Demi Buah Hati: Sudahkah Rela Berpayah-Payah?

Disclaimer: Tulisan ini sudah mengendap di laptop sekitar setahun lalu. Waktu itu, umur Sidqi, anak saya masih 6 tahun, dan sudah saya “paksa” untuk masuk ke SD swasta  yang berjarak sekitar 700 meter dari rumah kami. Maksud hati pengin anak ‘lebih unggul’ karena sudah kelas 1 SD di umur yang amat muda. Lumayan Pede-lah dengan kemampuan kognitif Sidqi. Apa daya, ternyata, kondisi sekolah plus banyak hal lain justru membuat anak saya terjerembab dalam “depresi” dan berubah jadi sosok yang sama sekali nggak saya kenal 😦 Saya posting di sini. Semoga kita bisa ambil sedikit pelajaran. Bahwa, lebih cepat belum tentu lebih baik 🙂

Demi Buah Hati: Sudahkah Rela Berpayah-Payah?

Mewek saban denger kata "sekolah"

Mewek saban denger kata “sekolah”

Sudah beberapa hari belakangan ini, Sidqi, anak saya mogok sekolah. Tiap kali ditanya alasannya, Sidqi tidak punya jawaban yang memuaskan.

“Pokoknya aku ndak mau sekolah.”

“Kenapa? Apa temen-temenmu nakal?”

“Bosan. Aku capek sekolah. Aku lebih suka di rumah. Pokoknya, aku nggak mau sekolah.”

Ingin rasanya menjadi orangtua “semi-Hitler” yang langsung berteriak lantang,

”Ayooo sekolaaahhh! Kalo gak sekolah, mau jadi apa kamu, hah?!?!?”

Tapi, sekuat tenaga saya coba menahan amarah. Sabaar…. Sabaarrr…..

Anehnya, meski membolos beberapa hari, pihak sekolah tidak memberikan semacam “teguran” kepada kami. Tadinya saya berharap minimal wali kelasnya yang berkunjung ke rumah. Atau, paling tidak, menelepon dan menanyakan kabar Salman. Sama sekali tidak.

“Wong sekolah gratis, yo wis, jangan punya ekspektasi apapun,” suami saya sempat berujar demikian.

Ya. Beginilah akibat dari paradigma orangtua yang punya “awareness tinggi” dalam hal “financial-planning” (bahasa yang mudah dicerna: orangtua yang super-irit cenderung pelit). Dari sekian banyak sekolah Islam yang ada di kota ini, kami justru menjatuhkan pilihan pada sekolah X. Ya alasannya itu tadi. Karena Gratis.

Akibatnya bisa ditebak. Kalau ada idiom “Gratis kok njaluk slamet?” (Gratis kok minta selamat?) maka itulah yang kini tengah kami hadapi.

Saya putar otak menghadapi kemelut ini.

Apakah saya mau menegakkan disiplin, dengan “memaksa” anak sekolah? Muncul kekhawatiran, kalau-kalau nantinya Sidqi justru “trauma sekolah” dan benar-benar sama sekali tidak mau berhubungan dengan segala sesuatu yang bernama sekolah.

Yang lebih parah lagi, bisa-bisa saya diciduk Komisi Perlindungan Anak, gara-gara berbuat KDRT—Kekerasan dalam Rumah Tangga pada anak.

Tapiii, kalau saya terlalu lunak, dan tetap membiarkan Sidqi berasyik-masyuk dengan bolos-membolos? Hhhh… mau dibawa kemana hidup dia nantinya?

Dan, apa kata keluarga besar kami?

Apa kata adik ipar saya yang menggondol gelar PhD dari sebuah universitas ternama di London, Inggris?

Apa kata omnya Sidqi yang kini jadi dosen di ITB?

Apa kata tantenya Sidqi yang cum laude dari Fakultas Kedokteran di Unair dan kini lagi ambil spesialis di UI?

Oh, seluruh keluarga besar kami adalah para manusia brilian. Suami saya juga menggondol gelar Master dari ITS.

Apa kata mereka, kalau ada satu bocah di dinasti ini yang ogah sekolah? Oh, APA KATA DUNIA??

BERTIGA: Sidqi, emak dan utinya

BERTIGA: Sidqi, emak dan utinya

Ini sudah menginjak hari ke-15 Sidqi membolos. Belum ada jurus cespleng yang bisa saya terapkan agar Sidqi mau kembali ke sekolah.

”Dek, kamu tahu kan kalau sekolah itu untuk masa depan dan kepentingan adik?”

“Ndak. Sekolah itu untuk kepentingan Ibu! Bukan kepentinganku!”

Jleb! Mak jleb jleb!

Mungkin Sidqi benar.

Akulah yang berambisi menyekolahkan dia.

Akulah yang punya keinginan besar untuk menjadikan Sidqi seorang yang punya gelar akademis berderet-deret.

Akulah yang punya kepentingan itu.

Akulah yang merasa malu kalau anakku tidak sepintar sepupu-sepupunya yang lain.

Akulah yang punya kepentingan untuk mendapatkan “kalungan medali” sebagai “ibu yang sukses mendidik anaknya sehingga melahirkan sosok yang amat-sangat brilian di dunia sains dan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.”

Akuilah…. Akuilah kalau aku yang ‘gila pujian’… Ingin memantaskan diri di hadapan manusia… Punya segudang ambisi agar muncul sebagai wanita hebat yang mampu menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Preeettt! Kerdil sekali pikiran saya!

Ya Allah…

Terkadang saya begitu bersemangat mengejar pengakuan manusia… Tapi, saya lupa, kalau sesungguhnya, “sertifikat” dari Allah justru yang amat penting dan malah tak pernah kuhiraukan… Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah….

Sesaat, saya tenggelam dalam istighfar yang panjang…. Astaghfirullah hal ‘adzim…..

***

Ngacaaaaa muluuuuu :-P

Ngacaaaaa muluuuuu 😛

Pelan tapi pasti, saya mencoba menerima kondisi ini. Saya berdamai dengan situasi. Oke. Anak saya ogah pergi ke sekolah formal. Di satu sisi, ini memang masalah. Kendati demikian, toh masih banyak hal baik yang bisa saya temukan dalam diri Sidqi. Ia masih mau ngobrol dengan saya. Ia masih mau menulis. Ia masih mau bergaul dengan anak-anak kecil di kompleks rumah. Ya sudahlah. Mungkin inilah cara Allah supaya saya mau menundukkan hati, dan kembali bermunajat kepada-Nya. Kadang-kadang, Allah memang menunjukkan kasih sayang-Nya dengan mengirimkan “sedikit” cobaan dalam hidup kita.

Ketika anak kita tengah “bermasalah”, jangan buru-buru menuding dia sebagai “si biang onar”. Atau melabeli dia dengan ucapan yang sama sekali nggak enak didengar, “Kamu itu bisanya cuma ngrepotin papa-mama….”

Ternyata anak kita, meskipun tampak sebagai sosok yang “tidak tahu apa-apa”, mereka punya daya rekam yang sungguh kuat. Tiap kalimat yang meluncur dari bibir kita, akan menancap di otak mereka. Kalimat buruk yang menggores sukma, tentu akan sangat mudah diingat. Apalagi, bila kalimat itu meluncur dari bibir sang ibunda, “Dasar anak nakal! Nggak tahu diri!!” Detik itu juga, harga diri si anak akan runtuh, hancur berkeping-keping.

Yang jelas, setiap orangtua punya kewajiban untuk mendidik buah hati mereka berdasarkan Fitrah Ilahiah atau sifat bawaan dari Sang Pencipta. Mereka lahir laksana secarik kertas putih. Lingkunganlah yang kemudian memberinya warna, termasuk dalam hal ini pola asuh orang tua.

Untuk lebih bersyukur atas segala kondisi anak, marilah kita senantiasa Menyadari Semua Anak adalah Bintang. Semua anak PASTI hebat.

Allah, Sang Pencipta yang Maha Sempurna tidak pernah menciptakan produk gagal. Seorang anak yang dalam kaca mata fisik atau mental kerap kita labeli sebagai “si cacat” justru adalah “sebuah bintang” yang bisa menyinari lingkungannya.

Karena itulah, kita harus menjadi “Guru Terbaik bagi Anak”. Bukan berarti kita harus berstatus sebagai Profesor Anu, atau Doktor Fulanah, atau harus menyandang gelar yang panjangnya laksana gerbong Kereta Api. Bukan itu!

Coba kita lihat sejarah Imam Syafii dan Imam Ahmad. Ibunda beliau-beliau itu bukanlah sosok perempuan dengan kecerdasan di atas rata-rata. Sama sekali tidak! Yang mereka miliki adalah, ketulusan menjadi ibu, penerimaan tanpa syarat, cita-cita yang demikian agung dan memuliakan, serta kesediaan dan kesabaran untuk berpayah-payah dalam mendidik dan membesarkan anaknya.

Betapa banyak orang-orang sukses justru lahir dari ibu-ibu lugu. Carl Frederich Gauss yang berjuluk “The Princess of Matematics” lahir dari orangtua tak berpendidikan. Ibunya bahkan buta huruf.

Apakah Anda pernah membaca buku “EMAKNYA DAOED YOESOEF?” Mata kita pun akan segera terbuka bahwa Menteri Pendidikan pertama Indonesia yang luar biasa itu ternyata adalah anak dari seorang emak yang buta huruf, orang kampung biasa seperti orang kampung kebanyakan. Yang berbeda adalah, Emaknya punya jiwa dan doa yang tak pernah putus untuk kebaikan anaknya! Subhanallah….

