Go, Bappenas! Gapai Target Pertumbuhan Ekonomi demi Indonesia Gemilang!

Well, meski bukan pakar ala Bapak Rhenald Kasali, saya tuh beberapa kali demen mengamati berita seputar pertumbuhan ekonomi Republik ini, plus capaian kinerja Bappenas. Ada baiknya kita juga ikut update berita semacam ini ya. Supaya gambaran apa-mengapa-bagaimana yang terkait ekonomi Indonesia juga menjadi bahan diskusi kita. Iya dooong, masak cuman ngerumpiin dedek Dilan dan Milea? 😛

IMG_1551

Jadi, gini Buibu sekalian.  Sejak 2016, sebenarnya pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah mendapatkan momentum. Hanya saja, ketidakpastian global menghadirkan beragam tantangan yang semakin kompleks. Untuk bisa kian melaju, ekonomu kudu produktif dan efisien kan?

Nah… Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala BAPPENAS Bambang Brodjonegoro menyatakan, pertumbuhan ekonomi global memang mulai membaik sejak 2017. Namun lajunya masih di bawah pertumbuhan sebelum krisis finansial global tahun 2008

Eh ternyata… di saat bersamaan sumber pertumbuhan global melambat. Kok bisa? Ada beberapa factor penyebab. Di antaranya, pertumbuhan ekonomi China yang berada di bawah level sebelumnya.

Trus…. Populasi negara-negara maju yang juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi global mulai menua.

Masih ada lagi. Perekonomian domestik menghadapi sejumlah persoaan struktural, di antaranya ekonomi yang masih berbasis komoditas.  Padahal transformasi struktural menjadi negara industri harus cepat dilakukan.

NH__0940

Nih, kita bicara angka dan persentase ya

Rata-rata pertumbuhan ekonomi selama periode1967-1997 Indonesia sebesar 7,4% per tahun.

Periode 2000-2016, pertumbuhan rata-rata sebesar 5,3% per tahun.

Jika reformasi struktural tidak terjadi, maka rata-rata pertumbuhan ekonomi selama periode 2017-2025 adalah 4,7% saja.

 

Duuuh… semoga Bappenas bisa menyajikan data dan upaya supaya pertumbuhan ekonomi makin cihuy!

Skenario Bappenas menggunakan beberapa asumsi.

Di antaranya:

(1). Investasi tumbuh rata-rata sebesar 5,5% per tahun.

(2). Tidak ada peningkatan efisiensi pasar tenaga kerja

(3). Tidak ada reformasi di dunia Pendidikan

 

Indonesia butuh tumbuh rata2 di atas 6% per tahun untuk menjawab sejumlah tantangan, di antaranya mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.

Tidak hanya butuh tinggi, pertumbuhan ekonomi juga kudu inklusif. Intinya jangan sampai muncul ketimpangan yang over….. karena ketimpangan bakal menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi tidak berkelanjutan

 

Ehhh… masih ada lho tantangan yang kudu dihadapi demi tingkat ekonomi yang membahana. Apa sajakah?

(1). Ketidakpastian kebijakan moneter negara maju

Ini langsung berpengaruh terhadap sistem keuangan dunia. Bagi negara seperti Indonesia, pengaruhnya adalah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik.

 

 (2). Proteksionisme

Negara-negara di dunia bisa mempererat kerja sama ekonomi Kawasan. Asia bisa jadi banteng yang menahan dampak negative dari proteksionisme.

Caranya piye?

Salah satu instrumennya, mempererat kerja sama ekonomi komprehensif regional (RCEP). Jika RCEP tidak menaikkan tarif, resikonya terhadap pelambatan pertumbuhan ekonomi menjadi minim.

Namun, jika RCEP melonggarkan tarif, akan ada sumbangan pertumbuhan ekonomi dari perdagangan tersebut.

 

(3). Teknologi disruptif

Disrupsi digital merupakan serious challenge bagi perekonomian domestic. Arus utama dalam wacana umum adalah: teknologi digital bakal membantu UKM untuk mengakses langsung ke konsumen.

 

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s