Jiwa Sehat Sentosa Paripurna dengan Rutin Ngeblog dan Menulis!

Terminologi “Mental Health” trending banget ya Rek? Terutama sejak Rekomendasi Drama Seri terutama drakor merajalela di negara kita gak seehh 😊 Di satu sisi, yah… bersyukur banget karena pada akhirnya beberapa orang jadi aware dan bisa melakukan sesuatu hal yang tepat sasaran. Sadar dan paham bahwa psikisnya lagi nggak baik-baik saja, dan memutuskan untuk seek professional help. Tapii… di sisi lain, beberapa orang kayak meromantisasi mental illness ini, dan jadinya malah over-rated.

Oh, well… begitulah…. Namanya juga MANUSIA 😊 Pasti banyak hal-hal ajaib binti wadidaw yang terjadi di dunia nan fana ini.

Saya sendiri pernah konsul ke psikolog dan psikiater. Entah gimana awalnya, kok saya merasa kayak cemas berlebihan. Ketimbang self diagnose, ya udin, saya daftar aja untuk curhat ke professional. Ngobrol dengan tenang, lalu Ibu psikolog dan Bapak psikiater menggali apa perasaan saya, keluhan saya, yah semacam itu.

Sebenarnya apa yang disampaikan professional di bidang kejiwaan itu bukan hal yang spesifik, dalam artian ya kita bisa baca-baca sendiri lah di aneka website Kesehatan jiwa. Tapiii, yang membedakan adalah “Saya merasa didengarkan”.

Sebelum sesi konsul berakhir, saya diingatkan untuk selalu bermohon dan mendekat pada Allah ta’ala. Yap… sama seperti Film Maker Indonesia , pada hakikatnya, psikolog dan psikiater kan manusia biasa juga… Mereka tidak bisa menjanjikan hal muluk-muluk, atau meresepkan one magic pill yang sekiranya bisa menyelesaikan problema jiwa pasiennya.

“Diresapi bener ya kalau lagi sholat atau berdoa. Kan kita setiap sholat baca al-Fatihah, iyya kana’budu wa iyya kanasta’iin…. Kepada Engkau-lah kami menyembah dan memohon pertolongan…”

“Siap, insyaAllah saya coba untuk lebih tuma’ninah…”

“Kalau betul-betul menjalankan apa isi al-Fatihah, insyaAllah kalbu ini makin tenang. Ihdinasshirootol mustaqiim… Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang betul-betul Allah ridhoi…”

Bener juga. Sehari semalam, paling nggak kita baca al-Fatihah sebanyak 17 kali. Saking ‘biasanya’, jadi baca ala kadarnya. Nggak ada penghayatan sama sekali. Lempeng. Kayak, ya udaahhh, gugurkan kewajiban aja gitu lah. Padahal… al-Fatihah itu sarana kita komunikasi dengan Sang Maha. Mengakui kebodohan dan kerendahan diri, dan bermohon sepenuhnya pada Dzat Penguasa Jiwa Raga. Al-Fatihah adalah medium kontemplasi, sekaligus memberikan “vitamin dan nutrisi jiwa” bagi diri yang kerap (merasa) tersakiti.

“O iyaaa.. Ibu kalau bisa juga boleh bikin journaling, semacam nulis diary gitu. Bisa di kertas atau buku tulis. Atau, kalau Ibu hobi nulis di internet, monggo, bisa juga salurkan apa hal yang Ibu rasa. Tapi Ibu putuskan sendiri ya. Mungkin kalau emosinya sedang memuncak, saya sarankan nulis di diary saja. Kalau perasaan Ibu lebih stabil dan ingin sharing happiness, ya nggak apa-apa, nulis di blog atau platform apa saja di internet. Intinya supaya lega, salurkan perasaan Ibu… jangan dihambat, nanti malah tersumbat ”

Saya manggut-manggut mantab. Noted, salurkan perasaan, jangan dihambat, nanti malah tersumbat. Bisa jadi, kecemasan berlebih ini output dari jiwa saya yang kemrungsung, banyak mau, tapi saya justru berusaha keras untuk denial. Dan, tak bisa dipungkiri, sebagai makhluk yang naif dan bodoh, terkadang saya gampil protes akan takdir yang Allah tetapkan.

