One Day at Miracle….

“Mbak, silakan registrasi di sini ya. Mbaknya beauty blogger?”

Jedheeerr. Gak salah nih. Saya?? S a y a a a?? Dengan penampilan acakadut khas emak2 Suroboyo yang selalu kepanasan ini….. saya??? dituduh sebagai BEAUTY BLOGGER?

Ulalalaaa…… #endhele kumat #syahrinto-harahap mode on

Image

 

Ya udahlah, jarang-jarang loh, saya dituduh beauty blogger. Saya iya-in aja biar cepet. “Iya mbak, saya blogger yang beauty(ful)… Hehehe.”

Di lokasi klinik estetik cethaaar ini, saya lihat segerombolan ibu2 lain. Yang kayaknya sama nasibnya dengan saya. Ciri-ciri: tampilan ala kadarnya, bawa tas yang murce banget. Enggak kenal ama Louis Vuitton, Hermes, kalopun mau nenteng merek2 ‘ngeri’ itu, pasti ketahuan produk KW hahahaha….

Kami-kami ini, para blogger kreatip (meski kere teteup aktif) yang dengan pede maksimal, dateng ke klinik berbandrol jutaan rupiah. Yeaaah, kita memang bukan tipikal nonik2 berkulit transparan yang rutin nge-Miracle karena mau perawatan. Tapiii, pe-de teteup membahana duong!

Hari ini, kita bakal diceramahin panjang lebar soal treatment ter-gres gitu, di Miracle. O iya, FYI aja siy, nih klinik emang kondang bambang gulindang. Cabangnya udah ada 18 biji gitu loh.

Dan, yang bikin gue takjub, di situs majalah SWA, owner nih klinik, namanya dr Lanny Juniarti, bilang gini,

“Miracle dibangun atas dasar passion. Saya mempunyai pengalaman di mana masalah kulit wajah bisa membuat seseorang tidak percaya diri. Untuk itu, saya ingin membuat semua orang percaya diri sehingga bisa meraih impian mereka dalam hal apapun.”

Woww… nih tante pasti muridnya Rene Suhardono deh. Yakin!

Yang keren lagi dari Miracle, mereka tuh menganggap setiap konsumennya adalah pribadi unik dan spesial, pake banget.

Makanya, nggak ada ceritanya perawatan pake spons bekas orang lain. Alat2nya steril banget. Sekali pake, langsung buang. Atau, kalau model customer-nya mirip eike, udah pasti spons bedaknya dibawa pulang dah. #anti-mubadzir #emak-irit-alert #harga-spons-nya-mahal-tauk

Makin kagum dah, kalau ngeliat #prinsip-hidup yang diusung dr Lanny. Doi pengin banget konsumen makin percaya dengan beragam talenta dokter2 Indonesia. Jangan plencing ke Korea mulu dong, kalo sekedar pengin filler, thread, atau botox (*eh, bener nggak sih, nulisnya, heheuee…)

Selain didukung oleh tim dokter dan beauty therapist berpengalaman, Miracle juga didukung oleh produk-produk ternama dari luar negeri yang tidak beredar bebas di pasaran (bukan termasuk kategori kosmetik dan pemakaiannya harus di bawah pengawasan dokter) dan telah teruji secara klinis.

Untuk memberikan hasil yang maksimal, Miracle juga menggunakan alat-alat modern dan canggih yang selalu diperbaharui sesuai dengan perkembangan teknologi.

Selain menjaga privasi pelanggan dengan menyediakan ruang-ruang perawatan yang terpisah dan nyaman, Miracle juga memprioritaskan kesehatan, memberikan perlindungan, serta rasa aman secara menyeluruh bagi pelanggan. (dr Lanny, sumber : Majalah SWA)

Yuk, ah, sekarang kita cuzz ngeliatin apa aja perawatan yang dipamerin pas blogger gathering temmpo hari.

Jedheeerr, idungnya ditusuk-tusuk!

Jedheeerr, idungnya ditusuk-tusuk!

Bihiiiik!! Kalo pada datang ke acara blog-gathering itu, dijamin, kita bakal deg-deg-seerrrr menyaksikan pemandangan mengerikan di depan mata.

Jadi ya, bu-ibuuuu, namanya teknologi kecantikan tuh, segala macam ada dan bisa banget buat dieksekusi. Tipikal wajah Asia punya kecenderungan berhidung enggak menonjol (bahasa diperhalus dari ‘hidung pesek’). Trus, pipi chubby dan dagu yang gundhek alias pendek bingits.

Nah, para dokter ahli bedah estetika ini, semangat membara banget gitu loh, buat mempermak bentuk wajah, supaya bisa makin V-shape.

Disuntik-suntikkanlah itu semacam gel *lupa gue, namanya apaan* jadi semacam filler, dan terjadilah adegan sebagai berikut:

dr. Elita: Jadi, perawatan filler ini sama sekali tidak sakit, karena kami sudah memberikan anestesi kepada pasien sebelum jalani perawatan. Oke, dokter Eli akan melakukan filler pada hidung Mela, model kami.

dr Eli stand by siap memberikan suntikan…. one…. two…. threee…. cuzzzzz…

Audiens : Awwwww….. *ngeri-ngeri-sedap*

dr Elita: Oh, tenang saja, ini nggak sakit sama sekali. Tuh, mbak Mela, modelnya senyum-senyum aja. Yang lebih takut emang para suporternya yaa… pemain bolanya loh gapapa….

dr Eli : (siap nyuntik lagi-ke hidung Mela) cuzzzzzz….

Audiens : Awwwww….. Awwwww……. *ngeri-ngeri-sedap*

dr Elita: Loh, gapapa. Memang suntikan ini diperlukan agar membuat nose-bridge, jadi nanti wajahnya Mela jadi v-shape. Dan, ini langsung kelihatan beberapa menit kemudian.

dr Eli: cuzzzzzzzzz (nyuntik lagi!!!)

Audiens: Awwwwwwwww

dr Elita: Karena memang dokter beda estetik itu seperti pemahat ya, jadi terus akan disuntikkan fillernya sampai menjadi bentuk yang diinginkan.

Oh, Masya Allah…. Nggak tega gue ngelihat modelnya…. Hiks….

Eniwei, mungkin ini beda perspektif aja sih. Perkara cantik, in my humble opinion ya, enggak harus punya wajah dengan V-Shape alias bentuk-bentuk wajah yang kayak artis2 Korea itu kok.

Cantik itu kan, bakal memancar…. ketika kamu begitu mencintai apa yang kamu kerjakan….ketika kesabaran, antusiasme, passionate itu meluap-luap… maka kamu sudah pasti akan terlihat cantik….

Lihatlah dokter Elita (baju putih-celana merah) yang memandu demo ini. Doi kan (maap ya dok….) wajahnya juga bukan V-shape kok. Masih bulet, chubby, dan hidungnya juga biasa ajaa… kayak orang Asia kebanyakan.

Tapi, karena dokter Elita lucu, menyenangkan, asik, sooo… doi kliatan cantik bingits. TANPA FILLER. Tanpa kudu botox endebre-endebrenya. Iya tho?

Akhirnya, periode suntik-mensuntik hidung itu berakhir. Kami-pun menghembus lega. Dan, kian lega pas tahu bahwa hidungnya Mela emang lebih ‘assoy’ sih. Lebih ramping, kontur V-shape-nya dapet lah.

