OPPO A54, Rekomendasi Handphone 2 Jutaan untuk Kalangan Muda

OPPO A54, Rekomendasi Handphone 2 Jutaan untuk Kalangan Muda

Halo, parents!

Siapa nih, yang masih setia mendampingi anak Belajar dari Rumah alias PJJ?

Wah, yang Namanya PJJ alias Pembelajaran Jarak Jauh tuh sungguh ujian kesabaran buat para ortu, ya. Drama-nya banyaaak banget! Kita berharap anak bisa konsisten belajar dengan baik. Tapii… kalau anak kudu PJJ pakai gadget ortu, artinya “drama kumbara PJJ” kian menjadi-jadi. Padahal, makin ke sini, tugas PJJ bocah seabrek! Apalagi, anak saya umur 15 tahun, duduk di kelas 8 SMP. Well, sudah waktunya nih, beliin gadget yang mumpuni buat anak.

Bismillah, anggap aja ini semacam THR gitu lah 😀 Atau, kasih hadiah karena bocah semangat beribadah di bulan Ramadan yak. Jadi ini hadiah kemenangan di momen kembali ke fitrah. Let’s celebrate small wins in our life, yes?

Setelah saya ulik beragam forum teknologi, sampailah pada suatu keputusan cihuy. Ada handphone yang direkomendasikan banget untuk pelajar/ mahasiswa. Yaitu OPPO A54

Gadget ini merupakan wajah baru lini seri A di tahun 2021 dengan punch hole dan bodinya bersertifikasi IPX4.

Mengapa Saya Tertarik Hadiahkan OPPO A54 untuk Anak Remaja? Berikut Alasannya

Continue reading

Yuk, Jadi Ortu Melek Digital ala Gen Z!

Menjadi orang tua masa kini di era digital memang menjadi tantangan, mengikuti arus perkembangan teknologi dalam mendampingi anak belajar. Tekadang kita sering melupakan, bahwa ‘mendampingi bukankan berarti memerintahkan’. Di kala pandemi, belajar melalui daring menuntut kita mendampingi anak secara ekstra, di sinilah kita diharuskan untuk mau belajar bersama mengenal berbagai aplikasi digital. 

Nah, ternyata anak membutuhkan ortu yang update saat ini yang dapat menjadi teman menjelajahi dunia secara digital, bukan ortu yang kudet (kurang update) yang malah menyalahkan ketika anak pegang smartphone. Coba kenali dulu gaya komunikasi anak kita yang lahir di era digital, seperti apa pola bermain, pola belajar, dan pola bersosialisasi semua tidak luput dari teknologi. Generasi Z berkembang dan bertumbuh dalam lingkungan teknologi,  sebagai orang tua kita memiliki kontribusi dalam memperkenalkan dengan gadget pada anak, nah jangan lupa kita sebagai ortu harus tetap mendapinginya, ingat anak akan bangga sama oru yang update bukan yang kudet.

Continue reading

SeOn, Aplikasi Pembelajaran Online dan Sistem Informasi Sekolah

Apakah Ibu/Bapak wali murid tetap merasa tenang, damai, sentosa dengan pola belajar online seperti sekarang? Atau, sudah mulai menunjukkan gejala metamorfosa jadi  segalak Harimau Sumatra? Wkwkwkw. Yeah, harus diakui, walaupun IKHLAS dengan kondisi yang serba tidak stabil ini, gimanapun juga, kita kan manusia biasa. Tak dapat dipungkiri, STRES ujug-ujug hadir, mampir dan ga tau jalan pulang. Jadinya, kita kerap terjerat rasa “HIIIHHH, ini gimana siiihh, belajar online kok kayak gini?!” trus banyak keluhan lain, semisal kuota internet yang mendadak amblas, lantaran kudu ikut meeting online di aplikasi yang boros kuota banget.

Buat saya, yang paling bikin kezel itu, model pembelajaran yang tidak integrative. Misalnya, guru kasih materi pakai zoom. Trus PR-nya suruh ngumpulin via WhatsApp. Kadang kudu pakai email ataupun google drive. Udah gitu, ulangan kudu pakai aplikasi lain lagi. PALA EMAK PUYENGGG euyy!

