Sistem Zonasi Pendaftaran SMP yang Menafikkan Kerja Keras Siswa SD

Zonasi yang Menafikkan Kerja Keras Siswa SD

Begitu membaca Headline di halaman Metropolis Jawa Pos Sabtu (27/4) dan Minggu (28/4) lalu, jantung saya serasa melorot ke dengkul. Penerapan Sistem Zonasi PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tingkat SMPN tanpa nilai UNAS, tanpa sekolah Kawasan. Tak ada seleksi nilai atau adu pintar untuk masuk SMP Negeri tahun ini. Lebih lanjut, artikel ini memaparkan bahwa ada tiga jalur masuk SMPN.

Komposisinya, 90 persen berdasarkan zonasi (alias seberapa dekat jarak rumah murid –yang tercantum di Kartu Keluarga—dengan sekolah) 5 persen jalur prestasi dan 5 persen jalur mutasi (orang tua pindah kerja). Intinya, nilai USBN/UNAS bisa dibilang “Nggak onok regane” karena siswa yang tinggal lebih dekat dengan sekolah punya peluang tinggi untuk masuk. Sebaliknya, setinggi apapun nilai USBN, kalau rumah calon murid terbilang jauh, maka (boleh dibilang) tak ada peluang untuk tembus ke SMPN yang dituju.

View this post on Instagram

Salam Literasi! 😊🖐. #SahabatDikbud , Kemendikbud telah menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 51 Thn 2018 ttg Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Tidak banyak mengubah peraturan sebelumnya, aturan ini mendorong mendorong pelaksanaan PPDB yang nondiskriminatif, objektif, transparan, akuntabel, dan berkeadilan. PPDB 2019 yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar, maupun Pemerintah Provinsi untuk pendidikan menengah, wajib menggunakan tiga jalur, yakni jalur Zonasi (90%), jalur Prestasi (5%), dan jalur Perpindahan Orang tua/Wali (5%). Kuota paling sedikit 90 persen dalam jalur zonasi juga termasuk kuota bagi peserta didik dari keluarga ekonomi tidak mampu (dibuktikan dengan bukti keikutsertaan Peserta Didik dalam program penanganan keluarga tidak mampu dari Pemerintah/Pemda) dan/atau anak penyandang disabilitas pada sekolah yang menyelenggarakan layanan inklusif. . . Pelaksanaan #PPDB2019 diharapkan dapat mendorong sekolah lebih proaktif mendata calon siswa berdasarkan data sebaran anak usia sekolah. Jarak rumah ke sekolah menjadi pertimbangan utama dalam seleksi, bukan nilai rapor maupun hasil Ujian Nasional. Mendikbud meminta agar Pemerintah Daerah segera menetapkan petunjuk teknis (juknis) PPDB 2019 dengan berpedoman kepada Permendikbud No 51 Thn 2018. Petunjuk teknis harus mengatur kriteria, pembagian zona, dan pendataan siswa di setiap zona. Dan paling lambat diterbitkan satu bulan sebelum PPDB dimulai dan disosialisasikan kepada masyarakat. . . Sekolah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dilarang melakukan pungutan dan/atau sumbangan yang terkait dengan pelaksanaan #PPDB2019 maupun perpindahan peserta didik. Sekolah juga dilarang melakukan pungutan untuk membeli seragam atau buku tertentu yang dikaitkan dengan PPDB. Dinas Pendidikan Provinsi atau Kabupaten/Kota wajib memiliki dan mengumumkan kanal pelaporan untuk menerima laporan masyarakat terkait pelaksanaan PPDB. Masyarakat dapat mengawasi dan melaporkan pelanggaran dalam pelaksanaan PPDB melalui laman http://ult.kemdikbud.go.id. . . #ppdb #ppdb2019 #pendidikanuntuksemua #semuabisasekolah #zonasi

A post shared by Kemdikbud.RI (@kemdikbud.ri) on

Begini. Baru saja, anak saya menunaikan tugas aneka ujian seabrek. Ujian tengah semester, Ujian akhir semester, ujian praktik, ujian tulis, dan puncaknya adalah Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) alias UNAS. Alhamdulillah, sebagai tipikal ortu yang sama sekali tidak ambisius, saya tidak mendaftarkan anak ke Lembaga Bimbingan Belajar. Cukup dampingi tatkala ia belajar di rumah, dan saya arahkan untuk ikut belajar bersama teman-temannya.

