Toko Buku, Sang Pelepas “Dahaga Jiwa” yang Tak Seramai Dulu

Toko Buku.

Duluuu, waktu kecil, saya paling demen main ke toko buku. Membaui aroma kertas. Mendengar bunyi mesin kasir. Koin-koin yang bergemerincing. Mbak-mbak petugas yang dengan telaten-gegas-dan cepat memberikan sampul plastic untuk tiap buku yang sudah kita beli.

Dan, yang tak kalah penting…. Ketika aku membaca NYARIS SEMUA isi novel/komik yang segelnya terbuka di rak 😀

Toko buku yang menghadirkan semangat IQRO. Bacalah. Bacalah.

Sekian decade berlalu. Sekian purnama terlewati.

Toko buku masa kini….. ah, kenapa tampak tak menarik lagi?

Di beberapa mall besar Surabaya, eksistensi toko buku mulai punah. Tergantikan oleh toko pernak-pernik seperti Ace Hardware, Mr DIY, Miniso, semacam itu.

Terakhir kali, aku ke TGA di Galaxy Mall Surabaya. Sepiiiii buanget. Hanya ada 6 atau 8 pengunjung. Lagi-lagi aku menjumpai wajah yang sama di antara selasar rak buku. Itu-itu saja. Padahal, ini musim liburan kenaikan kelas!

Mungkin anak-anak lagi mudik ke desa?

Atau lagi liburan ke luar kota/negeri?

Bisa jadi.

Tapiii… manakala aku melewati food court ataupun bagian permainan (time zone/fun world), suasana riuh langsung terasa. Wajah-wajah anak sekolah sangat mudah ditemui di sana. Juga ketika aku melewati sebuah resto Jepang yang baru aja grand opening, voilaaaa…. Malah buayaaaakk yang antre rapi jali mengular di depan pintu masuk resto!

Trus, seperti biasa, aku juga pengin beli cincau station. Lagi-lagi super rame! Harus antre sekitar 20 menit, hanya untuk mendapatkan 3 gelas cincau seharga 10 ribu/pax.

Kenapa wajah-wajah itu tidak aku temui di toko buku ya?

***

Era digital memang mengubah segalanya. Tren penjualan koran atau majalah fisik menukik tajam. Semua berganti ke format digital. Baca berita terkini bisa di portal berita online. Opini-opini yang kredibel juga bisa kita temukan di berbagai website. Hiburan, gossip review film, hal-hal yang menyangkut daily life ataupun opini tertentu, juga gampang kita temukan manakala berselancar di dunia maya.

Toko buku—mau tidak mau—harus terus beradaptasi menghadapi pola hidup yang kian berubah. Kalau dibilang minat baca masyarakat kian turun, bisa ya bisa tidak. Yang jelas, membaca tidak harus dalam format buku fisik, kan?

Dan, menurutku, toko buku harus melakukan sebuah revolusi luar biasa agar tetap bisa mengikuti perubahan zaman.

Apa saja?

(1). Rebranding toko buku menjadi Café and Book store

Manakala lihat koleksi buku yang buanyaaaak di TGA, tapi pengunjungnya seuprit, aku membayangkan andaikata kami kami ini bisa nongkrong minum cappuccino latte, sambil baca buku sample. Ahhh, enaknya. 

(2). Lengkapi dengan live music

Makin sip lagi kalau ada live music (band local aja yang akustikan) dan ini bisa memantik anak muda untuk nongkrong di toko buku

(3). Gandeng Content Creator untuk Mengampanyekan Rebranding Ini

Ayolah! Tiap kota pasti punya instagrammer/content creator/blogger yang bisa diajak berkolaborasi untuk kembali meramaikan book store.

(4). Bikin promo Gila-gilaan

Sesekali kerjasama dengan penerbit/bank/fintech untuk menghadirkan SALE 80% misalnya. Big Bad Wolf, sependek pengamatanku, tidak pernah sepi, karena ya itu tadi. Banyak promo gokil.

Advertisements