Coba berdirilah di depan cermin. Tanyakan pada diri Anda. “Sudahkah aku punya keikhlasan dan rela berpayah-payah untuk mendidik buah hati?” Jawablah dengan jujur. Jangan sampai, pepatah “Buruk Muka, Cermin Dibelah” terjadi pada diri kita.(*)

Advertisements

Titik Winarti : Konsisten Berdayakan Kalangan Difabel

Image

Ibu Titik Winarni (kiri) bersama Ucil, salah satu difabel yang udah jadi ‘tangan kanan’-nya

Tidak banyak kalangan yang menaruh perhatian kepada para penyandang disabilitas (difabel). Berbeda halnya dengan Titik Winarti. Ibu energik yang berdomisili di kawasan Sidosermo Indah ini punya cara yang amat kreatif, untuk memberdayakan para penyandang disabilitas (difabel). Di bawah bendera Tiara Handycraft, beliau merekrut sejumlah penyandang disabilitas (difabel) untuk sama-sama melahirkan produk-produk yang berkualitas.

Tak hanya dipasarkan di dalam negeri. Produk Tiara Handycraft juga telah diekspor dan diminati banyak konsumen di mancanegara. Di antaranya, Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Jaringan pemasaran yang mengglobal ini merupakan buah dari prestasi yang diraih Titik di tahun 2005. 

Saat itu, Titik meraih penghargaan Microcredit Award dari pemerintah. Dia lalu berpidato di depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat mengikuti pencanangan Tahun Internasional Kredit Mikro di markas PBB di New York, Amerika Serikat.

Image

Yihaaa… Tas yang saya pakai itu hasil kreasi teman-teman difabel loh!

Inilah profil social-enterpreneur yang luar biasa. Semua prestasi dan kerja keras Titik itu diawali dengan modal yang aman minim: 500 ribu saja! Ya, Titik mendapatkan modal dengan berhutang di salah satu koperasi wanita di Surabaya. Dan, usahanya bergulir dan berkembang dengan begitu massif. Plus, memberdayakan kaum penyandang disabilitas.

Tentu banyak inspirasi yang bisa kita petik dari beliau. Dalam sebuah kunjungan hangat di rumah yang sekaligus berfungsi workshop-nya, saya asyik berbincang dengan beliau.

Di Indonesia, tidak banyak orang yang punya kepedulian pada penyandang disabilitas. Bisa Ibu jelaskan latar belakang mengapa Ibu memilih untuk fokus di pemberdayaan bagi mereka?

Sedari awal, saya punya spirit untuk menunjukkan kepada masyarakat umum, bahwa anak-anak ini sebenarnya juga bisa menghasilkan karya. Hanya saja, mereka memang tidak mendapatkan kesempatan sebagaimana orang kebanyakan. Dalam hal ini, saya ambil peran itu. Saya berdayakan mereka untuk menjadi pengrajin, penjahit, pembuat pola dan berbagai pekerjaan yang ada di Tiara Handycraft. Dengan memberikan kesempatan seperti ini, maka saya yakin bahwa anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti mereka juga mampu berkarya. Ini tentu sekaligus bisa menjadi pelecut semangat bagi anak-anak normal, bahwa yang difabel saja mampu, masak yang anggota tubuhnya lengkap, malah malas-malasan dan ogah berkreasi?

Respon masyarakat bagaimana terkait pemberdayaan ini?

Memang awalnya ada yang berpikiran sempit dan cenderung under-estimate. ‘Anak cacat bisa apa sih?’ Ada juga yang menganggap, kalaupun anak difabel ini memproduksi suatu tas atau dompet, maka biasanya para konsumen membeli produk itu hanya karena belas kasihan. Padahal, kami menerapkan quality control yang amat ketat bagi produk handycraft yang kami hasilkan.

Bagaimana kontrol mutu yang Anda terapkan?

Apabila ada (calon) konsumen yang mempertanyakan kualitas produk kami, maka saya menjawab, “Ibu tahu merek Dannis Collections?” Tentu merek Dannis sudah punya branding image yang sangat kuat. Para penikmat fashion pasti sudah kenal merek ini. Nah, saya ceritakan pada mereka, “Anak-anak di Tiara Handycraft juga dipercaya untuk memproduksi beberapa items di Dannis.” Tentu mereka terkejut. Melihat standar jahitan Dannis yang rapih dan berkualitas, mungkin beberapa orang tidak percaya. Tapi, saya terus tunjukkan kepada masyarakat bahwa, ini lho, anak-anak difabel ini juga punya standar kerja dan output yang tidak kalah. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh, sehingga mendapatkan pengakuan dari brand fashion yang terkenal di negeri ini.

Image

Para karyawan difabel di Tiara Handycraft Surabaya

Setelah dipercaya menjadi vendor untuk Dannis, terobosan apa lagi yang Ibu terapkan pada Tiara Handycraft?

Sedari awal, saya berupaya mencari jalan untuk bisa mengakses pasar luar negeri. Kami terus membidik beberapa negara sebagai target market untuk produk-produk Tiara Handycraft. Alhamdulillah, sejumlah Negara memberikan respons positif. Produk kami diterima oleh konsumen di Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Saat ini, tren yang berkembang adalah, para konsumen akan membeli suatu produk berdasarkan ‘personal story’ yang melekat di produk tersebut. Jadi, misalnya, dia beli tas produk Tiara. Nah, di label harga, kami jelaskan bahwa produk ini digarap oleh penyandang tuna daksa. Maka, ia akan dengan senang hati bercerita ke rekan-rekannya bahwa “Hei, ini lho, saya pakai tas yang dibikin oleh penyandang difabel.”

Jadi, saya bikin produk itu handmade, eksklusif, ada pencantuman identifikasi pembuat produk. Karena kalau lihat orang beli tas mahal bermerek, sudah banyak kan? Nah, kami lebih menyasar para peminat barang yang esklusif dan dibuat dengan sentuhan personal.

Saat ini ada 40-an pekerja difabel yang tinggal di rumah Ibu. Bagaimana keluarga Ibu merespons pilihan yang Ibu ambil?   

Memang pada awalnya dua anak saya, Ade Rizal dan Tamzis Aribowo tidak setuju dengan sistem workshop sekaligus asrama yang saya berlakukan di rumah. Mereka bilang, “Aku nggak punya privasi, nggak punya kamar sendiri.Teman-temanku yang lain pada punya kamar sendiri, ini aku disuruh tidur bareng orang banyak.”

Saya jelaskan pelan-pelan ke mereka, “Kalau punya kamar sendiri kan sudah biasa? Semua anak juga seperti itu kan? Kalau kamu, punya kehidupan yang LUAR BIASA, karena mau berbagi dengan puluhan orang lain. Difabel, lagi! Jadi, kenapa musti minder? Kan lebih baik jadi anak yang luar biasa.”

Alhamdulillah, pelan tapi pasti, anak saya ikhlas menerima kebijakan kami. Bahkan, sekarang mereka sudah terbiasa untuk “sedekah kamar”. Kan, sekarang ini mereka kuliah di Malang. Mereka mengajak satu rekan kuliah yang dhuafa untuk tinggal bareng di kamar kos mereka,dan anak saya yang bayarin. Alhamdulillah, tidak saya sangka, kebijakan tinggal bersama difabel, menjadi pemicu anak untuk cinta dan rajin sedekah.

Dari tadi, ibu menggunakan istilah difabel, bukan disabilitas. Apa makna “difabel” sejatinya?

Difabel itu kalau ditilik dari arti katanya : different ability, maknanya: kemampuan yang berbeda. Kalau disable atau disabilitas, artinya: dis = tidak ; able = mampu. Jadi, kalau mengatakan, disable, secara tidak langsung, kita menuding anak itu sebagai anak yang ‘tidak mampu mengerjakan apa-apa’. Padahal, kita lihat sendiri, di workshop saya, semuanya anak difabel! Justru dengan semangat ingin menjadi manusia yang bermanfaat, mereka sanggup melakukan banyak hal, yang mungkin belum tentu bisa dilakukan orang-orang yang mengaku “normal”. Karena, sesungguhnya “cacat” itu kan ada di hati dan di pikiran. Kalau seseorang sudah patah semangat dan tidak mau bangkit atau malas-malasan melakukan hal yang erbaik, maka itulah definisi orang cacat sebenarnya.(*)

ASMA NADIA : Sebarkan Virus Bunda Anti-Galau

Image

Asma Nadia (tengah) dan saya kompak pakai jilbab pink-fuschia gitu deeh 🙂

“Cerita-cerita yang tertulis di buku saya, memang sarat pesan khususnya buat para Ibunda. Tujuannya? Tentu supaya para Ibu tidak galau. Coba bayangkan, Ibu itu kan tugas utamanya mendidik dan membesarkan buah hati. Kalau ibunya galau, gimana nasib anaknya, coba? Seorang ibu tak boleh berlama-lama lemah, sebab ada anak-anak yang memerlukan senyum dan kehadirannya di sisi mereka.”(Asma Nadia)

Siapa tak kenal Asma Nadia?

