kuliner, lifestyle

Bebek Pak Joss, Sajikan Kuliner Bebek ala Fusion Food

 

Apa kuliner yang sangat identik dengan kota Surabaya?

Yap, mayoritas dari kita langsung menjawab, “Bebek!” Aneka ragam olahan bebek memang kerap membuat diet berantakan. Tak heran banyak yang melabeli Surabaya sebagai “surganya olahan bebek”.

Sigit Hendrawan mencium peluang manis untuk ikut berkecimpung di bisnis kuliner bebek. Hendy—begitu ia biasa dipanggil—menjajal aneka resep berbahan dasar bebek. Dari beragam eksperimen yang ia lakoni, Hendy memutuskan untuk berjualan bebek telor asin dan bebek kremes. Ada juga produk ayam dengan bumbu serupa.

mr hendy

Brand JOSS ia benamkan untuk bebek olahannya. “JOSS ini bisa diartikan ‘Jadilah Orang Sukses Selalu’. Saya anggap brand sebagai doa. Intinya sebuah doa agar kita bisa sukses dunia akherat,” ucap Hendy ketika ditemui di outlet terbarunya, di kawasan Rungkut Surabaya.  

Bebek JOSS ini dijajakan melalui gerobak dorong. Agar punya diferensiasi, gerobak ini dilengkapi jingle. Yak, mirip strategi Sari Roti, yang dikenal konsumen melalui jingle-nya. ”Kalau dengar jingle bebek JOSS, calon pembeli sudah paham, waaah… ini nih bebek telor asin yang saya tunggu,” lanjut Hendy.

Di tahun 2011, Hendy membuat sebuah gebrakan. Ketika pertumbuhan media sosial demikian massif, Hendy memanfaatkannya untuk berdagang. ”Jualan lewat twitter, promo lewat instagram, semua kami lakukan. Bebek JOSS sudah mengirimkan dagangan ke 35 kota se Indonesia. Aktif di sosmed menjadi senjata para pengusaha UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) untuk bertemu dengan potential customer,” ungkap ayah berputra dua ini.

Olahan bebek khas Hendy bisa diterima banyak khalayak. Lantaran diperjualbelikan secara online, menu bebek ini terbang naik pesawat, hingga ke Batam, NTT, NTB. Sejumlah selebriti juga ikut meng-endorse bebek Pak Joss.

”Saya ingin bebek ini bisa dirasakan oleh banyak kalangan. Olla Ramlan, yang artis tenar itu juga rutin beli bebek Pak Joss. Beberapa selebtwit atau aktivis media sosial yang ber-follower banyak turut mencicipi dan memberikan testimoni seputar produk ini.”

Setiap ada seminar ataupun talk show enterpreneurship, Hendy selalu menyempatkan diri untuk hadir. ”Saya bertemu banyak orang yang berkecimpung di dunia usaha, intens berdiskusi dengan mereka, intinya saya ingin produk ini dicoba oleh banyak orang. Hingga saya bertemu dengan Bapak Subiakto Priosoedarsono, pakar branding yang gemar memberikan coaching bagi para pengusaha UMKM. Alhamdulillah, saran dari beliau saya eksekusi. Bismillah, saya mendirikan restoran Bebek Pak Joss di beberapa kota.”

Bebek Naik Kelas Menjadi Fusion Food

Kalau selama ini, bebek identik dengan warung PKL, maka Hendy menawarkan culinary experience yang berbeda. Bebek diolah dengan citarasa yang menggoyang lidah, plus presentasi yang aduhai. Ingin merasakan makan bebek pakai sumpit? Silakan cicipi menu Bebek Oven Mozarella, yang disuguhkan Hendy di restorannya.

bebek oven

“Di restoran ini, saya mengkreasikan menu-menu baru. Bebek oven mozarella ini idenya karena melihat iklan salah satu pizza yang kejunya molor dan menggugah selera. Setelah diujicobakan, banyak yang suka, dan Alhamdulillah, menu ini jadi salah satu andalan di resto kami,” lanjut Hendy.

Market kuliner memang bergeser. Kuliner bukan semata-mata persoalan “Yang penting perut kenyang.” Tapi, mereka yang berjiwa muda butuh pengalaman menikmati “sesuatu yang baru” kemudian membagikan “experience” itu via beragam media sosial. Ini yang disadari penuh oleh Hendy.

 

Selain itu, Hendy berinvestasi dengan beragam foto kuliner yang menggugah selera. “Harus ada visualisasi yang menggiring konsumen untuk tertarik mencoba menu yang kami tawarkan. Investasi ini memang tidak murah, tapi sebagai pengusaha kuliner, kita harus yakin bahwa foto-foto yang terpampang di dinding resto ataupun di buku menu bisa menjadi ‘senjata’ kita dalam memikat konsumen.”

Untuk promosi, Hendy masih mengandalkan kekuatan media sosial (medsos). Ia juga menyarankan para pengusaha UMKM agar istiqomah dalam bermain di medsos.  

“Setiap bulan, kita bisa langganan paket data 8 GB. Harus istiqomah setiap mem-posting menu ataupun promo yang ada di resto. Jangan berpikir instan, baru posting 1-2 kali saja sudah ingin dagangannya laris. Jangan seperti itu. Medsos itu penting untuk pertumbuhan usaha kita. Harus ada interaksi yang baik dengan follower,” lanjutnya.

Di tahun 2016 ini, Hendy siap melebarkan sayap, dengan membuka resto di kawasan Surabaya Barat, Sidoarjo, Gresik, dan Jakarta.

“Saya siap bekerjasama dengan pola kemitraan. Tapi, untuk bisa menjadi mitra, saya menerapkan sejumlah syarat dan ketentuan. Yang paling penting, harus menyamakan visi dengan saya. Mitra/investor juga harus bersedia ikuttraining. Banyak bisnis berbasis kemitraan yang gagal, lantaran sikap investor yang punya ekspektasi terlalu tinggi, tapi tidak mau diajak kerja keras bersama-sama.”

Hendy pun terus melaju. Tidak hanya mendulang sukses sendirian, ia juga gemar berbagi ilmu dan menularkan semangat berwirausaha kepada para pengusaha UMKM lainnya. ”Kami bergabung dalam komunitas UMKM Bergerak, yang bisa diakses di Facebook maupun Instagram. Di forum ini, kami saling menyemangati dan berbagi tips agar usaha kita bisa semakin berkah dan berjalan dengan standar usaha yang baik dan benar,” ungkap Hendy.

Tantangan bagi Pelaku Bisnis UMKM

Tak bisa dipungkiri, faktor ‘modal’ kerap menjadi batu sandungan bagi para pelaku UMKM. Ide brilian, biasanya bakal ‘jalan di tempat’ apabila tak ada suntikan modal yang mumpuni. 

Padahal, keberadaan bisnis kuliner bisa jadi “nyawa” sebuah daerah kan? Ya, contohnya, Surabaya yang memang lekat dengan aneka destinasi wisata kuliner. Enggak kebayang deh, kalau gegara modal yang seiprit, para pengusaha UMKM itu terpaksa gulung tikar, hiks.. hiks.. 

Karena itu,  saya appreciate dengan program  “Menabung untuk Memberdayakan” yang diusung oleh Bank BTPN. 

