Uncategorized

Tersengat Semangat Menjadi “The Next Martha Tilaar”

Tulisan ini Alhamdulillah diapresiasi sebagai Juara 1 Lomba Menulis Blog Martha Tilaar 2013. Artikel terkait di sini

Gadis cilik itu terhenyak sejenak. Vonis dokter terapis di sekolahnya sempat membuat semangatnya mengendur. Beberapa detik lalu, ia mendengar tudingan yang dialamatkan padanya, “Kamu termasuk anak slow learner atau lambat belajar.”

Ia tertunduk. Sempat diliputi kegalauan. Namun, itu tak berlangsung lama. Karena orang tuanya mengangkat dagu si gadis cilik, dan berujar mantap, “Marta sayang, Kita jangan percaya pada apa yang dikatakan para terapis itu ya nak. Kamu itu anak hebat, nak mama yakin itu. Nah sekarang mari kita fokus menemukan apa kehebatan kamu itu Nak.”

Tidak perlu nasihat berjam-jam untuk membuat Marta kembali bangkit. Bahu membahu dengan orang tuanya, Marta berhasil menemukan apa passion-nya. Marta punya ketertarikan yang amat besar di dunia kecantikan dan tata rias. Saat itu orang tuanya bertanya “Marta sayang, apa yang menjadi MIMPI BESARMU di dunia kecantikan”.

Lalu Marta kecil menjawab, “Aku ingin menjadikan wanita-wanita Indonesia Cantik Alami dimata dunia, mama.”

Bahu-membahu, orangtua dan seluruh saudara Marta men-support apa yang diimpikan gadis cilik ini. Mereka rela menjual hampir seluruh perabot rumah tangga, supaya Martha bisa menggapai asa yang ia bentangkan di antara bintang. Perjuangan mereka berbuah manis. Martha, si gadis cilik yang sempat divonis slow learner itu, tumbuh menjadi wanita dengan pencapaian spektakuler. Martha, perempuan yang sempat dipandang sebelah mata itu, kini menjelma menjadi sosok wanita inspiratif, yang senantiasa melecutkan semangat berkarya dan berprestasi bagi jutaan wanita di republik ini. Ya, dialah : Martha Tilaar.

***

Mengikuti perjalanan hidup ibu Martha, membuat saya merasa kian optimistis dengan keberadaan saya dan perempuan lain di negeri ini. Perempuan Indonesia harus menjelma menjadi insan yang mandiri dan berkarakter tangguh. Tak ada ceritanya, sebuah kemenangan yang diperuntukkan bagi mereka yang lemah dan hobi berkeluh kesah. Persis seperti yang disampaikan Raden Ajeng Kartini, “Barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang, itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani! Pemberani pemberani memenangkan tiga perempat dunia!”

Inilah value pertama yang ditancapkan oleh Young Caring Professional Awards. Ajang pemilihan perempuan berprestasi yang dipersembahkan Caring Colours (Martha Tilaar Group) ini memang selalu men-challenge para perempuan untuk menjadi sosok yang lebih baik dari hari ke hari. Kita juga bisa menjadi professional career-woman yang memberikan kontribusi optimal bagi sesama dan lingkungan di sekitar kita. Tunjukkan prestasi kerja terbaikmu! Niscaya dunia akan berada di tanganmu, dan kamu pun bisa menjadi pahlawan dengan caramu sendiri.

Selalu saya dibuat berdecak kagum dan terpana demi menyaksikan profil para pemenang Young Caring Professional Award (YCPA). Mereka sanggup menepis ragu, melampaui segala rintangan, badai dan aral yang melintang, menapaki jalan terjal, untuk menggapai satu semangat: Bahwa Perempuan BISA. Passion untuk berkiprah di bidang masing-masing, telah menjadikan mereka insan terbaik di bidangnya masing-masing. Bahwa kendala ekonomi, keterbatasan keluarga, ditipu sana-sini, sama sekali tidak menghalangi semangat yang membara dalam dada untuk mengarungi samudera karir.

