Dijodohin, Why Not?

Dijodohin, Why Not?

Follow me on twitter: @nurulrahma

Eaaaaa…. judulnya agak-agak provokatif gimanaaa gitu yak? Qiqiqiqi.

Tenang, anak muda… tenaaang. Kali ini, aku enggak bakal ngompor-ngomporin kalian buat segera mencemplungkan diri ke khasanah perjodohan kok. Tapi, cuman sekedar chit-chat alias ngobrol ngalor-ngidul aja, seputar probabilitas kita untuk merit via perjodohan.

Syarat baca artikel kali ini, NO BAPER ya gaes.

Jadi gini. Pas Lebaran kemarin, ada beberapa kalimat agak-agak gimanaaa gitu, yang sering gue denger saban unjung-unjung ke rumah sodara.

“Eh, sekarang gendutan yak?”

“Skripsinya kapan kelar?”

Dan pertanyaan yang paling dramatis adalaaah….

“Kapan kawin?”

#eaaaaa

Sounds so… familiar, eh? Yuk yuk, toast dulu siniiih. Eikeh juga pernah ngalamin ituuuh, cyiiin, huehehehe.

Mungkin karena warga republik Indonesia tercinta ini punya kepedulian luar biasa tinggi nan awesome (baca: kepo) kepada para sanak saudara, sehingga kalimat semacam itu seolah original sound track dalam setiap momen kumpul-kumpul.

Ga tau, rasanya lidah ini enggak bertulang sama sekali gitu yah, dalam melontarkan tanya yang (seolah-olah) biasa-biasa aja, tapi alamakjaaan… efek jleb-jlebnya itu loh, menyandera jiwa! *halah*

Sebenernya ya, para tante-om-bude-pakde itu boleh-boleh aja mengajukan pertanyaan ter-uhuks of the year, yaitu “Kapan Kawin?”

Akan tetapi, alangkah mulianya, bila pertanyaan itu, diikuti oleh solusi yang cespleng.

Setelah nanyain “Kapan kawin?” mbok ya, langsung disertai dengan, “Mau dicariin jodohnya sekalian?”

Noooh. Gitu dooong, baru sip!

Btw, kalo ada yang bilang perjodohan itu udah sooo… last decade banget, alias jadul, enggak kekinian, dll dst, ya sudah… itu pilihan masing-masing lah ya. Kenyataannya, di zaman sekarang, masih banyak kok, orang-orang yang bertemu pasangan hidup, setelah dijodohin.

Selama memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku, well… dijodohkan itu sama sekali bukan aib, dan enggak dosa kok.

img_1462

Mbak, mbaaak…. Ngantri dijodohin, apa siap ngejodohin?

Trus, trus, gimana sist, syarat dan ketentuan dalam perjodohan? Yuk ah, kita kupas satu demi satu.

1/ Niat yang Benar, dari diri kita sendiri.

Oke, kalau memang lo serius ingin dijodohkan, maka kudu jelas tujuan alias niat yang lo usung. Misalnya perjodohan ini pada akhirnya bermuara pada pernikahan, lo kudu memasang niat bahwa ini semua lo lakoni demi menggapai keridhoan Allah.

Jangan sampe perjodohan ini dilakukan hanya karena, capek diledekin jomblo melulu lah, takut dibilang perawan tua lah, dicap bujang lapuk lah, jangan ya, plis… jangan.

Masih banyak niat “enggak bener” lainnya semacam “pengin dijodohin sama orang kaya supaya bisa hidup mewah” waduuuh. Yang kayak begono juga jangan yak

2/ Pelajari Profil pihak perantara, alias yang menjodohkan alias mak comblang.

Jangan mentang-mentang butuh banget dijodohin, lalu kita sembarangan request jodoh ke siapapun! Waduh. Jangan sampe “obral murah meriah” deh. Pihak perantara harus benar-benar orang yang kredibel, beakhlak karimah, punya wawasan plus pemahaman agama yang bagus.

Perantara ini bisa saudara kita (tante/om/bude/pakde) atau ustadz/ustadzah yang mumpuni. InsyaAllah, dengan akhlak yang mulia, kita bisa dikenalkan (dan siapa tahu berjodoh) dengan orang berkualitas baik.

Apabila perantara kita orang yang benar-benar faham agama, dia tidak akan sembarangan mencarikan jodoh buat kita. Masak kita akan dipilihkan pasangan yang berantakan dan nggak paham agama?

3/ Prosesnya kagak boleh ngawur!

Proses perjodohan harus berjalan sesuai syariah. Misalnya, ketika ta’aruf, kita tidak boleh cuma berduaan sama calon. Kita juga wajib berkata jujur. Nggak boleh ada kebohongan, jangan ada yang ditutup-tutupi dengan alasan pencitraan #pret

Kita harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan calon dengan apa adanya. Nah, beda banget kan sama pacaran. Dalam pacaran, yang ada kepura-puraan doang!