Ada simulasi menarik yang bisa kita isi. Tujuannya? Kita bisa tahu , bahwa dengan rupiah tertentu yang kita tabungkan di Bank BTPN, ternyata punya manfaat signifikan bagi “nafas” para pelaku bisnis UMKM

Yuk kita coba isi simulasinya 🙂 

Yang pertama, kita diminta memasukkan nominal rupiah yang bakal kita setorkan setiap bulan. Lalu, kita pilih deh, selama berapa tahun periode dana itu kita endapkan di Bank BTPN.

Saya isi dengan angka yang ‘moderat’ aja lah, 1 juta rupiah. Masa penyimpanan, saya isi  6,5 tahun. Dan, voilaaaaa…. ini hasilnya!

Simulasi-1

Simulasi-2

Dana  yang tersimpan akan tumbuh senilai 92.565.461 rupiah!

Widiiiih, keren banget yak? Lebih keren lagi, karena dengan berpartisipasi sebagai nasabah di BTPN,  saya juga ikut ambil bagian dalam memberdayakan jutaan mass market di Indonesia, untuk meraih tingkat kualitas hidup yang lebih baik. 

Waaah kalo gini sih, siapa yang nolak? Dana tabungan tumbuh secara optimal, bersama BTPN… Plus, bisa kasih multiplier effect ke  kalangan pelaku UMKM. Sipp, sippp… 

Dana  yang kita tabung inilah  yang nantinya berperan besar dalam meningkatkan kapasitas pelaku UMKM, melalui pinjaman dana dan berbagai pelatihan kewirausahaan. 

Yuk aaah, kita ke BTPN sekarang juga!(*)

btpn

 

lifestyle

Teruslah Berkiprah, wahai Pasar Syariah!

Horraaaayyy…! Postingan tema #LBI2016 #LigaBloggerIndonesia kali ini membahas tentang Pasar Tradisional.  Hip hip horraaaayyy…!!

Saya paling suka kalau diajak blusukan ke pasar tradisional ala pakde Jokowi. Di mata saya, pasar itu kan semacam miniatur rakyat Indonesia. Jadi, bisa  merepresentasikan kondisi rakyat yang sesungguhnya.

Kita bisa ngobrol—dengan sangat-sangat humanis—bersama para pedagangnya. Kita juga bisa bercengkrama sejenak dengan tukang parkir. Atau, berbagi informasi dengan pembeli yang lain… Bisa dapet “hosip-hosip” hahahahaha, ataupun bisa membeli plus menikmati jajan pasar yang mak nyus dengan harga murah meriaaaah, pokoke mantaapp!

Walaupun tempat tinggal saya “dikepung” puluhan minimarket, hipermarket, toserba dan lokasi shopping modern lainnya, saya tak bisa move on dari pasar tradisional. Aura kehangatan, sapaan yang genuine, tidak dibuat-buat, interaksi yang ngangenin, itulah yang saya rindukan selalu dari pasar tradisional.

Persis seperti mas Riri Riza—sutradara handal itu—yang kerap blusukan di pasar demi mendapatkan plus mendalami karakter tertentu. Ya jelas lah, pasar kan kumpulan karakter manusia.

Mau cari pedagang bakhil? Ada! Pembeli yang nggak sopan karena nawarnya nggak kira-kira? Banyak! Tapi, percayalah, kita akan selalu merindukan semua “drama” yang terjadi di pasar tradisional!

Saya berusaha meluangkan waktu untuk silaturahim ke berbagai pasar di Surabaya. Meski terkadang kudu berjalan miring ala mister crab di kartun Spongebob (maklum badan saya kan “luas”) saya tetap “fanatik” dengan pasar tradisional. Salah satu yang saya jadikan jujugan adalah Pasar Syariah Az-Zaitun, di kawasan Kutisari Selatan Surabaya.

Pasar Syariah? Serius??

Yap, serius banget. Pasar ini memang mengusung semangat syariah dalam perjalanan bisnisnya. Adalah seorang Prof Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, SE, pakar sekaligus guru besar Ekonomi Syariah Unair (Univ. Airlangga) yang mengusung ide pendirian pasar syariah. Beliau ingin mengaplikasikan prinsip syariah dalam sebuah pasar. Maklum saja, selama ini, tidak sedikit masyarakat yang skeptis dengan konsep syariah. Ada yang menuding bahwa syariah hanya sekedar “label”. Wuitss, ini nih, yang membuat Prof Suroso terpanggil untuk melahirkan gebrakan pasar syariah.

prof suroso
Prof Suroso dan cucunya  saya, @nurulrahma 🙂

Prof Suroso terinspirasi sebuah riwayat, bahwa Rasulullah pernah mengumpulkan sejumlah sahabat di sebuah tanah lapang yang kosong untuk membahas pendirian pasar. Pada waktu itu, Rasulullah merasa prihatin lantaran menyaksikan aneka praktik ribawi, tipu muslihat dan sebagainya yang berlangsung di pasar. Dengan amar ma’ruf nahi mungkar (menyebarkan kebaikan, menolak kemungkaran), Rasul mengajak sahabat untuk mendirikan pasar yang menegakkan syariat Islam. Pasar ini harus bebas riba, bebas kecurangan timbangan, bebas tipu muslihat sekaligus hanya menjual barang-barang yang halal sesuai syariat. Dari situlah, Prof Suroso terinspirasi untuk meneladani jejak Rasul.

Ada lahan seluas 800 meter persegi milik Prof Suroso yang berada di kawasan Kutisari Selatan. Lahan inilah yang akan beliau “hidupkan” sebagai pasar syariah. Beliau menawari sejumlah pedagang (yang kesulitan cari lahan) untuk membuka lapak, dengan masing-masing kios berukuran 2×2 meter. Pasar ini diresmikan dan mulai beroperasi sejak tahun 2010. Harga sewanya amat terjangkau, 5000 rupiah per hari. Karena sewa kios amat murah, tak heran, pedagang juga bisa memberlakukan harga yang amat bersahabat. Saya sempat berbincang dengan Ibu Laila, salah satu pedagang sayur di sana. ”Alhamdulillah, saya bersyukur bisa berjualan di sini, karena suasananya enak,” ucap beliau.

Yang jelas, para pedagang di Pasar ini harus memegang teguh 7 konsep khas pasar syariah Az-Zaitun Pertama, barang yang diperdagangkan halal. Kedua, alat timbang dan alat hitung tepat. Ketiga, kebersihan yang terjaga. Keempat, kejujuran. Kelima, persaudaraan  antar pedagang. Keenam, larangan merokok di dalam pasar. Ketujuh, harga yang murah meriah.  

Apabila dijalankan dengan benar, maka konsep pasar syariah bakal menguntungkan semua stakeholder di pasar. Yap, ketujuh konsep ini berpihak pada rakyat, para konsumen, pedagang (pelaku usaha) sekaligus investor atau pemilik lahan. Ada 120 kios yang beroperasi, dan ini adalah pasar syariah pertama di Indonesia.