The best part dari acara ini adalah, kita dapat segabruk voucher. Aku juga dikasih produk Marcks & Spencer (yayyy!!!) khusus oleh mbak PR-nya yang super-duper-kiyut.

Big Thanks mbak!

yayy! langsung ngetwit

yayy! langsung ngetwit

Daaannn, lebih asik lagi, manakala bisa kenalan ama duo blogger kiyut-ciamik-asik asal Suroboyo, mbak Niar Ningrum dan mbak Yuniari Nukti.

Ayo mbak, kapan2 kopdaran di Bungkul pas Car Free Day, yuuuuks!

photo all

 

 

 

 

 

 

Advertisements

JIS dan Harga Diri Bangsa

Ada perspektif luar biasa yang disajikan teman saja, Amak Yaqoub. Sebagai dosen Unair, tentu ia punya pola pikir dan sudut pandang tajam terhadap kasus pelecehan seksual di JIS, yang belakangan ini menjadi trending topic.

Saya capture opini Amak yang ada di FB-nya.

ImageImage

amak-3-ok

Saya pribadi AMAT-SANGAT-SETUJU dengan apa yang disampaikan Amak.

Kalau kita mau menggali lebih dalam, akan kita temukan segabruk penyimpangan di banyak sekolah se-Indonesia Raya ini. Bayangkan saja, sekolah yang mematok biaya hingga ratusan juta saja, ternyata quality control-nya amat memprihatinkan. Kepsek yang “cuci tangan”, ogah terjerembab dalam drama “predator bocah cilik”, dan malah menunjukkan sikap arogansi sebagai ekspatriat.

Ooooh…. kemon….

Bangsa ini mestinya sudah cukup muak dengan perlakuan semena-mena yang ditunjukkan para punggawa JIS.

Bangsa ini mestinya sudah cukup belajar banyak, dengan aneka ragam pelanggaran yang terjadi, entah di sekolah, di kampus (nyawa siswa STIP melayang gara-gara Ospek)….

Harus ada terobosan baru, pola pikir baru, semangat baru, kita musti move on dan bisa menunjukkan bahwa inilah INDONESIA-KU! Bukannya ho-oh ho-oh saja, meskipun jelas terpampang nyata bahwa kita tengah “dikentuti” bule-bule sialan itu.

Adrenaline Rush di Resort World Sentosa Singapore

Simbok Venuuuusss….

Aku berhutang budi buanyaaak banget padamu, simbok. Dirimulah yang “menjerumuskan” aku ke dalam cihuynya dunia blogging. Dirimulah yang mengajarkan etika soal ber-social network. Dirimu yang punya jasa begitu assoy dalam mengajak para emak untuk berinternet dengan aman, sehat dan menyenangkan.

Lho, kok bisa?

Ya bisa tho, jeung. Karena aku kan salah satu finalis Duta Parenting 2013.

Image

Simbok jadi pemateri sekaligus juri yang paling “wow banget”. Simbok membuka mata kami, para emak ini, untuk lebih aware dan menyelami internet dengan tentram-damai-aman-bahagia-sentosa.

Thanks muuccch simbok! I owe you, so much!

Makanya, karena rajin stalking twitter simbok, aku nemu info soal liburan asyik ke Resort World Sentosa Singapore. Mak nyussss, serasa ada serpihan butiran nirwana yang mampir ke sini loh, mbok. Sueger!

Duh, aku langsung merancang itinerary, supaya bisa nemenin simbok cihuy ini keliling 3 hari full ke Resort World Sentosa Singapore.

Eh, eh, tunggu deh, simbok bilang, aku boleh ngajak satu temen? Seriusan?! Woohooo… tengkiu bangeeet, ini nih kesempatan emas yang dinanti-nantikan oleh bocah terganteng sejagat raya. Yaeyalah, aku bakal mengajak….. tidak lain dan tidak bukan…………

this is him… Mas Sidqi…!!

Image

Sidqi ini umurnya baru 7 tahun. Teramat-sangat-doyan traveling. Dan, teramat-sangat-ngefans-berat-sama destinasi yang memanjakan para pengunjungnya. Ya kayak Resort World Sentosa Singapore itu loh. Beuuuh, saban ada tayangan atau blog yang membahas serunya berwisata ke sono, Sidqi langsung pasang tampang mupeng sejagat raya.

Selama ini, ranah jelajah kaki kecil Sidqi baru sebatas pulau Jawa plus Bali aja. Sidqi belum pernah menjelajah ke negeri tetangga, Sidqi juga belum pernah merasakan sensasi take-off dan landing ala pesawat. Yep, saban traveling, kami selalu lewat darat atau laut.

Nnnnaahhh… itulah mengapa, aku semangat banget ngajak Sidqi untuk mengeksplor Resort World Sentosa Singapore. Kan, seperti yang simbok bilang di postingan ter-hakjleb ini,

Yang terpenting dari itu semua, kami bertiga bahagia dengan gaya hidup kami sekarang ini. Dengan kemewahan luar biasa yang wujudnya mungkin bukan setumpuk besar uang, namun sesuatu yang jauh lebih berharga dan membahagiakan: waktu dan kebersamaan.

 

Dengan mengajak Sidqi, menapakkan kaki dan menjelajah bumi Singapore, sama artinya sebuah pembuktian bahwa, I really really love my little prince…  Ini sesuatu yang sungguh-sangat-berharga, priceless buat dia.

Lebih cihuy lagi, Resort World Sentosa menghadirkan segambreng “surga dunia”. Apa saja?

  1. Jadi “Astronot” di Sea Trek Adventure (wahana baru di Marine Live Park)

Gara-gara nonton Upin-Ipin episode “Cita-cita”, ehh… Sidqi ‘latah’ pengin jadi astronot. Yaaa, mungkin yang ada di benak dia, jadi astronot itu keren pake bangets. Bisa melayang-layang di angkasa, jumpalitan di sebuah roket yang sempit nian, ahh… pokoknya profesi anti-mainstream lah. Nah, sebelum dia bener-bener pengin mewujudkan ambisi berastronot di galaksi bimasakti, maka aku akan mengajak Sidqi berastronot ria di Sea Trek Adventure. Subhanallah…. Gimana ya rasanya bisa nyelem di sebuah akuarium air laut nan raksasa. Kita bisa berkecipak-kecipuk sambil menyaksikan makhluk Allah bernama ikan nan unyuuuu banget. Daaan, masya Allah, sungguh luar biasa, kala kita kopdar—eh, salah, kopla alias kopi laut—dengan ikan pari manta raksasa!! Awww, awww, awww… Mas Sidqi, yukkk kita kemooon!

 

  1. Universal Studios Singapore

Arrghhh?!?! Ada TRANSFORMERS The Ride? Ada Shrek? Ada Madagascar: A Crate Adventure? Ada Jurassic Park Rapids Adventure? Subhanallah… ini Sidqi pasti udah joget-joget wecek-kuwek-ewer-ewerrr… Sudah nggak zamannya lagi bermimpi untuk langsung merasakan ambience film-film blockbuster.

