Uncategorized

Izinkan Aku Berbagi Kisah tentang Hujan

Musibah Air Asia benar-benar meninggalkan duka mendalam bagi saya dan tetangga satu kompleks. Tetangga kami jadi penumpang di pesawat itu. Masih 31 tahun, namanya Bhima Aly Wicaksana. Putra Pak RT periode lalu. Lelaki yang luar biasa baik, santun, brilian… Dia adik kelas saya di SMA 16, juga di ITS. InsyaAllah, dek Bhima khusnul khotimah. Surga yang begitu indah merindukan sosok engkau, Dek Bhima… Dan, semoga, Pak Dwijanto sekeluarga, seluruh keluarga penumpang diberi ketabahan oleh Allah. Aamiiin.

AIR ASIA-1

Ketika berita duka itu menyeruak, beberapa sahabat mengajukan tanya retorik, ”Bagaimana rasanya menjadi penumpang di pesawat yang bakal jatuh? How does it feel, ketika dalam sepersekian detik kemudian, kita bakal berada dalam suasana katastropik, dimana si burung besi itu tak lagi melesat di angkasa, dan justru mengantarkan ke pintu sakaratul maut?”

Maka, izinkan saya berbagi jawabannya.

***

Saya pernah berada dalam kondisi itu. Ketika hujan turun begitu derasnya. Petir menyambar-nyambar. Kaca jendela pesawat yang saya tumpangi, menggoreskan cahaya yang menyilaukan netra. Berkali-kali pesawat oleng. Limbung. Kapten pesawat me-warning penumpang, agar tetap berada di kursi dan fasten our seat belt.

Masya Allah…petir kembali menyambar. Sebersit takut kembali muncul. Bukankah petir yang berenergi luar biasa, sangat bisa meluluhlantakkan bodi pesawat? Tidakkah si burung besi ini terlampau ringkih melawan gelegar petir, hujan deras yang tak kunjung tuntas, dan.. bagaimana kalau…. ini adalah episode terakhir kehidupan saya?

petir-atau-halilintar-400x253

“Para penumpang yang terhormat, baru saja kita menabrak awan, cuaca sangat buruk di luar, kami mohon Anda tetap berada di kursi dan kencangkan sabuk pengaman Anda…”

Aneka doa saya langitkan. Ya Allah… Saya yakin… hujan adalah sebaik-baik momen penyampai doa… Allahumma shayyiban nafi’aa.. beri kami hujan yang bermanfaat, ya Allah…

“Para penumpang yang terhormat, karena Banda Adi Sutjipto Jogja sedang ditutup akibat cuaca sangat buruk, kami menginformasikan bahwa pesawat akan berputar-putar di angkasa, sambil menunggu bandara dibuka kembali. Terima kasih.”

MasyaAllah… Kenapa ini?

“Para penumpang yang terhormat, karena kondisi bandara belum dibuka, dan mengingat keterbatasan persediaan avtur pesawat, maka kami memutuskan kembali ke Bandara Juanda, Surabaya. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.”

Allah… Allah… Engkau-lah satu-satunya tempat bergantung. Di tengah cuaca yang begitu sulit, aku percaya, bahwa inilah jalan untuk semakin mendekat pada Engkau….

Pesawat yang harusnya menuju Jogja, terpaksa kembali dan mendarat di Juanda, Surabaya. Pengisian avtur dilakukan. Penumpang masih tetap berada dalam pesawat. Sebagian nekat menyalakan HP. Menghubungi sanak keluarga mereka.

“Iyo! Pesawate balik maneh! Ya’opo iki?” (iya, pesawatnya kembali lagi. Gimana nih?)

Saya sempat diliputi kebimbangan. Besok jam 9 pagi, saya harus meng-handle media briefing di sebuah hotel di Jogja. Saya tak bisa lari dari tanggungjawab. Tapi, bagaimana kalau, kondisi Jogja masih se-mengerikan tadi? Bagaimana kalau airport Jogja masih ditutup, dan lagi-lagi pilot mengambil keputusan untuk go back to Surabaya? Bagaimana kalau, avturnya habis di tengah angkasa?

Astaghfirullah… Ingin rasanya menyalakan HP, menelepon ibunda, minta saran beliau. Tapi, saya masih ada di pesawat. Saya tak mau jadi penumpang yang tak bertanggungjawab, walaupun pesawat masih parkir dan isi avtur.

Bismillah… Di tengah hujan rintik yang mengguyur Surabaya, saya berupaya kumpulkan keberanian… Bahwa hidup dan mati adalah rahasia prerogatif Allah… Separah apapun kondisi cuaca, kalau belum waktunya saya berpulang, maka insyaAllah saya masih tetap diperjalankan Allah, sebagai khalifah di muka bumi ini. Saya harus tawakkal sejak awal.

“Para penumpang yang terhormat, kita akan berangkat kembali menuju Jogja. Kami mohon untuk menonaktifkan HP dan kencangkan sabuk pengaman…”

Hujan masih mengguyur Surabaya. Rintiknya perlahan menetes di kaca jendela. Burung besi bersiap take off. Aroma kengerian menguar dari kabin pesawat.

Cuaca di sekitar Jogja belum juga bersahabat. Petir masih menyambar-nyambar. Air tumpah ruah, mengguyur semesta. Laa hawla wa laa quwwata illa billah

Heiii, hujan seolah mengirimkan sindiran telak di ulu hati, Kemana saja kau selama ini, wahai Nurul? Apakah doa-doa itu hanya kau rapalkan manakala hujan turun dengan begitu derasnya? Apakah kau baru ingat Tuhan, tatkala maut hanya berjarak sepersekian detik dari hidupmu?

Hati saya bergerimis. Saya ikhlas, ya Allah… Sungguh, saya ikhlas… kalaupun malam ini saya harus berpulang, izinkan saya tetap menggenggam iman dalam dada.. Izinkan saya melafalkan Laa ilaaha illallah.. sebagai pertanda bahwa saya adalah hamba Engkau.. Saya ikhlas…

“Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandara Adi Sutjipto Jogja, mohon kencangkan sabuk pengaman Anda..”

Pilot melakukan manuver dengan begitu nekad. Kendati jarak pandang amat terbatas, pesawat ini mulai terbang rendah, dan gredeeggg… gredegggg… gredegggg… roda pesawat menyentuh landasan bandara… Subhanallah… Maha Suci Engkau, ya Allah….

Saya menangis. Larut dalam haru yang amat sangat. Allah masih memberi saya kesempatan, untuk memperpanjang tarikan nafas.

Bagaimana rasanya, masih diberi kesempatan hidup?

Maka, alangkah berdosanya saya, bila menyia-nyiakan waktu, kesempatan dan segala apa yang telah Allah berikan. Alangkah bebalnya saya, apabila justru berleha-leha, larut dalam hedonisme sesaat, dan abai terhadap segala titah yang Allah gariskan.

Saya terkapar dalam istighfar.