Nama yang demikian kuat bercokol di dunia sastra. Nama dan karyanya kian melanglang buana, seiring dengan aneka novel, kumpulan cerpen dan karya literaturnya yang banyak bermuatan edukasi, khususnya bagi orangtua. Banyak misi menarik yang mencuat dari ragam karya yang ia lahirkan. Yang paling menonjol adalah, bagaimana supaya kita menjadi sosok orangtua yang semakin baik dari hari ke hari.

Sebagai novelis, Asma menurunkan bakatnya ke dua buah hatinya. Eva Maria Putri Salsabila dan Adam. Mereka berdua sudah menerbitkan novel anak-anak, dengan ciri khas masing-masing. Jiwa sastrawan nan puitis begitu kuat mengakar dalam diri Caca, panggilan akrab Putri Salsa. ”Pernah, suatu ketika Caca datang dan menyodorkan kertas yang ia hias seperti penghargaan. Di kertas itu tertulis: Number One Mom, atau The Best Mom in The World. Sering juga Caca membungkus kado untuk saya, terutama kalau saya baru pulang dari perjalanan jauh berhari-hari. Kado itu berisi barang-barang lama saya, seperti kotak tisu, bingkai foto, jepit rambut. Uniknya, selalu ada kalimat penuh cinta yang tertera di bungkusnya, seperti “For My Beloved Mom”.

Kasih sayang yang tak terperi antara Ibu dan anak ini memang menggetarkan hati. Rasa sayang Caca terhadap Bundanya adalah buah dari cinta kasih yang membuncah dari orangtua kepada anak. Di tengah jadwalnya yang begitu padat, suatu ketika, Asma meluangkan waktu untuk hadir dalam pentas drama di sekolah Caca. ”Usai tampil dan turun dari panggung, Caca kontan menubruk saya dan mengatakan ‘Aku punya surprise untuk Bunda’. Tangan kecilnya menyodorkan sebuah hadiah yang ia bungkus dengan kertas putih berhias dan bertuliskan ‘Thanks for Watching Me, Mom!’ Subhanallah, perasaan saya langsung nyess ketika memeluknya saat itu. Tulisan Caca menyadarkan saya betapa berartinya kehadiran saya bagi anak seperti dia,” lanjut Asma.

Asma merasa bersyukur lantaran bisa menyaksikan performance buah hatinya. Betapa banyak orangtua yang enggan terlibat dalam kegiatan sekolah sang buah hati, dengan dalih kesibukan yang menggunung. ”Untunglah saya mengundurkan jadwal keberangkatan saya ke luar kota. Dengan membaca tulisan Caca, saya merasa menjadi sosok yang begitu berharga untuk dia.”

Selain melahirkan puluhan buku best seller, Asma Nadia juga kerap mengisi seminar seputar Keluarga Sakinah, di berbagai pelosok daerah, hingga ke mancanegara. Suami Asma, Isa Alamsyah adalah seorang motivator sekaligus penulis. Sepasang suami-istri ini begitu kompak dalam menjalani bahtera rumah tangga, dus memberikan pendidikan yang terbaik bagi buah hati mereka. ”Sebagai orangtua, tugas kita untuk terus mengompori anak-anak, agar mereka terpacu dan berbuat. Agar mereka percaya, they do own the ability to do something. Mereka bisa berbuat sesuatu dan lebih percaya diri untuk menjalani hari sekaligus menatap masa depan,” tukas Asma, “Jadi, ayolah kita para orangtua sama-sama memberi ruang seluas-luasnya, bagi anak-anak kita dan belajar mempercayai. Bahwa mereka bisa!”

Kendati tampak kompak luar dalam, bukan berarti sosok Asma Nadia tampil sebagai “super-mom” di keluarga mereka. ”Kadang ada kalanya anak-anak saya kalau lagi asyik main sama ayahnya, terus saya nyamperin ’Eh, udah pada belajar belum?’ Spontan, anak-anak saya nyeletuk, ’Waduh ada GAN nih… Gangguan Asma Nadia’ Hehehhe,” kelakar Asma. Pun ketika Asma dan suaminya menjalankan Ibadah Haji. Ketika tengah wukuf di Padang Arafah, di luar dugaan, Isa Alamsyah, sang suami, memanjatkan doa yang cukup ‘unik’, ”Ya Allah, semoga ibunya anak-anak tidak bawel-bawel amat…”

Asma percaya bahwa tidak ada pasangan ataupun keluarga yang sempurna. Sebagaimana yang tertulis di cover buku Sakinah Bersamamu. Begini bunyinya: Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna. ”Sakinah memang harus diusahakan. Berusaha menjadi pasangan yang menyenangkan, bersyukur atas bagaimanapun kondisi pasangan kita. InsyaAllah dengan memiliki tujuan yang sama, yaitu menggapai ridho Yang Maha Kuasa, maka perjalanan rumah tangga kita akan menjadi indah,” pungkasnya.(*)

Image

Sempat dinasihatin juga, supaya saya istiqomah berdiet *uhuk!*

 

[Portofolio] Pengin Jadi Anak Sholih…..

Siang-siang gini, ngantuuuuk banget, byuuuh…. Biar ngantuknya ilang, ngeblog aahhh *teriak pake toa

Sepagian tadi, saya cukup kaget pas baca blog Pak Iwan Yuliyanto. Infonya dapat dari Mak Myra Anastasia. Jadi, critanya, ada satu akun FB yang isinya haduuuh, na’udzubillah banget… Statusnya itu lho, bener-bener bikin kita harus istighfar terus-menerus. Si neng bolak-balik nulis status yang isinya menjelek-jelekkan ortu (terlebih ibu) .

Wah, sebagai emak, jelas saya panik banget. Jangan sampai, kelakuan durhaka semacam itu menular ke saya ataupun ke anak saya.  Naudzubillahi min dzalik

Sebagai “obat” pelipur lara gegara baca berita “FB anak durhaka” tadi, saya mau parade hasil karya euy.

Saya dan beberapa teman plus mas ini ditugasi untuk bikin Konsep, Foto sekaligus Copywriting kalender. Biar ga kaya kalender kebanyakan (kita kan anti-mainstream, hehe) kalender kita ini ada “Tema”-nya. Tahun ini, temanya: “Birrul Walidain” alias Akhlak (anak) yang harus berbuat baik terhadap orang tua.

Yuk ah, nikmati parade hasil karya banting tulang peras keringat kuras airmata kami.  Hihihi.

FOTO DI BAWAH INI, FAVORIT SAYA BANGET! Karya mas boss di kantor. Konsepnya, kurang lebih ambil kisah Sahabat Rasul yang mendarmabaktikan jiwa, fisik, tenaganya untuk menggendong ibu tercinta ketika THAWAF! Itu artinya, muterin Ka’bah 7 kali putaran dalam kondisi PUANAAASS, gilak. Nah, si model profesional menggendong mbahnya (karena ibunya masih muda, jeeeh…) seolah-olah menapaktilasi jejak Sang Sahabat. Untuk Naskah Copy-writing kalender tema ini, saya tulis di bawahnya.

Image

Image

KALAU YANG INI, MODELNYA ADALAH Mbak Lala, istrinya si model profesional di atas 🙂 Yang jadi anaknya, Afif, salah satu santri di Panti Asuhan Pesantren Anak Sholih Nurul Hayat. Ceritanya, si Afif jadi anaknya mbak Lala, trus Afif cranky banget, minta gendong, minta pentol, minta duit, minta kawin *hlo?! Nah. Biasanya, kita sering cranky dan ‘gak sengaja’ bilang “AH!” ke ortu kan? *kita?!?! Lo aja kaleee** Tujuan gambar kalender ini pengin ‘nabok’ kita biar kagak melontarkan kata-kata buruk nan kasar ke ortu. Bahkan “AH!” saja udah dosa loh. Copywriting-nya saya taruh di bawah foto yak.

Image

Image

TEMA BERIKUTNYA TENTANG…… *Jreng-jreeng* MERTU-HA-HAA-HAAA-HAAAA….

Siapa sih yang nggak pernah ‘kesenggol’ ama mertua? Wuahaa, thumbs up dah! Biarpun ngaku sebagai mantu yang asik, baik, easy-going, suka menabung dan tidak sombong *tsaaah* gini-gini saya juga pernah lah ‘terintimidasi’ oleh mertua.

Lah, mertua saya itu lho, tipikal ibu yang ‘almost perfect’. Cantik. Jago masak. Jago jahit. Jago merawat anak. Jago dagang. Baik. Gak pernah bikin sakit hati orang. Makanya, saya suka kesel, kalo ada yang ngebandingin ibu mertua dan saya.

“Iiiih, mba Nurul kok nggak elegan kayak ibu mertuanya sih?” *gampar*

Nah, gara-gara itu, saya jadi sebel ama mertua –> mantu sesat. Hehhe, tapi sekarang udah tobat kok. Dipikir-pikir, aneh banget deh, logika saya. Dapat mertua baik, mestinya bersyukur tho? Ini kok malah nggondhok hanya karena dibanding2in. Istighfar nduuuk…

TEMA di bawah ini mengakomodir keinginan Bos di NH (kagak berani nge-link ke twitter doi, heheheh). Penginnya ada kalender yang memberikan nasihat (tapi tidak menggurui) soal bagaimana adab dan etika kita pada mertua. Nggak terlalu suka ama fotonya, tapi demen banget ama copywriting-nya. (lah iya, lha wong yang bikin aku dewe, heheheheh….)

ImageImage

Duh.

