Tips Memilih Dress Anak dari Bunda Langganan Juara Kuis dan Lomba

Siapa di sini ibu-ibu yang demen ikutan kuis dan lomba foto di Instagram? Widiiih, banyak yang angkat tangan yes. Hehehe ūüôā¬† Di zaman serba digital kayak sekarang, berburu rezeki tuh bisa dilakoni dengan banyak cara. Salah satunya ya dengan ikutan aneka kuis yang berserakan di jagat media sosial. Ada lomba foto (penilaiannya kombinasi jumlah ‚Äėlike‚Äô dan selera juri), ada kontes blog, vlogging dan lain sebagainya.

Kenalin nih, salah satu sahabat saya yang bolak-balik langganan juara lomba foto di Instagram. Namanya, Furry Fransiska Fibriasari. Kalau lihat keberuntungan doi di jagat per-quiz hunter-an, rasanya mupeng beraaat!

IMG-20180126-WA0005

Keluarga Quiz Hunter yang Kompak dan Super Kece!

Mba Furry nih semangat banget ikutan aneka lomba foto, terutama yang mengandalkan ekspresi ketiga buah hatinya, yang super-kiyut semua. Udahlah wajahnya ‚Äúkhas tampang bintang iklan‚ÄĚ para bocil ini jago banget kalo diminta pose! Nama anak-anaknya adalah: Javier Abyan Mursalin; Kaiannya Almahyra Mursalin (cewek, panggilannya Kay); Leonel Ayman Mursalin.

Bunda-bunda sejagat timeline tentu ingin tahu gimana tips yang mba Furry praktekkan, sehingga bisa menang di berbagai kontes kan?

Nah, ini petikan hasil kepo perbincangan saya dengan ibu 3 anak yang tetap terlihat cantik, langsing, menawan dan aduhai penuh pesona ini.

IMG-20180126-WA0011

Bunda Furry… selamaaat ya, beberapa waktu lalu, Kay menang kontes foto di Instagram. Cantiiiik banget, fotonya juga uhuy! Kalo boleh tahu, gimana tips memilih DRESS ANAK  yang Bunda Furry terapkan pada Kay?

Prinsip utama yang harus dikedepankan adalah, pilih baju dengan bahan yang nyaman dipakai. Apalagi Surabaya kan hawanya lumayan panas. Jadi, pilih yang kainnya menyerap keringat, supaya anak-anak tetap nyaman dan enjoy ketika beraktivitas.

Buat ketiga anak, saya lebih suka yang gayanya sporty look dan fashionable aja. Untuk mereka, saya sering pilihkan yang minimalis, nggak terlalu banyak gambar. Jadi, dress-nya Kay juga saya lebih suka yang polos, atau kalaupun ada gambar tapi tidak banyak.

 

Berapa budget belanja baju rata-rata per bulan yang Bunda  terapkan untuk anak?

Nggak ada budget khusus atau alokasi dana tersendiri. Yang jelas, saya beli baju tergantung kebutuhan aja.

Apakah Bunda selalu membeli baju baru tiap ada kontes baik fashion show maupun utk online quiz?

Kalau dulu, Biam (anak pertama) ikut kursus modelling kan? Jadi memang karena tuntutan lomba, saya sering banget beli atau jahitkan baju apabila ingin menang, karena busana juga jadi salah satu kriteria penilaian. Selain beli, saya juga suka bikin design dan diaplikasikan sama penjahit.

Kalau untuk lomba online saya nggak selalu beli. Kadang mix and match saja.  

Pernahkah Bunda berbeda pendapat dengan anak terkait pemilihan baju/kostum? Misalnya Kay (putri kedua) merasa baju atau dress anak yang Bunda pilihkan  terlalu sumuk/ribet dan dia ogah ikut lomba kalo tetap diminta pakai baju itu? Solusi apa yang Bunda terapkan?

Ya, pernah! Ini terjadi pada Biam (anak pertama). Dia agak selektif. Misalnya baju dia warnanya agak bernuansa pink. Dia complain, malu…. katanya kayak perempuan, padahal ya sedikit aja yang warna pinknya.

Kalau Kay (putri) itu agak penurut ya. Dia mau pakai dress anak yang model apa saja. Tapi terkadang dia tanya ke saya juga. Waktu itu, saya kreasikan dress anak berbahan koran bekas untuk kontes fashion di Ciputra World Surabaya. Trus, Kay tanya, ‚ÄĚMa‚Ķ lihat baju anak-anak yang lain semuanya bagus-bagus kayak Princess. Masak bajuku dibuat dari koran?‚ÄĚ

IMG-20180126-WA0006

Saya jelaskan ke dia dengan Bahasa sederhana yang mudah dimengerti anak-anak. Intinya, baju Kay justru unik karena dibuat dari material ‚Äėsampah kering‚Äô alias daur ulang, jadi lebih ramah lingkungan. Akhirnya dia mau, dan‚Ķ ¬†Kay terpilih jadi Juara 1 di lomba itu.

 

Wohooo‚Ķ kereen! Jadi intinya, Bunda menerapkan prinsip ‚ÄúDress up like you mean it!‚ÄĚ dan berpakaian sesuai karakter anak ya?

Betul! Saya selalu mengajarkan bahwa setiap orang punya karakter berbeda dalam berbusana. Dan semua pilihan pasti bagus. Saya bilang bahwa apa yang kita pakai dan miliki adalah yang terbaik dan harus kita syukuri. Itu saja.

Apabila Bunda sudah all out dalam memilihkan busana, make up, dll.. tapi anak belum menang di kontes tersebut, apa yg Bunda lakukan?

Ya kadang sedih kalau yang menang ternyata biasa aja. Bukan maksud merendahkan tetapi terlihat secara skill dan performance kurang bagus pasti kecewa ya. Bahkan kadang bikin ogah-ogahan ikut lomba lagi.

Tapi kalau yang menang memang bagus dan kreatif, saya sih oke aja. Ini justru memicu kami untuk lebih menggali ide-ide kreatif lagi di kontes berikutnya.

***

Yuhuuu! Ternyata gitu sekilas tips yang diterapkan Bunda Furry. Kalau lihat foto-foto keluarga muda ini di Instagram, rasanya gemesss banget pengin uwel-uwel Lionel, Kay dan Biam. Semoga keberkahan melingkupi rezeki keluarga ini dan kita semua yaaa. Aaamiiin aamiiin ya robbal alamiiin….¬†

Hayuuuk, ikutan kuis di Instagram juga! 

Advertisements

Serat Budoyo, Batik dengan Desain Chic, Simple dan Anak Muda Banget!

BATIK tampil chic, fabulous dan memikat generasi milenial? Emang bisa? BISA BANGET dong! Gimana caranya batik tampil modern, simple yet sophisticated? Itulah tantangan yang dijawab oleh Herma Prabayanti lewat Serat Budoyo.

Brand ini adalah wujud cinta Herma terhadap wastra nusantara. Sejumlah model memeragakan koleksi Serat Budoyo dalam sebuah private gathering di One Icon Residence & Apartment di kawasan megablok Tunjungan Plaza (TP) 6 Surabaya. Sejumlah sosialita kota pahlawan tampak hadir dalam acara ini. Para perempuan pengusaha yang super strong dan sama-sama menunjukkan rasa cinta pada koleksi budaya nusantara.

