“Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” dan Ngatur Duit

Lampu bioskop sudah menyala. Lirik lagu “Sumpah Mati” Nidji berdentang memenuhi rongga telinga. Sudah jam 12 malam. Aku dan Sidqi masih terkungkung di bangunan ini, mengenang romansa kasih tak sampai yang memilukan. Ya, baru saja kami menonton film “Tenggelamnya Kapan Van der Wijk”.

Tenggelamnya-Kapal-Van-Der-Wijck_2

Masih terngiang quote bernada pilu, sekaligus kemarahan yang terurai dari mulut Zainuddin, sang tokoh utama.

Maaf? Kau regas, segenap pucuk pengharapanku kau patahkan, kau minta maaf?  Lupakah kau? Siapakah diantara kita yang kejam? Bukankah kau berjanji, seketika saya diusir dari ninik mamakmu, sebab saya tak tentu asal, orang hina dina, tidak tulen Minangkabau. Ketika itu kau antar aku si simpang jalan. Kau berjanji akan menunggu kedatanganku , meskipun akan berapa lamanya. Tetapi kemudian kau beroleh ganti yang lebih gagah, kaya raya, berbangsa, beradat, berlembaga berketurunan. Kau kawin dengan dia, kau sendiri memberi keterangan bahwa perkawinan itu bukan paksaan orang  lain, tapi pilihan kau sendiri. Hampir saya mati menanggung cinta, Hayati!             

Wow. Saya masih membayangkan betapa hebatnya latihan vokal yang dilakoni Herjunot Ali, si pemeran Zainuddin. Dalam satu tarikan nafas, dia mengucapkan kalimat penuh murka nan membabi-buta. Mengiris. Mengguratkan luka nan pedih. Kalau kata anak sekarang, sakitnya tuuuh… di sini…

wijck-cover

Zainuddin (Herjunot Ali) jadi WOW karena financial planning yang cihuy

Anak saya rupanya belum terjerat kantuk. Di dalam mobil, ia berceloteh, “Bu, kenapa kok Hayati memilih untuk nikah sama Aziz?”

Hmm. Ini dia resiko mengajak anak di bawah umur nonton film cinta yang sarat adegan penggalauan. Baiklah. Sebagai ibu yang (mencoba) shalihah, saya coba menjelaskan sebisa saya.

”Kan om-tantenya pada nyuruh dia nikah ama Aziz. Soalnya, waktu itu, Aziz adalah orang kaya, berasal dari keluarga terpandang, duitnya banyak. Gaulnya aja ama orang-orang Belanda.”

Sidqi manggut-manggut. ”Walaupun pada akhirnya, Aziz (Reza Rahardian) yang bangkrut, lalu bunuh diri. Malah Zainuddin yang tadinya miskin bisa jadi sukses ya Bu…”

reza

Aziz (Reza Rahardian), foya-foya tajir melintir di awal, bangkrut di akhir.

Eureka…! He’s got the point! Ternyata cah lanang saya sudah bisa menjalin sebuah logika konstruktif, pasca menyaksikan sebuah karya sinema. Kepalang basah, saya injeksikan saja seputar financial education buat anak.

“Betul. Jadi, walaupun Aziz itu kaya raya, kalau dia tidak bisa mengelola keuangan dengan baik, pada akhirnya hidup dia menderita. Hartanya habis, karena dipakai judi, berfoya-foya, dan dia malah numpang hidup di rumah Zainuddin. Sebaliknya, kalau orang mau bekerja keras, berusaha semaksimal mungkin, yang tadinya miskin malah bisa meningkatkan derajat. Tentu Zainuddin bisa sekaya dan semakmur itu, karena dia bisa mengatur duit dengan baik. Jangan lupa, dia juga SELALU berbuat baik sama orang lain kan? Termasuk kasih modal ke anak muda yang mau menikah tapi nggak punya duit. Zainuddin juga mengizinkan Aziz dan Hayati untuk tinggal di rumahnya. Hebat kan?”

***

Lewat film “Tenggelamnya Kapan Van der Wijk” ini, Sidqi belajar 3 (tiga) hal. Yaitu: sastra, cinta, dan (mengelola) harta.

CIMG6715

The next HAMKA insyaAllah….

Selamat datang di era kapitalisme. Dimana letak kemuliaan dan kehormatan seseorang kerap disandingkan dengan seberapa “kaya” dan seberapa banyak “harta” dia. Kita kerap mendongak, memandang dengan tatapan penuh kagum, manakala saksikan seorang manusia yang menyetir mobil Lamborghini. Atau, artis bermodal endel yang menenteng tas Hermes kemana-mana.

Tapi, di sisi lain, kita menatap sinis pada pengusaha bersahaja, yang hanya berpakaian sederhana. Padahal omzet usahanya gila-gilaan. Well, well, well. Hati-hati dengan itu semua. Apalagi, kalau kita ingin ajarkan kebijakan finansial untuk anak. Karena ada satu prinsip yang harus selalu kita pegang teguh: Children See, Children Do.

Biarpun kita berbusa-busa menjelaskan soal pentingnya mengatur duit, dll, kalau ternyata emak-bapaknya punya gaya hidup yang alakazam hura-hura syalala, ya wassalam.

Anak kita PASTI bakal mencontoh plek-ketiplek gaya hedonis yang ditularkan orangtuanya.

Karena itu, saban menularkan prinsip financial planning for kids, saya berusaha sekuat tenaga untuk menjadi emak yang “cerdas finansial”. Caranya?

Emak kudu mau belajar-belajar-dan belajar. Sejak tahun 2003 (saya masih prewin kinyis-kinyis *info penting*) saya hobi banget berburu ilmu tentang financial planning. Bagaimana cara mengatur kondisi finansial kita supaya tak amburadul. Bagaimana supaya kita bisa survive di belantara dunia yang kian “wow-sangar” ini. Dan, bagaimana kita menularkan kemampuan mengelola keuangan untuk anak-anak kita.

IMG_0341

Selain itu, saya juga rutin follow twitter dan blog seputar financial planning. Termasuk blog ini.  Banyak sekali masukan, ilmu, wawasan yang dibagikan. O iya, tahun 2013 lalu, saya juga sempat gabung di komunitas Duta Parenting. Salah satu materi yang kami dapatkan adalah mengenai family financial planning.

***

Bagaimana Mengajarkan Masalah Finansial pada Anak?

Ada 4 (hal) prinsip yang kudu dipegang anak-anak, manakala udah bicara soal uang.

Yang pertama, adalah EARNING alias cara mendapatkan uang. Anak harus banget belajar, bahwa uang itu enggak datang mak bedunduk dari langit. Harus diraih dengan upaya, kerja keras dan cerdas. Gak ada yang gratis di muka bumi ini. There is NO free lunch, NO free breakfast, NO free dinner, terusin dewe ya, hehehe.

