Tak Perlu Jadi Crazy Rich untuk Bisa Traveling dan Bahagia

Kemarin aku baca IG post Ernest Prakasa yang begini bunyi caption-nya:

Beberapa hari terakhir ramai konten opini-opini soal pencapaian di usia 20 tahun. Menurut saya, hal yang wajib dimiliki bukanlah harta benda, melainkan mindset yang kokoh bahwa ukuran kebahagiaan itu tidak bisa disamaratakan.

Bahagia bisa berarti harta berlimpah.

Bahagia bisa berarti menikah muda, dengan orang yang tepat.

Bahagia bisa berarti memiliki pekerjaan idaman.

Bahagia itu beragam.

Tapi yang pasti, Bahagia adalah Ketika hatimu PENUH.

Dan ukuran itu, hanya kamu yang tahu.

Maka, mengulangi apa yang pernah saya bilang, “Hidup ini terlalu singkat untuk membiarkan orang lain menentukan apa yang membuat kita Bahagia.”

I wish you all a happy life.

Continue reading “Tak Perlu Jadi Crazy Rich untuk Bisa Traveling dan Bahagia”

4 Museum Sebagai Tempat Wisata di Bandung yang Menarik

4 Museum Sebagai Tempat Wisata di Bandung yang Menarik

Kapan terakhir kamu mengunjungi museum? Atau jangan-jangan malah belum pernah ke museum sama sekali? Mungkin, hal ini karena kamu belum tahu museum-museum menarik yang ada di Bandung. Kalau museum yang di bayanganmu terlihat membosankan, berbeda dengan museum disini yang dikemas sebagai tempat wisata di Bandung yang menarik.

Ada 4 museum yang akan dibahas di artikel ini. Masing-masing museum berbeda dan memiliki karakter kuat tersendiri. Cara museum menata dan merawat koleksinya juga berbeda, sehingga kita akan lebih betah dan tertarik saat berkunjung.

Continue reading “4 Museum Sebagai Tempat Wisata di Bandung yang Menarik”

Memberi Makna agar Tercipta Bahagia

Follow my twitter @nurulrahma

Akhir tahun 2018 lalu, ada tiga rezeki ngetrip yang datangnya dari arah tidak disangka-sangka. Aku diundang untuk plesir ke Jogja (bareng indekostour, salah satu layanan online untuk traveller); ikut Netizen Gathering bareng MPR RI di Jakarta, dan pergi ke Banyuwangi untuk program CSR XL Axiata. Itu semua terjadi dalam satu bulan saja!  

Aku yang….. speechless, bener-bener bersyukur buangeeett, bisa ketiban sampur untuk ikutan acara-acara asyique semacam ini. Camping (menginap di tenda beneran!) di kaki gunung Merapi… lalu bikin api unggun, bakar jagung dan sosis, plus ngobrol bareng content creator sahabat kami yang tinggal di Jogja.

Lalu menuju destinasi hype bin kekinian, seperti Warung Kopi Klotok, Tebing Breksi, Hutan Pinus Mangunan, dan SEMUANYA Gratis. I am really grateful.

Kalo mau baca liputan seputar Glamping assoy geboy ini, silakan cuss ke artikel ini

Tidak berselang lama, aku diajak untuk plesir ke Jakarta, berkunjung ke Gedung MPR, lihat Museum Macan, lalu ke daerah wisata Kota Tua, dan dinner di resto Jimbaran yang ada di Ancol. What a fabulous trip! Kami juga diinapkan di Hotel Sultan, salah satu hotel nyeni/ yang masih mengangkat nilai tradisional di pusat ibukota.

Liputan seputar Deklarasi Netizen MPR RI ada di artikel ini yaaa

Next, trip yang tak kalah seru, bareng salah satu provider seluler. Kami diajak untuk menikmati panorama Banyuwangi yang luar biasa indah, ke Pantai Pulau Merah, Hutan Djawatan, makan siang di Waroeng Kemarang yang buagusss banget! (plus menunya enak-enak paraaaahhh!), dan menginap di Hotel El-Royale Banyuwangi, hotel yang baru berusia 1 tahun dan cantiiik buanget.