Tampak di antara mereka, Ketua GOW (Gabungan Organisasi Wanita) Surabaya, Asrilia Haryo; Owner dan Direktur Catering Ibu, Nany Herawati dan Dian Rosalita; Owner Kalyana Indonesia (premium Handbags), Maulina Molly; Pengusaha Al-Khair, Mutiara dari Lombok NTB, Chandra Dwina Taurisia.

Semuanya tampil cantik dan menawan! Sudah pasti, para sosialita ini ingin meng-update koleksi busana batik, agar kian stylish plus sesuai dengan gaya ‚Äúzaman now‚ÄĚ.

Serat Budoyo menampilkan batik yang casual, cutting menarik, dan bisa dipakai dalam segala occassion. Batik kreasi Herma tidak bermotif konvensional, dengan gambar bunga atau kawung. Herma justru banyak memilih kain batik bergambar tokoh pewayangan seperti Semar dan Arjuna. Rupanya ada ‚Äúcerita dan makna‚ÄĚ yang ingin ia usung dalam setiap helai kain batik dan busana yang disajikan Serat Budoyo. Mayoritas batik yang ditampilkan adalah khas Solo, Jogja dan Madura.

‚ÄúLewat batik dari Solo dan Jogja ini saya ingin sampaikan bahwa orang Jawa dulu ketika membuat batik pasti punya makna, ada cerita di setiap goresan yang dibuat,‚ÄĚ tukas Herma, yang juga jurnalis sebuah TV swasta ini.

‚ÄúKalau batik pesisir atau Madura punya cerita sendiri. Sebagian besar menggambarkan suasana laut, ada ombak di motif batiknya. Sesuai ciri khas batik Madura, yaitu sarat warna-warna meriah. Madura kan memang dikenal dengan warna yang berani. Tren tahun ini pun cenderung seperti itu,‚ÄĚ ungkapnya.

Ada dua model busana yang disajikan Herma di awal tahun 2018 ini.

Pertama, kombinasi kebaya untuk atasan dan bawahan batik. ‚ÄúAtasnya memang pakai kebaya modern agar nyaman dipakai anak muda. Sedang bawahannya kolaborasi batik,‚ÄĚ tegasnya.

Gaya ini sengaja dibuat berbeda dengan rancangan para desainer yang menghadirkan batik untuk atasan. Cara penggunaannya pun sangat mudah karena sama sekali tanpa jatihan.

‚ÄúAnak muda kekinian kan sukanya yang simple. Jadi kain untuk bawahan itu cukup dililitkan saja di pinggang,‚ÄĚ imbuhnya.

Tampilan kain batik untuk bawahan ini kian menarik karena tidak seluruhnya menutup kaki. Modelnya bisa dibuat menyamping di bawah lutut atau beberapa sentimeter di atas lutut.

Kreasi kain tanpa jahitan ini, menurut Herma, menegaskan kesan simple, juga membuat kain tersebut bisa dikenakan mereka yang bertubuh ramping maupun berbadan besar. ‚ÄúKesannya jadi all size. Yang kecil bisa pakai, yang berbadan besar pun bisa masuk,‚ÄĚ tuturnya.

Model lainnya adalah kombinasi kain tenun dan brokat menjadi satu kesatuan. ‚ÄúBrokatnya berupa potongan sampai dada disambung kain tenun di bawahnya,‚ÄĚ beber Herma.(*)

IMG-20180130-WA0008

 

#DearSon Stok Maaf buat Ibu Masih Banyak kan?

Watch Your Words! They become action!

Dari jaman purbakala, aku ada ‘secuil-masalah-besar-yang-sulit-ditemukan-solusinya’, dan ini sangat berkaitan erat dengan rongga wicara alias mulut. Yepps, aku tuh manusia yang lumayan ceplas-ceplos. Gampang banget melabeli seseorang atau sesuatu, dan langsung plosssss gitu aja!

Sekarang, makin ke sini, lidah ini bikin aku terbelit masalah yang tak berujung.

Objek penderita: 1 bocah bernama Sidqi.

Sebenernya Sidqi sama sekali bukan bocah yang nakal. Tapi, namanya bocah, pasti ada aja ulahnya yang kerap membuatku melontarkan kalimat pedas, “Heh! Dasar Anak Nakal!”

Gleg. Abis nyap-nyap, sepersekian detik kemudian, aku ngerasa heran, “Kalo nih bocah nakal, mesti diliat dulu dong ya, siapa Bapak-Ibunya?” #plak!

Ini cerita beberapa tahun silam, ketika Sidqi masih usia 4 tahun.

Salah satu “kenakalan” Sidqi adalah, dia hobi banget ngempet pipis. Kalo udah main *apalagi main Bike Champ, atau Truck Monster Destroyer* Sidqi secara haqqul-yaqin mengatakan bahwa ia tidak ingin pipis.

Dan, muntablah daku sebagai emaknya. “SIDQI! Kalo kamu gak mau pipis, nanti bisa disunat sama dokter! Mau dibawa ke dokter?!”

 

Dan, beberapa hari kemudian, ucapan seorang emak ‘durhaka’ ini nyaris jadi kenyataan.

Sidqi mengeluh Mr P-nya sakit. Setelah aku cek, ternyata ada ruam-ruam merah dan muncul bengkak tidak semestinya. Dia nangis menahan perih saban berkemih.

Kemudian kami bawa dia ke klinik kesehatan dekat rumah, “Wah, ini gara-gara ada sisa air seni yang mengumpul di ujung penis. Dan ini, harus disunat/khitan Bu…”

Gledeeerrr, vonis dokter barusan bikin gw merinding disko. 

 

Sidqi pucat. Bokapnya ga kalah pasi. Setelah lobi sana-sini, didapatkan kesepakatan bahwa “untuk sementara sidqi cukup konsumsi antibiotik dulu saja, dan jangan ngempet pipis, dan kalo pipis tolong dibersihkan dengan seksama & dalam tempo sesingkat2nya.” Halahdalah!

 

***

 

Sejak kejadian ‘tuah mulut’ vs ‘vonis sunat’ itu, bukannya tobat, ternyata aku makin menunjukkan tabiat sebagai emak yang kurang berbakat.

Suatu hari, Sidqi berbohong. Aku lupa tema bohongnya apa. Tapi, sebenernya it’s just kind of white lies, atau bukan sesuatu yang perlu dibesar2in.

Tapi dasar emak lebayyyy, aku spontan nyeletuk, “Eh, Sidqi! Mulai berani bohong sama Ibu ya?? Awas loh, kalo bohong, hidungnya makin panjang kayak Pinokio!”

 

Spontan, Sidqi memegang hidungnya. Saat itu aku terjebak pada dua kesalahan sekaligus:

(1). Nyumpahin anak;

(2). Ngajarin logika bohong yang tak berdasar. Pinokio itu cuman khayalan belaka bukan? #dasar emak dodol ūüėõ

 

Selanjutnya? Hidung Sidqi tentu tidak memanjang atau memancung ala Prince William. Tapiii… Ada sebongkah jerawat yang nangkring dengan manisnya di hidung Sidqi. Bukankah itu artinya hidung Sidqi “memanjang” sekian milimeter?