Karena itulah, tatkala kali pertama saya mengajak Sidqi ke ATM untuk ambil duit, eh, dia menyangka kalau saya lagi “beli duit”. Saking senengnya dengan adegan duit “muncrat” dari ATM, Sidqi bolak-balik ngajak saya untuk ke sana. “Kiddo, duit ini adalah hasil kerja Ibu selama ini. Ibu ambil duit secukupnya, untuk modal kita belanja bulanan.”

Masalah EARNING ini bisa kita ajarkan dengan cara mengajak anak jalan-jalan ke berbagai spot. Lihat itu! Ada tukang sapu jalanan, mereka bekerja, berpeluh keringat untuk memberi makan keluarga.

bibit-1

di taman flora sby, Sidqi belajar beragam profesi

Lihat itu! Tukang loper koran, masih kecil-kecil, mereka bekerja demi sesuap nasi.

Lihat itu! Sopir bus! Lihat itu, para pekerja di pabrik! Lihat itu, guru… Lihat itu, pengemudi dokar… Lihat itu, pawang satwa…. Lihat itu, tukang parkir… Lihat itu, bakul di pasar… Lihat itu, tante Syahrini…. *krik*

Salah satu jalan mengajari Sidqi agar tahu how to earn money adalah, saya minta dia mengumpulkan barang bekas di rumah. Lalu, ketika ada tukang rombeng lewat, “Lihat itu…. tukang rombeng!” Sidqi pun beraksi. Melakukan transaksi dengan pak tukang rombeng itu. Mayan, dapat duit 50 ribu, hasil berburu sampah 🙂

Yang kedua, GIVING

Pay your God first!

Sudah punya duit, tapi masih pelit? *berima* Shame on him/her! Justru kalau ingin hidup penuh keberkahan, maka anak-anak kita harus dijejali semangat untuk rajin, gemar, dan bahagia untuk bersedekah. Ini adalah orientasi hidup mendasar yang harus selalu dicanangkan bagi anak. Bagaimana kita memandang materi yang kita cari dan kita punyai? Untuk apa semua harta yang kita miliki? Yap, anak harus tahu, bahwa di sebagian harta yang ia punya, ada hak fakir miskin, ada donasi kemanusiaan yang harus selalu ia tunaikan.

IMG_6278 donating donating2

Saya mendaftarkan Sidqi di klub donatur cilik. Setiap bulan, ia komitmen menyisihkan uang untuk nantinya disedekahkan. Satu quote Imam Al-Qayyim yang saya kutip di sini, “Sesungguhnya sedekah memiliki khasiat yang menakjubkan dalam menangkal bahaya. Maka dari itu, dengan sedekah, sungguh Allah menahan bagi penderma berbagai macam bahaya. Hal ini sudah diketahui seluruh penduduk bumi. Mereka telah memahami kebaikan yang luar biasa dari sedekah, karena mereka telah mencobanya!”

Oke, kita beranjak ke poin ke-3 SAVING

Kenapa sih kudu saving? Ini yang wajib banget dijelaskan ke anak-anak kita, dengan bahasa yang sederhana. Gampangnya, saya comot slogan tante Ligwina Hananto. “Tujuan lo apa?” Jadi, ketika kita mengajak anak untuk saving, maka kita kudu menjelaskan soal “tujuan lo saving buat apa?”

Apakah mau beli mainan Transformers? Atau, mau makan enak di resto yang dia suka? Atau, mau nambah koleksi lego? Atau, mau beli buku Ensiklopedia? Atau, mau sekolah di tempat favorit dia? Macam-macam kan?

Nah. Di sini peran saving. Jelaskan juga, sebagai manusia, kita kudu mempersiapkan asuransi. Provider asuransi emang jumlahnya segabruk. Beneran bikin galau kan, mau ikut yang mana.

Yang jelas, pilih aja perusahaan yang terpercaya. Ya kayak Sun Life itu. Kan udah berdiri sejak 1995. Produk dan program yang ditawarkan super-duper komplit. Mulai dari produk-produk proteksi dan pengelolaan kekayaan, termasuk asuransi jiwa, pendidikan, kesehatan, dan perencanaan hari tua.

Per 30 Juni 2013 , tingkat Risk Based Capital (RBC) Sun Life Financial Indonesia adalah 379 persen (konvensional dan syariah) – jauh melampaui ketentuan minimal yang ditetapkan oleh pemerintah yakni 120 persen, dengan aset Rp 5,31 triliun! Wow banget kan? Saat ini Sun Life menyediakan berbagai produk inovatif melalui lebih dari 61 kantor pemasaran di 32 kota di Indonesia.

Sun Life adalah bagian dari Sun Life Financial, salah satu organisasi keuangan terkemuka di dunia. Didirikan pada 1865 dan berkantor pusat di Toronto, Kanada, Sun Life Financial beroperasi di berbagai pasar kunci di seluruh dunia.

Weleh, weleh… kalau udah kredibel seperti ini, ga mungkin bisa pindah ke lain hati kan?

SPENDING

Nah, masalah how to spend your money wisely adalah problema klasik yang harus dihadapi para orangtua. Bagaimana mengajarkan agar anak kita punya kesadaran, tanggungjawab dan paham bener untuk apa duit dibelanjakan. Terdengar klise sih, tapi saya tetap berpegang teguh pada kalimat “Mau beli ini, karena BUTUH atau karena INGIN?” Yes, kiddo. Percayalah, bahwa MAYORITAS hal di dunia ini adalah sesuatu yang kita INGINKAN, tapi sama sekali tidak kita BUTUHKAN.

Semua orang BUTUH tas. Tapi, apakah harus tas Hermes?

Semua orang BUTUH makan. Tapi, apakah kudu ke resto mihil yang bikin dompet keselek?

Semua orang BUTUH traveling. Tapi, apakah harus dengan pesawat kelas 1, hotel bintang lima, dan fasilitas premium lainnya?

Memang bukan perkara gampang mewariskan masalah financial education ini ke anak-anak. Tapi, bukan berarti kita boleh mengabaikan tho?

Sebagai penutup, saya sajikan kutipan dahsyat dari Pakde Warren Buffet, orang terkaya nomor 2 di jagat raya. Have fun with money, kids!

 WARREN BUFFE

Artikel ini diikutkan dalam kompetisi Menulis Blog Sun Anugerah Caraka 2014

iklan kompetisi foto sun life  Agustus 2014

Advertisements

#TGIM : Dimuat di Jawa Pos!