Cukup nongkrong di Universal Studios Singapore, maka Sidqi bisa melakukan “studi banding” akan film-film super-duper-assoy-geboy itu. Yakin banget, dia akan terhura-hura bahagia. Kenapa? Karena cita-cita Sidqi (ini alternatif kedua, katanya….) pingin bikin film tentang robot, yang ceritanya berkisar seputar “dunia hiburan perang”. Wait, wait, dunia—hiburan—perang?! Oalah, tolee… perang kok menghibur tho yooo… Ya sudahlah, yang penting emak nan baik hati ini pingin banget ngajak anak gantengnya merasakan indahnya dunia sinema sesungguhnya. Bungkussss….

  1. Adventure Cove Waterpark

Apakah ada manusia di muka bumi ini, yang enggak doyan berenang? Atau, minimal kungkum-kungkum alias berendam? Atau, minimal banget, kecek-kecek alias main air? Dan, apakah ada manusia yang enggak kepingin merasakan dahsyatnya bermain air di waterpark, yang menghadirkan-nuansa-riang-gembira-syalala?

Ouuggh, tentuuu saya mauuu…. Plus, pengin banget merasakan adrenaline-rush yang meluap-luap tatkala naiki roller coaster hidro-magnetik pertama di Asia Tenggara!

Eits. Ini semua belum cukup loh. Kita juga bisa santaaiii… di pantaaiiii… di kolam ombak Bluwater Bay. Atau, ambil ban luncuuurrr…. dan hayuk kita susuri Adventure River. Ada 14 zona bertema menakjubkan! Ada taman rimbun, gua misterius dan terowongan bawah laut yang penuh dengan kehidupan laut.

  1. Dolphin Interaction Programmes

Siapa yang nggak gemes kalau lihat si…. lumba-lumba, yap-yappp #singing (kalo tahu ini lagu siapa, maka kelihatan jelas angkatan jadulnya, hehe.)

Sidqi juga termasuk bocah yang cintaaa banget sama lumba-lumba. Saban lihat makhluk imut ini di layar TV, dia akan memandang dengan tatapan nanar… berharap suatu saat bisa mengelus-elus kulitnya yang lembut…ulala….

Resort World Sentosa tau aja apa yang diinginkan emak-dan-anak ini. Kita udah pasti pengin nyemplung ke kedalaman empat meter, trus jalan-jalan santai keliling lantai laguna, plus bernafas dengan easy-breezy melalui helm bawah air.

Pilihan buat kita, ada aktivitas Dolphin Discovery, Dolphin Adventure, Dolphin Trek, Dolphin Observer, Dolphin VIP, dan Trainer For A Day.

 

Ohhh…. aku melihat ada binar-binar bahagia di mata Sidqi. Insya Allah, Mei 2014 adalah episode yang luar biasa menyenangkan dalam hidup kami. Bersama blogger yang mengusung kredo “Sometimes you have to go a little crazy to stay a little sane” kami berdua –ibu dan anak yang sama-sama penggila traveling ini– bakal menikmati setiap serpihan udara, muncratan air, hembusan kebahagiaan yang belum pernah kami rasakan sebelumnya.

Image

Emak plus anak yang siap cusss ke Resort World Sentosa Singapore

Yihaaaa…. I’m ready for this spectaculer moment! 

Count me in, simbok Venussss…..!

 

 

Komparasi itu Menyakitkan……

Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba saja aku tersadarkan kalau Sidqi, anak saya, sekarang amat-sangat-jarang-banget mengaji Al-Qur’an. Sekali dua kali dia masih ikut TPQ di Masjid Al-Muslimun. Itupun sama sekali jauh dari kata istiqomah. Di sekolah? Huft, tentu aku nggak berharap banyak pada pelajaran Agama Islam di SD Negeri. Berapa jam sih? Kayak apa sih gurunya? Dan, kalau lihat buku yang dipakai, pheeeww…. bener2 jauuuuhh banget dari ekspektasiku. Yah, pengetahuan dasar aja gitu loh. Blas, enggak ada semacam ‘trigger’ mengajarkan anak buat rajin baca, mentadaburri, apalagi ngapalin Qur’an. 

Image

Bener aja. Suatu ketika, iseng, aku ngetes Sidqi. 

“Ayo dek, setor hapalan Qurannya…”

FYI, Sidqi, di umur 6 tahun sudah bisa menghapal surat-surat panjang yang ada di Juz 30. Let say, Surat Al-Infithoor, At-Takwir bahkan Al-Muthofifin –> yang mana daku malah blom apal! 

Nah, sekarang, umur Sidqi sudah 7 tahun lebih. HARUSNYA dia nambah hapalan dong. Dan, apa yang terjadi, ketika aku ngetes doi? 

“Ngggghhh…. bu…. aku lupa…. semua hapalan surat aku lupa….”

Jedeerrr!!

“Naah… tau penyebabnya kan dek? Karena enggak pernah diulang2 hapalannya… Jadi, ya lupa….”

Sidqi menunduk dalam. Khas ABG masa kini kalo lagi kesambet galau. Haha.

“Masa Sidqi umur 7 hampir 8 tahun, kalah dengan Sidqi yang masih umur 6? Inget lo dik, ibu ini MEMBANDINGKAN Sidqi tahun ini dengan Sidqi tahun lalu. Sidqinya masih Sidqi yang sama. Tidak mengalami perubahan apapun loh. Tapi, kok masih hebat-an Sidqi yang umur 6 tahun, ketimbang Sidqi umur 7 tahun yak?” 

Sidqi makiiiin nunduk dalam. Dia sama sekali enggak punya amunisi buat ‘melawan’ cercaan emaknya ini. 

***

Siapa yang menuding saya emak ambisius? Go ahead… Karena saya juga udah nyadar diri banget siy kalo saya emang masuk kategori emak2 ambisius. Dulu, saya seriiing banget MEMBANDINGKAN anak saya dengan bocah2 lain. Tapi, setelah sering baca situs parenting, ternyata sikap MEMBANDINGKAN DENGAN INDIVIDU LAIN sama sekali tidak bermanfaat positif buat perkembangan karakter anak kita. Yang BOLEH dilakukan adalah MEMBANDINGKAN SI ANAK DENGAN KONDISI DIRINYA SENDIRI, DI MASA ATAU TEMPAT YANG BERBEDA. Ya, seperti yang aku lakukan di atas. Walaupun sometimes, ngerasa agak gimanaaa gitu yaaa…. Nghhh… yep, life is unfair, anyway….

Aku sibuk membandingkan ANAKKU dengan ANAKKU DI MASA LALU. 

Tapi, aku nyaris-tidak-pernah-bahkan-cenderung-ogah kalo diminta membandingkan DIRIKU SAAT INI dengan DIRIKU DI MASA LALU. Takut. Ngeri. Gamang. Ahhhh…. cemen!! 

Kalau lihat potret2 @nurulrahma di masa lampau, olalalaaaa……. apa iya, gue, pernah, sekurus iniiiih???

Dan, sekarang? Huhhh…. buat nurunin sekilooo aja, rasanya seperti kudu mengangkat senjata ke arena perang. 

Saya sedang membandingkan NURUL SAAT INI dengan NURUL DI MASA LAMPAU. 

Nurul yang pernah kurus. 

Pernah lincah

Pernah begitu sehat, semangat, passionate. 

Rajin nggowes

Selalu lari keliling kompleks setiap ngeliat tanda2 ada penggemukan sedikiiiiit aja di bagian betis….

Arrggggh….Studi komparatif ini sungguh mengerikan!! Dan menyakitkan!!!!