Continue reading

Alasan Mendaftar Kuliah ke London School of Public Relations (LSPR)

Alasan Mendaftar Kuliah ke London School of Public Relations (LSPR)

Kamu sedang mencari universitas untuk kuliah? Ingin mendapatkan yang terbaik untuk melanjutkan jenjang pendidikan Kamu? Jika iya, maka melanjutkan kuliah di jurusan yang banyak diinginkan oleh calon mahasiswa. Nah, jika Kamu mencari mana jurusan yang paling menjanjikan, maka kamu bisa mencari sebuah perguruan tinggi yang menyenangkan. Cobalah mencari jurusan yang populer dan menjanjikan. Kamu juga bisa mengikuti pendaftaran kampus LSPR, lho. Perguruan tinggi yang satu ini memiliki banyak keuntungan yang bisa kamu peroleh jika kamu bergabung di jurusan populer yang satu ini. Yuk, simak ulasannya!

Continue reading

Sistem Zonasi Pendaftaran SMP yang Menafikkan Kerja Keras Siswa SD

Zonasi yang Menafikkan Kerja Keras Siswa SD

Begitu membaca Headline di halaman Metropolis Jawa Pos Sabtu (27/4) dan Minggu (28/4) lalu, jantung saya serasa melorot ke dengkul. Penerapan Sistem Zonasi PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tingkat SMPN tanpa nilai UNAS, tanpa sekolah Kawasan. Tak ada seleksi nilai atau adu pintar untuk masuk SMP Negeri tahun ini. Lebih lanjut, artikel ini memaparkan bahwa ada tiga jalur masuk SMPN.

Komposisinya, 90 persen berdasarkan zonasi (alias seberapa dekat jarak rumah murid –yang tercantum di Kartu Keluarga—dengan sekolah) 5 persen jalur prestasi dan 5 persen jalur mutasi (orang tua pindah kerja). Intinya, nilai USBN/UNAS bisa dibilang “Nggak onok regane” karena siswa yang tinggal lebih dekat dengan sekolah punya peluang tinggi untuk masuk. Sebaliknya, setinggi apapun nilai USBN, kalau rumah calon murid terbilang jauh, maka (boleh dibilang) tak ada peluang untuk tembus ke SMPN yang dituju.

View this post on Instagram

Salam Literasi! 😊🖐. #SahabatDikbud , Kemendikbud telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 51 Thn 2018 ttg Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Tidak banyak mengubah peraturan sebelumnya, aturan ini mendorong mendorong pelaksanaan PPDB yang nondiskriminatif, objektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan. PPDB 2019 yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar, maupun Pemerintah Provinsi untuk pendidikan menengah, wajib menggunakan tiga jalur, yakni jalur Zonasi (90%), jalur Prestasi (5%), dan jalur Perpindahan Orang tua/Wali (5%). Kuota paling sedikit 90 persen dalam jalur zonasi juga termasuk kuota bagi peserta didik dari keluarga ekonomi tidak mampu (dibuktikan dengan bukti keikutsertaan Peserta Didik dalam program penanganan keluarga tidak mampu dari Pemerintah/Pemda) dan/atau anak penyandang disabilitas pada sekolah yang menyelenggarakan layanan inklusif. . . Pelaksanaan #PPDB2019 diharapkan dapat mendorong sekolah lebih proaktif mendata calon siswa berdasarkan data sebaran anak usia sekolah. Jarak rumah ke sekolah menjadi pertimbangan utama dalam seleksi, bukan nilai rapor maupun hasil Ujian Nasional. Mendikbud meminta agar Pemerintah Daerah segera menetapkan petunjuk teknis (juknis) PPDB 2019 dengan berpedoman kepada Permendikbud No 51 Thn 2018. Petunjuk teknis harus mengatur kriteria, pembagian zona, dan pendataan siswa di setiap zona. Dan paling lambat diterbitkan satu bulan sebelum PPDB dimulai dan disosialisasikan kepada masyarakat. . . Sekolah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dilarang melakukan pungutan dan/atau sumbangan yang terkait dengan pelaksanaan #PPDB2019 maupun perpindahan peserta didik. Sekolah juga dilarang melakukan pungutan untuk membeli seragam atau buku tertentu yang dikaitkan dengan PPDB. Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota wajib memiliki dan mengumumkan kanal pelaporan untuk menerima laporan masyarakat terkait pelaksanaan PPDB. Masyarakat dapat mengawasi dan melaporkan pelanggaran dalam pelaksanaan PPDB melalui laman http://ult.kemdikbud.go.id. . . #ppdb #ppdb2019 #pendidikanuntuksemua #semuabisasekolah #zonasi