***

Rasa tidak nyaman yang kerap menggelegak, harus menemukan katarsisnya. Saya kerap menulis di buku diary, ataupun di Microsoft Word, tapi tidak untuk di-publish. Hanya untuk saya baca sendiri. Atau bikin status di Facebook, tapi saya kunci. Pelan tapi pasti, saya berusaha jujur pada diri sendiri.

Ada beberapa socmed yang frankly speaking bikin saya merasa terintimidasi. Salah satunya, Instagram. Yuk lah kita baca dulu riset tentang dampak buruk Instagram bagi kesehatan mental.

Royal Society forPublic Health (RSPH), lembaga amal independen asal Inggris membuat sebuah survey yang melibatkan hampir 1.500 warga Inggris untuk mengetahui dampak berbagai sosial media terhadap kesehatan mental.

Dari hasil survey, didapatkan kesimpulan bahwa di antara lima media sosial populer (yakni Facebook, YouTube, Instagram, Twitter dan Snapchat) Instagram menempati posisi paling atas sebagai media sosial yang paling punya dampak negatif bagi kesehatan mental.

Kok bisa?

Yap, Instagram adalah media sosial yang tepat untuk mengekspresikan diri lewat macam-macam ide foto, plus ajang buat mencari dan menunjukkan self identity serta membangun relasi. Tapi, sisi gelap Instagram adalah:

Menimbulkan Anxiety. Kalau kita lihat IG teman yang lagi update pergi ke kafe yang kece, have a fancy meal, belanja barang-barang cihuy, terkadang muncul pikiran, “Ih, ngiri deh, dia seneng-seneng melulu  kayaknya”. Iya apa iyaaaa?

Kita sering ngerasa insecure dan nggak happy lihat posting-an orang lain. Padahal, kehidupan di Instagram itu nggak 100% real alias versi setelah dipilah-pilih dan nggak jarang yang ditunjukkan hanya sisi yang bagusnya aja.

Negative Body and Fashion juga terjadi manakala kita terlalu asyik masyuk main di Instagram. Nggak sedikit dari kita yang merasa “Duh, kurang kece nih poto eikeehhh!” saban mau posting di IG, dan melakukan buanyaaaak hal (seleksi, editing, foto ratusan kali demi poto yang perfecto!) Blahhh. Belum lagi kita bingung dengan pilah/pilih baju, aksesoris,dan lain-lainnya demi foto kece paripurna di Instagram. Olala.

***

Padahal kita semua tahu kan, kalau di hari akhir nanti kita akan ditanya “Bagaimana cara kamu mencari rezeki dan gimana membelanjakannya?”

Kita memang harus memilah dan memilih mana yang halal dan baik. Untuk mencari rezeki, nggak boleh ngawur. Harus sesuai dengan syariat dan kaidah yang ditetapkan Allah. Hanya mencari rezeki yang halal dan berkah. Kemudian, setelah rezeki itu ada di tangan kita, cara membelanjakannya juga nggak boleh sakarepe dewe. Ada koridor yang harus kita taati. Jangan boros, karena boros itu temannya setan! Jadi, ketika belanja baju dalam sebulan bisa 20 kali, wadaaaww,hati-hati! Itu jebakan betmen gaes! Setan biasanya membisikkan kalimat-kalimat yang bikin kita tak berdaya.

***

Yap, saya pun berupaya untuk mengubah pola pikir. Ngapain saya mesti insecure, iri, dengki, sirik hanya dengan lihat postingan di socmed?

