Uncategorized

Sepucuk Surat Cinta untuk Mas Sidqi

allianz winner

Alhamdulillah, tulisan ini jadi Juara 2 di Allianz Writing Competition 2014

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, 

Halo, Nak.

Lagi ngapain kamu? Lagi belajar ya? Pinterr… Anak sholih ya harus gitu. Rajin dan semangat belajar. Mainan game sih boleh. Bergaul sama teman juga harus. Tapi, semua itu kudu ada aturan dan batasannya loh ya. Ibuk paling ga seneng kalau kamu maiiiiiin terusss, sampai lupa waktu. Hayoo, kapan hari kamu sampe bolong sholat Asharnya kan, gara-gara keasikan main sama temen-temen di lapangan?

((Upss... ketahuan ibuk))
((Upss… ketahuan ibuk))

Jangan diulangi lagi ya Nak. Tahu sendiri kan, dalam hidup itu kita harus berusaha sekuat mungkin untuk jadi orang yang baik dan bermanfaat. Kudu mandiri. Karena ibuk dan bapak kan nggak selamanya bisa berada terus di samping kamu. Bisa aja tiba-tiba salah satu dari kami harus “pamit” duluan. Dipanggil ke alam kubur.

TANGKUBAN PERAHU

Eh, jangan nangiiis! Ini kejadian loh, sama ibuk. Dulu, tahun 1991, pas ibuk masih kelas 4 SD, bapaknya ibuk (kakekmu) sudah meninggal. Padahal, beliau masih muda. Kelahiran tahun 1947. Hayo, coba dihitung, berapa umur kakekmu pas meninggal? 1991 dikurangi 1947. Ketemunya berapa? 44 kan? Naah, masih muda banget kan?

Itu dia. Belajar dari pengalaman ibuk, kita nggak boleh malas-malasan mempersiapkan masa depan. Harus rajin belajar, berdoa, dan bekerja! Itu saja nggak cukup loh. Ibuk juga kudu mempersiapkan bekal. Supaya kalau terjadi apa-apa pada ibuk, hidup kamu insyaAllah akan baik-baik saja dan terus berjalan.

Maksudnya gimana?

Gini. Tahu kan, kalau ada produk bernama asuransi? Nah. Ibuk udah daftarin kita ikut program asuransi.

Wah, berarti ibuk nggak yakin sama perlindungan dari Allah??

Jangan salah. Justru, perintah soal ini sejalan dengan firman Allah di ayat ke 9 Surat an-Nisa. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”

Jadi, Asuransi itu penting dong?

Penting pake banget! Kita nggak pernah tahu kan, apa yang akan menimpa kita tahun depan, bulan depan, besok, bahkan sepuluh menit sejak ibu bikin surat ini, kita sama sekali have no idea soal apa yang terjadi dan menimpa diri kita.

Tahu nggak, Nak. Ada satu kutipan yang mau ibuk sampaikan buat kamu. Your choices today creates you tomorrow. Pilihan-pilihan yang kita ambil akan menentukan bagaimana jalan hidup kita kelak di masa depan.

Mau masa bodoh dengan kondisi keuangan? Ya siap-siap aja bangkrut. Hidup merana. Menderita. Soalnya, gaji mau segede gaban, mau segede dosa, ya bakal abis gak bersisa kalau kita nggak bijaksana dalam membelanjakannya.

Ibuk sekarang mau cerita soal asuransi ya. Bidiih, kalau kamu lihat iklan asuransi bakal pusing dewe. Soalnya, merek-mereknya banyak banget, Nak. Dan semuanya mengklaim kalau asuransi itu paling oye. Setelah ibuk browsing sana-sini, nanya ke beberapa teman, ketemulah satu asuransi yang cihuy. Yap, asuransi Allianz!

Yay! Kartu Allianz ibuk dan Mas Sidqi
Yay! Kartu Allianz ibuk dan Mas Sidqi

Kamu masih bingung tentang macam-macam asuransi? Oke, ibuk jelasin ya. Santai aja. Sambil dimakan camilannya. Duduk yang anteng, hehehe…

Gini lho. Asuransi itu macam-macam. Pertama, asuransi jiwa. Ini harus dipunyai setiap orang, apalagi kalau masih usia produktif dan punya tanggungan. “You need life insurance if somebody will suffer financially when you die” gitu deh kata om David Woods.

Ayah dan ibuk kamu harus banget punya asuransi jiwa. Kenapa? Ya karena kami kan bertanggungjawab untuk menafkahi, mengasuh dan membesarkan kamu. Jadi, andaikata kami berpulang, insyaAllah akan ada “backbone” alias dana yang tetap bisa kamu manfaatkan.

Mewek saban denger kata "sekolah"
**Mewek** Boys don’t cry, Nak….

Don’t cry, boy. Please don’t cry. Ngomongin kematian memang rentan menimbulkan sedih. Tapi, bukankah pada dasarnya hidup kita adalah serangkaian episode “numpang minum” sembari menunggu saatnya dijemput malaikat maut? Be realistic and optimistic, okay? Toss dulu dong.