I dunno what to say selain ALHAMDULILLAH. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

***

Pertanyaannya sekarang adalah…. Apa yang gw rasakan dari semua perjalanan ini? Apakah gue hanya having fun, ambil foto selfie di sana, selfie di sini? Hahahihi poto bareng dengan semua peserta trip? Atau apa?

Karena to be honest, lingkup pergaulan dan tuntutan buat eksis di socmed, itu yang paling banyak menyita pikiran dan atensi. Saban cuss ke suatu destinasi, yang jadi pertanyaan adalah: Ntar paling bagus foto selfie di mana yak? Ntar gw pake baju apa ya, biar kelihatan (agak) kece di foto. Ntar gimana caranya biar foto eikeh kagak “bocor” yak, alias banyak orang-orang lain yang nggak nongol di foto. (Padahal, pengunjung lain juga ogah kalo muka kita nongol di foto mereka, hahahaha).

Nah…. Akhirnya kita cuma mikirin hal-hal yang sifatnya sebatas “kulit” aja. Nyaris kita tidak sempat melakukan refleksi, atau sekedar memberikan “meaning”, pemaknaan terhadap aktivitas yang kita jalani. Kita datang ke sana ke sini, grubyak grubyuk ambil foto sebuanyaaaak mungkin (yang di-upload pokoke pose “Gue kagak kliatan gendut!”) Segitu doang! Tapi…. meaning-nya nihil.

***

Ketika acara trip berakhir, dan gw selonjoran di kamar hotel, saat itulah biasanya berondongan pertanyaan muncul.

“Sudahkah aku benar-benar bersyukur dengan semua anugerah yang Allah berikan?”

“Aku poto-poto tadi, motivasinya apa? Sekedar buat hepi hepi joy? Atau… jangan-jangan, ada modus terselubung, bahwa aku pengin pamer? Pengin dianggap lebih unggul ketimbang yang lain?”

“Apa aku juga mempelajari tentang nature dari destinasi yang aku kunjungi, gimana behind the story atau cerita di balik destinasi ini… ataukah aku hanya sibuk dengan diri sendiri?”

Dan…. Pertanyaan pamungkasnya adalah……

Dengan semua kebaikan dan rezeki yang gue terima, sempat tersirat sebuah tanya: Untuk seorang makhluk yang bergelimang dosa, jangan-jangan ini sebuah istidroj? Astaghfirullahal ‘adzim…

Baca: Berkah atau Istidroj

***

Menyematkan Meaning dalam aneka peristiwa di hidup kita, insyaAllah membuat diri ini senantiasa waspada. Tidak terjebak bangga berlebihan… Ujub…. Dan rentan memiliki pola pikir yang merendahkan manusia lain.

Menyematkan meaning, bahwa Allah telah begitu Maha Baik-nya memberikan serangkaian rezeki yang (lagi-lagi) datang dari arah yang sama sekali tidak kita sangka sebelumnya. Maka, puja-puji teralamatkan hanya kepada Sang Pemilik Segala. Kita, aku, kamu, siapapun diri ini, tak layak mengharapkan puja dari sesama makhluk.

Live humbly! Kita harus menjalani hidup dengan jujur. Nggak perlu sekuat tenaga pengin dipuji orang. Nggak perlu ribet mikirin gimana supaya socmed full dengan Like, comment, followers gue jadi segabruk!

Your worth is not measured in likes, comments, or followers. Jangan jadikan jumlah like, pengikut, dan komentar sebagai standar kebahagiaan kita. Never give the remote control to others.  

True happiness is here, lies within ourselves. We don’t need any comments or compliments from others to stay relevant and feel blessed. We just need to focus on the things that really matter: our real life, and how to live it peacefully.(*)

Review USA Hostel San Francisco California Amerika Serikat

Yo, yo, yooo…!!

Mana nih, yang mau daftar Google Connect Live 2019? Sudah disiapkan video dan essay untuk apply ke acara cethar-ulala-membahana of the year?

