Wahai Perempuan, Jangan Remehkan Resiko Anemia Defisiensi Besi pada Diri Kita!

“Lho, lututmu kenapa, Dek? Kok biru-biru memar gitu?”

Ibu memandang kakiku dengan tatapan prihatin. Saat itu, saya masih duduk di bangku SMA. Lagi aktif-aktifnya ikut beragam organisasi, aneka kompetisi, bersekolah dan tentu saja bersosialisasi alias cari gebetan sana sini. 😀 Masa SMA, masa muda yang sarat kenangan. Energi dan jiwa muda yang meluap-luap, seolah-olah daku bisa menggapai seluruh dunia!

Yang tidak saya sadari, sibuk berkegiatan dan wira-wiri tanpa henti, membuat saya lupa satu hal: Menjaga pola makan. Apalagi, anak SMA (pada umumnya) punya patron alias definisi “Cantik” itu identik dengan “langsing”. Tak terhitung teman-teman saya yang mengalami hal serupa. Rela skip jam sarapan ataupun makan malam, demi tatapan kagum warga sekolah, lantaran bodi yang langsing menawan.

Saya juga terjebak di dalam doktrin “Cantik itu langsing”. Akibatnya tubuh mudah lelah, gampang pusing, rambut rontok, dan yang terpampang nyata adalah memar kebiruan di daerah lutut.

“Iya, Bu. Nggak tahu, ini kok rasanya memar, ya. Padahal aku nggak kejedug apapun.”

Waktu itu, Ibu nggak curiga, sih. Beliau hanya selalu mengingatkan saya supaya disiplin makan dan pilih menu bergizi. Terkadang, Ibu memaksa saya untuk bawa bekal dari rumah. Mungkin kuatir kalau uang saku saya nggak cukup buat beli menu protein hewani yang dijual di kantin sekolah kali ya, hahahah. Ini berlangsung selama masa sekolah, masa kuliah, dan waktu terus berjalan. Hingga saya menikah, dan hamil!

Eh lahdalaah. Pada saat berbadan dua, yang mamanya memar di lutut tuh bukannya sembuh, malah melebar. Bukan hanya itu, kaki saya juga bengkak parah! Susah diajak jalan. Sampai-sampai, Ketika ngantor, beberapa kali saya terpaksa pakai sandal (tentu dengan izin atasan dan HRD). Bengkak di kaki ini makin menjadi-jadi. Kalau dipakai sujud, ulala rasanyaaaa aduhai.

Tentu saya sampaikan keluhan ini ke dokter spesialis kandungan yang menangani. Beliau meresepkan sejumlah suplemen, yang kudu rutin saya konsumsi. Di antaranya,  suplemen penambah zat besi. Dokter bilang, “Ibu mengalami Anemia defisiensi besi. Ini terjadi karena tubuh Ibu kekurangan zat besi. Akibatnya, jumlah sel darah merah yang sehat berkurang dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Ibu hamil memang rentan mengalami anemia defisiensi besi, karena zat besi dalam tubuh digunakan untuk memenuhi kebutuhan darah dalam tubuhnya yang meningkat, serta memenuhi kebutuhan hemoglobin untuk perkembangan janin. Itulah mengapa, saya selalu menyarakan para ibu hamil untuk banyak mengonsumsi makanan yang kaya akan zat besi.”

***

Aaaakk, peristiwa sekian tahun silam menari-nari kembali, layaknya film jadul yang sedang saya saksikan. Saya teringat hal ini, setelah menyimak Webinar “Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi” yang ditayangkan akun YouTube Nutrisi untuk Bangsa.

Yap, masalah anemia dan penyerapan zat besi ini sangatlah krusial dalam kehidupan. Hanya saja, tidak sedikit yang memandang hal ini sebagai masalah enteng belaka.

“Ya sudah, dipake tidur aja, ntar sembuh sendiri.”

“Memar-memarnya dibaluri minyak tawon aja. Nanti hilang kok.”

“Kamu makannya malas-malasan sih. Ayo, makan buah dan sayur yang banyak!”

