Menebar Toleransi di Forum Google Local Guides Summit

Bicara TOLERANSI kemungkinan besar kita bakal langsung mengaitkan dengan Toleransi Beragama. Hmm, terminologi “agama” memang terdengar seksi sekali belakangan ini. Seksi sekaligus kerap mengundang ribut-ribut yang tak perlu. Heii, dari dulu kita juga udah paham kan, kalau agama tuh banyak dan beragam. Belum lagi aliran-aliran yang ada dalam satu agama atau kepercayaan tertentu. Jadi ya, sutralaahh, mari berpegang teguh pada ayat pamungkas di Surat Al-Kafiruun “Bagimu agamamu, Bagiku agamaku”

Kalau berdasarkan dictionary Cambridge, tolerate means to accept behaviour and beliefs that are different from your own, although you might not agree with or approve of them

Intinya: Menerima perbedaan. Dan nggak perlu ribet/rempong mikirin hal itu. Ya iyalaah, apa menariknya dunia ini kalau semua orang samaaaa plek ketiplek satu sama lain. Sungguh monoton dan ngebosenin kan.

Saya mau cerita TOLERANSI ala warga dunia, tatkala mengikuti Google Local Guides Summit 2017 di San Francisco, California, Amerika Serikat.

Baca: Traveling GRATIS ke Amerika, Diongkosi Google; Caranya?

Begitu diumumkan nama-nama peserta ajang ini, saya dan sejumlah rekan yang beragama Islam langsung melakukan koordinasi. “Errr, nanti makanan yang disajikan gimana ya? Kan mayoritas terbuat dari babi, trus minuman yang disajikan juga bir, aneka wine dan segala rupa yang nggak bisa kita konsumsi. Apa kita perlu ngasih info ke panitia summit ya?”

Wah, iya juga sih. Kan eman-eman kalau demi alasan “pergaulan global” kita sampai menerjang rambu-rambu agama. Kami sih berpegang teguh pada Hadits Rasul, “Barangsiapa yg mengonsumsi makanan haram, doa dan ibadahnya tertolak selama 40 hari.”

Alhamdulillah, Muthia (peserta summit dari Malang, Jawa Timur) bikin thread mengenai hal ini. Intinya memberikan informasi, bahwa ada beberapa bahan pangan yang tidak bisa kami konsumsi. Juga memohon kemurahan hati tim Google untuk menyediakan tempat dan alokasi waktu ibadah sholat bagi kami.

Dan ternyataaa…. Respons tim Google warbiyasak! Mereka menggaransi bakal ada makanan yang pork and lard-free. Untuk minuman, tetap tersedia air mineral, kopi, softdrink dan beberapa beverages yang tidak mengandung alkohol. Toleransi mereka sungguh juara! Ya walaupun saya sering terjerat ragu dengan perkara syubhat. Misalnya gini nih. Okelah, bahan pangannya tidak mengandung babi dan derivasinya, tapiii…. Nggorengnya pakai wajan yang sama atau beda? Minyaknya kecampur apa engga. Suthil-nya apakah tetep dipake barengan sama makanan non-Halal?

Seringnya saya “main aman”. Ketimbang makan protein yang belum jelas Halal Certified-nya, saya lebih kerap mengonsumsi buah-buahan, macam pisang cavendish, apel dll. Lumayan. Mengenyangkan dan bisa jadi “bahan bakar” untuk keluyuran keliling San Francisco, kok 😀

Yang saya salut lagi, tim Google juga memberikan toleransi kepada kami untuk menunaikan ibadah sholat.

Tentang sholat, saya udah pernah cerita di POSTINGAN INI.

Alhamdulillah, Maha Besar ALLAH yang memberikan kemudahan untuk istiqomah tunaikan sholat, walaupun tantangannya sungguh warbiyasak 😀 Yang agak unik bin awkward, waktu saya izin buat sholat, tatkala sedang hang out ke kantor Google di SF.