Masih nyimak penjelasan ibuk kan? Bagus. Sekarang, ibuk jelasin soal jenis yang kedua ya, asuransi kesehatan. Siapa sih, manusia di muka bumi ini yang nggak pernah sakit? Widih, kalau ada, coba sini, ajak kenalan sama ibuk. Sakti bener dia. Hehehe. Semua orang itu PASTI pernah sakit. Ada yang sakitnya “enteng”, macam flu, pilek, batuk.

Tapi ada juga sakit yang cukup menguras energi, air mata, terutama dompet. Dan, zaman sekarang, yang namanya penyakit itu macam-macam, Nak. Ingat Kakung Ruslan dan Uti Tetty? Adiknya nenek kamu, yang tinggal di Kediri itu loh. Nah, Kakung Ruslan itu sakit jantung, Uti Tetty sakit tumor payudara. Dua penyakit BERAT menimpa sepasang suami istri!

Tidak ada yang minta. Tapi, sekali lagi, ibuk harus jelasin, kalau kita tidak pernah tahu apa yang akan menimpa diri kita, sejam, semenit, bahkan sedetik lagi kan?

Sekarang kita bahas asuransi yang ketiga nih. Asuransi Umum. 

Ini mencakup asuransi perjalanan travelpro buat yang sering traveling.

Juga ada Kartu ProteksiKu yaitu asuransi kecelakaan diri yang memberikan santunan untuk Meninggal Dunia dan Cacat Tetap yang diakibatkan Kecelakaan, 24 Jam sehari, selama 1 tahun, dan berlaku di seluruh dunia! Hebat kan?

Ada juga asuransi Rumahku Plus. Kalau kita punya properti, baik itu berupa rumah, hotel, kos-kosan, apartemen, kita butuh proteksi alias perlindungan kalau terjadi sesuatu kan? Ingat, banyak kejadian kebakaran. Wuih, kalau nggak pakai asuransi, terbayanglah kerugian yang benar-benar bisa bikin nangis darah

Sudah mulai paham kan? Ternyata asuransi itu penting banget kan? Sayangnya, tidak semua orang sudah “melek asuransi”.

Diambil dari: https://www.cekaja.com/info/masyarakat-indonesia-masih-belum-melek-keuangan/
Diambil dari: https://www.cekaja.com/info/masyarakat-indonesia-masih-belum-melek-keuangan/

Gini lho, Nak. Ibuk pernah membaca sebuah riset yang dilakukan OJK alias Otoritas Jasa Keuangan. Ternyata, di antara 240 juta jiwa penduduk Indonesia, baru 18% saja yang sudah punya asuransi! Widih. Dikit banget kan? Berarti ada 196,3 juta jiwa penduduk Indonesia yang belum berasuransi. Wah..wah… padahal 196,3 juta jiwa itu kan bisa terserang sakit sewaktu-waktu kan? Bisa meninggal kapan saja kan? Bisa terkena musibah yang tidak terduga-duga kan?

Hmmm, ya ya ya. Memang sih, kebanyakan orang Indonesia itu lebih suka mikir pendek.

Eh, malam ini gue mau ke mal ah… Beli baju ah… Nonton bioskop ah… Tapi, kalau diajak buat berasuransi? Langsung males dot com.

Penyebabnya, bisa jadi karena merasa masih muda dan (seringnya) sehat wal afiat. Padahaaall… tahu sendiri kan, sekarang penyakit-penyakit degeneratif banyak menyerang anak muda juga lho. Beberapa sahabat ibuk malah sudah “pamit” duluan. Ada yang sakit hepatitis, jantung, stroke, diabetes, macam-macam. Umurnya masih kepala 3 loh.

Sumber: https://www.cekaja.com/info/infografis-ini-kebiasaan-mayoritas-orang-indonesia-dalam-menghabiskan-uang/
Sumber: https://www.cekaja.com/info/infografis-ini-kebiasaan-mayoritas-orang-indonesia-dalam-menghabiskan-uang/

Karena itu, no excuse! Jangan banyak alasan! Justru kalau semakin muda kita berasuransi, maka premi asuransi yang kita bayar bakal lebih enteng.

Trus, apa lagi ya alasan klasik yang bikin orang males asuransi?

Coba, kamu bisa tebak nggak, Nak? Hihihi. Gini lho. Yang namanya asuransi itu kan perlu bayar uang premi. Ini semacam uang “iuran” yang nanti bisa dikelola oleh pihak asuransi supaya kita saling membantu meringankan beban satu sama lain. Nah, premi ini menurut orang-orang dianggap acara “buang duit” aja! Kalau seseorang lebih sering sehat daripada sakit, mestinya dia bersyukur dong. Ini malah merasa “rugi” karena preminya udah “terbuang” dan dia enggak bisa klaim. Ya elaaah… aneh banget kan? Dikasih sehat malah minta sakit. Duh.

Sekali lagi, ibuk kudu jelasin, TIDAK ADA jaminan, kalau kita akan selalu sehat SELAMANYA.

Pernah dengar istilah “Sadikin”? Yap, sadikin itu “sakit mendadak miskin”. Tadinya sih, baik-baik saja pas sehat. Tapi ketika diserang sakit, duit tabungan harus terkuras habis, lalu hutang sana-sini, aduuuh… terbayang betapa beratnya kan?