A post shared by Kemdikbud.RI (@kemdikbud.ri) on

Begini. Baru saja, anak saya menunaikan tugas aneka ujian seabrek. Ujian tengah semester, Ujian akhir semester, ujian praktik, ujian tulis, dan puncaknya adalah Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) alias UNAS. Alhamdulillah, sebagai tipikal ortu yang sama sekali tidak ambisius, saya tidak mendaftarkan anak ke Lembaga Bimbingan Belajar. Cukup dampingi tatkala ia belajar di rumah, dan saya arahkan untuk ikut belajar bersama teman-temannya.

Intinya, saya ingin ia menjalani ujian yang segabruk itu dengan happy, embrace the moment. Masalah skor USBN, prinsip yang terlontarkan, “Ibu akan bersyukur dengan nilai berapapun yang kamu dapatkan. Yang penting itu hasil kejujuran, tidak mencontek, dan kamu memang sungguh-sungguh belajar mendalami ilmu yang diajarkan Pak Guru.”

Karena itulah, sedari awal saya mengarahkan anak untuk daftar ke SMP yang dekat rumah saja. Akan tetapi, ortu dan anak memang tertakdirkan punya pandangan dan semangat berbeda. Ia begitu antusias untuk mendaftar ke salah satu SMP terfavorit di kota ini. Bahkan ketika akhir pekan sebelum USBN, ia mengajak kami untuk berkunjung ke SMP itu. Blusukan, ingin tahu seperti apa bangunan/fasilitas yang ada di dalamnya, dus aneka prestasi yang telah ditorehkan para siswa di SMP tersebut.

Ia pun makin excited, sepulang dari sana, beraneka ragam soal try out dan buku panduan USBN ia “lumat”. Berjam-jam ia berjibaku untuk menyelesaikan soal-soal Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia. Tak ada lagi waktu bersantai. Tak tersisa waktu untuk YouTube-an. Hingga suatu ketika, gurunya mengabarkan pada saya, bahwa ia meraih posisi peringkat 4 di Olimpiade plus Try Out USBN se-Kecamatan.

Ketika USBN, entah kenapa tiba-tiba anak saya muntah dan diare. Mungkin kolaborasi antara super excited, nervous, dan ambisinya agar meraih nilai terbaik dan bisa tembus ke SMP yang ia idam-idamkan. Saya terus-menerus rapalkan doa dan bilang, ”Udaaah, santai saja! Kamu nggak masuk SMP itu, juga nggak papa. Kan masih bisa coba SMP yang lain. Nilai berapapun disyukuri saja!”

Di hari kedua UN, dia masih diare. Saya tawarkan untuk izin UN susulan saja. ”Nggak, Bu. Aku harus ikut UN! Doakan semua nilaiku Matematika 10, Bahasa Indonesia 10, IPA 10!” Ia memasang kertas dengan tulisan spidol besar di kamarnya. Skor UN 30, SMPN Kawasan itu untuk aku! Optimisme yang membumbung tinggi. Untuk ukuran cowok ABG, determinasi anak saya terkadang rada mengejutkan.

***

Setelah saya sodorkan artikel tentang kebijakan PPDB, semangatnya jadi layu sebelum berkembang. Nglokro. Belum sempat masuk “medan perang”, ia sudah “kalah”. Walau sempat mengatakan, ”Tapi masih ada kuota 5% untuk jalur prestasi, Bu. Aku bisa daftar lewat jalur ini.”

LIMA PERSEN, Nak. Ayo kita berhitung. Anggap saja, tahun ini, SMP tersebut menerima 200 siswa, maka 5 persennya hanya 10 anak! Sepuluh anak ini kuota yang sangat seuprit. Bayangkan, para pelajar peraih olimpiade dan yang meraup skor UN tinggi, semuanya berebut kursi 5% itu!