 

 

Nasihat Pernikahan dari Bapak Mendikbud

Disclaimer: Tulisan ini disajikan dengan begitu menyentuh oleh Mendikbud Bapak Mohammad Nuh. Ingin baca versi aslinya? Silakan ke: https://www.facebook.com/notes/mohammad-nuh/pesan-pernikahan/212261625650690. Saya copy-paste di sini, karena isinya sungguh-sungguh-sungguuuuuuhhhh ‘touching’. 

Pengantar: Bapak dan Ibu sekalian. Insya Allah besok pagi, Jumat 4 April 2014 kami akan menikahkan putri tunggal kami, Rachma Rizqina Mardhitillah, dengan pria pilihannya, Berto Wibawa. Mohon doa restu dari Bapak dan Ibu sekalian. Sebagai kado pernikahan, saya menyempatkan menulis artikel ini. Semiga artikel ini juga dapat bermanfaat bagi Bapak dan Ibu sekalian. Terima kasih.

Di surga Adam (baca: Nabi Adam ‘Alaihi-assalam) tinggal sendirian dan merasa kesepian. Suatu saat, Adam tertidur. Ketika bangun, ia menemukan seorang perempuan tengah duduk di sisi kepalanya. Perempuan itu diciptakan Allah dari tulang rusuknya. Adam lalu bertanya kepadanya, “Siapakah engkau?”

Perempuan itu menjawab, “Aku seorang perempuan.”

“Untuk apa kau diciptakan Allah?” tanya Adam kembali.

”Untuk menjadi sumber ketenteramanmu,” jawab perempuan itu (Târikh al-Thabarî, 1/103).

“Kemarilah!” seru Adam.

“Tidak, seharusnya kau yang datang kemari,” tukas Hawa.

Adam pun berdiri menghampiri Hawa. Sejak itu, seorang lelaki memiliki kebiasaan mendatangi perempuan. Setelah mendekat dan Adam ingin menyentuh Hawa, terdengarlah seruan, “Hai Adam, tahan dulu! Sesungguhnya hubunganmu dengan Hawa itu belum halal kecuali dengan membayar mas kawin dan menikah yang sah.”

Kemudian Allah memerintahkan penghuni surga untuk menghias dan merias Hawa. Beraneka hidangan juga disiapkan. Para malaikat diperintahkan berkumpul di bawah pohon Thuba. Mereka tak henti-henti memuji Allah. Lalu Allah menikahkan Hawa dengan Adam, Allah berfirman: “Segala puji untuk-Ku. Keagungan adalah busanaku-Ku. Kesombongan adalah selendang-Ku. Dan seluruh makhluk adalah hamba-Ku. Aku persaksikan kepada malaikat-Ku dan penduduk langit-Ku bahwa Aku telah menikahkan Hawa dengan Adam ciptaanku yang baru.”

Tak lama berselang, tutur Ibnu Jauzi dalam kitab Salwatul Ahzan, Adam mendekati Hawa, tapi Hawa mengingatkan kepadanya agar menyerahkan maskawin dulu. Adam bertanya kepada Tuhan,“Wahai Tuhanku, apa maskawin yang pantas kuberikan kepadanya?” Allah menjawab, “Bershalawatlah kepada kekasih-Ku Muhammad 20 kali.” Lalu Nabi Adam melakukannya (Irsyâdul ‘Ibâd: 61).

Inilah kisah cinta dan pernikahan pertama dalam sejarah umat manusia. Sejak itu Hawa hidup di surga sebagai pendamping Adam. Mereka hidup bahagia; menikmati fasilitas terbaik, menyantap makanan terlezat, minum air tersegar, menghirup aroma paling semerbak, mengenakan busana termewah dan terindah. Tak ada dingin, tak ada terik. Mereka berpindah leluasa di antara rimbun pepohonan surgawi. Buah-buah merunduk, tinggal petik mana yang disukai. Tak ada letih, tak ada capek. Segala urusan dimudahkan bagi mereka. Hidup mereka adalah ketenangan sempurna dan kenikmatan senantiasa. Sungguh di dalamnya kamu tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang. Kamu pun di dalamnya tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari (Thâhâ: 118–119).

Namun, Allah berpesan: “Hai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga ini, dan makanlah makanannya yang banyak dan baik di mana pun kamu suka, dan jangan kamu dekati pohon ini yang menyebabkanmu termasuk orang zalim” (al-Baqarah: 35).

Iblis pun beraksi. Langkah pertama tipu daya Iblis terhadap Adam dan Hawa adalah berpura-pura menangis dan berduka. Adam dan Hawa turut bersedih mendengar tangisannya. Mereka bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Iblis menjawab, ”Aku menangisi kalian berdua, kalian akan mati dan meninggalkan nikmat dan keagungan yang ada.”

Mendengar ucapan Iblis ini, Adam dan Hawa bersimpati kepadanya. Lantas Iblis mulai merasuki keduanya, dan berkata, “Wahai Adam, maukah kau kutunjukkan satu pohon khuldi (keabadian) dan kerajaan yang tak pernah musnah?” Iblis melanjutkan, “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” Dalam makna lain, kalian berdua akan menjadi raja yang menguasai kenikmatan surga dan kalian akan abadi. Dan Iblis bersumpah kepada keduanya, ”Sungguh aku termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua” (al-A’râf [7]: 20-21).

Singkat cerita, Nabi Adam dan Hawa mendekati pohon itu dan memakan buahnya. Setelah mendengar dari Allah bahwa apa yang mereka lakukan itu salah, dan, karena itu, akan dihukum, mereka lalu memohon kepada Allah agar dibebaskan dari kesalahan itu dan dimaafkan: ”Wahai Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, pastilah kami benar-benar termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A’râf [7]: 23).

Nabi Adam lalu berkata, “Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menciptakanku dengan tangan-Mu?”

“Ya,” Allah menjawab.

“Bukankah Engkau telah menempatkanku di surga?”

“Ya.”

“Bukankah rahmat-Mu lebih besar daripada murka-Mu?”

“Ya.”

“Apakah jika aku bertobat dan memperbaiki diriku, Engkau sudi untuk mengembalikanku ke surga?” tanya Adam penuh harap.

Allah menjawab, “Ya.”

Inilah—menurut Imam al-Thabari—beberapa jawaban dan kalimat yang disampaikan Allah kepada Adam, seperti dalam firman-Nya, Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya maka Allah menerima tobatnya (al-Baqarah [2]: 37). Tobat mereka diterima tapi mereka mesti turun ke bumi.

 

Ternyata mereka diturunkan di tempat terpisah. Menurut riwayat Hisyam ibn Muhammad, Adam diturunkan di India, sementara Hawa di Juddah, dekat Makkah. Adam terus mencari-cari Hawa hingga keduanya mendekat di Muzdalifah (tempat untuk saling mendekat). Akhirnya keduanya bertemu dan mengenali kembali satu sama lain di atas bukit yang kelak dinamakan ‘Arafah (mengenal dan mengetahui). Tempat ini kemudian disebut juga sebagai Jabal Rahmah—Bukit Kasih Sayang.

Banyak sekali pelajaran yang layak kita unduh dari kisah cinta Ayah Bunda kita semua umat manusia itu, tapi pesan intinya adalah perlunya nilai-nilai rahmah atau kasih sayang dalam kehidupan kita. Sebagai bukti kasih sayang-Nya kepada manusia Allah ciptakan untuknya pasangan (kekasih) dan sebagai bentuk rasa syukur kita adalah merawat hubungan itu dengan kasih sayang pula.