 

Arrrghhhh….. LIDAHHHHH… kenapa siy lidah ini kok gampiiil banget mengucapkan kalimat-kalimat nir-faedah?

 

Ya Allah… Pemilik Kehidupan….

Berikanlah cahaya di Hatiku, di Lidahku, di Otakku, di Pendengaranku…

Berikanlah kesabaran, kebajikan…

Bimbinglah aku supaya ‘mikir dulu baru ngomong’…

 

 

Dear My Beloved son….

Stok Maaf buat Ibu Masih Banyak kan?

Mau Ngeblog Sampai Kapan?

Teman-teman tahu Femaledaily.com dan Mommiesdaily.com kan? Yap, portal yang membahas tentang pernak-pernik perempuan, mulai fashion, kecantikan, kesehatan, parenting dll itu loh! Femaledaily ini awalnya didirikan oleh mba2 kece Hanifa Ambadar (Hanzky) dan Affi Assegaf. Saya pernah ketemu mba Affi, dalam sebuah event di Surabaya beberapa tahun silam. Tahu nggak, mbak Affi bilang apa?

“Kami mendirikan FemaleDaily ini awalnya karena aku dan Hani sama-sama blogger dan cinta banget ngeblog. Trus discuss dan banyak brainstorming, dan…. berdirilah Female Daily!”

hanzky

Hanifa Ambadar (Hanzky) perempuan brilian di balik Female Daily Network

affi

Affi Assegaf yang cantik dan ramah tiada tara 

And… the rest is history.¬† Femaledaily¬† Network melesaaaat dan menjadi salah satu kerajaan media online dengan omzet miliaran yang super menggiurkan!

Hanifa membangun bisnisnya tidaklah mudah. Pertama kali FDN (Female Daily Network) dibangun pada 2005 bisa dibilang tidak menggunakan modal sama sekali. ‚ÄúYah, paling untuk membeli domain senilai Rp 100 ribu/tahun dan membayar¬†hosting¬†Rp 1 juta/tahun. Platformnya memakai gratisan dari blogger.com, dan saya mendesainnya sendiri. Jadi memang tidak ada biayanya,‚ÄĚ ia menuturkan.

Kendati bisnisnya dijalankan belum serius, pihaknya sudah mampu menggaet pengiklan di 2007. Uang hasil iklan itulah yang akhirnya digunakan untuk menyewa kantor ketika ia mulai¬†fokus menjalankan bisnis ini di awal 2009. ‚ÄúKarena pengiklan semakin banyak, jadi kami tidak pernah menggunakan uang sendiri untuk diinvestasikan sebagai modal,‚ÄĚ ucapnya mengenang.

Dikutip dari SWA Online 

 

Itu cerita dari dalam negeri.

Sementara itu, dari belahan bumi yang lain, ada blogger yang juga menuai kesuksesan warbiyasaaak

Facts-About-Chiara-Ferragni

Chiara Ferragni — blogger dengan omzet 7 juta euro per tahun (data tahun 2015)

Salah satu blogger tersukses di dunia‚ÄĒsecara bisnis‚ÄĒadalah Chiara Ferragni,¬†fashion blogger¬†asal Italia pemilik¬†The Blonde Salad. Chiara mulai nge-blog sejak taun 2009, dan per hari ini, The Blonde Salad sukses menggaet kerjasama dengan merk-merk besar seperti Louis Vuitton, Burburry, dan Dior.

Sekarang The Blonde Salad punya tim editorial sendiri, dan pelan-pelan berubah menjadi majalah online. Tim TBS pun kerjaannya nggak cuma blogging, tapi juga menawarkan social media consulting ke brand-brand besar.

Selain The Blonde Salad, Chiara juga punya usaha¬†online shop¬†(sis-sis olshop dong do’ik?) dan sering diundang ke acara-acara TV, bahkan¬†modelling.

Penghasilan The Blonde Salad per hari ini diperkirakan sebesar… 7 juta Euro per tahun. DIEEE.

Pencapaian Chiara Ferragni yang terbaru adalah dijadikan bahan studi dalam kurikulum Harvard Business School. Ceritanya, Harvard Business School lagi bikin studi kasus pada fashion brands gitu, deh, dan Chiara dijadikan salah satu subyeknya. Serundeng, yah!

Dikutip dari blogger favorit eikeh: letthebeastin.com

 

Dengan dua contoh kasus di atas, dan masih buanyaaaaak lagi suri-tauladan lainnya, apa iya hare gene kita masih menganggap bahwa Blogger/ Vlogger/ YouTuber dan content creator lainnya sebagai not a real job? Oh kemooon!

Saya masih nggak habis pikir dengan respon super alay bin lebay yang ditunjukkan pemilik salah satu hotel mewah di Dublin, Irlandia. Yap, kalian pasti udah ngeh kan, soal Elle Darby vs Paul Stenson

Baca : Blogger Masa Minder 

Analisa mantap jaya disajikan oleh Kompasianer handal, link-nya di sini:  https://www.kompasiana.com/gapey-sandy/5a643ec3dd0fa84291044372/blogger-dan-influencer-tukang-cari-gratisan

Saya paling setuju dengan apa yang disampaikan oleh Mas Teguh Sudarisman.

Apa yang ditawarkan Darby kepada pihak Charleville Lodge Hotel sebagai pola penawaran kerjasama biasa.

Menurut blogger sekaligus vlogger yang beberapa kali meraih hadiah lomba ini, media-media travel juga menawarkan beberapa lembar halamannya sebagai space untuk me-review produk maupun layanan mitra kerjasamanya. Di industri media, pola penawaran kerjasama seperti yang dilakukan Darby adalah wajar dan etis.

“Tapi perlu dibedakan istilah, antara ‘minta gratisan’ dengan¬†‘job review’¬†(lebih tepatnya ‘kerjasama¬†review‘). Kalau ‘minta gratisan’¬†yaartinya minta sesuatu secara gratis, tanpa ada imbal baliknya sama sekali. Sedangkan kalau kerjasama¬†review¬†seperti yang ditawarkan¬†blogger¬†atau¬†youtuber, bukankah ia menawarkan imbal balik berupa¬†posting¬†blog,¬†bikinin¬†video di¬†youtube¬†dan¬†posting¬†di akun¬†facebook,¬†instagram¬†maupun¬†twitter¬†miliknya. Jadi yang ditawarkan si blogger adalah kerjasama dalam bentuk barter (tanpa pakai uang), di mana dia menawarkan¬†posting¬†di blog,¬†youtube¬†dan akun media sosial yang dimilikinya, dengan imbal balik menginap selama 5 malam. Ini hal yang wajar dan etis saja, dan sudah dipraktikkan lama sekali di industri media, khususnya media travel,” tutur Teguh Sudarisman.

Biasanya, kata Teguh, pihak media travel menawarkan reviewbeberapa halaman di majalahnya kepada calon klien entah itu hotel, resort, resto dan lainnya, dengan imbal balik berupa free stay beberapa malam untuk reporter atau editor majalah itu. Semuanya masih bisa ditambah lagi dengan plus voucher hotel, tiket pesawat pergi-pulang, jemput-antar ke bandara dan sebagainya tergantung point-pointkesepakatan kerjasamanya.