Lihatlah para pemenang YCPA. Pradita Astarina (YCPA 2011), misalnya. Usianya masih sangat belia. Namun, ia sanggup membuktikan, bahwa age is nothing but number. Ia rengkuh semua peluang, hingga menjadi Analis di Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan/UKP4. Ia tumbuh di tengah keluarga ekonomi menengah. Toh, ini justru membuatnya semakin haus pengalaman dan tantangan baru. “Setiap hari saya melihat orangtua saya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kami. Kenyataan seperti ini yang memacu saya untuk menjadi seorang pekerja keras,” ujar perempuan yang lulus dengan predikat summa cumlaude ini. “Saya selalu mencari tantangan baru yang bisa membuat kemampuan yang saya miliki bisa terus berkembang. Dan saat ini saya mendedikasikan hidup saya di UKP4 sebagai Analis, yang terpenting buat saya adalah tidak akan pernah ada kata ‘selesai’ dalam belajar,” tambah Pradita, yang mendapat kehormatan untuk mewakili UKP4 untuk menghadiri Konferensi BNP Paribas ASEAN yang diselenggarakan di Singapura.

Sosok inspiratif lainnya adalah Cindy Sally Edina (YCPA 2011). Memiliki karir yang moncer di sebuah perusahaan advertising, rupanya tidak memadamkan passion Cindy di bidang seni lukis. Cindy merasa ada kekosongan dalam dirinya, dan ingin ia isi dengan passion yang selama ini dilupakannya, yaitu menjadi pelukis. Ia rela keluar dari zona nyaman, lalu memilih untuk mulai dari nol.

Semangat “follow your passion and do your best!” adalah mantra yang ditularkan YCPA dan Caring Colours pada seluruh perempuan di Indonesia. Seperti yang saya kutip di website YCPA, “jalan menuju kesuksesan itu panjang dan melelahkan. Karena itu, kita harus memperjuangkannya sekuat tenaga. Jika niat kita sudah kuat, tekad sudah bulat, jalan pun akan terbuka lebar. Dengan demikian, proses menuju sukses pun akan lebih mudah, terutama bila kita menikmatinya.”

Value yang diusung oleh YCPA-Caring Colours ini, menjadikan saya dan jutaan wanita professional lainnya kian bersemangat untuk mengoptimalkan pencapaian karir. Ya! YCPA-Caring Colours telah menyuntikkan motivasi bagi kami. Betapa untuk meraih gelimang sukses, kita memang harus total dalam berkarya. Tak perlu iri melihat kesuksesan orang lain; justru jadikan semua itu sebagai inspirasi.

Lebih gembira lagi, melihat kiprah YCPA-Caring Colours yang sukses memetakan potensi perempuan Indonesia. Kami bisa menjalin komunitas serta memperluas jaringan (networking) bagi para wanita professional. Dengan tahu potensi, prestasi, dan kreativitas masing-masing, kita dapat sharing, bertukar cerita dan saling bersinergi, untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Saya belajar banyak dari website, beragam event, maupun materi promo yang dikemas dengan sangat cantik dan elegan oleh Caring Colours. Sebuah brand yang “berjiwa” dan sebagai merek asli Indonesia dengan diferensiasi luar biasa, Caring Colours akan menjelma menjadi  brand kosmetika lokal yang merajai dunia internasional. Caring Colours mengajarkan bahwa kita harus cantik seutuhnya. Cantik di luar, juga cantik di dalam. Kita bisa menjadi “Martha Tilaar-Martha Tilaar” generasi berikutnya. Impossible means I’m Possible! Sebagai Saya selalu tersengat semangat, setiap bersentuhan dengan YCPA dan Caring Colours! Thanks loot!(*)