Kehidupan orang lain mungkin tampak lebih glowing, fun, menyenangkan…. karena BUKAN SAYA yang menjalani day-by-day-nya. Kalau mau jujur, kehidupan yang saya jalani amat baik-baik saja. Yahhh, pastinya ada satu dua tantangan, tapii… selama rasa Syukur dan qona’ah (merasa cukup) itu senantiasa terhunjam dalam jiwa, nggak ada yang perlu bikin risau gundah gulana tho?

Ketika rasa nyaman itu sudah datang, saya pun mulai berani untuk tidak melulu nulis di diary atau zona privat saya. Upaya melakoni terapi berikutnya saya jalankan dengan: Menulis di blog.

***

Maka, artikel yang tersaji di blog ini beberapa di antaranya adalah hasil kontemplasi jiwa yang sempat ‘lecet dikit’.

Berkali-kali saya ucapkan mantra “Rezeki (dan cobaan hidup) sudah tertakar, tidak akan tertukar.” 

Yap… pada intinya semua yang kita terima dalam kehidupan nan fana ini adalah “ujian belaka”. Hanya saja, casing-nya kadang berupa kenikmatan, di lain waktu berupa kepedihan. Ada challenge yang rentan bikin kita mengangkasa, ada juga yang bikin kita nyusruk terpuruk. Saya percaya dan mengamini kalimat “Rezeki (dan cobaan) sudah tertakar, tidak akan tertukar.”

So, yeah… walaupun ada sedikit “turbulensi” dalam jalinan roda hidup yang saya jalani, dengan segenap kekuatan jiwa, saya berucap “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” 

Sepertinya, saya telah MENANG melawan rasa ngersulo, sambat, bersedih, putus asa. Kalaupun pengin menuangkan rasa yang nyrondol-nyrondol dalam dada, go ahead! Goreskan isi hatimu di blog! Kurasi dengan baik, dan berbagilah Bersama para tamu di blogmu.

 Life can be hard. And when it gets that way we have two choices. We can quit or we can absorb the blows and use them to better ourselves and help others.

13 comments

  1. Nah iya setuju banget mba, stop berpikiran kalau keindahan dan ke wah an postingan instagram orang lain itu beneran real life mereka. Aku sih percaya, kalau yang ditampilkan pastilah hanya sekian persen saja dan merupakan part terbahagia (indah). Real life tiap orang pasti punya problematika yang beragam dan jelimet sebenernya, cuma gimana cara orang itu ngadepin dan nampilin lah yang dapat kita lihat selewatan.

    Makasih banyak sudah diingatkan juga buat tu’maninah saat menjalankan sholat. Ini penting sangat, kekuatan jalur langit dan upaya untuk menjaga kewarasan melalui menulis dan jurnaling. Semoga saja tetap sehat lahir batin dengan terus berupaya menjaga keseimbangan sebagai manusia biasa yang butuh mendekat kepada pencipta dan senantiasa bersyukur dengan karunia yang diberikan olehNya 😇

  2. Sambat memang manusiawi ya mbakyu tapi nek kakean sambat ya jadinya kurang bersyukur. Kalo di IG skrg aku lihat sepintas2 aja sih. Malah skrg total punya 4 akun IG wkwkek.

    Journaling emang bagus ya untuk meredakan kecemasan dan mencari akar masalahnya. Tentu dibantu juga dengan mendekatkan diri kepada-Nya.

  3. Terkadang yang kita lupakan saat menjalani hidup dengan segala up and downnya adalah rasa syukur dan qonaah sih emang. Kita lupa, saat kita begitu menginginkan kehidupan orang lain yang dishare di medsos, ada orang lain yang juga menginginkan kehidupan seperti yang kita jalanin.

    Thank you atas pengingatnya, Kak.

  4. Pun begitu mbak denganku. Aku juga makin kesini, makin mencoba untuk santuy dan go with the flow aja, ga terlalu ngoyo untuk menjalani hidup ini. Ngapain capek-capek overthinking, membandingkan nasib kita sama orang lain. Padahal sebenarnya yang ditampilkan orang pun hanya casingnya saja. Isinya belum tentu lebih baik dari kita.

