanpa sekolah Kawasan. Tak ada seleksi nilai atau adu pintar untuk masuk SMP Negeri tahun ini. Lebih lanjut, artikel ini memaparkan bahwa ada tiga jalur masuk SMPN.

Komposisinya, 90 persen berdasarkan zonasi (alias seberapa dekat jarak rumah murid –yang tercantum di Kartu Keluarga—dengan sekolah) 5 persen jalur prestasi dan 5 persen jalur mutasi (orang tua pindah kerja). Intinya, nilai USBN/UNAS bisa dibilang “Nggak onok regane” karena siswa yang tinggal lebih dekat dengan sekolah punya peluang tinggi untuk masuk. Sebaliknya, setinggi apapun nilai USBN, kalau rumah calon murid terbilang jauh, maka (boleh dibilang) tak ada peluang untuk tembus ke SMPN yang dituju.

View this post on Instagram

Salam Literasi! 😊🖐. #SahabatDikbud , Kemendikbud telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 51 Thn 2018 ttg Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Tidak banyak mengubah peraturan sebelumnya, aturan ini mendorong mendorong pelaksanaan PPDB yang nondiskriminatif, objektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan. PPDB 2019 yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar, maupun Pemerintah Provinsi untuk pendidikan menengah, wajib menggunakan tiga jalur, yakni jalur Zonasi (90%), jalur Prestasi (5%), dan jalur Perpindahan Orang tua/Wali (5%). Kuota paling sedikit 90 persen dalam jalur zonasi juga termasuk kuota bagi peserta didik dari keluarga ekonomi tidak mampu (dibuktikan dengan bukti keikutsertaan Peserta Didik dalam program penanganan keluarga tidak mampu dari Pemerintah/Pemda) dan/atau anak penyandang disabilitas pada sekolah yang menyelenggarakan layanan inklusif. . . Pelaksanaan #PPDB2019 diharapkan dapat mendorong sekolah lebih proaktif mendata calon siswa berdasarkan data sebaran anak usia sekolah. Jarak rumah ke sekolah menjadi pertimbangan utama dalam seleksi, bukan nilai rapor maupun hasil Ujian Nasional. Mendikbud meminta agar Pemerintah Daerah segera menetapkan petunjuk teknis (juknis) PPDB 2019 dengan berpedoman kepada Permendikbud No 51 Thn 2018. Petunjuk teknis harus mengatur kriteria, pembagian zona, dan pendataan siswa di setiap zona. Dan paling lambat diterbitkan satu bulan sebelum PPDB dimulai dan disosialisasikan kepada masyarakat. . . Sekolah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dilarang melakukan pungutan dan/atau sumbangan yang terkait dengan pelaksanaan #PPDB2019 maupun perpindahan peserta didik. Sekolah juga dilarang melakukan pungutan untuk membeli seragam atau buku tertentu yang dikaitkan dengan PPDB. Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota wajib memiliki dan mengumumkan kanal pelaporan untuk menerima laporan masyarakat terkait pelaksanaan PPDB. Masyarakat dapat mengawasi dan melaporkan pelanggaran dalam pelaksanaan PPDB melalui laman http://ult.kemdikbud.go.id. . . #ppdb #ppdb2019 #pendidikanuntuksemua #semuabisasekolah #zonasi

A post shared by Kemdikbud.RI (@kemdikbud.ri) on

Begini. Baru saja, anak saya menunaikan tugas aneka ujian seabrek. Ujian tengah semester, Ujian akhir semester, ujian praktik, ujian tulis, dan puncaknya adalah Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) alias UNAS. Alhamdulillah, sebagai tipikal ortu yang sama sekali tidak ambisius, saya tidak mendaftarkan anak ke Lembaga Bimbingan Belajar. Cukup dampingi tatkala ia belajar di rumah, dan saya arahkan untuk ikut belajar bersama teman-temannya.