Tipsnya udah aku jembrengin di blog ini yak. Daaan, sampai hari Selasa (23 April) ini masih banyaaak yang kirim DM di IG @bundasidqi ataupun email aku, nanyain tentang serba/serbi Google Local Guides/ Google Connect Live.

Kak, aku bikin essay kayak gimana?

Kak, ada ide-kah, di videonya, aku ngomong apa?

Aku syuting di depan taman aja boleh kah?

Aku nggak bisa editing video, gimana ini Kak?

Kak, mantanku nelpon dan WA melulu ini piyeee?

HAH!

Continue reading “Review USA Hostel San Francisco California Amerika Serikat”

Sensasi Jadi Pilot Sehari di Kaza Simulator Center Surabaya

Siapa bilang Surabaya cuma punya taman-taman yang cethar membahana? Let me tell you guys, Surabaya ini punya buanyaaaak hidden gem! Bisa banget dijadikan sarana buat ngabuburit, ataupun untuk jalan-jalan bareng sodara, kalo mudik Lebaran ntar.

Eh, ada yang mudik ke Surabaya kan? *lirik Dani Rachmat 🙂

Nah, salah satu hidden gem yang mau aku ceritain ini namanya KSC alias Kaza Simulator Center. Di sini, ada sejumlah miniatur pesawat, plus simulatornya, plus baju pilotnya! So, kita bisa ngerasain sensasi jadi pilot ‘ala-ala’ dan ngeksis pake seragam putih-putih yang jadi ‘obat ganteng’ itu loh.

Continue reading “Sensasi Jadi Pilot Sehari di Kaza Simulator Center Surabaya”

Mengisi Ramadhan di “Kampung Arab” Ampel Surabaya

Ketika gedung-gedung jangkung mulai mencakar langit Surabaya, ada sebuah kerinduan yang hadir di hati. Sebuah rindu pada budaya asli begitu menguat.

Surabaya sebuah kota yang menjadi titik temu masyarakat multi-etnis. Kaum Arab, pecinan, Jawa, Madura, dan etnis lainnya berkumpul menjalin hidup yang berkelindan di bumi Surabaya.

Continue reading “Mengisi Ramadhan di “Kampung Arab” Ampel Surabaya”

Drama di Balik Foto Bareng Reza Rahadian

Sudah lamaaaa banget, saya memendam hasrat untuk bisa ketemuan in person dengan Reza Rahadian. Bener-bener ketemu, ngobrol (walau sebentar) dengan jarak dekat, bukan sekedar foto bareng ala aktor dan fans gitu.

Saya gemar dengan semua lakon yang diperankan Reza. Gimana ya, Reza itu laksana “bunglon”.

Dia bisa tampil ‘melas’ sekaligus ‘laki banget’ di pilem “Emak Ingin Naik Haji”. Juga tampil “adorable” pas di “Hafalan Sholat Delisa”. Terus, macho, dandy, dan uwuwuuwuw banget, pas berperan jadi Aziz di “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk”.

Oh iya, tentu jangan lupakan juga peran super-dahsyat dia sebagai the one and only Mister BJ Habibie di “Habibie & Ainun”.

Ah, I accidentally admire Reza. Lebih tepatnya, saya mengagumi aktingnya.

Jadi, manakala saya tahu ada kontes dengan hadiah liputan premiere “My Stupid Boss” plus jadi #JurnalisSehari di Kuala Lumpur, plussss bakal ngobrol bareng Reza Rahadian dan BCL, wohooo… so pasti aku mengerahkan segala daya dan upaya biar bisa lolos, jadi pemenang!

Alhamdulillah, ide untuk konsep video sudah nangkring di kepala. Dengan bantuan sahabat yang jago shooting plus editing (BIG THANKS to twitter @kangerik) plus satu cameo yang cetharrr (Hellow, Fathon, thanks much yaaaa) akhirnya kami memproduksi video (yang diedit abis-abisan) hingga berdurasi 1 menit saja.

Sila cek ke IG @bundasidqi ya. Di-follow juga boleh. Mention aja, ntar aku folback deh #eaaaa

Oke, lanjoooot.