Ia pun kian nglokro. “Aku nggak masalah masuk SMP dekat sini, kalau fasilitasnya sama. Tapi kita tahu sendiri kan Bu. Belum ada pemerataan fasilitas di semua sekolah.”

Apalagi, Sidqi juga berharap bisa menyalurkan talentanya di kancah digital, dengan ngeblog dan ngevlog. Tentunya, ia bakal memilih Web Hosting Indonesia terbaik. Sebagai orang tua, tugasku menyemangati dan mendukung ia.

***

Menutup tulisan ini, saya sebagai orang tua berharap kebijakan yang terbaik dan proporsional. Barangkali, bisa dipertimbangkan untuk merevisi komposisi jalur masuk PPDB. Untuk zonasi, 50%, prestasi 45% dan mutasi 5%. Gagasan “tidak ada SMP favorit” barangkali terdengar mulia, dan challenging untuk semua perangkat sekolah. Akan tetapi, menafikkan kerja keras dan semangat pelajar tatkala berjuang demi hasil terbaik ketika USBN, sungguh… membuat anak-anak kami, merasa sakitnya tuh di sini. Bapak/Ibu Kemendikbud dan Diknas semoga bisa berempati dengan hal ini. Ada sejumlah siswa yang mendedikasikan energi, waktu dan seluruh atensinya agar bisa menggapai nilai terbaik. Ada cita-cita yang mereka gantungkan.  Paling tidak, jangan “eksekusi mati” semangat mereka, dengan kebijakan “asal rumah dekat sekolah” semata.  (*)

Membedah Mitos Anak Bilingual dan Multilingual bersama EF – English First

Sebenernya bijak nggak sih, memperkenalkan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya kepada anak sejak usia dini? Apakah kita termasuk golongan ortu ambisius, apabila sudah mengajarkan bahasa Inggris ketika anak masih balita atau duduk di bangku playgroup? Jangan-jangan, anak bakal bosan, frustrasi atau malah trauma dengar kata “belajar bahasa Inggris” gegara ambisi kita sebagai orang tua? Atau, lebih parah lagi… jangan-jangan anak kita bakal mengalami speech delay (terlambat berbicara) ketika kita terlampau dini mengenalkan bahasa Inggris kepada para bocil?

Continue reading

Sekolah Robot, GeekFest dan Cara Surabaya Mengembangkan Industri Kreatif

“Eh, akhir Juni nanti, Khuclukz berangkat ke Amerika lho! Dia nganterin murid-muridnya di Sekolah Robot untuk ikut kompetisi robotic level international… Waaah, dia bakal puasa dan lebaran di California.”

“Waksss… sangaaarr! Khuclukz yang ketemu kita di acara sama Pak Menkominfo itu kan?”

“Iya! Dia itu pendiri sekolah robot. Udah bolak-balik ke luar negeri, nganterin murid-muridnya ke Korea, ke Taiwan, Amerika, Jepang, macem-macem.”

“Warbiyasaak, arek iku pinter tenan, tapi humble banget yak.”

Continue reading

Cetaphil, Bukan Skin Cleanser Biasa

Bulan puasa gini, kadang-kadang bikin kulit jadi kering yak?

Maklum, seharian nggak minum sama sekali, akibatnya jadi dehidrasi deh. Apalagi, kalau cuaca Surabaya lagi hot-hot-nya. Duuuh, combo yang mantap surantap, aselik bikin kulit jadi kerontang.

Lebih gawat lagi, aku bukan orang yang telaten pake printhilan skincare, body lotion, dll gitu. Ya kadang kalau lagi pengin atau dapet gratisan hahahaha aku pake body butter atau body lotion. Tapi enggak terlalu telaten gitu lah.

Sampai kemudian, aku tercerahkan oleh sebuah fakta, bahwa kulit kita itu sangat bisa menua sebelum waktunya! Kondisi sinar matahari penuh UV yang mencrooong, berpadu polusi, ketambahan stres, deadline, konsumsi makanan non-gizi, kurang air minum, adududuuuh… aku kudu tobaaat, euy!

Sebenarnya, sampai detik ini, kulitku tidak mengalami masalah yang gimana-gimana, and I really thank God for that. Tapi, kalau lagi kena alergi ayam broiler, kulitku bisa yang merah-merah gatel minta digarukin gitu deh.

