Uncategorized

4×6 atau 6×4??

Baiklaaahh, sebagai emak2 yang punya anak bercokol di kelas 2 SD, saya terpanggil buat ikut huru-hara terkait kasus 4×6 atau 6×4.
Well, setelah baca link ini saya jadi gimana yaa, takjub aja gitu, dengan model pendidikan di republik ini.
Kita banyak berkutat dengan hal-hal kognitif, dan melupakan sejumlah aspek urgent, seperti apresiasi terhadap anak didik, encourage mereka untuk bisa jadi lebih baik, dan sebagainya.
Jadi keinget kata-kata Neno Warisman. Anak-anak Bunda Neno tuh, pada milih Homeschooling. Kenapa?
“Karena anak saya butuh TANTANGAN. Bukan ANCAMAN. Sekolah umum biasanya identik dengan ANCAMAN. Nilai merah, itu ancaman. Guru yang galak, marah, serba mengancam, itu jelas ancaman. Anak saya suka dan menggemari tantangan. Karena itu, mereka memilih metode homeschooling yang memang cocok dengan kepribadian serta semangat mereka yang haus tantangan….”
Jujur, saya juga skeptis dengan model pendidikan di SD Negeri. Guru anak saya—-no need to mention nama SDnya lah yaaa, ntar anak gue di-bully lagi, hehehehe—– jadul sejadul-jadulnya.
Masih suka mengejek hasil prakarya anak saya. 
“Jelek sekali ini lukisannya??!?!”
Masih gemar mencaci murid2nya yang ‘berdiskusi’ di dalam kelas
“Kalau masih ribut aja, nanti kalian saya kunci dari luaarrrr!!!”
Glek. 
Ini saya sama sekali enggak fitnah ya. Karena saya DENGAR SENDIRI, ketika suatu ketika saya anterin Sidqi ke sekolah. (ceritanya sidqi telat beberapa menit, karena harus sholat jamaah di Masjid).
Dan, saya dengar dengan KUPING SAYA SENDIRI, bahwa si guru itu bentak2 dan melototin matanya sampai yang toenggg… wengg… wenggg…. 
Udah komplainnya? 
Belum 🙂 Yang paling PARAH adalaaah….. anak saya enggak bisa sholat dhuhur SETIAP HARI!
Kenapa? 
Karena, anak saya masuk jam 11:30, pulangnya jam 16:00 (bisa lebih). Istirahat jam 14:00. Sementara adzan Dhuhur jam 11:40. Harusnya, dia sholat ke Masjid dekat sekolah… Tapi, pas jam istirahat, PAGAR GERBANG SEKOLAH TERKUNCI RAPAT. Doeeenggg… Lalu, mau sholat dimanaaaaa???
Sementara, mushola (dan toilet utk wudhu) sekolah sama sekali ga representatif. Kami udah komplain soal ini, minta jam masuk mundur, tapi oh well…. belum ada tanggapan menggembirakan.
Jadi, oh, Bapak Menteri Dikbud yang terhormat (dadah-dadah ke Pak Nuh….) sebelum masa jabatan Bapak berakhir, mbok ya, tulung itu dibenerin hal printhil tapi penting semacam ini.
Percumaaaa……melahirkan murid2 yang cerdas secara kognitif, tapi enggak punya percaya diri, nalarnya dipatahkan, tidak di-encourage secara positif.
Percumaaaa…….Anda gembar/gembor soal pendidikan karakter blah blah blah itu kalau ternyata Anda (dan para bawahan Anda) justru malah mencerabut hak anak untuk beribadah (sholat)
PERCUMA…!!!
Dan, pesan saya untuk Menteri di Kabinet baru, oh… tolonglah… tidakkah Anda ingin pendidikan di negeri ini melahirkan anak2 yang happy, bahagia, cerdas, akhlak baik, MINIMAL punya karakter kuat, seperti BJ Habibie???
Jangan patahkan Habibi kecil, Sidqi kecil, dan bocil2 lain… Karena mereka adalah calon pemimpin kita.
Kalau untuk soal 4×6 dan 6×4 aja, Anda sudah merasa berhak men-judge itu sebagai failure, jadi… mau digimanain lagi anak2 kita?
PS: Di bawah ini adalah komen saya di sebuah akun grup. 
kalikalian
Nurul Rahmawati Waw, waaaaw, banyak banget yang komen di mari, yak min? Miminnya senyum2 nih pasti, hehehhe…. Eniwei, saya sebagai ortu murid kelas 2 SD melihat kasus 4×6 ini adalah sebuah “letupan kecil” buruknya kurikulum 2013. Ini hanya contoh kecil saja, bahwa Kemendikbud (halo pak nuh…!) lebih menitikberatkan pada kognitif, dan abai–sangat-sangat-abai dengan karakter, akhlak, struggling spirit, dan “menghargai” anak. Saya merasa, anak saya dicerabut haknya, bahkan untuk SHOLAT DHUHUR saja enggak bisa…! Kalo ada yang bilang, “Yaa… itu resiko sekolah di SD Negeri…” atau “Keluarin saja anaknya, pindah ke SD Islam…” well, ga bisa gitu juga. Karena, sebagai anak bangsa, kita semua punya kewajiban plus hak, untuk menyuarakan pendapat, bahwa seharusnya Kemendikbud itu bertugas MENDIDIK dan MEMBUDAYAKAN karakter baik untuk anak2 generasi penerus bangsa. Bukan sekedar men-judge “Eh, kamu skornya 20 aja yaa…” that’s it. Btw, tengkiu buat mimin yang udah bikin FB jadi rame. You rock!!
Advertisements