Ceritanya, pas lagi jalan-jalan ke kantor Google di San Francisco, aku request ke tim Google untuk menyediakan ‘ruangan/bilik kecil yang bersih dan simple’ buat tempat sholat. Lalu mereka saling berkoordinasi, dan nemuin satu working room yang nganggur, dan siap dipake sebagai musholla dadakan.

Trus si Mas Google ini (lupa Namanya siapa) bilang ke khalayak yang hadir “Siapa tadi yang mau berdoa?”  Ada satu local guides dari Brazil (mukanya lumayan ganteng bin tengil, wkwkw) yang spontan komentar, “HAH?? Masak iya pas jalan-jalan gini ada yang mau (khusus) praying? Siapa emangnya?”

Ndilalah, aku berdiri persis di belakang si mas Brazil itu  trus, aku merangsek ke depan, dan bilang ke Mas Google, “Iyaaa, saya yang mau praying.” 

DIEEENGGGG! Kebayang muka si Brazil jadi awkward bangeeettt. Trus, dia menatap mataku *ciye sembari meminta maaf dengan (tampaknya) tulus “I am really sorry. Aku tadi ngga ada maksud buat ngeledek….”

“It’s Okay. Gapapa kok.” (untung kamu ganteng wkwkwkwk)

***

Ini nih yang nanti bakal daku ceritakan ke anak cucu. Bahwa TOLERANSI itu penting. Kita harus sanggup beradaptasi dengan manusia model apapun, dan memberikan Toleransi dengan kadar yang wajar. Artinya, harus paham, sampai batas mana kita bisa bertoleransi.

Selain itu, kita juga harus “menggigit dengan geraham” ajaran agama yang kita anut. Terus jalankan perintah Yang Maha Kuasa. Sekuat tenaga, tinggalkan seluruh larangan-NYA. Yakinlah, semesta dan manusia-manusia yang ada di dalamnya, siap bertoleransi untuk kita.

104 thoughts on “Menebar Toleransi di Forum Google Local Guides Summit

  1. Aqmarina says:

    Wah.. aku suka banget cerita ini Mbak Nurul, sangat menginspirasi 😍 traveling memang salah satu cara untuk belajar tentang toleransi. Aku setuju banget tentang pentingnya untuk bertoleransi dengan society yang mempunyai background budaya dan agama yang berbeda.

  2. Shinta Asrini says:

    toleransi itu memang penting banget mba, karena di dunia ini sangat banyak budaya dan agama yang hidup berdampingan, setiap masyarakat punya kunikannya masing-masing ya

    • Utie adnu says:

      Alhamdulillah bnget y mba bisa merasakan toleransi yg begitu dewasa menurut ku walaup un pd awalnya Ada yg Blum fahan.. next Aku Juga kpingin deh merasakan local guide submit kyk gini

      • Natalia Bulan says:

        Mbak keren sekali bisa kepilih buat ke Local Guides Summit! Senang sekali ya mbak bisa ikut acara ini dan belajar banyak hal lg tentang toleransi. Yang kayak gini emang perlu banyak praktiknya daripada teori. Xixi..

      • Rini Uzegan says:

        Emang selalu jadi keriweuhan utama soal makanan kalo lagi berada di negara mayoritas non muslim ini ya mba, tapi untungnya masih bisa makan yang gak meragukan macam buah ya mba. Kalo ipar saya dulu makannya seafood dan ikan2nan tapi yah itu masak sendiri. Tmbah ribet malah 😅

    • desinoviany says:

      Ceritanya seru, Mbak. Aku serasa ikutan ada di belakang Mas Brazil, heuheu. Perbedaan memang indah. Kita jadi saling mengisi dan hidup pun penuh warna.

  3. Damar Aisyah says:

    Keren Mbak Nurul. Jos pokok e. Dulu, duluuuu banget pas baca postingan Mbak saat acara sama Google ini aku udah ngebayangin euforianya. Acara pasti seru banget karena dapat teman baru dari berbagai negara. Tapi gak kebayang ternyata masalah praying gini juga ada yang menganggap “aneh” ya. Tapi syukurlah selalu ada jalan ya Mbak. Penting kekeh dengan ajaran agama.