Sumber:

http://ayahkita.blogspot.com/2013/05/anak-yang-dinyatakan-lambat-belajar.html

http://www.ycpa-info.com/ycpaweb/we-will-miss-you-cindy/

http://www.fimela.com/read/2013/03/19/survei-membuktikan-perempuan-indonesia-paling-sukses-di-karier-dan-rumah-tangga?page=0,1

http://female.kompas.com/read/2011/06/11/1913335/9.Perempuan.Inspiratif.dengan.Inner.Beauty.

http://www.fimela.com/read/2012/04/16/cerita-perempuan-sukses-tidak-ada-halangan-untuk-bisa-maju?page=0,1

Uncategorized

Internet itu Hamba; Kita Tuannya

Lumayan ngeri kalau mengikuti perkembangan berita soal  internet belakangan ini. Yang cewek kabur diculik temen facebook-lah, yang stress berat setelah di-bully di twitter-lah, banyaaak. Nyaris seluruh masyarakat Indonesia juga diterpa fenomena “penggalauan”. Tak hanya ABG tanggung, mamah muda sampai eyang tua, juga didera rasa yang sama. Kalau ditanya siapa penyebabnya, langsung main tuding tanpa aling-aling: Internet.

Hmm. Seperti yang sering dibicarakan para pakar dan pengamat IT, internet itu bagaikan pisau. Yeah, sebagaimana pisau, ada sisi, kebaikan plus keburukan. Di tangan chef-chef ganteng Masterchef, pisau bisa mereka pakai untuk meramu, mengkreasikan dan pada akhirnya menghidangkan masakan nan mak nyus. *humphf! Buru-buru lap iler* Tapi, di tangan para penjahat, bromocorah, mafia, dan sebagainya, pisau sangat bisa dijadikan sarana efektif untuk menghabisi nyawa target.

So, internet juga begitu. Ada plus, ada minus. Internet itu hanya hamba. Kita-lah tuannya. Kita yang punya peran sangat signifikan, untuk menentukan apakah si hamba bakal bermanfaat untuk tuan, atau justru tuan yang terperosok dalam adiktif amat sangat, dan pada akhirnya menghambakan si hamba.

Nah. Bagaimana dengan anak-anak kita? Bocah-bocah mungil tanpa dosa, yang dilengkapi software keingintahuan dipadu keluguan? Apa kita bisa memberikan “plus”-nya internet buat hidup anak kita?

Tentu! Hanya saja, sebagai orangtua, kita memang harus ekstra hati-hati (bukan paranoid) supaya anak tidak salah langkah dalam bergaul di dunia mobile internet ini.

Anak saya, Sidqi (6,5 tahun) juga sempat membuat saya keliyengan gara-gara internet. Jadi, awal tahun ini, saya menjuarai salah satu kompetisi ibu-ibu di Jakarta. Salah satu hadiahnya, smartphone Samsung Ace Galaxy. Lantaran selama ini hanya bersahabat akrab dengan Nokia jadul, sudah tentu saya senang bukan main. Hari-hari saya habiskan untuk ngutak-ngatik si smartphone ini. Termasuk install beragam program di Google Playstore. Dan, tentu ini berimbas pada anak saya. Dia mulai request bermacam game. Mulai Angry Bird, BMX Race, Ben 10, macam-macam. Daaan, atas nama cinta, saya loloskan SEMUA permintaan dia.

Tragedi dimulai dari sini.

Euforia smartphone baru membuat anak saya menjelma jadi Sidqi yang sama sekali tidak saya kenal sebelumnya.

Yang paling kentara adalah sapaan Sidqi tatkala saya baru pulang kantor. Dulu, Sidqi selalu berceloteh riang, “Ibuuu… asyiik… ibu udah pulang….”

Nah. Begitu saya punya smartphone, sapaan dia adalah, “Ibu. Hari ini download game apa?”