Intinya, saya ingin ia menjalani ujian yang segabruk itu dengan happy, embrace the moment. Masalah skor USBN, prinsip yang terlontarkan, “Ibu akan bersyukur dengan nilai berapapun yang kamu dapatkan. Yang penting itu hasil kejujuran, tidak mencontek, dan kamu memang sungguh-sungguh belajar mendalami ilmu yang diajarkan Pak Guru.”

Karena itulah, sedari awal saya mengarahkan anak untuk daftar ke SMP yang dekat rumah saja. Akan tetapi, ortu dan anak memang tertakdirkan punya pandangan dan semangat berbeda. Ia begitu antusias untuk mendaftar ke salah satu SMP terfavorit di kota ini. Bahkan ketika akhir pekan sebelum USBN, ia mengajak kami untuk berkunjung ke SMP itu. Blusukan, ingin tahu seperti apa bangunan/fasilitas yang ada di dalamnya, dus aneka prestasi yang telah ditorehkan para siswa di SMP tersebut.

Ia pun makin excited, sepulang dari sana, beraneka ragam soal try out dan buku panduan USBN ia “lumat”. Berjam-jam ia berjibaku untuk menyelesaikan soal-soal Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia. Tak ada lagi waktu bersantai. Tak tersisa waktu untuk YouTube-an. Hingga suatu ketika, gurunya mengabarkan pada saya, bahwa ia meraih posisi peringkat 4 di Olimpiade plus Try Out USBN se-Kecamatan.

Ketika USBN, entah kenapa tiba-tiba anak saya muntah dan diare. Mungkin kolaborasi antara super excited, nervous, dan ambisinya agar meraih nilai terbaik dan bisa tembus ke SMP yang ia idam-idamkan. Saya terus-menerus rapalkan doa dan bilang, ”Udaaah, santai saja! Kamu nggak masuk SMP itu, juga nggak papa. Kan masih bisa coba SMP yang lain. Nilai berapapun disyukuri saja!”

Di hari kedua UN, dia masih diare. Saya tawarkan untuk izin UN susulan saja. ”Nggak, Bu. Aku harus ikut UN! Doakan semua nilaiku Matematika 10, Bahasa Indonesia 10, IPA 10!” Ia memasang kertas dengan tulisan spidol besar di kamarnya. Skor UN 30, SMPN Kawasan itu untuk aku! Optimisme yang membumbung tinggi. Untuk ukuran cowok ABG, determinasi anak saya terkadang rada mengejutkan.

***

Setelah saya sodorkan artikel tentang kebijakan PPDB, semangatnya jadi layu sebelum berkembang. Nglokro. Belum sempat masuk “medan perang”, ia sudah “kalah”. Walau sempat mengatakan, ”Tapi masih ada kuota 5% untuk jalur prestasi, Bu. Aku bisa daftar lewat jalur ini.”

LIMA PERSEN, Nak. Ayo kita berhitung. Anggap saja, tahun ini, SMP tersebut menerima 200 siswa, maka 5 persennya hanya 10 anak! Sepuluh anak ini kuota yang sangat seuprit. Bayangkan, para pelajar peraih olimpiade dan yang meraup skor UN tinggi, semuanya berebut kursi 5% itu!

Ia pun kian nglokro. “Aku nggak masalah masuk SMP dekat sini, kalau fasilitasnya sama. Tapi kita tahu sendiri kan Bu. Belum ada pemerataan fasilitas di semua sekolah.”

Apalagi, Sidqi juga berharap bisa menyalurkan talentanya di kancah digital, dengan ngeblog dan ngevlog. Tentunya, ia bakal memilih Web Hosting Indonesia terbaik. Sebagai orang tua, tugasku menyemangati dan mendukung ia.