  4. tutyqueen says:

    Senangnya kalau berada di lingkungan yang memiliki toleransi tinggi ya, di kampung halaman ibuku toleransi nya tinggi banget jadi nyaman. Btw aku salut banget dengan mbak, meski menjunjung toleransi ajaran agama juga harus dipegang teguh.

  5. hidayahsulistyowati says:

    Masya Allah, di mana pun emang harus mengingat Allah karena udah menjadi kebutuhan kita. Kita pegang erat untuk aqidah dan toleransi untuk hubungan dengan sesama manusia. Dan toleransi yang tim Google lakukan suweeer keren banget mbak.

    • gitasarrah says:

      Toleransi itu memang penting banget apalagi ketika kita berada di sebuah tempat yang multikultural dan multi agama kayak di situasi mba Nurul. Salut sama orang2 yg menjunjung tinggi nilai toleransi dan menghargai perbedaan.

  6. Kartika Nugmalia says:

    Salut mbaaak. Sebagai muslim yang baik, Allah pasti melihat bagaimana kita sungguh sungguh menterjemahkan “ketaatan” ini dalam kehidupan sehari-hari ya. Seneng banget bacanya, bisa bikin lebih semangat untuk menjaga komitmen diri sebagai muslim yang taat.

  7. Ria Rochma says:

    *untung kamu ganteng*
    Wkwkwkwkwkw.. kenapa aku auto ngakak. Hahaha.

    Untung bgt pihak Google lolosin permintaan peseeta ya, mbak. Jadi ngikutin kegiatannya jadi tenang dan konsentrasi

  8. Aprillia Ekasari says:

    Seru banget ya mbak memperkenalkan identitas sbg muslim di sana.
    Mempertahankan jati diri tu kadang susah kalau kita bepergian atau bahkan tinggal di sana. Tp kalau soal agama wajib ya tetap dilakukan

  9. Nurul Fitri Fatkhani says:

    Pengalaman yang luar biasa ya, Mbak. Bisa berkumpul dengan local guide lainnya. Saya baru level 5, kayaknya masih jauh kalau mau ikutan acaranya ya ..

  10. niaharyanto says:

    Iyes setuju banget dengan makna toleransinya. Ada batasan di mana kita harus tegas tentang itu. Aku juga banyaknya main aman aja. Kalo udah mulai menyinggung, mendingan mundur deh daripada aneh-aneh.

      • lendyagasshi says:

        Hahhaa….tariiik, teeh…
        Aku suka banget kalau teteh uda nyanyi. Pasti abis ini ada lagu berikutnya.
        Penting banget untuk saling menghargai kebutuhan (prioritas) orang lain terkait beribadah terutama.

  11. Ivonie says:

    Menjaga tolerasi di zaman sekarang ini memang jadi tantangan dan seharusnya tetap dijunjung tinggi. saluut sama keteguhan mbak nurul dalam menajalankan perintahNya. Mengingat negara yang dituju itu seperti apa semua udah tahu ya.

  12. lianny hendrawati says:

    Wah mbak, seru banget pastinya ya bisa mengikuti Google Local Guides Summit 2017 di San Francisco, California, Amerika Serikat. Untungnya pihak Google pengertian ya dan cukup membantu juga di sana.
    Eeh tapi jadi ngakak baca ceritanya tentang si bule Brazil ganteng itu, pasti kaget dia, ngerasa serba salah ya haha 😀

  13. ida's journeys says:

    Aduh untung aja ganteng yah jadi ga terlalu nyebelin ..wkwkwk… keren nih, Mba tulisan kenapa mba kepilih acara ini dimana ya.. keren bikin kepo jadinya. Soalnya suamiku juga diundang buat ikut seleksi acara seperti ini tapi disuruh bikin video, suamiku angkat tangan hahaha..

