parenting, sekolah

#TGIM : Dimuat di Jawa Pos!

CIMG6713

Haishhh… ini diaa…!! Setelah menuliskan uneg-uneg soal 4×6 atau 6×4 versi blog  saya kepikiran buat nulis juga untuk dikirim ke redaksi surat kabar. Yang tercetus adalah koran Jawa Pos. Karena emang koran ini kan koran kebanggaan arek2 Suroboyo 🙂

Setelah nunggu kurleb 2 hari, Alhamdulillah, opini saya terpampang nyata. Beberapa kawan berkirim kabar, sebagian ada yang nanya, kenapa karikaturnya kelihatan mbungkuk kayak udang gitu sih?? Hueheheh….

Lesson learnt. Kalo ngirim rubrik ke koran, pilihlah foto yang paling cihuy kali ya. Hehe. Eniwei, ini saya tuliskan versi asli yang saya kirimkan ke redaksi JP. Minor editing sih. Yang digunting redaksi, hanya paragraf yang saya bold plus underline.

Kalau mau kirim Opini ke JP, gimana caranya?

Tulis saja sebanyak 800-850 kata, kirim ke opini@jawapos.co.id. Jangan lupa, lampirkan foto (yang keren yaaa…), nomor rekening, nama dan riwayat hidup singkat (yang relevan dengan topik yang ditulis). Selamat menulis 🙂 

OPINI 

4×6 atau 6×4?

Oleh: Nurul Rahmawati (pemerhati pendidikan, orangtua siswa kelas 2 SD)

Di sebuah SD di Jawa Tengah.

Habibi merasa galau. Bocah kelas 2 SD itu sedih, lantaran PR Matematikanya dicorat-coret dengan tinta merah oleh gurunya. Skor yang ia peroleh hanya 20. Habibi belum paham benar dengan soal-soal yang bikin ia mumet. Untunglah, ia punya kakak— Muhammad Erfas Maulana, mahasiswa teknik mesin—yang siap mengajarinya dengan sabar dan telaten. Habibi percaya diri dengan jawaban sang kakak. Tapi, mengapa ternyata jawaban kakaknya dianggap salah oleh gurunya?

Soal itu berbunyi 4+4+4+4+4+4=…… Habibi menjawab 4×6 = 24. Rupanya, jawaban itu dianggap “salah total”. Karena jawaban yang benar adalah 6×4=24.

Habibi tentu lapor pada Erfas, sang “mentor” sekaligus kakaknya. Erfas terusik dengan nilai 20. Barangkali harga dirinya jatuh di hadapan si adik yang baru duduk di kelas 2 SD. Tak terima dengan penilaian si guru, Erfas mengajukan “surat cinta” yang berisikan protes.

Bu guru yang terhormat,

Mohon maaf sebelumnya, saya kakak dari Habibi yang mengajarinya mengajarkan PR di atas.

Bu, bukankah jawaban dari Habibi benar semua?

Apakah hanya karena letaknya yang terbalik, sehingga jawaban Habibi Anda salahkan?

Menurut saya, masalah peletakan bukan menjadi masalah, bu. Misal, 4×6 = 6×4. Hasilnya sama-sama 24.

Terima kasih Bu, mohon perhatiannya. Semoga dapat dijadikan pertimbangan.

Mungkin, surat ini hanya berhenti di meja ibu guru, apabila Erfas tidak meng-upload-nya di Facebook. Ya, surat ini menjadi viral lantaran Erfas membahasnya di jejaring sosial terpopuler di Indonesia. Ratusan orang men-share postingan Erfas. Bahkan, dibahas di berbagai portal berita. Ratusan orang menganalisa dengan latar belakang akademis masing-masing. Sebagian mencela si guru, yang lain menimpakan kesalahan pada Erfas… Ada pula yang mengutuk sistem pembelajaran, ada yang menimpakan telunjuk kesalahan pada Kemendikbud. Facebook menjadi riuh oleh 4×6 atau 6×4….

***

LIMA belas tahun lalu, di sebuah elementary school (SD) di Amerika Serikat.

Seorang pria kandidat doktor tengah mengajukan protes pada guru SD tempat sang anak belajar. Menariknya, protes ini bukan lantaran si bocah diberi skor 20. Justru, sang ayah protes, karena karangan berbahasa Inggris yang ditulis si anak malah diberi nilai E (excellent) yang artinya sempurna, hebat, sangat bagus. Padahal si anak baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Menurut pria kandidat doktor itu, karangan si anak buruk, logikanya sederhana, kemampuan verbal masih sangat terbatas. Sehingga tidak sepatutnya guru memberi skor E.

“Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri,” begitu ujar sang kandidat doktor.

Sewaktu ia protes, ibu guru yang menerima hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawanya.Dia pun tersenyum. Ibu guru yang simpatik itu berujar, “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini. Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat.”

***

Anda tahu, siapa kandidat doktor yang “memprotes” guru anaknya itu? Ya, dia adalah Prof Rhenald Kasali, Phd. Dua cerita di atas sengaja saya sajikan, supaya kita bisa lebih jeli dalam menyaksikan paradoks yang “menampar” wajah pendidikan kita.

Kasus 4×6 atau 6×4 adalah letupan kecil, sebuah contoh betapa guru plus sistem pendidikan kita belum mengembangkan budaya penghargaan pada anak. Mengapa ketika “salah” menjawab, langsung diberi skor salah total? Mengapa tidak ada penghargaan, bahwa anak sudah meluangkan waktu, untuk mau, bersedia mengorbankan waktu istirahat dan bermainnya untuk mengerjakan PR? Mengapa guru tidak mengapresiasi upaya anak yang mau mencari mentor dan bertanya pada kakaknya? Dan, mengapa kita begitu terpaku dengan skor kuantitatif?

Terlalu banyak “mengapa” yang bisa tersaji. Yang pada intinya, semua itu bermuara pada abai-nya kita untuk meng-encourage, menyemangati anak didik untuk do his or her best. Anak-anak hanya dipacu untuk mengerjakan soal, dengan kunci jawaban yang sudah dipegang erat oleh si guru. Anak-anak nyaris tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan potensi masing-masing. Ketika mengkreasikan sesuatu hal, anak-anak hanya menelan pil pahit berupa judgement dari guru, “Karya ini buruk sekali! Kurang rapi!” dan sebagainya. Sungguh menyedihkan.

Yang lebih parah lagi, beberapa SD Negeri justru mencerabut hak anak untuk beribadah. Ini terjadi di sekolah anak saya. Jam masuk pukul 11:30, dan ia baru pulang pukul 16:30. Seharusnya ia sholat dhuhur di masjid dekat sekolah, tapi karena gerbang sekolah dikunci rapat, anak saya tidak pernah sholat dhuhur setiap hari! Wow. Inikah pendidikan yang didambakan oleh Kemendikbud? Menciptakan generasi yang hanya sendiko dawuh, taklid buta pada guru, yang notabene justru tidak bisa meng-encourage anak didiknya?

***

Sepertinya dunia pendidikan kita masih jalan di tempat. Saya menantang kabinet Jokowi, untuk bisa menempatkan orang-orang terbaik di kementerian yang “seksi” ini. Buat apa anggaran tinggi, tapi distribusi buku masih acakadut, dan sistem belajar mengajar juga sami mawon, masih tereksekusi secara top-down dan ortodoks. Judulnya saja, kurikulum 2013, merangsang nalar dan membangun karakter. Tapi, guru-gurunya—yang sudah ikut pelatihan kurikulum—masih bermental old-school, mengandalkan bentakan, mata yang melotot tajam, plus tak bisa menghargai anak didik.

Oh, maafkan curhat saya yang terlampau panjang. Saya tentu tidak rela anak-anak kita terdogma dalam sistem yang buruk, dan kita justru melahirkan Habibi-Habibi yang takut untuk mengembangkan nalar dan keilmuan. Ngomong-ngomong, saya yakin orangtua Habibi tentu ingin putranya kelak akan sebrilian Prof BJ Habibie. Dan, saya haqqul yaqin, Habibie tak akan menjadi profesor hebat, apabila Matematikanya dulu hanya diberi skor 20 oleh sang guru.(*)

Advertisements

89 thoughts on “#TGIM : Dimuat di Jawa Pos!”

    1. Iya dong. Kan kecerdasan itu ada 8 tipe, cmiiw.
      1. Kecerdasan Linguistik (Word Smart).
      2. Kecerdasan Logika-Matematika (Number Smart).
      3. Kecerdasan Visual-Spasial (Picture Smart).
      4. Kecerdasan Musikal (Music Smart).
      dll.

