Merasa Baik

Merasa Baik

“Jika setan tak mampu membuatmu melakukan keburukan dan kebathilan, maka setan akan menjadikanmu MERASA BAIK.”

Saat diri merasa buruk, (biasanya) kita akan berusaha memperbaiki diri.

Namun, saat diri merasa baik, semua keburukan bakal terjadi. Karena pada hakikatnya, orang yang merasa baik, tidak ada yang dipikirkan selain diri sendiri.

Merasa baik, tidak sempat menilai diri terhadap kekurangan. Karena yang dirasakan hanya kebaikan dirinya. Karena yang ia rasa hanya kebaikan dirinya. Yang dia lihat adalah keburukan dan kekurangan orang lain, sampai ia melupakan kekurangan dirinya.

Merasa baik, adalah keburukan yang paling buruk. Karena merasa baik, adalah salah satu penyakit hati.

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati, hingga tidak seorang pun yang BANGGA atas yang lain, dan tidak ada yang berbuat aniaya/dholim terhadap yang lain.” (HR Muslim No. 2865)

Tampak baik bukan berarti baik. Bahkan sebaliknya. Merasa baik adalah seburuk-buruknya rasa. Karena rasa ini menjadikan pemiliknya tidak bisa menilai kesalahan diri sendiri. Tidak mungkin bisa menyesali kekeliruannya. Karena pemiliknya merasa tidak pernah bersalah. Yang ia rasa hanya kebaikan dirinya. Takjub dengan dirinya sendiri.

Padahal salah satu perintah Rasul adalah: agar kita pandai menangisi dosa-dosa kita. Bagaimana mungkin bisa, kalau yang dirasakan hanyalah kebaikan yang dipunya.