Ini maapkeun, file-nya segede gaban, tauk nih kok ga bisa di-resize. Sepertinya laptop saya ingin pensiun dini dan digantiin Acer Slim Series. Hihihi…

Baiklah, sekian update pamer karya dari saya. Semoga kita dilindungi Allah, dibimbing terus untuk jadi anak yang sholih dan sholihah. Juga jadi ortu yang baik dan benar. Jangan nuntut anak sholih mulu, sih… Kitanya juga harus ngaca.

Twitter-an yuk, boleh mention saya di @nurulrahma. Have a Great Day!

[Tags by Okke – Sepatu Merah] Posting Blog – Lain Dulu Lain Sekarang

Haiiii mbak Okke, yang blognya masuk kategori wajib saya kunjungi 🙂

Asik banget deh mbak, kalo udah “namu” di rumah mbak Okke. Males pulang, rasanya, hehehe… Tulisan2nya itu lho, ngena banget!

Kali ini, saya mau ikutan partisipasi [Tags] by mbak Okke. Komparasi gaya ngeblog zaman dulu dan zaman sekarang. Di dua postingan sebelumnya, saya udah mengupas tuntas soal pengalaman Hajj. Ada yang versi 2010 (jadi fresh from the oven, gitu….) ada juga yang versi 2013. Apa yak, bedanya? 

Hmmm, kayaknya nih, karena makin ke sini, saya makin dewasa dan matang (haiiissshh, bilang aja udah tua, heheheh) postingan masa kini tuh lebih “ati-ati”. Saya ga mau ambil kalimat yang jedar-jeder-dar-der-dor gitu. Secara, udah sadar umur, neik. Takut ngelukain perasaan orang juga *halahdalah, opo tho iki…..*

Biasanya, sebelum posting, saya juga rajin browsing. Meneliti kesahihan data tulisan (emangnya bikin thesis?) Takut kalau ada yang salah. Takut kalau logika saya kebalik. Takut kalo orang baca tulisan, dan ngira saya masih ABG *ihiy*

Kenapa kok saya makin ke sini makin lemah lembut gemulai dewasa?  

Tidak lain dan tidak bukan, karena saya gabung di…… Kumpulan Emak Blogger

Wakakaakakaka… Saya rajiiin banget blogwalking ke blog emak2 kece yang ada di sana. SubhanAllah, mereka tuh, kok ya bisa mengupas segala macam hal dengan sangat smart! Dan teteup gak kehilangan ciri khas emak2 mereka.Truss, hampir nggak pernah deh, saya nemuin blog yang isinya mubadzir. Semuanya KEREN!

Walopun, sebenarnya di lubuk hati terdalam, saya juga teteup dong, pengin jadi emak dengan penguasaan diksi kelas wahid, teteup lutchu bin gaul, teteup bikin perut ngakak dan mules, yah semacam itu laah. Makanya, hampir tiap hari, saya kepoin blog mereka, biar get inspired gitu. 

Intinya, ngeblog zaman dulu, saya bisa lebih lepassss gitu. Kalau zaman sekarang, lebih terkekang jaim lah hayy. Apalagi, bos gue di kantor juga follow blog ini. Duh, mana mungkin lah, gue curhat soal endebre-endebre pernik-pernik kantor? Gak bisa kaya si kerani, chaos at work itu dong yaa, hehehe…. 

Eh tapiii, ngeblog zaman sekarang emang lebih cihuy sih. Soalnya, banyak banget kesempatan buat dapetin segabruk hadiah. Saya lumayan rajin lah ikutan berbagai lomba blog. Pernah beberapa kali menang sih. Dan, selalu ter-ngowoh-ngowoh kalo liat postingan ‘ajegile’ dari para Kampiun Master Blog Indonesia, ada yang PNS Kominfo, ada yang ibu2 ayu, ada yang jeung bankir cantik, macam-macam lah. 

Intinya, ikutan lomba blog itu kan mengasah adrenalin kita dalam memasuki ajang pertarungan. Kalau menang, ya bersyukur karena karya kita direspon baik oleh juri. Kalau kalah? Nangis di pojokan. Teteup harus bersyukur juga dong, karena kita udah menang melawan kemalasan diri untuk konsisten updating blog. Ya kan?

Nah, sejak gabung di KEB itu, Alhamdulillah, saya jadi enjoy banget ngeblognya. Berasa punya keluarga besaaaar gitu lho. Walopun blum saling kenal dan blum pernah ketemuan, tapi saya ngerasa udah ‘dekeet’ banget ama semua emak yang ada di sono. Dan ini bikin intensitas ngeblog saya lumayan tinggi lah. 

Gitu dulu ya mbak Okke. Maapin kalo postingan malam ini gak serapih mbak Okke punya. Ini ketak-ketik sambil nyeplesin nyamuk, euy #penting. 

Hajiku, Hajimu, Haji Kita

Disclaimer: Kalo yang ini, postingan masa kini. Udah 3 tahun sejak saya berhaji. Terlintas bikin postingan gegara ada tema “Haji” di Kompasiana. Ya sudah, saya posting di blog ini dah. Berhubung pengin komparasi dengan tulisan zaman dulu kala, sekaligus menjawab tags jeung cantik ini, kutulis dimari ahhh….

 

“Braaaakkkk…..”

Allahu Akbar, Ibuuuu…..ibuuu… ini gimana nih, Ibu….”

Astaghfirullah… Allah… Allah….”

Buru-buru saya berucap istighfar. Tak kuasa saya melihat “pemandangan ngeri” yang terjadi persis di depan saya. Seorang nenek-nenek bermukena lengkap, menaiki eskalator bareng bolo-bolonya. Semua serba lansia. Kalau lihat gaya bicara mereka, tampaknya, nenek-nenek sepuh ini berasal dari desa dan sama sekali tidak akrab dengan eskalator! Pantasss… Mereka kelihatan kemrungsung (panik dan ribet) ketika harus menapaki tangga berjalan. Pantas, satu dan yang lain kelihatan berusaha saling menguatkan, menyemangati agar bisa naik. Tapi, yang terjadi adalah…. Mukena salah satu dari mereka nyangkut, tergilas pijakan eskalator dan nenek tadi harus jatuh berguling-guling.

Untunglah, cukup banyak jamaah haji pria yang berada di sekitar kami. Setelah eskalator berhasil dihentikan, pak haji tadi langsung menolong nenek sepuh yang tak berdaya.

Yak, selamat datang di Masjidil Haram, Mekkah. Inilah momen terbesar dalam ibadah umat muslim sedunia. Berjubel manusia memadati bangunan suci ini. Masjid yang teramat sangat luas, penuh dengan beragam aksesoris hi-tech, sehingga kerap menjadi “jebakan betmen” buat para jamaah haji. Apalagi, yang berasal dari desa, dan minim pengalaman dengan teknologi.

Image

(bukan) jamaah ndeso lah yauw Heheheh

 Kalau mau berhaji, bukan hanya hati, jiwa dan iman yang harus dimantapkan. Duit, juga, hehe… Yang tak kalah penting, siapkan “mental” untuk menghadapi beragam hal di luar kebiasaan hidup kita.

Soal naik eskalator tadi, misalnya. Jauh-jauh bulan, ada baiknya CJH yang berasal dari desa diajak untuk jalan-jalan ke kota. Tujuannya? Ke mal! Ngapain? Coba naik-turun eskalator. Selain itu, biasakan diri untuk berakrab ria dengan kumpulan manusia dalam jumlah segabruk. Betul lho, kalau tidak terbiasa, lihat ribuan manusia bisa bikin sukses keliyengan!

Tahun 2010, Alhamdulillah saya memenuhi undangan Sang Penggenggam Kehidupan untuk beribadah ke Baitullah. Rasa haru yang meruap, rasanya sulit dipercaya, karena usia saya terbilang masih muda (untuk ukuran rata-rata jamaah haji Indonesia). Ya, saya berhaji di usia 29 tahun. Bersyukur lantaran usia muda ini memudahkan saya untuk melakoni sejumlah ibadah fisik. Bayangkan, SELURUH ritual dan aktivitas haji mensyaratkan fisik yang prima. Thowaf, kita harus memutari Ka’bah sebanyak 7 putaran. Lalu, sa’i, bolak-balik antara bukit Shofa-Marwah sebanyak 7 kali. Belum lagi berjibaku ketika antre bus. Ketika harus berjejalan di dalam Masjidil Haram. Ketika berjalan kaki dari pemondokan ke terminal. Macam-macam. Tak habis syukur saya karena undangan Allah yang begitu indah, sudah saya terima di usia 29 tahun.

Muncul pertanyaan, bagaimana saya bisa berhaji di usia semuda itu? Hmm, jawaban versi bijaknya: begitulah skenario Allah. Kadang, kita tidak pernah tahu dan tak bisa memprediksi jalan hidup kita. Kalau jawaban versi financial planning: Ya, boleh dibilang, berangkat haji adalah salah satu “tujuan finansial utama” saya. Apapun saya lakukan demi bisa berhaji. Saya rela ngirit-ngirit ongkos makan, asal ada duit yang bisa saya tabung di Rekening ONH. Saya sanggup tak beli baju modis, tak nonton film bioskop premiere, tak ikut gaul dan berhedon-ria dengan teman-teman. Mengapa? Karena saya meniadakan budget “having fun” dan mengalokasikan semua itu dalam rekening Haji. Alhamdulillah, duit tabungan sudah cukup. Plus, undangan Allah sudah tiba.  Sebuah harmoni nan indah. Lebih elok lagi, karena abang dan ibunda saya juga berhaji di tahun yang sama. Subhanallah, sungguh indah rencana Allah.