Walhasil, karena Sang Maha Sutradara Kehidupan tahu banget bahwa aku lagi butuh piknik (dan butuh ketemu Reza), aku dinyatakan lolos sebagai salah satu pemenang…! *sujud syukur*

Berangkatlah aku ke Jakarta, untuk ketemu temen2 jurnalis lain dan ofkors mbak Disty (marcomm Detik com) dan Mba Desi (jurnalis Detik Hot), plus satu pemenang lainnya si Dafi (mahasiswa IPB). Kami cusss ke Kuala Lumpur (16/5) dan menginap di Hotel magrong-magrong, JW Marriott, sodara-sodaraaaaaa *noraknya kumat*

Lebih asik lagi karena beberapa kali kita papasan ama Reza. Reza! Reza Rahadiaaaan!

Pertama, pas antre imigrasi di Bandara Cengkareng.

“Eh, itu Reza!” aku lihat seonggok ((SEONGGOK)) makhluk kece yang tengah antre imigrasi juga.

Sumpe deeh, aku udah yang pengin nyamperin doi, trus minta poto bareng. Tapi tapi tapiii, aku kan barengan ama mas-mbak jurnalis infotainment, yang mana mereka udah biasaaaa banget ketemu ama Reza, dan yang mana mereka tak memahami bisik hatiku yang terdalam bahwa aku pengin banget poto ama Reza, hwaaaaaaaaa….!! *kalimat curcol terpanjang yang pernah aku produksi*

Ya wis, bye bye dek Rezaaaaaa *mewek*

Ga jadi poto bareng Reza di Cengkareng, eh, kita (maksudnya akoh dan Reza, gituuu) ketemu lagi di Bandara KLIA (Kuala Lumpur Int’l Airport). Doi lari-lari sambil lempar senyuum yang meleleh hati Hayati, udaaaa, aduduuh gemesin banget sih kamoooh.

Reza langsung masuk ke Alphard mewah yang menjemput doi, mbak Upi (sutradara My Stupid Boss), dan beberapa tim Falcons.

Laluuu…. Kita? Eh, aku lebih tepatnya?

Melongo ngeliat punggung doi yang masuk mobil. Hiks. Hiks. Gagal maning, gagal maning.

Dua kali gagal poto ama Reza. Ya udin, aku pasrah aja dah. Masuk ke bus bareng temen2 jurnalis. Trus kita langsung ngeluyuuur ke Hotel JW Marriott. Hotel mewaaaahhh, yang ada di lokasi mewaaaaahh, di seberang hotel ada Mall Mewaaaah, yang jualan barang-barang selera princess Syahrini, yaaaahhhh.

Sementara yang lain leyeh-leyeh di lobi (karena kita nunggu check in), lagi-lagi, aku ngeliat seonggok makhluk imut, dengan topi putih, dan doi lagi asyik main HP. Eh, tunggu… tunggu… Itu kaaan… REZA…!

Samperin, engga… samperin, enggaaaa… duh. Galau, euy. Muka gue masih penuh dengan bekas iler dan belekan lantaran tidur di pesawat dan di bus menuju hotel. Lah, ini di depan eikeh ada Reza. Samperin gak ya?

Huhuhuuuuu, ternyata eikeh cemen beuds deh. Belum berani nyamperin doi 😛

Ya wis, akhirnya Reza check in, aku juga. Hussss! Maksude, kami check in di kamar masing-masing, ojo ngeres pikirannya hahahaha

Sudah 3 kali dapat kesempatan poto, tapi semuanya FAILED. Baiklah, sekarang kita cusss ke lantai 28 Hotel JW Marriott. Ada sesi pemotretan Reza dan BCL.

Ini ruang kamar hotel, dengan 2 kamar yang connecting room gitu lah. Di kamar yang (ternyata) gak seberapa luas ini, berjejalan makhluk2 dengan bahasa Melayu yang yaaaa gitu deh. Ada fotografer, helper, asisten desainer, manajer artis, dan jurnalis Malaysia yang banyaaaaak. Ada errrr, 20-an orang gitu lah, tumplek blek di kamar. Belum lagi, jurnalis asal Indonesia. Banyaaaak. Sumuk pol.