***

Menutup tulisan ini, saya sebagai orang tua berharap kebijakan yang terbaik dan proporsional. Barangkali, bisa dipertimbangkan untuk merevisi komposisi jalur masuk PPDB. Untuk zonasi, 50%, prestasi 45% dan mutasi 5%. Gagasan “tidak ada SMP favorit” barangkali terdengar mulia, dan challenging untuk semua perangkat sekolah. Akan tetapi, menafikkan kerja keras dan semangat pelajar tatkala berjuang demi hasil terbaik ketika USBN, sungguh… membuat anak-anak kami, merasa sakitnya tuh di sini. Bapak/Ibu Kemendikbud dan Diknas semoga bisa berempati dengan hal ini. Ada sejumlah siswa yang mendedikasikan energi, waktu dan seluruh atensinya agar bisa menggapai nilai terbaik. Ada cita-cita yang mereka gantungkan.  Paling tidak, jangan “eksekusi mati” semangat mereka, dengan kebijakan “asal rumah dekat sekolah” semata.  (*)

Membedah Mitos Anak Bilingual dan Multilingual bersama EF – English First

Sebenernya bijak nggak sih, memperkenalkan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya kepada anak sejak usia dini? Apakah kita termasuk golongan ortu ambisius, apabila sudah mengajarkan bahasa Inggris ketika anak masih balita atau duduk di bangku playgroup? Jangan-jangan, anak bakal bosan, frustrasi atau malah trauma dengar kata “belajar bahasa Inggris” gegara ambisi kita sebagai orang tua? Atau, lebih parah lagi… jangan-jangan anak kita bakal mengalami speech delay (terlambat berbicara) ketika kita terlampau dini mengenalkan bahasa Inggris kepada para bocil?

Continue reading

Sekolah Robot, GeekFest dan Cara Surabaya Mengembangkan Industri Kreatif

“Eh, akhir Juni nanti, Khuclukz berangkat ke Amerika lho! Dia nganterin murid-muridnya di Sekolah Robot untuk ikut kompetisi robotic level international… Waaah, dia bakal puasa dan lebaran di California.”

“Waksss… sangaaarr! Khuclukz yang ketemu kita di acara sama Pak Menkominfo itu kan?”

“Iya! Dia itu pendiri sekolah robot. Udah bolak-balik ke luar negeri, nganterin murid-muridnya ke Korea, ke Taiwan, Amerika, Jepang, macem-macem.”

“Warbiyasaak, arek iku pinter tenan, tapi humble banget yak.”

Continue reading

Cetaphil, Bukan Skin Cleanser Biasa

Bulan puasa gini, kadang-kadang bikin kulit jadi kering yak?

Maklum, seharian nggak minum sama sekali, akibatnya jadi dehidrasi deh. Apalagi, kalau cuaca Surabaya lagi hot-hot-nya. Duuuh, combo yang mantap surantap, aselik bikin kulit jadi kerontang.

Lebih gawat lagi, aku bukan orang yang telaten pake printhilan skincare, body lotion, dll gitu. Ya kadang kalau lagi pengin atau dapet gratisan hahahaha aku pake body butter atau body lotion. Tapi enggak terlalu telaten gitu lah.

Sampai kemudian, aku tercerahkan oleh sebuah fakta, bahwa kulit kita itu sangat bisa menua sebelum waktunya! Kondisi sinar matahari penuh UV yang mencrooong, berpadu polusi, ketambahan stres, deadline, konsumsi makanan non-gizi, kurang air minum, adududuuuh… aku kudu tobaaat, euy!

Sebenarnya, sampai detik ini, kulitku tidak mengalami masalah yang gimana-gimana, and I really thank God for that. Tapi, kalau lagi kena alergi ayam broiler, kulitku bisa yang merah-merah gatel minta digarukin gitu deh.

Continue reading

Soal kelas 3 SD yang Bikin Pusing Pala Emak

Mumpung masih anget nih, mau ngedumel sekalian di blog hahahah. Semalam, saya ditodong Sidqi buat ngerjakan PR materi jam-menit-detik di buku Tema untuk kelas 3 SD. Inget ya, kelas 3 SD 🙂

Sebagai anak Teknik Informatika ITS yang desersi kemudian pindah ke jurusan lain saya ngerasa optimis bisa menyelesaikan soal kelas 3 SD dong. Gampiiil banget mah. 

Nomor 1, kelar. 

Nomor 2, beres. 

Nomor 3….. errrr… wait wait… iki maksude opo?