52 thoughts on “4×6 atau 6×4??”

  1. akuuu …. gemeeess rul …. Ya ampuuun, harus gimana ya anak anak kita 😦 tapi mau homeschooling kok yo belum berani, makin deg degan bin cemas baca semua berita ini … semoga kabinet baru bisa memberikan ‘senyum bahagia’ buat dunia pendidikan kita ini yaa …

    1. Kalau ada duit, better dimasukkan ke sekolah swasta sih, jeung. Tapi, ya gitu, kudu bener2 dipelajari (investigasi kalo perlu) gimana kualitas, kredibiltas dan legalitas sekolah itu.

      Ada loh, SDIT yang lumayan oke di Sby, pada akhirnya TUTUP, karena –konon– enggak legal. padahal, aku pernah ketemu Kasek+guru2nya, dan imho mereka keren lah pendidikannya.

      Ya, semoga Kemendikbud bisa instropeksi dan lebih memberikan yang terbaik utk calon pemimpin bangsa a.k.a anak2 kita

      1. Bukan karena doi masih SD Mak, tapi karena sifat perkalian itu memang bisa dibalik-balik, kecuali perkalian matriks (kalo gak salah) yang memang ada aturannya yang gak bisa dibalik. Tapi itu udah level jauh di atas level SD. Kata suamiku lagi, matematika itu gak sama dengan bahasa… Misalnya gini: 4 mangkok isi 6 bakso beda dong sama 6 mangkok isi 4 bakso, tapi kalo di matematika 4×6 ya sama dengan 6×4. Moga2 aku gak salah nangkep penjelasan suamiku, maklum aku kan dulu anak bahasa, hehe…. Btw jadi pengen makan bakso nih….

  2. saya termasuk yang kembang kempis Mak, soale anaknya termasuk ‘ajaib’. dan guru TKnyalah yang membuat dia takut sampai terbawa mimpi, gara2 dihukum krn ngobrol *protes, dibilang bisanya nyalahin guru*. Homeschooling emaknya ga siap. Kembali ke foto yang heboh, kalau jawabannya ABC, nilai si adek memang 20, tapi itu kan bukan ya? *ah emak-emak bingung.

    1. Kalo baca blog org2 yang pernah pertukaran pelajar ya mak, cmiiw, banyak yang bilang pelajaran anak2 kita tuh TERLALU PREMATUR kalo dibandingin pelajaran di negara2 lain, termasuk negara maju sekalipun.