Contoh aja nih, seorang pasien penyakit jantung harus menyiapkan uang 75 sampai 300 juta untuk pengobatan. Kalau stroke? Bisa sampai 250 juta. Kanker itu bisa merogoh anggaran sampai 150 juta. Ngeri kan, lihat angka-angkanya? Maka dari itu, nggak ada ceritanya, kita ogah-ogahan berasuransi.

Waduh. Ternyata surat cinta ibu puanjaaaang banget ya. Hehehe. Jangan bosan untuk menyimpan, membaca dan mengamalkan isi surat ini ya.

Percayalah. Tidak ada seorang ibu yang menyusun rencana buruk untuk putranya. I’m not a perfect mom, but I always try hard to be a good and better mom. Surat ini adalah wujud cinta ibuk untuk mas Sidqi. Karena Mas Sidqi adalah #1yangterpenting dalam hidup ibuk.

Semoga Allah selalu melindungi kita, menyatukan hati dan cinta kita sampai kapanpun. Jangan lupa berasuransi ya Nak…!

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, 

Love,

Ibuk

Sepucuk surat yang dipersembahkan dengan tinta cinta ini diikutkan dalam Allianz Writing Competition 2014

Hadiah Allianz Writing Competition 2014

lifestyle, Review

Yayy, Opini tentang Susi (dan tuhan sembilan senti) Dimuat di Jawa Pos!

Setelah kemarin menumpahkan uneg-uneg seputar Ibu Menteri yang assoy bin funky, hari ini Alhamdulillah, opini saya dimuat di Jawa Pos. Info soal dimuatnya tulisan ini kali pertama saya dapat dari SMS mbak Tatit Ujiani. Nuwun sanget mbak :))

Agak kaget juga. Baru dikirim jam 8 tadi malam, eh, ternyata bapak redaktur Opini JP mempersilahkan naskah ini nangkring di opini bagian atas. Alhamdulillah.

Seperti biasa, saya tuliskan naskah asli yang saya kirim ke opini@jawapos.co.id. Selamat mengirim opini Anda ke JP!

Mau tahu tipsnya? BACA INI YA : Secuil Artikel Kita Tembus Media Besar

Continue reading “Yayy, Opini tentang Susi (dan tuhan sembilan senti) Dimuat di Jawa Pos!”

Uncategorized

Susi dan Tuhan Sembilan Senti

Alhamdulillah, tulisan ini diapresiasi sbg Juara di GA Keina Tralala
Klik di sini untuk info lengkapnya ya. Makasi Keina! *hugs*

Tak pernah aku dilanda dilema sedemikian parahnya. Otakku kusut masai. Entah, sepertinya ia sedang tak ingin diganggu dengan beragam seliweran ide-ide liar yang tak mau mengenal kata ‘menyerah’.

Serius?? Kau mau keluar begitu saja?? Dari profesi yang digilai banyak orang ini??”

“Ohhh…. ayolaaah… Apa iya kau akan meletakkan karir yang sudah kau bangun sedemikian rupa?? Banyak orang berebut untuk bisa berada di posisi ini. Dan kau? Mau menyerah begitu saja??”

Kuraba lagi surat yang ada di tangan. Lamat-lamat, bibirku membaca untaian kata di sana. Sekali lagi, ragu menyergap. Mau maju? Atau, dibatalkan saja?

“Tidak mudah cari kerjaan yang menjanjikan gelimang duit! Apalagi kau sekarang sudah punya anak. Memangnya mau kerja dimana?”

“Apa kau yakin, bakal dapat kerjaan yang prospektif seperti ini? Ingat gajimu! Ingat remunerasi, fasilitas dan kesempatan traveling gratis! Ingat itu semua!”

Tidak. Keputusan sudah bulat. Bismillah. Pantang goyah dalam melangkah. Kusampaikan secarik kertas di tanganku, pada mbak Leony—sebut saja begitu—atasanku di kantor.

Surat resign.

***

Ini adalah resign terberat yang harus aku lalui. Sebuah karir yang menjanjikan, harus aku sudahi. Banyak hal yang jadi faktor penyebab. Salah satunya, karena tuntutan pekerjaan yang seolah tak kenal jeda. Bahkan, Sabtu-Minggu—yang seharusnya jadi hari libur—kerap dirampas oleh berbagai event marketing yang begitu digdaya.

Tentu, amat manusiawi ketika aku merasa senang dengan gelimang rupiah.

Tentu, amat bisa dimaklumi manakala ada kebanggaan yang meluap, ketika seseorang bertanya, “Kau kerja dimana sekarang?” Dan, dengan nada jumawa, aku menjawab,”Di perusahaan multinasional, yang kantor pusatnya di Eropa.”

Wow. Beberapa pasang mata akan mendelik kagum. Beberapa yang lain membisikkan kalimat penuh semangat, ”Gajinya gede tuh.”

Yaa, not bad lah. Untuk ukuran Surabaya, gaji yang saya dapatkan—saat itu—memang kerap memantikkan rasa superior dalam dada.

Tapi, pada suatu masa, aku terhimpit kenyataan pahit. Selain karena alasan keluarga, ada satu hal yang tak bisa membuat aku berkelit. Apa itu? Well, suka tidak suka, saya harus akui, bahwa saya bekerja di sebuah korporasi yang memproduksi “racun massal”. Tuhan sembilan senti. Begitu Taufiq Ismail pernah bersajak sekaligus menyindir nyinyir. Apa boleh buat, sedari awal teken kontrak dengan HRD perusahaan raksasa ini, aku mafhum benar bahwa inilah resiko yang harus dihadapi.