*glek*

HP langsung berpindah tangan. Dan, saya tak lebih dari sekedar “kurir smartphone yang hanya dinantikan keberadaan HP-nya”. Sungguh hina.

Yang agak telat saya sadari adalah, Sidqi menjadi sangat mudah marah setelah rutin nge-game via smartphone. Oh, no! Buru-buru saya coba cek games yang sudah pernah saya download. Ah, ternyata ini games yang memang adiktif banget! Sekali main, selalu ingin coba, coba dan coba terus! Apalagi, kalau kita meleset dikiiit aja, rasanya nyesel dan pengin marah. Astaghfirullah! Pantesan anak saya jadi gampang naik darah. Wong ternyata, emaknya yang membawa games ‘keras’ ini ke rumah.

Setelah tersadar, saya langsung banting setir. Saya bikin aturan yang tidak populer: Sidqi baru boleh main games kalau dia melakukan “prestasi” tertentu. Misal, sudah sholat full 5 waktu sehari-semalam. Atau, makan sendiri. Atau, mandi sendiri. Atau, sudah menambah hafalan surat pendek. Itupun saya jatah: maksimal 1 jam/hari/prestasi.

Dan, yang tidak kalah penting, saya mulai seleksi games apa saja yang boleh dimainkan anak seumuran dia. Yak, sebelum kasih kesempatan gaming, kita harus tahu apa materi game yang disodorkan.

Apa reaksi dia? Tentu saja awalnya Sidqi protes habis-habisan. Tapi, saya tak kurang akal. Selama asyik nge-game, Sidqi jadi kurang sosialisasi. Waduh. Ini cukup gawat. Saya tidak mau ia tumbuh menjadi anak yang egosentris. Walhasil, saya giring Sidqi buat bergaul dengan anak-anak tetangga di sekitar kompleks rumah kami.

No (too much) game, make friends!

Pfff… ternyata beginilah kerempongan menjadi orangtua di era yang serba mobile-internet. Selalu ada pelajaran yang bisa kita petik. Bahwa mencintai anak, bukan berarti memberikan semua yang ia mau. Justru kitalah, para orangtua yang kudu mensortir, apa saja yang boleh dan tidak boleh dimainkan oleh anak. Percayalah, mungkin agak berat di awal, tapi insyaAllah, selama kita yakin mempersembahkan yang terbaik untuk anak, maka Allah akan mempermudah jalan dan usaha kita.

O iya, saya bersama teman illustrator Melaty bikin majalah anak-anak yang mengedukasi supaya anak kita tidak kecanduan games. Majalah ini bisa dibaca anak-anak se-Indonesia, plus bisa jadi sarana ortu dalam menggulirkan saran buat sang buah hati. (*)

ImageImage

medis, sehat

Keajaiban Puasa

Selama sebulan puasa selama Ramadhan, umat Islam jalani runititas sahur, menahan diri dari makan, minum & seks, serta amalan ibadah. Penelitian menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Subhanallah, puasa Ramadhan terbukti bermanfaat untuk membentuk struktur otak baru dan merelaksasi sistem saraf.

Otak merekam kegiatan yang dilakukan secara simultan. Begitu juga dengan aktivitas puasa. Selama satu bulan, tubuh diajak menjalani rutinitas sahur, menahan diri dari makan, minum, dan seks, kemudian berbuka di petang hari serta menjalankan ibadah Ramadan lainnya.

Berpuasa menjadi bagian dari perintah agama. Sementara itu agama dan spiritualitas merupakan bentuk perilaku manusia yang dikontrol otak. Ketua Centre for Neuroscience, Health, and Spirituality (C-NET) Doktor Taufiq Pasiak mengatakan bahwa puasa menjadi latihan mental yang berkaitan dengan sifat otak, yakni neuroplastisitas. “Sel-sel otak dapat mengalami regenerasi dan membentuk hubungan struktural yang baru, salah satunya karena latihan mental yang terus-menerus,” kata Taufik.