      Ada yg bilang pelajaran math di SMP Indonesia, ternyata baru diajarkan di Math SMA Australia. Semacam itu. Kalo aku pribadi siy, lebih suka anak2 dimatangkan dulu karakter, kreativitas, percaya diri, termasuk bisa negosiasi (atau berdiskusi) dengan guru dan teman2. Jangan disuruh manuuuuuuttt, sendiko dawuh melulu ama guru.

  3. Gak ada yang salah emang… Hanya kurang tepat kalau itu bisa diterima. Bagaimanapun itu materi dasar yang harus dipahamkan sejak SD. Si guru sudah benar dengan memberikan koreksi yang benar. Lebaynya si kakak saja merasa garapan mahasiswa undip gak terima jawabannya dapat nilai 20 hingga merembet2 bully guru sampai menteri segala :p

  4. Ahaaa.. sebagai “orang kurikulum” gatel juga sebenernya pengen komen masalah ini. Jikalau hal ini menjadi sebuah masalah pendidikan di Indonesia, letak masalahnya dimana? kurikulumnya? gurunya, sekolahnya, pemerintahnya, aorang tua atau bahkan masyarakatnya? Kalau dilhiat dari helikopter view (eciee) masalah pendidikan itu emang njelimet banget. Tapi untuk masalah “perkalian anak SD” ini yang paling tampak masalah ada di tenaga pendidik aka guru. Guru terkesan menyalahkan siswa tsb, padahal secara kasat mata toh perkalian tsb sama saja hasilnya. Dan masyarakat akhirnya menjudge bahwa guru tersebut tidak becus mengajar. Sesungguhnya beban seorang guru itu amatlah besar. Apalagi dunia pendidikan lama-kelamaan makin dinamis. Masalahnya guru jadi TIDAK SIAP dengan perubahan-perubahan tsb. Nyata sekali bahwa orang tua sekarang lebih melek ilmu psikologi, pendidikan anak, parenting dll ketimbang gurunya. Kita harus maklum bahwa guru tsb juga merupakan produk pendidikan terdahulu moms, yang notabene dididik dengan cara yang berbeda dengan sekarang. Zaman dulu pendidikan di dunia berorientasi pada matrealistik, maka pengembangan konsep akan suatu hal tidak dipandang secara menyeluruh. Mungkin kita juga termasuk produk pendidikan zaman dulu, dimana ketika belajar eksak kita dituntut HAFAL RUMUS, tapi tidak mengerti bagaimana cara menggunakannya di kehidupan nyata. Itu terjadi karena kita produk pendidikan yang parsial (tidak terintergrasi). Setelah mengalami perjalanan yang cukup panjang, akhirnya pemerintah menyadari bahwa cara belajar seperti itu KURANG TEPAT. Maka dari itu sekarang lahir lah kurikulum 2013 yang mendasarkan konsep bahwa seorang anak harus belajar dengan konsep yang menyeluruh (memandang dunia sebagai suatu kesatuan yg utuh) tidak dipisah-pisahkan. Jadi tujuan belajar di sekolah itu untuk benar-benar untuk bisa hidup di masyarakat dengan kecakapan intelektual, spiritual, emotional, dan keterampilan.

    Sungguh disayangkan kalau kita (sebagai orang tua) menjadi skeptis terhadap pendidikan Indonesia. Karena sesungguhnya masih ada lho orang-orang yang mau membangun pendidikan Indoensia menjadi lebih baik. Namun kendala di lapangan memang sangat banyak sekaaliiii. Ya salah satunya guru tadi. Mungkin sebagai orang tua kita bisa jadi kontrol untuk sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan. Mudah-mudahan cita-cita Indonesia memiliki generasi emas 2045 terwujud ya moms, dan kita menjadi bagian dari terwujudnya cita-cita tersebut. aamiinnn 🙂

    1. Waw. Terima kasih banyak mak, atas penjelasannya yang luar biasa.

      Memang, saya paham bener bahwa jadi guru sekarang bebannya berat (berbanding lurus dgn salary dan tunjangan dll yang juga semakin gurih kan?) Tapi, basically, IMHO guru juga harus punya karakter yang kuat, membangun percaya diri, pada intinya meng-encourage anak untuk live life to the fullest dan be the best he/she can be. Dalam hal ini, IMHO, beberapa guru (memang tidak semua) belum atau tidak punya spesifikasi ini. Padahal, GURU adalah AKTOR/aktris penting utk pendidikan kita. Bukan melulu soal kurikulum.