Demi Ngirit, Masak Sendiri

Masih membahas soal financial planning. Urusan hidup hemat harus berlanjut di tanah suci. Sebenarnya, negeri onta ini  tidak terlampau “mencekik” dalam urusan harga sembako. Ya, adalah harga-harga yang dikatrol, karena demand yang luar biasa meningkat. Kalau ketemu pedagang yang baik, insyaAllah kita nggak bangkrut-bangkrut amat-lah. Tapi, apabila Anda lagi apes, dan bersua pedagang yang ‘minta ditambah ajaran’ (istilah ini diperhalus dari ‘kurang ajar’) ya apa boleh buat. Saya pun pernah beradu mulut dengan si pedagang bahlul itu. Saya ngomel-ngomel pakai Bahasa Inggris, dia pakai Bahasa Arab. Nggak nyambungBiarin, yang penting puas, sudah bisa komplain ke dia. Hehe.

Nah, kami bertiga termasuk keluarga menengah yang tak tega bila harus menghamburkan duit. Untungnya, ibu saya termasuk perempuan dengan kecerdasan finansial yang sungguh patut diberi standing ovation. Dari tanah air, ibu membawa beragam properti dan bahan mentah, bumbu plus perintilan dapur lainnya. Mulai kompor listrik, rice-cooker mini, panci, wajan, teko, beras, kacang ijo, bahkan daun pandan! SubhanAllah banget kan?

Ternyata, strategi Ibu amat-sangat bisa menyelamatkan kantong dari “kepunahan penduduk”. Kalaupun beli di Arab, kami hanya belanja telor, sayur kangkung dan buah-buahan saja. Selebihnya, please welcome…. Chef Siti Fatimaaahh! Hehehhe….

Image

(mendadak) Chef Siti Fatimah (kanan)

 Lebih bersyukur lagi, karena lidah saya ternyata tak berjodoh dengan masakan Arab. Hampir semua masakan Arab diberi bumbu kapulaga, jinten yang rasanya justru (menurut saya) bikin eneg. Alhamdulillah, justru di Arab, saya merasakan bahwa masakan Ibunda adalah menu paling juara sedunia!

O iya, ibu saya juga menyiapkan stok bumbu pecel, abon, mie instan, ikan wader goreng, kripik usus, kripik belut, dan aneka snack yang bisa berfungsi sebagai teman makan nasi. Nggak ada judulnya kita bosan dengan sajian Ibu. Yang ada, teman-teman satu KBIH sibuk bersilaturrahim ke kamar kita. “Halo, Assalamualaikum, hari ini Chef Fatimah masak apa ya?”

Perbaiki Hati, demi Raih Haji Mabrur

Seolah tidak ada habisnya kalau harus mengulik memori ketika berhaji. Adaaaa saja yang mau diceritakan. Kenangan ketika wukuf di Arofah. Drama berebut bus Saptco gratisan. Pengalaman diusir asykar (petugas) Masjidil Haram karena ketahuan bawa kamera. Adu strategi simpan kamera poket di dalam kaos kaki, lantaran takut disita asykar di Masjid Nabawi. Macam-macam!

Image

Yang jauh lebih penting dari itu semua adalah, apa dan bagaimana upaya kita untuk meraih predikat Haji Mabrur. Karena rupiah yang kita gelontorkan, sungguh amat disayangkan bila tidak kita optimalkan untuk ibadah haji setulus hati. Memang, godaan kerap menghantam. Ujub (bangga pada diri sendiri) hanya karena sudah berhaji, adalah sebuah rasa yang harus kita enyahkan. Sekuat jiwa. Karena itu, sebelum berhaji, sesudah berhaji, dan setiap momen haji tiba, saya selalu baca untaian nasehat dari Ja’far Ash Shadiq, sufi besar keturunan Rasul, yang saya cantumkan di akhir tulisan ini. Resapi dalam-dalam. Hayati, dan amalkan. Yang tahu mabrur-tidaknya ibadah hanya Allah. Tugas kita adalah melakukan upaya dan menguatkan hati agar tidak tergelincir dalam riya’ (pamer). Selepas itu, tak perlulah kita panik dengan embel-embel “Pak Haji” atau “Bu Hajjah” atau “Umi” dan sebagainya. Satu-satunya hal yang esensial, semoga Allah mengganjar kita dengan surga-Nya, sebagaimana sabda Rasul, “Haji mabrur itu tidak ada balasan lain, kecuali surga.” (HR Nasai dari Abu Hurairah).

Allahu Akbar. Indah nian… Dan, ingat-ingat juga sabda Rasulullah berikut, “Barang siapa berhaji di Baitullah, kemudian dia tidak berkata-kata kotor atau berbuat dosa, ia kembali dari haji seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Baiklah, di bawah ini saya untaian nasehat dari Ja’far Ash Shadiq:

Jika Engkau Berangkat Haji….

Kosongkanlah hatimu dari segala urusan dan hadapkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah Swt.

Tinggalkan setiap penghalang dan serahkan urusanmu pada Penciptamu.

Bertawakkallah kepada-Nya dalam setiap gerak dan diammu.

Berserahdirilah pada semua ketentuan-Nya, semua hukum-Nya, dan semua takdir-Nya.”

“Tinggalkan dunia, kesenangan dan seluruh makhluk.

Keluarlah dari kewajiban yang dibebankan kepadamu dari makhluk.

Janganlah bersandar pada bekal, kendaraan, sahabat, kekuatan, kemudaan, dan kekayaanmu.”

“Buatlah persiapan seakan-akan engkau tidak akan kembali lagi.

Bergaullah dengan baik.

Jaga waktu-waktu dalam melaksanakan kewajiban yang ditetapkan Allah dan sunnah Rasul, yaitu berupa adab, kesabaran, kesyukuran, kasih sayang, kedermawanan, dan mendahulukan orang lain sepanjang waktu.

Bersihkan dosa-dosamu dengan air tobat yang ikhlas.”

“Pakailah pakaian kejujuran, kerendahan hati, dan kekhusyukan.

Berihramlah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kamu mengingat Allah.

Bertalbiahlah kamu dengan menjawab panggilan-Nya dengan ikhlas, suci, bersih dalam doa-doa kamu seraya tetap berpegang pada tali yang kokoh.”

“Bertawaflah dengan hatimu bersama para malaikat sekitar Arasy, sebagaimana kamu bertawaf dengan jasadmu bersama manusia di sekitar Baitullah. Keluarlah dari kelalaianmu dan ketergelinciranmu ketika engkau keluar ke Mina dan janganlah mengharapkan apapun yang tidak halal dan tidak layak bagimu.”

“Akuilah segala kesalahan di tempat pengakuan (Arafah). Perbaharuilah perjanjianmu di depan Allah, dengan mengakui keesaan-Nya. Mendekatlah kepada Allah di Muzdalifah. Sembelihlah tengkuk hawa nafsu dan kerakusan ketika engkau menyembelih dam. Lemparkan syahwat, kerendahan, kekejian, dan segala perbuatan tercela ketika melempar Jamarat.”

“Cukurlah aib-aib lahir dan batin ketika mencukur rambut. Tinggalkan kebiasaan menuruti kehendakmu dan masuklah kepada perlindungan ke Masjidilharam. Berputarlah di sekitar Baitullah dengan sungguh-sungguh mengagungkan Pemiliknya dan menyadari kebesaran dan kekuasaan-Nya. Ber-istilam-lah kepada Hajar Aswad dengan penuh keridhaan atas ketentuan Allah dan kerendahan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tinggalkan apa saja selain Allah ketika engkau melakukan tawaf perpisahan. Sucikan rohmu dan batinmu untuk menemui Dia, pada hari pertemuan dengan-Nya ketika kami berdiri di Safa. Tempatkan dirimu pada pengawasan Allah dengan membersihkan perilakumu di Marwa.”(*)

Jadi “Monster” Pas Berhaji

Sejak 2010, postingan ini udah ada di compie dan blog multiply (yang sudah rest in peace). Yup, artikel ini saya tulis beberapa saat setelah saya pulang haji. Gara-gara baca blog ini plus dapat tags dari jeung ini, saya tampilkan di blog dah. jadi, critanya ini mengenang “tulisan di masa dulu”. Nah, di postingan berikutnya, akan saya tulis “tulisan masa sekarang”. Cekidot 🙂

Nggak banyak orang Indonesia yang berangkat haji di usia muda. Padahal, haji adalah Ibadah Fisik banget! Bayangin aja, selama Haji, kita kudu ngelakoni Thowaf (muterin bangunan Ka’bah selama 7 putaran), plus sa’i (jalan cepat antara bukit Shofa dan Marwah) juga selama 7 kali. Bangunan Masjidil Haram yang luas banget itu, juga kudu ditempuh dengan berjalan kaki. Kebayang kalo yang harus ngejabanin itu semua adalah nenek-nenek berusia 70-an tahun, lumayan bikin encok rematik jadi kumat bukan?

Syukurlah, saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berhaji di usia yang masih lumayan “pagi”: 29 tahun. Walaupun bobot bodi saya lumayan bikin ngos-ngosan—berat saya 69 kg dengan tinggi badan 155 cm, tapi, saya kan masih muda banget jadi saya optimis dan super-pede dengan perjalanan Haji pertama saya ini.