Bahwa aku terlibat dalam sebuah konspirasi menjejalkan jutaan batang racun, yang konon menghasilkan nikmat tiada tara, dus membuat pemakainya selalu ingin, ingin, nyandu, dan sama sekali tak bisa move on.

Hingga, sebuah fatwa muncul dari MUI, lembaga yang (secara pribadi) aku segani. Bahwa, si tuhan sembilan senti itu haram.

Dan, aku laksana terjengkang. Tersetrum oleh ribuan megawatt listrik, yang membuat otakku tak lagi padu. Haram? Kalau aku bekerja di sebuah korporasi yang memproduksi “barang haram” apa itu artinya uang yang aku terima adalah “uang haram”?

Aku terkapar dalam istighfar. Sebuah keputusan frontal harus diambil. Segera. Secara revolusioner.

***

Dan, kemudian, aku memutuskan untuk ber-hasta la vista pada itu semua. Selamat tinggal kantor yang megah. Selamat tinggal fancy job, media briefing, media conference, media tour… Selamat tinggal rekan-rekan public relations… rekan-rekan wartawan… Sudah saatnya aku memilih untuk tidak terjebak pada perangkap syahwat duniawi semata.

Saat itulah, saya merasa LULUS. Lulus dari sebuah ujian hidup. Ujian yang membenturkan sebuah kenyataan bahwa, ya memang, saya butuh uang. Saya butuh percikan rupiah untuk bertahan hidup. Tapi, saya butuh uang secukupnya, bukan sepuasnya.

Mungkin saya memang butuh rasa untuk tetap bekerja. Tapi, tidak harus berada di sebuah industri yang tertawa riang di atas penderitaan jutaan korban tuhan sembilan senti.

Saya merasa, saat itu, saya sudah LULUS.

Tapi, kelulusan itu terasa tak lagi paripurna. Manakala, hari ini, sebuah potret perempuan yang tengah menjadi trending topic di twitter, membuat “LULUS” saya ternoda.

menteri-susi-pudjiastuti-perokok-bertato-tak-lulus-sma-mTGqalwD6O

Ah, ibu.

Kalau saja, Ibu selalu bertahan sebagai orang swasta, sebagai pengusaha sukses, sebagai CEO sebuah maskapai perintis, maka aku nggak ambil pusing dengan semua hal yang ibu lakukan.

Tapi, ibu tengah menjalani amanah menjadi MENTERI. Menteri adalah ulil amri, pemimpin di antara kami, jutaan rakyat Indonesia.

Sungguh, saya tak ingin berada pada barisan nyinyir, yang sibuk mengomentari hal-hal buruk pada diri Ibu. Tapi, satu hal yang sungguh bikin dada saya teriris perih.

Sia-sia kami menjelaskan bahaya rokok bla bla bla, kalau pada akhirnya, anak-anak kami akan berkomentar, “Lha, itu bu Menteri klebas-klebus rokokan?”

Dan, ketika kampanye bahaya rokok senantiasa kami jejalkan pada anak, lantas dengan retoriknya mereka akan menukas, ”Bu Susi funky banget tuh. Pasti karena dia ngrokok. Gayanya asyik.”

Aah, Ibu.

Bagaimana saya bisa mensyukuri “kelulusan” saya, kalau kemudian Ibu membuat teladan yang tak elok seperti ini? Bisakah Ibu mencoba sedikiiiit saja, untuk bersikap lebih elegan, tak perlu sampai pencitraan berlebihan, asalkan Ibu tak menjadi ‘anti-mainstream role model’ untuk anak muda republik ini? Bisa kan, Ibu? (*)

“Tulisan ini diikutsertakan Keina Tralala First Birthday Giveaway”

keina-tralala-fisrt-birthday-giveaway

Uncategorized

Blog adalah Sanctuary

FOTO KEB FOTO KEB-2

Setelah tulisan Opini saya dimuat di Jawa Pos, sejumlah email berhamburan di nurulnih@gmail.com.

Yang paling berkesan adalah email ini. Datang dari seorang Familla Ningsih, domisili di Jambi. Intinya, jeung Milla ini kepo plus ingin menuangkan gagasan di kepala dalam sebentuk tulisan.

Waduh.

Saya jadi blingsatan *tsaaah, bahasa angkatan ’90-an euy!* Walhasil, dalam email balasan, saya bilang kalau kita–para emak ini–sangat bisa berkembang menjadi “Lebih dari yang kita bayangkan” dengan gabung di sebuah komunitas blogger, bernama KEB (Kumpulan Emak Blogger).

Alhamdulillah, dengan mengenal para emak sevisi, dengan passion, minat yang sama, kita sama-sama ber-fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan). Termasuk berlomba dalam berbagai kontes blog :)))

Really proud being a blogger. Karena bagi saya, blog adalah sebuah sanctuary, sekaligus sarana katarsis dan (syukur-syukur) menginspirasi dan berbagi rezeki.

Ditulis (secara ngebut hahaha) untuk ‪memeriahkan #‎HariBloggerNasional‬ bersama #KEBloggerNasional. Selamaaat!