Bahasa awamnya, kata dia, apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah. Waktu yang dibutuhkan untuk mengubah sel saraf itu minimal 21 hari. Menurut Taufik, puasa adalah latihan mental yang menggunakan perantara latihan menahan kebutuhan fisik (makan, minum, seks).

    …Apabila seseorang melakukan perbuatan baik secara terus-menerus, struktur otaknya akan berubah…

Selain membentuk struktur otak baru, Taufik menjelaskan bahwa puasa merelaksasi sistem saraf, terutama otak. Tetapi ada perbedaan mendasar antara relaksasi sistem pencernaan dan sistem saraf. Selama puasa, sistem pencernaan benar-benar beristirahat selama sekitar 14 jam, sementara di dalam otak orang yang berpuasa justru terjadi pengelolaan informasi yang banyak.

Contohnya, kata dia, otak dapat mengingat dengan baik di saat tenang dan rileks. Ketika tidur, biasanya orang bermimpi. Kenapa? Karena di waktu ini otak hanya menerima dan mengelola informasi yang berasal dari dalam dirinya. Di dalam Al-Quran, menurut Taufik, ada istilah an-nafsul-muthmainah (jiwa yang tenang) karena memang dalam suasana tenang orang dapat berpikir dengan baik dan memiliki kepekaan hati yang tajam. “Ketenangan membuat kita tidak reaktif menghadapi permasalahan,” katanya.

Luqman Al-Hakim pernah menasihati anaknya, “Wahai anakku, apabila perut dipenuhi makanan, maka gelaplah pikiran, bisulah lidah dari menuturkan hikmah (kebijaksanaan), dan malaslah segala anggota badan untuk beribadah.

”Otak terdiri atas triliunan sel yang terhubung satu dengan lainnya. Di dalamnya bisa disimpan 1 miliar bit memori atau ingatan. Ini sama dengan informasi dari 500 set ensiklopedia lengkap.

Di dalam otak, ada sel yang disebut sebagai neuroglial cells. Fungsinya sebagai pembersih otak. Saat berpuasa, sel-sel neuron yang mati atau sakit akan ‘dimakan’ oleh sel-sel neuroglial ini. Fisikawan Albert Einstein dikenal sebagai orang yang suka berpuasa. Ketika mendonasikan tubuhnya, para ilmuwan menemukan sel-sel neuroglial di dalam otak Einstein 73 persen lebih banyak ketimbang orang kebanyakan.

    ….Penelitian Universitas Harvard, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak…

Sebuah penelitian yang dilakukan John Rately, seorang psikiater dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori meningkatkan kinerja otak. Dengan alat functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), Rately memantau kondisi otak mereka yang berpuasa dan yang tidak. Hasilnya, orang yang shaum memiliki aktivitas motor korteks yang meningkat secara konsisten dan signifikan.

Taufik mengatakan bahwa puasa adalah salah satu bentuk tazkiyatun nafs (menumbuhkan nafsu) dan tarbiyatun iradah (mendidik kehendak). Karena itu, sejak niat puasa, perilaku selama berpuasa dan ritual-ritualnya berada dalam konteks memperbaiki nafsu, menumbuhkan, kemudian mengelola kemauan-kemauan manusia.(*)

Uncategorized

Jadilah “Kepala Cicak”, Jangan Jadi “Ekor Buaya”