Image

Ya Allah… pengin ke sini lagiiii….

 

Ternyata, di Mekkah, saya kudu nginep di maktab (penginapan) di kawasan Syisya yang berjarak sekitar 6 kilo dari Masjidil Haram. Untungnya, gara-gara lokasi yang cukup jauh, saya dapat cash back dari pemerintah RI senilai 700 reyal. Selain itu, untuk menjangkau Masjidil Haram cukup naik bus Saptco 2 kali, dengan rute: Syisya-Terminal Mahbaz Jin, lalu ganti bus lagi, dengan jurusan Terminal Mahbaz Jin-Masjidil Haram. Busnya gratis pula. Jadi, pemerintah Indonesia menyiapkan sejumlah armada bus dengan rute yang disesuaikan berdasarkan lokasi maktab. Karena maktab saya bernomor 203, maka saya kudu naik bus nomor 2, jurusan Syisya. Nah, di Syisya itu bercokollah ribuan umat manusia yang juga pengin naik bus gratisan dengan destinasi yang sama: Masjidil Haram. Namanya aja bus gratisan, butuh perjuangan ekstra untuk bisa nangkring manis di dalam bus, baik dalam perjalanan dari maktab ke Masjidil Haram, maupun sebaliknya.

Apa aja kendalanya? Tentu perkara antre. Untuk bisa nangkring manis di dalam bus, kita musti baris-berbaris di sekujur line yang disediakan petugas haji di kawasan Bab Ali (pintu Ali) di Masjidil Haram. Antrinya bak ular naga panjangnya bukan kepalang! Tapi namanya manusia itu susaaahh banget diatur. Ternyata selama di Arab Saudi, beberapa dari kita justru menjelma menjadi “Monster”. Meski sama Pak Ustadz bolak-balik diceramahin bahwa kita kudu melatih kesabaran selama Berhaji, wew, ternyata slogan “Orang Sabar Disayang Tuhan” kagak berlaku manakala kita antre bus.

Pernah tuh, saya antre dengan rapih-jali, tiba-tiba seorang manusia slonong boy di sebelah saya, ia dengan cueknya nyerobot! Sabar, sabar Bu Haji… saya cuman bisa membatin. Eeh beberapa detik setelah itu, muncul segambreng manusia yang nyerobot juga. Terang aja, kami yang udah hampir mati berdiri saking lamanya antre, langsung muntab. “Woooiii… antre woooiii!”, kami pun koor neriakin si tukang serobot. Entah pura-pura budeg atau emang budeg beneran, tuh orang kagak ngeh dan nggak meduliin teriakan kita. Langsung aja saya samperin mereka, “Pak, antre tuh baris ke belakang, bukan baris ke samping. Di sekolah pernah ikut upacara bendera gak seh?”

Lain waktu, ada nenek-nenek yang ngantri di belakang saya. Hmm, enak nih, kalo nenek-nenek biasanya sopan. Lah, ternyata dugaan saya meleset! Biar kata nenek-nenek, dia tetep dengan pedenya dorongin badan saya yang segede gaban ini. Saya pun nyolot, “Rese deh! Nek, saya tuh bisa jalan sendiri, nggak usah didorong-dorong kenapa?”. Dan dengan manisnya, tu nenek malah melengos.

Setelah antre-mengantre yang super ngeselin itu, kami menanti detik-detik yang menegangkan untuk keluar dari Bab Ali. Jadi, para petugas itu membentengi kami yang lagi ngantre ini dengan sebingkai rantai. Manakala rantai penghalang itu dibuka…. Gruduuuuggg, para jamaah haji ini lepas begitu saja, kayak kuda dikeluarin dari kandangnya! Lalu, kita musti dorong sana-dorong sini, demi mendapatkan posisi wenak di dalam bus. “Kalo lo pengin dapat tempat duduk di bus, maka lo kudu agresif!” gitu kata salah satu temen sekamar saya. Jadilah, sikut sana, sikut sini sambil lari-lari ngejar bus.

Image

Nah loooo, gue berdiri kan di Bus Saptco! Kepaksa nyengir euy 🙂

 

Dapat kursi di dalam bus bagaikan secuil surga yang dilemparkan Tuhan ke muka bumi. Jadilah, kalo pas lagi hoki dan dapat tempat duduk, saya merem-meremin sekujur indra penglihatan, dan pura-pura bego ajalah, biarpun ada jamaah lain yang meminta belas kasihan untuk ikutan numpang duduk. Tapi, kadang, suka terbersit perasaan pengin nolong juga, apalagi kalau yang pasang tampang ‘melas jaya’ itu adalah nenek-nenek yang kliatan lemes banget gara-gara kurang oksigen pas antre di Bab Ali.

Belum lagi kalau kebetulan kita satu bus dengan jamaah dari negara lain, misalnya Turki atau Iran yang badannya segede alaihim. Tenaganya jos markojosss! Jangan coba-coba sikut-sikutan ama mereka, dijamin kita bakal dikepret.  Pernah nih, saya coba berusaha “asertif” dengan tetep keukeuh ambil giliran saya untuk naik bus. Apa yang terjadi kemudian? Saya disikut, plus dapat bonus lirikan tajam yang seolah-olah mengatakan, “Apaan lo? Orang Indonesia bodi kontet kayak gitu mau coba-coba lawan gue?”

Eniwei, justru suka-duka selama antre bus yang kayak ular naga panjangnya; sikut-sikutan antar jamaah; dan watak asli kita yang keluar selama di sana, adalah hiburan yang lumayan memorable selama saya berhaji. Kalau udah kumat betenya gara-gara capek antre dan lari-lari kejar bus, saya coba alihkan dengan ngobrol bareng mas-mas Temus alias Tenaga Musiman, yang jadi petugas transportasi di Arab Saudi. Mas-mas ini adalah orang Indonesia, kebanyakan mahasiswa Al-Azhar University, Kairo, Mesir, yang memanfaatkan libur kuliahnya dengan cari ceperan di Arab. Lumayan enak diajakin ngobrol, bahkan saya kerap diajarin beberapa kosakata Bahasa Arab. Maklum, sopir bus gratisan itu kebanyakan orang Sudan yang ga bisa berbahasa Inggris. Efek positifnya bisa ditebak.  Saya gak perlu bingung-bingung manakala nyuruh sopir bus buat berhenti di depan maktab. Bonusnya adalah, tatapan mata kagum dari penumpang lainnya, “Wah, ternyata mbak ini bisa bahasa Arab tho? Lulusan pesantren mana yak? Pasti dia hafal Quran juga.” Hehehe… saya pun turun dari bis dan melenggang dengan jumawa.(*)

IKHLAS, Mantra Sakti Para Ibu

Oleh: @nurulrahma

Setengah berlari, saya menyusuri terminal keberangkatan Bandara Soekarno Hatta. Kaki saya mulai terasa nyeri. Hentakan yang begitu keras pada high heels memberikan sensasi ngilu yang tak terperi. Buru-buru saya copot high heels. Hanya dengan beralaskan kaos kaki, saya berlari. Tak peduli pandangan aneh dari penumpang lain. Saya harus kejar flight ini! Saya harus segera pulang!

Terengah-engah, saya serahkan tiket ke petugas counter pesawat. Bismillah, semoga belum terlambat…. Semoga belum terlambat…..

“Selamat malam, Ibu. Flight jam 8 malam ya?”

“Iya, Mas. Saya belum telat kan?”

“Untungnya pesawat kami agak delay, Ibu. Jadi, Ibu masih bisa masuk. Lain kali, mohon sudah tiba di airport satu jam sebelum keberangkatan ya.”

“Okeh. Jakarta macet banget Mas. Hoshh.. hoshhh…” saya masih terengah.

Alhamdulillah. Akhirnya, Allah mengizinkan saya untuk pulang. Hmm, PULANG. Kata ini terdengar begitu syahdu di telinga dan kalbu. Sudah lama, saya tak bisa pulang. Load pekerjaan yang tak kunjung henti, beragam event yang harus saya datangi, aneka press conference, beragam media briefing, media tour…Arggghhh….

Kalau saja, saya masih berstatus lajang ketika melakoni job sebagai media relations ini. Rasanya spektakuler! Saya bisa berkelana ke seluruh penjuru Indonesia. Melihat apiknya Danau Tondano-Manado. Menikmati geliat Malioboro-Jogja di malam hari. Makan pempek asli wong kito di Palembang. Menginap di berbagai hotel berbintang. Melaju dengan pesawat kelas satu. Dan, semua itu bisa dilakukan secara GRATIS. Bahkan, saya dibayar untuk itu.  Siapa yang nggak mau?

Nah, tantangannya adalah, I’m not a single girl anymore. Saya sudah berubah status, menjadi seorang ibu. Ada bayi mungil yang terlahir dari rahim saya. Ada bayi yang harus saya didik sepenuh jiwa. Sayangnya, hari-hari saya dirampas dengan kesibukan yang tak mengenal jeda. Usai cuti melahirkan, boleh dibilang, tak ada waktu yang tersisa buat bayi saya. Ya, bahkan waktu sisa pun tak ada!

Apa yang kau cari, Nurul? Karir? Gemilang uang? Tatapan penuh kagum (plus iri) ketika rekan-rekanmu bertanya, “Kerja dimana kau sekarang?” Dan engkau menjawab penuh jumawa, “Oh, saya kerja di perusahaan X, multinational company yang berafiliasi dengan sebuah korporasi di Amerika Serikat.”