Eh, karena namanya syariah, apakah semua stakeholder harus beragama Islam? Oh, tentu tidak. Konsep ekonomi syariah ini bermanfaat untuk seluruh penghuni semesta. Jadi, beberapa pedagang ada yang beragama Nasrani, Hindu dan sebagainya. Pembelinya juga begitu. Betul-betul pasar yang memberi kemanfaatan optimal untuk semua.

Prof Suroso menuturkan, bahwa apa yang beliau lakukan tulus untuk menghidupkan ekonomi kerakyatan. Selain menghidupkan pasar, beliau juga mendirikan At Tiin Islamic Foundation. Yayasan ini yang memberikan fasilitas pendanaan, berupa bantuan pinjaman bagi para pedagang tanpa bunga. Tentu, ekonomi dan prinsip syariah berlaku di konsep pinjaman modal perdagangan ini. Tidak ada persaingan yang sampai “berdarah-darah” antara pedagang, karena yang ditonjolkan adalah prinsip saling menolong, sesuai perintah syariat Islam.

Wah, wah, wah… Keren sekali ya, pasar syariah ini. Barangkali, pengelola pasar lain bisa melakukan studi banding dengan Prof Suroso, di Kampus B Fakultas Ekonomi Syariah Universitas Airlangga Surabaya.

Hidup Pasar Rakyat!

Hidup Pasar Syariah!

Diikutsertakan dalam postingan tema#LigaBloggerIndonesia2016 #LBI2016

(*)

 

kuliner, lifestyle, parenting, Review, traveling

Rasa Lembang yang Terhampar di Food Junction Grand Pakuwon Surabaya

Follow me on twitter: @nurulrahma

Holaholaholaaa…!

Arek-arek Surabaya dan Gresik sekarang punya alternatif kongkow yang sip markosip. Namanya Food Junction Grand Pakuwon. Ini adalah destinasi kuliner plus nongkrong yang beeughh kerennya gak kira-kira deh. Ada danau buatan plus seabrek permainan yang bisa kita lakoni bareng keluarga, teman, gebetan maupun keluarganya gebetan #eh. Iya loooh, buat mas-mas yang mau ta’aruf dan pengin PDKT silakan cusss ke mari. Bisa bahas masa depan sambil nangkring di pinggir lagoon pond. Biar syar’i, ya kudu ditemeni ama murobbi dan kedua keluarga dong ya. Cuacanya asiiiik dan sangat mendukung banget.

 

Continue reading “Rasa Lembang yang Terhampar di Food Junction Grand Pakuwon Surabaya”

kuliner, Uncategorized

Menikmati Rawon dan Pempek dalam Satu Resto, Emang Bisa?

Menikmati Rawon dan Pempek dalam Satu Resto, Emang Bisa?

Ya bisa laaaah. Tepatnya, kalo kita mampir ke Resto Pempek Ny Farina. Outlet pusatnya ada di Raya Nginden 86 Surabaya. Ada banyak cabang di berbagai mall . Tapi, tau sendiri dong ya, masuk mall pas malem Minggu tuh HOROR banget. Syusyaaaah cari parkiran, sist! Udah  gitu, di dalam mall bakal uyel-uyelan ama segambreng manusia. Widih, niat mau senang-senang, jadi malesin banget deh. 

Yo wis, toh kita cuma mau cari sesuatu yang bisa menjinakkan cacing-cacing di perut . Yuk maree kita let’s go, cuss ke resto Pempek Ny Farina yang barusan buka cabang di Rungkut. Asiiiik,  deket rumah banget nih! Horraaaayy!

Bangunan resto ini berdempetan dengan Rawon Wongso. Widiiih, kok ya pinter banget yak, menyejajarkan dua culinary yang  sekilas bedaaaaa banget. Yang satu rawon khas Jawa, yang satu pempek (dan aneka turunannya) yang khas wong kito Palembang. 

Aku belum sempat nanya-nanya sih. Soale, pas ke sana Sabtu malam, dan lumayan rame. Gak enak deh, kalo gangguin mbak2 pelayannya. 

Eniwei, mereka sigap banget ngeladenin para customer. Begitu datang, aku langsung masuk ke area resto Rawon Wongso.

“Silakan Ibu… Mau pesan apa?”

“Anakku mau pesen rawon, mbak… Tapi, aku pengin pempek…”

“Oh, silakan Ibu ke resto sebelah saja. Di Pempek Nyonya Farina karena ruangannya lebih luas.”

“Baiklah, mbak.”

#MbaknyaTaatAzaz

Aku order pempek palembang kapal selam. Harganya? Cukup 12 ribu aja. Itu pempeknya lumayan gede loh. Kenyang  banget. 

Sementara Sidqi kan doi emang penggemar rawon tuh. Seporsi dibanderol 22 ribu. Langsung tandas deh, satu piring. 

Kalo bapaknya Sidqi pilih tekwan. Yeah, duluuuu, pas dolan ke Palembang, aku sempat makan tekwan  di salah satu resto. Kok, tekwan bau amis gini yak?  Eh, ternyata, bisa dinetralisir pake jeruk nipis. Jadinya, si kuah tekwan berasa suegeerrrr!

IMG_1671
Tekwan penggugah selera
IMG_1669
Pempek kesayangan

Tekwannya juga ekonomis banget. 15 ribu sajah, buibuuuu…!  Semakin endeus, setelah menikmati SEGELAS es degan. Slrrrppp, segerrr  🙂

 

IMG_1672

Sidqi kenyaaaaang banget. Abis makan, doi malah tidur pulas di bangku resto hahahah #AnaknyaSiapaSihIni 

Jadi pengin ke sini lagi deh. Gapapa, sekarang makan pempek di Surabaya ajah.  InsyaAllah, kalo ada rezeki, kita cusss makan di lokasi asalnya, wokeh? Wokeh ? Hihihiiii. 

islam, lifestyle, Uncategorized

Sepercik Syukur Sang Tuna Netra

“Alhamdulillah Allah menjaga pandangan saya dengan mengambil penglihatan ini. Mungkin saya susah dalam berjalan, tetapi saya bersyukur bisa diberi kemudahan menghafalkan Al-Quran. Semoga hanya mata ini yang buta, tapi tidak dengan hati saya yang akan membuat saya tersesat dunia akhirat.”  (Kang Dayat, Tunanetra Surabaya hafal 30 juz Al-Quran).

Hak dessshhhhh!!

Pegimane sodara-sodara sekalian? Rasanya perih perih gimana gitu ya kaaan? Kalimat Kang Dayat ini sederhana tapi nampoool banget. Takdir Tuhan bahwa ia harus terlahir sebagai tuna netra, tak membuatnya terperangkap dalam ngelangut tiada akhir. Kang Dayat malah mensyukuri itu semua… toh bersyukur atau kufur, takdir itu akan tetap terjadi. Tak bisa ditolak, tak bisa ditawar. Jadi yaaaa… ketimbang bersimbah keluh, lebih baik see from the positive sides, lah ya.

Hari-hari Kang Dayat diisi dengan kegiatan ala marbot Masjid. Beliau menjaga dan menyemarakkan kehidupan masjid di sebuah destinasi dakwah. Semakin bersyukur saja rasanya, manakala suatu hari, Kang Dayat  mendapat kesempatan untuk menerima waqaf Al-Qur’an Braille digital.

