Lidah Tak Bertulang Pangkal Konflik Berulang

Hey, bulan November insyaAllah ku bakal lebih rajin posting dan bercerita mengenai berbagai hal. Sebelumnya shout out to Teh Ani Berta, founder ISB dan inisiator TriDop ini. Beragam tema disodorkan untuk para peserta TriDop. O iya, TriDop tuh artinya kurang lebih 3 days one post. Yap, aku dan teman-teman akan menyodorkan artikel baru setiap 3 hari sekali. Tema pertama, udah taraaamakjrengg banget, pemirsaah. Mengisi Blank Spot. Bagaimana kontribusi kamu untuk mengisi celah keilmuan yang belum banyak diangkat dan cenderung terabaikan. Haha. Sesuatu banget kan?

Keilmuan nih definisinya luas banget. Bukan hanya soal ilmu eksakta, atau ilmu-ilmu perkontenan (dan percuanan online) yang membanjiri jagat digital. Kali ini, aku mau cerita dikit aja, soal parenting with teenagers. Yap, anakku Sidqi sudah 18 tahun. Remaja (atau dewasa awal?) yang tentu saja kerap berdebat dan silang pendapat dengan ortunya. Terlebih dengan emak kandungnya 😊

Karena peranku sebagai ibu kandung, udah pasti, ilmu yang ingin aku sampaikan adalah: Bagaimana cara Ibu menahan lidah, supaya tidak melontarkan kalimat yang nantinya akan disesali sepersekian detik kemudian 😊 Waduh, Panjang banget yak. Intinya begitu lah, nangkep kaann… karena perempuan konon dibekali talenta kudu mengeluarkan 20 ribu kata sehari (bisa dalam bentuk lisan, ataupun tulisan). Maka dari itu, konflik yang kerap tersulut, biasanya antara anak remaja dan ibu.

Berdasarkan pengalaman membersamai Sidqi selama 18 tahun, aku coba mengingat-ingat dan menjabarkan apa saja yang sudah aku lakoni. Here we go!

Sesuai judul postingan ini, Lidah Tak Bertulang Pangkal Konflik Berulang; Begitulah…. ada hari-hari yang kualami berubah jadi suram, lantaran ego dan amarah yang berkecamuk dan menemukan muaranya dalam bentuk kata-kata.

Saya mengalami kesulitan cukup hebat, untuk mengendalikan ego. Apalagi, masa remajaku yang (boleh dibilang) gemilang, membuat rasa jumawa tak kunjung sirna. Dan pada gilirannya, saya kerap membanding-bandingkan anakku dengan masa mudaku dulu.

“Jaman ibuk SMA dulu…. “ selalu diawali dengan kalimat songong begini…. “Ibu tuh udah bisa cari duit sendiri! Ke redaksi Surabaya Post, ibu naik angkot! Kadang nebeng teman. Lalu ibu setor tulisan, bisa berita, atau cerpen. Kalau dimuat, ibu dapat fee cukup banyak, bisa 75 ribu, itu tahun 1997 loh. Bayangkan, ibu bisa nraktir BengBeng untuk teman sekelas, ada 48 orang.”

“Jaman ibuk SMA dulu… setiap Upacara hari Senin, ibu pasti dipanggil maju ke depan untuk serah terima piala. Ibu langganan juara banyak lomba…. Ibu bikin bangga nama SMA 16 Surabaya. Lahh, kamu? Apa prestasimu sampai segede ini?”

Errr….Post Power Syndrome? Yaahh, barangkali itu yang saya rasakan. Si paling juara lomba jaman SMA, eh… ternyata di masa (jelang) lansia, malah beraktivitas mostly di rumah aja. Rasa kalut dan setengah putus asa itu, kemudian saya lampiaskan ke anak. Padahal, mana ada manusia di muka bumi ini yang suka dibanding-bandingkan?

Belum lagi, kalau Sidqi tengah ngobrol dan ujug-ujug (entah gimana awal mulanya) kami terlibat debat yang cukup alot. Alih-alih menyimak opini Sidqi, saya langsung nyolot, “Kamu tahu apa? Ibuk hidup jauh lebih lama ketimbang kamu! Ibuk ini udah pergi ke banyak tempat, udah beberapa kali ke luar negeri, jangan sotoy deh jadi anak!”

Hey hey hey. Anak juga manusia. Bisa kan Bu… Simak dulu, dengerin dulu pendapatnya. JANGAN LANGSUNG DIPATAHKAN. Sekali, dua kali, mungkin anak bisa Nerima. Tapi, lama kelamaan dia akan ambil Kesimpulan, “Aaah, males deh ngobrol ama ortu. Pasti ntar kagak dianggep.” Dan, yeah… Hallo Ortu Para GenZ. Kalo dihitung-hitung, dalam sehari berapa menit durasi bapak-ibu bisa ngobrol asyik bareng putra/i kandung Anda sendiri?