Hah?! Itukah?

Sampai kapan kau bergulat dengan ambisimu itu? Sampai kapan kau turuti nafsu duniamu itu? Apa jawabmu, tatkala nanti di padang mahsyar, kau ditanya soal “Bagaimana kau mendidik anakmu?” Apa akan kau jawab, “Oh, selama ini bayi saya titipkan ke neneknya. Di rumah juga ada asisten rumah tangga (ART) kok.” Ya, ya, ya. Kau sibuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, dan kau manfaatkan segala ilmu yang kau rengkuh, untuk pengabdian di kantor? Sementara, anakmu, darah dagingmu, justru kau serahkan pada asisten rumah tangga yang SD saja tidak tamat? Lalu, kau suruh ibumu untuk mengasuh anakmu. Tega benar, kau. Ibumu itu tugasnya mengasuh dan mendidik kamu, bukan anakmu! Tugas nenek itu memanjakan cucu, bukan mengasuhnya!

Dalam pesawat yang tengah mengangkasa, saya sibuk memijit kepala. Penat. Amat penat.

***

Saya jumpa Sidqi, anak saya, di pagi hari. Ia tengah dimandikan ART saya. Sambil berkicipak-kecipuk, Sidqi tertawa riang. Apalagi, ART saya mendendangkan lagu anak-anak yang dimodifikasi sendiri, “Bangun tidur adik Sidqi teruss… mandiiii…. Biar wajah ganteng sekaliiii….. ”

Seolah tahu kalau sedang dirayu, Sidqi tergelak. Bebek karet di tangannya jadi sasaran gemas. Ia memencet bebek sampai air muncrat kemana-mana.

“Looh, Sidqi sudah gede ya? Sudah bisa mencet bebek?” Saya nimbrung di antara mereka berdua.

Sidqi menatap saya. Diam. Seolah-olah, si bayi 7 bulan itu hendak berkata, “Errr… ini tante siapa ya? Kok nggak pernah kenal?”

“Sidqi… ini Ibu, naak….”

Sidqi masih diam.

“Sidqi lupa sama Ibu?” meski mencoba tersenyum, hati saya sakit. Sakit bukan main. Sidqi bisa terpingkal, tergelak, bercanda begitu lepas dengan ART-nya! Sementara, ketika saya coba ngajak ngobrol, ia malah diam, dengan memasang tampang “Emang elo siapa?!?!”

“Ngghhh… anu Bu, mungkin adik Sidqi lupa sama Ibu… kan jarang ketemu….”

Gubrak. Ini, lagi. ART saya ini kadang-kadang nggak cerdas emosi sama sekali. Saya nih sudah sakit hati melihat betapa manisnya hubungan kalian berdua, jangan ditambahi analisis sok tahumu itu dong! Geram, saya membatin.

Insiden mandi pagi ternyata bukan satu-satunya penyulut sumbu panas. Setelah mandi, Sidqi juga ogah saya gendong. Ia lebih memilih berada di gendongan ART, karena sudah familiar dengan bau si mbaknya. Lebih tragis lagi, manakala saya coba kasih ASI ke Sidqi. Ditolaknya mentah-mentah!

Pagi itu, seharusnya saya bahagia karena bisa pulang. Harusnya saya disambut sorot mata “Ibu… saya kangen…” dari bayi saya. Harusnya, kami berdua bisa menjadi sepasang ibu-anak yang normal. Yang saling merindukan.

Detik itu juga saya sadar. Bayi saya butuh saya, butuh kehadiran saya, perhatian, waktu, belaian dan kasih sayang saya. Sayangnya, menghadirkan diri untuk anak ternyata butuh usaha keras. Butuh kemauan untuk mengenyahkan ego. Butuh kedewasaan untuk bisa menentukan pilihan. Selama ini, saya terbelenggu pada target duniawi yang saya buat sendiri. Bahwa saya harus punya karir moncer. Bahwa saya harus bisa beli ini dan itu. Bahwa saya harus jadi perempuan mandiri, agar hak saya tidak diinjak-injak oleh para lelaki, dan saya bisa jadi role model buat wanita abad ini. Astaghfirullah… kenapa saya menjelma jadi kaum feminis wanna-be seperti ini?

Ketika hati sedang panas, buru-buru saya percikkan air wudhu. Adukan segala problema hidup hanya pada Yang Maha Menggenggam Kehidupan. Di atas sajadah, saya mohon petunjuk dari-Nya, apa yang seharusnya saya pilih. Tidak ada yang salah menjadi ibu bekerja. Barangkali, yang salah adalah, apabila saya mulai menjadikan pekerjaan sebagai “berhala” dan lupa akan tugas dan kewajiban yang tersemat begitu saya menyandang status “ibu”. Menjadi orangtua, artinya saya sudah ‘melamar’ ke pekerjaan tanpa cuti dan tak bisa resign. Dan, pada akhirnya, saya akan diminta ‘laporan pertanggungjawaban’ seputar amanah yang selama ini Allah berikan.

Allahu Akbar… Pagi itu, ada sebutir ikhlas yang menginjeksi seluruh hati. Ikhlaslah jadi Ibu… Kalaupun kau tetap ingin berkarya, carilah pekerjaan yang ‘ramah keluarga’. Jangan gadaikan keluargamu dengan sebongkah rupiah… Masih ada cara lain untuk aktualisasi diri… Ikhlaskan untuk melepas karir sekarang… Karena karir terbaik adalah, manakala engkau bisa menjadi ibu yang menghebatkan anak… BismillahInsyaAllah, akan ada jalan terbentang yang indah untuk kalian….(*)

“Khusnul Khotimah”

Aiiih, khusnul khotimah? Ngomongin kematian, mak? Ih, atuuut

Wuits, jangan negative-thinking dulu lah. Sebenarnya, kalau dilihat dari asal katanya nih, “Khusnul khotimah” berarti “akhir atau kesudahan yang baik”. So, nggak melulu ngomongin mati, dong ah. Masalahnya, kita terlalu sering mengaitkan akhir = akhir dari hidup = mati. Makanya khusnul khotimah itu kerap diidentikkan dengan ‘mati dengan cara yang baik’. Paham, anak-anak?

Hehehe, udah ah ceramah sok taunya. Sekarang, saya mau fokus mengejar ‘khusnul khotimah’ di kompetisi blog Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia ini. Tak habis rasa syukur, karena Allah mengizinkan saya untuk ikut (dan lolos! Slrrrp!) di Week-1, Week-2, dan Week-3.

Kalau udah sip di 3 pekan sebelumnya, berarti saya kudu mengemban misi mulia tugas bangsa-dan-negara dengan posting di week-4. Dan, ketika semua ini sudah terpenuhi, artinya saya “khusnul khotimah” dong maaak…. Yayyyy! Bwahahahaha… *ketawa puas plus seringai lebar*

Oke. Para makmin dan makjur sudah mengajukan pertanyaan super-hebring, terkait tema W-4 kali ini. Jreng, jreeeenggg….

Mengapa saya layak memiliki Acer Slim Aspire E1, yang didukung oleh  prosesor Intel®. Mulai dari Intel® Celeron® dan Core™ i3, dan 30% Lebih Tipis

Haduh, maaak… Ini mah pertanyaan yang retorik banget, kagak perlu dijawab dong, ah. Semua emak di muka bumi ini, apalagi saya, sangat layak memiliki Acer Slim Aspire E1.

Ya, gimana dong, Acer Slim Aspire E1 itu emang jodohnya para emak yang aktif.

Saya? Huhehuhe… jelas dong, masuk dalam barisan emak aktif. Lha wong member Kumpulan Emak Blogger, yo mesti bukan emak pasif-males-males-awut-awutan-selalu-ketinggalan-zaman-dong.

Ini nih, bukti hiper-aktifnya saya sebagai emak.

Image

Yay! Alhamdulillah, jadi juara 2 Lomba Duta Parenting Center (foto: majalah Ayahbunda

Image

Ciyeee… nampang jadi Cover belakang Majalah Ayahbunda.

Image

Ehem. Si pipi gembul abis di-wawancara nih (foto: Majalah Ayahbunda)

Image

Abis ngobrol sok akrab sama hot mommy, Marcella Zalianty

Image

Nge-Host Talk-Show bareng Syeikh Abdurrahman, dari Palestina

Image

Nge-MC di acara Exchange Students pelajar dari Korea Selatan

 Sudah pastilah, segala aktivitas emak yang segambreng, bakal berjalan lancar kalau di-support jodoh yang sepadan. Tidak lain dan tidak bukan, Acer Slim Series.

Notebook yang super-duper ciamik ini didukung performa Intel® Processor di dalamnya.

Kalau sudah berjodoh dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya ini, so pasti aktivitas serempong apapun nggak jadi masalah! Buat emak-emak yang emak hobi nulis plus ngeblog, bisa langsung menuliskan isi hati ke dalam tulisan yang nendang. Selain happy karena bisa menyalurkan ide yang ada di kepala kita, tulisan dalam blog juga bisa jadi sumber inspirasi buat emak-emak lain loh. Wuiks, pahalanya dobel tuh!

Eh, mak, pada tau nggak, hosip-hosipnya nih, tarif listrik mau (atau udah yak?) naik! Duuuh, dompet kita bakal merana dah mak. Tapi, don’t worry, si Acer Slim Series ini kan hemat daya dan hemat listrik banget lah. Ga bakal merongrong anggaran belanja rumah tangga dah.