Soal nomor 3

Dayu meminta Udin dan Edo membuatkan kandang kelinci dari kayu. Udin bekerja selama 1 jam 30 menit. Edo bekerja 1 jam 45 menit. Berapa menitkah mereka bekerja bersama-sama? 

Sempat nggeliyeng baca soal nomor 3, lah kok dihantam lagi oleh mbuletisasi yang dipersembahkan oleh soal nomor 5 😦

Soal nomor 5

Jika Udin dan Edo bertugas merawat ayam setiap hari selama 2 jam 30 menit. Edo bekerja setiap hari 1 jam 45 menit. Berapa Jam dan Menit, mereka bersama-sama bekerja selama tiga hari? 

 

Errrrr…. saya mah emak yang anti pencitraan *blahh* terus terang, aku bilang ke Sidqi, “Ibuk bingung. Gak ngerti maksud soal ini apa?” 

Trus, aku ngelempar pertanyaan ke grup WA wali murid kelas 3. Beberapa emak menyambut dengan asumsi masing-masing. Pokoke, ada yang berpendapat “Itu kan tinggal dijumlahin aja…” ada yang pakai logika matematika ala dasar logika pemrograman 

Semakin malam, saya makin clueless. Ngelempar pertanyaan ke temen-temen di FB. Jawaban mereka? Ooooh, sungguh meriaaah, bikin pecaaaah!

FB-1

fb-2

fb-3

Sekali lagiiii, ini soal buat anak kelas 3 SD loh yaaa… KELAS TIGA SD…..! *sigh*

Sidqi udah bete surete banget. Bolak/balik dia menghapus hasil hitung-hitungan di bukunya. 

Aku kirim WA ke gurunya, “Pak, ini saya bingung dengan soal nomor 3 dan 5. Maksudnya gimana?”

Kuatirnya, aku udah ngajarin “logika matematika versi aku” tapi ternyata beda persepsi dengan logika gurunya. 

Gurunya Sidqi jawab lempeng ajah. “Besok saja Bu, langsung saya jelaskan ke anaknya secara langsung. Dikosongi saja.” 

Sidqi udah bobok pulessss, aku masih pusing mikirin PR dia. Karena yeah, soal ini rentan MULTI-INTERPRETASI. Aneh banget, emang. 

Karena mumet plus bonus insomnia, saya nge-tweet ke akun @bukik 

Oleh bapak psikolog yang super inspiring ini, tweet saya di RT ke para profesor matematika! @hgunawan82 dan @iwanpranoto 

Screenshot_2016-02-25-08-29-51Screenshot_2016-02-25-08-31-45Screenshot_2016-02-25-08-32-31Screenshot_2016-02-25-08-32-39

Enough, enooooughhh…!! *jambak jambak rambut** **banting buku yang pada akhirnya tergeletak pasrah di lantai 😛 

 

***

Baca PR Sidqi ini, serasa de javu ke topik 4 x 6 atau 6 x 4 yang dulu rameeee banget di Facebook. Inget kan? Saya pernah nulis terkait hal ini, sampai dimuat di koran Jawa Pos segala.

Intinya, gini lo.

Kepada para pembuat kebijakan kurikulum, 

Kepada penyusun buku tema, 

Kepada segenap insan-insan brilian yang berkecimpung di dunia pendidikan Indonesia. 

Boleh-boleh aja sih, kalau memang mau “menantang talenta” atau… “men-challenge IQ” atau…. “uji coba nalar berpikir” anak-anak Indonesia raya. Silakan! Silakan!

Tapiiii, mbok yaaa.. plis plis plisss… perhatikan rentang usianya juga. Kelas 3 SD, kenapa harus dibombardir dengan pertanyaan seperti ini, di mana orang tua dewasa seperti saya aja masih klepek-klepek kebingungan? Kenapah? Kenapah? Jawab, Bang…! Adek lelah, Bang…!