To sum up, ini yang coba saya evaluasi. Kesalahan parenting yang boleh jadi, enggak hanya menimpa kami. Pola pikir, usia, Sejarah, pengalaman hidup, point of view, antara ortu dan remaja memang jauuuhhh berbeda. So, yeah embrace it! Memang beginilah seni menjadi orang tua. Nggak usah merasa nelangsa. Tapi, patut berhati-hati ya, Ayah dan Bunda. Jadi, apa ilmunya Bagaimana cara Ibu/Ayah menahan lidah, supaya tidak melontarkan kalimat yang nantinya akan disesali sepersekian detik kemudian 😊

Yang pertama, selalu baca doa dan istighfar. Tanpa penjagaan dan perlindungan Allah, kita ini siapa? Hanya seonggok tanah yang berjiwa. So, kalau mau hidup tetap tenang, anak baik budi, mendekatlah terus ke Allah. Sebelum ngobrol dengan anak, biasakan baca doa, atau baca QS An-Naas. InsyaAllah, kata-kata kita berada pada koridor baik, yang diridhoi Allah ta’ala.

Kedua, be mindfull. Terus eling, kalo kata orang Jawa. Jangan berdalih, ”Ya saya emang orangnya gini, ceplas ceplos, dar der dor kalo ngomong.” Hey…berlatih yuk Bund. Latihan untuk bicara dengan mindfull. Pikirkan, misalnya lawan bicara kita adalah klien… dan kalo kita ucapkan hal-hal semenyakitkan itu, apa iya, klien masih bisa maafin kita? Bukankah anak adalah “klien” pengasuhan kita ya Bund?

Ketiga, ingat selalu bahwa kata-kata Ibu adalah doa yang mustajab bagi anak. Jangan sampai ucapan yang Cuma selintas lalu, ternyata membawa masa depan kelabu. Hindari kata-kata semacam, “Kalo kamu kayak begini terus, jangan harap masa depanmu Bahagia!”

Kalopun ingin semangati anak, kita bisa pilih “begin with the end in minds”.

Contoh, “Nak, kamu pengin jadi Diplomat kan? Selain pinter Bahasa asing, kamu juga kudu disiplin, Nak. Lihat itu Bu Menlu… atau yang deket aja deh, kayak Om Wawan, sodara kita yang dapat Beasiswa ke Inggris. Apa pernah kamu lihat dia males-malesan? Baruuu aja datang dari Bandung, dia langsung mandi, makan dan buka laptop, trus zoom ama kliennya, abis gitu berangkat ke kantor klien. Pintar aja nggak cukup kan. Kudu punya komitmen kuat, konsisten, Tangguh dan resilien!”

Bismillah. Atas izin Allah, kita bisa jadi ortu yang jauuuhh lebih baik lagi!

21 comments

  1. AMIN! Semoga bisa jadi orang tua yang lebih baik dengan lebih mendengarkan cerita anak terlebih dahulu, POV mereka, dan bs jd sahabat anak sambil kasih2 saran serta nasehat. Mudah2an caranya yang bisa kita dapatkan agar lebih mudah diserap sm mereka dan dilakukan.

  2. Aku salfok ke bagian sejak remaja udah bisa nyari duit sendiri dari nulis, keren Mbk, mana sering dipanggil pas upacara, kupikir karna telat masuk sekolah tapi ternyta karna prestasi, memang hebat banget! Modal itu aja udah ketahuan Mbak bisa jadi orang tua yang hebat. Menahan lidah itu susah apalagi buat orang kaya saya yang cerewetnya naudzubillah, rasanya kalau nggak ngomel kaya nggak makan nasi, ada yang kurang gitu. Kalau jadi orang tua memang harus lebih-lebih lagi usahanya buat menahan diri.

  3. aku tuh sering keceplosan sama Salfa, “Bunda dulu waktu seusia kamu sudah bisa… ” dan semua apa yang terjadi di masa lalu saya ceritakan. Padahal Salfa belum tentu suka. Anak sekarang kalau disampaikan demikian kesannya malah membandingkan jadinya sekarang butuh melihat dan mendengar dulu sebelum berargumen.

  4. Salah satu alasan kenapa ada gap antara anak sama orang tua, biasanya ya ini mbak. Anak-anak males ngomong sama orang tua, perkara tiap kali ada masalah apapun tuh orangtua seringnya gak sefrekuensi. Maunya didenger, tapi gak mau dengerin anak.

    Generasi sekarang katanya sih bakal lebih kritis. makanya, kita sbg orang tua gabisa kalo sampe tutup telinga. Teteup, terbaik adalah ngobrol bersama anak.