Tapi, herannya si BCL dan Reza tampangnya tetap excited, fresh dan happy happy joy. KOK ISO YO? Aku sungguh takjub lah, dengan daya tahan mereka. Bisa mengatur emosi sehingga tetep hepi, walopun kondisi engga mendukung sama sekali.

Abis pemotretan (dengan gaya mereka yang chemistry-nya dapeeet banget!) BCL di-interview sama beberapa media. Reza mana? Reza mana? *mataku jelalatan*

Oh, doi masih di kamar sebelah. Trus, Reza keluar kamar, mau janjian bikin Vlog sama orang radio, daaaan…. this is my only chance, sodara-sodaraaaaa. NOW or Never!

Aku ngebuntutin Reza…. Trus minta tolong orang Falcons Pictures untuk memfoto aku dan dia… Maklum, sini kagak bawa tongsis, broo!

Si Reza ini kelewat ramaaaah banget sama orang2 yang minta poto bareng dia. Yeah, you know lah, langsung dirangkul gitu. Aku mulai didera galau. Ntar kalo dia mak bedunduk langsung ngerangkul, duh, aku harus mandi pasir dan kembang 7 hari 7 malam donggg *gubraksss*

Walhasil, aku minta poto dengan bahasa tubuh ala gadis-gadis pesantren, yang seolah memberi kode lewat gestur bodi, dengan terjemahan kurang lebih, “Dek Reza. Kak @nurulrahma mau minta poto bareng, boleh? Tapi, kakak udah punya wudhu. Lagian, kakak kan pake hijab ya Dek. Jadi, mohon pengertiannya, karena kita bukan mahram, potonya jauh-jauhan aja ya. Hihihi.” 

Tadaaaaa…! Here’s our pic!

IMG_1395

Hahahahahah. Maap yaaa, ternyata fotonya kok yaaaaa… agak-agak engga sedap dipandang mata getoooh. Abisss, aku grogi kakaaaak….! Grogi bingitttsss! Ibaratnya, kayak ABG yang udah stalking senior bertahun-tahun, trus pas pensi/malam perpisahan ketemu ama tuh senior idola, dan minta poto bareng getoh. Ya ampuuun, grogi to the max!

Ya wis. Setelah poto bareng, sebenernya aku pengin bikin Vlog wawancara ama Reza. Tapi, tapi, tapiii, kok aku gemeteran yak? Duuuh *najis, ih, cuih!* ini kok seperti bukan @nurulrahma yang aku kenal*

Akhirnya, naluri emak-emakku muncul. Terciptalah video yang embuh-lah ini. Aku minta Reza untuk memotivasi anak-anak supaya semangat mengejar impian mereka, termasuk dengan jadi aktor. Hahahaha, kacrut abis dah. Mana kameranya goyang-goyang, nge-blur…. ya ampuuun, plis deh, emaknya Sidqi. Inget umur, maaaak! 🙂

Wis, yang penting aku punya poto ama dedek Reza Rahadian. Gpp lah, next time, kalo premiere “Rudy Habibie” di Jerman, insyaAllah aku bakal datang (amiiiiin) Optimis boleh lah yaaa, hihihi.

Ayooo ayooo, kakak Hanung Bramantyo, mungkin mau ajak emaknya Sidqi buat lihat “Rudy Habibie”? 🙂

Tujuh Hal Penting tentang Menginap di Rumah Saudara

Tujuh Hal Penting tentang Menginap di Rumah Saudara

Eaaaaa…! Judulnya udah  ala-ala postingan viral bluuum? Qiqiqiq. Kalau musim libur tiba, Sidqi itu selalu selalu selaluuuuu pengin dolan ke rumah sodara di luar kota. Yang paling sering sih, ke Pacitan, karena lokasinya masih di wilayah Jatim, walopun kudu menempuh perjalanan 8-9 jam *kretekin pinggang*

Atau, sebaliknya, doi juga mupeng ada sodara (dari luar kota) yang nginep di rumah kami. Gak tau, nih bocah emang punya “ikatan batin entahlah” gitu deh, dengan para sodara. Walopun baru ketemu pertama kali, rasanya doi udah ‘klik’ dan bisa have fun bareng sodara-sodaranya.