H. Siswanto

Owner BISMAR Group

Seulas senyum nan tulus tak pernah lepas menghiasi wajahnya. Dengan penuh semangat, pria kelahiran Banyuwangi itu selalu menyapa orang-orang yang berada di sekitarnya. Tak sedikitpun tampak raut muka lelah. Aura positif senantiasa memancar dari nada bicara dan gerak tubuhnya yang begitu lincah. Inilah sosok H. Siswanto. Di balik postur tubuhnya yang mungil, siapa sangka, pria berusia 35 tahun ini telah membawahi sejumlah ladang usaha dengan 200-an karyawan. Bisnisnya bervariasi, mulai dari komputer, properti, rental mobil, laundry, perkebunan sengon & jati, serta  beragam bisnis lainnya. Semua lini usaha itu berada di bawah payung perusahaan BISMAR Group. Apa yang menginspirasi sosok Siswanto? Bagaimana ia membangun imperium bisnisnya? Berikut perbincangan NH dengan salah satu kandidat peraih Pro Poor Award, saat penjurian di Hall An Nuur, NH Surabaya beberapa waktu lalu.

Di usia 35 tahun, Anda sudah punya bisnis yang menggurita. Karyawan ratusan. Apa background Anda selama ini?

Saya berasal dari keluarga buruh tani di desa Banyuwangi. Kedua orangtua saya buta huruf. Kehidupan keluarga kami sangat memprihatinkan. Kendati demikian, orangtua masih bisa menyekolahkan saya di sebuah SMK di Banyuwangi. Setelah lulus, sayapun bertekad untuk mengubah nasib dengan hijrah ke Surabaya. Waktu itu, bekal saya nol, benar-benar bondho nekat. Saya diterima bekerja sebagai teknisi di sebuah toko alat elektronik di Plaza Surabaya. Suatu ketika, ada seorang ustadz yang berkata kepada saya, ”Jadilah Kepala Cicak, Jangan Jadi Ekor Buaya.” Maksud beliau, selama ini, saya bekerja sebagai karyawan di perusahaan milik orang lain. Walaupun saat itu, posisi saya terus menanjak naik, hingga dipercaya sebagai Kepala teknisi, toh, status saya adalah karyawan. Terus terang, kalimat itu begitu menggelitik benak saya.

Lalu, Anda memutuskan berwirausaha dengan semangat “Menjadi Kepala Cicak”?

Ya. Tahun 2000, saya buka usaha kecil-kecilan. Ya itu tadi, betul-betul modal dengkul. Saya melihat peluang di bidang reparasi komputer. Karena saya lihat, semua orang pakai komputer, tapi berapa banyak yang bisa menservis? Bisnis ini makin berkembang. Kemudian, saya buka lini bisnis lain, mulai dari persewaan mobil, laundry, dan bisnis lainnya. Dari ini, saya terpanggil untuk berbuat ‘lebih’. Saya mengajak beberapa anak yatim atau dhuafa untuk ikut training di Bismar Group. Kami beri mereka pelatihan di bidang reparasi komputer dan pendidikan teknis sesuai dengan bisnis yang ada. Semuanya Gratis, bahkan saya menyediakan asrama untuk mereka tinggal. 

Apa yang mendasari Anda sampai tergerak mendidik mereka?

Saya lahir dan besar dalam kondisi ekonomi serba kekurangan. Tapi saya punya semangat untuk berubah dan menjadikan hidup ke arah lebih baik. Kita semua tahu, potensi generasi muda kita itu sebernarnya amat membanggakan. Hanya saja, kadang mereka tidak mendapatkan peluang. Nah, saya ajak mereka untuk sama-sama mencari peluang itu. Syaratnya, tentu saja, punya kemauan dan semangat kerja yang keras, disiplin, dan yang tak kalah penting harus ikut aturan Islam secara strict. Di asrama tempat mereka tinggal, saya memberlakukan aturan yang amat ketat. Bangun jam 4 pagi harus sholat shubuh berjamaah, kemudian ada jadwal yang harus selalu mereka patuhi. Saya tidak ingin, mereka mudah menyerah hanya karena alasan malas.

Kalau semua biaya serba digratiskan, apakah ini tidak membuat peserta pelatihan di tempat Bapak jadi ‘terbiasa enak’ dan akhirnya tidak berkembang?