Dalam perjalanan menuju hotel, sopir taksi berkali-kali berujar hamdalah. ”Angin puting beliung di Jogja ini ngeri banget lho Mbak. Baliho-baliho pada ambruk. Pohon-pohon entah udah berapa yang tumbang. Alhamdulillah Mbak, kuoso-ne Gusti Pangeran nggih…”

Saya mengangguk lirih. HP saya berdering nyaring.

”Assalamualaikum, Ibu? Alhamdulillah, sudah landing di Jogja. Iya, hujannya deres banget.”

“Kok dari tadi aku telpon HP nggak aktif?” Ada nada khawatir di suara Ibu.

“Iya Ibu, tadi memang sempat balik di Juanda. Maaf nggak sempat ngabarin. Nggak berani nyalain HP. Doakan aja Ibu.”

“Ibu lihat di TV, angin puting beliung di Jogja waduuh, ngeri banget lho Nduk..”

“Iya, Ibu. Doakan aja, ini aku udah di taksi. Aku cari makan di hotel aja. Takut.”

“Iyo, ati-ati yo Nduk. Sholat tahajud jangan lupa. Besok pulang tho? Yo wis, Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

***

Maka, sekali lagi, dengan duka yang merubung, izinkan saya berbagi kontemplasi. Tidak semua orang seberuntung saya dan Anda, yang tengah membaca blog ini. Tidak semua mendapat jatah “kontrak hidup” yang lebih lama, daripada saudara-saudara kita yang tengah berpulang.

Tentu bukan tanpa alasan, Allah menaruh kita sebagai barisan hamba-Nya yang masih bernyawa. Tentu, Dia—Sang Pemberi Amanah—menugasi kita rangkaian kebajikan yang harus senantiasa kita tebar. 2015 segera hadir, kawan. Beberapa menit lagi. Tundukkan hati kita. Biarkan kesyahduan gerimis mengirimkan sebait pesan, bahwa amanat Allah adalah sebuah keniscayaan yang harus kita tunaikan.

Hidup itu seperti kumpulan entitas dalam hujan. Terkadang masalah hadir dalam skala “gerimis”, tampak ringan, tapi tetap bikin badan kita basah. Acapkali, problema hidup menggelegar laksana halilintar. Hadapilah. Tentu dengan iman dan jiwa yang tegar. Kalaupun “kilat kehidupan” memecah bahagia, ketika “hujan masalah” datang bertubi-tubi, percayalah… bahwa Allah tak akan memberi kita cobaan, di luar kemampuan kita.

Tersenyumlah.

Optimislah, di atas rata-rata.

Karena setelah hujan, badai, petir, kilat, halilintar.. kita akan sambut pelangi yang cantik menginspirasi.(*)

Tulisan ini diikutsertakan dalam A Story of Cantigi’s First Giveaway

Airasia

Uncategorized

A Glimpse of 2014

Judulnya sok-sokan pake bahasa Enggris. Entah bener atau kagak yak? Pada intinya, postingan ini mau ngebahas soal (semacam) kaleidoskop ringkas seputar 2014, yang insyaAllah akan segera khusnul khotimah. 🙂

Saya tuh paraaaah banget kalo disuruh inget2 sesuatu. Termasuk peristiwa apa aja yang kualami sepanjang tahun ini. Errrr, apa yak, yang terjadi selama (hampir) 365 hari lalu? Halah, wong, semenit lalu udah makan, ngakunya masih laper kok *laaaah, panteesss 😛

That’s why, hepi banget karena di FB ada koran-wanna be macem begindang.

kaleidoskop

Naaah, itu dia. Udah jelas kan, apa aja yang udah terjabanin setahun kemaren? Jadi, postingan ini udah kelar dong, hehehe *slap me!*

Well, pada intinya, saya bersyukur 2014 ini FULL kagak pernah absen ngeblog di SATU BULAN-pun. Coba lihat archives di samping kanan blog ini. archiveJelas banget nget kan, kalau postingan saya kumplit! Walopun di awal2 tahun, yaaa masih doyan reblog2 aja siyyy, hehehe… Tapii, makin ke sini, saya makin penuh percaya diri untuk menggoreskan tulisan made in sendiri *yeayy!

Dunia blogging juga “mempertemukan” saya dengan orang-orang hebat yang WOW bangets. Kayaknya sejak join grup blog ter-horeeey sepanjang masa, saya jadi punya teman “senasib sepenanggungan” yang bener2 memperjuangkan blog kita sampai titik darah penghabisan. *apasih* Etapi, bener banget loh. Anggota grup blog ini bukan emak biasa :)) Ada yang duta besar di Amrik sono, ada yang editor buku handal, ada yang mamah2 tjantik yang lagi ngelencer mukim di Jerman, asik-asik semua deh profilnya. Dan, tentu saja, yang enggak pernah daku lewatin setiap butiran postingannya, plus poto2 cihuy yang bikin envy to the max, adalah si manten anyar yang tsakeeepp tiada tanding tiada banding :))

Semangat ngeblog saya yang kerap kempis plus jarang kembang, tiba-tiba langsung MAK GLEGAAAAR, langsung Whooosssh, melesat ke angkasa! Sometimes, I feel blogging as easy as breathing. Rada lebay? Well, dalam beberapa kasus, saya ngerasa jari-jemari saya tuh auto-pilot banget, dan sigap menggoreskan rangkaian kata (seolah) tanpa diminta. Apalagi, kalau emosi lagi menggempur dari segala arah, dijamin, cuma butuh beberapa menit untuk merampungkan tulisan.

Hasilnya?

Alhamdulillah. Sejumlah pencapaian duniawi sempat saya cicipi. Kemenangan di sejumlah kontes, dan yaaaa… walau ini sempat membuat saya merasa rada gamang karena terkesan (hanya) mengejar dunia, tapi Alhamdulillah, lagi-lagi, banyak kawan blogger yang membantu menyembuhkan rasa galau dalam sukma.

Yang jelas, saya mulai berusaha menyeimbangkan blogging as sanctuary dan blogging as a tool to get some money 🙂 Berupaya membikin balance antara “ya, pengin ngeblog aja siiiy…” dengan “duh, kudu banget ngeblog, soalnya lagi DL lomba nih!” Hahaha #jujur #resolusi2015 #kayaknya

Eniwei, tentu manusia pengin bermetamorfosa ke arah lebih baik. Alih-alih dicap sebagai blogger spesialis kontes, saya pengin bukanbocahbiasa(dot)com menjelma menjadi “teman minum teh/kopi yang menenangkan dan mengasyikkan”. Saya penginnya para blogger atau siapapun yang nyasar di mari, ngerasa “feels at home” “punya temen ngobrol yang gak judging” plus enggak ngerasa bete lantaran banyaknya postingan2 yang menjurus iklan *senyum kalem*

Yaaaa.. walopuuun, wajar aja dong, kalo sesekali si emaknya sidqi ini juga pengin nambah2in dana investasi dengan menangin lomba, hehehe.

