Nostalgi(l)a Kerja di Tipi

Hai, apa kabar blog? **plaaak* ditabok

Keasikan ikutan kuis main instagram (follow saya di @bundasidqi yaaah), blog ini jadi agak ke-anak tiri-anak tiri-an deh. Huhuhu *mewek.

Baiklah, mau cerita yang enteng-enteng dulu ajah ya. Sebagai pemanasan setelah sekian lamanya daku tak bergumul **et dah, (((BERGUMUL))) dengan blogging dan sodara-sodaranya.

Eh, kapan hari itu, Mak Lies sempat posting, kalo anak prewin beliau mupeng berats jadi jurnalis TV. Wohooo… kok aku jadi menyaksikan dirikuh sendiri 10 tahun yang lalu yak? Waktu itu, aku baru aja lulus dari jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi surabaya, sebut saja Universitas Airlangga 🙂

Begitu lulus, rasanya udah kagak sabar join jadi salah satu punggawa Liputan 6 SCTV. Iiihh… ngetiknya sambil gemeteraan iniiiih hihihi. Sejak dulu kala, aku ngefans berat ama Jeung Ira Koesno, Rosiana Silalahi, apalagi kakak Arief Suditomo. Duh, duuuh *l heart you :))

Setelah melewati rangkaian tes yang alakazaaam (kalo gak salah 5 tahap deh), akhirnya aku kudu wawancara langsung dengan Duo Big Boss-nya Liputan 6 SCTV. Yuppiess, duet mauttt Karni Ilyas plus Don Bosco Salamun. Ya ampyuun, yang namanya anak bawang yak, kudu sabar nungguin duo om2 itu nyelesaiin kerjaan mereka. Aku udah yang mati gaya, nungguin wawancara dari jam 9 pagi sampe jam 4 sore aja gitu dooong *sigh*

Lupa materi pertanyaannya apa. Yang jelas, Alhamdulillah, si bocah unyu bin innosens ituh dinyatakan diterima jadi Reporter Liputan 6. Yipppiii…!

Zaman segitu ya, tahun 2004-an, Liputan 6 adalah paket berita yang paling ngehittss. Jadi, kalo diriku lagi nyari berita di acara apapun, rasanya kayak “nyonya besar” yang paling dinanti kehadirannya gitu loh. Hahaha. Padahaaaal, gimana aslinya kerja di TV? Remeeeek boook. Capeeek. Bingiiiitss.

Bayangin azah. Daku kudu berangkat dari rumah JAM TIGA PAGI ((yes, kagak salah baca, jam TIGA PAGI)) untuk siap-siap bawain acara Liputan 6 Jatim. Udah ngantuk2 gitu kaan? Trus, abis siaran, kudu LIPUTAN jelajah kota, stand by terussss sampe jam DELAPAN MALAM! Dan, itu teruuuus terusan kayak begindang. #glek.

Tapi, entahlah, mungkin karena I did it passionately dan cintaaa banget ama tuh kerjaan, plus umur saya kan masih muda banget lah yaaa… jadinya saya lumayan enjoy lah, kerja di sana. Yang sulit banget dilupakan dari kerja di industri TV adalah: aneka hal remeh-temeh yang keliatannya sepele, tapii heeiii… nggak bisa dianggap sebelah mata 🙂 Dan, kalo pengin tahu soal pernak/pernik kerja di TV, pentiiiing banget mantengin The East di NET TV!

Acung jempol buat tim kreatif di NET! Ya ampyyyun akang WishnuTama and the gank emang superb abiss deh. Belum reda rasa sukaaa saya ama Tetangga Masa Gitu, eh, sekarang mereka come up dengan “The East” yang–walopun agak2 kaku dikiiiit–tetap bisa bikin saya mengenang masa lalu *jiyaah*

Iya lo. Karakter2 yang ada di situ kumplit banget. Model2 bos nyinyir-jutek-judes, trus produser yang terperangkap antara kudu be-nice ama bosnya plus ngemong staf, ada karyawan penjilat, karyawan o’on, karyawan yang doyan ngutang, hahaha… Kewreeen nih! Office politics-nya juga unyuu deh.