Seharusnya, para perumus soal bisa menyajikan kalimat yang lebih mudah dicerna. Tidak ambigu. Tidak menimbulkan multi-interpretasi sana-sini. Lebih baik, berikan saja soal yang mengasah logika “sesuai usia”. Mungkin adaaaa anak umur 3 SD yang apa istilahnya…..prodigy? Pokoke jenius luar biasa gitu lah. Tapiii, mayoritas siswa kelas 3 SD juga keliyengan dong, kalo disuguhi soal semacam ini. 

Saya bukannya pengin menghindarkan anak dari tantangan, nope.

Justru Sidqi malah SEMANGAT BANGET belajar di kelas 3 SD ini. Dan dia selalu punya ambisi untuk bisa menyelesaikan soal, dengan rumus paripurna plus hasil yang perfecto! 

Tapi, manakala disodori soal yang agak “ajaib”, bagaimana ortu mediokre seperti diriku ini memberikan encouragement buat sang buah hati? *sigh*

Enggak sabar nunggu Sidqi pulang sekolah. Penasaran banget, gimana cara wali kelasnya memberikan penjelasan dan jawaban atas soal yang super complicated ini. 

In the mean time, plis plis… mohon dengan amat sangat, supaya Pak Anies Baswedan dan seluruh timnya lebih wise lagi dalam menyajikan soal-soal buat bocil. 

Jangan bikin bocil trauma matematika deh. 

Okeh. Sekian curcol hari ini. SEMANGAT PAGI! :))))

DSC04377

Sarapan pagi duluuuu… biar gak salah paham #eh

 

 

 

 

 

 

Energi Seorang Guru

Kali ini, saya mau cerita soal guru a.k.a wali kelasnya Sidqi.

Anakku kan sekarang udah kelas 3 SD. Di salah satu SD Negeri deket rumah. Pas kelas 1 dan 2, wali kelas doi adalah seorang ibu guru SENIOR yang bener-bener saklek bin disiplin banget. Suaranya gahaaar membahana. Hobinya? MARAH-MARAH bin NGOMEL. Aku tahu sendiri, karena suatu ketika, Sidqi kan pernah telat –lupa kenapa– dan aku anterin sampe ke kelasnya. Aku dengar dan lihat, bahwa si ibu guru SENIOR ituh lagi MUNTAB PARAH, dan ngomel-ngomelin muridnya yang BARU SAJA masuk ke dalam kelas.

Oh, well.

Dua tahun berada dalam penderitaan dan “penyiksaan” oleh sang guru, membuat Sidqi merasa, sekolah “is a nightmare”. Tiap hari, doi tuh mengajukan pertanyaan retorik:

“MENGAPA HARUS ADA YANG NAMANYA SEKOLAH, BU? MENGAPA BU? MENGAPA?”

Itu diulang-ulang lagi-lagi-lagiiii dan lagi. Udah kayak kaset rusak, deh. Dan, sebagaimana ortu pada umumnya, jawaban yang aku sampaikan juga STD banget.

“Ya kan, biar pinter….”

“Ya ntar kalo ga sekolah, gimana bisa kerja….”

“Ya kan, temen-temen kamu semuanya sekolah. Masak kamu enggak….”

Sampe jawaban absurd dan malesin banget, semacam:

“Udahlah sekolah aja. Daripada kamu di rumah nonton TV terus, hayoooo…”

*plaaaak*

mewek

Intinya, aku sama sekali enggak encourage doi untuk menikmati dan memberi makna pada “proses belajar” di sekolah, hahahah.

Padahal, isu “MENGAPA HARUS ADA YANG NAMANYA SEKOLAH” bukan semata-mata tentang kebencian Sidqi terhadap institusi bernama sekolah. Tapiiii, lebih kepada KENAPA GURUNYA GALAK AMIR??

Walhasil, aku meng-compare dengan guruku di masa lampau. “Gurunya Ibuk dulu jauuuuh lebih galak, sangar dan kalo menghukum sadis banget loh. Kalo ada yang enggak bisa jawab, kepalanya dijedotin ke tembok!”

Lagi-lagi, jawaban ini sebenernya enggak mencerahkan sama sekali. Hanya untuk ngasih tahu “you are luckier than me” tapi ya sama sekali enggak solutif apalagi memotivasi.