Iiih, dari tadi kok ngomongin kontes mulu sik? Ya abis, gimana ya, itu doang yang terpatri di kepala saya. Gegara rajin ngontes, nama saya disebut-sebut dalam artikel kreasi mak Mugniar yang terpampang nyata di koran Fajar Makasar.

mugniar

Bahkan, ada loh, blogger super-duper-smart yang lagi menempuh S-2 (kalo gak salah) di Australia, yang me-mention saya karena konon-kata-beliau, si mak otak cetharrr ini juga ketularan ikutan kontes blog, gara-gara saya! *blushing*

dwiindah

Jadi, seperti slogan yang termaktub *haisssh* di header blog ini, “Happiness is made, not given” sudah sewajarnya saya berupaya keras untuk “meng-createhappiness versi saya. Tentu dipadu sebuah semangat untuk mengabdi pada Sang Penggenggam Kehidupan, plus dikolaborasikan dengan jiwa berbagi ilmu, maka insyaAllah, kebahagiaan itu adalah hadiah yang berharga dalam kehidupan kita. Tak masalah, walaupun tak bisa ditukar dengan emas, HP, voucher belanja di #SemangatNgeblog blogdetik *eh, la dhalah, ada yang curcol*

Baiklah, jeung Lianda. Makasih udah bikin GA keren ini. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan pada kehidupan dikau dengan biduk rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rohmah. Doa standar, yak? Tapi, percayalah, di lubuk hati yang terdalam, saya bahagia mengenal dikau, meski baru lewat layar laptop. :))

Postingan ini diikutsertakan dalam #liamartagiveaway ‘Share Your Moment’

Uncategorized

Update-an Jelang Akhir Tahun

I NEED VACATIOOOOON….!

Ugh. Tahun ini enggak ‘khusnul khotimah’ deh. Kalau tahun 2013, saya dan keluarga ngabisin akhir tahun plus duit-duit receh dengan ngebolang ke Bandung. Poto bareng dr. Oz, ketemu teteh Ghaida Tsurraya (putrinya Aa’ Gym) plus Teh Ninih, trus ketemu Ustadz Aam Amiruddin, ke Pasar Terapung (floating market) Lembang, ke Tangkuban Perahu, pokokee seruuuu bingits. Tahun ini? Ngaplo :))

ALL
Di depan rumah Om Wawan, Geger Kalong, Bandung
Floating Market Lembang
Floating Market Lembang
Sari Ater, Lembang
Sari Ater, Lembang
Numpang poto di Kebun Teh, Lembang
Numpang poto di Kebun Teh, Lembang

Kasian Sidqi. Liburan selama 2 minggu, tapi doi di-kekepin di rumah. *puk puk sidqi* Tadinya, kami rencana mau khitanin doi. Tapi, si aktor utamanya malah maju mundur. Yo wislah, daripada trauma sunat, gapapa di-pending satu semester atau satu tahun lagi. Moga-moga doi siap lah ya.

Oke, saya harus terima kenyataan pahit bahwa akhir tahun ini saya enggak jalan-jalan ke luar kota. Hiks. Kami teteup ngejogrok di kota Suroboyo ini, sembari menerbitkan serangkaian mimpi, supaya tahun 2015 bisa terisi dengan agenda jalan-jalan.

Sebenernya ini saya mau cerita apa seeeh?

Hahaha. Sumpeeeh, bingung mau mulai darimana. Pada intinya begini siy, however saya bersyukur banget, bisa melalui 2014 dengan pencapaian yang Alhamdulillah banget. Beberapa kali dapat rezeki dari kontes blog, ketemu dengan berbagai blogger hore Suroboyo, plusss bisa datang di acara2 keren yang super-duper-menginspirasi.

Dimulai dari…

1. Perempuan Inspiratif Nova (PIN) 2014  

Ini (semacam) apresiasi Tabloid NOVA buat para cewek-cewek yang melakukan semua hal inspiring beyond everyone’s imagination. Ada yang bikin komunitas wisata, ada yang mempopulerkan batik-batik kece khas daerah, dan ofkooorss… yang bikin saya melangkahkan kaki ke Hotel Majapahit Surabaya adalaah… 3 undangan yang dikirimkan oleh peri baik hati berjudul Mbak Anazkia! Doi adalah (mantan) TKW yang kemudian balik ke Indonesia dan melalui social media, berhasil menyebarkan buku2 gretong untuk kalangan marginal. Super lady!!

2. Ketemu Pakde Cholik (perdana!!) di acara Dompet Dhuafa

Selama ini selalu kepoin blog kece punya Pakde Cholik. Dan, walaupun kita sama-sama stay di Surockboyo, saya belum pernah kopdar ama Pakde. Hingga kemudian, Allah menakdirkan kami berdua, bersua dalam sebuah ajang yang dihelat Dompet Dhuafa.

Pakde luaaarrr biyasaaaah! Kereen banget! Bojo saya aja sampe terkiwir-kiwir lihat gaya ceritanya Pakde. Semangat Pakde “Ngeblog adalah ibadah” adalah sebuah adagium yang nggak boleh ditawar-tawar.

“Luruskan niat! Jangan ngeblog demi duit. Jadikan ngeblog adalah sarana untuk ibadah, berbagi ilmu. InsyaAllah, rezeki termasuk duit akan mengikuti,” gitu kata Pakdhe. Well said!!

Alhamdulillah, senam jempol selama acara, membawa saya jadi pemenang live tweet, ihiiiiirrr!

3. Finally! Meet up dengan mamak2 kece dari Mommiesdaily

Siapa sih, emak di jagat Indonesia yang enggak kepo dengan mommiesdaily dot com? Saya aja, emak yang enggak gaul blassss, masih suka menerbitkan asa pengin jadi emak ngehiiitsss abad ini, dengan kepoin tuh situs. Keren bingits emang. Dengan begitu asiknya, para emak kece di sono bikin artikel2 yang bikin envy to the max. Mulai dari OoTD alias Outfit of The Day, info2 liburan, pose2 yoga yang alamakjan, info2 stroller, perawatan bayi dan printhilan lainnya yang bikin gemezzzzz :))

Makanya, pas saya tahu ada info MD mau bikin #MDLunch di Ciputra World, waduuuh, saya udah yang kayak mau ketemu gebetan! Gimana caranya, saya kudu datang di acara itu. Wajib banget buat poto bareng mommy-nya Langit yang keceee ituuuh :))

Daaan, lagi-lagi lantaran jempol yang sabar menerima nasib akibat ambisi tak berkesudahan sang kanjeng ratu, Alhamdulillah… saya menang live tweet dan dapat segabruk hadiah dari Mothercare *hepi*

Owkeh.

Demikian update-an acara-acara yang saya datangi di penghujung 2014. Tentu, tahun 2015 pengin lebih kece lagi yak. Ini saya lagi susun PROPOSAL HIDUP untuk kemudian saya ajukan ke SANG PENGGENGGAM KEHIDUPAN, sebagaimana yang dilontarkan oleh Pak Jamil Azzaini.