Pokoke, jangan lupa nonton The East yak.

Jadwalnya?

Errrr…. lupa 😦 Aku biasanya mantengin via youtube. Yang episode perdana, ada Dian Sastro loooh! Walo muncul sebentar, tapi lumayaaan lah. Bisa ngobatin rindu plus nostalgi(l)a kerja bin hectics di Tipi, hehehehe…

Advertisements

[EF#6] Again, About Alter Ego

Just in case you haven’t read my previous post about “Alter Ego” in Indonesian, let me tell you, that I have to confess : I have more than an alter ego.

I could be very calm. In another time, you can see me as a very sharp-tounged mommy. While I’m in “a trance condition”, I could be the one that I myself can’t recognize “Who am I? Is it really @nurulrahma?”

IMG_0083 IMG_0084 IMG_0086

However, I should be grateful for having this plural egos. As a blogger/ freelance writer/ columnist, imaginations is very very important things. Life is never flat. Because I can see all the circumstances, with various point of views.

For example, when I go to a food court with my family, at weekends. Lot of people overthere. We want to be served as quick as possible. A little bit ‘chaos’ here and there. Some people yelled, “Where is my dish???” “What a very sloooow waiter?” “Come on!! I’m hungry and you guys still have not cook my meals yet?”

My egos will say:

As an angel wanna-be: “Oh my God. Please be patient, guys. Let the chef and waiters do their best. Don’t expect too much. Everybody’s going here for having fun, right? Please… calm down…

As a careless person: “None of my business!”

As a kepo (knowing every particular objects) person: “Ummm… by the way, why that guy intimidates the waiter? Is he that rich and powerfull enough? Or… he thinks he’s the (kind of) twitter-warrior, who can invite another guy to fight at GOR Istora Senayan? :p”

As a terrible and sharp-tounged-lady:  “What the f**ksss!! Do you think everybody will support you, hey bast**rd!! We don’t care whether you got your dish as quick as you wish or not, but heiiii, please bear in mind, that everybody’s seeking happiness right now!! And you just screw it up!”

As the “real ego” @nurulrahma: “Just count my blessings. I’m not that waiter. I’m not that mad customer. I can go here with my family, order a yummy meal, enjoy my weekends. I just feel free… **dancing ala Syahrini**

See?

Thanks to my “alter egos”. They drive me a little bit “crazy”, but I enjoy them so much. At some points, I can be cheerful and feel so sad at the same time. Maybe some people consider it as a anomaly, but I’m fine with that J

While joining BEC and writing this post, my egos always debate each other. Some said, “Come on, why you should join this blog club? There is no advantage for you! You work at a local foundation, it does’nt need the English skill at all! Besides, you no longer practice your English, and it’s impossible if you can beat those challenges!!”

But, finally, I can beat this ego. And my “angel wanna be” said, ”Just do it! No matter what, just develop your post and show it to the world! It always seems impossible until its done.”

Em(b)ak “Ajaib” dengan Kadar Banyol Overdosis

Cewek lucu yang bisa ngebanyol (secara natural) itu bisa dihitung jari. Lihat aja deh. Kalau saya tanya, siapa nama pelawak perempuan ngehits di Indonesia? Mungkin, yang langsung mencuat, hanya beberapa nama. Nunung atau almarhumah Jujuk Srimulat. Atau, yang rada kekinian, si Rina Nose kali ya?

Yang jelas, ngebanyol itu (menurut saya) syusyaaaah bangets. Niat mau bikin tulisan lucu, begitu dieksekusi, ehh… garing krik krik. Beda banget dengan para blogger atau facebooker di bawah ini. Buat saya, mereka semua midas!! Para cewek/emak/perempuan hebat yang bisa bikin saya ngikik, kejengkang, kejedot guling-guling, gara-gara tulisan yang aduhai. Siapa aja?

1. http://erryandriyati.blogdetik.com

Saya sama sekali bukan penggemar Korea. Beberapa kali lihat dramanya (Yuhee The Witch, salah satu yang saya ikuti) dan aku sama sekali nggak masuk taraf kecanduan.