 

وَمِنْ آياتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْواجاً لِتَسْكُنُوا إِلَيْها وَ جَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَ رَحْمَةً إِنَّ فِي ذلِكَ لَآياتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mau berpikir (ar-Rûm: 21).

Ayat yang diulang-ulang dalam setiap upacara pernikahan—bahkan dicantumkan di kartu undangan—ini ternyata ditempatkan Allah pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta—tentang tegaknya langit, terhamparnya bumi, tercurahnya air hujan, gemuruhnya halilintar, dan keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat ini, Allah ingin mengajarkan kepada kita betapa Dia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan hidup kita.

Allah ciptakan bumi dengan segala isinya—samudra luas, bukit tinggi, hutan belantara—semua untuk kebahagiaan kita sebagai manusia. Diedarkan Allah mentari, rembulan, dan gemintang; diturunkan-Nya hujan, ditumbuhkan pepohonan, dan disirami tetanaman—semua untuk kebahagiaan kita sebagai manusia.

Namun, Allah Yang Mahatahu memberikan lebih dari itu. Dia tahu getar kerinduan di dada kita. Dia tahu betapa sering kita memerlukan seseorang yang mau mendengar bukan saja kata-kata yang terucapkan, melainkan juga isak hati yang tak terungkapkan; yang mau menerima segala perasaan—tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu, Allah ciptakan seorang kekasih.

Allah tahu, saat kita diempas masalah, diguncang badai, dan dilanda duka, kita memerlukan seseorang yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh yang lemah, dan memperkuat hati—tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu, Allah ciptakan seorang kekasih.

Allah tahu, kadang-kadang kita berdiri sendirian lantaran keyakinan atau mengejar impian. Kita memerlukan seseorang yang berdiri di samping kita—tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu, Allah ciptakan seorang kekasih (Rakhmat, 1999).

Supaya hubungan antar kekasih ini menyuburkan ketenteraman (sakinah), cinta (mawaddah), dan diliputi kasih sayang (rahmah), Allah menetapkan suatu ikatan suci, yaitu akad nikah. Sungguh sangat menarik, Allah menempatkan urusan (pernikahan) berdimensi psycho-personal namun berdampak sosial digabung dengan fenomena alam dan ‘menantang’ kita untuk berpikir, apa rahasia dibalik itu semua?

Di Balik Akad Nikah

Apa sejatinya makna di balik setiap prosesi pernikahan itu? Kalau kita renung-renungkan lagi, dari balik kata-kata yang disebut-sebut dalam akad nikah saja kita bisa memungut mutiara makna yang menopang terwujudnya keluarga penuh rahmah itu.

Pertama, kata nikah dan zawaj. Artinya mengawinkan. Kalau makna dasar nikah adalah penyatuan, makna zawaj adalah keberpasangan. Dengan nikah, dua orang berjanji untuk menyatukan jiwa, cita-cita, harapan mereka dalam sebuah ikatan suci. Tapi, dengan zawaj, penyatuan itu bukanlah melebur, melainkan berpasangan. Masing-masing punya keunikan dan tetap punya identitas tersendiri. Namun, mereka berjalan seiring untuk tumbuh bersama dengan saling mengisi dan saling mendukung dalam bahtera rumah tangga.

Ini selaras dengan firman-Nya: Mereka (istri-istrimu) adalah (ibarat) pakaian kalian, dan kalian adalah (ibarat) pakaian mereka (al Baqarah: 187). Layaknya pakaian, suami dan istri harus bisa menjalankan fungsinya masing-masing sebagai (a) penutup aurat [aib atau sesuatu yang memalukan] dari pandangan orang lain, (b) pelindung dari panas dinginnya cuaca kehidupan, dan (c) kebanggaan dan keindahan bagi pasangannya.

Kedua, ijab dan qabul. Lumrahnya, ijab-qabul kita artikan serah-terima (bahasa Jawa: seserahan). Kita mendengar dua kalimat itu diucapkan wali dan pengantin pria. Namun, dalam bahasa aslinya makna ijab-qabul lebih dari sekadar ikrar penyerahan dan penerimaan. Makna ijâb antara lain bermakna memperhatikan dan memelihara. Dengan ijab, kita berjanji akan saling memperhatikan, memelihara, mengayomi, dan memberikan haknya satu sama lain.

Bagi kedua mempelai, ijab qabul ibarat persalinan kedua karena pernikahan acap disebut pula dengan kelahiran kedua. Kelahiran pertama terjadi saat seseorang menghirup udara pertama di bumi, ketika itu masing-masing datang membawa amanah Allah kepada orang tua mereka. Kelahiran kedua saat seseorang memasuki gerbang perkawinan dengan ijab qabul, tetapi kini masing-masing menerima amanah Allah melalui orang tua mereka.

Selama menjadi amanah di tangan orang tua, mereka telah memelihara amanah itu dengan sekuat kemampuan. Ketulusan dan pengorbanan mereka persembahkan demi menunaikan amanah itu. Kini pada saat kedua mempelai menerima amanah, maka hendaknya apa yang dilakukan oleh kedua orang tua masing-masing itu diletakkan di pelupuk mata dan jendela hati, agar sebesar itu pula kesungguhan dan keikhlasan bahkan pengorbanan kedua mempelai memelihara amanah yang diterimanya.

 

Ketiga, di balik kata “sah”. Begitu saksi mengucapkah “sah” di ujung ijab-qabul, para hadirin yang menyaksikan pun serentak mengiringi, “Sah!” Sang mempelai membatin satu sama lain, “Sekarang, aku halal bagimu!” Di sini kita perlu ingat sabda Rasul: wastahlaltum furûjahunna bikalimatillâh. Maka menjadi halal kehormatan mereka (hubungan ‘suami-isteri’) atas dasar kalimat Allah (HR Bukhari).

Apa yang dimaksud kalimat Allah? Dalam Al-Quran, kalimat Allah dinyatakan “telah sempurna sebagai kalimat yang benar dan adil serta tak ada yang dapat mengubahnya” (al-An‘am: 115); “ia penuh kebajikan” (al-A‘raf: 137); lagi “Mahatinggi” (at-Taubah: 40). Dengan kalimat itulah Allah menganugerahi Nabi Zakaria yang telah berusia lanjut dan istrinya mandul “seorang anak bernama Yahya yang menjadi panutan, pandai, serta menjadi nabi” (Ali ‘Imran: 39). Dengan kalimat itu juga Allah menciptakan Nabi Isa tanpa ayah dan diakui sebagai “seorang terkemuka di dunia dan akhirat serta termasuk orang yang didekatkan kepada Allah” (Ali ‘Imran: 45).

Dengan demikian, akad nikah dengan kalimat Allah mengisyaratkan betapa sucinya peristiwa ini dan betapa indahnya bila perjalanan rumah tangga dinafasi oleh makna-makna di balik kalimat Allah, antara lain: kebenaran, keadilan, kelanggengan, kebajikan, dan dikaruniai anak saleh yang jadi panutan, pandai menahan diri, dan dekat kepada Allah sehingga menjadi orang terkemuka di dunia dan akhirat. (Shihab: 2010). Jadi, bukan hanya memperhatikan halalnya, tapi juga perlu internalisasi nilai-nilai di baliknya.