Uncategorized

Blogito, Ergo Sum

Alhamdulillah, postingan ini jadi pemenang di Hari Blogger angingmammiri.org. Info lengkap di sini

Majalah TEMPO terbitan Desember 2006 itu masih saya koleksi. Nama-nama perempuan hebat yang bercokol di sana sukses bikin dada saya berdentam kuat. Mereka semua perempuan.

P e r e m p u a n. Dan mereka bisa melakukan BANYAK HAL yang bahkan orang laki-laki saja belum tentu bisa!

a059

Ya. Ada dari mereka yang berprofesi sebagai teknisi pesawat terbang. Ada pula pekerja rig. Pilot Pesawat Terbang. Atlet terjun payung. Bahkan, dokter bedah mayat!

Mereka semua penuh inspirasi. Sangat-sangat melejitkan harapan dan semangat pada siapapun yang membaca profil yang tersaji.

Majalah ini terbit 2006. Dan masih saya simpan.

Saya berharap, suatu ketika, saya menjejak batu yang sama. Berada di “strata” yang sama, sebagai perempuan Indonesia yang bisa memercikkan—walau sedikit—inspirasi dan semangat yang sama. Sungguh, saya berharap wajah saya bisa muncul dalam edisi majalah “Bukan Perempuan Biasa” entah tahun kapan.

Satu yang melekat kuat di benak saya adalah profil seorang diplomat. Retno Lestari Priansari Marsudi. Begitu namanya.

a057a058

Perempuan yang bisa memainkan tugas diplomasi dengan begitu “cantik”. Prestasinya terus melaju. Membubung tinggi. Hingga tidak salah, Pak Jokowi menunjuk dia sebagai perempuan pertama yang memegang tampuk Menteri Luar Negeri republik ini.

***

Ketika perempuan hebat itu terus melaju, menapaki karir dan kemahiran mereka masing-masing, saya masih tercenung, apa diferensiasi saya? Apa yang membuat saya tetap bisa “ada” di tengah riuh, heboh, semarak, dan gegapnya dunia?

Cogito ergo sum. Tiba-tiba kalimat Descartes, filsuf dari Perancis ini berdenging di telinga. Aku berpikir maka aku ada.

Aku berpikir, maka aku ada. Bagaimana semesta bisa tahu bahwa aku tengah berpikir? Bagaimana khalayak bisa paham dengan buah pikir yang tengah saya produksi?

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Kali ini, kata-kata Sayyidina Ali bin Abi Tholib yang bergentayangan di pelupuk mata.

Sayup-sayup, saya mendengar sebuah kalimat “sakti” dari Pramoedya Ananta Toer.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Ya. Saya tetap ingin menulis. Meninggalkan jejak untuk sebuah keabadian.Saya ingin tulisan-tulisan saya kelak akan menjadi cahaya yang menerangi diri, di akherat. Sebagaimana seorang Helvy Tiana Rosa, yang tak pernah abai dan lalai, selalu melahirkan “bayi-bayi” tulisan yang memaksa kita untuk mengasah nurani, mempertebal empati, untuk lebih menggelorakan semangat kebaikan, melalui tulisan yang tajam.

write-rainbow-copy1

“Apa yang kau tulis adalah semacam jejak yang terus menyala di dunia, dan bisa menjadi cahaya akhiratmu.” (Helvy Tiana Rosa).

Ya! Saya bisa menjadi seperti mereka! Saya bisa berpikir. Saya sanggup menganalisa. Saya sanggup berkutat dalam tumpukan literatur, memamah referensi dan berdansa dengan diksi yang presisi, agar melahirkan artikel yang melesakkan cahaya untuk akherat saya! Saya bisa! Saya pasti bisa!

Tapi…. Siapa yang mau memuat buah pikir saya?

Koran-koran itu… Majalah-majalah itu… Tidakkah sudah terlampau banyak para peramu kata yang begitu brilian, menghadirkan ribuan artikel yang nonjok, nendang bin cethar?

Aaah… Sudah waktunya saya bikin “medium” saya sendiri. Eurekaaa…. ada “makhluk” bernama BLOG!! B l o g !!!

Saya yang jadi penulis, admin, editor, publisher… Saya ngeblog, untuk mengerucutkan buah pikir yang terkadang berlompatan tiada kendali. Saya ngeblog, untuk menunjukkan kepada dunia, apa saja ide, spirit dan segala macam hal yang kerap bermuncratan tak kenal jeda. Saya ngeblog, sebagai wujud persembahan kepada Sang Maha Segala, bahwa saya adalah abdi-Nya yang ingin memanfaatkan “harta berharga” yang Dia titipkan kepada saya berupa kemampuan untuk sekedar merangkai kata.

Saya ngeblog, maka saya ada. Blogito, Ergo Sum

Biarlah nama saya belum terpampang dalam jajaran Bukan perempuan biasa. Tak perlu ambil pusing soal itu. Karena toh, saya sudah menjadi diri saya sendiri: bukan bocah biasa (dot wordpress dot com)

Selamat Hari Blogger Nasional!

“Seperti apakah Anda? Menurut saya, paling tidak Anda adalah apa yang Anda tulis.”― Helvy Tiana Rosa

Surabaya, 27 Oktober 2014

Ditulis dengan tinta penuh cinta oleh @nurulrahma untuk memeriahkan Hari Blogger Nasional 

Uncategorized

Welcome Back, Hijaiya…! (Review dari Emak non-Fashionista)

Coba amati baik-baik beberapa foto narsis saya di bawah ini.