Continue reading

Soal kelas 3 SD yang Bikin Pusing Pala Emak

Mumpung masih anget nih, mau ngedumel sekalian di blog hahahah. Semalam, saya ditodong Sidqi buat ngerjakan PR materi jam-menit-detik di buku Tema untuk kelas 3 SD. Inget ya, kelas 3 SD 🙂

Sebagai anak Teknik Informatika ITS yang desersi kemudian pindah ke jurusan lain saya ngerasa optimis bisa menyelesaikan soal kelas 3 SD dong. Gampiiil banget mah. 

Nomor 1, kelar. 

Nomor 2, beres. 

Nomor 3….. errrr… wait wait… iki maksude opo?

Soal nomor 3

Dayu meminta Udin dan Edo membuatkan kandang kelinci dari kayu. Udin bekerja selama 1 jam 30 menit. Edo bekerja 1 jam 45 menit. Berapa menitkah mereka bekerja bersama-sama? 

Sempat nggeliyeng baca soal nomor 3, lah kok dihantam lagi oleh mbuletisasi yang dipersembahkan oleh soal nomor 5 😦

Soal nomor 5

Jika Udin dan Edo bertugas merawat ayam setiap hari selama 2 jam 30 menit. Edo bekerja setiap hari 1 jam 45 menit. Berapa Jam dan Menit, mereka bersama-sama bekerja selama tiga hari? 

 

Errrrr…. saya mah emak yang anti pencitraan *blahh* terus terang, aku bilang ke Sidqi, “Ibuk bingung. Gak ngerti maksud soal ini apa?” 

Trus, aku ngelempar pertanyaan ke grup WA wali murid kelas 3. Beberapa emak menyambut dengan asumsi masing-masing. Pokoke, ada yang berpendapat “Itu kan tinggal dijumlahin aja…” ada yang pakai logika matematika ala dasar logika pemrograman 

Semakin malam, saya makin clueless. Ngelempar pertanyaan ke temen-temen di FB. Jawaban mereka? Ooooh, sungguh meriaaah, bikin pecaaaah!

FB-1

fb-2

fb-3

Sekali lagiiii, ini soal buat anak kelas 3 SD loh yaaa… KELAS TIGA SD…..! *sigh*

Sidqi udah bete surete banget. Bolak/balik dia menghapus hasil hitung-hitungan di bukunya. 

Aku kirim WA ke gurunya, “Pak, ini saya bingung dengan soal nomor 3 dan 5. Maksudnya gimana?”

Kuatirnya, aku udah ngajarin “logika matematika versi aku” tapi ternyata beda persepsi dengan logika gurunya. 

Gurunya Sidqi jawab lempeng ajah. “Besok saja Bu, langsung saya jelaskan ke anaknya secara langsung. Dikosongi saja.” 

Sidqi udah bobok pulessss, aku masih pusing mikirin PR dia. Karena yeah, soal ini rentan MULTI-INTERPRETASI. Aneh banget, emang. 

Karena mumet plus bonus insomnia, saya nge-tweet ke akun @bukik 

Oleh bapak psikolog yang super inspiring ini, tweet saya di RT ke para profesor matematika! @hgunawan82 dan @iwanpranoto 

Screenshot_2016-02-25-08-29-51Screenshot_2016-02-25-08-31-45Screenshot_2016-02-25-08-32-31Screenshot_2016-02-25-08-32-39

Enough, enooooughhh…!! *jambak jambak rambut** **banting buku yang pada akhirnya tergeletak pasrah di lantai 😛 

 

***

Baca PR Sidqi ini, serasa de javu ke topik 4 x 6 atau 6 x 4 yang dulu rameeee banget di Facebook. Inget kan? Saya pernah nulis terkait hal ini, sampai dimuat di koran Jawa Pos segala.

Intinya, gini lo.

Kepada para pembuat kebijakan kurikulum, 

Kepada penyusun buku tema, 

Kepada segenap insan-insan brilian yang berkecimpung di dunia pendidikan Indonesia. 

Boleh-boleh aja sih, kalau memang mau “menantang talenta” atau… “men-challenge IQ” atau…. “uji coba nalar berpikir” anak-anak Indonesia raya. Silakan! Silakan!