Have fun, everyonee…!!

Uncategorized

“Sakitnya Tuh di Sini, Di Dalam Gigiku…. “

Sakitnya tuh di sini… di dalam gigikuu….

Setengah meringis, Sidqi, anak saya, megangin pipinya. Tampang doi aneh banget deh. Antara pengin nangis, tapi… sekaligus sambil nyanyi dangdut “Sakitnya tuh di sini.” Sebagai emaknya, saya bingung gimana mau bersikap. Galau level dewa dong. Antara ngerasa kasihan, tapi juga pengin ikut ketawa membahana, bwahahaha… *ups*

Maap ya Nak. Abisss… kamu lucu banget deh, lagi sakit kok ya sempat-sempatnya nyanyik, hihi.

Eniwei, sakit gigi tuh sama sekali enggak bisa dianggap enteng loh. Manaaa, manaaa itu Bang Meggy Z yang nyanyiin tembang “Daripada sakit hati lebih baik sakit gigi ini??” Olala Bang… Seriusss lo lebih milih sakit gigi??

Duh, duuuh, kalo aku sih ogaaah.. Ya ogah sakit hati, ya ogah sakit gigi. Rugi amiiiirr 😛

Makanya, saya rajin nyap-nyap  ke Sidqi, soal pentingnya menjaga kebersihan mulut. Salah satu cara mengedukasi bocil adalah dengan menayangkan lagu “Gosok Gigi” ala Upin & Ipin. Yuk, cuzzz ke youtube :))

Tahu gak, bahwa ternyata jumlah pasien anak dengan kasus sakit gigi dan rongga mulut cenderung meningkat. Padahal, kata Ketua Umum Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Zaura Rini Anggraeni, upaya pencegahan penyakit ini sudah digalakkan sejak 1951 lewat program di sekolah. Nah lo… sudah 60 tahun, neik!

”Meski sudah 60 tahun program itu dijalankan, nyatanya persoalan kesehatan gigi pada anak masih menjadi masalah besar. Padahal, gigi dan mulut adalah gerbang kesehatan tubuh. Gangguan gigi menjadi faktor risiko penyakit kronis seperti gagal ginjal, diabetes, dan gangguan jantung,” kata Zaura Rini, sebagaimana dikutip kompas.com.

Iya loo… Ternyata, di gigi kita ini ada syaraf-syaraf yang berkaitan dengan organ tubuh lain. Kalau gigi nggak dirawat dengan baik, komplikasinya bisa dahsyaaat bingitss, bisa mengakibatkan berbagai penyakit kronis, termasuk kanker mulut! Whoaaa…!

Kalau dilihat dari kelompok usia, bocil-bocil alias bocah cilik yang berusia di bawah 12 tahun paling rentan terkena penyakit gigi mulut. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 76,5 persen anak-anak menderita penyakit gigi dan mulut. Itu artinya, 24 juta anak pernah mengalami sakit gigi dan mulut, 90 persen di antaranya berupa karies.

Bbeeeughh, sudah waktunya para emak menggalang kekuatan! Untuk apa? Ya, kita kudu banget mengedukasi siapapun—utamanya anak kita sendiri—bahwa kudu ada revolusi mental dalam merawat gigi! Kalau kita cuekin begitu saja, bakal berdampak amat sangat berat! Maklumlah, layanan kesehatan gigi kan mahal amir ya booo…

”Dengan asumsi ada 16 juta kasus gigi berlubang dan biaya tambal Rp 100.000 per gigi, biaya untuk tambal dua gigi Rp 3,2 triliun,” kata Zaura Rini. Walah daalaaah, gilingaan… Yuk, ah.. ketimbang bikin anggaran kesehatan jebol, mending kita lakukan beberapa hal berikut ini.

  1. Atur gaya hidup dengan baik

Lihat deh, gaya hidup kita masa kini. Ngajak bocil nongkrong di fast food. Minumnya? Kalau nggak soft drink yang manis dan mengandung soda asam, maka bocil-bocil bakal menjilati es krim. Lagi-lagi manis dan rentan bikin gigi jadi nyut-nyutan. Camilannya? Wohooo… banyaaak yang demen makanan penuh dengan bahan pengawet, pemanis buatan, produk pabrikan yang sama sekali nggak kasih benefit dalam hal nutrisi dan justru bikin gigi makin menderita!

Lalu.. lihatlah fenomena para ABG masa kini. Pada doyan pakai behel, cuma untuk gegayaan doang. Tsailaaah… plis dweeeh…

Karena itulah, saya ngajak diri sendiri untuk kembali ke bahan pangan yang alami dan menyehatkan. Kalau emang belum ada budget untuk beli yang organik-organik, yeah minimal kita beli bahan pangan “beneran”, yang belum diolah pabrik. Yang beli di pasar gitu loh. Dimasak sendiri, jadi insyaAllah kita bisa tahu takaran yang pas. Gulanya, zat-zat gizi di dalamnya bisa kita kontrol dengan baik. Gaya hidup yang lain juga kudu diperbaiki. Kalau memang enggak perlu pakai behel, ya gak usah pakai dong. Jangan sampai kita kasih behel ke anak sekedar untuk aksesori. Kenapa? Soalnya, pemakaian yang tidak tepat justru bisa memicu kerusakan email gigi dan rahang.

  1. Selalu minum air mineral setelah mengonsumsi makanan

Rongga mulut kita rentan diserbu pasukan kuman apabila berada dalam kondisi yang nggak oke. Sebaiknya, kita selalu menyikat gigi setiap 20 menit setelah makan. Supaya kondisi rongga mulut jadi bersih. Naaah, the problem is, nggak setiap saat kita bisa sikat gigi tho? Karena itulah, drg Taufan Bramantoro (pakar gigi dari Unair Surabaya) menyarankan kita untuk minum air mineral setelah makan APAPUN. Air mineral ini lumayan bisa membantu proses “bersih-bersih mulut”. Lumayan laaah….

  1. Perbaiki Kebiasaan Menyikat Gigi

Did you know, bahwa 1 dari 4 penduduk Indonesia punya masalah pada giginya. Sebanyak lebih dari 90% masyarakat Indonesia sudah punya kebiasaan menyikat gigi. Tapiii, sayang banget, hanya 2% yang caranya benar! Waduh. Untunglah, drg Taufan kasih tips bagaimana menyikat gigi yang baik dan benar.

Yang harus banget kita ingat, kebiasaan menyikat gigi kudu dilakukan setelah makan pagi dan sesaat sebelum tidur malam. Hayooo… siapa yang males sikat gigi pas mau bobok malam? Hahaha… Sidqi banget tuuuh… No wonder, gigi doi pada acakadut, karena diserang bakteri akibat sisa makanan yang menumpuk, lalu membusuk. Yaikss!