  5. Aku langsung mencloos, Mbakkkk..

    Dan itu kata-kata yang cukup sering kubilang ke anak tanpa sadar. Setelah itu aku langsung inget masa kecilku yang juga digitukan sama alm. Ibuk. Hehehe.. Rasanya kalau dipikir kok nggak jauh beda ya. Setelah baca ini tuh jadi mikir lagi dan berharap bisa memutus rantai si paling pintar, biar lebih humble ke anak.

    🙂

  6. lidah Memang tak bertulang, juga lebih tajam dari pedang. Sekali terucap. Akan tembus sampai ke hati sampai luka.

    dan Memang, anak jadi malas ngobrol dengan orang tua, karena kadang ga dianggap. Orang tua merasa lebih benar. Apalagi kalau sudah adu debat, dan orang tua karena merasa tua, jadi ga mau kalah. Terus paling takut kalau tanpa sadar keluar kata-kata Tidak bagus. Padahal ucapan orang tua adalah doa.

    jadi memang orang tua itu sabarnya lebih besar dari samudra. Apalagi kalau anak dalam masa transisi. Orang tua justru jadi pendengar yang baik bagi anak.

  7. lidah Memang tak bertulang, juga lebih tajam dari pedang. Sekali terucap. Akan tembus sampai ke hati sampai luka.

    dan Memang, anak jadi malas ngobrol dengan orang tua, karena kadang ga dianggap. Orang tua merasa lebih benar. Apalagi kalau sudah adu debat, dan orang tua karena merasa tua, jadi ga mau kalah. Terus paling takut kalau tanpa sadar keluar kata-kata Tidak bagus. Padahal ucapan orang tua adalah doa.

    jadi memang orang tua itu sabarnya lebih besar dari samudra. Apalagi kalau anak dalam masa transisi. Orang tua justru jadi pendengar yang baik bagi anak.

  8. Ini yang paling aku khawatirkan kalau anak sudah usia remaja atau dewasa awal, takut debat alot yang ujung-ujungnya aku yang jumawa, hehe. Meski anakku masih 4 tahun tapi dari tulisan ini aku bisa belajar banyak.

    Perkataan di atas mengingatkan aku dengan perkataan Mama yang juga sering bilang gitu, diawali dengan “Mama dulu begini….Mama dulu begitu….” Mama dulu sekolah jalan kaki, jauh loh tapi bisa, ucap Mama ketika aku sekolah pengen diantar menggunakan motor.

    Alhamdulillah aku bisa komunikasi dengan anakku tanpa membandingkan dan bersikap aku yang lebih tahu segalanya. Anak juga manusia yang punya pemikiran dan pendapatnya sendiri.

  9. Nah daku pernah ada di posisi Sidqi dan jadi beneran menjauh dari mereka. Tapi dibandingkan dengan orang lain yg berprestasi dengan anggapan akan meniru prestasinya padahal malah bikin BT. Let kids take their way by themselves.

    Mengenai omongan ibu emang kudu dijaga apalagi kita tim anak satu aja. Kudu bicara yg baik-baik. Saladin sering kupanggil cah bagus, anak pinter, dll. Dimotivasi biar berani.

  10. Kadang harus gigit lidah ya mbak supaya ga keluar kata-kata yang mneyakitkan buat kiddos

    Aku beneran berlatih banget untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang menjatuhkan dan berusaha mendengarkan mereka, sering mengajak mereka diskusi juga suoaya mereka mau cerita apa yang sedang dialaminya. Apalagi ini nak sulung beranjak dewasa, lebih susyah ya ngobrol ma ABG

  11. Judulnya sangat jleb banget. Betul sekali adanya menjadi orang tua di era sekarang tuh banyak sekali PR nya, terutama dalam hal komunikasi. Bahasanya beda sekali. Butuh selaras dan saling ngerti.Setuju banget dua cara yang dibilang, Ingat pencipta dan eling. Itu kunci menurutku.

  12. Kalau di rumahku, bapak seperti mba nih tipikalnya. Sering banding-bandingin kami anak-anaknya dengan masa beliau dulu hehhee. Dari kacamata anak tentu ini nyebelin banget tapi kami terlalu takut buat debat hehehe.

    Tapi semakin nambah usia apalagi udah melewati usia 20 an, aku coba memahami pemikira bapake. Maksudnya memang baik walau kadang cara penyampaiannya nyebelin dan pengingat banget buat para ortu terutama ibu, harus berhati-hati dalam berucap. Memang lidah nggak bertulang namun bisa jadi luka dari ucapan itu sepanjang hidup terasa oleh anak.

    Semangat membersamai anak remaja mba, semoga dilancarkan dalam proses mendidik dan membersamainya.