“Prinsip ini diadopsi oleh blogger,¬†youtuber,¬†instagrammer¬†karena¬†Now Everybody is a Publisher or Media. Terlebih jika¬†blogger¬†itu punya¬†follower¬†atau¬†subscriber¬†yang banyak. Itu tak ubahnya seperti media yang punya banyak oplah dan pembaca atau pelanggan.

Sayangnya masih banyak pihak yang gagap dengan fenomena ini, dan mengira dirinya masih hidup di era media cetak. Seperti ulah Paul Stenson yang malah ‘merendahkan’¬†influencer¬†Darby itu,” jelas¬†Owner and Editor-In-Chief¬†TGIF-mag¬†ini sambil kembali menegaskan bahwa Darby sudah tepat mengajukan kerjasama¬†via¬†email dengan menawarkan imbal balik positif. “Malah, mungkin Darby juga melampirkan¬†portfolio¬†atau¬†media kit. Artinya, justru si manajer hotel ini yang sebenarnya¬†enggak bener!”

Juga apa yang disampaikan Diana Rikasari di IG story-nya:

IMG-20180121-WA0040

Intinya apa?

Intinya…. sebagai blogger, ya saya akan terus memroduksi konten, apapun hingar bingar yang terjadi di luar sana.

Dianggap rendah gara-gara berstatus blogger? Wohooo… saya sudah seriiing banget, kakaaa.

Sekarang sih, cuekin aja kalo ada orang-orang yang punya persepsi ‘wagu’ atau aneh soal blogger. We just can’t please everybody. Bukan tugas kita untuk membuat semua orang senang, atau mengapresiasi apa yang kita lakukan. Dan, nggak perlu lah, buang-buang energi untuk menjelaskan tentang “Apa itu blogger?” ke orang-orang yang memang tidak mau tahu.

Saya akan terus ngeblog. Karena dari ngeblog, saya bisa mendapatkan buanyaaaak hal, yang barangkali tidak akan saya dapatkan, jika saya tidak menekuni bidang ini.

Baca : Gratisan ke Amerika Gimana Caranya? 

Saya akan terus ngeblog, apapun platform-nya. Mau sponsored post, atau bukan… saya akan selalu ngeblog.

Yang jelas, bersama rekan-rekan komunitas, saya berusaha untuk bisa “naik kelas”.¬†Pelan-pelan mengadopsi apa yang dilakukan Chiara Ferragni ataupun Hanifa Ambadar. Yaaa, walaupun nggak langsung woossshhh kayak pencapaian mereka, it’s okay. We have our own pace, ngga perlu risau bin galau *halah

Saya dan teman-teman berupaya menjadi fasilitator bagi korporasi untuk sama-sama menuangkan buah pikir dan kontribusi yang membangun. Agar konten positif semakin berjejalan di dunia digital.

Kalau kamu, gimana? 

Mau ngeblog sampai kapan? 

 

 

 

 

 

Kurangi Polusi = Tanda Cinta Lingkungan

Sudah sekitar setahun terakhir, tidak ada sepeda motor yang nangkring di rumah kami. Yep, saya memutuskan untuk meminjam-pakaikan motor buat dipakai kakak saya nggojek. Keputusan yang awalnya ditentang Sidqi. Karena kalau nggak ada motor yag stand by, trus kami kudu pergi ke minimarket atau ke manaaaa gitu, gimana dong?

“Ya jalan aja. Atau naik sepeda. Kan sehat. Mengurangi polusi pula,” sahut saya enteng.

Yap! Zonder sepeda motor, artinya saya ikut berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan. Well, mungkin ‘porsi’-nya minimalis banget, karena toh faktanya masih buanyaaaaak kendaraan yang seliweran dan lalu lalang di sekitar kompleks kami.

(o iya, rumah mertua saya ada di pinggir jalan raya, so…. bayangkanlah betapa berisik dan heboh jumebohnya kendaraan yang lewat. Kadang saya susah tidur gegara suara-suara motor. Tapi lebih seringnya ya molorrrrr aja sih hahaha)

Biarpun terkesan nggak ada kontribusi apapun terhadap berkurangnya polusi udara, saya tetap yakin kok, small things means a lot. Gimanapun juga, budget beli bensin dan biaya maintenance motor jadi 0. Trus, kami juga jadi lebih sehat! Kalo dulu ke Indomaret yang cuma sepelemparan kolor 200 meter aja kami naik motor. Sekarang? Jalan dong!

Mau beli buah-buah di pasar berjarak 500 meter? Jalan kaki dong.

Sidqi mau sekolah di SD-nya yang berjarang 800 meter? Naik sepeda lah ya.

***

Mengajarkan cinta lingkungan memang gampil-gampil susah. Kayaknya buanyaaak hal-hal di sekitar kita yang menjerumuskan siapa saja untuk berkontribusi merusak bumi. Bahan-bahan semacam plastik yang sulit terurai, atau material yang bakalan jadi “racun” buat alam sekitar… hmm, udah nggak kehitung lagi deh.

Tapi yang namanya manusia kan emang diciptakan dengan otak dan hati. Jangan terus-menerus menghitung segalanya dengan otak. Terutama para pedagang kuliner tuh.

“Wah, kita kalau mau untung banyak ya harus pakai bungkus stereofoam. Kalau pakai kardus jatuhnya mahal, ntar malah tekor…” gitu deh, beberapa excuse yang sering saya temui.

Yah gimana yaaaa… di satu sisi kita pengin banget mereduksi jumlah sampah plastik atau stereofoam….. tapi keberadaan para bakul sepertinya membuat cita-cita mulia itu sulit tercapai.

Well… kata kuncinya adalah: Berusahalah sekuat yang kita bisa!

Kalau selama ini, ortu udah menjalankan peran dengan mendidik anak cinta lingkungan… kurangi polusi…. sedapat mungkin menghindarkan dari material sampah yang sulit terurai…. sepertinya, generasi mendatang (semoga) bakal lebih baik kesadarannya daripada generasi masa kini.

Side Job Sambil Sekolah atau Kuliah? Siapa Takut?

Bisa jadi, keinginan saya untuk punya side job sejak duduk di bangku sekolah adalah, karena iba dan nggak tega lihat ibu saya yang menjanda di usia yang relatif muda. Bapak saya kelahiran 1947, dan beliau berpulang tahun 1991. Masih muda banget kan? Ibu pun pontang-panting menjadi sosok ‚Äėbread-winner‚Äô kudu mengasuh dan mendidik dua anaknya, cari nafkah dan penghasilan tambahan, karena waktu itu gaji beliau sebagai guru amatlah minimalis. Tidak seperti sekarang, di mana guru kalau sudah sertifikasi, gajinya ternyata WOW banget ya?

Baca  : Ada Apa dengan Cintamu, Wahai Ibu

Waktu itu, saya masih duduk di kelas 4 SD. Ibu‚ÄĒyang memang hobi masak‚ÄĒmenawarkan jasa catering rumahan. Kecil-kecilan saja… pelanggannya kalau ngga kliru, cuma 5 orang (dan kurasa motivasi mereka berlangganan lantaran kasihan lihat Ibu yang harus menjanda di usia relatif muda).

