lifestyle, Review, traveling

Lebaran Usai, Lalu?

Libur lebarannya udah (nyaris) kelar, mameeeennn…!

Yuk, yuk, kembali ke dunia nyata πŸ™‚ Eniwei, sudah bertahun-tahun merayakan Lebaran, saya tak kunjung paham apa esensinya πŸ™‚ Mudik, ketemu banyak orang, minta maaf pada orang yang bahkan kita nyaris tak pernah berinteraksi dengan mereka (dan itu artinya, aku ga punya salah dong, ke mereka) bahkan BANYAAK, BANYAK BANGET yang namanya pun tak aku tahu πŸ™‚ Hanya ibu dan eyang menjelaskan bahwa mereka itu SAUDARA. Dan, yuk mari kita maaf-maafan.

Bertahun-tahun Lebaran di desa, aku hanya belajar satu hal: Bahwa keluarga kami punya BANYAK sekali personel. Udah, itu aja. Ada sodara anaknya sepupunya iparnya eyang. Terus, ada ponakannya adik bungsunya paman-nya eyang. Yeah, se-mbulet itu πŸ˜›

Yang jelas, gimanapun juga, saya bersyukur kok, punya banyak saudara. Walaupun ya itu tadi, enggak saling mengenal. Kadang-kadang, demi bisa silaturahim (dan lebih mengenal sodara) saya sering iseng numpang nginep di rumah mereka. Kali-kali aja, ada yang kasih kamar gretongan pas ke Jogja, Solo, Palembang, atau Kuala Lumpur. Haghaghag… Mayaaan kan, bisa menghemat ongkos nginep di hotel πŸ™‚

Pasca Lebaran, mungkin ada beberapaΒ hal yang ingin saya perbaiki. Well, terdengar seperti “Resolusi”? Yah, resolusi tipis-tipis lah ya. Some random things, yang pengin banget aku gapai after Lebaran.

1/ Saya pengin lebih “peka”, “peduli” dan enggak cuek sama sekali. Tahu tak, di kantor, saya itu dilabeli beberapa orang dengan sebutan “Manusia paling cuek sekantor”. Hmm, awalnya saya ngikik aja dengerΒ “judging” itu, karena I’m positively thought kalo “cuek” itu artinya saya bebas jadi diri sendiri, mau pake baju model gimana, hayuk aja, dll dst.

Tapi kemudian, ketika lagi PMS (dan mellow akut) saya berusaha menelaah dan mencerna diksi “cuek”. Cuek means indifferent, enggak care… Cuek artinya saya nggak mau tahu dengan apa yang terjadi di kantor… dan heyyy, that’s so true! Selama ini, saya emang termasuk kalangan yang “serah deeeehhh…!” saban ada terobosan/program/event baru di kantor. And I think, I should change this habit. πŸ™‚

Yeah, bukan berarti saya siap jadi seksi paling rempong yah. But at least, saya “peka” lah dengan apa yang happening di sini.

NH__7127 copy

2/ Saya ingin jadi emak yang lebih sabar dan nggak lebay. Yep, kadang saya menyedihkan banget emang 😦 Kesabaran saya stoknya cuma seuprit. Emak-emak sumbu pendek banget lah. Gampang meledak, karena bocil yang (menurut saya) susaaaaahhh banget dibilangin. Terutama kalo disuruh sholat, diminta berhenti main game, dll. Ya ampuuun, ini udah bikin kepala saya mendidih, lalu meledaaak dalam amarah yang membuat porsi sabar saya kalah telak.

Kemudian, Lebaran ini ada beberapa tamu yang mengajak anak mereka. Salah satu anak tampak cranky, rewel, dan… meninju PERUT ayahnya, hanya karena diledek, “Iya nih, anak sekarang nggak bisa brenti main game.”

Gosh. Meninju perut ayah, di depan tuan rumah, di hadapan banyak orang (yang relatif asing), menurut saya….. itu agak-agak tidak termaafkan. Tapi, ibunda (dan ayah) si bocah tetap stay calm and cool. Well, at least itu yang mereka pertunjukkan di hadapan kami. Dan sepertinya saya kudu belajar dari mereka πŸ™‚

NH__6920

3/ Selama ini, kalau lagi bete suretem dll, saya selalu bilang “Efek kurang piknik nih!” Sounds mainstream, karena banyak netizen yang punya anggapan serupa. Tapi, lebaran kali ini (yang mana saya beneran defisit piknik banget) saya Alhamdulillah dianugerahi rasa Legowo alias ikhlas menerima takdir.

Allah itu Maha Ajaib ya. Ia sangat bisa membuat saya ngerasa baik-baik aja, walaupun selama Lebaran cuma ngider di Surabaya aja. Saya juga heran, kok bisa ya? Padahal, tahun-tahun sebelumnya, ‘tak termaafkan’ rasanya, kalau saya hanya stay at this city. But, hey, I’m survive!

Itu artinya, saya belajar (dan mulai meyakini) bahwa rasa damai itu berpulang di hati. Walaupun ada yang ngajak saya plesir ke Maldives gratisan (misalnya), kalau hati saya tetap membusuk, sepertinya tidak ada satu hal baik pun yang bisa saya bawa pulang.

Selamat menjadi diri yang baru, Nurul Rahma….

Semoga Lebaran ini membuat masing-masing jiwa menjadi tenang, membuncahkan bahagia yang membuat hati kian senang….

PS: Semua foto di-capture oleh IG: @kangerik_ingsun di Wisata Mangrove Wonorejo Rungkut Surabaya

 

Advertisements

21 thoughts on “Lebaran Usai, Lalu?”

  1. Wah, resolusi pasca Lebaran, boleh banget nih, kucontek ya Bundaaa. Selama ini nggak pernah kepikiran bikin resolusi pasca Lebaran, paling cuma target untuk mengimplementasikan pelajaran-pelajaran yang didapet selama bulan puasa.

    Ngomong-ngomong foto-fotonya seger-seger banget, jadi salah fokuuus

  2. Selamat hari raya Idul Fitri ya Mbak, minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin :)).
    Agaknya tema resolusi tidak harus hanya saat tahun baru ya, saat lebaran pun bisa. Dan bukankah memang semestinya begitu, karena perbaikan tak harus menunggu tahun baru, tetapi bisa dilakukan kapan saja, kan. Semoga semua yang dicita-citakan terkabul ya, mudah-mudahan setiap harinya kita bisa jadi orang yang lebih baik lagi, amin :)).

  3. Beneeerrr! Sebenernya resolusi itu baiknya dicatat dan dibuat sehabis lebaran. Lalu dijalankan pelan – pelan hingga jadi kenyataan. Bismillah sukses untuk dirimu ya mbak *kecup*

  4. Mbak Nurul fotogenic banget yak πŸ˜€ sambil baca #salahfokus ke foto-fotonya euy πŸ˜‚πŸ˜‚

    Maaf lahir batin ya mbak Nurull.. mau ikutan bikin resolusi tipis tipis juga ah ~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s