Trus, kalau lagi gosok gigi, usahakan banget untuk selalu memandang ke arah cermin. Mau narsis, cyiin?? Bukaan.. Cermin ini fungsinya supaya kita bisa mendeteksi bagian gigi yang masih kotor atau masih adakah sisa makanan yang tertinggal? Biar maksimal gitu loh.

Lalu, lalu, ketika gosok gigi kudu satu arah ya. Supaya tidak merusak gusi. Eh iya, kalau mau pakai mouthwash, ada tekniknya lho. Kita kudu berkumur dengan bibir mengatup dan gigi tertutup rapat. Yang nggak kalah penting nih, wajib pilih produk kesehatan gigi yang oye!

Biar lebih gampang diingat, drg Taufan merangkup tips gigi sehat dalam “3 S”

Yang pertama : Sikat gigi 2x setelah makan pagi dan sebelum tidur

Yang kedua: Sabar dan menikmati proses menyikat gigi. Jangan terburu-buru, justru proses menyikat gigi yang benar, apabila kita sekaligus ‘memijat gusi’. Dan ini dilakukan kurang lebih dalam waktu 2 (dua) menit

Yang ketiga : Suka minum air putih setelah makan

3s

Bersyukur banget, beberapa waktu lalu, saya ikutan acara Sweet Tooth, Treat Tooth! yang digelar Systema di Surabaya. Ternyata, pasta gigi Systema dari Systema Advanced Oral Care System adalah pilihan terbaik. Produk buatan Lion Japan ini dibuat dengan teknologi kalsium nano. Apa sih kehebatannya? Oh, Teknologi ini bisa menutup lubang super kecil pada gigi dalam waktu 14 hari. Pasta gigi Systema Nano punya kepadatan yang lebih rendah. Fast action system membuat pasta gigi ini lebih cepat menyebar ke seluruh permukaan gigi dibanding pasta gigi pada umumnya.

Wah, waaah… keren kan? Kita bisa punya gigi yang sehat ala Neng Maudy Koesnaedi itu!

Eh, masih ada lagi nih keunggulannya. Kandungan erythritol dapat mengurangi plak secara efektif. So, hayuk deh, ucapkan bye byeee pada sakit gigi akibat gigi berlubang, atau rasa nyut-nyut gak jelas di gigi dan gusi kita.

Selain pasta gigi, Systema Nano juga siap memberikan perlindungan gigi secara menyeluruh lewat rangkaian produk sikat gigi dan mouthwash.

Kalau kita sudah menjalankan berbagai tips di atas dan pakai produk yang tepat, dijamin deh, nggak akan ada lagi theme song ala Sidqi “Sakitnya tuh di sini… Di dalam gigikuuu…..”

banner

Uncategorized

“Mantra” Sakti untuk Finansial Kita : Insyaf + Irit + Invest

Gaji kamu berapa?

14 koma

Woww, 14 juta lebih? Keren!

Bukan. Maksudnya, gajiku itu, tanggal 14 sudah koma

*krik krik*

Bwahahahaha… Sediiih kakaaak, kalo sampe ngalamin kejadian seperti di atas. Gaji bulanan ternyata sama sekali nggak jadi solusi hidup sehari-hari. Lha wong tanggal 14 sudah koma. Trus, yang tanggal-tanggal berikutnya, mau bayar pakai apa, coba?

Continue reading ““Mantra” Sakti untuk Finansial Kita : Insyaf + Irit + Invest”

Uncategorized

Sensasi Headline Kompasiana

Mau pamer-pamer di mari boleh yak? Boleh dong. Blog-blog sendiri ini, hihihi.

Seperti yang saya bilang di sini konsentrasi per-blogging-an saya terpecah-belah belakangan ini. Berusaha #SemangatNgeblog di blog ini tapi yaaa… gitu deh, kok rasanya rada-rada di-PHP-in yak? Bayangkan, hingga detik ini, jangankan jadi Headline (HL), masuk di “postingan terbaru” aja kagak. Doh. Atiiitttt kakaak…

Padahal, menurut saya nih, postingan-postingan saya nggak jelek-jelek amat kok sesuai orangnya. Beberapa kali saya posting soal tips & trik ide postingan kalo lagi ‘mati gaya’.

Kali lain, saya berbagi kalimat bijak *haisssh* soal bagaimana memenangi hatimu kontes/lomba/kompetisi blog.

Dan, gegara mupeng banget ter-Headline, daku pantengin loh, pergerakan detik ke detik, menit ke menit di Blogdetik ntuh. Daaan, apa yang terjadi sodara-sodara??? Seperti yang aku bilang di atas, JANGANKAN HL, wong postingan terbaru aja kagak masuuup :((

Heran deh.

Ya sud. Karena mutung bin pundung, *hehe* saya lebih konsen di Kompasiana wae lah. Kemarin udah setor beberapa postingan yang masuk Highlight.

Tapiii, malam ini sodara-sodara, postingan saya tembus di HEADLINE, jedeerrrrr!!

HEADLINE KOMPASIANA

Yuk, yuuuk, mumpung masih angeeeet, silakan loh mampir dan komen di lapak saya 

Etapiii, kudu punya akun Kompasiana yak. Gampiiil banget kok bikinnya. Kita bisa seseruan di sana, daaaan.. lagi banyak kontesnyaaa, hahahah…. *teteuppp*

Uncategorized

“Me-Time” Playlist

Huumpppftt!!

Kendorkan urat syaraf sejenak. Isu-isu yang berseliweran rentan bikin kepala meledak. Masalah kurikulum, BBM plus TDL yang konon kabarnya juga bakal naik, rusuh-rusuh di timeline yang enggak tahu kapan kelarnya.

Baiklah. Biar siang yang mendung di Surabaya ini menularkan adem di jiwa, yuk mari kita ubek-ubek tembang apa aja yang selama ini nangkring di hatiku. Eh, tapi, kamu juga nangkring di hatiku kok. Iya, kamu.. #ter-dodit

Postingan ini terinspirasi dari sesama klan Nurul *halah*. Yap, tengkiuuu mak tjantik Nurul Wachdiyah *hugs*

1. “From The Bottom of My Broken Heart” by Britney Spears 

Buat saya, inilah Britney yang paliiiing cantik. Wajahnya amat-sangat-innocent. Kalem. Gak neko-neko. Walopun lagunya menye-menye, tapi IMHO easy listening dan yaaa.. nancep gitu deh. Pas buat ‘nina bobo’-in diri sendiri, sambil ‘puk-puk’-in para korban PHP #eaaa.