Intinya, saya ingin ia menjalani ujian yang segabruk itu dengan happy, embrace the moment. Masalah skor USBN, prinsip yang terlontarkan, “Ibu akan bersyukur dengan nilai berapapun yang kamu dapatkan. Yang penting itu hasil kejujuran, tidak mencontek, dan kamu memang sungguh-sungguh belajar mendalami ilmu yang diajarkan Pak Guru.”

Karena itulah, sedari awal saya mengarahkan anak untuk daftar ke SMP yang dekat rumah saja. Akan tetapi, ortu dan anak memang tertakdirkan punya pandangan dan semangat berbeda. Ia begitu antusias untuk mendaftar ke salah satu SMP terfavorit di kota ini. Bahkan ketika akhir pekan sebelum USBN, ia mengajak kami untuk berkunjung ke SMP itu. Blusukan, ingin tahu seperti apa bangunan/fasilitas yang ada di dalamnya, dus aneka prestasi yang telah ditorehkan para siswa di SMP tersebut.

Ia pun makin excited, sepulang dari sana, beraneka ragam soal try out dan buku panduan USBN ia “lumat”. Berjam-jam ia berjibaku untuk menyelesaikan soal-soal Matematika, IPA dan Bahasa Indonesia. Tak ada lagi waktu bersantai. Tak tersisa waktu untuk YouTube-an. Hingga suatu ketika, gurunya mengabarkan pada saya, bahwa ia meraih posisi peringkat 4 di Olimpiade plus Try Out USBN se-Kecamatan.

Ketika USBN, entah kenapa tiba-tiba anak saya muntah dan diare. Mungkin kolaborasi antara super excited, nervous, dan ambisinya agar meraih nilai terbaik dan bisa tembus ke SMP yang ia idam-idamkan. Saya terus-menerus rapalkan doa dan bilang, ”Udaaah, santai saja! Kamu nggak masuk SMP itu, juga nggak papa. Kan masih bisa coba SMP yang lain. Nilai berapapun disyukuri saja!”

Di hari kedua UN, dia masih diare. Saya tawarkan untuk izin UN susulan saja. ”Nggak, Bu. Aku harus ikut UN! Doakan semua nilaiku Matematika 10, Bahasa Indonesia 10, IPA 10!” Ia memasang kertas dengan tulisan spidol besar di kamarnya. Skor UN 30, SMPN Kawasan itu untuk aku! Optimisme yang membumbung tinggi. Untuk ukuran cowok ABG, determinasi anak saya terkadang rada mengejutkan.

***

Setelah saya sodorkan artikel tentang kebijakan PPDB, semangatnya jadi layu sebelum berkembang. Nglokro. Belum sempat masuk “medan perang”, ia sudah “kalah”. Walau sempat mengatakan, ”Tapi masih ada kuota 5% untuk jalur prestasi, Bu. Aku bisa daftar lewat jalur ini.”

LIMA PERSEN, Nak. Ayo kita berhitung. Anggap saja, tahun ini, SMP tersebut menerima 200 siswa, maka 5 persennya hanya 10 anak! Sepuluh anak ini kuota yang sangat seuprit. Bayangkan, para pelajar peraih olimpiade dan yang meraup skor UN tinggi, semuanya berebut kursi 5% itu!

Ia pun kian nglokro. “Aku nggak masalah masuk SMP dekat sini, kalau fasilitasnya sama. Tapi kita tahu sendiri kan Bu. Belum ada pemerataan fasilitas di semua sekolah.”

Apalagi, Sidqi juga berharap bisa menyalurkan talentanya di kancah digital, dengan ngeblog dan ngevlog. Tentunya, ia bakal memilih Web Hosting Indonesia terbaik. Sebagai orang tua, tugasku menyemangati dan mendukung ia.