Tapii, begitu baca blog ini, ya ampuuun, kok aku ngerasa terhibur banget yak? Mak Erry emang penggila Korea sejati. Die-hard-fans gitu deh. Apapun postingan yang doi bikin, UUK banget –> Ujung-ujungnya Korea.

Aku bisa ngerasain bahwa apapun yang doi tulis, pada dasarnya adalah wujud cinta dan rasa syukur doi karena diamanahi dua bocil yang unyu, keren, dan nggemessiiin banget: Kayla dan Fathir. Jadi, kalau hari kamu terasa suram dan mencekam *haissh* segera kunjungi blog Mak Erry a.k.a bibi tititeliti. Dan, tertawalah lebaaar lebaaar bersama doi!

2. http://diarysitimaryamah.blogspot.com

Aku jadi fans beraaat (literally) mak ngapak-ngapak ini pas doi menang di kompetisi Tulis Nusantara. Trus, mulai ketagihan baca-baca blog doi

Eh, ternyata mommy-nya Salma ini lebih aktif di FB. Yo wis, aku stalking deh, status-status doi yang wiks-sangar-banget-jeh ituh. Yang ngejempol bisa ratusan sampe seribu lebihh!! Ish..ish… ishh… mantap kali nih emak…

Dan ternyata, selain gape nulis, mak Siti Maryamah ini penerusnya Khadijah. Jago dagang doi boo… Belakangan, doi malah sering njembrengin barang dagangannya di FB. Di satu sisi, saya bahagia siy, karena itu artinya rezeki blogger teridola ini kian moncerrrr bangett… Uhuuiii :)) Tapi, di sisi lain, aku kehilangan status cethar-lucu-doi yang penuh pesona ituh. Hikss. Semoga Mak Siti, walopun sibuk buka lapak teteup inget sama fans2nya ini lah yaaa.

3. gustidha.blogspot.com

Gimana kalo seorang jurnalis berita ekonomi-politik-dll ngeblog dengan gaya yang nyantaaai kayak di pantaaii, dan lucu bikin bibir mecucu? Mampir deh, ke blognya si jeung yang mengklaim dirinya Totally Absurd Woman ini. Doi bisa nulis soal politik, hosip-hosip seputar political things dan bikin…. arggghh… isn’t that true??

Bisa dibilang blog ini adalah sarana penyaluran alter ego Gustidha. Doi bisa nulis dengan style dan point of view doi, yang bedaaaa banget dengan gaya penulisan majalah serius.

Eniwei, nih mbak juga doyaaan banget ama Korean things. Heraaan deh, kenapa ya, sebegitu powerfull-nya K-effects di kalangan para em(b)ak2 unyu republik ini?

4. http://www.emakgaoel.com/

Dari judul blognya aja, ketahuan banget kalo si empunya blog adalah tipikal fabulous lady yang sooo gorgeous, lucu, sekaligus gahoool to the max. Walopun begitu, doi juga sering menyelipkan filosofi hidup *tsaah* yang bikin aku ngangguk-ngangguk sembari membatin “Iya juga ya maaak… bener bangeet niiih…” Pokoke emak hore satu ini kumplit banget dah. Jago mengelaborasi segala macam isyu, jago public speaking, jago ngefiksi, akyu juga mauuu punya maktir macem maktirnya si pungkay eniiih… :))

5. sijagomakan.com

Ahaaaaiii, ini diaaa… blogger arek Suroboyo paporitkuuuh..! Doi nih, redaktur di salah satu media bergengsi gitu deh. Tapi, prejengan dan pola pikirnya yang “otentik” bikin mbak Manda la Mendhol kudu punya blog. Yeah, buat nyalurin ‘alter ego’-nya. Ha ha ha. Mirip2 ama si Gustidha lah ya.

It’s a wraapp…!! Lima blogger di atas adalah para em(b)ak yang bisa menebar kelucuan di jagat blogosphere. Mereka bisa nulis dengan asik banget, dan bener-bener bisa menghibur hati yang gundah gulana.

Kalo kamu? Siapa blogger unyu terpaporitmu?

