Digital Detox Ramadan: Dapat Sehatnya, Dapat Pahalanya
Pernah ngerasain fisik sehat paripurna, tapi psikis nggak waras?
Ada dengki tak terperi, rasa julid yang tiba-tiba menyeruak, hanya karena barusan pantengin postingan pencapaian orang lain?
Atau rasa was-was, insecure, kenapa teman SMA kita yang dulu keknya nggak pinter-pinter amat, eh… sekarang jadi General Manager perusahan multinasional. Kok bisaaa? Sementara kita (si paling ranking 1 jaman sekolah) hidupnya begini begini aja. Monoton dan super ngebosenin.
Dari mana kita bisa tahu aneka update duniawi? Yap, tidak lain tidak bukan, hasil dari doomscrolling aneka media sosial.
Gilaaaaak nih perkembangan dunia digital. Makin awur-awuran! Kita tuh bagaikan bisa mengintip, atau bahkan melihat kehidupan orang lain dengan jelas banget. Nyaris nggak ada yang disembunyikan. Kegemilangan hidup orang lain (yang tentu saja sudah dikurasi) menjadi bahan bakar penyakit hati, iri, dengki, nyinyir, yang semuanya berujung pada perasaan tidak ridho dengan takdir.
Lagi-lagi ketidakwarasan menguar, manakala scrolling… lalu menjumpai aneka komentar toned deaf yang bermuncratan dari segala arah. Sikap pemerintul yang makin amburadul. Diaspora yang mukanya berseri-seri tapi melontarkan kalimat yang menyakitkan hati. Aneka derita yang langsung tersaji di depan mata. Semuanya berkontribusi bikin sakit jiwa! Aaarggghh!
Kalau tanda-tanda ini sudah muncul, saatnya kita lakukan Detoks Digital. Konsepnya mirip dengan Detoksifikasi yang biasa kita lakukan demi Kesehatan tubuh. Singkatnya, beberapa makanan yang kita konsumsi mengandung zat-zat “racun” yang tidak baik untuk kesehatan. Racun harus dikeluarkan. Dengan cara apa? Detoks.
Mirip lah seperti itu. Dunia digital (yang kita nyaris nggak bisa lepas darinya) tentu mengandung banyak “racun”. Maka dari itu, supaya psikis dan fisik kita bisa sehat paripurna, dibutuhkan Detoks Digital. Hamdalah, Ramadan datang, dan ini menjadi momentum tepat bagi kita untuk melakukan Detoks Digital.
Kenapa Ramadan Pas Banget untuk Lakukan Detoks Digital?
Selama ini, kita merasa “nggak bisa hidup” tanpa internet. Iya apa iya? Perasaan itu yang coba kita alihkan pelan-pelan. Nyatanya, kita SANGAT BISA kok hidup tanpa internet. Kata kuncinya adalah: kita yang harus atur perasaan.
Kenapa kita bisa segitunya addicted dengan internet?
Secara singkat, semua konten yang ada di jagad maya menawarkan dopamin instan untuk jiwa. Sekali “disuapin” konten, kita dapat dopamin. Eh, ternyata nagih, loh. Diulang lagi…loh kok panen dopamin lagi? Hingga “banjir dopamin” tak bisa dielakkan, sampai taraf kita bingung mau ngapain kalau nggak scrolling?
Di titik kebingungan inilah, Ramadan datang. Menawarkan sejumlah aktivitas pengundang Hormon Bahagia, dengan cara yang bikin jiwa makin Sentosa.
Ramadan, cuma datang sekali dalam setahun. Menyajikan parade pahala dan kesempatan emas untuk berbuat kebaikan. Ramadan hadir dengan kesempatan beribadah dan berdekat-dekat dengan Yang Maha Menggenggam Kehidupan.
So, hayuklah kita Digital Detox dengan cara yang menguntungkan! Switch kebiasaan scrolling berjam-jam, dan Ganti dengan Buka Al-Qur’an. Baca, dan resapi tafsirnya. Nikmati interaksi berlama-lama dengan “manual book” kehidupan. Kalau perlu, bikin target, misalnya ODOJ (One Day One Juz) supaya perasaan kita teralihkan. Dari yang tadinya “nggak bisa hidup tanpa internet” menjadi “nggak bisa hidup dengan baik dan benar kalau nggak dekat dengan Al-Qur’an”.
Gampang?
Teorinya sih begitu 😊 Samaaa dengan detoks untuk Kesehatan tubuh. Kalau terbiasa mengonsumsi makanan tinggi kolesterol, lemak jahat, dll.. kemudian kita diminta untuk Jalani mindfull eating atau clean eating, dijamin deh… tubuh dan psikis bakal serempak protes. Yang pusing lah, yang diare lah, yang mual lah… Ini biasanya berlangsung di fase awal.
Maka, Niat Adalah Koentji!
Digital Detox bisa berhasil apabila kita memancang niat dan tekad yang kuat. Banyak-banyak baca doa, istighfar, dan mohon pada Allah ta’ala. Supaya perjalanan detoks digital ini berhasil! Karena yah, peluang kita gagal ber-detoksifikasi digital sangatlah besar, saking tergantungnya kita dengan duet combo smartphone plus internet.
Alihkan perasaan butuh internet banget, dengan sebuah pertanyaan, “Kapan lagi, kita bisa menikmati ibadah bareng-bareng, dan dapat pahala seabrek? Kapan lagi kita dapat kesempatan bersua dengan bulan suci?”
Tarawih bareng. Menyiapkan takjil/ifthar bareng. Ikut aneka kegiatan di Masjid. Tadarus bareng. Ini kesempatan kita untuk belajar menjadi the real makhluk sosial. Apalagi, buat yang jarang ketemu orang. Ramadan seolah memberi kita kesempatan, ”Jangan berlindung di balik kalimat ‘aku nih introvert, baterai sosialku cepat habis’. Justru mumpung Ramadan, ayo kita praktikan dan belajar jadi makhluk yang supel. Yang piawai bersosialisasi, sekaligus tetap mengamalkan nilai-nilai Ramadan. Jangan jadi generasi yang nunduk mulu!”