      Well, saya blum bisa kasih penjelasan panjang lebar. Tapi, artikel ini semoga bisa jadi rujukan/pencerahan untuk kita semua—> http://mm.fe.ui.ac.id/index.php/berita/261-encouragement-prof-rhenald-kasali-phd

      1. kalau saya jadi gurunya, saya akan benerin tuh jawaban murid itu. karena siswa SD kan baru belajar hitungan dasar aja, belum disampein masalah konsep minum obat atau porsi pasir dan semen yang diaduk 😀

  5. baca beginian bikin galau emak2 yg baru masukin anaknya ke SD…*tunjuk jari*
    ga cuma anaknya yg harus adaptasi dan banyak belajar…tapi emaknya juga..:D
    tapi kok rasanya ga brenti2 ya berdoa semoga pendidikan di endonesa tercinta ini makin dan makin baik,aamiin…

    1. Pada intinya, memang ortu kudu lebih sigap + tangkas gitu deh mak. So far, saya masih rela ‘nitipin’ anak di SD Negeri, tapi sbg emak, saya juga mem-back up dengan ‘homeschooling’ di rumah.

      Ortu juga ambil peran dlm mendidik anak sih. Yap, harapan kusampirkan di pundak Jokowow and the gank 🙂

      1. aq liat anak sekolah sekarang berasa ‘dipecut’ biar bisa lari kenceng…yg dulu kelas 1 SD baru belajar huruf, belajar baca…sekarang soal2nya udah berasa soal anak kelas 3 jaman emaknya sekolah…
        kata siapa jadi ibu ga perlu sekolah tinggi kalo kaya’ gini..kalo ga pinter kan susah juga mau dampingi anak2nya belajar…
        oke deeeh….aq padamu ya pak Jokowow… 😀

      2. Ibu = madrasah pertama dan SELAMANYA untuk anak 🙂

        Ibu HARUS, WAJIB, FARDHU AIN, pintar di segala bidang. Pelajaran, karakter, skill, dll. Karena children see, children do. Ma’acih ya udah main di mari 🙂

  6. akuu prefer masukin ara ke SD islam mba.. udah jauh2 hari sih rencananya.. dasaarnya, ya karena aku ga gitu ‘percaya’ sama sd negeri.. meskipun emaknya ini juga protolan sd negeri. tapi kualitasnya skrg ini jaaaauh dr yg dulu, kalo menurutku..

    1. Walah, perdebatan soal SD Negeri vs SD Islam udah masuk ranah ‘cakar2an’ antara aku dan bapaknya sidqi, hahahaha….

      Eh, cakar2an pake quote-in-quote loh ya, hihihi… insyaAllah soal ini aku bahas di postingan terpisah deh.

      Jeung, jeung, ikut acara Moslem Fashion Festival di Royal Plaza kah? Tgl 5 okt (hari ahad) jam 7 mlm, ada Ria Miranda.

      1. kalo aku milih SD islam sih simple mba, karena umur ara yg belum genap 6 taun lulus TK taun depan…hahaha…

        acara apaan itu mba? ga dpt undangan, aku.. piye?

      2. Festival busana muslim gitu deh, hijabers2…. Undangannya ada di kantor aku mbak.
        Bisa ambil ke Kantor NH, deket UPN Veteran ya.

        Atau, mbak ke Royal Plaza, bagian Informasi, bilang ambil undangan dari Mbak Vicky Ratih (promo manager Royal) yang dititipkan utk mbak Nurul NH.