CIMG6713

Haishhh… ini diaa…!! Setelah menuliskan uneg-uneg soal 4×6 atau 6×4 versi blog  saya kepikiran buat nulis juga untuk dikirim ke redaksi surat kabar. Yang tercetus adalah koran Jawa Pos. Karena emang koran ini kan koran kebanggaan arek2 Suroboyo 🙂

Setelah nunggu kurleb 2 hari, Alhamdulillah, opini saya terpampang nyata. Beberapa kawan berkirim kabar, sebagian ada yang nanya, kenapa karikaturnya kelihatan mbungkuk kayak udang gitu sih?? Hueheheh….

Lesson learnt. Kalo ngirim rubrik ke koran, pilihlah foto yang paling cihuy kali ya. Hehe. Eniwei, ini saya tuliskan versi asli yang saya kirimkan ke redaksi JP. Minor editing sih. Yang digunting redaksi, hanya paragraf yang saya bold plus underline.

Kalau mau kirim Opini ke JP, gimana caranya?

Tulis saja sebanyak 800-850 kata, kirim ke opini@jawapos.co.id. Jangan lupa, lampirkan foto (yang keren yaaa…), nomor rekening, nama dan riwayat hidup singkat (yang relevan dengan topik yang ditulis). Selamat menulis 🙂 

OPINI 

4×6 atau 6×4?

Oleh: Nurul Rahmawati (pemerhati pendidikan, orangtua siswa kelas 2 SD)

Di sebuah SD di Jawa Tengah.

Habibi merasa galau. Bocah kelas 2 SD itu sedih, lantaran PR Matematikanya dicorat-coret dengan tinta merah oleh gurunya. Skor yang ia peroleh hanya 20. Habibi belum paham benar dengan soal-soal yang bikin ia mumet. Untunglah, ia punya kakak— Muhammad Erfas Maulana, mahasiswa teknik mesin—yang siap mengajarinya dengan sabar dan telaten. Habibi percaya diri dengan jawaban sang kakak. Tapi, mengapa ternyata jawaban kakaknya dianggap salah oleh gurunya?

Soal itu berbunyi 4+4+4+4+4+4=…… Habibi menjawab 4×6 = 24. Rupanya, jawaban itu dianggap “salah total”. Karena jawaban yang benar adalah 6×4=24.

Habibi tentu lapor pada Erfas, sang “mentor” sekaligus kakaknya. Erfas terusik dengan nilai 20. Barangkali harga dirinya jatuh di hadapan si adik yang baru duduk di kelas 2 SD. Tak terima dengan penilaian si guru, Erfas mengajukan “surat cinta” yang berisikan protes.

Bu guru yang terhormat,

Mohon maaf sebelumnya, saya kakak dari Habibi yang mengajarinya mengajarkan PR di atas.

Bu, bukankah jawaban dari Habibi benar semua?

Apakah hanya karena letaknya yang terbalik, sehingga jawaban Habibi Anda salahkan?

Menurut saya, masalah peletakan bukan menjadi masalah, bu. Misal, 4×6 = 6×4. Hasilnya sama-sama 24.

Terima kasih Bu, mohon perhatiannya. Semoga dapat dijadikan pertimbangan.

Mungkin, surat ini hanya berhenti di meja ibu guru, apabila Erfas tidak meng-upload-nya di Facebook. Ya, surat ini menjadi viral lantaran Erfas membahasnya di jejaring sosial terpopuler di Indonesia. Ratusan orang men-share postingan Erfas. Bahkan, dibahas di berbagai portal berita. Ratusan orang menganalisa dengan latar belakang akademis masing-masing. Sebagian mencela si guru, yang lain menimpakan kesalahan pada Erfas… Ada pula yang mengutuk sistem pembelajaran, ada yang menimpakan telunjuk kesalahan pada Kemendikbud. Facebook menjadi riuh oleh 4×6 atau 6×4….

***

LIMA belas tahun lalu, di sebuah elementary school (SD) di Amerika Serikat.

Seorang pria kandidat doktor tengah mengajukan protes pada guru SD tempat sang anak belajar. Menariknya, protes ini bukan lantaran si bocah diberi skor 20. Justru, sang ayah protes, karena karangan berbahasa Inggris yang ditulis si anak malah diberi nilai E (excellent) yang artinya sempurna, hebat, sangat bagus. Padahal si anak baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Menurut pria kandidat doktor itu, karangan si anak buruk, logikanya sederhana, kemampuan verbal masih sangat terbatas. Sehingga tidak sepatutnya guru memberi skor E.

“Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri,” begitu ujar sang kandidat doktor.

Sewaktu ia protes, ibu guru yang menerima hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawanya.Dia pun tersenyum. Ibu guru yang simpatik itu berujar, “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini. Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat.”

***

Anda tahu, siapa kandidat doktor yang “memprotes” guru anaknya itu? Ya, dia adalah Prof Rhenald Kasali, Phd. Dua cerita di atas sengaja saya sajikan, supaya kita bisa lebih jeli dalam menyaksikan paradoks yang “menampar” wajah pendidikan kita.

Kasus 4×6 atau 6×4 adalah letupan kecil, sebuah contoh betapa guru plus sistem pendidikan kita belum mengembangkan budaya penghargaan pada anak. Mengapa ketika “salah” menjawab, langsung diberi skor salah total? Mengapa tidak ada penghargaan, bahwa anak sudah meluangkan waktu, untuk mau, bersedia mengorbankan waktu istirahat dan bermainnya untuk mengerjakan PR? Mengapa guru tidak mengapresiasi upaya anak yang mau mencari mentor dan bertanya pada kakaknya? Dan, mengapa kita begitu terpaku dengan skor kuantitatif?

Terlalu banyak “mengapa” yang bisa tersaji. Yang pada intinya, semua itu bermuara pada abai-nya kita untuk meng-encourage, menyemangati anak didik untuk do his or her best. Anak-anak hanya dipacu untuk mengerjakan soal, dengan kunci jawaban yang sudah dipegang erat oleh si guru. Anak-anak nyaris tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan potensi masing-masing. Ketika mengkreasikan sesuatu hal, anak-anak hanya menelan pil pahit berupa judgement dari guru, “Karya ini buruk sekali! Kurang rapi!” dan sebagainya. Sungguh menyedihkan.

Yang lebih parah lagi, beberapa SD Negeri justru mencerabut hak anak untuk beribadah. Ini terjadi di sekolah anak saya. Jam masuk pukul 11:30, dan ia baru pulang pukul 16:30. Seharusnya ia sholat dhuhur di masjid dekat sekolah, tapi karena gerbang sekolah dikunci rapat, anak saya tidak pernah sholat dhuhur setiap hari! Wow. Inikah pendidikan yang didambakan oleh Kemendikbud? Menciptakan generasi yang hanya sendiko dawuh, taklid buta pada guru, yang notabene justru tidak bisa meng-encourage anak didiknya?

