Serat Budoyo, Batik dengan Desain Chic, Simple dan Anak Muda Banget!

BATIK tampil chic, fabulous dan memikat generasi milenial? Emang bisa? BISA BANGET dong! Gimana caranya batik tampil modern, simple yet sophisticated? Itulah tantangan yang dijawab oleh Herma Prabayanti lewat Serat Budoyo.

Brand ini adalah wujud cinta Herma terhadap wastra nusantara. Sejumlah model memeragakan koleksi Serat Budoyo dalam sebuah private gathering di One Icon Residence & Apartment di kawasan megablok Tunjungan Plaza (TP) 6 Surabaya. Sejumlah sosialita kota pahlawan tampak hadir dalam acara ini. Para perempuan pengusaha yang super strong dan sama-sama menunjukkan rasa cinta pada koleksi budaya nusantara.

Tampak di antara mereka, Ketua GOW (Gabungan Organisasi Wanita) Surabaya, Asrilia Haryo; Owner dan Direktur Catering Ibu, Nany Herawati dan Dian Rosalita; Owner Kalyana Indonesia (premium Handbags), Maulina Molly; Pengusaha Al-Khair, Mutiara dari Lombok NTB, Chandra Dwina Taurisia.

Semuanya tampil cantik dan menawan! Sudah pasti, para sosialita ini ingin meng-update koleksi busana batik, agar kian stylish plus sesuai dengan gaya “zaman now”.

Serat Budoyo menampilkan batik yang casual, cutting menarik, dan bisa dipakai dalam segala occassion. Batik kreasi Herma tidak bermotif konvensional, dengan gambar bunga atau kawung. Herma justru banyak memilih kain batik bergambar tokoh pewayangan seperti Semar dan Arjuna. Rupanya ada “cerita dan makna” yang ingin ia usung dalam setiap helai kain batik dan busana yang disajikan Serat Budoyo. Mayoritas batik yang ditampilkan adalah khas Solo, Jogja dan Madura.

“Lewat batik dari Solo dan Jogja ini saya ingin sampaikan bahwa orang Jawa dulu ketika membuat batik pasti punya makna, ada cerita di setiap goresan yang dibuat,” tukas Herma, yang juga jurnalis sebuah TV swasta ini.

“Kalau batik pesisir atau Madura punya cerita sendiri. Sebagian besar menggambarkan suasana laut, ada ombak di motif batiknya. Sesuai ciri khas batik Madura, yaitu sarat warna-warna meriah. Madura kan memang dikenal dengan warna yang berani. Tren tahun ini pun cenderung seperti itu,” ungkapnya.

Ada dua model busana yang disajikan Herma di awal tahun 2018 ini.

Pertama, kombinasi kebaya untuk atasan dan bawahan batik. “Atasnya memang pakai kebaya modern agar nyaman dipakai anak muda. Sedang bawahannya kolaborasi batik,” tegasnya.

Gaya ini sengaja dibuat berbeda dengan rancangan para desainer yang menghadirkan batik untuk atasan. Cara penggunaannya pun sangat mudah karena sama sekali tanpa jatihan.

“Anak muda kekinian kan sukanya yang simple. Jadi kain untuk bawahan itu cukup dililitkan saja di pinggang,” imbuhnya.

Tampilan kain batik untuk bawahan ini kian menarik karena tidak seluruhnya menutup kaki. Modelnya bisa dibuat menyamping di bawah lutut atau beberapa sentimeter di atas lutut.

Kreasi kain tanpa jahitan ini, menurut Herma, menegaskan kesan simple, juga membuat kain tersebut bisa dikenakan mereka yang bertubuh ramping maupun berbadan besar. “Kesannya jadi all size. Yang kecil bisa pakai, yang berbadan besar pun bisa masuk,” tuturnya.

Model lainnya adalah kombinasi kain tenun dan brokat menjadi satu kesatuan. “Brokatnya berupa potongan sampai dada disambung kain tenun di bawahnya,” beber Herma.(*)

IMG-20180130-WA0008

 

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s