2. All of Me by John Legend

Awww! Lagu iniii… sungguh terkutuk! Terngiang-ngiang terus di kuping iiih! Dan, saya paling demen ama yang versi John Legend feat Lindsey Stirling ini. Love All your perfect imperfections! 🙂

3. “I want to Spend My Lifetime Loving You” by Tina Arena & Marc Anthony “

Duet yang mantap surantap! Anang-KD, eeh… Anang-Syahrini, eeehhh… Anang-Ashanty, eehhh… Anang-Aurel, lewaaaatt deeeh 😛

4. “Heaven” by Brian Adams 

Sukaaa sama semua versi “Heaven”. Tapi, yang Brian Adams live ini, gak tau, kok manisss banget yak? Simpel. Akustik. Bener-bener ‘heaven’

5.  “She” by Elvis Costello

Kalo ga salah, ini OST-nya Pretty Woman. Sukaa sama semua OST-nya, termasuk yang It must have been love

6. Don’t Dream It’s Over by Sixpence None the Richer 

Mbaknya nyanyi dengan males-malesan hahaha… Tapiii malah bikin hatiku mengharu-biru, hihihi.

7. Foolish Games by Jewel 

Saya mulai demen ama lagu ini pas duduk di bangku SMA, kalo ga salah. Ga tau ya, zaman-zaman itu, yang nyangkut adalah tembang kalem, punya efek menenangkan mirip kayak Jeung Jewel ini.

Ahaaaiii… jadi pengin posting lagu-lagu “me-time” kan?

Silakeuuun looh… Kita bisa menakar preferensi musik, artis teridola, plusss zaman dimana kita lagi mereguk indahnya masa remaja *haiyaaah*

:))

Fiction, fiksi

[Fiction] BIMBANG (part 4)

BIMBANG (PART 4)

Cerita Remaja edisi lalu:

Ketika ayah Salma tengah dirawat di RS, Raditya dan Arya datang menjenguk. Suasana canggung tak terelakkan. Salma juga sempat “disidang” oleh ibunya. Yang jelas, hati orang tua Salma tetap terpaut dan condong pada Raditya. Sementara nama Arya, masih tak kunjung hengkang dari hati Salma.

Jika ingin baca cerita part 1, 2, dan 3 silakan kunjungi ini

“Saudara Raditya Abdurrahman bin Tole Suprapto. Saudara saya nikahkan dan kawinkan dengan putri kandung saya, Salma Khadija Salsabila binti Ganjar Adhyatma, dengan mas kawin senilai satu juta rupiah, dibayar tu…nai!”

“Saya terima nikah dan kawinnya Salma Khadija Salsabila binti Ganjar Adhyatma, dengan mas kawin tersebut, tunai!”

“Sah?? Sah??”

“Saaaahhh…!!!”

“Tunggu…!!”

Tergopoh-gopoh, seorang pria klimis mendatangi meja akad nikah. Nafasnya tersengal. Namun, itu tak mengurangi sorot matanya yang tersiram bara amarah.

“Mana Salma? Kenapa Anda-anda yang ada di sini tidak bertanya pada Salma? Bagaimana menurut dia? Apakah dia rela dan siap dengan pernikahan ini?”

“Arya!” aku berseru tertahan. Gila nih orang.

“Salma. Kamu punya hak dalam pernikahan ini! Saya tahu persis, kamu sebenarnya tidak mau menikah dengan Radit kan? Kamu masih menunggu saya kan?”

“Arya…! Cukup, Arya…!”

“Salma. Love is really worth fighting for, being brave for, risking everything for. Obstacles are placed in our way to see if what we want is really worth fighting for.”

“Aryaa….!! Stop it, Arya…!!”

Tell them. Bilang pada keluarga kamu, kalau hati kecilmu memilih saya. Bukan Raditya. Katakan Salma. Kamu masih punya kesempatan…”

“Aryaa… Hentikan…!!”

“Salma, this is your last chance…!”

“Aryaaaa….!!”

***

“Salma! Bangun! Istighfar, Nak… Istighfar…!!”

Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Aku bangun dengan nafas memburu. Masya Allah… Kenapa aku ini? Yang barusan itu…. mimpi? Aku melakoni ijab qabul dengan Raditya, kemudian Arya hadir dan mengacaukan suasana? Astaghfirullah….

Aku terpekur dalam kepiluan yang sangat. Dua laki-laki itu, sungguh telah mencerabut akal sehat.

“Salma. Minum dulu Nak. Ambil wudhu. Sholat tahajud ya.”

Ibu menatapku prihatin. Kasihan “malaikat”-ku ini. Di saat Ayah sedang sakit fisik, putri semata wayangnya tengah sakit psikis.

***

Aku melangkah gontai menuju mushola rumah sakit. Banyak keluarga pasien yang nunut “meluruskan punggung” di sini. Bersiap tunaikan tahajud, samar-samar aku menangkap satu manusia yang tengah mengangkat kedua tangan, berucap doa dengan begitu khusyu’ diselingi isak yang tertahan. Lalu, laki-laki itu sujud, lamaaa sekali. Kemudian, ia bangkit lagi, bertahajud masih dengan isak, khas seorang hamba yang begitu pasrah dan berserah pada Sang Maha Tuan.

Aku kenal laki-laki itu. Dia yang tadi berjabat tangan dengan Ayah, dalam mimpiku barusan.

***

Hari beranjak pagi. Wajah kami terhiasi senyum penuh kelegaan. Ya, dokter mengizinkan ayah pulang. Tak sabar aku menginjak “surga dunia” kami. Rumah mungil yang begitu padat oleh cinta, yang terhambur dari tiga penghuninya. Ow, lebih “sempurna” lagi, karena ternyata, om dan tanteku juga tengah berkumpul di rumah kami. Menyambut kedatangan ayah.

Aroma cinta menguar di mana-mana. Ini yang paling aku suka dari keluarga besar ayah dan ibu. Meski tinggal berjauhan—ada yang di Sumbawa, Medan, Banjarmasin, Jakarta, dan sebagian di luar negeri—setiap ada kabar baik ataupun buruk, mereka selalu berusaha untuk peduli. Minimal, meringankan beban dengan transfer sejumlah rupiah. Kalau rezeki melimpah, dipadu izin sang waktu, maka om dan tanteku ini akan saling berkunjung. Bersilaturahim. Semuanya. Seolah kami sedang merayakan Idul Fitri saja.

“Abang sehat kan ya?? Waduh, mau mantu loh, dua bulan lagi. Dijaga kondisinya Bang…”

“Salma, kau harus jaga kesehatan ayahmu ini… Jangan bikin ayah ibumu pening lah Nak… Gimana? Kau sudah siap kan jadi pengantin?”

“Wah… kenapa musti dua bulan lagi sih kawinannya? Kenapa enggak sekarang aja? Kan kita semua sudah pada ada di sini. Dimajukan sajalah…”

“Hahahaha….”

Gayeng. Mereka semua melemparkan joke, gojlokan, apapun itu, dengan cara yang really lovely. Tapi, beberapa detik kemudian, Om Hafidz—pamanku yang (sesuai namanya) memang seorang penghafal Qur’an—mengajukan sebuah dalil yang menonjok.