Biar liburan di rumah sodara berjalan dengan asik dan menyenangkan, ada beberapa hal yang bisa jadi panduan buat kita.

  1. Kalau mau nginep di rumah sodara, pastikan memang tersedia ruang tidur tamu khusus.

A: “Eh, sist… Aku besok nginep di rumah kamu yah.”

B: “Errrr… berapa orang?”

A: “Empat orang aja kok. Aku, suamik, anak dan ibuku. Gak usah repot-repot nyediain apa-apa. Wis tha, pokoke, woles ajah.”

B: Ennggg… nganuuu….

A: Udaaaah, gak usah repot-repot loh ya.

B: *garuk-garuk aspal* sambil ngebatin “Masalahnyaaaaa rumahku itu tipe Rumah Sangat Sempit Sekali Sampai Susah Selonjoran RSSSSSS. Trus looo mau aku taruh di mana?”

Wiks. Jangan sampe ya. Kadang saking pedenya dengan kondisi sodara kita, kita langsung mai capcusss ajah. Yeah, niat ngirit budget trip dengan cara nginep di rumah sodara. Padahal, rumah doi tipe 4L alias Lo Lagi Lo Lagi.

Sebaiknya nih, kalo emang diniatin mau nginep di sono, better nanya-nanya dulu dengan sodara yang lain (yang tahu persis kondisi si B). Soale enggak semua orang siap buat menerima tamu bermalam. Kudu disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

  1. Jangan lupa bawa oleh-oleh

Udah yakin kalo rumah sodara kita siap menampung tamu buat nginep? Ya sud. Silakan siap-siap ke sono, daaaan bawa oleh-oleh (kalau bisa) yang khas daerah kita.

Ini sebagai tali asih dan wujud persaudaraan aja sih. Pokoke, jangan mentang-mentang gretong, trus datang tanpa bawa tentengan apapun, geto.

  1. Lebih asyik kalau sodara kita juga hobi traveling, jadi bisa ngajakin kita keluyuran keliling kota dengan suka-suka

Tidak semua orang suka traveling. Jadi kalo emang kita nawaitu pengin mengeksplor suatu kota, alangkah asyiknya kalo kita stay di rumah sodara yang traveling-addict. Pas ke Bandung, saya nginep di rumah adik ipar, yang seluruh elemen keluarganya sangat sangat cintaaaa halan-halan. Udah gitu, doi punya dua mobil (plus driver) yang siap anter kita jelajah Bandung dan sekitarnya! Wuaaah, rejeki nomploook ini mah.

 

  1. Jangan mau gratisan melulu! Masuk ke tempat wisata (plus makannya) kalo bisa kita yang bayar ya

Kecuali, kalo sodara kita itu tajiiir melintiiirrr kaya tujuh turunan tujuh tanjakan, dan doi maksa buat jadi “tuan rumah yang baik” dengan menyediakan semua keperluan kita. Ya sud, mau gimana lagi, ya tho? Hihihi. Tapiii, kalo bisa sih, atas nama ‘sopan santun’ dan ‘tahu diri’ jangan lambreta kalo urusan bayar-membayar tagihan. Jangan ‘pura-pura enggak ngerti’ kalo udah waktunya bayar ya, gaes :)).

  1. JANGAN BAWEL bin REWEL! Attitude juga kudu dijaga yah.

Saya enggak sepakat dengan ungkapan “Tamu adalah Raja” (eh, ada nggak sih, ungkapan ini? Huehehehe). Soale, tamu kan juga manusia. Ya sud, berperilakulah sebagaimana manusia biasa, enggak usah minta disanjung dan diperlakukan sedemikian rupa. Kalo lagi pengin air panas buat mandi, segera masuk dapur dan cuss masak air sendiri. Habis makan, piring kotornya langsung cuci sendiri. Baju, kalo bisa sih, dicuci pisah dari cucian sodara kita. Kecualiiiiii… ada ART yang emang boleh kita “kasih beban tambahan” dan jangan lupa, kudu ada “insentif” yang kita siapkan untuk ART itu.