Ya. Sekarang, Qur’an braille sudah ada versi digitalnya. Ada PULPEN  elektrik yang  bisa diarahkan ke barisan huruf braille yang terpampang di Qur’an. Lalu, muncullah suara murottal (bacaan Al-Qur’an)  yang  bisa jadi panduan para tuna netra. 

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan, para tuna netra ini dapat kesempatan untuk ngaji bareng di Masjid Manarul Ilmi ITS Surabaya. Ada syeikh Ali Jaber, yang juga memberikan penyegar ruhani untuk mereka. Lantunan ayat demi ayat, mereka simak dengan seksama. Barangkali, organ netra mereka mengalami keterbatasan. Tapi, untuk kepekaan jiwa, pendengaran, dan hal-hal lainnya, para tuna netra ini punya kapabilitas di atas rata-rata. 

Teknologi memang terus dikembangkan sebagai perwujudan empati kepada kaum penyandang disabilitas. Karena, setiap orang pasti punya “dahaga” yang sama. Sebuah “rindu” yang, seperti dendam, juga menuntut untuk dibalas  tuntas *ciyeeeh* Rindu terhadap ayat-ayat Tuhannya. Rindu dan dahaga akan petunjuk yang bisa menemani hari demi hari, menjalani roda kehidupan

 

Eh, bicara tentang terminologi ‘disabilitas’ ada opini lain dari ibu Titik Winarti nih. Beliau adalah owner Tiara Handycraft, yang juga memberdayakan kaum berkebutuhan khusus, sebagai karyawan di UMKM yang ia kelola.

Emang, Bu Titik bilang gimana?

Bu Titik lebih suka menyebut mereka sebagai kaum difabel. Difabel artinya  different ability. Mereka mampu kok, punya ability alias kemampuan… Tapi “different”, alias agak sedikit berbeda dengan kita. 

Iya juga sik. Kaum difabel malah punya skill menjahit, crafting, dll. Lah, eikeh aja yang bodinya sehat-wal-afiat, malah kagak bisa njahit, bikin pola, endebrai endebrai itu. Dan yang paling makjleeeb adalah, sepertinya organ berupa mata ini lebih buanyaaaak saya gunakan buat hal-hal yang duniawi banget, kan? Sehari semalam 24 jam,  berapa menit yang dialokasikan buat ngaji? Mendalami tafsir kitab suci? Trus, trus… itu hafalan Qur’annya gimana kabar yak? *deziiighhh*

Ya, ya, ya. Intinya, syukur saya masih seuprit banget. Kudu di-upgrade, harus ditambah lagi porsi dan kualitas syukur. Se-enggak asiknya kenyataan yang terpampang di depan mata, masih buanyaaaaak hal-hal baik yang mestinya saya syukuri sepenuh hati.  Sebuah  realita hidup itu kan kondisi yang netral banget. Semua berpulang kepada kita kok, mau mengambil  sikap seperti Kang Dayat, atau justru mengumbar keluh di semua penjuru arah mata angin. Hiks. Oke, mari kita tutup postingan siang ini, dengan kutipan  yang  (semoga) bisa mengenyahkan segala gulana. 

When One door of happiness closes, another opens. 

But often we look so long at the closed door, that we can’t see the one that has opened for us. 

(Helen Keller)

**Disertakan dalam Liga Blogger Indonesia pekan ke-2 dengan tema  “Perkembangan Teknologi untuk (penyandang) Disabilitas **

 

kuliner, lifestyle

Coffee Toffee

Sudah makan siang,  teman-teman?

Atau, lagi browsing-browsing buat cari destinasi nongkrong malem Minggu ntar? #eaaa

Nongkrong di coffee shop sepertinya opsi yang menarik yah.

Kalo boleh kasih saran nih, pilih coffee shop  aseli  Indonesia Raya ajah.

Bukaaaaaan… bukan mau nakut-nakuti soal insiden #KamiTidakTakut tempo hari kok.

Tapi, saran ini  biar kita bisa lebih mendukung produk-produk Indonesia ajah. #SupportIndonesiaLocalProduct gitu deh.

Toh, sekarang banyak coffee shop asli Indonesia yang juga kece-kece punya kan?

Misalnya, ke Coffee Toffee.

Saya sih tinggal nggelundung alias ngesot   naik motor weeerrr, tiga menit sampe deh, ke cafe yang ada di Rungkut Madya ini. Ya iyalaaah, cuman sepelemparan  batu dari kantor.  Tapi, tapi, tapiiii…. kudu teteup pake HELM SEPEDA MOTOR loh yaaa.  Biar engga ditilang pak polisi ganteng #eaaaa lagi 🙂

Sebagaimana kafe lainnya,  nih coffee shop penuh dengan dinding yang sooo… instagrammable. Tapi, tapi, tapiii… karena  mayoritas yang dateng adalah manusia-manusia pekerja yang serius dengan laptopnya, yaaa… rada-rada malu juga sik, buat poto2 di depan tembok #jyaaaaaah #TumbenIngetUmur 😛

Lalu, lalu, gimana dengan menunya?

Karena lagi diet baik diet secara harfiah, maupun diet dompet  saya cuma pesen kopi ajah. Judulnya, Iced cappuccino cream brullee seharga 26.500 (plus tax 10%).

 Kopinya lumayan  light. Toppingnya, ada gula karamel yang  bisa digethok ((DIGETHOK)) pake  sedotan.

Lumayan seger.  Tapi kurang manis, sih, IMHO.  Jadi kita minta sirup gula  tambahan.

Ternyata, temen saya, Nui juga ngerasa kopinya kurang manis. Doi pesen Iced Black Coffee Bali Batukaru. Tadinya, Nui  pengin nyeruput es kopi Americano. Ternyata, di buku menu kagak ada… Trus, chit-chat ama baristanya yang sayangnya enggak sekece Chicco Jerikho dan disarankan  pesen kopi seharga 19 ribu (plus tax 10%).

Nui sudah punya ekspektasi dengan kopi ala JCo sih. Jadi, doi bilang kopi Bali Batukaru kurang memenuhi ekspektasinya, tapi oh well… lumayanlah yaaa… dengan harga 19K udah dapet segelas gede kopi.

Kalo makannya?

Nui doang yang order Spaghetti Bolognese. Menurut testimoni doi, taste-nya 11-12 sama La Fonte 🙂 Tapi, La Fonte enaaak kooook #ngebelainCoffeeToffee. Harganya nih, yang kata Nui rada over-priced –> 33K (plus tax 10%)

Jadi, jadi… intinya gimana nih?

Kalo pengin kongkow di lokasi coffee shop yang nggak terlalu banyak dedek-dedek gemeshhh, maka coffee shop ini layak dipilih. Buat gawe enak banget, emang. Ada lokasi ber-AC. Ada juga yang smoking-area.

Buat  family yang ngajak  anak-anak kecil,   gak perlu kuatir dengan  asap rokok dll lah ya. Harganya juga yaaaa… masih kejangkau kantong 🙂

Intinya, pilihlah dan cintailah ploduk ploduk Indonesia

 

 

blogging, Uncategorized

Blogger Masa Minder?

Ini dibacanya dengan nada “Tetangga Masa Gitu?” #Eaaa.