Sidqi terus mengeluh. Tak pernah ia tunjukkan raut wajah ceria saban sekolah. Aku juga gak tau harus gimana, mau kasih masukan ke Kepala Sekolah soal attitude guru, lha kok KEPALA SEKOLAH nya GALAK PISAN! Waduh.

***

Alhamdulillah… segala sesuatu pasti ada akhirnya 🙂 This shall too pass 🙂

Si bu guru SENIOR itu pensiun. Demikian pula dengan bu Kasek. *sujud syukur*

Sekarang, wali kelas Sidqi adalah bapak-bapak. Awalnya, aku yang ngerasa, ealaaah, bapak-bapak, pasti ora perhatian ke murid-murid. Lah kok, ternyata prasangka saya SALAH BESAR. Si bapak2 ini, masih muda (BUJANG!) tapi sangat-sangat-sangat full atensi dengan murid-murid.

Misal. Kaos kaki Sidqi kan udah molor ya (dasar emak pedit, ogah beliin kaos kaki, hehehehe)

Nah, Pak Anas (nama wali kelasnya) bilang gini, “Sidqi, biar enggak molor, kaos kakinya besok dikaretin ya.”

🙂

Trus, karena sekolah kelas 3 masuk jam 11:30, biasanya para murid udah fase kumus-kumus kepanasan. Nah, khususon buat para cowok, pak Anas kasih tips, “Rambutnya dikasih gel, supaya bisa tetep seger dan tegak sampe jam pulang sekolah.”

NICE 🙂

Yang lebih bikin aku ternganga adalaah…. ni bapak amat sangat gampang diajak komunikasi via WHATS APP!

Please bear in mind, ini SD Negeri loh yaaa.. dimana kami para wali murid gretong alias gak ngeluarin duit untuk bayar SPP dllnya. Nah, si bapak guru ini malah beberapa kali kirim2 foto kegiatan murid2 di sekolah 🙂

Trus, kapan hari, Sidqi kan ada sedikit masalah dengan ulangan bahasa Inggris. (O iya, guru bahasa Inggrisnya ibu2, bukan pak Anas)

Sidqi ngerjain soal UTS, salah hanya 3 nomor… Lah kok, skor akhirnya diberi angka 56! Jelas aja, saya empet berat dan menitahkan Sidqi untuk protes ke guru bahasa Inggrisnya.

Apa yang terjadi, sodara-sodara?

Ya tau ndirilaaaah, anakku kan kagak ambisius blassss. Jadinya, tuh kertas ulangan cuman dibawa ke sekolah, tapi selama DUA MINGGU KEMUDIAN, dia sama sekali enggak protes ke gurunya.

Yo wis. Akhirnya, saya main by pass: WADUL alias mengadukan perkara ini ke pak wali kelas. Melalui apa? Whats App 🙂

Kertas ulangannya Sidqi aku foto-fotoin trus, aku jelasin ke Pak Anas. Tau jawaban beliau gimana?

“Iya coba nanti Sidqi saya ajari biar berani ngomong.”

GREAT! AWESOME! AMAZING!

Makasiiii ya Pak guru yang baik hati, mulia dan tidak sombong…

Aduh. Seneng deh, saya… Kalo Sidqi dapet wali kelas semacam Bapak. Udah full atensi dengan murid… Juga bisa kasih “energi” yang membuat murid makin betah dan semangat bersekolah.

Sekarang, Sidqi udah nggak pernah nanya retoris lagi,

“MENGAPA HARUS ADA YANG NAMANYA SEKOLAH, BU? MENGAPA BU? MENGAPA?”

Tapi, saban hari, dia ganti pertanyaannya dengan,

“BU, KAPAN AKU DIBELIIIN GEL KAYAK PAK ANAS?”

🙂

with uti fat

#TGIM : Dimuat di Jawa Pos!