  7. sumpah aku pusing deh mba baca kasus ini, bikin makin deg-degan kalo punya anak 😦
    kalo ada rejeki lebih mungkin aku mikirnya anakku nanti sekolah di luar negeri ajalah *guayamuuu* *ngerampok bank dulu sana* 😀

  8. kayaknya saya mesti terbang dulu mbak, kemana gitu… ahhh

    tapi mengenai jam masuk 11.30 itu memang harus dikomplein, kalau ngga ditanggapi pindah aja mbak.. pindah aja… *bicara berapi-api

  9. Menurutku kalau ada guru yang mengatakan gambar anak didiknya jelek atau diskusi anak2 sebagai hal yang berisik, sebaiknya orang tua melakukan sesuatu. Misalnya protes. Anak2 kita lho yang akan rusak, hukan anak mereka 🙂

    1. Exactly! Saya udah pernah sih, ketemu ama guru jadul itu mak. Dan, beliau yang terhormat itu berkata, “SAYA NGGAK PEDULI WALAUPUN BANYAK WALI MURID NGATAIN SAYA GALAK, JAHAT, JUDES, TERSERAH. YANG SAYA INGINKAN ANAK-ANAK INI DISIPLIN DAN JUJUR. Yah, walaupun saya kadang juga nggak jujur, TAPI SAYA INGIN MURID-MURID SAYA JADI JUJUR!”
      *glek*
      *semaput*

  10. iya bener banget, liat anakku juga kls 3 PR math-nya sudah perkalian ratusan x puluhan. Kasiaan amat, padahal pegang uang jajan aja jarang, yg artinya dia blm butuh ngitung sampai perkalian puluhan dan ratusan, diskusi sama gurunya yaa mau gimana lagi, dari sonooonya #curcol..

      1. Exactly! Ga perlu yang sampe dipuja-puji gitu juga siiy, tapi minimal, guru itu kudu membangkitkan semangat berkarya pd siswa. Bukannya mematahkan. Makasi pak yudhi atas kunjungannya.

      2. Kalau baca cerita di atas, jadi ingat cerita istri saya.

        Dia pernah bilang sama gurunya Nabil waktu kelas 2,”Kalau anak saya salah jgn dimarahi ya, Bu. . Dikasih tau saja baik2. Dia pasti ngerti”.

        Perlu sikap aktif orangtua menyampaikan kepada guru apa yg sebaiknya dilakukan thd anaknya

  11. Sepertinya tidak hanya sistim pendidikannya yang harus dibenahi, tapi juga karakter gugu-gurunya juga… Memang banyak juga guru yang sudah memenuhi standar layak disebut sebagai guru, “digugu lan ditiru.” Tapi ada juga guru yang ngajarnya seenaknya. Terkadang malah membuat murid-muridnya takut untuk salah, seperti diberi hukuman yang tidak semestinya, jika mengerjakan tugas salah. Sehingga siswa-siswinya pada takut salah dan pada akhirnya mereka tidak bisa berpikir kreatif dan takut melangkah. 🙂 *sedikit pengalaman waktu SD dulu.

    1. Kalo tentang mana yang bener, antara 4×6 atau 6×4, bahkan ada 2 profesor UI dan ITB yang berdebat tentang ini. Gilak ya, bahkan profesor kelas hiu aja juga masih debating. Gitu kok diajarin ke anak kelas 2 SD, dengan kualitas guru yang yaaa… begitulaah…

      Aku cuma mencoba lihat dari sudut pandang lain aja, sih. Bahwa guru2 kita mayoritas memang kurang encourage siswa. Sad 😦

      1. Encouragement emang yang lebih penting. Pas udah naik kelas dan lebihlebih lulus ga ada yang peduli 4×6 ato 6×4. Lebih penting kalo anaknya berkembang maksimal sesuai potensinya seperti yang njenengan tulis.

      2. Yuppp! Kadang kita itu direcokin hal2 yang enggak terlalu substansial, dan melupakan hal yang jauuuuh lebih prinsipil. Duh, prinsipil. Berasa lagi lihat filem Ada Apa dengan Cinta gak seh? Heheheh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s