Alter-Ego

Haihaii semuaahh…

Wiks, kangen deh ngeblog pake bahasa Indonesia **huahahaha, gayamuuuu maak** Abisnya, semangat blogging saya sepertinya hanya terpantik oleh tema-tema BEC deh. Huhuhu. No wonder, ada beberapa sahabat yang nanyain, kemana aja maknya Sidqi enih? Kok menghilang dari dunia persilatan dan kontes2 blog yang makin berhamburan ituuh?

Ha ha ha. Makasiii ya Mak Anesa Nisa, yang kemaren chatting menanyai kabarku. Iyaah, daku emang lagi woles alias selow banget ngeblognya. Kalau nggak ada yang urgent banget (ya misal, challenge BEC ituh), sepertinya blog ini dibiarkan ala kadarnya. 🙂

Eh, eh, udah pada tahu BEC kan? Ya udahlah cuss aja ke website yang digawangi para admin dan mentor keren ini. Lalu, ikutan challenge-nya. Untuk pekan ini (yang mana kita kudu posting Jumat besok) kita diminta cerita soal alter-ego. Widiiiih. Kok aku yang langsung deg-degan bin gleter-gleter gitu yak? Ahaiii *lebay kumat*

Sebelum cerita versi bahasa Inggris, aku mau berceloteh yang versi bahasa Indonesia.

Dulu aku selalu menganggap “alter-ego” hanya dimiliki orang-orang yang (maaf) aneh, nggak umum dan punya semacam penyimpangan mental. Duluuuu. Itu duluuu banget. Rasanya aneh aja sih, lihat ada dua (atau lebih) kepribadian dalam satu tubuh.

Tapi, makin ke sini, aku nyadar banget, bahwa HAMPIR SEMUA ORANG punya alter-ego. Yakiiin deh. Bukan yang bipolar disorder apalagi skizofrenia loh yaa… Tapiiii, alter-ego. Biar lebih jelas, silakan buka wikipedia-nya ya.

Biasanya, para seniman, penulis (terutama fiksi), sutradara dll HAMPIR PASTI punya alter-ego. Eits, ini teori saya loh. Yang mau protes, silakan **pasrah banget, anaknya emang** Bayangin aja, kalau “kepribadian”nya cuman satu alias monoton alias jalan di tempat grak, mana mungkin seseorang bisa memproduksi cerita fiksi yang beraneka ragam? Kadang kala, kudu bikin cerita dengan tokoh utama bu guru TK yang manis dan baik hati. Kadang, kudu bergumul dengan imajinasi detektif ala-ala Sherlock Holmes. Di lain waktu, musti bikin cerita dengan tokoh psikopat. Nah lo. Selain butuh riset yang kuat, juga butuh “alter-ego” yang dahsyat, bukaaan?

Sayapun demikian. Harus diakui, “alter-ego” yang saya punya sering mengalahkan “ego” saya yang hakiki. Bahkan, saya sampai bingung, sebenernya kayak gimana sih, kepribadian saya ini? Hahaha. Yang jelas, manakala “alter-ego” itu lagi dominan, langsung saya tangkep, haaapp! Dan saya pakai buat menuliskan cerita fiksi atau apapun itu.

Rasanya? Bakal lebih dahsyat! Diksi-diksi bisa (relatif) lebih presisi dan semua suara hati tersalurkan. Walaupun, saya masih “terkungkung” oleh koridor penulisan yang kudu bertanggungjawab, tapi at least, rasanya itu lebih legaaaaaa :))

“Alter-ego” saya tuh kayaknya segambreng deh. Kadang, saya bisa menjelma menjadi emak-emak centil yang lupa umur, trus dengan tanpa sungkan blasss, karaokean di fun world atau time zone.

CIMG6323

Tapi, kalo kumpulan emak horenya udah overload, maka “alter-ego” saya yang lain bakal menonjol. Yups, aku menjadi emak yang santun, irit bicara, hanya bisa tersenyum dua senti ke kiri-dua senti ke kanan, dan intinya, aku bedaaaa bangeetzz

Di antara bocil-bocil juga gitu. Kalau lagi banyak bocil yang unyu-unyu, aku bisa menjelma laksana ibu peri yang baik hati, bijak bestari, abis nerima duit bulanan dari suami #apaseh

Tapi, kalo lagi nggak mood, dan lihat bolo kurowonya Sidqi pecicilan di dalam rumah, bbbeuuuugggh, rasanya pengin nyambit atu-atuu…!!