CIMG6713

Haishhh… ini diaa…!! Setelah menuliskan uneg-uneg soal 4×6 atau 6×4 versi blog  saya kepikiran buat nulis juga untuk dikirim ke redaksi surat kabar. Yang tercetus adalah koran Jawa Pos. Karena emang koran ini kan koran kebanggaan arek2 Suroboyo 🙂

Setelah nunggu kurleb 2 hari, Alhamdulillah, opini saya terpampang nyata. Beberapa kawan berkirim kabar, sebagian ada yang nanya, kenapa karikaturnya kelihatan mbungkuk kayak udang gitu sih?? Hueheheh….

Lesson learnt. Kalo ngirim rubrik ke koran, pilihlah foto yang paling cihuy kali ya. Hehe. Eniwei, ini saya tuliskan versi asli yang saya kirimkan ke redaksi JP. Minor editing sih. Yang digunting redaksi, hanya paragraf yang saya bold plus underline.

Kalau mau kirim Opini ke JP, gimana caranya?

Tulis saja sebanyak 800-850 kata, kirim ke opini@jawapos.co.id. Jangan lupa, lampirkan foto (yang keren yaaa…), nomor rekening, nama dan riwayat hidup singkat (yang relevan dengan topik yang ditulis). Selamat menulis 🙂 

OPINI 

4×6 atau 6×4?

Oleh: Nurul Rahmawati (pemerhati pendidikan, orangtua siswa kelas 2 SD)

Di sebuah SD di Jawa Tengah.

Habibi merasa galau. Bocah kelas 2 SD itu sedih, lantaran PR Matematikanya dicorat-coret dengan tinta merah oleh gurunya. Skor yang ia peroleh hanya 20. Habibi belum paham benar dengan soal-soal yang bikin ia mumet. Untunglah, ia punya kakak— Muhammad Erfas Maulana, mahasiswa teknik mesin—yang siap mengajarinya dengan sabar dan telaten. Habibi percaya diri dengan jawaban sang kakak. Tapi, mengapa ternyata jawaban kakaknya dianggap salah oleh gurunya?

Soal itu berbunyi 4+4+4+4+4+4=…… Habibi menjawab 4×6 = 24. Rupanya, jawaban itu dianggap “salah total”. Karena jawaban yang benar adalah 6×4=24.

Habibi tentu lapor pada Erfas, sang “mentor” sekaligus kakaknya. Erfas terusik dengan nilai 20. Barangkali harga dirinya jatuh di hadapan si adik yang baru duduk di kelas 2 SD. Tak terima dengan penilaian si guru, Erfas mengajukan “surat cinta” yang berisikan protes.

Bu guru yang terhormat,

Mohon maaf sebelumnya, saya kakak dari Habibi yang mengajarinya mengajarkan PR di atas.

Bu, bukankah jawaban dari Habibi benar semua?

Apakah hanya karena letaknya yang terbalik, sehingga jawaban Habibi Anda salahkan?

Menurut saya, masalah peletakan bukan menjadi masalah, bu. Misal, 4×6 = 6×4. Hasilnya sama-sama 24.

Terima kasih Bu, mohon perhatiannya. Semoga dapat dijadikan pertimbangan.

Mungkin, surat ini hanya berhenti di meja ibu guru, apabila Erfas tidak meng-upload-nya di Facebook. Ya, surat ini menjadi viral lantaran Erfas membahasnya di jejaring sosial terpopuler di Indonesia. Ratusan orang men-share postingan Erfas. Bahkan, dibahas di berbagai portal berita. Ratusan orang menganalisa dengan latar belakang akademis masing-masing. Sebagian mencela si guru, yang lain menimpakan kesalahan pada Erfas… Ada pula yang mengutuk sistem pembelajaran, ada yang menimpakan telunjuk kesalahan pada Kemendikbud. Facebook menjadi riuh oleh 4×6 atau 6×4….

***

LIMA belas tahun lalu, di sebuah elementary school (SD) di Amerika Serikat.