***

Sepertinya dunia pendidikan kita masih jalan di tempat. Saya menantang kabinet Jokowi, untuk bisa menempatkan orang-orang terbaik di kementerian yang “seksi” ini. Buat apa anggaran tinggi, tapi distribusi buku masih acakadut, dan sistem belajar mengajar juga sami mawon, masih tereksekusi secara top-down dan ortodoks. Judulnya saja, kurikulum 2013, merangsang nalar dan membangun karakter. Tapi, guru-gurunya—yang sudah ikut pelatihan kurikulum—masih bermental old-school, mengandalkan bentakan, mata yang melotot tajam, plus tak bisa menghargai anak didik.

Oh, maafkan curhat saya yang terlampau panjang. Saya tentu tidak rela anak-anak kita terdogma dalam sistem yang buruk, dan kita justru melahirkan Habibi-Habibi yang takut untuk mengembangkan nalar dan keilmuan. Ngomong-ngomong, saya yakin orangtua Habibi tentu ingin putranya kelak akan sebrilian Prof BJ Habibie. Dan, saya haqqul yaqin, Habibie tak akan menjadi profesor hebat, apabila Matematikanya dulu hanya diberi skor 20 oleh sang guru.(*)

Rindu Bapak

Ada satu artikel yang sangat touching, barusan saya dapat dari hasil googling sana-sini. Silakan baca pelan-pelan. Sebelumnya, siapkan tisu dan telepon. Untuk apa? Saya akan kasih tahu fungsi 2 benda ini, di akhir postingan. Happy reading. 🙂

Seorang pemuda duduk di hadapan laptopnya. Login facebook. Pertama kali yang dicek adalah inbox.

Hari ini dia melihat sesuatu yang tidak pernah dia pedulikan selama ini. Ada 2 dua pesan yang selama ini ia abaikan. Pesan pertama, spam. Pesan kedua…..dia membukanya.

Ternyata ada sebuah pesan beberapa bulan yang lalu.

Diapun mulai membaca isinya:

“Assalamu’alaikum. Ini kali pertama Bapak mencoba menggunakan facebook. Bapak mencoba menambah kamu sebagai teman, sekalipun Bapak tidak terlalu paham dengan itu. Lalu bapak mencoba mengirim pesan ini kepadamu. Maaf, Bapak tidak pandai mengetik. Ini pun kawan Bapak yang mengajarkan.

Bapak hanya sekedar ingin mengenang. Bacalah!

Saat kamu kecil dulu, Bapak masih ingat pertama kali kamu bisa ngomong. Kamu asyik memanggil, “Bapak, Bapak, Bapak…” Bapak bahagia sekali rasanya anak lelaki Bapak sudah bisa memanggil-manggil Bapak.

Bapak sangat senang bisa berbicara dengan kamu walaupun kamu mungkin tidak ingat dan tidak paham apa yang Bapak ucapkan ketika umurmu 4 atau 5 tahun. Tapi, percayalah. Bapak dan Ibumu bicara dengan kamu sangat banyak sekali. Kamulah penghibur kami setiap saat, walaupun hanya dengan mendengar gelak tawamu.

Saat kamu masuk SD dan membonceng motor bersama Bapak, Bapak masih ingat kamu selalu bercerita tentang apapun yang kamu lihat di kiri kananmu dalam perjalanan.

Ayah mana yang tidak gembira melihat anaknya telah mengetahui banyak hal di luar rumahnya.

Bapak jadi makin bersemangat bekerja keras mencari uang untuk biaya kamu ke sekolah. Sebab kamu lucu sekali. Menyenangkan. Bapak sangat mengiginkan kamu menjadi anak yang pandai dan taat beribadah.

Masih ingat jugakah kamu, saat pertama kali kamu punya HP? Diam-diam waktu itu Bapak menabung karena kasihan melihatmu belum punya HP sementara kawan-kawanmu sudah memiliki.

Ketika kamu masuk SMP, kamu sudah mulai punya banyak kawan-kawan baru. Ketika pulang dari sekolah, kamu langsung masuk kamar. Mungkin kamu lelah setelah mengayuh sepeda, begitu pikir Bapak. Kamu keluar kamar hanya pada waktu makan saja setelah itu masuk lagi, dan keluarnya lagi ketika akan pergi bersama kawan-kawanmu.

Kamu sudah mulai jarang bercerita dengan Bapak. Tahu-tahu kamu sudah mulai melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi lagi. Kamu mencari kami saat perlu-perlu saja serta membiarkan kami saat kamu tidak perlu.

Ketika mulai kuliah di luar kotapun, sikap kamu sama saja dengan sebelumnya. Jarang menghubungi kami kecuali di saat mendapatkan kesulitan. Sewaktu pulang liburanpun, kamu sibuk dengan HP kamu, dengan laptop kamu, dengan internet kamu, dengan dunia kamu.

Bapak bertanya-tanya sendiri dalam hati. Adakah kawan-kawanmu itu lebih penting dari Bapak dan Ibumu? Adakah Bapak dan Ibumu ini cuma diperlukan saat nanti kamu mau nikah saja sebagai pemberi restu? Adakah kami ibarat tabungan kamu saja?

Kamu semakin jarang berbicara dengan Bapak lagi. Kalau pun bicara, dengan jari-jemari saja lewat sms. Berjumpa tapi tak berkata-kata. Berbicara tapi seperti tak bersuara. Bertegur cuma waktu hari raya. Tanya sepatah kata, dijawab sepatah kata. Ditegur, kamu buang muka. Dimarahi, malah menjadi-jadi.

Malam ini, Bapak sebenarnya rindu sekali pada kamu.

Bukan mau marah atau mengungkit-ungkit masa lalu. Cuma Bapak sudah merasa terlalu tua. Usia Bapak sudah diatas 60-an. Kekuatan Bapak tidak sekuat dulu lagi.

Bapak tidak minta banyak…

Kadang-kadang, Bapak cuma mau kamu berada di sisi bapak. Berbicara tentang hidup kamu. Meluapkan apa saja yang terpendam dalam hati kamu. Menangis pada Bapak. Mengadu pada Bapak.Bercerita pada Bapak seperti saat kamu kecil dulu.

Andaipun kamu sudah tidak punya waktu samasekali berbicara dengan Bapak, jangan sampai kamu tidak punya waktu berbicara dengan Allah.

Jangan letakkan cintamu pada seseorang di dalam hati melebihi cintamu kepada Allah.

Mungkin kamu mengabaikan Bapak, namun jangan kamu sekali-kali mengabaikan Allah.