Pola ini sudah saya antisipasi sejak awal. Setelah lulus pelatihan, mereka saya wajibkan untuk kuliah dan kerja. Jadi, kalau pagi sampai sore mereka bekerja, malamnya kuliah. Karena statusnya sudah ‘bekerja’, otomatis dia dapat gaji kan? Nah, saya ajak mereka untuk mengatur gaji dengan mengalokasikan sebagian pendapatan sebagai biaya kuliah. Dengan begitu, mereka terbiasa menerapkan pengelolaan finansial secara cerdas. Beberapa anak didik saya Alhamdulillah malah mengikuti jejak saya jadi pengusaha. Sebuah kebanggaan tiada terkira kalau mereka bisa menggapai keberhasilan lebih tinggi.

Anda tidak takut mereka bakal jadi pesaing bisnis Anda?

Prinsip yang selama ini saya anut adalah, “Mereka harus jadi ‘orang’, tak perlu khawatir kalau mereka akan jadi pesaing saya.” InsyaAllah, rezeki tidak akan pernah tertukar. Dan saya selalu terinspirasi dari Sabda Rasul, bahwa “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama.” Inilah yang tengah saya lakukan.

Di balik bisnis yang demikian pesat, siapa sosok yang begitu berharga dalam kehidupan Anda?

Kedua orangtua saya, terutama Ibu! Subhanallah, tentu saya tak akan bisa sejauh ini tanpa doa dan restu beliau berdua. Saya selalu mengalokasikan waktu khusus untuk mengunjungi Ibu saya di desa. Dulu, setiap kali akan ada transaksi penjualan dalam jumlah besar, saya mohon kepada Ibu agar meridhoi usaha yang dilakukan putranya ini. Alhamdulillah, doa orangtua memang luar biasa. Jangan sampai kita berbuat baik pada orang lain, tapi justru dzolim pada orangtua. Naudzubillahi min dzalik.

Anak-anak Anda sudah mulai tertarik untuk mengikuti jejak Anda sebagai pengusaha?

Yang jelas, mereka punya ketertarikan di bidang IT dan komputer. Maklum, lokasi usaha dan rumah saya memang satu kompleks, jadi mereka terbiasa berinteraksi dengan para karyawan. Saya belum membiasakan mereka dengan bisnis. Saat ini, yang saya dan istri lakukan adalah berupaya mendidik generasi yang sholih dan sholihah, serta semaksimal mungkin berbuat kebaikan untuk orang banyak. Semoga ini dicatat sebagai jariyah kami sekeluarga.(*)

Istri: Erna Susiloningrum

Anak: Asfa Rajya Hana Bismarani (kelas 3 SD Al-Hikmah Surabaya)

Daffa Haidar Ashar (kelas 1 SD Al-Hikmah Surabaya)

Moh. Fahri Akbar (umur 2 tahun)

Uncategorized

Teliti Kebenarannya Dulu Dong …!

Selalu terpukau dengan analisa mendalam Pak Iwan. Blogger sejati emang….

Iwan Yuliyanto

makan di toilet


Dua hari yang lalu, saya dikejutkan oleh sebuah berita yang menyesakkan dada di tengah-tengah menikmati bulan Ramadhan ini, yaitu berita dari Detik News (23-07-2013):
Siswa Non Muslim Disuruh Makan di Toilet Karena Ramadhan

Berita ini menukil dari BBCIndonesia.com, yang mengabarkan bahwa para siswa sebuah sekolah dasar di Malaysia diminta untuk tidak makan di kantin selama istirahat siang, memerintahkan siswa non-Muslim makan siang di toilet mandi karena Ramadhan.

Banyak bersliweran di ranah social media yang meneruskan berita ini dengan menertawakan sinis dan tak sedikit yang mencaci maki. Ada juga blogger yang memuat berita tersebut, (untuk menjaga nama baiknya, saya rahasiakan link tulisannya) dan saya telah memberikan komentar di postingannya:


View original post 1,833 more words