Tapiiii, mbok yaaa.. plis plis plisss… perhatikan rentang usianya juga. Kelas 3 SD, kenapa harus dibombardir dengan pertanyaan seperti ini, di mana orang tua dewasa seperti saya aja masih klepek-klepek kebingungan? Kenapah? Kenapah? Jawab, Bang…! Adek lelah, Bang…!

Seharusnya, para perumus soal bisa menyajikan kalimat yang lebih mudah dicerna. Tidak ambigu. Tidak menimbulkan multi-interpretasi sana-sini. Lebih baik, berikan saja soal yang mengasah logika “sesuai usia”. Mungkin adaaaa anak umur 3 SD yang apa istilahnya…..prodigy? Pokoke jenius luar biasa gitu lah. Tapiii, mayoritas siswa kelas 3 SD juga keliyengan dong, kalo disuguhi soal semacam ini. 

Saya bukannya pengin menghindarkan anak dari tantangan, nope.

Justru Sidqi malah SEMANGAT BANGET belajar di kelas 3 SD ini. Dan dia selalu punya ambisi untuk bisa menyelesaikan soal, dengan rumus paripurna plus hasil yang perfecto! 

Tapi, manakala disodori soal yang agak “ajaib”, bagaimana ortu mediokre seperti diriku ini memberikan encouragement buat sang buah hati? *sigh*

Enggak sabar nunggu Sidqi pulang sekolah. Penasaran banget, gimana cara wali kelasnya memberikan penjelasan dan jawaban atas soal yang super complicated ini. 

In the mean time, plis plis… mohon dengan amat sangat, supaya Pak Anies Baswedan dan seluruh timnya lebih wise lagi dalam menyajikan soal-soal buat bocil. 

Jangan bikin bocil trauma matematika deh. 

Okeh. Sekian curcol hari ini. SEMANGAT PAGI! :))))

DSC04377

Sarapan pagi duluuuu… biar gak salah paham #eh

 

 

 

 

 

 

Energi Seorang Guru

Kali ini, saya mau cerita soal guru a.k.a wali kelasnya Sidqi.

Anakku kan sekarang udah kelas 3 SD. Di salah satu SD Negeri deket rumah. Pas kelas 1 dan 2, wali kelas doi adalah seorang ibu guru SENIOR yang bener-bener saklek bin disiplin banget. Suaranya gahaaar membahana. Hobinya? MARAH-MARAH bin NGOMEL. Aku tahu sendiri, karena suatu ketika, Sidqi kan pernah telat –lupa kenapa– dan aku anterin sampe ke kelasnya. Aku dengar dan lihat, bahwa si ibu guru SENIOR ituh lagi MUNTAB PARAH, dan ngomel-ngomelin muridnya yang BARU SAJA masuk ke dalam kelas.

Oh, well.

Dua tahun berada dalam penderitaan dan “penyiksaan” oleh sang guru, membuat Sidqi merasa, sekolah “is a nightmare”. Tiap hari, doi tuh mengajukan pertanyaan retorik:

“MENGAPA HARUS ADA YANG NAMANYA SEKOLAH, BU? MENGAPA BU? MENGAPA?”

Itu diulang-ulang lagi-lagi-lagiiii dan lagi. Udah kayak kaset rusak, deh. Dan, sebagaimana ortu pada umumnya, jawaban yang aku sampaikan juga STD banget.

“Ya kan, biar pinter….”

“Ya ntar kalo ga sekolah, gimana bisa kerja….”

“Ya kan, temen-temen kamu semuanya sekolah. Masak kamu enggak….”

Sampe jawaban absurd dan malesin banget, semacam:

“Udahlah sekolah aja. Daripada kamu di rumah nonton TV terus, hayoooo…”

*plaaaak*

mewek

Intinya, aku sama sekali enggak encourage doi untuk menikmati dan memberi makna pada “proses belajar” di sekolah, hahahah.

Padahal, isu “MENGAPA HARUS ADA YANG NAMANYA SEKOLAH” bukan semata-mata tentang kebencian Sidqi terhadap institusi bernama sekolah. Tapiiii, lebih kepada KENAPA GURUNYA GALAK AMIR??