Maafkan Bapak atas segalanya. Maafkan Bapak atas curhat Bapak ini. Jagalah sholat. Jagalah hati. Jagalah iman. ”

Pemuda itu meneteskan air mata, terisak. Dalam hati terasa perih tidak terkira.

Bagaimana tidak ?

Sebab tulisan ayahandanya itu dibaca setelah 3 bulan beliau pergi untuk selama-lamanya…

PS: Sudah tahu fungsi tisu dan telepon/HP?

Yap. tisu untuk menghapus air mata kita. HP untuk menghubungi ayah/ ortu kita yang masih ada.

Untuk yang ayahnya sudah berpulang, silakan kirim doa terbaik. Semoga kita dikumpulkan di jannah-Nya. Aamiiin….

#MenolakTua

‪#‎MenolakTua‬ So, how old am I per today? 33 years OLD *sigh* I’m already getting older and older. But, with my all consciousness, I really feel that I’m still young at mind Yes, being grateful that I’m still living in this world, and so blessed that this morning I walk (combined with run!) to my office…!

CIMG6608 CIMG6609 CIMG6612

That’s a WOW for me, it proves that we can do anything, if we believe and work hard to get it. So, thank you everyone, thank you buddies that already send a ‘Happy Milad’ whatsoever to me, especially thank you for Googleee….

google

4×6 atau 6×4??

Baiklaaahh, sebagai emak2 yang punya anak bercokol di kelas 2 SD, saya terpanggil buat ikut huru-hara terkait kasus 4×6 atau 6×4.
Well, setelah baca link ini saya jadi gimana yaa, takjub aja gitu, dengan model pendidikan di republik ini.
Kita banyak berkutat dengan hal-hal kognitif, dan melupakan sejumlah aspek urgent, seperti apresiasi terhadap anak didik, encourage mereka untuk bisa jadi lebih baik, dan sebagainya.
Jadi keinget kata-kata Neno Warisman. Anak-anak Bunda Neno tuh, pada milih Homeschooling. Kenapa?
“Karena anak saya butuh TANTANGAN. Bukan ANCAMAN. Sekolah umum biasanya identik dengan ANCAMAN. Nilai merah, itu ancaman. Guru yang galak, marah, serba mengancam, itu jelas ancaman. Anak saya suka dan menggemari tantangan. Karena itu, mereka memilih metode homeschooling yang memang cocok dengan kepribadian serta semangat mereka yang haus tantangan….”
Jujur, saya juga skeptis dengan model pendidikan di SD Negeri. Guru anak saya—-no need to mention nama SDnya lah yaaa, ntar anak gue di-bully lagi, hehehehe—– jadul sejadul-jadulnya.
Masih suka mengejek hasil prakarya anak saya. 
“Jelek sekali ini lukisannya??!?!”
Masih gemar mencaci murid2nya yang ‘berdiskusi’ di dalam kelas
“Kalau masih ribut aja, nanti kalian saya kunci dari luaarrrr!!!”
Glek. 
Ini saya sama sekali enggak fitnah ya. Karena saya DENGAR SENDIRI, ketika suatu ketika saya anterin Sidqi ke sekolah. (ceritanya sidqi telat beberapa menit, karena harus sholat jamaah di Masjid).
Dan, saya dengar dengan KUPING SAYA SENDIRI, bahwa si guru itu bentak2 dan melototin matanya sampai yang toenggg… wengg… wenggg…. 
Udah komplainnya? 
Belum 🙂 Yang paling PARAH adalaaah….. anak saya enggak bisa sholat dhuhur SETIAP HARI!
Kenapa? 
Karena, anak saya masuk jam 11:30, pulangnya jam 16:00 (bisa lebih). Istirahat jam 14:00. Sementara adzan Dhuhur jam 11:40. Harusnya, dia sholat ke Masjid dekat sekolah… Tapi, pas jam istirahat, PAGAR GERBANG SEKOLAH TERKUNCI RAPAT. Doeeenggg… Lalu, mau sholat dimanaaaaa???
Sementara, mushola (dan toilet utk wudhu) sekolah sama sekali ga representatif. Kami udah komplain soal ini, minta jam masuk mundur, tapi oh well…. belum ada tanggapan menggembirakan.
Jadi, oh, Bapak Menteri Dikbud yang terhormat (dadah-dadah ke Pak Nuh….) sebelum masa jabatan Bapak berakhir, mbok ya, tulung itu dibenerin hal printhil tapi penting semacam ini.
Percumaaaa……melahirkan murid2 yang cerdas secara kognitif, tapi enggak punya percaya diri, nalarnya dipatahkan, tidak di-encourage secara positif.
Percumaaaa…….Anda gembar/gembor soal pendidikan karakter blah blah blah itu kalau ternyata Anda (dan para bawahan Anda) justru malah mencerabut hak anak untuk beribadah (sholat)
PERCUMA…!!!
Dan, pesan saya untuk Menteri di Kabinet baru, oh… tolonglah… tidakkah Anda ingin pendidikan di negeri ini melahirkan anak2 yang happy, bahagia, cerdas, akhlak baik, MINIMAL punya karakter kuat, seperti BJ Habibie???
Jangan patahkan Habibi kecil, Sidqi kecil, dan bocil2 lain… Karena mereka adalah calon pemimpin kita.
Kalau untuk soal 4×6 dan 6×4 aja, Anda sudah merasa berhak men-judge itu sebagai failure, jadi… mau digimanain lagi anak2 kita?
PS: Di bawah ini adalah komen saya di sebuah akun grup. 
kalikalian
Nurul Rahmawati Waw, waaaaw, banyak banget yang komen di mari, yak min? Miminnya senyum2 nih pasti, hehehhe…. Eniwei, saya sebagai ortu murid kelas 2 SD melihat kasus 4×6 ini adalah sebuah “letupan kecil” buruknya kurikulum 2013. Ini hanya contoh kecil saja, bahwa Kemendikbud (halo pak nuh…!) lebih menitikberatkan pada kognitif, dan abai–sangat-sangat-abai dengan karakter, akhlak, struggling spirit, dan “menghargai” anak. Saya merasa, anak saya dicerabut haknya, bahkan untuk SHOLAT DHUHUR saja enggak bisa…! Kalo ada yang bilang, “Yaa… itu resiko sekolah di SD Negeri…” atau “Keluarin saja anaknya, pindah ke SD Islam…” well, ga bisa gitu juga. Karena, sebagai anak bangsa, kita semua punya kewajiban plus hak, untuk menyuarakan pendapat, bahwa seharusnya Kemendikbud itu bertugas MENDIDIK dan MEMBUDAYAKAN karakter baik untuk anak2 generasi penerus bangsa. Bukan sekedar men-judge “Eh, kamu skornya 20 aja yaa…” that’s it. Btw, tengkiu buat mimin yang udah bikin FB jadi rame. You rock!!