  14. Lidya says:

    Alhamdulillah selama di San Fransisco diberikan kemudahan ya untuk beribadah & makan makanan halal. Toleransi memang dibutuhkan tapi kita juga harus siap kadang ada orang yang gak ngerti & berani unjuk gigi eh geraham 😀

  15. andyhardiyanti says:

    BTW, videonya mbak yang dibikin sebagai salah satu syara ikutan Google Local Guides Summit ini tuh udah berkalikali saya tonton. Ceritanya mau dipelajari, biar bisa bikin juga .. hahaha..tapi duh, Bahasa Inggris saya masih berantakan~

  16. Sri Widiyastuti says:

    Alhamdulillah ya mbak, komunitas global yang seluruh isinya seluruh dunia memang harus paling toleran karena ini akan menjadi salah satu daya tarik komunitas juga kan.

    Saya juga sudah level 7 mbak, cuma masa pandemi belum bisa kemana mana, kemarin ada ajakan untuk review beberapa UKM tapi belum, gak punya fotonya sih ahhaa. tapi tertarik juga membantu UMKM maju lewat google local guides

  17. Dewi Natalia says:

    dari dulu aku pengen banget ikut google local guides summit. Pengen lihat kantor google secara langsung. Ternyata google toleransinya tinggi juga ya mbak. Mrk sampe menyediakan prayer room.

  18. Ani Berta says:

    Selalu berdecak kagum kalau Mba Nurul sharing soal kegiatan di Amrik ini, sungguh pencapaian yang luar biasa Mba!
    Dan tak mudah tentunya menerapkan toleransi di acara yang berasal dari banyak negara ini. Salut Mba. Seru ceritanya apalagi pas becandaan si bule brazil 😀

  19. Uniek Kaswarganti says:

    Aku ngakak mba bayangin suasana pas mas Brazil tadi kaget begitu dirimu menjawab mau sholat/berdoa. Bagi yang non muslim memang mungkin aneh ya ritual kita berdoa 5 kali sehari di waktu-waktu tertentu gitu. Good job mba, you nailed it in his mind. 🙂

  20. Rui Akaruicha says:

    Baca tulisan mba kali ini bikin aaya terharu. Kisah tentang toleransi dari warga dunia yang sesungguhnya nyata. Intinya, komunikasikan soal diri secara terbuka. Pemakluman ke teman lain yang berbeda. Senang sekali bisa mampir ke mari.

  21. bicaraahati says:

    semakin orang sering melancong dan sering bergaul dan bertemu orang-oarng baru dari daerah satu ke daerah lainnya dan dari negara satu dengan negara lainnya,,wawasannya pasti terbuka lebar…salah satunya menerima dan sadar arti sebuah perbedaan. Semoga toleransi antar sesama lebih disadari lagi. Bagus tulisannya kak (GINA)

  22. Nurhilmiyah says:

    Hiks aku terharu dengan closing paragraph nya Mba Nurul yg menggigit kuat dengan geraham ajaran agama kita ya Mbak, hadits Rasulullah SAW ini… mau jauh sampe ke Amrik pun yg namanya salat tetep dikerjakan dg sebaik2nya ya. Insyaallah sabar dan salat menjadi penolong kita ya

  23. Wida Ariesi says:

    Toleransi bisa di mana saja dan kapan saja… enak yah kalau toleransi ada di segala suasana seperti ketika sedang travelling.

  24. Zia says:

    Indahnya toleransi ya Mba. Mupeng deh bisa berkesempatan berada di kantor Google di San Francisco. Udah 3 tahun tapi masih terkenang ya Mba. Masyaallah sampai disiapkan ruangan untuk solat. Alhamdulillah ya.

  25. Maria G says:

    setuju, alhamdulilah negara kita memiliki Pancasila,

    agar rakyat Indonesia bertoleransi

    Negara lain justru ngga mau ngurus agama penduduknya karena menganggap hal tersebut menyangkut privasi, jadi mau ngga beragamapun silakan saja

  26. avysaja says:

    ceritanya tetap seru meski bolak balik aku baca
    nggak bosen, serasa ikut hadir di sana hehehe
    sayang banget tahun ini berarti gak ada ya

  27. Julia says:

    Buahahahaj aseli ngakak Aku bacanya, kak. Emang toleransi itu perlu yah , kalau bisa disemua aspek kehidupan. Entahbitu agama, budaya, bahkan antara orang Tua Dan anak