Menjaga dan Merawat Pernikahan

Satu kata yang sama sekali tidak diinginkan dalam kehidupan berumah tangga: “CERAI”. Sengaja saya tulis dalam huruf besar, karena dampak negatifnya sangat luar biasa besarnya dan termasuk perbuatan halal yang sangat dibenci Allah. Oleh karena itu, pernikahan tidak cukup hanya dibangun, tetapi juga harus dirawat dan dipertahankan, yang justeru merawatnya itu memerlukan perhatian khusus.

Pesan ini semakin penting untuk dicamkan ketika cerai kini kecenderungannya terus naik dalam masyarakat kita. Bahkan, angka perceraian di Indonesia itu tertinggi se-Asia Pasifik. Menurut data Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI, selama 2005 sampai 2010, rata-rata satu dari 10 pasangan menikah berakhir dengan perceraian di pengadilan. Dari 2.207.364 orang nikah se-Indonesia pada tahun 2010, ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian; tahun 2011 perceraian mencapai 333.844 kasus dari 2,3 juta perkawinan; dan tahun 2012 terdapat 346.446 pasangan yang bercerai dari 2.291.265 perkawinan. Dramatisnya, kalau rata-rata 300 ribu per tahun, berarti tiap bulan ada 25 ribu yang cerai, dan tiap hari ada 830-an perceraian, maka setiap jamnya terjadi sekitar 34 perceraian dan hampir setiap 2 menit ada 1 perceraian. Na‘ûdzu billâhi min dzâlik.

Ada banyak ragam penyebabnya, antara lain lemahnya tanggung jawab dan tingginya tuntutan terhadap hak, namun rendah dalam memenuhi kewajiban. Itu semua, diekspresikan dalam bentuk perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga dan terabaikannya pemenuhan nafkah lahir dan batin.

Ada rumus sangat sederhana dalam menjaga dan merawat pernikahan itu, yaitu: jaga dengan baik 3 (tiga) persamaan dan 1 (satu) perbedaan. Tiga persamaan tersebut diambil dari ‘simbol sama-sama’ (persamaan), mengapa seseorang itu menikah, yang tidak lain adalah karena (i) sama-sama ‘manusia’, (ii) sama-sama ‘hidup’, dan (iii) sama-sama ‘dewasa’. Itulah tiga persamaan, yaitu manusia, hidup, dan dewasa. Makna simbolis tadi tidak lain: kalau ingin langgeng pernikahan kita, maka pahami dan pegang teguh nilai-nilai tentang kemanusiaan, belajarlah tentang hakikat kehidupan, dan berperilakulah sebagaimana perilaku orang dewasa.

Sedangkan 1 (satu) perbedaan yang harus selalu dijaga adalah ‘laki-laki dan perempuan’. Maknanya, jadilah lelaki sejati dengan penuh tanggung jawab sebagai suami, dan jadilah perempuan sejati dengan penuh tanggung jawab, penuhi semua hak dan kewajiban sebagai isteri. Keempat hal diatas (tiga persamaan dan satu perbedaan) dimaksudkan untuk memperkuat prinsip ‘perlakukanlah isterimu dengan baik’ (wa’asyiruhunna bil ma’ruf). Dengan menjaga dan merawat tiga persamaan dan satu perbedaan tersebut, insya Allah pernikahan kita akan abadi.

Akhlak Bertengkar dalam Rumah Tangga

Berdasarkan pengalaman, bohong bila dalam rumah tangga dibilang tak pernah ada konflik dan perselisihan. Sebab, ada dua persepsi yang kerap berbeda. Perasaan kita juga fluktuatif—pasang surut atau yazid wa yanqush. Tapi konflik sejatinya adalah bagian dari kehidupan—bahkan terkadang diperlukan (selama terukur dan terkendali) untuk mengetahui tingkat kekohan rumah tangga sekaligus meningkatkan kualitas interaksi dalam rumah tangga.

Ada sebuah cerita kegemaran saya yang berasal dari Thailand Timur Laut: Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan, “Kuek! Kuek!”

“Dengar,” kata si istri, “itu pasti suara ayam.”

“Bukan, bukan. Itu suara bebek,” kata si suami.

“Nggak, aku yakin itu ayam,” si istri bersikeras.

“Mustahil. Suara ayam itu ‘kukuruyuuuuuuk!’, bebek itu ‘kuek! kuek!’ Itu bebek, Sayang,” kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

“Kuek! Kuek!” terdengar lagi.

“Nah, tuh! Itu suara bebek,” kata si suami.

“Bukan, Sayang… Itu ayam! Aku yakin betul!” tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

“Dengar ya! Itu a… da… lah… be… bek, B-E-B-E-K. Bebek! Tahu?!” si suami berkata dengan gusar.

“Tetapi itu ayam!” masih saja si istri berkeras.

“Itu jelas-jelas bue… bek! Kamu ini… kamu ini…!”

Terdengar lagi suara, “Kuek! Kuek!” sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hampir menangis, “Tetapi itu ayam …”

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya teringat, kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, “Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok.”

“Terima kasih, Sayang,” kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

“Kuek! Kuek!” terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta (Ajahn: 2012).

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar: siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu. Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele? Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal “ayam atau bebek”?

Setiap kali mengingat cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Keutuhan pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek?

Selain itu, bertengkar di sini bukan berarti saling memukul atau menyakiti, ataupun sekadar ancaman untuk melakukannya. Pertengkaran, dalam situasi sehat, adalah luapan perasaan dan informasi tentang perbedaan pendapat yang sangat cepat dan biasanya gaduh. Pertengkaran adalah kebalikan dari diskusi tenang, karena emosi kita diungkapkan secara terang-terangan dan keras. Ini bukan pertanda pernikahan bermasalah, justru merupakan langkah penting untuk membangun lagi kedekatan yang tenggelam dalam ketidakacuhan. Bahkan tidak jarang, setelah ‘pertengkaran’ dapat diselesaikan, justru tumbuh kemesraan baru yang lebih berkualitas. Dalam pernikahan, tidak perlu ada ketakutan yang berlebihan, seandainya terjadi miskomunikasi sehingga muncul pertengkaran. Yang penting, kedua pihak berusaha untuk menyelesaikannya secara cerdas, dewasa dan arif, terutama Sang Suami sebagai pemimpin (qawwamûn).

Jika kita tidak peduli, tak akan ada pertengkaran. Karena kita terlibat dan peduli itulah pertengkaran menjadi suatu keniscayaan. Kombinasi perbedaan dan kedekatan menciptakan aliran energi. Aliran energi yang kecil disebut diskusi, stimulasi, memberi dan menerima; sedangkan aliran besar disebut pertengkaran. Kemarahan yang terbentuk memungkinkan Anda mengungkapkan kebenaran yang sebelumnya tak mampu Anda suarakan. Dengan kata lain, hasil dari pertengkaran adalah tingkat kejujuran lebih tinggi.

Saat terjadi pertengkaran, sering pesannya sendiri amat positif. Kalaupun isi pesan itu adalah “Kau tidak mengerti aku, kau tidak menghiraukan kebutuhanku”, alasan Anda mengatakan itu adalah karena Anda ingin ada saling pengertian dan merasa hubungan ini layak diperjuangkan

Memang, pertengkaran bisa menjadi-jadi, dan tentu saja akhirnya merusak. Konflik dan pertikaian yang berlarut-larut hanya akan membawa kita kepada kesia-siaan dan kehancuran. Cerita George W Burns, seorang ahli psikoterapi, mengilustrasikan hal ini dengan baik dalam 101 Healing Stories.