Image

Si ganteng penyelamat bahtera anggaran rumah tangga

Yang lebih sip nih, biarpun Acer Slim Series punya bodi yang 30% lebih tipis, ternyata Layarnya monitor LED berukuran 14”. Jadi, bagi para emak yang doyan browsing, cari info resep, blogwalking atau nulis, dijamin bakal damai-sentosa laaah. Resolusinya juga mantap. Pokoke, sip-markosip buat segala kegiatan emak-emak masa kini yuk yaa yukkk…

Image

SubhanAllah, kiyut banget siii, kamyuuu?

Emang berapa sih ketebalan nih notebook? Cuma 25,3 mm saja dong cyiiin. Kalau dibandingkan dengan notebook zaman baheula, Acer Slim Series punya dimensi 30% lebih tipis.

Yang doyan traveling, yang doyan nulis saat itu juga (tanpa delay), sudah pasti notebook Acer Slim Series kudu jadi pilihan utama.

Naaah, kalo pada akhirnya mahkota juara kompetisi blog KEB dan Acer Indonesia ini berada di kepala saya (aaamiiiin), maka si laptop kece ini bakal jadi partner setia dalam mengarungi bahtera kehidupan. Sehari-hari kerjaan saya kan emang nulis-nulis-dan nulis. Saya jadi penulis di majalah Nurul Hayat, dan pembaca rutin majalah kami udah 60 ribu orang aja gitu loh. Satu majalah bisa dibaca oleh lebih dari 3 orang. Kebayang kan, berapa orang yang udah nerima benefit dari hasil rangkaian diksi yang saya olah dari laptop Acer Slim Aspire?

Selain itu saya juga jadi pimred di Majalah Anas. Kalo yang ini, majalah khusus buat anak. Jadi, si laptop primadona bakal menemani hari-hari saya merangkai kata untuk mencerahkan hidup begitu banyak orang di bumi pertiwi ini!

Nah. Apalagi, apalagi?

Buruaaan dong darling, come to mama… 

Image

Duo tipis, ciamik, handal, keren, sliiim, elegan. JUST PERFECT!

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia

Interview with Super-Fabulous-Person, Maher Zaaiiiinnn!

Image

Don’t despair and never lose hope… ‘Cause Allah is always by your side… Insya Allah…. Insya Allah… you’ll find your way (Maher Zain-Insya Allah)

Pas bulan Ramadhan , nyaris setiap hari telinga kita diberondong lirik tembang “InsyaAllah”. Dibawakan secara apik oleh Maher Zain, lagu ini seolah mendobrak pakem dan definisi ‘musik laris’. Jauh dari kesan musik yang hingar-bingar ataupun melenakan, justru masyarakat dunia menyambut antusias musik Islami ala Maher Zain. Tak heran, ia mendapatkan 25 Platinum Award, lantaran albumnya yang laris manis.

Alhamdulillah, saya berkesempatan berbincang dengan pria kelahiran Tripoli, Lebanon ini, sesaat sebelum konser “Forgive Me” di Surabaya, beberapa waktu lalu.

 Anda kerap melakukan tour dan konser ke berbagai Negara. Tentu, Anda tidak punya waktu banyak bersama keluarga Anda. Bagaimana tetap menjaga ikatan batin di saat Anda harus melanglang buana setiap saat?

Alhamdulillah, istri saya, Aisya sangat memahami pekerjaan yang harus dijalankan oleh suaminya. Karena itu, ia sungguh ikhlas dan bersemangat dalam mendidik putri kami, Aya Zain. Saat ini, Aya masih berusia 1,5 tahun. Ketika saya berada di rumah, tentu saya melakukan quality time antara ayah dan anak, dengan main bareng, dan kegiatan lainnya. InsyaAllah, dengan selalu berdoa, menelepon, dan beragam cara lain, kami tetap bisa berkomunikasi walaupun berjauhan.

 Keluarga Anda juga jadi sumber inspirasi dalam karya-karya brilian yang Anda lahirkan ya?

Beberapa lagu terinspirasi dari orang-orang terdekat yang amat saya sayangi. Lagu Number one for me misalnya. Terinspirasi dari ibu saya. Melalui lagu ini, saya ingin menebarkan pesan, bahwa terkadang kita menyia-nyiakan ibu, padahal beliau adalah sosok yang sungguh sangat istimewa dalam kehidupan kita. Intinya saya mengajak untuk kita lebih bisa menghargai Ibu kita. Sedangkan untuk lagu My Little Girl inspirasinya berasal dari anak saya, karena bagi saya Aya adalah sebuah keajaiban. Bahkan, pada saat pembuatan lagu My Little Girl, saya rekam suara Aya sebagai backsound. Waktu itu, usianya masih 4 bulan.

 How cute! Lantas, bagaimana seorang Maher Zain bakal menerapkan konsep pendidikan ke anak?

Yang jelas, karena anak saya masih kecil, porsi bermainnya tentu lebih banyak. Tapi, tentu saja, sedari dini, kami sebagai orangtua selalu memberikan ajaran agama dengan cara yang menyenangkan. Ajak anak untuk wudhu, bersuci, sholat, mengaji, ya semacam itulah. Nanti apabila dia sudah masuk umur baligh, tentu kita akan lebih disiplin dalam memantau ibadahnya. Karena memang, fase yang paling ‘mencekam’ dalam kehidupan seseorang adalah fase remaja.

 Apa Anda punya nasihat khusus buat para remaja?

Rasanya memang, fase remaja itu kerap ‘bikin gamang’. Ada perasaan ‘In between’, kita sudah bukan anak-anak, tapi juga belum dewasa. Dan ini adalah fase yang amat menantang, khususnya bagi orangtua untuk bisa mengarahkan anak remajanya. Karena itulah, saya selalu mengingatkan para remaja yang jadi follower saya untuk selalu berdoa, dekatkan diri pada Allah, dan berusaha keras untuk pilih lingkungan yang baik. Karakter teman sangatlah berpengaruh dalam kehidupan kita. Jika berteman dengan sosok yang berjiwa positif, insyaAllah kita juga akan tertular semangat untuk jalani hidup yang lebih baik. Tapi kalau dapat teman yang buruk, bukan mustahil kita bakal jadi orang yang lebih buruk. Fase umur 15 sampai 25 tahun adalah the hardest years. Di saat bersamaan, kalau Anda berhasil melampaui fase ini, maka Anda akan menjadi sosok yang tangguh.

Selain membawakan lagu, Anda selalu concern untuk menyampaikan pesan berbalut dakwah ya?

Allah sudah memberikan berbagai kemudahan dan rezeki pada saya. Tentu itu semua menuntut adanya tanggungjawab dari saya pribadi. Saya harus memberikan manfaat bagi orang lain, salah satunya dengan menebarkan berbagai pesan kebaikan. Sangatlah mudah untuk melihat jalan yang benar jika kita mau membuka mata dan melihat dengan benar. Inilah yang terjadi pada saya, dan sungguh, saya ingin umat muslim di seluruh dunia juga menyuarakan kebenaran dan nilai-nilai Islam yang mulia.

Kalau melihat timeline @maherzain di twitter, Anda kerap menyuarakan pesan untuk mendoakan saudara-saudara kita di berbagai lokasi konflik atau perang. Ini salah satu dakwah Anda juga?

Inilah cara saya untuk memberikan support pada anak-anak tanpa dosa yang jadi korban perang. Ratusan anak terbunuh gara-gara invasi militer. Mereka adalah anak-anak yang begitu suci. Bisa saja, kejadian ini menimpa anak saya, anak Anda ataupun pasangan Anda. Karena itu, sebagai muslim, kita harus saling menunjukkan dukungan. Jangan hanya datang ke konser saya lalu nyanyi-nyanyi saja.

 Bisa dibilang, Anda punya energi dan passion yang luar biasa dalam menyuarakan nilai-nilai Islami. Anda telah menjelma menjadi sosok idola baru bagi kaum muslim. Visi apa yang ingin Anda capai dengan menjalani semua ini?

Basically, ada tiga kategori manusia yang kita temui dalam hidup. Tipe pertama, orang yangselfish, mereka tidak mau peduli dengan urusan orang lain. Yang penting, masalah keluarga dan kerjaan beres, maka ini sudah cukup bagi mereka. Tipe kedua, sebenarnya mereka punya kepedulian. Tapi mereka seolah tidak punya power untuk melakukan hal-hal lain demi kemaslahatan ummat. Lagi-lagi, mereka hanya punya concern, namun tidak bertindak apa-apa. Sementara tipe ketiga, orang yang ingin mewariskan legacy dalam hidup. Mereka tahu bahwa Allah menciptakan mereka dengan BIG responsibility, tanggungjawab yang besar. Karena itulah, mereka ingin mewariskan nilai-nilai, bermanfaat untuk orang banyak, selalu menebar inspirasi. Dan, ketika manusia tipe ketiga ini meninggal dunia, orang-orang tetap mengenang masterpieceatau karya yang mereka lahirkan. Tentu saja, saya ingin menjadi tipe ketiga. Saya ingin memberikan manfaat semaksimal mungkin. Saya ingin lagu yang saya perdengarkan bisa mengubah manusia menjadi sosok yang lebih baik. InsyaAllah.(*)