O iya, pas nulis cerita bersambung #BIMBANG, kurasa aku juga tengah mengaktifkan “alter-ego” sebagai perempuan umur 25-tahun-an yang terjebak quarter life crisis, dan lagi bimbaaaang banget, mau milih kewong ama laki yang mana. Hihihi.

Ya gitu deh, “alter-ego” saya.

Bagaimana dengan “alter-ego” Anda? Boleh cerita-cerita di komen, yiukkks :))

[EF#5] BEC is My Superhero

There is no comfort in growth zone, and there no growth in comfort zone. 

I’m absolutely agree with that quote. When we feel comfortable with current condition, ask yourself, what kind of growth/development that you’ve got? Nothing, eh?

In terms of blogging, I found that blogging in Indonesian is my super-duper-comfort zone. I can catch up the issue, the-unnecessary-thoughts that almost explode my head, and write it down in an Indonesian post, in my own blog. That’s soooo…. stress-relieving 🙂 Read More

[Fiction] BIMBANG (part 7)

Follow me on twitter: @nurulrahma

Edisi sebelumnya: Salma lagi-lagi disergap rasa tak biasa usai mengirim email undangan pernikahan buat Arya. Tak lama kemudian, Tante Brin datang dari Pekalongan, bersama Raditya dan ibunya Radit. Ada apa sebenarnya?

Ibu melangkah gembira menuju ruang tamu. Parasnya demikian cerah. Mata beningnya berbinar. Ibuku selalu riang manakala ada tamu yang berkunjung ke rumah. Kalau dalam seminggu, tak ada tamu yang datang, maka Ibu akan merasa gelisah dan sibuk bertanya-tanya “Kenapa? Kenapa nggak ada yang namu ya?” Secepat kilat, beliau akan menggelar pengajian sederhana. Mengundang beberapa tetangga. Motivasi awalnya? Supaya ada yang bertamu ke rumah! Agak “ajaib”, eh?

Apalagi, ketika tahu bahwa yang datang adalah “tamu spesial”. Pake telor. Ha ha. Yap, calon menantu kesayangan sekaligus calon besannya.

“Mbak, kenalin ini ibu Susi Astuti, ibundanya Raditya….”

Tante Susi masih menunduk lemah. Bahasa tubuhnya menunjukkan perempuan paruh baya ini berada dalam kondisi tidak nyaman. ”Mbak Elly inget sama bu Susi?”

“Hah?! Inget gimana? Wong ini kan baru pertama kali aku ketemu sama calon besanku. Gimana, perjalanannya tadi lancar kan, dari Pekalongan? Surabaya puanaaasss ya Jeng…”

Setengah dipaksa, tante Susi berusaha mengukir senyum. Radit juga salah tingkah. Ada apa ini?

“Mbak. Masak Mbak Elly nggak inget sama sekali? Bu Susi? Clarke Quay? Singapura?”

Alis ibuku mengernyit. “Kamu ngomong apa sih, Brin?”

***

Cerita Sabrina dan Ibunya Salma, 23 tahun lalu

“Briiiiin….! Seriusan nih, gue kudu berangkat ke Singapore? Pegimane nasib Salma anak gue, Briiin.. Dia kan masih bayiiik. Ntar gimana nyusunya?”

“Ya elah mbak Elly….! Jangan kayak orang susah, napa?? Noh. Di toko-toko udah banyak yang jual susu formula! Buat bayi baru brojol aja ada.”