Dikisahkan sepasang suami istri yang selalu bertengkar. Setelah berpuluh-puluh tahun mengasah keterampilan mereka bertengkar, mudah sekali konflik terjadi, bahkan terkadang disulut oleh masalah yang sangat sepele. Pada suatu hari sang suami yang baru pulang dari kerja melintas di sebuah kebun milik tetangga. Ia tergiur melihat buah mangga yang matang di pohon. Setelah memastikan keadaan aman, ia pun mencuri tiga buah. Setibanya di rumah, ia memberikan satu buah kepada istrinya, dan menyisakan dua buah untuk dirinya. Tahu bahwa sang suami mendapat dua buah, sang istri pun mengomel, “Kamu curang! Berikan yang satu lagi, aku kan lelah seharian mengurus rumah” Sang suami tidak kalah garang, ia menimpali, “Kamu yang tidak tahu diri, aku seharian bekerja di luar, banting tulang mencari nafkah, pantas kalau aku mendapat dua.”

Keributan pun terus meruncing sampai kemudian sang suami menawarkan bertaruh dengan satu buah miliknya, “Siapa saja yang paling lama diam, maka buah ini miliknya” Sang istri setuju, ia masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat mulutnya, sang suami berbaring di sofa dan mulai menghentikan pembicaraan. Keadaan ini pun berlalu hingga satu minggu.

Para tetangga tentu merasa heran, tidak biasanya rumah ini tenang, padahal setiap hari mereka selalu mendengar suara keributan bahkan tidak jarang mereka melihat piring terbang. Didesak oleh rasa penasaran, para tetangga memasuki rumah itu, mereka mendapati dua sosok suami istri itu berbaring lemah, membisu dan tiada bergerak lagi. Melihat keadaan suami istri yang tidak berdaya itu, mereka menganggap keduanya sudah mati, maka disiapkanlah upacara penguburan. Saat akan dimasukkan ke liang kubur, tiba-tiba sang suami berteriak keras ketakutan, “Kalian bodoh, aku belum mati, kenapa hendak dikubur?” Demi mendengar teriakan suaminya, sang istri pun lompat kegirangan sambil berkata, “Hore, aku menang, satu buah itu milikku” ia segera lari menuju rumahnya, sang suami mengejarnya. Mereka berlarian sekencang-kencangnya untuk mengalahkan saingannya memperebutkan buah mangga yang menjadi masalah. Setibanya di rumah, mereka mendapati tiga buah mangga itu masih tersimpan di dapur, dan semuanya sudah busuk!

Begitulah, konflik yang akut hanya membawa kita kepada kesia-siaan. Karena itu, kita perlu belajar bertengkar dengan aman dan sehat. Sebagai muslim, Islam telah menyediakan prinsip-prinsip penting yang bisa menyelamatkan kita dari pertengkaran yang menjadi-jadi, apalagi mengarah ke perceraian. Tanpa bermaksud menggurui, menarik untuk renungkan kembali tentang:

Pertama, komitmen pada perjanjian sakral. Tentang pernikahan, Tuhan berfirman: Dan, mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat (al-Nisâ’ [4]: 21). Dengan kata lain, akad nikah itu disebut-sebut sebagai “mitsaqan ghalizha” (perjanjian yang kuat atau berat). Tuhan menggunakan bahasa yang sama ketika berbicara tentang perjanjian dengan Bani Israel (al-Nisâ’ [4]: 21) dan perjanjian dengan nabi-nabi: Nuh Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad saw. (al-Ahzâb [33]: 7).

Dengan demikian, akad pernikahan sama seriusnya dengan perjanjian para nabi dan sama dahsyatnya dengan perjanjian Bani Israil di bawah Bukit Thur yang bergantung di atas kepala mereka. Di mata Tuhan, perjanjian pernikahan ini tidak main-main. Maka ketika kita bertengkar, sesengit apa pun, cukuplah piring yang pecah. Perang urat saraf boleh berkecamuk, tapi jangan sampai meninggalkan “gelanggang” (rumah). Komitmen kita untuk menjaga “mitsaqan ghalizha” ini bisa menyelamatkan kita dari pertengkaran berlarut-larut. Kita langsung ingat “gambaran besar” kenapa kita menikah dan berumah tangga.

Kedua, gemar bermusyawarah. Cinta saja tidak cukup untuk menyelesaikan kusut-masai persoalan rumah tangga. Persoalan hanya dapat diselesaikan dengan jalan musyawarah, saling mengemukakan pendapat untuk mencari titik persamaan yang terbaik. Dalam musyawarah tidak ada pendapat yang dimenangkan dan dikalahkan, karena hasil musyawarah adalah perpaduan terbaik dari pendapat-pendapat yang ada.

Konon, musyawarah berasal dari kata syawr, yang berarti madu. Jadi, musyawarah mula-mula berarti mengambil madu dari sarang lebah. Artinya, musyawarah itu untuk “mencari madu” atau yang terbaik dari berbagai pendapat. Hasil dari musyawarah merupakan yang terbaik dari berbagai pandangan, laksana madu lebah yang tidak hanya manis tapi sekaligus menjadi sumber energi bagi yang meminumnya.

Yang menarik, dalam Al-Quran kita hanya menemukan tiga ayat tentang musyawarah. Pertama, diperintahkan kepada Nabi saw. untuk memusyawarahkan urusan masyarakat dengan masyarakat itu (Âli ‘Imrân: 159). Kedua, pujian Tuhan kepada orang mukmin yang senantiasa memusyawarahkan urusan mereka (al-Syûrâ: 38). Ketiga, musyawarah antar suami-istri (al-Baqarah: 233). Jadi, Tuhan Mahatahu betapa pentingnya musyawarah dalam keluarga.

 

Ketiga, prinsip pakaian satu sama lain. Allah berfirman, Mereka (istri-istrimu) adalah (ibarat) pakaian kalian, dan kalian adalah (ibarat) pakaian mereka (al-Baqarah: 187). Layaknya pakaian, masing-masing suami dan istri harus bisa menjalankan fungsinya sebagai (a) penutup aurat (aib atau sesuatu yang memalukan) dari pandangan orang lain, (b) pelindung dari panas dinginnya cuaca kehidupan, dan (c) kebanggaan dan keindahan bagi pasangannya.

Dalam keadaan tertentu pakaian mungkin bisa diperkecil, dilonggarkan, ditambah aksesoris, dan sebagainya. Mengatasi perbedaan selera, kecenderungan, dan gaya hidup antara suami istri diperlukan pengorbanan kedua belah pihak. Masing-masing harus bertanya apa yang dapat saya berikan, bukan apa yang saya mau. Mudah-mudahan dengan uraian diatas kita dapat mengelola rumah tangga kita dengan penuh kasih sayang.

 

Pesan Khusus untuk Anakku

 

Sebagai orangtua, izinkan Ibu dan Bapak secara khusus mempersembahkan ungkapan dan doa untuk pernikahanmu, Anakku tersayang: Rachma Rizqina Mardhotillah dan Berto Wibawa

Anakku Rizqina, engkaulah satu-satunya anakku yang akan meneruskan risalah Rasulullah Muhammad saw, cita-cita Ibu dan Bapak dan Embah serta Sesepuh-sesepuhmu.