  28. Tomi Purba says:

    Sepertinya google summit tahun 2020 ini dilakukan virtual ya mba karena masih dalam masa pandemi global?
    Toleransi itu perlu dan sangat dibutuhkan untuk diajarkan sejak dini, tapi entah kenapa hal ini semakin pudar dan hilang ya? Bayangkan negara ini jika dipenuhi rasa toleransi tinggi, sepertinya Indonesia bisa menjadi negara maju

  29. rhoshandha says:

    iya mbak, aku mending milih makan buahnya
    bisa jadi tumis atau goreng pake minyak babi
    mayan lah ya, jadi vegan sebentar dan kurusan dikit, hahaha

    aku juga Inshaa Allah toleransiku oke
    aku mah selow bae orangnya

  30. Ruli Retno Mawarni says:

    Wahh kagum deh sama si brazil, tampa ragu langsung minta maaf dan tulus bilang kalau tidak bermaksud. Seneng ya semua local guides saling toleran gitu

  31. mudrikahsiti says:

    Mbak ceritanya singkat tp buat aku berdecak kagum, dlm situasi apapun kita harus Teguh memegang iman islam kita.
    Alhamdulillah alloh memudahkan perjalanan saat ikut local guide di san fransisco ya mbak.
    Pengalaman yg sangat beharga

  32. ayanapunya says:

    Keren ya Google tetap memberikan fasilitas buat mereka yang muslim. Intinya sebagai muslim kita memang harus memberikan informasi yang jelas ya, mbak tentang apa yang boleh dan tidak boleh dalam. Agama kita

  33. sunglow mama says:

    Orang bule ternyata punya toleransi sama gaya hidup orang Islam. Bos suami juga dulu giti, malah sangat concern dan peduli. Salut ya, mungkin mereka diajarkan toleransi sejak kecil

  34. evisrirezeki says:

    Toleransi paling berat ya memang menyangkut agama. Alhamdulillah di acara Google Summit itu panitianya sangat kooperatif soal kebutuhan ibadah ya.
    Semoga kita juga bisa kayak gitu ke agama dan kepercayaan lain. Terutama untuk para penganut kepercayaan yang sulit sekali mendapat tempat di masyarakat 🙂

  35. tari says:

    inget cerita kakakku, dia menang undian jalan2 ke malaysia. krn negeri muslim kan, jd santai. gak taunya sepanjang wisata dr pergi sampe pulang makanannya pork n bacon handar

  36. qotyintanzn says:

    Mbak, dirimu keren banget bisa ke ajang summit local guide… Itu tuh syaratnya apa ya mba biar bisa ikut ajang tahunan mereka? Jadi penasaran deh…

  37. unggulcenter says:

    Islam itu memudahkan, bukan menyulitkan. Kalau ndak stay selama lebih dari 3 bulan, semua bisa di jamak baik takhir maupun taqdim. Perjalanan ke Amiriki juga sudah mencukupi untuk syarat. Kecuali subuh tentunya. Makanan juga, kalau mikir soal penggorengan dan sebagainya ya boleh aja selektif. Tapi selama kita TIDAK TAHU tidak berartti menjadi haram. Ketidaktahuan dimaafkan Allah. Bukan berarti ga nanya2 langsung nyomot babi ya hehe..

  38. novaviolita says:

    Kalo aku toleransi itu…ya gak banyak koment dwngan ibadah dan kepercayaan orang lain.

    Biasanya perang itu dimulai ketika.koment negatif dwngan ibadah orang lain…hehehehe. karema setiapnorang pasti menganggap ibadahnya paling benar.

  39. Aprillia Ekasari says:

    Tim Googlenya jga paham ya kalau undangannya ada yang muslim sehingga juga memberikan kesempatan untuk menunaikan ibadah sholat

  40. Susi says:

    Toleransi beragama mereka yang di sana termasuk besar. Namun lebih pada rasa amazing atau gumun, kok iso masih ada makhluk yang rajin beribadah. Hehehe. Kenalan saya lebih banyak yang seperti ini tipenya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s