Merayakan Kemenangan Kecil Pasca Ramadan
Ramadan tahun ini BEDA. BANGET. Kalian ngerasa gitu juga, kan? Vibes Ramadan 2026 seolah memanggil kita semua untuk “pulang”, mengadu pada Allah ta’ala. Mencurahkan semua keluh kesah yang selama ini sengaja kita pendam. Berterus terang bahwa kita Adalah makhluk yang dhoif/lemah, nggak bisa apa-apa tanpa pertolongan dan ke-Maha Kuasa-an Allah, ar-Rahmaan ar-Rahiim. Ramadan tahun ini sungguh memberikan dampak luar biasa dahsyat, banyak yang begitu bergairah untuk melakoni aneka ibadah. Banyak Masjid FULL HOUSE, bahkan ketika momen i’tikaf di 10 hari terakhir! MasyaAllah… Ramadan yang sungguh hidup, menyala-nyala, dan memberikan nuansa gembira jiwa raga.
Saya sangat menikmati detik demi detik yang berlalu di bulan suci tahun ini. Momen “sereceh” apapun, perasaan seremeh apapun, semuanya berusaha saya embrace. Saya akui. Saya validasi. Aneka podcast kajian Ustadz saya simak dengan segenap hati.
Ramadan tahun ini BEDA. Semoga, nilai-nilai kebaikan senantiasa tertanam dalam jiwa.
Yang jelas, di 2026, saya menjalani hari-hari Ramadan dengan spirit mindfull. Saya berupaya untuk melangitkan Syukur, hari ini, saat ini, di sini. Dalam kondisi apapun. Allah memang Maha membolak-balikkan hati. Kalau tahun-tahun sebelumnya, saya kemrungsung dan mupeng ikutan aneka Bukber atau event-event lainnya; maka tahun ini saya merasa sama sekali tidak butuh itu semua. Yang saya butuhkan hanya quality time dengan Dzat Yang Maha Besar, Maha Menggenggam jiwa makhluk-makhluk-Nya.
Ada sejumlah momen yang mungkin terkesan sepele, tapi sungguh, ini membangkitkan bongkahan Syukur tanpa umpama. Apa saja?
(1). Ajeg Bangun Jam 2 Setiap Pagi!
Saya itu tipe pelor, nempel dikit langsung molor alias hobi banget tidur. Kalau sudah ketemu bantal dan Kasur, tidur saya bisa lamaaaa dan nyenyak maksimal. Di hari biasa, umumnya saya bangun jelang Subuh, sekitar jam 4 pagi. That’s why, jelang Ramadan, rasa khawatir sempat menyergap, kira-kira saya bisa bangun buat masak sahur, apa kagak ya?
Hamdalah, sekali lagi, Allah menunjukkan kuasa-Nya. Di bulan suci ini, saya selalu bangun jam 2 pagi! Sampai malam ini, nggak pernah satu kalipun saya bangun telat. Dan, makin ajaib lagi, otak rasanya langsung on fire, badan juga kompak menerima komando untuk segera masak. Btw, kami tim yang doyan sahur dengan menu yang dimasak fresh, walau ada sebagian sisa lauk pas buka dan tinggal dihangatkan. Tapi khusus nasi dan sayur, saya prefer masak sesaat sebelum makan. Kebayang kalau saya tidur pulas banget dan telat bangun, kayak gimana ntar sahurnya?
(2). Bisa I’tikaf di 10 Hari Terakhir
Selama bertahun-tahun jalani bulan Ramadan, saya belum pernah I’tikaf ke Masjid. Satu kalipun belum pernah! Tahun ini, lagi-lagi saya merasa takjub. Bisa bangun jam 2, langsung masak, nyiapin segala sesuatu di dapur dan meja makan, mandi jam 2.45, kemudian jam 3 saya otw ke Masjid untuk I’tikaf. MasyaAllah. Sungguh, ini rezeki luar biasa yang harus menjadi bahan bakar syukur. Tidak semua orang dapat kesempatan dan kemudahan untuk ber-i’tikaf.
Lebih Alhamdulillah lagi, saya berhasil mengajak Sidqi, cah lanang untuk menemani Emaknya ke Masjid. Justru, Sidqi lebih lama sholat tahajud-nya ketimbang saya. Sujudnya juga lebih panjang.
BarokAllah, Nak. Ibu bisa I’tikaf saja sudah beyond happy, apalagi bisa mengajak GenZ untuk I’tikaf dan bermunajat pada Allah ta’ala di Ramadan yang super spesial ini. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
(3). Nawaitu Ogah Tidur Lagi Setelah Subuh!
Salah satu niat yang saya pancangkan di awal tahun adalah: berhenti tidur lagi setelah sholat subuh. Niat baik dan berubah menuju kebaikan sebaiknya ditulis. Kalo bisa, ditulis gedaaa gedaaa, trus ditempel di tembok kamar.
Pertanyaannya, apakah berhasil dieksekusi?
*nunduk dalem*
Lagi-lagi, Allah menunjukkan kuasa-Nya. Ramadan menjadi golden moment, yang mempermudah saya untuk tetap bangun setelah sholat Subuh.
Selepas sahur, Allah yang menggerakkan jiwa raga saya untuk ambil wudhu dan berangkat ke Masjid. Sholat Subuh berjamaah, dengan jumlah peserta yang tidak banyak. Justru ini menjadi momentum berharga, untuk makin menghayati makna ibadah. Kontemplasi sekaligus bermohon agar Allah memberikan yang terbaik untuk perjalanan kita dunia dan akherat.
Pasca berjamaah Subuh, mood rasanya lebih ciamik. Lebih segar dan bugar. Terkadang saya sengaja pergi ke Masjid, pakai celana training dan kaos serta jilbab instan katun, lalu pakai sepatu keds, dan tidak bawa tas. Sholat pinjam mukena Masjid. Selepas sholat, saya lanjut jogging santai di sekitar kompleks. Hawa subuh itu luar biasa. Segar, dan relaxing.