      Kita tinggal mengamati aja, apakah diri kita (dan atau anak kita) lebih menonjol di tipe kecerdasan yang mana.

  1. sebagai guru saya tertohok dengan postingan ini dan beberapa paragraf yg mbak tuliskan.
    kenyataannya kurikulum 2013 ini gak matang.memang menyita tenaga dan waktu terutama guru. belum lagi bobot materi yang bagi saya untuk usia mereka masih terlampau jauh jangkauannya. ya…. namanya saya guru kasarannya hanya bisa sendiko dawuh saja sama “kongkalikong” atasan untuk menjalankan sebuah sistem pendidikan….

    1. Widih, padahal mak Cheila (on 7??) udah jadi jawara Kartini Muda, juara 1 lomba blog Indonesia Hebat, dll, masih ngerasa K-13 ini “berat” yak.

      Kalo saya pribadi sbg ortu, basically hanya request supaya guru utu encourage anak. Yakin banget deh, masalah kognitif dll-nya itu relatif-sangat-mudah untuk diajarkan. Yang sulit adalah bagaimana memotivasi, menyuntikkan kepercayaan diri/mandiri, akhlak, dll. Encouragement is hard 🙂

      1. Aku setuju banget sama mbak soal encourage anak. Kebetulan sekolah anakku udh pake kurikulum itu sejak th lalu (waktu anakku kelas 1) gurunya mengakui kalo itu beda banget tp somehow dia enjoy krn menuntut siswa lebih aktif dan guru lebih atraktif.. alhamdulillah sih tahun lalu sukses smua

      2. You’ve got the point!!

        Bener banget, mak. Nih K-13 ini gimana yaaa… sebenernya okee siiih kalo dari konsep, karena kan pengin meng-holistik-kan semua materi pelajaran. Jadi, anak2 itu dikasih TEMA tertentu yang berisikan Math, Bhs Ind, dll-nya. Tapiii oh, tapiii IMHO, “KEKUATAN” K-13 ini ada pada GURU. Kalo Gurunya punya karakter yang “menyedihkan” banget, ya wassalam. Mau dibikin sebagus apa, teteup aja, jadinya gak oke.

      3. Pengalamanku ya..
        Th lalu waktu anakku kelas 1 itu gurunya jungkir balik bener siapin materi dan cara penyampaian yg fun sampe miridnya itu NANGIS kalo sakit dan gak masuk sekolah. Karena gurunya atraktif, murid jd aktif. Bener2 loh guru itu panutan banget karena anakku aja udh naik kelas masih kesengsem ama guru kelas 1nya

      4. Memang, kuncinya ada di GURU mak. karena itu, yang saya komparasikan adalah GURU. Kalo kita bicara soal policy Kemendikbud, dll, bakal multi-faktor kali yaa, karena sudah menyangkut masalah dunia politik, modal2 untuk kampanye, dll kan? Kalau SEMUA GURU punya kualitas mumpuni, insyaAllah kurikulum model apapun hajarrrr bleeeh 🙂

  2. anak saya dulu pernah diare terus menerus, bangun tidur terlalu cepat dan ketakutan mengintip jendela, dan keliatan males ke sekolah. ternyata salah seorang gurunya yang justru sudah sangat senior sering memarahinya dengan kata-kata keras,melotot dan menghukum.nilai? sudah pasti rendah.

    1. Astaghfirullah…. luar biasa dahsyat ya mak, bully yang dilakukan guru2…
      Anakku juga pernah berada di fase “ga mau sekolah”.
      Sekarang saya pindahin ke SDN, ehhh… dapat guru yang HORORnya naudzubillah, DUA TAHUN berturut2!! Yes, wali kelas zaman dia kelas 1, ternyata jadi wali kelas doi lagi di kelas 2. Sedih….

    1. Alhamdulillah, yg ini mungkin karena momentumnya pas banget yak. Jadi, mungkin sekitar 2-3 hari udah terbit.

      Ayooo… kamu kirim juga dong.. Nothing to lose… Kalo blum dimuat, coba lagi, coba lagiii…

    1. Krik *kemudian hening* hehehhe…

      Banyak faktor sih mbak. Aku ga bisa ngupas satu demi satu. Tapi, IMHO, pendidikan kita kan emang “ditunggangi” politik yak. jadinya, ya semua kudu serba “tunduk” ke politik. Akibatnya, guru2 jadi galau, bingung, dan yang jiwanya rada “bermasalah”, marah2 enggak jelas, sbg pelampiasan kebingungan. Yang dimarahi?? Ya murid2nya yang innosens ituh.