Sama dr Oz Indonesia (dr Ryan Thamrin)
Sama dr Oz Indonesia (dr Ryan Thamrin)
CIMG5549
Sama Ghaida Tsurraya (putri Aa’ Gym)
Di depan Masjid Daarut Tauhid Bandung
Di depan Masjid Daarut Tauhid Bandung
CIMG5613
Bareng Ustadz Aam Amiruddin

Pertanyaannya adalah, apa KESAMAAN dari keempat foto di atas? 

Yap, Anda benar! Selain memasang tampang emak2 sebulet bola voli, ada satu hal yang amat genggeus banget. Yaitu, JILBAB HITAM dan BAJU MERAH MARUN yang saya kenakan secara konsisten!

E ya ampuuun… Baru nyadar eikeh, di 4 acara berbeda, di 4 hari yang berbeda, di 4 capture foto yang berbeda, kok ya kostum saya enggak ada bedanya blazzzzz….

Duh.

Memang kudu diakui, saya tuh masuk kategori perempuan “anti-mainstream”. Wohoho… Apalagi nih? Dah, jangan mikir yang “ajaib” deh. Anti mainstream ini maksudnya, saya termasuk emak yang enggak gitu doyan meng-update fashion.

Lebih aneh lagi nih, para emak biasanya semangat ’45 tho kalau diajak nge-mall, terutama berburu diskon baju? Ya kan??

Nah, saya justru pusssiiiing kalau udah masuk ke department store atau butik2 baju gitu.

Kemungkinannya ada 2. Yang pertama, saya pusing karena lihat deretan baju yang seolah enggak ada habisnya. Yang kedua, saya pusing karena mau beli, eh, ternyata harganya booo… Nyekik banget nget!

So, offline shopping is definitely not my things. Males ah, kalau kudu belanja desek2an ama para Shopaholics. Bau keringet, parfum, dll dstnya campur aduk jadi satu. Belum lagi, ribet cari parkiran, macetnya jalanan, trus perut meronta-ronta minta diisi.

Akhirnya kudu jajan, eh teteup laper, trus beli nasi + fried chicken yang makin enggak sopan harganya, daaan….. pulang dari mal, badan saya makin panjang kali lebar. NOOOOO…!!

Maka dari itu, seneng banget pas baca kabar Hijaiya is come back…!! Uwowo… langsung sujud syukur deh… Kenapa? Soalnya Hijaiya ini toko online untuk para hijabers yang ingin tampil kece maksimal, tapi gak perlu nguras kantong. Sip kan?

Emang, Hijaiya jualan apa aja Neng? Banyak. Ada gamis pesta modern. Ada baju kerja muslim. Ada gamis & dress murah. 

Gini step by step kalo mau shopping di Hijaiya 

1. Pilih baju yang diinginkan

Naksir Lieah Denim
Naksir Lieah Denim

Karena masih (berjiwa) muda, saya tuh doyaaan banget pakai segala sesuatu yang dibikin dari jins. Apalagi kalau modelnya “attention-stealing” kayak begindang. Asimetris bok. Dan, sepertinya kostum kayak begini bakalan sukses menyembunyikan lemak bin gelambir yang bersemayam dalam bodi.

Look at the price! 115 ribu saja! Wow, woowww.. sangat value for money kan? *emak-irit-mode-on*

2. Klik langsung tombol “beli” untuk memasukkan ke keranjang belanja

hijaiya-2
Sila klik tombol “beli” yaaa..
hijaiya-3
Whops! Ada kode diskon LANGSUNG! Sedaaaappp….

3. Check Out

hijaiya-4

4. Masukkan nama dan alamat lengkap pada form yang disediakan

hijaiya-5

hijaiya-6
Here we go… Bungkussss…!!

5. Transfer pembayaran ke rekening hijaiya

6. Konfirmasi Pembayaran

7. Selesai

As easy as one, two, three kan? 

Gampiiilll banget. Kita bisa shopping di website hijaiya.com secara gampang, asyik, dan bermartabat *hadeh, apa pulak ini?*Alangkah damainya dunia, kalau shopping bisa kita lakoni dengan modal klak-klik doang.

Tapiii… ada tapinya niih, beberapa item koleksi Hijaiya yang eike demen ternyata lagi out of stock **nangisss***

Duh, sediiih… Padahal, mupeng banget loh, pengin beli ini dan itu.

Masukan aja ya, buat jeung cantik juragannya Hijaiya. Supaya para pembeli lebih meledak antusiasmenya, alangkah sip-nya kalau seluruh koleksi Hijaiya selalu di-update setiap saat. Stoknya kudu ready terus. Biar kita-kita yang lagi semangat online-shopping enggak layu sebelum berkembang belanja.