    Btw aku terakhir ketemu psikolog. Dan kurang lebih dapet wejangan begini : “It’s okay to be angry sometimes. Jangan pendam semua emosi, yang ada nanti malah meledak”. Mungkin karena aku anak tengah, kurang dianggep dan seringkali memendam berbagai rasa sendiri ya, hahaha

    Setuju sih tapi, intinya jangan suka kebiasaan self diagnose. Padahal belum pernah ke psikolog sama sekali.

  5. Oh, kalau boleh tahu, konsultasinya sampai ke psikiater dan psikolog, apakah ada perbedaannya? Jujur, dulu aku juga blogging lebih ke curcol pribadi sih, sampai harus disamarkan nama2 dan tempat (sudah seperti naskah sinetron). Lalu lebih banyak dijadikan catatan sudah pernah kemana saja dan menikmati makan. Masih sesekali curcol, tapi tidak terlalu personal. Karena tidak perlu semua orang tahu apa yang ada dalam pikiran kita. Tapi ketika kita merasa bisa berbagi informasi, maka tulislah di blog 🙂

  6. Sudah lama aku tidak menulis santai dan meluapkan semuanya dalam tulisan blog. Mungkin perlu dirutinkan kembali deh

  7. dulu aku pengen ke psikolog cuman ga berangkat-berangkat hahaha

    waktu itu kayak lagi sumpek aja rasanya selama beberapa hari, aku coba tenangin diri, pikir lagi pelan-pelan, lama-lama reda sendiri. Dan aku buat happy aja gitu

    blog buatku juga sebagai wadah journaling, bedanya hanya terpublish di media blog dan bisa dibaca semua orang.

    Lumayan tenang juga kalau misalkan kita curhat di blog gitu, anggap sebagai diary online

  8. Instagram adalah yg paling berdampak negatif buat mental health, tapi masa kejayaannya paling lama diantara sosial media–which is tetap digemari orang dari semua kalangan.

    Anyway mbak Nurul, mau curcol dikit, saat ini saya jarang betul sekrolin IG, entah karena bosan entah karena merasa kurang ada manfaatnya sekrol IG. Rasanya tuh plong gitu hatinya, rasanya kek rumput halaman rumah terhijau se Indonesia Raya hwehehe.

  9. beneran loh blogging itu punya efek terapi yang bisa membuat pikiran kita lebih tenang dan juga lebih fokus, dan membuat cara pikir itu lebih runtut dan juga terstruktur jadi bisa melihat lebih detail dalam berbagai

  10. Ya ampun Mbak, tulisanmu datang si saat yang tepat di saat aku lagi mellow karena teman-teman penulisku pada berprestasi ini itu aku rasanya stuck, padahal kaldu dipikir-pikir aku juga berkembang walaupun mungkin tidak se wow yang lain, aku bisa menulis blog, bisa nulis cerita anak..semoga bermanfaat dan jadi ladang pahala untukku aamiin

  11. Setuju banget. Ini aku rasain banget deh mbak. Aku bisa sehat dan selalu waras karena bisa nulis dan ngeblog. Sebab sebagai ibu 4 anak yang gak ke mana-mana alias gak kerja, pelampiasan jenuh wajib punya. Kalo gak nulis dan ngeblog, udah deh kayaknya bisa gila. Semua unek-unek meledak dari kepala dan dari dada. Alhamdulillah banget ya Mbak…

  12. Setuju banget. Ini aku rasain banget deh mbak. Aku bisa sehat dan selalu waras karena bisa nulis dan ngeblog. Sebab sebagai ibu 4 anak yang gak ke mana-mana alias gak kerja, pelampiasan jenuh wajib punya. Kalo gak nulis dan ngeblog, udah deh kayaknya bisa gila. Semua unek-unek meledak dari kepala dan dari dada. Alhamdulillah banget ya Mbak…

Leave a comment