  3. iya.. saya ikut bingung… mengapa mata pelajaran matematika yang “seharusnya” jelas benar-salahnya (setidaknya dulu saat saya masih sekolah, saat saya mengerjakan persamaan matematika, substitusi, dkk)

    udah ah…. hal yang simpel jangan dibikin rumit… ya mak.. 😀
    yang jelas hargai effort seseorang dalam mengerjakan sesuatu 🙂

    selamat tulisannya sudah masuk media, semoga mencerahkan banyak orang 🙂
    sukses ya mak 🙂

  4. Selamat mbak, tulisannya sukses tayang di JP. Aq juga pengen pake banget bs nulis runut dan alurnya jelas mau menulis apa, tapi sampe.skrg model tulisanku msh spt kutu loncat.

    # perlu belajar banyak pd mbak nurul neh? Atau tulisanku ta draft dl utk konsultasi ke mbak nurul, gmn mbak?

      1. Serius tulisanku layak muat di NH mbak?

        Inbox saran dan kritiknya ya mbak? Serius, perlu berguru utk nulis neh mbak? Terlebih utk bicara di depan publik, aq gagap total.

  5. Dan mengenai kurikulum 13, sebetulnya aq termasuk ortu yg masih bingung, gmn jk ortunya org desa dan gaptek?
    Mungkunkah kurikulum 13 eligible utk semua sekolah, terlebih jk ortunya trgolong org yg belum berinteraksi dg IT, yg sehari2nya ke swah dan sejenisnya?

    1. K-13 ini malah utk beberapa hal gak eligible untuk anak2 di kota besar, mak. Misalnya nih, salah satu tugas prakarya anakku Sidqi (kls 2 SD) adalah bikin prakarya berbahan daun kelapa *krik* Di Surabaya bagian mana ya, ada daun kelapa? Masak kudu berburu sampe ke Pacitan, getoo? Hehhehe… Tapi, ya itu balik lagi ke GURU dan ORTU. Kalo ortunya bisa lebih asertif, dan “protes” plus diskusi dgn guru, insyaAllah solusinya bakal ketemu sih.

      All in all, K-13 ini menSYARATkan guru yang mumpuni, passionate, telaten, dan menjiwai benar perannya sebagai GURU. Bukannya hanya menurut pd pakem “Yang penting, bisa ngejar target kurikulum” dll.

  6. Loove this!
    Mbak anakmu sekolah dimana to pulangnya sore amat.. anakku juga pulang sote tp sekolah d sekolah.. aku blm percaya sama
    Standar sekolah negeri jd blom bs menitipkan anak disana..
    Aku jyga bingung sama materi tematik yg dicela krn aku gak merasa nemu kejelekannya.. piye iki jal?!

    1. Materi K-13 itu Layak untuk dicela jika dan hanya jika gurunya mengajar dengan style dan akhlak yang soooo…. yesterday. And it HAPPENS, mak! Di sekolah anakku (ngapunten, aku blum brani nyebut nama sekolahnya, karena kuatir anakku di-bully, hehehe) gurunya itu mengajarkan dengan MERENDAHKAN MARTABAT ANAK. Serious! Karena aku DENGAR SENDIRI, bagaimana ia membentak, mengatakan murid MBETHIK, plus menjendul (apa ya, menoyor??) murid di depan rekan2nya BILA tak kunjung bisa menemukan jawaban SESUAI dengan APA yang ia harapkan.

      1. Astagaaaa shame on him/her!!
        Alhamdulillah anakku kelas 1 dilalui dengan flying numbers untuk semua materinya. Walau itu pertama kalinya pakai kurikulum 2013, tp alhamdulillah gurunya berhasil bangey membawa murid2nya (fisik dan mental) sukses melalui masa ini.. sedih aku mbak bayangin anakmu digituin.. duh klo aku udh proteeeesssss

  7. masalah guru krg menghargai kerjakeras murid sptnya paling sering terjadi….sy prnh protes ke guru anak sy, kr pekerjaan ank sy tdk dihargai, tp begitulah klo gak dikritisi ya smkin berkelanjutan…
    Apalg skrg pkai K-13 itu…tmn sy sj yg guru kewalahan, ktnya “kt ini guru dan murid blm siap menerima K-13, tp dipaksakan, kt spt dijajah, kasian anak2..mgkn yg diperkotaan yg fasilitasnya mumpuni tdk mslh tp yg didesa?”…