Trusss… bisa nggak ya, kalau koleksinya ditambahin juga dengan kostum-kostum Islami buat bocil? Saya sering pening nih, kalau cariin baju muslim buat Sidqi. Jadinya, Sidqi juga sering bergaya “ala kadarnya” dengan baju koko yang itu-itu saja. Hiks. *puk puk Sidqi*

Baiklaaah, ini review dari emak2 yang sangat tidak fashionista. Bayangin dong, seorang emak dengan jilbab yang itu-itu saja, amat sangat mupeng blanja-blanji di Hijaiya. Apalagi barisan kaum hijabers, yang pengin tampil modis, dengan dana yang ga bikin dompet teriris?

So, what are you waiting for, ladies… Go grab your Islamic clothing… Welcome back, Hijaiyaaa….!! *peluk*

banner_hijaiya_small

Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway Kembalinya Hijaiya

Uncategorized

Wisata Surabaya TANPA Mal

Kombinasi sakit stroke, susah banget kalau jalan, plus tangan amat kaku untuk digerakkan. Itulah yang membuat ayah mertuaku ogah banget diajak kemana-mana. Saban hari, beliau hanya menghabiskan hari di depan TV. Mencet-mencet remote, dan ngomel-ngomel enggak jelas saban lihat Pak Mario Teguh berkicau. Tapi, hobi banget kalau berita kriminal plus sinetron lebay-bin-alakazam mulai nongol. Waduh.

Sebagai menantu yang yaaa.. gitu deh, saya berinisiatif cari spot yang wokeh untuk jalan-jalan di weekend. Bukan hanya untuk nyenengin Sidqi, anak saya.

Niat mulianya adalah: pengin banget lah jadi menantu yang “agak ada gunanya” gitu loh. Minimal, berguna dalam hal “memberikan ide” untuk destinasi jalan-jalan bagi bapak mertua yang sudah sepuh.

Apakah bapak mertua sebaiknya diajak ke mal?

Oh. Doi pasti bilang “Ogah”. Maklum. Mal di Surabaya kan bisa dibilang kurang ramah dengan para pinisepuh. Kasihan kalau beliau musti empet-empetan dengan para ABG alay dan emak2 hore yang memadati sekujur bodi mal.

Walhasil, setelah browsing dan nanya sana-sini, ketemu satu tempat yang cihuy banget! Namanya TAMAN LANSIA. Wah, sesuai banget nih sama namanya.

Taman Lansia di Jalan Raya Gubeng Surabaya (seberang toko busana muslim Shafira)
Taman Lansia di Jalan Raya Gubeng Surabaya (seberang toko busana muslim Shafira)

Jadi, gini. Di Surabaya itu, buanyaaaak banget spot2 taman yang makin kece-badai, setelah Bunda Risma, idola arek-arek Suroboyo, diamanahi jadi orang nomor satu di kota ini.

Mau ke Taman Bungkul? Taman Prestasi? Taman Jayengreno? Kebun Bibit alias Taman Flora? You name it! Karena segabruk taman nan indah bergentayangan di bumi Surabaya.

Karena saban weekend (sesekali) kita pengin ngajak ayah mertua, so pasti pilihannya jatuh kepada Taman Lansia.

Di sini, ayah mertua ho’oh ho’oh saja pas kita ajak turun dari mobil. (FYI, biasanya kalo yalan-yalan, doi lebih suka nangkring di dalam mobil. Padahal, tau sendiri kan, Surabaya panasnyaaa….ala neraka bocor!)

Duo krucil (Faiz dan Sidqi) plus eyang kakungnya
Duo krucil (Faiz dan Sidqi) plus eyang kakungnya

Lalu, terapi sejenak di kerikil-kerikil yang tersebar di seantero taman. Lumayan, buat refleksi kaki.

Faiz (ponakan saya) lagi praktekin refleksi kaki
Faiz (ponakan saya) lagi praktekin refleksi kaki

Dua cucu yang super-duper-aktif-dan-a-little-bit-usil juga setia nemenin eyang kakungnya. Nggelitikin kaki. Nyembunyiin tongkat. Atau, comotin tahu plus kentang goreng kakung. Hihihi.

Kabuuurr....!! Ayo kita habisin tahu/kentang goreng kakung...
Kabuuurr….!! Ayo kita habisin tahu/kentang goreng kakung…

Yang paling penting dari itu semua adalah, taman ini GRATISSSSS… (tapi kalau mau jajan tahu/kentang goreng, siap-siap keluarin duit 6 ribuan/ pax).

Teteup dong. Kalau cari spot wisata, usahakan lokasi yang ramah keluarga dan nggak perlu ngrogoh kocek dalem-dalem. Hati tenang, isi dompet pun kagak terbang! (*)

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA pertama dari Emak Bogor

Uncategorized

Surabayaku

Critanya pg INI lagi jalan2 ama sidqi,bpknya plus ayah IBU mertua. Setelah maem sate klopo ondomohen yg ruameeeee parah ITU (Dan to be honest,I’m not really love the taste) kits mampirlah k kntr pemkot Surabaya. Soo… Lovely… Kantor INI d bawah IBU risma JD cantik bgt… So many beautiful flowers… Air mancur yg suegeeeerrr… Asik lah pokoke. Tengkiu Bu risma udah bikin kota panas nyozzzz INI JD lebih cantik bingits.

image

Dan critanya INI daku coba ngeblog Dari android..  JD ya short update Aja yaaa….

image

image

Continue reading “Surabayaku”

Uncategorized

Terpukau Dian Sastro

Who doesn’t love Dian Sastro?