Yang masak Ibu, dibantu ART kami. Lalu aku dan mbak ART bertugas mengantarkan rantangan ke rumah para pelanggan. Setiap hari.

Beranjak ke sekolah menengah, aku mulai cari cara gimana bisa meringankan beban Ibu. Salah satunya, dengan apply sejumlah beasiswa. Hamdalah, ada yang approved, sehingga SPP sekolah tidak lagi merepotkan Ibu (waktu itu, belum ada program sekolah negeri SPP Gratis di Surabaya)

Di bangku SMA, saya mulai menemukan ‚Äúcinta pertama‚ÄĚ. Hahaha, bukan pada manusia, tapi pada dunia jurnalistik. Saya gabung di Kropel (Klub Reporter Pelajar) sebuah rubrik anak muda di koran Surabaya Post.

Di sini, kami‚ÄĒbocah-bocah SMA sederajat ini‚ÄĒmenyalurkan kecintaan pada dunia literasi dan jurnalistik. Boleh bikin liputan tentang kegiatan yang ada di sekolah. Boleh bikin cerpen. Boleh kejar-kejar artis/selebritis/tokoh, lalu hasil wawancaranya ditulis. Pastinya ada seleksi dari Redaktur. Buat yang tulisannya dimuat, ada honor yang terbilang cukup lumayan buat anak-anak sekolah zaman itu.

Suatu ketika, pernah gara-gara cerpen tayang di koran, saya beli cokelat (semacam beng-beng) sebanyak 48 biji dan saya bagikan ke seluruh siswa di kelas. Rasanya? Saya jadi ‚Äúorang tertajir melintir‚ÄĚ sedunia! Hahaha. Lebay yaa? Ya gitu deh.

Saya merasa bahwa ‚Äėtulisan dimuat di koran‚Äô lebih dari sekedar pencapaian materi. Teman-teman dan para guru di SMA jadi menilai bahwa seorang Nurul Rahma adalah ‚Äúasset‚ÄĚ bagi SMA ini. Nggak heran, ketika di bangku SMA itulah, saya bolak-balik dipercaya jadi duta sekolah untuk ikut aneka perlombaan. Salah satu yang paling cethar adalah, mewakili propinsi Jawa Timur dalam lomba pidato P-4 tingkat nasional. Lihat langsung eyang Soeharto berpidato! Ini sesuatu banget!

Masa-masa SMA memang paling menyenangkan. Dan, hidup memang harus terus berjalan. Saya melanjutkan kuliah di kampus Teknik Informatika ITS. Di sini, SPP-nya sangaaaat murah. Seingat saya Cuma 375 ribu rupiah per semester! (saya masuk tahun 1999).

Apalagi banyak senior yang bilang, dengan kuliah di Teknik Informatika, kita bisa dapat banyak side job, entah bikin program, bikin website, macam-macam. Waaaah, makin semangaaaat dong! Apalagi senior saya banyak yang kece, hihihi.

informatika-its

Foto jadul, masa-masa awal jadi mahasiswa Teknik Informatika ITS. Saya baju polkadot hitam putih (ujung kanan). Anda tahu, siapa pria berwajah Tionghoa, baju biru (depan nomor dua dari kiri)? Itu Agustinus Wibowo, penulis kondang, yang dulu kuliah sekelas ama saya, dan hengkang juga dari ITS ūüôā Kejar passion kita ya, Agus!¬†¬†

Ealah‚Ķ ternyata semangat saya cuman ‚Äúpanas‚ÄĚ di awal doang. Setelah tahu pelajaran di jurusan ini, duuuh‚Ķ. Saya langsung ngerasa jadi orang bego sedunia! SUSYAAAAHH AMAAAAT. Saya nggak kunjung paham dengan materi dasar-dasar logika, Bahasa Pemrograman C, Pascal, hadeeeh. Mata kuliah yang saya kuasai justru cuma MKDU (Mata Kuliah Dasar Umum) kayak Bahasa Inggris, Matematika Dasar gitu-gitu doang. Materi yang kepake selama kuliah di jurusan ini malah nggak nyantol di batok kepala sama sekali.

Walhasil, saya cari cara, gimana supaya saya bisa keluar dari jurusan ini, secara elegan. Maksudnya gini. Tahu sendiri kan, persaingan untuk masuk ke Jurusan Informatika ITS itu AMAT SANGAT KETAT BANGET! Malah di tahun segitu, grade-nya sempat di atas Fakultas Kedokteran Umum Unair. Jadi boleh dibilang, saya termasuk yang ‚Äúrezeki banget‚ÄĚ bisa nembus Informatika ITS. Sudah barang tentu, Ibu saya BANGGA dengan pencapaian anak wedok-nya yang ajaib binti alakazam ini.

Baca : Surprise Visit by Neno Warisman untuk Ibuku 

Nah, kalo kemudian saya bilang bahwa saya nggak kuat/nggak sanggup dengan mata kuliah di sini, lalu pengin keluar…. Gimana perasaan Ibu saya?

Tapiiii… kalo saya tetap paksakan buat kuliah di sini… kemudian saya stress/depresi dan IP saya failed melulu…. Itu artinya saya buang waktu dan energi sia-sia kan?

Baiklah. Saatnya sholat istikhoroh.

O iya‚Ķ sahabat saya di ITS memang banyak. Dan, tentang kerisauan ini, saya cerita juga sih sama mereka. Mayoritas bilang, ‚ÄúKamu Pasti Bisa, Nurul!‚ÄĚ sambil mengepalkan tangan ala Bung Tomo. Intinya, menyemangati bahwa saya bisa lah survive di jurusan Informatika ini.

Tapiii, heiii… saya lebih kenal dan paham kemampuan dan kekurangan diri saya sendiri. Bergaul dengan teman-teman di Informatika memang amatlah menyenangkan. Akan tetapi saya tidak bisa berpura-pura betah bin bahagia berada di jurusan yang ternyata tidak saya suka. At that time, saya sampai level MUAK banget lihat computer lho! Pokoknya saya super menyesal sudah memilih jurusan ini.

Ndilalah… suatu hari saya baca lowongan kerja di Deteksi Jawa Pos. Ini adalah rubrik yang khusus menyasar anak muda. Waaawww… sepertinya ini bisa jadi exit plan yang menarik!

Ini cinta pertama saya: jurnalistik dan literasi. Kalau saya bisa join di Deteksi, artinya saya dapat uang tambahan, dan saya bisa super-duper-perform di sana… sehingga Ibu nggak perlu risau dengan keputusan saya hengkang dari Informatika ITS.

BRAVO!

Skenario saya ternyata sejalan dengan takdir Illahi. Saya masuk Deteksi. Awalnya sebagai surveyor yang bertugas menyebarkan polling ke berbagai kampus dan sekolah. Kemudian, ada seleksi sebagai penulis naskah. Saya daftar dong, dan terpilih! Di Deteksi, kita biasa ketemu artis… handle event anak muda… ya kerjaan yang hedon-hedon gitu lah.

oNCE

Ketemu Once!