TGIM: (Jangan) Memulai Hari dengan Marah

Heyho. Udah hari Senin lagi nih. Waktunya TGIM… alias Thanks God It’s Monday!

Hari ini saya mulai dengan uring-uringan kelas berat. Ga tahu, adaaaaa aja hal-hal yang (mungkin) tampak remeh, tapi sukses bikin mulut saya nyap-nyap. Terutama, pas Sidqi susah banget dibangunin.

Dengan nada yang (berusaha) menekan emosi, saya bilang, “Sidqi, bangun. Subuh itu waktunya pendek banget. Ayo sekarang, bangun, pipis, wudhu, sholat.”

Sidqi masih mulet. Ogah-ogahan. Sumbu pendek saya langsung bereaksi. “Sidqi…!!” nada naik beberapa oktaf.

“Tunggu Bu, beberapa menit lagi…”

“Mau berapa menit? Ini subuhnya udah mau habis! Jangan sampai kepandaian yang Allah titipkan untuk kamu,  malah kamu gunakan untuk membantah perintah Allah, dan bikin orangtua kamu marah-marah!”

*glek*

Kenapa gue musti se-nyap-nyap itu ya? Tidakkah aku ingat peristiwa kualat gara-gara omongan emak yang menjelma jadi kenyataan?

Astaghfirullah…. saya langsung istighfar, dan Sidqi –matanya gak berani (atau ogah??) natap ke arah saya–langsung melakukan instruksi di pagi hari: pipis, wudhu, sholat.

Blah. Kenapa saya gampang banget ‘meledak’? Sepertinya, energi yang terkumpul belum tersalurkan dengan baik. Yap, weekend kemarin, adalah cheating day, saya makan banyaaaaak banget. (lupa kalo lagi diet madu pahit, hahaa?)

Akibatnya, lemak-lemak ‘arisan’ di dalam perut, dan belum melakukan aktivitas membakar kalori.

Ya wis. Daripada memulai hari dengan marah gak jelas, mendingan saya ‘buang’ kalori dengan senam.

SENAM

Fisik butuh gerak, ruhani butuh penyegaran. Abis senam, saya puterin MP3 murottal. Dengerin tilawah Al-Qur’an, rasanya adeeeemmmm banget. Semacam self-ruqyah kali ya?

MUROTTAL

Dan, sekarang?

Saya bisa tersenyum bahagia. Badan seger buger, hati juga enggak hampa, insyaAllah…

“Sidqi, maaf ya, ibu tadi pagi-pagi sudah ngomel. Sekarang Ibu berangkat yaaa…Assalamualaikum….”

“Waalaikumsalam, hati-hati ya Bu… Pulangnya jangan malam-malam yaaa….”

*melting*

TRAVELING GRETONG GEGARA SILATURAHIM

Bisa traveling, GRETONG alias GRATIS, dapat uang saku pulak, gegara silaturahim?

Bidih, siapa yang nolak, cobaaaa?

Alhamdulillah banget, aku pernah mencicipi masa-masa itu. Flashback ke tahun 2005-an ya cyin. Saat itu, aku masih langsing jadi reporter di SCTV.

Karena stuck gak nemu bahan liputan yang oke, muter2lah daku, cameraperson plus driver di seputaran Surabaya.

Ada aturan tak tertulis buat para reporter. Selama di mobil, HARAM hukumnya kalo enggak nyetel 100 FM Suara Surabaya. Kenapa? Ya, gitu deh, radio ini kan sumber info yang top markotop.

Salah satu info yang aku dapetin, ada Hotel bintang 4 (sebut aja hotel SPH) lagi mau bikin outing buat para pelanggannya. Destinasinya? Singapura plus Malaysia. Luar negeri, neik!

TING! Sebuah bohlam menyala di kepala. Sebagai anak muda penuh imajinasi plus mental oportunistis sejati *blah!*, aku menyusun ide, modus dan strategi supaya bisa ngikut di rombongan outing ini.

Padahal, aku bukan pelanggan di hotel ntuh.

Dan, sebagai reporter yang masih piyik bin junior banget, nominal tabungan belum menunjukkan angka yang menggembirakan.

Tapi… tapi… aku kan re por ter. Tu kang ca ri be ri ta. Dan, hotel itu kan bu-tuh-ba-nget-bu-at-di-be-ri-ta-in.

Gotcha…!

Berbekal ke-pede-an level akut, plus semangat membara (plus doa, tentu saja) aku bulatkan tekad untuk SILATURAHIM ke pihak hotel. Please note, bahwa aku SAMA SEKALI ENGGAK KENAL dengan mereka ya. Tapi ya itu tadi. Modalku adalah kekuatan postive thinking, plus, ke-pede-an yang membumbung tinggi. (yang ini beda tipis ama enggak tahu diri sih yaa, heheheh…)

Eh, Allah Maha Baik.

Walhasil kami ngobrol bas-bis-bus, yang intinya aku siap meliput dan memberitakan semua kegiatan hura-hura-syalala yang dilakukan pihak hotel. Plus, kita tampilin interview dengan GM Hotel. Pokoke dijamin syiiip!

Si manager hotel sempat jawab gini, ”Sebenarnya kita alokasikan buat anak koran J*wa P*s sih mbak. Tapi nanti kita lihat lagi ya. Kalau anak JP itu nggak respon, ya mungkin buat mbak gapapa lah.”

*Berdoa dimulai*

Fa idza azzamta fatawakkal alAllah… Ketika engkau sudah membulatkan tekad, sudah bersilaturahim, sudah mengupayakan negosiasi, maka serahkan hasilnya pada Allah… Tawakkal sejak awal.

Lalu, hasilnya?

Taraaaaaa….. Ini dia…. foto-foto selama kami dipersilakan outing bareng dengan hotel.

Hasil silaturahim --> traveling gretooong

Hasil silaturahim –> traveling gretooong

Asyik ya, “hanya” dengan modal silaturahim, ternyata impian kita bisa mewujud jadi nyata. Gara-gara silaturahim, untuk kali pertama saya punya paspor, sodara-sodara…!

Dan, rasanya semakin”heroik” gitu lo, karena kami sendiri yang nge-lobi ke pihak hotel. Bukan karena campur tangan atau intervensi dari pihak bos-bos SCTV di Jakarta. Ihiks!

sing lagi

Jadi, kalau ditanya, apakah saya jadi adiksi ber-silaturahim?