“Salma. Om mau mengutip satu sabda Rasulullah. Beliau bersabda: ‘Jika datang kepadamu orang yang engkau ridha diin (agama) dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia segera. Karena kalau tidak, akan menimbulkan fitnah dan kerusakan.’ Kalau om lihat, insyaAllah, Raditya adalah pribadi yang sholih. Akhlaknya luar biasa. Om juga punya beberapa kenalan di Surabaya yang khusus Om tugasi untuk menginvestigasi Radit. Tidak ada berita buruk soal dia. Jadi, apa lagi yang kau tunggu? Tentu kita tidak ingin fitnah dan kerusakan akan timbul karena pernikahan yang berjarak jauh dari masa khitbah. Kalau pria yang sesholih Radit tak kunjung menjadi suami kamu, maka kepada siapa lagi seorang muslimah shalihah seperti kamu akan dipersembahkan?”

Jleb.

“Om Hafidz bener tuh…. Tiket pesawat Medan-Surabaya itu mahal… Tante setuju lah kalau kau majukan sekarang…”

“Ayeee…ayeee…. Gimana Salma?”

Aku menunduk. Tak siap menghadapi “tuntutan” dari para om dan tante. Mereka masih membombardir kami—aku, ayah, dan ibu—dengan ide “memajukan tanggal pernikahan”. Bagaikan kumpulan lebah yang baru saja keluar dari sarangnya, kalimat mereka terus menguing, tak menyisakan kesempatan bagi lisanku untuk menjawab “Tidak”.

“Assalamualaikuuuum, yuhuuuu….Salmaaaa…. darliiing….”

Alhamdulillah. Pertolongan Allah selalu datang di saat genting seperti ini. Tante Sabrina. Dialah “dewi penyelamat”-ku hari ini. Tante Brin, begitu aku biasa memanggilnya, adalah adik bungsu ayah. Tipikal fun fabulous lady, yang terus meniti jalan di belantara karir. Sekarang dia tinggal di Singapura. Bekerja jadi salah satu fashion stylist di sebuah majalah mode terkemuka. Syahrini kw super. Begitu biasanya om dan tanteku meledek tante centil ini.

“Ulala… Semua pada kumpul di sini yaaa.. Duh, Surabaya, panasnya cetharr membahana…”

Tuh kan. Baru nongol, udah “kumat”.

“Haii, Salma… Apa kabar lo, darling, dadar guling? Xixixi, mana calon laki lo? Gue udah gak sabar nih, pengin bully dia. Pengin kasih tahu kalo Salma ini aslinya jorse alias jorok sekali… Trus, Salma ini kalo tidur ngorok, xixixi….”

“Brin!” Om Hafidz bersuara, “Kamu tuh kerjaaaa aja yang dipikirin. Salma ponakan kamu udah mau nikah. Kamu sendiri, udah umur 40 lebih masiiiih aja gaya centil kayak ABG. Sadar umur, Brin… Cari jodoh noh! Jangan cari duit mulu!”

Ah, Tante Brin. Thanks for coming. Walaupun tante sudah mem-bully aku, at least perbincangan tentang nikah dipercepat tak lagi jadi topik utama.

***

Satu-satunya tante yang asyik diajak curhat ya si Tante Brin ini. Walaupun endhel nggak pakai takaran, tanteku ini insyaAllah sangat bisa menjaga rahasia “klien” curhatnya. Setelah panjang lebar kujelaskan soal Raditya vs Arya, Tante Brin mendesah pelan.

“Lo itu mirip gue banget. Tahu nggak, kenapa sampai sekarang gue nggak merit-merit? Ya kayak lo gini, kebanyakan galaunya, hahaha…”

Dahiku mengernyit. ”Jadi, nurut tante, aku musti gimana?”

“Lo udah bikin analisa SWOT?”

“Hah?!?”

“Iya…! Penting banget tuh. Lo analisa Strength, Weakness, Opportunities dan Threat dari dua cowok yang terkiwir-kiwir ama dirimu itu. Ntar kamu analisa deh. Mana yang paling oke, mana yang di mata lo bisa bikin lo bahagia.”

Selain endhel, ternyata kadar lebay tanteku juga overdosis.

“Gue serius, Salma. Memilih jodoh itu emang tricky. Kadang, yang tampak baik di mata kita justru enggak baik buat hidup kita, dan keluarga kita. Please note, bahwa lo juga kudu cari jodoh yang bisa bikin ortu lo bahagia. Lo nikah bukan cari suami buat lo sendiri, tapi juga jadi ‘anak baru’ buat ayah-ibu lo. Sometimes, we have to compromise. We don’t merely rely on our feelings, but also consider our parents. Berat, memang. Tapi… ya… gimana lagi…”

Andai memilih jodoh semudah menghitung kancing….

“Jadi, jadi, kalo gue lihat, Abang Ganjar dan Mbak Elly lebih suka ama Raditya kan?”

Aku mengangguk lemah. That’s the fact. Gak ada yang bisa disembunyiin dari tante Brin.

“Ya udin. Lo ambil aja tuh Radit. Gue kagak datang pas lamaran lo siiih, jadi sampe sekarang gue juga kagak tahu bentuk doi kayak begimane. Tapi, kalo ngeliat the way your parents adore him so much, sangat jelasss banget, kalo mereka berdua tuh udah ‘klik’ ama Radit.”

Kalimat Tante Brin sangat masuk akal. Realistis. Nyaris tak bisa dibantah. Is it the right clue? Is it time to let him go? Let Arya find another lady?

“Eh, btw, sayy… Kalo lo sama Radit, si Arya kan nganggur tuh. Kasian kalo dia bulukan. Gimana kalo Arya buat gue aja? Ide bagus kan? Kan? Kan?” (bersambung)

Uncategorized

Lika-Liku Korupsi di Republik Kami

Ketika KPK mengumumkan penangkapan koruptor, kemudian menggelar konferensi pers, lalu beritanya disiarkan di segala media massa, ada dua rasa paradoks yang bergemuruh di dada.

Di satu sisi, saya bersyukur, “Rasain!! Dasar rakus! Suka makan harta negara.. Nah lo, akhirnya ketangkap juga kan?” Lalu, saya dilanda fanatisme akut pada lembaga antirasuah ini. Sambil bernyanyi kecil, “KPK di dadakuuu… KPK kebanggaankuuu….”

Akan tetapi….di sisi lain, ada rasa yang menerobos begitu saja, tanpa diminta. Rasa pedih. Perih. Dan tersakiti. ”Astaghfirullah… Jadi jumlah koruptor bertambah lagi? Kok nggak tobat yaaa? Kok nggak ngerasa bersalah, hidup bermewah-mewah sementara rakyat buat makan sehari-hari aja susah?”

Saya selalu terperangah, membaca berita dengan terengah-engah, lantaran ulah para koruptor yang selalu bikin jengah.

***

Flashback ke tahun 2009

“Loh, ibuk… Ibuk…! Ibuk kan belum bayar kelengkengnya? Kok udah dimakan sih??”

Kelengkeng yang tengah saya kunyah, seolah-olah siap nyangkut di tenggorokan. Manusia seisi pasar menoleh ke arah kami. Menyaksikan seorang emak yang lagi “disidang” anaknya, gegara satu butir kelengkeng.