***

Menutup tulisan ini, saya sebagai orang tua berharap kebijakan yang terbaik dan proporsional. Barangkali, bisa dipertimbangkan untuk merevisi komposisi jalur masuk PPDB. Untuk zonasi, 50%, prestasi 45% dan mutasi 5%. Gagasan “tidak ada SMP favorit” barangkali terdengar mulia, dan challenging untuk semua perangkat sekolah. Akan tetapi, menafikkan kerja keras dan semangat pelajar tatkala berjuang demi hasil terbaik ketika USBN, sungguh… membuat anak-anak kami, merasa sakitnya tuh di sini. Bapak/Ibu Kemendikbud dan Diknas semoga bisa berempati dengan hal ini. Ada sejumlah siswa yang mendedikasikan energi, waktu dan seluruh atensinya agar bisa menggapai nilai terbaik. Ada cita-cita yang mereka gantungkan.  Paling tidak, jangan “eksekusi mati” semangat mereka, dengan kebijakan “asal rumah dekat sekolah” semata.  (*)

Advertisements

31 thoughts on “Sistem Zonasi Pendaftaran SMP yang Menafikkan Kerja Keras Siswa SD

  1. helenamantra says:

    Huwaaa … tiap tahun ajaran baru ada aja perubahan sistem penerimaan siswa seperti ini. Zamanku dulu nilai UN juga enggak dianggap. Masuk SMA harus tes lagi. Eh aku ga bisa masuk Smala padahal nilai UN-ku apik. Hahaha … tapi bertahun-tahun kemudian aku bersyukur soale ketemu jodohku di SMA, sesama orang yang gagal masuk Smala. *curhat.

    Menurutku nih, USBN dihapus aja. Sampe bikin anakmu diare, lho. *sakarepe dewe

  2. herva yulyanti says:

    nah iya mba sistem zonasi ini agak gimana gitu sungguh beruntung aja kalau anak yang biasa saja rumahnya deket sekolah favorit tinggal lengang kangkung ini terjadi sama yang ada di dekat rumahku mba 🙂

  3. Rachmanita says:

    Karena aku udah lama ga sekolah dan anak masih kecil enggak terlalu ngikutin masalah UN ini.. Jadi khawatir nanti 10taun kedepan buat anakku..

  4. Mutia Karamoy says:

    Anakku tahun ini lulus SD masih mempelajari sistem zonasi ini karena pinginnya masuk sekolah negeri yang dekat rumah aja, soalnya pengalaman waktu di SD yg sekolahnya lumayan jauh jadi menguras pikiran juga.

  5. pahalaguru says:

    Iya ya, aku juga gak terlalu sepakat karena setiap sekolah belum merata dalam hal SDM pengajar dan fasilitas sehingga amat disayangkan jika anak nantinya kehilangan sangat belajar gara gara tidak tepat pilihan sekolahnya

  6. widyanti yuliandari says:

    Duhh….aku speechless Mbakkkkk. Kebayang bagaimana effort dan pengharapannya. Sistem di negara kita sudah sebegini kacaukah? Mungkin ini salah satu sebab kedua anakku mengajukan opsi: Homeschooling atau sekolah alternatif. Mungkin mereka merasakan kekecewaan-kekecewaan di sistem benama PENDIDIKAN ini.

    • Rohmahdg says:

      Sidqi, semoga bisa ada kesempatan untuk lolos dari jalur prestasi nya ya, InsyaAllah semoga semoga
      Btw kebijkan ini kalau nggak salah muncul sekitar 2 tahunan keknya as aku lulus Aliyah mbak huhu. Yg 2015 mungkin ya,

  7. arry wastuti says:

    Anakku juga kelas 6 mbak, dan jadinya sungguh sulit memotivasi dia untuk dapat nilai tinggi di UN, karena buat apa? Sekarang persyaratan masuk sekolah cuma dihitung jarak. Heuheu….. Jadi ya sudahlah, yang penting si anak tetap jujur mengerjakan ujiannya ya mbak. Salam buat putranya, salut dengan semangatnya yg tinggi.

  8. Travlingku says:

    Agak gimana ya sebenernya diterima sekolah hanya karena dihitung jarak.

    Kalau begini kasihan anak-anak yang ingin masuk sekolah favorit. Semoga ada kebijakan lain yang lebih baik untuk pendidikan di negara kita.

  9. Ucig says:

    Iyaa zonasi kok miris ya mba. Aku dgr cerita tmn2 aku jg yg anaknya tersingkirkan. Kuota 5% itu terlalu dikit. Apa nggak bisa dibikin persentase yg lebih banyak ya. Setuju aku klo harus dikaji ulang hal ini..