Daaaaan‚Ķ. Saya bilang ke Ibu, kalo saya suka ama tipe kerjaan seperti ini. Menulis-ketemu artis-wawancara-repeat. Saya sangat menikmati berhadapan dengan PC, asalkan nggak disuruh mikir Bahasa pemrograman ūüėä Ibu pun mengapresiasi apa yang saya lakukan. Hingga kemudian, saya bilang kalau mau ikut UMPTN lagi, demi pindah jurusan ke Komunikasi Unair.

winky

Sama DJ Winky!

‚ÄúLho? Yang ITS gimana?‚ÄĚ

‚ÄúRencananya kalo keterima Unair‚Ķ ITS-nya aku lepas Bu‚Ķ.‚ÄĚ

‚ÄúNggak eman-eman? Opo ndak dicoba dulu dua-duanya?‚ÄĚ

Hmmm‚Ķ. Beberapa teman saya ada yang kuliah dobel. Iyalah, mereka pinter banget! Kalo saya? Kuliah satu jurusan di Informatika aja galau melulu. Gimana kuliah dobel?‚ÄĚ

‚ÄúNanti dilihat deh, Bu. Kuatirnya jadwal kuliah yang tabrakan, malah nggak efektif. Doakan yang terbaik buat aku ya‚Ķ‚ÄĚ

Kemudian saya ikut UMPTN untuk kedua kalinya…. Dan diterima di kampus Unair, jurusan Ilmu Komunikasi.

‚ÄúWidiiih‚Ķ mba Nurul ketrima UMPTN dua kali! Gilaaaak! Gilaaak!‚ÄĚ Banyak komentar yang berseliweran di sekitar saya.

one door

Well, to be honest, saya nih bukan manusia brilian. Lebih tepatnya, nggak pinter-pinter amat. Ya itu tadi, saya yakin kalau Allah punya takdir terbaik untuk masing-masing hamba-Nya. Dan itu semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Sama seperti takdir saya yang berangkat mewakili Indonesia di forum Google Local Guides Summit di San Francisco Amerika Serikat.

Baca : Jadi Local Guides dan Pergi ke Amrik Gratis? Gimana Caranya?

Takdir saya ya kayak gini. ‚ÄúKesasar‚ÄĚ dulu di jurusan Informatika, kemudian dapat kerja sambilan di Deteksi Jawa Pos, dan kuliah di Unair deh.

Akhirnya….. saya bilang terus terang ke Ibu bahwa aku nggak bisa ngelanjutin kuliah di ITS. Mungkin ini terdengar keputusan yang paling mbencekno, karena heiiii…. Informatika ITS itu grade-nya tinggi! Masa depannya cemerlang!

Mau gimana lagi. Ternyata saya nggak punya talenta dan kapabilitas di bidang IT, ya sudah. Saya tekuni saja apa yang saya bisa dan jadi kegemaran.

Semasa di Deteksi, saya bergaul dengan mahasiswa dari kampus lain yang juga passionate dengan dunia jurnalistik. Kami belajar bareng. Kami bertumbuh bersama. Teman-teman saya mayoritas dari keluarga berada. So, mereka kerja di Deteksi BUKAN karena semata-mata butuh duit, tapi karena cari pengalaman, having fun, dan supaya tahu rasanya kerja itu kayak gimana.

Luna Maya

Foto bareng (kiri-kanan) Maria Agnes, Davina, Cathy Sharon, Luna Maya

Kami diperlakukan kayak karyawan koran beneran. Redaktur yang marah-marah kalo tulisan kami pating pechetot, deadline nulis di koran yang berkejaran dengan deadline tugas kampus‚Ķ. Rapat redaksi bahas tema dengan ‚Äėketegangan‚Äô yang sukar digambarkan‚Ķ marah sama boss‚Ķ dimarahi boss‚Ķ pokoke seru!

Yang sampe sekarang susah dilupakan adalah‚Ķ saya tuh seriiiing banget berantem dengan Azrul Ananda. Yap, anak sulungnya pak Dahlan Iskan itu lho. Haha. Kocak banget yak, ada ‚Äúkutu‚ÄĚ yang berani-beraninya berantem ama ‚Äúgajah‚ÄĚ. Yang lebih kocak lagi‚Ķ. Ternyata si ‚Äúkutu‚ÄĚ ini memperkenalkan ‚Äúgajah betina‚ÄĚ yang cantik jelita (dan dari keluarga kaya raya) ke si ‚Äúgajah‚ÄĚ, sambil bilang‚Ķ.‚ÄĚMas, kayaknya dirimu cocok deh, jalan ama Ivo.‚ÄĚ

Lalu? Dua ‚Äúgajah‚ÄĚ itu pun berjodoh. Pernikahan yang amat setara. Laki dan perempuan dari keluarga tajir melintir. Sekarang, mereka punya 3 anak yang sehat-sehat dan lucu. O iya, barusan aja, keluarga besar Pak Dahlan Iskan umroh, termasuk Azrul, istri, dan anak-anaknya. Kami semua kaget‚Ķ karena heii, Azrul kan dikenal sebagai sosok yang lumayan sekuler. Yang namanya hidayah itu emang surprising‚Ķ. Dan Alhamdulillah, dari status seorang teman, saya baru ngeh, kalau Azrul sekarang mulai ajeg mendirikan sholat. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Yah, gitu deh, cerita masa muda saya. Ternyata numpang curcol sekalian, haha. Gini nih asyiknya ikutan #OneDayOnePost bareng Indonesian Social Blogpreneur (ISB). Hayuk, ikutan juga yuk! (*)

 

Quote Membahana dari Gilmore Girls

Hola!

Masih dalam rangkaian OneDayOnePost bareng teman-teman Indonesian Social Blogpreneur (ISB), dan hari ini temanya adalah film keluarga apa yang kamu favoritkan?

To be honest, belakangan ini saya jaraaaaaaang banget lihat pilem. Nyetel TV juga jarang. Lebih suka lihat YouTube aja. Jadi, saya kurang update kalo ditanya TV series masa kini.

Tapiii… kalo ditanya serial TV yang saya tonton ketika era 1990-an atau 2000, woahahahha… BANYAAAAK BANGET!

Si Unyil itu film keluarga kan? Saya demen.

Si Doel Anak Sekolahan…. Bajaj Bajuri…. Doraemon… apa lagi ya? Pokoke, film-film yang enteng dicerna, saya pasti demen. “Suami-suami Takut Istri” ane juga demen. Haha.

Baca : Terobsesi Bule

 

Kali ini ada satu TV series Amrik yang mau saya bahas.

Judulnya “Gilmore Girls”. Tokoh utama di film ini adalah seorang ibu gahul (Lorelai) beranak satu (Rory). Mereka tinggal berdua aja, tanpa sosok ayah. Lorelai tetap survive menjalani hidup, dan kita juga digiring untuk mengikuti gimana ibu dan anak ini kompak dan saling mendukung, meskipun bahagia tak selamanya berpihak pada mereka. Yeaaa, nggak selamanya akur sih, kadang berantem juga, tapi menurutku hubungan mereka berdua ini super awesome!

GILMORE GIRLS

Sang Nenek yg sangat aristokrat binti priyayi — Lorelai si single mom yang hore, heboh dan asyique — Rory, anak manis yang dikelilingi banyak cowo ganteng¬†

 

Rory (diperankan Alexis Bledel) adalah murid yang smart dan yeah, wajahnya imut cute nggemesin kan? No wonder, banyak cowok yang PDKT ama doi. Di sepanjang serial ini, Rory gonta/ganti pacar berapa kali ya? Errr…. 4 atau 5 kali ada gitu, kayaknya.