  13. Pengingat bbanget sih ini artikelnya Kak Nurul, kayaknya ini gak hanya untuk ortu ke anak aja deh, tapi buat orang dewasa/lebih tua ke anak/lebih muda, karena urusan jumawa karena lebih banyak pengalaman bisa dialami siapa aja

  14. Pengingat bbanget sih ini artikelnya Kak Nurul, kayaknya ini gak hanya untuk ortu ke anak aja deh, tapi buat orang dewasa/lebih tua ke anak/lebih muda, karena urusan songong karena lebih banyak pengalaman bisa dialami siapa aja

  15. Setuju banget, Mbak! Ini jadi pengingat buat saya sebagai orang tua. Lidah memang tak bertulang, tapi dampaknya luar biasa. Mengendalikan lisan, terutama pada anak remaja, itu tantangan sekaligus investasi kebaikan. Inspiratif sekali tipsnya, terutama soal mindful dan doa.

  16. mbaaaa aku relate banget dgn ini. Secara anak2ku masuk sebagai gen z dan gen alpha yg mana beda bangetttt mindsetnya dengan kita dulu.

    Pernah sih aku kelepasan ngomong sedikit kasar, atau arogan ke mereka. Tp pada akhirnya aku nyesel. Krn inget, zaman aku dulu, ortuku mendidik pake sistem otoriter. Ga ada penolakan, harus patuh. Akibatnya apa? Aku jadi anak pemberontak. JD ga Deket Ama ortu. Lebih milih tinggal jauh tapi rukun, drpd dekat cuma berantem Mulu.

    makanya ke anak, aku ga mau ngelakuin hal yg sama. Tiap mereka curhat, ya udah dengerin aja dulu. Baru ntr pelan2 nasehatin dengan cara yg bisa mereka trima. Ga ada pake Kata2 paksaan, Krn mereka bakal menjauh yg ada. Beda sih yaaa, karakter anak skr dengan kita dulu 🤣

  17. Sriiing sekalii terjadiii…”Ibu dulu tuuh..” ((eaa… eaaa….))

    Tapiii aku sring malu sendiri siih.. soalnya antara aku sama abunya anak-anak tuh sungguh sangat bertolak belakang sekalii..

    Dia yang anteng, aku yang criwiiss.Dia yang tenang, aku yang mudah panik.Dia yang jarang belajar parenting, tapi selalu bisa bikin anak-anak nyaman.

    Jadii.. aku belajar banyak ama suami.MashaAllaaa~

    Memang sebaik-baiknya parenting adalah yang senantiasa belajar dari kesalahan.Jangan salah teruuss… dan gak kudu kesalahan diri sendiri jugaa… Iqra’-nya bisa dari kesalahan pengasuhan orang lain dan cukup berenti di sana. Gak nyampe aku juga kudu ngalamin hal yang sama.

    Semoga Allaah melindungi orangtua dalam memberikan teladan yang baik, bekal karakter islami yang kuat dan apapun kesalahan kita, semoga anak-anak maafkan dan menjadi bekal hidup mereka kelak.

  18. Mbaa samaan ih, anakku juga cowok gen Z usia 18. Berharap usia segitu udh dewasa, tapi kok kenyataannya beda. Dia bisa sih diajak tukar pikiran, tp aku yg sering gak paham.. kok gini, kok gitu. Dan saat aku mengutarakan kebingunganku dia hanya menimpali “ya udahlah bunda gak akan bisa ngerti”. Lhaa

    Emang hrs ekstra sabar ya mbak ngadepin gen Z. Semoga Alloh senantiasa melindungi anak² kita. Aamiin

  19. Ini tulisannya setema sama tetangga sebelah nih (Pak Bambang) hehe.

    Abis pengakuan dosa di sana, jadi pengakuan dosa lain di sini.

    Idem aku pun kalau liat anakku belajarnya kek gitu suka bawa2 masa laluku, padahal asline ya gemilang2 amat hahaha 😛

    Kadang suka merasa bersalah atau khawatir atau takut lebih tepatnya apa jalan anak2ku udah bener buat ke masa depannya.

    Tapi yawes pasrahin aja deh ke Gusti Alloh mbak. Cuma ya namanya ortu ya maunya emang kasi yang terbaik buat anak.

    Jujurly skrng aku tu kalau kasi perintah kasi pilihan aja, misal kamu mau makan atau mau bantuin bunda? Nah itu keknya dia akan pilih yang mudah 😛

    Apalagi anak zaman now tu pinter mendebat, salah omong dikit ortu wes gak bisa jawab =))

    Biasae kalau ma emake udah bentrok, maka bapak maju jadi si paling teman baik haha 😛

  20. Bagian tentang perbandingan masa remaja dengan anak sangat relate dan jujur terasa menyentil. Mengingatkan bahwa niat baik pun bisa salah arah kalau tidak disampaikan dengan bijak.

Leave a comment