Sore-sore gini, saya mau ngobrol enteng-enteng ajah. Masih berkutat seputar dunia blogger yang kian sip-markosip. Banyaaaak terminologi bertebaran di sana-sini. Yang paling sering dijumpai, tentu saja #BerkahNgeblog.  Tempo hari, sempat trending banget tuh, istilah FoMO *ooopss* yang konon kabarnya sih, hits postingan tentang FoMO itu menembus traffic 15 ribu lebiihh! Uwowo banget kan?

Ngobrolin soal #BerkahNgeblog pastinya menghadirkan banyak reaksi. Ada yang ikut senang, ada yang pura-pura ikut senang *ahaiii*, bahkan ada yang resah gelisah, gundah gulana… eits, ada juga yang minder.

Minder?
Yups. Ketika melihat beragam ‘achievement‘ prestasi, pencapaian dan sebagainya, ternyata ada loh, yang bereaksi minder. Ngerasa nelangsa, tak bisa menggapai gemintang ala seleblogger yang seolah ada di kolong langit sana.

Well, to be honest, saya juga pernah berada di fase yang sama 🙂  Saya pernah didera minder, karena…..

……SELALU MEMBANDING-BANDINGKAN dengan blogger lain yang ngeheits tiada terkira.

Kenapa sih, tulisan blogger anu cethaaar banget? Dia bisa nulis dengan gaya yang nyantaaai, tapi ‘mak dessshhh’ gitu loh?

Kenapa sih, blogger ini kok kayaknya rejekinya adaaa terus. Diundang piknik gretongan ke sono… Makan-makan di resto mewah… Trus bisa nginep di hotel berbintang! Iiih, aku kapan yaaa?

Membanding-bandingkan DIRI SENDIRI dengan ORANG LAIN memang rentan bikin STRES atau DEPRESI, kawan.

Santai, saja. You Only Live Once! Do what you wanna do… Love what you do 🙂

Well, mungkin ini klise, tapi yakinlah bahwa ya emang momentum rezeki untuk dia telah hadir. Sementara kita, masih harus menabung energi positif, agar kelak cair dalam bentuk aneka rezeki, either dari kancah blogging, maupun dari sumber lain. 

Ngebloglah dengan sukacita. Dengan hal-hal  yang memang something we love

Apapun keputusan kita,  apakah mau jadi blogger lifestyle, travel blogger, beauty blogger, endebrai, endebrai… PRINSIP AWAL yang kudu dipegang teguh adalah: LOVE YOUR CHOICE!  Selalu  benamkan mantra I love my own blog… I love the way I blog…. Semacam itu. 

Siapapun tentu tidak suka dibanding-bandingkan dengan ORANG LAIN. Anak kita aja deh, pasti eneg kan, kalo sang emak bilang, “Iiih, kamu kok nggak  jago matematika kayak temen kamu itu sih? Kamu mestinya bisa pinter dong! Kan mama udah daftarin  kamu  les matematika?

DIH. Emak kayak gini nih, yang jadi sumber  acakadutnya percaya diri sang buah hati. 

Lalu, lalu, harusnya  gimana dong? 

BANDINGKAN DIRI KITA MASA KINI DENGAN DIRI KITA MASA LALU. 

Yap. Sebagaimana dalam hidup, kita kan pengin HARI INI  lebih baik dari KEMARIN. Begitu pula dalam kancah blogging. Gimana caranya, kita nge-boost mood, wawasan, pergaulan dll-nya LEBIH BAIK daripada tahun 2015 misalnya. 

Ya tapi aku kan blogger ala-ala… enggak penting… laksana remah-remah apalah apa deh gitu… 

NAH. NAH. INI DIA. 

Kalimat ini bersayap yak. Boleh jadi, si blogger beneran minder. Atau, sebenernya dia sedang merendahkan diri meninggikan mutu, hihihi.  *sungkem aaah*

Oke, saya ambil opsi pertama aja. Si blogger betul-betul minder. Dan butuh injeksi percaya diri. Maka, wahai kawan, perlu kita camkan bersama-sama, bahwa sama seperti hal-hal duniawi lainnya, dalam kancah blogging, kita hanya perlu DO OUR BEST, LET GOD DO THE REST 🙂

Tak perlu memasung diri dalam ketakutan/ khawatir berlebihan. Takut mati gaya, takut enggak dianggep, dan seterusnya. Intinya, perluas pergaulan dan jejaring itu amatlah penting.

Kalopun ternyata kita memang enggak bisa ke mana-mana (karena harus ngerawat anak, misalnya) ya sudah, kita masih tetep bisa “bergaul” lewat dunia maya. 

HARE GENE…. bahkan mayoritas job review bisa didelegasikan secara online, TANPA perlu bertatap muka sama sekali!

Silakan say hi, beramah-tamah  dengan blogger yang kita anggap guru. Mereka yang lebih senior (dan ber-akhlaqul karimah alias punya attitude yang baik), tentu  tak akan pelit ilmu. Mereka dengan senang hati sharing kebaikan, menambah ladang pahala dengan berbagi wawasan  dan saran seputar blogging.

Tapi ingat, NGGAK PERLU MINDER. Blogger… Seleblog… apapun sebutannya itu, mereka juga manusia biasa kan? Dalam beberapa hal, mungkin, mereka dapat kesempatan lebih  dulu ketimbang kita.  

But heii,  bukankah bumi Allah ini sedemikian luasnya? Terhampar beragam peluang di jagat raya. Tuhan hanya perintahkan kita untuk usaha, doa dan tawakkal. 

BLOGGER TAK BOLEH MINDER. 

Kita adalah manusia-manusia terpilih, yang diperjalankan Tuhan untuk berbagi konten positif. Tidak semua orang berminat, mau ataupun sanggup menjadi blogger. Hanya orang-orang tertentu, yang mau meluangkan  waktu,  membiarkan jemari mereka berdansa dengan aneka ragam kata. Diksi-diksi yang berpadu  dengan  logika serta aneka bentuk wacana, bisa mengemuka dalam sebuah postingan yang berseliweran di dunia maya. 

BLOGGER  ADALAH MEREKA YANG MENABUR BENIH DI LADANG AMAL JARIYAH

Selama menggoreskan konten positif, “se-sepele” apapun itu, “se-remeh” apapun itu , niscaya  kita sudah berkiprah dalam menghadirkan jejak berharga. Berikan semangat! Tunjukkan bahwa menulis adalah sebuah upaya  PENGEMBANGAN DIRI   agar kita bisa menapaki  hari menjadi a better person. 

CIMG4447

Ingat-ingatlah selalu, apa yang pernah diutarakan Bunda Helvy Tiana Rosa: 

“Buku (apa) yang kau tulis adalah semacam jejak yang terus menyala di dunia, dan bisa menjadi cahaya akhiratmu.”

CAHAYA AKHERAT!

It is more than just having fun with blog … Eksis melalui blog… Ini LEBIH  LEBIH LEBIH dari ITU SEMUA! 

So? 

Apalagi yang membuat engkau gundah? 

Sudah saatnya, BLOGGER TAK BOLEH MINDER.  Jangan beri kesempatan kepada siapapun untuk meniupkan rasa tak percaya diri. 