“Enak aja lo! Gue maunya nyusuin Salma sampe umur 2 tahun, Briiiin…Gue bakal sedih banget nih kalo kudu ninggalin Salma. Seminggu! Ya ampun, ibu macam apa gue, yang ninggalin oroknya…”

Mbak Elly mulai menangis. Doh. Ngimpi apa, Bang Ganjar punya bini macem doi! Labilnya gak ketulungan! Sejak zaman prawan ting ting, doi mupeng keliling dunia. Trus, semangat membabi buta ngajakin gue ikutan MLM. “Enakan ikut MLM ini nih… lo bisa ngedapetin kebebasan finansial! Bonusnya menggiurkan, dan lo bisa jalan-jalan keliling dunia….!” itu motivasi yang bikin kuping gue budeg saban hari. Ya wis. Walhasil, kami berdua—si sodara ipar yang sama-sama gahool to the max ini—berjibaku jualan barang-barang food container berbasis MLM. Nelponin temen kuliah-SMA-SMP-SD-TK *blaaah!!*, janjian presentasi, memprospek sampe berbusa-busa, pokoke gimana caranya, kita kudu dapat downline sebanyaaak mungkin! Duit, duit, duiiit, come to mama, hahaha…!

Kerja keras kita berdua membuahkan hasil. Gara-gara point yang super-duper-yahud, kami berdua dapat reward berupa East-Asian-Conference bagi para Top-Manager MLM di Singaporeeee…!! Yuhuuu, hepiii beraats neeiik! Untuk pertama kalinya dalam hidup, gue bakalan menginjakkan kaki di bumi Singapura. O yeah!!

Masalahnya adalah, kakak ipar gue a.k.a mbak Elly ini lagi punya orok. Kudu ngasih ASI. Galau kan? Mau ngajak Salma, jelas impossible. Tapi, eman-eman rasanya kalau kita nggak ikutan acara ini. Bukankah ini impian kita berdua, dari dulu kala?

“Toh, Bang Ganjar udah kasih izin kan mba? Ayolaah, kapan lagi mbak, kita ke Singapore gratisan?”

Mbak Elly memasang wajah sendu. Ia sibuk menyetok ASI perah di kulkas. Buat konsumsinya Salma, selama kita tinggal ke Singapore. Kalaupun kurang, aku yakin, Bang Ganjar dengan kesabaran lebih luas dari samudera, siap merawat Salma. Cuma seminggu kok.

***

Kami berdua baru saja melangkahkan kaki menuju Clarke Quay Singapore. Sambil menjilat-jilat es krim uncle Singapore yang, jujur aja, rasanya mirip es puter. Tapi, karena belinya di Singapore ya neiiik, jadi agak ngehits gituh, haha!

Lalu, duo wanita kece ini duduk-duduk dengan elegan di depan Singapore River. ”Gila yak, Singapore ini. Wisata sungai macam ginian aja, bisa larisss getoh! Mestinya di Surabaya bisa bikin kayak ginian dong ya.. ha ha ha….” Biasaaaa, kalo ada dua cewek lagi nongkrong, bisa dipastikan celotehnya adalah sibuk komentar ‘mestinya begini’ ‘harusnya begitu’.

Ketika es krim sudah nyaris tandas, tiba-tiba gue denger suara tangis bayi. Waduh.

“Brin, lo denger suara bayi nangis kan? Perasaan gue enggak bawa Salma deh.”

“Ya elaaah mbaaa… Emangnya bayi di dunia ini cuman Salma doang?”

Makin lama, tangis bayi itu kian keras. Samar-samar, gue ngeliat satu ibu-ibu yang masih muda banget, sibuk menenangkan bayinya. Ibu itu pakai baju yang amat lusuh. Mungkin udah berhari-hari belum ganti. Bayinya terus meronta. Tangis yang tak kunjung reda, ditambah tendangan yang dilakukan sekuat tenaga. Normalnya, manusia manapun pasti sebal jika diperlakukan seperti itu. Tapi, heiii… wanita itu ibunya. Ibunya. Ibunya. “Malaikat” yang mendampingi si bayi, bahkan sejak sembilan bulan, si bayi berada dalam perut ibunya.

“Sabar Naaak… Sabaaarr… Ini Ibu cari ayah dulu ya Naaak….”

“Oeeeekkk…. oeeekkkkk…..”

“Mbak. Kayaknya bayik itu sarapan toa deh. Nangisnya kenceng banget.”

“Huusshh, Brin! Lo tega amat. Eh, dari tampangnya sih, kayaknya doi orang Indonesia lho. Samperin yuk.”