    1. Wah, banyak guru yang sambat ya mak. So sad.

      Pendidikan anak2 kita laksana “gambling” aja ya. Prinsip trial and error teruuusss aja dilakukan. Padahal, slogan minyak kayu putih itu kan jelas tho mak: “Buat anak jangan coba-coba…!” 🙂

  8. Yes, I did mak. Saya udah bertemu gurunya untuk membahas sikap beliau yang “di luar kewajaran” itu. Apa yang terjadi? Aku “disemprot”, hahahah… Dia bilang “Saya gak peduli orangtua/wali murid bilang saya jahat, judes, dll-nya, yang jelas apa yang saya lakukan ini supaya anak2 jadi DISIPLIN. Saya mau melahirkan generasi yang JUJUR, walaupun kadang saya sendiri juga enggak jujur…” *preeeeettt banget kan? Dan, aku terpaksa menitipkan anakku bertahan di sana, karena satu-dua-alasan mak. InsyaAllah, aku bahas di postingan lain ya mak.

  9. saya suka baca tulisannya dan memang kondisi itu bener banget. Keponakan saya sudah 2 yg menjadi ‘korban’ guru. Salah satunya harus tinggal kelas gegara PR, tugas atau sejenisnya dikerjakan tidak sesuai keinginan guru 😦

    1. GURU masa kini emang grhrhrhrrhhrh *emosi jiwa*

      Baiklah mak. Selain kita “lawan” dengan protes langsung ke guru, alangkah eloknya kalau juga kita “lawan” dgn sounding via media, either blog ataupun sosmed atau tulisan ke media massa.

  10. Selamat Mak *makan-makan-makan*
    Bagi mereka yang belum merasakan, anaknya mogok sekolah gara2 sikap guru, mungkin akan nyantai. Tapi bagi emak yang merasakan anaknya tiba2 ketakutan dalam tidur dan mengkerut mau berangkat sekolah. Akan merasa masa depan anaknya sdh di grogotin oleh sekolah, hiks.
    saya cuma berpesan kepada guru, jangan buat mogok anak sy utk belajar, masa depan mrk msh panjang.

    1. Betul, uni Salma, betullll banget nget…!
      Sekolah jika disertai guru yang oke, insyaAllah akan jadi “kawah candradimuka” yang menyenangkan.
      Tapi, kalo gurunya horor bin monster, wassalam 😦

  11. mak…..ikutan bangga nih kenal dikau-orang beken tulisannya masuk di harian keren…=)
    ya…memang tugas guru itu berat ya dan harus penuh kesabaran.kebetulan ibuku juga guru di desa/kampung halamanku, insyaAllah tahun ini pensiun.tiap lebaran di rumah ibu selalu ramai didatangani murid/mantan muridnya, insyaAllah bukan termasuk gurur yang horor ya

    1. Walah, mbak Ike lebay level akut deh, hihihi….
      Ibuku juga guru. Beliau pensiun dari SMAN 17 Sby. Ngajar KIMIA–> pelajaran lumayan nightmare kan ya? Tapi, Alhamdulillah, ibuku jadi pembimbing SKI di sekolah, sering jd tumpuan curhat murid2nya, daan… sampe detik ini, murid beliau yang udah diajar dari tahun 1970-an, masih seriiiing main ke rumah kami. Untuk apa?? Kangen2an! Bbbeuuuh… sebenernya banyak kok guru2 yang keren seperti ibunda2 kita. Syaratnya ya itu tadi, mereka betul2 terpanggil jadi guru, sangat passionate, sabar, telaten, dan mereka berhasrat untuk mendidik plus mencetak “calon pemimpin bangsa di masa depan”

  12. Wow ..

    Banyak tinjauan untuk 4×6 dan 6×4. Banyak penapat.
    Tapi soal penghargaan, saya setuju. Sudah seharusnya guru memberi penghargaan pada proses anak didiknya. Sayangnya masih banyak guru yang menjajarnya masih separuh hati. Masih banyak pula kepsek yang tidak pantas jadi pemimpin.

    Yaaah mudah2an ada angin baik ya ke depannya.

    Selamat ya Mak … keren nih JP 🙂

    Tapi ada konfirmasi dari JPkah waktu dimuat? Atau Mak Nurul dengar kabar dari pembaca JP saja?