Tatkala memutuskan untuk nyemplung di kancah blogging, sudah saatnya kita tekankan bahwa “My  Blog is  The Best Version of Me!” (*)

 

 

blogging

Just Be You! I mean… Just Be The Best Version of You!

Just Be You! I mean… Just Be The Best Version of You!

Hellaaaw, udah tanggal 12 January aja nih. Wiks, gimana kabar resolusi? Katanya mau ngirim naskah ke media mainstream? Katanya pengin nerbitin buku? Katanya pengin nambah hafalan Qur’an? Hahahaha. Masih jalan di tempat ya sist?

Yo wis, balik ngeblog maning #eaaa Dunia blogging makin ke sini makin riuh-ramai-pecaaaaah banget yak? Kalau ada tim lembaga survey yang mendata BERAPA JUMLAH blogger se-Indonesia, haqqul yaqin, jawabannya pasti bikin kita tertuing-tuing *opo maneh iki*. Mungkin jumlahnya menembus angka puluhan, atau bahkan ratusan ribu?

Dunia blogging memang lagi sedep-sedepnya nih. Udah buanyaaaak yang memutuskan buat terjun total jadi blogger. Kalo ditanya, “Kerja di mana sekarang?” Para blogger tulen itu akan menjawab, “I am proud to be a blogger.”

Ahhh, kalo dedek Felix Siauw kasih terminologi part time mother vs full time mother, maka blogger juga gak mau kalah, yes. Ada yang full time blogger, ada juga yang part time blogger.

KOK BISA KANCAH BLOGGING SEDEMIKIAN PESATNYA YAK?

Ya bisa dong. Blogger kan penyumbang konten buat dunia internet. Udah gitu, influence (pengaruh) blogger sama sekali enggak bisa dipandang remeh. Contoh nih, ketika mbaksis mau beli MAKE UP alias KOSMETIK  paling gres, apa yang mbaksis lakukan? Melototin iklan di TV? Pasrah bongkokan alias nurut aja daaaah sama serba/i rayuan manis nan aduhai yang dilancarkan mbak2 beauty advisor, yang dandanannya terkadang sante terkadang menor? Atau nanya nyokap?

Oh, helooo… it was just sooo… yesterday. Hare gene, kalo mau shopping make up, udah pasti GOOGLING dulu. Cari beauty blogger Indonesia yang bisa kasih rekomendasi cihuy. Atau, cari review brand make up tertentu yang kita pengen. Atau lihat testimoni yang beredar di beauty forum. Bandingin harganya, kualitasnya, di mana belinya, endebrai endebrai. Betul apa betuuul? :)))

Blogging-1

Samaaaa dong ama eikeh. Dunia internet menawarkan semacam ‘manual book’ baru. Walopun kita enggak kenal (secara personal) plus ga pernah tatap muka ama si blogger, kok bisa-bisanya ya kita “teracuni” dan hooh-hooh aja, manakala si blogger menghadirkan review versi dia. Walhasil, kita pun bisa melakukan pembelian, setelah menyimak dengan seksama, rekomendasi yang dihadirkan para bloggers!

No wonder, sejumlah blogger level dewa alias A-list, isi postingan-nya penuh sesak dengan review brand ini dan brand itu. Tapi, aku suka-suka aja tuh, bacanya. Soale, mereka mengemas dengan gaya penceritaan yang ngalirrr banget, dipadu foto yang alakazam, plusss tampang mereka yang bagaikan porselen tanpa cela. Bening banget bok. Makanya, dari hosip-hosip yang beredar nih, para premium blogger(s) itu konon katanya bisa mengeruk sampe 50 jeti per bulan! Widiiiiwww, hasil ngeblog bisa buat DP rumah!

Nah, kita juga bisa ambil bagian di sono. Caranya, caranya? Kalo menurut aku, langkah pertama banget yang kudu kita lakukan adalah…. START YOUR BLOG :))) Trus, yaaa, banyak-banyak belajar dari para blogger yang udah kondang bambang gulindang itu. Pelajari aja, gimana mereka bisa merangkul pembaca, mendatangkan banyak traffic, plus membuat brand/agensi iklan memberikan amanah pada mereka.

Trus, jangan lupa, tren 2016 adalah: pembaca makin demen visual. Jadi, penting banget sist, belajar fotografi, infografis, plusss… vlogging alias bikin video untuk tayang di blog! Ish, ish… PR-nya banyak nian. Ya iyalah. Kan kita pengin eksis nih, di lautan ratusan ribu blogger. Kalo blog kita digarap apa adanya, yaaa… gimana bisa mengundang atensi, ya kan?

Sampai sini, mungkin ada satu dua orang yang mulai ngerasa sensi.

“Iiih, blogger kan ngeblog aja lah. Ngapain pake ambisi nyari duit segala?

“Pusing gue ah, kalo disuruh mikirin klout score, DA (Domain Authority), traffic dllnya itu. Males, malessss… mending ngeblog aja buat mencurahkan isi hati.”

Well, that’s a matter of choice. Hidup itu kan PILIHAN yak. Siapapun berhak untuk memutuskan mau jadi full time vs part time blogger; blogger dengan job review vs blogger yang ogah dapet job; blogger niche vs blogger lifestyle alias campur aduk… Itu mah TERSERAH  ajah. Empunya blog yang menentukan.

Jadi, JANGAN KEPANCING dengan omongan orang. Kita hidup di dunia, di mana hampir semua orang doyan dan gemar banget untuk berkomentar. Ya sudah, cuekin aja. Kita yang berhak menentukan mau dibawa ke mana blog ini? Singkat kata nih, JUST BE YOU. Atau, JUST BE THE BEST VERSION OF YOU.

“Tapi kan eneg yak, kalo tiap buka timeline, eh, isinya blog iklaaaan semua. Yang promosi produk inilah, itulah… apalagi kapan hari itu ada bank yang mengundang 100-an blogger buat kampanye serentak. Itu kan mbencekno banget!”

Oke. Kalau masalah itu, berarti balik lagi, bahwa blog harus menunjukkan THE BEST VERSION OF YOU. Saban bikin postingan, mau itu job review atau bukan, silakan dituliskan dengan GAYA BAHASA, ALUR PENCERITAAN yang menggambarkan ciri khas ente. Boleh kita melakukan benchmarking dengan jalan-jalan ke blog orang lain. Tapi, kita tetep harus punya identitas sendiri. Sebuah ‘keunikan’ yang mungkin jarang/sulit ditemukan di blog orang lain.

“Kayak gimana sih?”

Nah… itu silakan dicari sendiri sambil ngeblog. Kalo kamu orangnya kocak dan seneng ngebanyol, isi blog kamu dengan segala hal postingan yang UUL alias Ujung-Ujungnya Lucu. Kalo kamu puitis dan piawai berdansa dengan kata, ayok bikin blog yang nyastra. Kalimat-kalimatnya terpahat dengan begitu indah. InsyaAllah ini yang jadi ciri khas, yang bikin orang selalu addicted baca tulisan kamu.

Pada intinya, ketika orang/brand/agensi menaruh trust kepada para blogger, ayolah kita sama-sama jaga reputasi blogger Indonesia. Nggak perlu juga bikin tulisan yang kelewat kontroversial, kaerena bisa mencederai hati ribuan blogger, ya kan? Bukan mustahil, agensi juga akan pikir seribu kali, tatkala akan mengajak kerjasama si blogger yang doyan nyinyir ala nenek sihir ini.