Walhasil, aku meng-compare dengan guruku di masa lampau. “Gurunya Ibuk dulu jauuuuh lebih galak, sangar dan kalo menghukum sadis banget loh. Kalo ada yang enggak bisa jawab, kepalanya dijedotin ke tembok!”

Lagi-lagi, jawaban ini sebenernya enggak mencerahkan sama sekali. Hanya untuk ngasih tahu “you are luckier than me” tapi ya sama sekali enggak solutif apalagi memotivasi.

Sidqi terus mengeluh. Tak pernah ia tunjukkan raut wajah ceria saban sekolah. Aku juga gak tau harus gimana, mau kasih masukan ke Kepala Sekolah soal attitude guru, lha kok KEPALA SEKOLAH nya GALAK PISAN! Waduh.

***

Alhamdulillah… segala sesuatu pasti ada akhirnya 🙂 This shall too pass 🙂

Si bu guru SENIOR itu pensiun. Demikian pula dengan bu Kasek. *sujud syukur*

Sekarang, wali kelas Sidqi adalah bapak-bapak. Awalnya, aku yang ngerasa, ealaaah, bapak-bapak, pasti ora perhatian ke murid-murid. Lah kok, ternyata prasangka saya SALAH BESAR. Si bapak2 ini, masih muda (BUJANG!) tapi sangat-sangat-sangat full atensi dengan murid-murid.

Misal. Kaos kaki Sidqi kan udah molor ya (dasar emak pedit, ogah beliin kaos kaki, hehehehe)

Nah, Pak Anas (nama wali kelasnya) bilang gini, “Sidqi, biar enggak molor, kaos kakinya besok dikaretin ya.”

🙂

Trus, karena sekolah kelas 3 masuk jam 11:30, biasanya para murid udah fase kumus-kumus kepanasan. Nah, khususon buat para cowok, pak Anas kasih tips, “Rambutnya dikasih gel, supaya bisa tetep seger dan tegak sampe jam pulang sekolah.”

NICE 🙂

Yang lebih bikin aku ternganga adalaah…. ni bapak amat sangat gampang diajak komunikasi via WHATS APP!

Please bear in mind, ini SD Negeri loh yaaa.. dimana kami para wali murid gretong alias gak ngeluarin duit untuk bayar SPP dllnya. Nah, si bapak guru ini malah beberapa kali kirim2 foto kegiatan murid2 di sekolah 🙂

Trus, kapan hari, Sidqi kan ada sedikit masalah dengan ulangan bahasa Inggris. (O iya, guru bahasa Inggrisnya ibu2, bukan pak Anas)

Sidqi ngerjain soal UTS, salah hanya 3 nomor… Lah kok, skor akhirnya diberi angka 56! Jelas aja, saya empet berat dan menitahkan Sidqi untuk protes ke guru bahasa Inggrisnya.

Apa yang terjadi, sodara-sodara?

Ya tau ndirilaaaah, anakku kan kagak ambisius blassss. Jadinya, tuh kertas ulangan cuman dibawa ke sekolah, tapi selama DUA MINGGU KEMUDIAN, dia sama sekali enggak protes ke gurunya.

Yo wis. Akhirnya, saya main by pass: WADUL alias mengadukan perkara ini ke pak wali kelas. Melalui apa? Whats App 🙂

Kertas ulangannya Sidqi aku foto-fotoin trus, aku jelasin ke Pak Anas. Tau jawaban beliau gimana?

“Iya coba nanti Sidqi saya ajari biar berani ngomong.”

GREAT! AWESOME! AMAZING!

Makasiiii ya Pak guru yang baik hati, mulia dan tidak sombong…

Aduh. Seneng deh, saya… Kalo Sidqi dapet wali kelas semacam Bapak. Udah full atensi dengan murid… Juga bisa kasih “energi” yang membuat murid makin betah dan semangat bersekolah.

Sekarang, Sidqi udah nggak pernah nanya retoris lagi,

“MENGAPA HARUS ADA YANG NAMANYA SEKOLAH, BU? MENGAPA BU? MENGAPA?”

Tapi, saban hari, dia ganti pertanyaannya dengan,

“BU, KAPAN AKU DIBELIIIN GEL KAYAK PAK ANAS?”

🙂

with uti fat