      1. Bisa bisaaa banget mak Niar hihihi…

        Karena (kantor) saya langganan JP, jadinya saya ngeh kalo tulisan dimuat. Tapi, so far, blum ada telpon dari JP. Jadi, saya juga enggak tahu honornya udah ditransfer apa blum, hahaha. 🙂

  13. ihiiyy, pengen komen tapi takut kepanjangan hahha…di postinganmu sebelumnya aku masih berpatokan dengan, yang penting kan hasilnya sama…tapi ternyata matematika tidak begitu yaa *berarti saya udah gagal paham ya selama ini hahaha* ini baru ‘ngeh’ waktu diskusi dengan pak suami…dan tiba tiba hari minggu sore kemarin, suamiku mengumpulkan anak anakku dan mengajak mereka diskusi mengenai ini…

    yang paling besar ternyata sudah menguasai logika matematika nya, sehingga dia bisa membedakan 4X6 dan 6X4, berbeda dengan si nomer 2 … dan akhirnya si bapake menjelaskan kepadanya…saya gak berani nge judge siapapun (walopun gemes yaa baca baca komen diatas tentang beberapa pendidik yang bikin hati sedih bacanya 😦 )

    saya setuju dengan suami saya, dia bilang…udahlah kamu ndak usah ikut ikutan bahas si 4X6 dan 6X4, kita lakukan apa yang bisa kita lakukan…sebagai orang tua untuk anak anak kita dan saya melakukan ini … *maksudnya diskusi dengan anak anak tentang hal ini* Semoga ke depannya kurikulum dan system pendidikan di negara ini ada perbaikan yaa…hanya bisa berharap dan berdoa… (makin ciut masukin si kakak ke SMPN 😦 )

    1. IMHO mak, beberapa SMP Negeri kualitasnya bagus2 kok. Guru2nya juga bertanggungjawab, berdedikasi dalam mendidik anak. Yang jelas, ortu kudu mengawal, dan berdoa. Yap, terkadang karena ngerasa udah jadi “super-parents”, kita lupa memohon pada Sang Penggenggam Kehidupan, agar anak2 dan kita senantiasa dijaga oleh-Nya *ini self-talk siiiy*

  14. iihh maaf…ampe kelewatan….SELAMAT YAA, udah masuk koran artikelnya….btw musti banyak belajar nih…aku pengeeen banget bisa menulis begitu…bahasanya enak, mudah dicerna dan runut…apa yang ingin disampaikan kebaca semua…keren !

    1. Everybody can write! Blog dikau keceee berats kok mak. Kalau mau kirim ke rubrik yang rada “serius” bin “maskulin” kayak OPINI JP ini, brarti kudu kita kurangi kalimat2 yang berkesan alay, narsis, guyon, emak2 bingits, heheheh…. *termasuk diriku suka pake kalimat sok gaulll geto looh*

  15. Saya setuju dengan sudut pandangnya, mak. Memang seharusnya guru matematika bisa menjelaskan ke muridnya yang baru duduk di kelas 2 SD bahwa pengertian perkalian yang diajarkan kakaknya serupa tetapi tidak sama dengan yang diajarkan di kelas. Bukan dengan langsung menyalahkan pekerjaan si anak.

    Keren nih tantangannya ke pemerintahan Jokowi.

  16. Aww.. keren sekali mb nurul iki.. bisa curcol begitu keras di Media masa se ngetop JP hehehee.. moga2 aja byk yg baca dan kritikannya bisa jadi memecut semangat perbaikan pendidikan anak di Indonesia..
    Habibiku masih akan masuk SD taon dpn, dan harapanku semoga dpt skul n guru2 yang bagus dan sesuai buat dia 🙂

    1. Kok tau siiy, kalo aku lagi curcol? Hahaha…. iya mak. Memilih sekolah (dan GURU) itu masalah yang super-duper-penting. Luangkan waktu untuk survey, investigasi, tanya2 ke ortu/wali murid yang lain, masyarakat sekitar, dll.

    1. Alhamdulillah, skrg udah ada solusinya Mas.

      Mushola di sekolah mulai difungsikan. Walaupun, memang kapasitasnya terbatas. Jadi, yang sholat dhuhur adalah bocah2 yang memang niat untuk sholat.

      Yang lainnya sih, teteup enggak sholat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s