Okay, Happy January, semuanya… Hayuk deh, kita injeksi semangat kepada para blogger untuk terus menebar konten dan tulisan positif.

Jika Kau Bukan Anak Raja atau Ulama Besar, maka Menulislah (Imam Ghazali)

Ditulis untuk #LigaBloggerIndonesia2016 untuk tema :  Tren Blogger Indonesia Tahun 2016

Pekan 1

parenting, Uncategorized

Neno Warisman: It Takes a Village to Raise a Child

Sosok Neno Warisman kini kian dikenal sebagai praktisi Islamic parenting. Ia kerap didapuk sebagai pemateri dalam beragam seminar maupun workshop. Semangatnya untuk menginspirasi keluarga muslim Indonesia patut diapresiasi. Berikut petikan perbincangan saya  dengan Neno Warisman, dalam sebuah acara di Surabaya.

Bagaimana Bunda Neno meng-capture fenomena parenting belakangan ini?

Satu prinsip yang harus kita pegang: It Takes a Village to Raise a Child. Butuh orang sekampung untuk bisa membesarkan dan mendidik anak kita.

Coba kita lihat. Masalah pendidikan karakter dibicarakan di mana-mana. Tapi apa yang terjadi? Hampir setiap hari kita saksikan aneka penyimpangan yang dilakukan ataupun menimpa anak-anak kita. Mari kita sama-sama bersikap rendah hati tatkala membahas fenomena anak. Coba kita amati satu demi satu. Tayangan TELEVISI  kita, mayoritas berisikan program yang sama sekali tidak mendidik, sarat dengan adegan porno maupun kekerasan. Sementara itu, sejumlah lembaga yang peduli dengan perkembangan buah hati merilis hasil riset yang bikin hati kita miris. Tahukah Anda bahwa ternyata 90% anak-anak kita kelas 3 SD ke bawah sudah terpapar pornografi, di seluruh provinsi. Sebanyak 50% anak-anak malah sudah melakukan hubungan pasutri. Naudzubillahi min dzalik. Bapak dan Ibu adalah tokoh utama untuk mendidik anak. Kita juga tak boleh mengabaikan pengaruh lingkungan. Ini yang harus kita pahami dan terus jadikan panduan tatkala mendidik generasi bangsa.

 

Lantas, hal mendasar apa yang harus orang tua lakukan?

Jangan mendidik anak dengan cara ikut-ikutan! Banyak teori parenting yang beredar di masyarakat, kita harus cermat dan pandai dalam memilah dan memilih, mana yang sesuai dengan ajaran Islam. Agama kita ini begitu sempurna memberikan panduan dan teladan dalam mendidik anak. Sebagian masyarakat malah meneladani teori parenting dari barat, padahal kita sudah punya teladan yang luar biasa. Jangan malu dan malas ambil teladan dari Rasul! Justru beliau yang wajib kita jadikan panutan.

Islam itu sempurna. Sejak janin berada di perut, kita diajak untuk melantunkan ayat suci, agar bayi bisa ikut merasakan kebesaran Allah bersama orang tuanya. Kita harus tanamkan pondasi agama yang kuat untuk anak. Bahkan, ketika anak kita meninggal dunia kelak, kita bisa canangkan apakah ingin anak kita berpulang dalam kondisi mati syahid ataupun biasa-biasa saja.

Buat para orang tua, saya tak bosan-bosan mengatakan bahwa, berikan “nuansa spiritual”, jangan campur adukkan dengan hal-hal material. Kenapa? Karena spiritual tak akan nyambung dengan material.  Sering kan, para ibu yang memberikan iming-iming, “Kalau anak sholat tepat waktu, akan dikasih uang, atau sepeda atau hal-hal material lainnya.” Apabila segala hal diukur dengan materi, maka anak-anak akan mengalami kebuntuan jiwa! Anak akan terbiasa mengukur segala hal dari materi. Sampai anak bisa mengatur alias mengendalikan orang tuanya. Ada anak teman saya yang bicara begini ke mamanya, “Tahun lalu aku puasa penuh dapat 3 juta. Tahun ini, kalau puasaku full, aku mau 4 juta.” Nah, ini kan sudah nggak bener.

Alangkah baiknya, apabila sesuatu yang positif/ prestasi dalam ranah spiritual, juga mendapatkan reward secara spiritual juga. Misalnya, sang ibu berkata, ”Karena kamu sholat rajin, Ibu akan mendoakan kamu secara khusus, dalam tahajud Ibu, dalam tiap ibadah yang ibu lakukan. Ini doa yang amat spesial, Nak… Khusus untuk kamu anak Ibu yang gemar beribadah.” Nuansa spiritual ini yang harus terus kita bangun, agar bisa melembutkan hati dan jiwa anak.

Ingat ya, para orangtua. Mendidik anak tidak boleh minta instan. Jangan sampai kita bicara, “Mama sudah bayar banyak, habis jutaan untuk sekolah kamu, untuk les ini, itu… Kenapa kamu nggak jadi anak pintar?” Astaghfirullah, jangan bicara seperti itu lagi ya. Ingatlah, bahwa orangtua harus memegang teguh janji Allah. Bahwa anak adalah amanah dari Allah. Mendidik dengan baik adalah salah satu wujud ibadah kita sebagai hamba Allah.

Oh ya, berkali-kali saya sampaikan kepada para orang tua, jangan membandingkan anak dengan temannya. ”Lihat si fulan jadi rangking satu, kenapa kamu nggak bisa seperti dia sih?” Kalimat ini sangat menyakitkan. Siapapun tak suka dibanding-bandingkan. Kita juga tidak suka kan, kalau dibandingkan dengan perempuan lain, misalnya.

Tantangan yang dihadapi orang tua masa kini lebih berat ya?

Betul. Apalagi saat ini kita lebih banyak bertemu dengan tipikal ‘The Digital Family’. Dimana kita kerap kehilangan waktu untuk bisa ngobrol (secara riil) atau saling sentuh dengan kasih sayang antar anggota keluarga. Semua sibuk dengan gadget. Anak-anak SD, bahkan balita sudah akrab dengan Ipad dan sebangsanya. Ini berdampak amat buruk, melahirkan generasi yang tidak peka, kurang komunikasi, pudarnya kepedulian, dan saling buta kabar.

Ayo kita kembalikan teladan Rasul untuk keluarga kita. Tumbuhkan kecintaan anak pada Al-Qur’an. Teruslah tahajud dengan istiqomah, beri contoh agar anak kita bisa makin cinta agama ini. Biasakan dzikrullah setiap saat. Perkuat bonding dengan keluarga, termasuk para ayah harus berkiprah untuk mendidik anak.