Dari semua “koleksi” Rory itu, saya paling demen ama Jess yang dimainkan dengan apik oleh Milo Ventimiglia.

Lihat nih… dialog antara Rory dan Jess!

gilmore-1

O yeayyy! Jess emang minta ditujesssss ūüôā

Dari mana Rory mewarisi “ilmu pengasihan” kayak gitu? Sudah pasti dari mommy-nya.

 

Kebayang deh, betapa cethar-nya kalo punya tipikal emak gokil ala Lorelai. Dan yang pasti, TV series “Gilmore Girls” ini punya buanyaaaak stok dialog yang quotable banget!

gilmore-4

Well said!

gilmore-3

Yak. Gitu deh salah satu TV series favorit saya. Buat yang penasaran ama Gilmore Girls, bisa cari di YouTube yah.

Ada yang pakai subtitle bahasa Inggris kok. Mayan, sambil nonton kita juga bisa learning English juga kan? Itung-itung sebagai persiapan ehh… mbok menowo tahun ini bakal ikutan Google Local Guides Summit, aamiiiin ūüôā

Baca : Pergi Gratis ke Amerika, Bagaimana Caranya? 

 

Kalau teman-teman, apa TV series yang paling berkesan? 

Dearest Ibu-Ibu, Yuk Ciptakan Bahagia ala Kita!

Baca berita belakangan ini sungguh bikin puyeng luar binasa. Adaaa aja isu-isu yang membuat kalimat istighfar bertaburan dari organ wicara. Sebut saja, ayah yang tega membunuh anak kandungnya. Ibu yang menyiksa balitanya. Macam-macam! Astaghfirullah….¬†

Kalau kita telusuri, sebenarnya kasus kekerasan ini banyak yang bermula dari depresi tak tertangani yang dialami para orang tua. Terutama ibu-ibu ya. Banyak banget perempuan yang ketika masih lajang punya prestasi super-duper wow, kemudian harus merasa “terbelenggu” dalam ikatan rumah tangga. Bisa jadi karena panggilan jiwa, atau lantaran suaminya yang minta dia kudu jadi full-time-mom.¬†

Harus diakui, metamorfosa dari career lady menjadi stay-at-home-mom… terkadang menjadi fase yang super mengerikan. Apalagi kalau kita tipe achiever. Beberapa kali saya sempat berada di fase itu, dan rasanya stressful!

Mendingan stres ngadepin tuntutan boss dan aneka deadline yang berkejaran, ketimbang stres ngurusin anak yang GTM (Gerakan Tutup Mulut), anak yang masih ngompol dan BAB tidak pada tempatnya, anak yang membantah apa kata Mama, dan seterusnya dan semacamnya. 

Apalagi, stres ngurusin anak plus…. engga pegang duit dalam jumlah yang cukup. Ada perasaan “I’m worse than another career ladies” karena hidup kita cuma berkutat di popok, ompol, gumoh, nyiapin makanan bayi and so on and so on.¬†

Dari situlah bibit depresi bisa muncul.

Kemudian, setan mulai berkontribusi… sehingga kalbu kita berbisik, “Andaikan waktu itu aku nggak cepet-cepet nikah… andaikan waktu itu aku nggak cepet-cepet punya anak… Mungkin aku bisa terus mengejar karir! Promosi sampai ke kantor pusat, bisa meraih jabatan yang kian melesat!”

Ini nih… berandai-andai membuka kesempatan setan kian berbisik kencang! Kita nggak bisa kembali ke masa lalu kan?¬†

Saya selalu suka Quote ini nih….

‘Yesterday is history, tomorrow is a mystery, today is a gift of God, which is why we call it the present.’

gift

Hiduplah di masa kini dan masa depan. Stop berandai-andai! Apalagi kalau ngelihat teman-teman kita karirnya melesaaaaat, bolak-balik ngetrip ke luar negeri (dibayarin kantor pulak!), bisa fancy-dining di resto dan kafe mahal, plus Instagram-nya penuh dengan foto-foto yang rentan bikin dengki bin sirik. Uhuks.

Depresi bisa semakin bertambah tatkala kita meratapi masa lalu, dan membandingkan pencapaian hidup dengan orang lain.

Heiii… comparison is the thief of joy!

comparison

Buat apa kita membandingkan rezeki kita dengan rezeki orang lain? Toh, kita nggak pernah tahu kan, seberapa keras usaha teman-teman kita dalam menjemput kegemilangan dalam karir.

Aku kasih contoh, nih. Sohib ikribku, Xaveria (perasaan, contohnya dia dia melulu haha). Xave ini bolak-balik dikirim kantornya ke luar negeri. Ke Jepang, Dubai, Singapura, Hongkong, Thailand, semuanya for free, alias gretong, dan dia nginep di hotel-hotel yang prestisius gitu!

Kalau lihat bagian ‚Äúhaving fun‚ÄĚ-nya doang‚Ķ. ya sudah pasti aku dengki tiada kepalang. Tapi, mari kita lihat, apa pengorbanan yang dilakukan ibu 3 anak ini? Yep, dia harus bangun subuh untuk mempersiapkan sekolah (plus nganterin) anak-anaknya. Lalu nyiapin makanan buat balita. Jam 1 pergi ke kantor, baru pulang sampai rumah jam 11 malam! SETIAP HARI. Dan besokannya udah harus bangun subuh lagi. SETIAP HARI. Repeat.

Apakah diriku siap melakukan hal-hal semacam itu? Belum tentu.

So‚Ķ. Depresi sangat bisa kita eliminasi, manakala kita bersyukur dan berdamai dengan diri sendiri. Setiap makhluk sudah ada takaran rezekinya masing-masing. Sekuat dan sekeras apapun usaha kita, kalo memang bukan rezekinya, ya nggak akan nyampe kok. Eh, don‚Äôt get me wrong, saya bukannya bilang kalo kita males-malesan aja lah‚Ķ bukan! Justru rezeki itu memang HARUS dijemput. Harus diusahakan. Tapi, jangan sampai membuat kita mengandalkan jurus ‚Äúraja mabok‚ÄĚ dan segala macam cara dilakukan.

***

Parenting Zaman Now is So Challenging!

CHALLENGING. TRICKY. PRETTY HARD.

Tiga hal itulah yang langsung nangkring di batok kepala, manakala ada yang nanya, ‚ÄúGimana sih rasanya jadi ortu zaman now?‚ÄĚ

Aku bukan pakar pendidikan. Aku juga emak-emak mediocre, yang kerap disambit rasa bersalah dan pengakuan dosa ‚ÄúSepertinya aku gagal jadi orang tua.‚ÄĚ

Banyaaaaak banget failure yang udah terjadi selama aku menapaki ‚Äúkarir‚ÄĚ (yang ngga bisa cuti plus ngga bisa resign) sebagai ‚Äėemaknya Sidqi‚Äô.

Mungkin, kalo karir ini disamakan dengan kerjaan di kantor, aku udah dapat SP3, saking seringnya kesalahan demi kekhilafan yang aku lakukan, baik sengaja maupun tidak.