  10. lendyagasshi says:

    Ini yang menjadikan alasan kami untuk sementara gak pindah KK dulu, meskipun rumah kami sudah pindah.
    Karena sebelumnya saya tinggal di daerah Dago. Harapannya, kalaupun ada sistem zonasi, kami masih bisa memilih sekolah di pusat kota.
    Semoga para pemimpin negeri ini memberikan kebijakan yang lebih fair lagi untuk ke depannya.

  11. Ety Abdoel says:

    Suaraaaakuu. Tapi, ya sudahlah. Untuk SMP akhirnya anakku kusekolahkan di skeolah Islam swasta mba.
    Untuk SMA tahun depan dia pengin di sekolah favorit. Ku motivasi aja, bahwa dia harus usaha dari sekarang untuk dapat nilai yang bagus.
    Perkoro nanti dia gak bisa tembus yang penting dia sudah berusaha.

  12. hariekhairiah says:

    Wah masuk smp aja sekarang ribetnya bukan main, sistem zona malah bikin anak berpotensi jadi nggak bisa masuk sekolah favoritnya kalau nggak dekat rumah

  13. nianastiti says:

    Ini kebijakan masuk sekolah ganti melulu dan aku aja yg blm nyekolahin anak pusing lihatnya Nak, hehe. Ini kasihan yg tinggalnya di desa gitu biasanya fasilitas sekolahnya kurang ya, huhu.

  14. Larasati Neisia says:

    Tiap tahun selalu beda aturan ya mba.. semangatnya dek Sidqi luar biasa, aku doakan semoga yang terbaik dek. Karena mau sekolah di mana pun sama aja menurutku. Hehe.

  15. Ika Puspita says:

    3 tahun lalu aku ngerasain ini mbak. Anakku nilainya bagus tapi kalah sama yang punya surat miskin. jadinya anakku masuk sekolah swasta deh. tapi ga pa2 sih, karena anakku pun enjoy dengan sekolahnya. Sekarang dia udah mau kuliah

  16. niaharyanto says:

    Iya banget. Anakku kepengen sekolah di sekolah favorit yang jaraknya jauh. Dia mati-matian belajar biar dapet nilai bagus. Begitu nilai keluar, eh sistem zonasi. Kalah deh sama yang rumahnya deket. 😦

  17. Tian Lustiana says:

    sistem seperti ini sebenernya bikin ribet apa gimana yah? dua tahun lagi nih saya bakalan mikirin kayak ginian

  18. ugikmadyo says:

    Zonasi ini banyak yang protes. Kenapa nggak diumumkan sebelum Unas. Kasihan anak-anak yang sudah belajar mati-matian demi dapat nilai tinggi biar masuk sekolah impian. Eh malah keganjel sistem zonasi. Jalur prestasi cuma 2,5% pula. Dikit banget.

  19. Anggraeni Septi says:

    Ya ampun mbak, semangat Shidqi sungguh luar biasa. Anak cowok yang sangat bertanggung jawab pada mimpinya. Sampe diare loh. Hmm, sedih juga sih kalo hanya asal dekat rumah. Semoga ada kebijakan baru yg bs mengakomodasi anak2 kayak Shidqi. Mgkn dengan menambah kuota atau apalaaah. Semangat ya Mas, semoga dapat SMP yang sesuai rencana.

  20. dwihastutiarief says:

    Shidqi, tante acungkan lima jempol (kalo punya) 😀 untuk usahamu meraih cita-cita dengan belajar giat dan berusaha maksimal. Berharap, berusaha dan berdoa dengan 5% yang nampak tak mungkin. Tapi tak ada yang tak mungkin. Semoga semua usaha Shidqy berbuah hasil yang diharapkan ya. Kalaupun tidak, proses perjuangan shidqi meraih cita-cita itu akan menjadi bekal sangat berharga buat Shidqi di kemudian hari. Semangat ya Nak. Semangat juga buat bunda yang menemani Shidqi.

  21. Aulia Mirfah says:

    Aku baru nemu ini dan habis nangis juga krn zonasi. Perjuanganku utk dapat nilai un yang fantastis rasanya sia-sia, presentase utk zonasi yang 90% itu memang terlalu berlebihan. Kalau kaya gini caranya motivasi utk belajar dan menjadi yang terbaik akan hilang, dan Indonesia bakal semakin mundur dlm sistem pendidikan. Sungguh sangat amat disayangkan, semoga aku masih bisa memperjuangkan kuota 5% itu walau rasanya impossible, hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s