Setelah ngobrol sejenak, terungkaplah fakta bahwa perempuan ini datang ke Singapore untuk bertemu suaminya, yang jadi TKI. Mungkin saking excited-nya pergi ke luar negeri, dia jalan agak jauh dari sang suami, daan…. mereka terpisah. Sedih. Masalahnya, doi ga pegang duit sepeserpun. Semua barang dibawa suami. Si ibu muda ini mumet nggak tahu mesti ngapain. Mau lapor polisi, takut ditangkep, karena paspornya juga di suami! Saking stresnya, ASI doi mampet, dan, bayinya haussss banget! Bagoooss.

“Oh. Kalo gitu, mbaknya tidur di hotel kami aja. Nanti coba minum ASI saya ya. Saya juga lagi menyusui, cuma bayi saya di Indonesia,” kata mbak Elly, cepat.

Aku menyikutnya. Sambil mengirim kode, “Mbak, are you sure? Pegimana jikalau, she’s a liar? Just create a sad story to get our money?”

Mbak Elly menggeleng perlahan. ”Bismillah. Allah pasti menjaga niat baik kita.”

***

Bayi itu dengan lahapnya menyusu pada Mbak Elly. Mata beningnya indaah sekali. Seolah ia ingin berkata, ”Makasih, tante. Aku udah nggak laper lagi. Tante cantik deh”

Mbak Elly mengelus pipi bayi tanpa dosa itu. ”Ganteng banget kamu, Nak. Yang kuat ya. Sebentar lagi, InsyaAllah ayah kamu dateng kok Nak.”

Gue ikut bahagia melihat pemandangan indah ini. Seorang ibu muda yang lagi ikut konferensi MLM, rela menyusui bayi-entah-emaknya-bohong-apa-kagak, dengan ikhlas dan menikmati banget! Seolah, bayi yang mengisap ASI-nya adalah anak kandungnya sendiri.

“Yang kenyang ya, nyusunya. Gapapa. Mbak tinggal ama kita di hotel ini. Saya bisa tidur satu kasur ama Sabrina. Mbak sama bayinya. Kita seminggu di sini. InsyaAllah aku bantu untuk cari suaminya yaa. O iyaaa… si ganteng pipi gembul ini namanya siapa?”

“Raditya, mbak. Raditya Abdurrahman.”

***

Kembali ke 2015

Persendian tubuhku rasanya prothol. Copot satu demi satu. Jadiii… Jadiii… Raditya?? Calon suamiku ini ternyata…??

“Raditya adalah saudara sepersusuan Salma. Sekarang, mbak Elly sudah ingat kan? Perempuan yang ketemu kita di Singapura 24 tahun lalu adalah mbak Susi. Ibu kandungnya Raditya. Seingatku, selama 7 hari, Mbak Elly terus-menerus memberi ASI pada Radit.” Kalimat tante Brin diucapkan dengan begitu halus. Namun, seolah mengirimkan ribuan jarum akupunktur tepat ke ulu hati.

Mata ibuku terpejam. Pelan, buliran airmata membasah di parasnya. Baru kali ini, ibuku menangis di hadapan tamunya. Di hadapan calon besan sekaligus calon menantunya.

“Maafkan saya, Mbak. Sebenarnya, kekacauan ini tak perlu terjadi kalau saya berani ngomong dari awal. Ketika Radit bilang bahwa ia akan menikah dengan Salma, dan ibunya bernama Elly Trisna Zubaidah, saya tahu persis bahwa ini adalah Mbak Elly, yang dulu menolong kami dengan begitu ikhlas. Saya tidak tega merebut kebahagiaan anak saya, saya tidak mau kehilangan kesempatan berbesan dengan perempuan semulia Mbak Elly… Sayaa… sayaaa… Astaghfirullah… Mbak Elly….”

“Astaghfirullaaah… Ibuu… Ibuuuu….Ibu kenapa Ibuuuu??”

Kalimat Tante Susi terpotong. Demi melihat ibuku yang tiba-tiba pingsan, kami semua terjebak dalam kepanikan mendadak. (b e r s a m b u n g)

PS: Apabila Anda ingin membaca #BIMBANG edisi sebelumnya, silakan klik: https://bukanbocahbiasa.com/category/fiction/