Weits. Lihat-lihat dulu. Kalau ada undangan untuk silaturahim dengan teman-teman SMP, SMA, dll-nya, jujur niiih, jujur… aku bakal memilih untuk say no.

Kenapa? Well, gimanapun juga, aku sering diterpa badai ‘enggak pede’ dan ‘enggak bisa menerima kenyataan’ demi mendengar ‘bully’ mereka, sebangsa….

“Ya ampuuuun, kamu LEBAR banget ya Rul, sekarang?” *diucapkan sembari mata melotot zoom in zoom out*

“Wiiiksss, ini ada adik bayinya atau emang isinya full LEMAK semua siiih?” *diucapkan sembari mijit-mijit my tummy TANPA SEIZIN SAYA*

Atau… kalimat-kalimat sarkas yang menujes-nujes hatiku, dan rasanya sepahit puyer obat sakit kepala.

“Oh. Jadi, kamu sekarang cuma kerja di yayasan sosial gitu? Nggak nyangka ya, si ranking 1 itu cuma jadi penulis untuk majalah yayasan?” *diucapkan dengan nada sengak bin nyinyir.

“Ya elaaah… ngapain kerja di yayasan gitu? Berapa sih gajinya?” *diucapkan sembari nglirik-nglirik sadis*

Baiklaaaah… cukup sekian dan terima kasih lho, atas hina-dinanya *kalem*

Kalau momen silaturahim (yang biasanya dibungkus REUNI, TEMU KANGEN, dll) hanya jadi ajang untuk PAMER karir yang moncer, atau MENGHINA nasib rekan, yaaa… mohon maap….

I will say BIG NO for attending this and that.

Tapiii… kalau silaturahim dengan member KEB alias Kumpulan Emak Blogger?

 

Pantang buat ditolak!

 

Celoteh Sidqi

 Belakangan ini, gw cukup takjub dengan berondongan pertanyaan yang dilontarkan Sidqi.

One day, dia berceloteh begindang, “Bu, kenapa ya, Allah kok menciptakan Merkurius, Venus dan planet-planet lain. Padahal, yang bisa dihuni kan cuma bumi. Jadi, planet-planet itu fungsinya apa yak?”

*thet-thoooot*

SIDQI

Blum sempat gw dapat jawaban yang cespleng, eh, kemaren, doski hadir dengan pertanyaan demikian:

“Bu, sunat itu sakit nggak?”

“Nggak kok Nak….”

“Sunat itu kalo nggak sakit, pas disunat umur berapa?”

*mikir sejenak, dan siap-siap nyeplos ngasal* “Yaaa… pokoke di bawah umur 10 tahun…”

“Emang, kalo di atas 10 tahun udah trasa sakit?”

“Ya iya dong… semakin besar kan semakin sakit…. ”

*don’t take it as pornography lo yaaa… ini kan perbincangan pelajaran Biologi antara emak-anak*

“Hmm… sunat itu harus ya Bu?”

“Ya iya dong… kalau nggak sunat, nanti najisnya ngumpul terusss….”

“Kenapa ya, kok Allah nggak menciptakan aku, trus aku sudah langsung disunat? Kenapa kok aku harus merasakan sunat? Kan lebih enak kalau Allah langsung ciptain aku dan aku udah langsung tersunat?”

*kriiiik…kriiiikkk*

Trusss, manakala dihadapkan pada sebuah undangan manten, Sidqi langsung bertanya penuh kerisauan (bosen pake kata ‘galau’ melulu)

“Bu, nanti pasanganku siapa?”

“Maksud Mas Sidqi?”

“Ya, nanti aku nikahnya sama siapa?”

*gubrak*

“Yaaa… nanti Allah yang kasih pasangan buat kamu. Jangan dipikir sekarang. Yang penting Mas Sidqi jadi anak baik, sholih, taqwa, pinter, rajin kerja, insyaAllah ada pasangan terbaik buat kamu….” *bijak mode on*

“Tapi kan, manusia harus berusaha cari pasangan kan Bu?”

“Iyaaaa…. tapi, Mas Sidqi kan masih anak-anak, yang penting mas Sidqi belajar aja yang baik… jadi anak sholih, sayang sama Ibu…. Trus, nanti kerja keras dan cerdas…”

“Hmmmm… enakan jadi cewek ya Bu….”

“Loh, emangnya kenapa?”

“Cowok itu harus sunat, sakiiit….”

“Lah, cewek juga harus hamil, melahirkan… Lebih sakit loh… Kalau anaknya empat tuh, kayak eyang uti, brarti sakitnya empat kali dong… Cowok sunatnya satu kali aja….”

“Tapi, cowok kan wajib kerja Bu…. tanggungjawab ke keluarga… cewek kan nggak wajib….”

*nginyem*

Inspirasi dari Bayi Dua Hari

2 Nov 2011

Assalamualaikum. Alhamdulillah tlah lahir putra kami, tgl 2 Nov 2011 jam 1630. Mohon doanya semoga jadi anak yang sehat, sholih, taat, dermawan & ganteng 🙂 Widyo Adji & Izza-

Sender: Izza +6285730438XXX

Aku tersenyum simpul. SMS dari Izza, sahabatku di kantor. Rupanya si cantik  ini sudah jadi seorang ibu. Hmm, ngeliat gayanya yang ABG-wanna be, saya gak bisa membayangkan deh, kira-kira si Izza ini bisa gendong baby boy-nya dengan baik dan benar gak ya? Heheh…

Yang jelas, dari zaman dia masih perawan ting-ting, Izza sangat mendambakan kondisi ‘berbadan dua’. Waktu itu, kami berdua tergabung dalam sebuah organisasi filantropi di Surabaya. Memanfaatkan momen Hari Ibu, kami—para awak organisasi itu—melakukan pawai ‘Sayangi Ibumu’ di sepanjang jalan protokol kota ini. Biar agak ‘dramatis’, beberapa rekan perempuan memainkan peran sebagai bumil alias ibu hamil. Saking ngebet-nya si Izza,jadilah, ia yang pasang badan untuk memerankan tokoh ibu hamil!

Ehh, sekarang Izza hamil beneran. Udah melahirkan, lagi. Di luar pulau, pula. Kabar terakhir yang saya terima, Izza kini merantau ke sebuah daerah di Kalimantan, bersama belahan jiwanya. Bila seorang wanita ketika hendak melahirkan, untuk setiap 1 sakit yang dideritanya akan mendapatkan pahala para mujahid. Hmm, keluarga kecil yang berbahagia. Aku balas sms dari si cute ini, ”Jeung, barakallah atas kelahiran putranya… InsyaAllah, bakal jadi jundi Allah yang siap menyiarkan panji-panji Islam di muka bumi… Allahu Akbar!”