Bicara tentang peran keayahan. Anak-anak merindukan sosok ayah yang ‘pulang ke rumah’ dan ‘benar-benar hadir’. Ayah sekarang jarang yang menemani anak duduk, mengelus kepala anak, ini hal-hal yang nampak sederhana tapi sesungguhnya penting untuk dilakukan. Kenapa ayah sering malu mengungkapkan perasaan? Kenapa ayah susah untuk bilang, “Anakku sayang….” kepada buah hati mereka? Bahkan kepada istrinya sendiri, coba kita tanya para ayah, kapan terakhir bilang “Aku cinta padamu” kepada sang istri? (*)

Pekan 1

Ditulis untuk menyemarakkan #LigaBloggerIndonesia2016  posting bebas

Uncategorized

Maaf, Dilarang Membawa Makanan atau Minuman dari Luar

“Maaf, Dilarang Membawa Makanan atau Minuman dari Luar…”

Siapapun yang doyan berwisata kuliner, tentu sering lihat tulisan yang kurang lebih mengusung makna demikian kan? Beberapa kali mampir ke resto atau cafe, saya sering ngebatin “Alaaah, ini alesyan aja biar masakan doi doang yang laris. Kita kagak boleh bawa dari rumah, biar jualannya  laris manis tanjung kimpul. Huh! Strategi marketing yang udah kebaca banget nih.”

Yang bikin sebel itu, kalo kita pergi bareng-bareng ke resto, tapi sayangnya… seluruh menu yang tersaji di resto itu nggak cocok dengan selera kita.

Pernah nih, saya dan beberapa teman cuss ke salah satu resto fast food. Sumpeh deh, hari itu engga tahu kenapa, saya lagi sama sekali engga berselera makan burger, fried chicken, endebrai endebrai. Udah eneg duluan pas mencium aroma (parfum?) makanan yang dijual di sono. Yeah, khas resto mereka banget gitu lah.

Ngelihat foto-foto makanan dll juga sama sekali enggak menerbitkan selera. SAMA SEKALI.

Akhirnya, ketika Teman  saya pesen kopi dan makanan pengganjal perut sebangsa wafel dll, saya  ngeluarin sesuatu dari dalam tas, yakni….. KOCI-KOCI 🙂 Cinta Indonesia banget kan, eikeh, hahahaha

Kenapa saya nekad makan koci-koci?

Pertama, koci-koci ini kan masakan Indonesia. BUKAN head-to-head competitor ama si resto fast food. Jadi, kayaknya engga masalah dong, kalo saya makan koci-koci.

Kedua, koci-koci ini lumayan berserat. Kalo ada yang negur, saya bisa berkilah, “Sorry, saya lagi clean eating. Saya di sini cuma nemenin nongkrong ajah.”

That’s it.

Apa yang terjadi?

Selang lima menit kemudian, seorang pria dandy dengan rambut super klimis  (kurasa sebelum ke kantor dia pake POMADE deh)  mendatangi meja kami.

Senyum super-friendly tergambar jelas di bibirnya.

Lalu, si mas-mas dandy itu berucap pelan, masih sambil senyum yang terbingkai nyata.

“Selamat pagi, mohon maaf… Sekali lagi kami mohon maaf, kebijakan kami, hanya memperbolehkan tamu mengonsumsi makanan yang kami sediakan.”

Sudah kuduga. Huh, dasaaaar, pelit!

Aku siap berkilah dengan dua amunisi yang kupersiapkan sebelumnya. Yeah, aku bilang lagi diet, clean eating dll….

Lalu, si mas klimis itu (masih sambil tersenyum) bertutur dengan adab yang terjaga.

“Begini, Mbak… ”  **OMAIGAT, aku dipanggil ‘Mbak’ Horaaaayyyy *sujud syukur**

“Perlu kami jelaskan… bahwa kami  bertanggung jawab  terhadap apa yang dikonsumsi tamu di restoran kami. Apabila tamu membawa makanan dari luar, lalu makan di resto kami, dan kemudian terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan, maka, kami juga tetap harus bertanggung jawab kan? Maka dari itu, kami betul-betul menghimbau agar para tamu hanya mengonsumsi makanan yang telah kami olah dan hidangkan.”

Gleg. Baiklah.  Tadinya aku mau meng-counter ucapan masnya. Tapi, gak lucu juga sih, masih pagi kok ya mau ‘nyari musuh’ hahaha. Apalagi,  masnya menjelaskan dengan santun. Sama sekali enggak  ‘blaming

Sambil  tersenyum kecut, aku –yang hepi banget dipanggil ‘mbak’ bukan ‘ibu’–memasukkan koci-koci tadi ke dalam tas.

***

Aku baru tahu dan bisa memaknai pesan dari mas-mas fast food tadi, setelah rame berita meninggalnya cewek cantik usai meminum es kopi vietnam di sebuah resto.

Memang, banyak konsumen yang (entah sengaja atau tidak) membawa ‘sesuatu’ dari luar, lalu  makan di resto,  dan…. BOOMM…! Meledaklah tragedi ‘meninggal akibat minum kopi’ dan sejenisnya.

Yeah, kadang kita (para konsumen) terbiasa menggampangkan. Menganggap bahwa apa yang kita konsumsi sebelumnya sama sekali tidak membawa impact terhadap destinasi kuliner yang kita tuju.

Padahal, sudah sering baca larangan untuk membawa/mengonsumsi/mencampurkan ‘sesuatu’  ke dalam makanan yang kita pesan kan?

Tapi, yeah… rules are made to be broken :-)) Belum lagi, kalau beberapa dari kita (aku, misalnya) yang sibuk ber-su’udzon dengan  mengambil kesimpulan prematur bahwa larangan itu semata-mata biar dagangannya laku. Hiks.

Konsumen harus lebih disiplin dan cerdas.

Sebelum minum kopi (yang berkafein tinggi) kudu googling dulu (atau nanya ke dokter) zat-zat apa saja yang tak boleh kita konsumsi. Jangan sampe abis minum obat flu/obat pelangsing dll, eh, langsung nyambung minum kopi 😦

Mungkin para staf di kafe juga harus lebih ‘talkactive’ . Biarin deh, dibilang cerewet, yang penting bisa kasih edukasi secara mumpuni.

Misal, ketika ada yang pesan kopi tertentu, tanyakan dulu,

“Mbak, sebelum ke sini, apakah mengonsumsi obat blablabla?”

“Mbak… Kopi ini mengandung kafein cukup tinggi. Apakah Mbak ada riwayat maag? Atau gangguan jantung?”

“Mbak… Boleh cerita ke saya, ada pantangan tertentu makanan/ minuman tertentukah dari dokter? Supaya saya bisa pilihkan kopi yang PAS untuk Mbak.”

“Mbak… Minum kopinya mohon jangan dicampur dengan zat apapun ya. Karena reaksinya akan membahayakan kerja jantung.”

 

Yeah… job desc barista bukan hanya ngejelasin soal filosofi  kopi dong. Barista jangan hanya berambisi melahirkan something perfecto. Tapi, sebaiknya juga kasih edukasi komprehensif kepada potential customer-nya.

Eniwei, gara-gara berita itu, saya jadi agak hati-hati kalo mau ke kedai kopi. Hati-hati ini maksudnya, saya kudu waspada bin  concern terhadap obat/ zat kimiawi  apa  saja, yang sebelumnya sudah singgah di lambung.

Hmmmm… cerita-cerita soal kopi, jadi pengin nongkrong di coffee shop nih. Ahaiii, mumpung  weekend,  teman-teman  pada doyan cuss ke coffe shop mana nih?