Perempuan satu ini memang lovable. Sangat sangat lovable. Di blantika hingar bingar dunia selebritis tanah air, Dian Sastro berhasil bikin branding yang “beda banget”. Dia artis yang one in a million. Semua film yang memajang aktingnya adalah film berkelas. Bukan ecek-ecek. Nih cewek juga menjaga diri untuk enggak sering-sering muncul di TV. Sangat sangat eksklusif, dan itu yang bikin kita sering kangen sama dia. Dian Sastro juga lulus CUM LAUDE dari S-2 Universitas Indonesia! Masih sering isi materi parenting, talk show, workshop…

Dia juga Ibu sekaligus istri yang baik. At least sampai detik ini ga ada berita gak asik soal rumah tangga dia. Bahkan ketika ayah mertuanya kena huru-hara, Dian Sastro sangat bisa menjaga sikap untuk tidak ikut berkomentar apa-apa. Salute!

OMG. I just don’t know HOW she does it???

Let's be floral and colorful this Idul Adha with mukena @vyladira

A post shared by Dian Sastrowardoyo (@therealdisastr) on

Dan saya hepiii banget pas liat ada doi di “Sarah Sechan NET”. Ya ampuuun, rezeki nomplok, bisa mantengin bukan bunda biasa (hahah… mirip nama blog gue kan?) di TV kita yang (mayoritas) acaranya semakin acakadut.

Dian berkisah panjang lebar soal “HOW she becomes the fabulous Dian Sastro”

(1). “Ibu saya mulai menjelaskan soal goal setting ketika saya berusia 9 atau 10 tahun….”

*glek* Super glek dengar kata-kata yang meluncur dari bibir Dian. Goal setting bok! Anak hebat (biasanya) juga lahir dan dibesarkan dengan ibu yang super. Super memberi kasih sayang, atensi, kasih pendampingan, dan selalu menyediakan waktu berkualitas walaupun ibunya Dian juga perempuan yang luar biasa sibuk. Dosen UI juga, dan seriiing pulang malam. Juga sering kudu ninggalin Dian kecil, karena kasih training ke berbagai perusahaan.

I love this top from @heiress_id

A post shared by Dian Sastrowardoyo (@therealdisastr) on

“In life, bagaimanapun kita harus berjuang. Dimana kamu lihat diri kamu 10 tahun ke depan. Kalau kamu punya keinginan tertentu di 10 tahun itu, maka kamu harus tahu 5 tahun apa saja yang harus dikerjakan…. 3 tahun dari sekarang apa yang harus dilakukan… dan itu artinya kamu harus tahu sekarang kamu harus melakukan apa.”

(2). Ibunya Dian selalu kasih gambaran bagaimana kerasnya hidup dan tingkat kompetisi/ persaingan yang bakal ia hadapi

Kamu akan bersaing dengan banyak orang. Tahu sendiri kan, mama mendapatkan pekerjaan dengan susah. Kamu juga akan masuk ke persaingan itu dan akan jauh lebih berat. Kalau kamu tidak pintar, kamu akan kalah bersaing dengan orang-orang yang jauh lebih pintar daripada kamu.

(3).Step by step plan. Riset, lakukan segala planning secara Precise dan very much into detail.

Dian kecil sudah tahu bahwa menjadi model itu bisa bikin kaya. Contohnya, Tracy Trinita yang sudah melanglang buana dengan jadi model.

Nah, dia melakukan riset. Gimana sih, jadi model yang berkualitas? Oh, kebanyakan model oke itu jebolan Gadis Sampul. Lagi-lagi Dian meriset. Gimana caranya bisa jadi Juara 1 Gadis Sampul? (wah, nih, bocah emang yaaa… gilaa..! Keren banget….)

Ternyata, rata-rata Juara 1 Gadis Sampul adalah mereka yang BERKARAKTER. Yap, berkarakter. Bukan sekedar cantik, seksi, atau tinggi. Rata-rata yang Juara 1 berusia 14 atau 15 tahun. Jadi, Dian punya waktu 4 tahun untuk menjadikan dirinya BERKARAKTER. 

OMG… OMG…..

Jadilah, selama 4 tahun itu, Dian menjadikan dirinya sebagai perempuan berkarakter. Dia ikut pencak silat, pidato bahasa Inggris, macam-macam… supaya para dewan juri tahu bahwa Dian Sastro adalah cewek 14 tahun yang BERKARAKTER… ya ampuuun….

Duh. Ini jadi panjang banget nih postingan…. Intinya begini. Bagaimanapun juga, ortu (terutama ibu) punya peranan yang super-duper-penting dalam kehidupan anak. Sudah nggak zaman jadi ortu yang “menyerah” dengan keadaan.

Nggak boleh jadi ortu yang “Udahlaaah…. terserah ntar anak gue mau jadi apa, terserah dia….”

NO! BIG NO! Kita memang tahu kalau takdir masa depan anak kita adalah “rahasia Allah”. Tapi, kita adalah khalifah, yang dititipi amanah oleh Allah, berwujud anak.

So? Singsingkan lenganmu, wahai emaknya Sidqi…. Mari kita berjuang, berdoa, bertawakkal… Sidqi masih umur 8… insyaAllah sama sekali belum terlambat untuk menginjeksikan goal setting pd dia… Semangat….!!