Engkau dilahirkan pada saat Bapak sedang berjuang keras menyelesaikan studi yang didampingi Ibu dengan penuh ikhlas dan ketulusan. Ibumu rela cuti kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, semata ingin mendampingi dan berbakti kepada suami untuk meringankan tugas Bapak di negeri jauh di sana, Montpellier Perancis. Dengan beasiswa yang sangat terbatas, Bapak dan Ibu berjuang untuk menggapai cita-cita demi kemuliaan dan kemartabatan sebagai ummat Kanjeng Nabi Muhammad.

Ibumu setiap hari menyiapkan sarapan pagi dengan menu utama roti khas Perancis ‘baguette’ dan telur dadar, susu dan madu. Setiap akhir pekan, Bapak dan Ibu belanja di Bouchery yang menyiapkan daging halal, dan selalu dapat bonus ceker dan kepala ayam, karena memang selalu pesan kepada Si Penjual, agar ceker dan kepala ayam jangan dibuang. Akhir pekan yang paling bahagia adalah akhir pekan awal bulan, karena saat itulah keinginan bisa jalan-jalan di Place de la Comedie (pusat kota Montpellier) sambil makan Mac Donald terpenuhi.

Meskipun tinggal di Perancis dengan sejumlah kota wisata yang sangat terkenal dan berdekatan dengan negara-negara lain, namun tidak jarang hanya cukup puas mendengarkan cerita dan melihat di TV akan keindahan dan keterkenalan kota-kota tersebut. Setiap hari kegiatan rutin Bapak adalah menyelesaikan tugas-tugas di Lab, pulang dan pergi berjalan kaki yang berjarak sekitar 2,5 km sekali jalan (sehari 4 kali jalan). Berangkat pagi-pagi dan pulang malam hari. Semuanya Bapak dan Ibu jalani dengan penuh kesyukuran dan kebahagiaan.

Dalam suasana kehidupan seperti itulah, di Rumah Sakit Maternite Montpellier Perancis, Ibumu berjuang dengan taruhan nyawa sambil menahan rasa sakit, dan Bapak sambil memegang tangan Ibu untuk memberikan semangat dan doa, akhirnya lahirlah seorang bayi mungil pada tanggal 19 Desember 1989, aku adzani-qomati dan aku beri nama Rachma Rizqina Mardhotillah. Kebahagiaan Ibu, tiba-tiba berubah menjadi kesedihan, karena Sang bayi tidak boleh langsung dibawa pulang karena kulitnya sedikit menguning dan harus masuk inkubator, Sang dokter menyebutnya bayi ini mengalami sedikit peningkatan Bilirubin. Selama 3 hari, Rizqi kecil berada dalam inkubator, dan setiap hari Bapak sebelum ke Labo mengirim ASI yang telah Ibu masukkan ke dalam botol karena Ibu sangat ingin memberikan ASI eksklusif untuk putri tercintanya.

Kehadiran Rizqina kecil memang menghadirkan kebahagiaan tersendiri, termasuk menambah rezeki, karena saat itu Pemerintah Perancis melalui ‘Securite Sociale’ memberikan tunjangan bagi setiap anak yang lahir di Perancis. Kugendong sambil kusanjungkan shalawat, di sela-sela aktivitas keseharian seorang Thesard yang sedang merampungkan Tesis Doktoralnya. Ibu pun juga rela disamping ‘momong’ anak kesayangannya sendiri juga ‘momong’ anaknya kawan yang kedua-duanya sedang kuliah.

Alhamdulillah, akhirnya Bapak bisa ‘Soutenance’ ujian terbuka dan dinyatakan lulus pada tahun 1990 dan kembali ke Tanah Air. Hari terus berjalan, pada saat memasuki usia sekolah, meskipun sebenarnya belum saatnya masuk TK-SD, Bapak sekolahkan Rizqina di Al Islah Gunung Anyar tempat Bapak sekolah dulu, dengan harapan supaya memiliki fondasi keagamaan yang baik dan bisa bersahabat dengan anak-anak dari kalangan bawah untuk memperhalus, mempertajam, dan memiliki kepekaan sosial. Aku ingat pesan Nabi: Tak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama dibanding budi pekerti yang baik.” (HR Tirmidzi).

Boni 031-8177.3623

Kini, Rizqi kecil telah dewasa (tamyiz), setelah lulus Sarjana Teknik Elektro ITS, kau melanjutkan program Magister di Duisburg Essen University Jerman, dan kau sendiri yang menentukan pilihan calon suamimu, pendamping dan imammu, Ibu dan Bapak telah ridha dan merestuimu, setelah persyaratan dasar dipenuhi oleh calon suamimu Mas Berto. Bapak dan Ibu tentu punya harapan dan berpesan:

“Niatkan pernikahanmu sebagai bagian ibadah kepada Allah. Sehingga ringan bagi kalian berdua untuk saling mendekatkan diri kepada Allah. Jadilah sepasang doa yang saling mengamini. Tujuan sebuah rumah tangga bukan terbatas untuk meraih kesenangan duniawi, melainkan sebagai sarana untuk meraih tujuan ukhrawi yang abadi. Sepasang suami istri memang bisa dipisahkan di dunia karena kematian, tapi mereka masih bisa bersatu kembali kelak di akhirat. Mereka bersama pasangan mereka bernaung di tempat yang teduh (Yasin: 56). Bahkan, semoga semua anggota keluarga kita juga bergabung sebagaimana dalam firman-Nya: Surga Aden yang mereka masuki bersama bapak-bapak mereka, pasangan dan anak cucu mereka, serta malaikan-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu … (ar-Ra‘d: 23).”

Selain itu, Bapak-Ibu berpesan, agar engkau biasakan dan tradisikan dalam rumah tanggamu, hal-hal berikut ini, Insya Allah keutuhan dan kebahagiaan rumah tanggamu bisa tetap terawat dengan baik:

1. Biasakan shalat berjamaah, shalat dhuha, dan secara khusus dirikan shalat malam

2. Carilah rezeki yang halal dan sisihkan setiap kali mendapatkannya, berapa pun besarnya untuk berbagi kepada orang lain (sedekah).

3. Hiasi dan terangi rumahmu dengan bacaan Al-Quran dan shalawat.

4. Tetaplah berbakti dan menghormati kedua orang tua dan

5. Biasakan saling menghargai dan menghormati serta berlaku santunlah antara kamu dengan suamimu (wa’asyiruhunna bil ma’ruf)

Terakhir, Bapak teringat tentang hadiah paling besar yang diberikan Rasulullah kepada putrinya, Fatimah Az Zahra ketika dipersunting oleh Sayidina Ali k.w., yang kini kerap kita temukan dalam undangan-undangan resepsi perkawinan sebagai doa Nabi pada pernikahan Fatimah dan Ali. Dengan berharap keberkahan dan syafaat Rasulullah, izinkan Bapak dan Ibu juga memberikan hadiah itu pada pernikahanmu. Kurang lebihnya hadiah itu berbunyi: Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua, dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu, dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi amalnya. Selamat dan semoga keberkahan senantiasa tercurahkan dalam kehidupan rumah tanggamu, Ibu dan Bapak senantiasa mendoakanmu. []