But eniwei, supaya nggak jadi depresi, kadang kala rasa bersalah ini aku alihkan dengan traveling! Jadi, kalau teman-teman baca postingan saya yang (tampaknya) hepi tralala ketika ngetrip, trust me‚Ķ itu adalah kelegaan luar biasa karena hamdalah diriku tetap waras di tengah perasaan ‚Äėguilty feeling‚Äô yang menerpa sebagai orang tua, hahahah.

***

Okai. Jadi, anakku baru satu. Namanya Sidqi. Dia sangat passionate dengan dunia YouTube, editing dan gaming. Bolak-balik minta dibelikan PC buat belajar editing, tapi yaaaah, karena ortunya sangat concern dengan financial planning (lebih tepatnya medhit) sampai detik ini Sidqi otak-atik akun YouTube-nya pakai HP aja.

Meski gitu, subscriber channel YouTube Sidqi sudah mencapai 1800. Google Adsense-nya juga udah approved, dan siap-siap nerima dollar nih, kalau traffic videonya OK.

Ada satu bocah Indonesia, masih berusia 10 tahun yang sepertinya bisa banget jadi role model buat Sidqi.

 

Namanya, Alfarizi Bay Haqi. Dia tuh yang udah bisa bikin aplikasi untuk belajar Matematika, namanya Good Math dan Quiz Matematika.

Tapi emang, kids zaman now luar biasa yaaaa… Mereka sangat akrab dengan teknologi. Ini saya comot info tentang para pemenang Kompetisi Inovasi Teknologi “Indosat Wireless Innovation Contest”. Salah satu juaranya ya si Alfarizi Bayhaqi itu.

Kategori Kids & Teens (apps)

Juara 1: Quiz Matematika (Muhammad Hafizh Bayhaqi / 10 Tahun / Bogor). Quiz Matematika merupakan game berbentuk kuis matematika yang dirancang untuk melatih kemampuan dan kecepatan berhitung anak-anak dengan cara yang seru dan menyenangkan.

Juara 2: AR Sistem Tata Surya (Ahmad Reihan Alavi / 14 Tahun / Jepara)?. AR Sistem Tata Surya merupakan solusi pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) untuk mempermudah pembelajaran siswa-siswi di seluruh Indonesia mengenai sistem tata surya.

Juara 3: Life is Precious (Shaquille Shiddiq Priata / 15 Tahun / Tangerang Selatan). Life is Precious merupakan game interaktif dengan berbagai tantangan permainan yang fokus pada topik pembelajaran serta pencegahan kecanduan narkotika dan obat-obatan terlarang.

***

Jadii… gimana dengan perjalanan sebagai ortu zaman now?

Sepertinya saya mau mulai bikin road-map untuk Sidqi. Kalau dia memang sangat interest dengan dunia IT, ya sudah gapapa. Difasilitasi aja. Dan di-support supaya dia bisa jadi techno-freak yang bermanfaat bagi orang banyak dan memberikan kontribusi positif.

 

Perbedaan Saat Belanja untuk Kebutuhan Pria dan Wanita  

Perbedaan Saat Belanja untuk Kebutuhan Pria dan Wanita

Berbelanja memang menjadi momen yang cukup menyenangkan. Tak hanya wanita saja yang gemar belanja, namun pria pun juga diam-diam begitu suka berbelanja.

Beli untuk kebutuhan pria dan wanita kini pun sudah semakin mudah sejak munculnya ragam teknologi misalnya saja dengan belanja online.

Ya, dengan banyaknya situs belanja online yang menawarkan ragam produk, maka
tak heran jika aktivitas belanja kini jadi kian mudah dan menyenangkan.

Meski pria dan wanita sama-sama suka belanja, namun dalam tipe berbelanja kedua makhluk ini ternyata memiliki cara yang berbeda. Tentu Anda penasaran bukan?

Berikut ini beberapa perbedaannya:

1. Dari segi tujuan

Ketika pergi berbelanja atau membuka website belanja, umumnya para wanita belum begitu jelas dalam penentuan ingin membeli barang apa dan fungsinya apa. Yang jelas mereka hanya ingin melihat-lihat yang umumnya berujung dengan memborong belanjaan apapun itu.

Sedangkan pria tidak demikian. Tujuan pria untuk belanja baik di mall atau di situs
belanja online umumnya sudah ditentukan sebelumnya sehingga terencana dan sesuai
tujuan awal.

IMG_0591

Siap-siap belanja di Changi Airport 

2. Dari segi kebutuhan

Sudah bukan rahasia lagi jika kerapkali wanita membeli barang bukan karena kebutuhan namun karena alasan lain. Alasan yang paling umum adalah karena barang itu ‚Äúlucu‚ÄĚ atau karena sedang diskon.

Namun pria berbeda karena otak logis mereka lebih bisa berjalan, sehingga sebagus apapun barang tersebut jika mereka belum merasa butuh, maka mereka tidak akan membelinya.

3. Dari segi penawaran diskon

Ketika ada diskon, wanita kerapkali lupa diri. Tak heran meski sudah ada baju atau sepatu setumpuk di rumah, namun jika ada diskon mereka tetap semangat membelinya tanpa pikir panjang.

Namun beda sekali dengan pria, mereka tidak begitu peduli akan diskon. Bahkan
ketika barang mahal sekalipun namun mereka memang membutuhkan maka tanpa pikir panjang mereka akan beli untuk kebutuhan pria  

4. Dari segi tenaga

Entah mengapa wanita selalu punya tenaga lebih ketika belanja. Banyak yang heran kenapa wanita olahraga 15 menit sudah lemas, namun jalan-jalan sambil belanja berjam-jam bisa bertahan begitu kuatnya padahal mereka menggunakan rok dan high heels. Entah darimana tenaga itu datang.

Untuk pria biasanya tidak sekuat itu. Mereka lebih suka habiskan waktu lama untuk tidur atau main game. Ketika harus belanja pun mereka hanya membeli sesuai
kebutuhan dan langsung pulang.

5. Dari segi harga

Sudah banyak yang tahu jika selisih harga sekecil apapun untuk wanita bisa jadi
permasalahan yang besar. Pasti Anda para wanita sering juga merasakan kekecewaan
teramat dalam ketika mengetahui jika ada barang yang sama namun ada selisih seribu
rupiah saja. Hal inilah yang kadang menjadikan wanita terlalu banyak melihat-lihat karena berusaha mencari barang yang termurah.

Untuk pria sendiri harga bukanlah masalah besar. Mereka lebih suka beli barang dengan harga yang mahal namun memang berkualitas dan awet. Berapapun harganya, jika memang butuh maka akan dibelinya.
Ternyata momen belanja untuk beli untuk kebutuhan pria dan wanita sangat berbeda bukan?

Memang tidak bisa dipukul rata jika semua pria dan wanita demikian, meski begitu
mayoritas perbedaannya sangat kentara. Belanja memang bukan hanya untuk mendapat kebutuhan semata, namun lebih kepada cara membahagiakan diri, terlebih kini sudah ada situs belanja online sehingga pengalaman berbelanja bisa kian simpel, mudah dan menyenangkan.