Intinya, kalo bisa sih, jangan sampe jadi tamu yang ngerepotin. Kondisi kamar tidak sesuai keinginan kita? Kamar mandinya lumutan? Ya udin, nggak usah protes! Kalo bisa sih, kita justru bantu-bantu bersihin rumah sodara. Itung-itung gantinya “ongkos nginep” lah. Qiqiqiqi.

6. Waktunya Transfer Karakter!

Selalu ada hal baik dari sodara yang kita inepin kan? Kayak sodara saya di Pacitan, masih duduk di bangku SD, tapi rajiiiin banget melakukan semua kerjaan rumah tangga, such as: masak, nyapu, termasuk ngasih makan ayam peliharaan mereka. Udah gitu, kedua ponakan saya ini penghafal Qur’an dan sangat jaraaaang nonton TV, apalagi nyandu gadget! Nah, ini niiih, kesempatan berlian (bukan sekedar emas) buat ngasih transfer karakter positif ke Sidqi. 

Begitu juga dengan adik ipar yang di Bandung. Om Wawan ini dosen ITB. Pinter khan maeeen. Tapi, doi tetep asik, enggak kaku, suka halan-halan, sopan, rajin menabung, tidak sombong. Sidqi diajakin buat main ke ITB, eh… siapa tahu, doi tetiba minat jadi scientist gitu, yang bisa melahirkan penemuan penuh manfaat dan maslahat bagi bangsa dan negara ini *amiiiin. 

  1. ENJOY! ENJOY!

Nikmatnya nginep di rumah sodara itu, karena kita bisa chit-chat ALLLL DAY LOOOONG.  Mau ngobrol jam berapapun, hajar bleh aja dah.

Jadiiii, mau nginep di rumah siapa, pas liburan panjang entaaaar? Hihihi.(*)

 

Sulitnya Move On dari Hotel ATRIA Malang

Bulan Maret ada dua tanggal merah loh! Rabu, 9 Maret dan Jumat, 25 Maret. Surat cuti, mana surat cuti? 😛

Naaaah, langsung gemesss kan, pengin cabut, lari dari rutinitas, trus, liburan ke destinasi yang ngeheits dah. Buat warga Jawa Timur, tentu liburan ke Malang adalah agenda yang sulit banget diabaikan.

Malang, Batu dan sekitarnya punya buanyaaak seabrek-abrek lokasi  yang bisa dijadikan  jujugan.  Pertanyaannya adalah… nginep di mana kitaaah?

Continue reading “Sulitnya Move On dari Hotel ATRIA Malang”

Belum Pernah Berkunjung ke House of Sampoerna?

“Habis gini, belok kemana mbak?”

“Luruuuuusss aja dulu…. Pokoke, setelah kantor DPRD Jatim, luruuusss masih jauh…”

“Trus, belok ke mana?”

“Sik, siiiik. Kamu belum pernah ke House of Sampoerna (HoS) tho Mas?”

“Belum.”

“Gubraaakkkss!! Ya ampyuuun, padahal ini kan destinasi wisata utama Surabaya masssss… Orang2 bule dari seluruh penjuru dunia, kalo ke Suroboyo, jujugan pertama pasti ke HoS! Kok malah dirimu belum pernah siiih?” 

“Hihihiiiii….”

Waah waaah… ternyata, banyak sahabatku di kantor yang masuk khalayak #KurangPiknik!