4/ Harus yakin, bahwa semua orang pasti punya jodoh, karena Allah menciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan.

Intinya, dalam mencari jodoh, kudu optimis sekaligus tawakkal. Kita optimis bahwa ada jodoh terbaik yang tengah dipersiapkan Allah untuk kita. Selain itu, kita juga kudu tawakkal, benar-benar menyerahkan segala urusan pada Allah.

Yang kudu kita garis bawahi, jodoh itu pasti selevel dengan kita.

Artinya, jika kita orang baik, maka jodoh kita pasti juga baik.

Jika kita orang yang bandel, jodoh kita pasti bandel.

Makanya, kalau punya cita-cita dapat jodoh yang sholih, instropeksi dulu deh. Situ udah sholih/sholihah, belum? #Jleb.

Jangan cuma menuntut dapat jodoh sholih-mulia-dunia-akherat. Kita juga kudu memperbaiki diri, istilahnya nih… meningkatkan kepantasan kita dalam berjodoh dengan sosok yang baik.

5/ Harus meyakini bahwa jodoh itu urusan Allah.

Udah dijodohin, tapi… kok belum ‘klik’ yah? Kok nggak kunjung di-khitbah ya?

Gini, sob. Perjodohan itu hanya ikhtiar alias usaha yang dilakukan oleh manusia. Dan kita tahu, manusia berusaha, Allah yang memutuskan. Maka sedari awal, kita kudu yakin bahwa jodoh itu urusan Allah.

Yakinlah, bahwa Allah memberikan takdir terbaik untuk kita. Jangan menggantungkan diri 100% dengan upaya perjodohan… Tapi juga jangan males berusaha untuk menggapai jodoh kita. Karena yang dinilai Allah adalah usaha dan tawakkal kita dong ya…

Yuk, yuk, semangaaaaattt! Jangan lupa, keep smilee yaaa 🙂 orang enteng senyum biasanya gampang dapat jodoh jugak 🙂

img_1463

 

Advertisements

14 comments

  1. Inayah · September 27

    Heuheu…gimana ya rasanya dijodohin?

    • Mirna Kei Rahardjo · September 27

      uhuk uhuk

  2. denaldd · September 27

    Kurang satu Nurul pertanyaan dramatik pas lebaran “kok belum punya anak?” Aku pernah ikutan perjodohan yg kirim CV lewat ustadzah (taarufan ya namanya), pernah dijodohkan sama anak sahabat ibu (nyaris akan akad nikah), pernah dijodohkan sama sahabatnya sahabat. Dari segala sepak terjang dijodohkan, ketemu suami malah dari arah yg ga disangka2, bukan dari dijodohkan. Memang jodoh itu misteri.

  3. wiwid · September 27

    Adik iparku ketemu istri dari hasil perjodohan lewat suamiku dan temannya 🙂 Alhamdulillah sdh punya anak 1.

  4. Tita Kurniawan · September 27

    He he jodoh itu urusan Allah 😊 bener bgt,,yg pnting kita niat krn Allah smbil terus ngebenerin diri,,biar pantes ama jodoh yg bakal dipilihin Allah😉 Semangat Nurul 👌

  5. nyonyasepatu · September 27

    aku pernah juga dijodohin ama temen ibuku tapi gak berhasil haha

  6. rosa · September 27

    Saya dulu malah ngarep ada yg mau jodohin saya dengan seseorang mbak, terutama orang tua. biar ga pusing nyari sendiri. hihi

  7. alrisblog · September 27

    Yang penting mau sama mau. Dijodohin itu cuma salah satu proses mendapatkan jodoh, 🙂

    • rizzaumami · September 30

      betul, mas, kalau udah dijodohin dan menurut yang njodohi cocok, tapi kita sendiri merasa enggak nyaman, lebih baik dipikir lagi *saran dari yang belum pengalaman*

  8. Prita Pdinata · September 27

    Aak fotonya dimanaa tuh lucuuu
    *salahfokus

  9. Grant · September 28

    Aku fokus ke nomor 2 tuh. Biasanya yg sok jodoh2in malah yg kepo. Jadinya nyebelin banget krn asal ngejodohin. *pengalaman. 😀

  10. Orin · September 29

    iyaaaa, kalo blom jodoh mah mau dijodoh2in jg ya ga berjodoh *halah

  11. Lidha Maul · September 29

    saya dijodohin mbak, hahaha

  12. rizzaumami · September 30

    bagus mbak ustazah nurul saran-sarannya, hehe. daripada pacaran lama-lama mending cepetan nikah, kalo belum ada dan udah siap nikah emang mending dijodohin kok mbak, bagus saran-sarannya, sukak. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s