Rutin Olahraga biar Gak Sarkopenia
Kretek kretek…. Aduh, duh… dengkulku terasa ngilu tatkala berubah posisi dari sujud menuju tahiyat akhir. Tak lama setelah salam, langsung aku selonjorkan kaki, sambil pijit-pijit bagian dengkul. Maklegender bangeett, kayak ada tulang yang mengsle (posisinya berubah). Usia memang nggak bisa bohong. Kian bertambah umur, adaaa aja keluhan seputar fisik. Gini nih, akibat tidak ajeg menjaga pola hidup sehat. Zaman muda, makan awur-awuran, olahraga juga ogah-ogahan. Baru panen akibatnya sekian dekade kemudian. Hufttt!
Tapi ya sudah, nggak ada gunanya menyesali keadaan. Yang penting insaf dan mulai jalani lifestyle yang lebih sehat dan bertanggungjawab. Salah satu yang paling saya khawatirkan adalah: resiko Sarkopenia. Makhluk apa lagiii inii?
Sarkopenia adalah kondisi berkurangnya kekuatan dan massa otot yang ditandai dengan penurunan kemampuan fisik. Sarkopenia umum terjadi pada lansia seiring berjalannya proses penuaan tubuh. Namun, kondisi ini tetap bisa dicegah, misalnya dengan rutin melakukan aktivitas fisik atau berolahraga. Meskipun sarkopenia lebih rentan dialami oleh lansia, studi menyebutkan bahwa kondisi ini juga dapat terjadi pada orang yang berusia dewasa muda, terutama bagi mereka yang menderita kekurangan gizi atau malnutrisi. (sumber: alodokter)

Yang jelas, saya kudu mengakui bahwa bodi ini kok gampil capek banget, ya. Piknik bareng ibu-ibu se-RT, jalan ke Batu, Malang Raya aja nih, puter-puter tempat wisata doang, rasanya hayati lelaaahh. Padahal di rombongan kami, ada neli (nenek lincah) sekitar usia 75 tahun, yang tetap semangat dan jauuhh lebih bugar ketimbang daku.
Nggak ada kompromi lagiii, aku harus wajib dan kudu rajin olahraga, biar enggak sarkopenia!
Eh, kalau lagi puasa, bagaimana?
Sebenarnya nggak perlu overthinking, apakah olahraga bakal bikin ibadah puasa jadi bermasalah. Ini hanya perlu adjustment atau penyesuaian saja. Yang jelas, garis besarnya adalah:
(1). Pilih waktu tepat untuk olahraga saat puasa
(2). Pilih jenis olahraga yang low impact
(3). Harus mengukur dan tahu kondisi diri masing-masing.
InsyaAllah, olahraga tetap bisa dilakukan denga naman jaya sentosa, meskipun kita tengah berpuasa!
***
Bicara soal waktu olahraga, biasanya saya manfaatkan dua momen: setelah sholat Subuh dan sesaat sebelum adzan Maghrib berkumandang. So, di bulan Ramadan ini, saya membiasakan untuk jalan kaki ke Masjid buat subuh berjamaah. Saya bawa badan dan tas selempang kecil aja, plus pakai sepatu sneakers. Untuk mukena dan sajadah, saya pakai punya Masjid. Usai tunaikan sholat, saya langsung lanjut cuss jalan santai keliling komplek. Oh iya, baju pakai kaos lengan panjang dan celana serta hijab instan yang nyaman, ya. Intinya, sedari rumah, udah saya niatkan untuk double ibadah: Sholat jamaah plus lanjut jogging.
Kata pak ustadz, innamal a’malu bin niyat. Segala sesuatu bergantung pada niatnya. Kalau kita niat berolahraga demi menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh (properti yang diamanahkan oleh Allah), maka ini bisa bernilai pahala. Asyik, kan?
Saya juga melakoni beberapa aktivitas low impact, seperti peregangan, dan sejumlah gerakan yoga. Btw, kalau kalian amati, Gerakan sholat kita tuh mirip banget ama yoga, loh. Bila dilakukan dengan tuma’ninah/ mindfull, aseliik, ini bikin tubuh dan psikis kita jadi makin sehat wal afi’at! Tapiii tetep yhaaa, sholat-nya nawaitu menyembah, beribadah dan berdialog dengan Sang Maha Agung, jangan niat sholat untuk olahraga ya. Wkwkwkwk
Ada beberapa channel YouTube yang jadi andalan saya untuk berolahraga. Yang paling jos adalah channel Penyogastar. Adem banget pembawaan yogist-nya. No judgement, enggak berusaha terlihat keren, trus auranya tuh kayak ngajak kita silaturahmi online. Gerakannya juga beragam, ada yang lumayan sophisticated, tapi banyak juga yang ramah newbie atau manusia otw lansia kayak diriku.
Last but not least, prinsip harus tahu diri, ini kudu di-bold dan underlined. Sering lihat kan, orang yang FOMO (fear of missing out) manakala join olahraga tertentu. Satu circle pada marathon, eh… dia ikut-ikutan. Circle satunya aktif padel, lagi-lagi dia FOMO dan nge-padel juga. Padahal, kondisi fisik tiap orang berbeda. Paling aman, kita kudu lakoni MCU (Medical Check Up) plus konsultasi ke dokter. Apakah dengan kondisi kita sekarang, boleh melakoni olahraga tertentu atau tidak. Jangan sampai niat sehat, malah berakibat sekarat. Huhuhu, jangan ya gaes yaaaa.