“Sstt, Sidqi… jangan keras-keras ngomongnya… Ini Ibuk kan cuma ngincipin ajaa…”

“Iyaa… tapi ibuk kan belum bayar… Dosa loh, ibuk…”

Ya ampuuun, nih bocah…! Pengin aku pitess deh… Si bakul kelengkeng senyam-senyum geje alias gak jelas. Doh. Saya yakin, mereka berdua—si bakul dan Sidqi—sedang terlibat konspirasi untuk mempermalukan saya!

“Ya udah. Ini ibuk beli 1 kilo deh, sama sekalian yang incip-incip tadi, ibuk bayar…”

“Naah, gitu dooong…”

***

Waktu itu, Sidqi masih berumur 4 tahun. Masih duduk di bangku TK. Entah apa yang membuat dia begitu kritis sedemikian rupa. Barangkali karena jiwa kanak-kanak masih sedemikian suci. Putih. Tulus.

Apa sih ambisi seorang bocah TK? Menang di lomba ini dan itu? Walah, haqqul yaqin deh, yang punya ambisi ini adalah emaknya *ngaku*

Karena itulah, kita harus belajar pada anak kecil. Belajar untuk kembali menyelami jiwa-jiwa mereka yang begitu tulus, ikhlas, tanpa tendensi. Anak kecil tak pernah menuntut orangtuanya untuk hidup bermewah-mewah. Anak kecil (yang masih genuine, tentu saja) sudah cukup merasa bahagia apabila kita meluangkan waktu untuk sekedar bercengkrama dengan mereka.

Dan, lihatlah. Si bocah umur 4 tahun itu, sudah bisa mengingatkan saya tentang “korupsi kecil-kecilan” yang “tidak sengaja” saya lakukan.

***

Tahun 2010

Om saya mencak-mencak. Raut mukanya memerah. Nafasnya tersengal, seolah menahan amarah yang siap tumpah.

Kowe niat gak, ngrewangi om-mu iki?” (Kamu niat nggak, membantu om-mu ini?)

Tangannya menunjuk-nunjuk ke arah Dirgo—sebut saja begitu—kemenakannya yang tengah ia “sidang”.

“Katanya kredit untuk rakyat kecil? Mana?? Buktinya, kalian malah mempermainkan duit bantuan 75 juta. Yang 40 juta buat penerima kredit, dan 35 juta mau dibalikin ke bosmu?? Ra sudi, aku! Wis kono, panganen duit-duit iki! (sudah sana, makan saja uang ini)”

Dirgo masih menunduk.

Sepupu saya ini seorang staf bagian kredit untuk masyarakat marginal. Ia berbaik hati memberi informasi ke om saya yang hendak beternak lele. Setelah melalui screening yang ketat, usaha om saya berhak dapat suntikan kredit. 75 juta, jumlah yang amat lumayan bikin om merasa girang. Tapi, tunggu dulu. Dengarkan apa kalimat Dirgo yang membuat om meradang, ”Kata bos saya, yang 40 juta dialokasikan untuk Om. Tapi, 35 juta adalah uang operasional untuk tim kami.”

Sumber: FB GNPK-Pusat
Sumber: FB GNPK-Pusat

***

Entahlah, azab apa yang tengah menimpa masyarakat republik ini. Muak telinga kita mendengar kata ‘korupsi’ berjejalan setiap hari. Saking seringnya, seolah-olah kita kebal, dan permisif dengan aneka bentuk korupsi. Oh, ada berita korupsi lagi.. Ya wajar laah… Indonesia gitu lo….Bahkan, Abraham Samad melabeli para anggota DPR sebagai “perampok yang mahir” alias “penjahat yang profesional”.

Naudzubillahi min dzalik.

Yang mengerikan adalah, banyak di antara para koruptor yang merasa tidak sedang menerima harta haram. Mereka berdalih, “Saya kira ini adalah hibah.” Sama sekali tidak berdesir rasa dosa di dada, ketika gratifikasi beraneka rupa singgah di rekening mereka.

Dari daftar CPI Tranparansi Internasional, Indonesia duduk di peringkat 107 dari 175 negara. Posisi negara kita, jauh berada di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand.

Bagaimana kita bisa melawan korupsi?

Ada baiknya kita melihat India. Dikutip dari BBC Indonesia, kepolisian Delhi, India sedang menyelidiki lima polisi yang diduga terlibat korupsi. Laporan itu datang dari layanan instant messenger whatsapp.  Maka, kita juga sangat bisa mengikuti jejak masyarakat India. Menunjukkan kepedulian kita, bahwa korupsi adalah penyakit mengerikan yang harus dibasmi dari muka bumi.

Kita bisa melaporkan setiap perbuatan korupsi ke website KPK Whistleblower’s System di https://kws.kpk.go.id. Atau, Anda juga bisa melaporkan ke berbagai lembaga anti-korupsi di republik ini.

4962_infografis_koruptor_disekeliling_kita_laporkan_777x1600

Beginilah seharusnya kita melawan korupsi! Media sosial kita fungsikan secara optimal, bukan untuk sarana nyinyir atau menebar kebencian. Teknologi adalah “pisau tajam” yang sangat bisa kita gunakan untuk “mematikan” virus korupsi. Seperti kata Pak Nukman Luthfie, salah satu praktisi media sosial, bahwa teknologi yang semakin canggih seharusnya menyulitkan orang untuk berbuat korupsi.

Kita sangat bisa menggaungkan semangat anti-korupsi, mulai dari diri sendiri, keluarga, rekan kerja, komunitas, tetangga satu RT, jamaah masjid….

Gerakan anti-korupsi harus digalakkan sejak dini. Anak muda kudu dibombardir dengan segenap informasi, supaya mereka aware dan tidak abai dengan beragam kasus korupsi. Salut dengan tim KPK yang terus-menerus melakukan edukasi. Salut dengan para pekerja seni yang menuangkan ide untuk mengambil sikap anti-korupsi.

Salut dengan aksi-aksi serta advokasi yang dilakukan Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GN-PK). Yang terus menunjukkan dedikasi, kredibilitas, komitmen dan keikhlasan yang tulus dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi.

“Rusaknya sebuah negara bukan karena banyaknya orang jahat yang berkuasa, tapi karena banyaknya orang baik yang diam” (Anis Baswedan)

Masih mau berdiam diri melihat beraneka kasus korupsi? Do something! Paling tidak, kita mengedukasi dan menyebarkan semangat kepada masyarakat, agar peduli dengan berbagai kasus korupsi.

Lakukan apa yang kita bisa. Lola Amaria dengan film edukasi anti-korupsinya. Kikan dan Slank dengan lagu-lagunya yang menyuarakan semangat anti-rasuah. Saya dengan postingan blog ini. Dan, Anda?(*)

Tunjukkan Semangat Anti-Korupsimu bersama Lomba Blog GN-PK. Info lengkap di sini