***

Selang dua hari kemudian. Ada status di Facebook Izza yang cukup ‘anomali’.

Selamat jalan anakku tersayang Muhammad Fawwaz Al Fatih. Mama Papa sayang banget ama Fawwaz. Maafkan Mama Papa ya kalo selama 2 hari belum bisa menjadi orangtua yang amanah bagi Fawwaz.Cium sayang Mama Papa

 Jlegeeer… ini apalagi? Perasaan Izza baru dua hari lalu ngabarin kelahiran putranya? Hlo kok? Saya pantengin komentar-komentar yang berhamburan di bawah statusnya Izza.

 Sabar ya Mbakyu…

Innalillahi wa inna Ilaihi Roji’un…

Fawaz pasti sudah sangat bahagia di sisi-Nya.. Sudah lebih bahagia..

Yang tabah Za… Semua kehendak Allah…

Saya tidak tahu harus berkata apa, namun saya mengucapkan bela sungkawa sedalam dalamnya, semoga kamu sekeluarga diberikan ketabahan dalam menjalani ujian hidup ini.

Masya Allah….

Rasanya baru kemarin… Betul-betul baru kemarin saya terima info super-bahagia dari saudara saya ini. Dan hari ini? Oh, bukankah sang baby-boy itu masih berumur 2 hari? Bukankah ‘malaikat kecil’ itu masih berupa bayi merah yang selalu tidur di atas ranjang, sambil menghisap ASI dari bundanya, dan kerap bangun di tengah malam, untuk minta digantiin popok? Bukankah ia masih bayi tak kintang-kintung yang lutu-nggemesin-dan-pipinya-minta-diciwelin-setiap saat? Dan, hari ini, ia harus menghadap Ilahi di umurnya yang belum genap dua hari?

Masya Allah….

Seluruh rongga kepalaku laksana berputar demi membaca status Izza barusan. Bayinya tiada. Berpulang ke Yang Maha Kuasa. Di tengah kondisi duka yang menyayat, Izza masih sempat meladeni komen para facebookers. Dan ia menjawab, ”Makasi doanya semuanya. Fawwaz lahir tanggal 2 November 2011 jam 16.30-meninggal tanggal 4 Nov 2011 jam 00.30. Dia nggak sakit apa-apa, tapi ketika lahir gak bisa nangis keras, sempat minum air ketuban dan kekurangan oksigen.InsyaAlloh saya sama suami sudah ikhlas.Semoga doa teman-teman buat kami terkabul,semoga Fawwaz menjadi penolong kami kelak di akhirat.Amin 🙂

Ada semilir angin yang berhembus di antara rambut-rambut halus di kulit tanganku. Merinding rasanya begitu menyaksikan ketabahan dan keikhlasan Izza. Toh, anak memang tak lebih dari sekedar ‘titipan’. Kalau Allah hendak mengambil ‘barang titipan’ dengan cara apa saja, maka tak ada yang bisa kita lakukan selain mempersilakan, dan selanjutnya bertawakkal dengan segala skenario yang telah dituliskan Sang Maha Sutradara Kehidupan.

Izza… Tak kusangka, perempuan berhati lembut yang senantiasa ceria itu, sungguh-sungguh menyimpan bongkahan keimanan yang begitu kuat. Rasulullah SAW pernah bersabda kepada seorang wanita yang ditinggal meninggal oleh anaknya yang satu-satunya:“Tidaklah seorang lelaki atau wanita muslimah ditinggal mati oleh anaknya sedangkan dia mengharapkan pahala dari Allah, melainkan Allah akan memasukkannya ke dalam surga disebabkan oleh anak-anak tersebut.”

Subhanallah, surga yang demikian menawan, telah menantimu, saudaraku….

Masih sabda Rasul untuk orangtua yang putranya meninggal, “Tidakkah membuatmu senang bahwa engkau tidak mendatangi salah satu di antara pintu-pintu surga melainkan engkau mendapati anak itu di sisinya bergegas untuk membukakan pintu untukmu?”

Selamat jalan, wahai bayi mungil Fawwaz… Nanti, sambut mamamu tersayang ya Nak… Sampaikan ucapan terima kasih karena orangtuamu telah menjadi sosok hebat, yang begitu mengikhlaskan kepergianmu…

Membuat kami, para orangtua sadar bahwa ada ‘amanah luar biasa’ yang harus kami pertanggungjawabkan di yaumil hisab nanti…

Doa kami semua untuk kebaikan keluarga kecilmu… Adek Fawwaz… biarpun usiamu di dunia hanya 2 hari, tapi kehadiranmu yang sesaat ini, sungguh menjadi inspirasi bagi kami… Selamat jalan adek…  

PS: Re-post dari sini

iza

Alhamdulillah, sahabat saya, Iza sudah dikaruniai 2 buah hati dan HARI INI ia baru saja melahirkan putra ke-3 nya. Allah Maha Besar, Maha Pemurah, Maha Pemberi Rezeki….

Karena Iza dan suami ikhlas & ridho atas ketentuan Allah, maka dalam kurun waktu 3 tahun saja (2011-2014), Iza mendapatkan “hadiah” berupa 3 buah hati penyejuk qalbu…

Nikmat Tuhan yang manalagikah yang engkau dustakan? 

Lomba Foto: “Aku dan Mas Gagah”

Kudu ikut… Harus!!

BERANDA RASA HELVY TIANA ROSA

KMGP2Sahabat, ikut yuk! Lomba Foto: “Aku dan Mas Gagah”

Ekspresikan diri Anda sekeren-kerennya bersama “Mas Gagah” yang sudah turut memberi spirit dalam hidup Anda, dan buku Ketika Mas Gagah Pergi edisi apapun karya Helvy Tiana Rosa

Persyaratan


1491369_10152231265422693_1687062493105709614_o
1. Peserta lomba adalah mereka yang telah menjadi member Fan Page: Sahabat Mas Gagah dan sudah follow @sahabatmasgagah di twitter.
2. Dalam foto harus ditampilkan buku Ketika Mas Gagah Pergi edisi manapun
3. Dalam foto harus tampak Anda bersama seseorang (bisa abang, adik, suami, anak, teman) yang memiliki spirit seperti Mas Gagah (gambar boleh dari depan, atau tampak samping).
4. Lebih disukai bila foto diberi 1-5 kalimat yg menginspirasi dan mengajak orang lain untuk mendukung Film KMGP
5. Kamera yang digunakan boleh DSLR, poket, atau kamera ponsel, tetapi hasil foto harus terang, tajam dan jelas agar bisa digunakan sebagai bahan promosi.
6. Peserta hanya boleh mengirim 1 foto terbaik
7. Foto dikirim melalui…

View original post 160 more words