Hihihi. Lebih tepatnya, kurang eksplorasi kota sendiri. Mereka tuh, udah stay di Surabaya selama beberapa tahun, tapi kok yaaa… belum pernah nangkring di HoS yang ketjeh badai itu 🙂

Saya sih, udah sering nongkrong di HoS. Secaraaa, dulu kan saya jadi public relations di pabrik rokok ntuh. Dan, di era itu, yang namanya hotel dan spot kafe/resto yang representatif di Surabaya, IMHO, jumlahnya masih belum terlalu banyak yah. Tentu saja, eksistensi HoS laksana oase di belantara gedung-gedung/spot kuliner di kotaku tercinta ini.

NH__5448

Buat yang belum tahu yah, HoS ini ada kafe dan juga ada museumnya. Kalo mau masuk ke museum, langsung cuss aja, GRATIS 🙂

Daaan, jangan bayangkan museum itu identik dengan koleksi kuno, berdebu dan ngebosenin akut. Di HoS, kita bakal disuguhkan aneka benda yang related dengan sejarah perjuangan bapak pendiri sampoerna. Siapa namanya? Googling pliss. Hihihi 🙂

NH__5417

Okeh, saya juga barusan googling 😀

Zaman masih jadi corporate slave di Sampoerna sih, kita udah di-briefing habis-habisan tentang siapa dan bagaimana filosofi pendirinya. Sekarang sih, udah lupa hihihi.

Nama pendiri pabrik rokok ini: Liem Seeng Tee. Tuh, ada foto doi ama sang belahan jiwa.

Banyak LEMARI kece yang bertengger di sini. Serba klasik. Keren!

NH__5418

NH__5419

NH__5422

Pas kami berkunjung di sini, beberapa bule juga kelihatan antusias dan amazed banget dengan segala koleksi yang tertata rapih di mari.

Yang lebih asyik lagi, HoS meng-hire sejumlah guide. Dengan cekatan plus kemampuan bahasa Inggris washhh-weshhh-wossshhh, guide itu sigap memberikan panduan kepada para bule.

NH__5424

NH__5425

NH__5426

NH__5432

***

Menginjakkan kaki lagi di HoS membuat saya terlempar ke memori 10 tahun silam. WHAT? Iyah nggak kerasa. Ternyata saya mengais rupiah di Sampoerna itu, udah tahun 2005. Pantesan, saya kok ngerasa kangen dan ada memori yang bertalu-talu di sudut hati, hahaha.

Padahal, duluuu… kalo mau bikin event di mari, saya yang bawaannya, “Hadeeeh, jauh amat?” Ya kan kantor (dan rumah) saya lokasinya di Rungkut, sementara HoS ini terletak di kawasan deket Jembatan Merah sono noh, udah masuk Surabaya Utara. Jadinya, jauuuh banget kan.

Tapi, demi melihat senyum para jurnalis yang demikian bersemangat menempuh perjalanan menuju HoS, membelah macetnya jalanan Surabaya, mengenyahkan rasa malas yang menerpa demi ketemu saya mengikuti press conference bareng para artis, oh well…. tiba-tiba rasa malas itu menguap begitu saja.

Dan sekarang, saya bisa melihat senyum mereka. Yang merekah begitu bungah.

Para wartawan entertainment, dulu sering nongkrong di sini, saban ada konser musik… Wartawan olahraga, wartawan ekonomi bisnis… oh well, MEMORY IS A WONDERFUL THING, IF YOU DON’T HAVE TO DEAL WITH THE PAST 🙂

Baiklah, segini dulu aja deh rendezvous-nya. Kita belum sempat eksplor secara maksimal, karena kemarin emang mendadak dan terburu-buru banget.

Akhirnyaaaaa… ada satu temen kantor yang dapat “pencerahan”: sudah menginjakkan kaki di House of Sampoerna. Next time, mau ngajak yang lain juga aaah. Kayaknya asik deh, kalo bikin kumpul-kumpul hore di mari 🙂

House of Sampoerna (HoS)
Alamat: Taman Sampoerna No.6, Jawa Timur 60163
Jam buka · 09.00–22.00
Sebaiknya datang SEBELUM jam 13:00 yah. Karena kita bisa ngeliat aktivitas para pelinting rokok dari lantai 2 museum HoS

Semua foto di-capture oleh bapaknya Ibad yang baik hati dan tidak sombong