Seorang pria kandidat doktor tengah mengajukan protes pada guru SD tempat sang anak belajar. Menariknya, protes ini bukan lantaran si bocah diberi skor 20. Justru, sang ayah protes, karena karangan berbahasa Inggris yang ditulis si anak malah diberi nilai E (excellent) yang artinya sempurna, hebat, sangat bagus. Padahal si anak baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Menurut pria kandidat doktor itu, karangan si anak buruk, logikanya sederhana, kemampuan verbal masih sangat terbatas. Sehingga tidak sepatutnya guru memberi skor E.

“Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri,” begitu ujar sang kandidat doktor.

Sewaktu ia protes, ibu guru yang menerima hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawanya.Dia pun tersenyum. Ibu guru yang simpatik itu berujar, “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini. Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat.”

***

Anda tahu, siapa kandidat doktor yang “memprotes” guru anaknya itu? Ya, dia adalah Prof Rhenald Kasali, Phd. Dua cerita di atas sengaja saya sajikan, supaya kita bisa lebih jeli dalam menyaksikan paradoks yang “menampar” wajah pendidikan kita.

Kasus 4×6 atau 6×4 adalah letupan kecil, sebuah contoh betapa guru plus sistem pendidikan kita belum mengembangkan budaya penghargaan pada anak. Mengapa ketika “salah” menjawab, langsung diberi skor salah total? Mengapa tidak ada penghargaan, bahwa anak sudah meluangkan waktu, untuk mau, bersedia mengorbankan waktu istirahat dan bermainnya untuk mengerjakan PR? Mengapa guru tidak mengapresiasi upaya anak yang mau mencari mentor dan bertanya pada kakaknya? Dan, mengapa kita begitu terpaku dengan skor kuantitatif?

Terlalu banyak “mengapa” yang bisa tersaji. Yang pada intinya, semua itu bermuara pada abai-nya kita untuk meng-encourage, menyemangati anak didik untuk do his or her best. Anak-anak hanya dipacu untuk mengerjakan soal, dengan kunci jawaban yang sudah dipegang erat oleh si guru. Anak-anak nyaris tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan potensi masing-masing. Ketika mengkreasikan sesuatu hal, anak-anak hanya menelan pil pahit berupa judgement dari guru, “Karya ini buruk sekali! Kurang rapi!” dan sebagainya. Sungguh menyedihkan.

Yang lebih parah lagi, beberapa SD Negeri justru mencerabut hak anak untuk beribadah. Ini terjadi di sekolah anak saya. Jam masuk pukul 11:30, dan ia baru pulang pukul 16:30. Seharusnya ia sholat dhuhur di masjid dekat sekolah, tapi karena gerbang sekolah dikunci rapat, anak saya tidak pernah sholat dhuhur setiap hari! Wow. Inikah pendidikan yang didambakan oleh Kemendikbud? Menciptakan generasi yang hanya sendiko dawuh, taklid buta pada guru, yang notabene justru tidak bisa meng-encourage anak didiknya?

***

Sepertinya dunia pendidikan kita masih jalan di tempat. Saya menantang kabinet Jokowi, untuk bisa menempatkan orang-orang terbaik di kementerian yang “seksi” ini. Buat apa anggaran tinggi, tapi distribusi buku masih acakadut, dan sistem belajar mengajar juga sami mawon, masih tereksekusi secara top-down dan ortodoks. Judulnya saja, kurikulum 2013, merangsang nalar dan membangun karakter. Tapi, guru-gurunya—yang sudah ikut pelatihan kurikulum—masih bermental old-school, mengandalkan bentakan, mata yang melotot tajam, plus tak bisa menghargai anak didik.

Oh, maafkan curhat saya yang terlampau panjang. Saya tentu tidak rela anak-anak kita terdogma dalam sistem yang buruk, dan kita justru melahirkan Habibi-Habibi yang takut untuk mengembangkan nalar dan keilmuan. Ngomong-ngomong, saya yakin orangtua Habibi tentu ingin putranya kelak akan sebrilian Prof BJ Habibie. Dan, saya haqqul yaqin, Habibie tak akan menjadi profesor hebat, apabila Matematikanya dulu hanya diberi skor 20 oleh sang guru.(*)