***

Masalah anemia di negara berkembang seperti Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dapat perhatian bersama. Untuk itulah Danone Indonesia menggandeng Indonesian Nutrition Association (INA) dalam upaya promotive preventif. Cara ini dianggap dapat memberikan dampak yang lebih luas dan lebih efisien dari sisi ekonomi.

Upaya Danone ini juga dalam rangka merayakan Hari Gizi Nasional dan sebagai komitmen kontribusinya melalui peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya nutrisi dan edukasi lintas generasi untuk mewujudkan Indonesia sehat. 

Untuk diketahui, sekitar 50-60% angka anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi atau biasa disebut Anemia Defisiensi Besi (ADB). Dampak negatif yang diakibatkan oleh anemia defisiensi besi berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia lintas generasi.

Lebih menyedihkan lagi, menurut data Riskesdas 2018, angka stunting di Indonesia mencapai 30,8% dan telah mencapai peringkat 4 dunia. Sedangkan  48,9% ibu hamil, 32% remaja 15-24, dan 38,5% balita mengalami anemia. Secara global, sekitar 50-60% angka anemia disebabkan oleh defisiensi zat besi atau biasa disebut Anemia Defisiensi Besi (ADB).

Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, Spesialis Gizi Klinik dari INA dalam webinar publik yang mengusung tema “Peran Nutrisi dalam Tantangan Lintas Generasi” menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih menghadapi tiga beban masalah gizi (triple burden) yaitu stunting, wasting dan obesitas serta kekurangan zat gizi mikro seperti anemia.

Kekurangan zat besi pada tubuh, lanjutnya berdampak pada tumbuh kembang anak yang terganggu, penurunan aktivitas fisik maupun kreativitas, serta menurunnya daya tahan tubuh sehingga meningkatkan risiko infeksi. Sedangkan pada kasus remaja.

“ADB dapat menurunkan produktivitas dan kemampuan akademis. Kondisi ADB pada kehamilan usia remaja juga rentan terhadap keselamatan dan kesehatan ibu dan bayi,” imbuhnya.  

Arif Mujahidin Corporate Communication Director Danone Indonesia mengatakan, kampanye bersama INA ini sejalan dengan visi Danone “One Planet, One Health” untuk membawa kesehatan ke sebanyak mungkin masyarakat melalui nutrisi dan hidrasi sehat maupun program berkelanjutan, Dalam mewujudkan visi tersebut, pihaknya berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dalam upaya menghentikan ancaman anemia pada lintas generasi.

“Untuk menyasar golongan remaja, kami menjalin kerja sama dengan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB) meluncurkan buku panduan Generasi Sehat Indonesia (GESID). Terdapat 3 modul untuk remaja SMP dan SMA, yaitu Aku Peduli, Aku Sehat, dan Aku Bertanggung Jawab yang membahas mengenai kesehatan reproduksi, peran gizi bagi kesehatan dan kualitas hidup, anemia bagi remaja putri dan wanita usia subur, pencegahan pernikahan dini serta remaja berkarakter. Program ini telah melaksanakan pilot project dengan 20 Guru Pendamping dan 60 Murid SMP & SMA sebagai Duta GESID 2020,” paparnya.

Danone menyediakan inovasi nutrisi yang dapat membantu pemenuhan zat besi serta mendukung penyerapan zat besi pada anak berusia di atas satu tahun.(*)

102 thoughts on “Wahai Perempuan, Jangan Remehkan Resiko Anemia Defisiensi Besi pada Diri Kita!

    • niaharyanto says:

      Iya bener. Aku anemia sejak SMA. Menyiksa banget. Tapi dulu mikirnya sepele aja. Pas tahu bahaya, baru deh aware. Semoga dengan banyaknya sosialisasi, masyarakat jadi ngeuh. Dan gak sepelekan anemia. Bisa mengancam nyawa ya

  1. Dian says:

    informasi seputar anemia ini penting untuk disebarluaskan ya mbak
    karena banyak yg menganggap enteng anemia ini
    padahal g boleh gitu, anemia juga butuh segera diatasi ya mbak

  2. Lisdha says:

    Salah satu yang menyedihkan dari anemia ini adalah aku ketika aku tidak bisa lagi rutin donor darah. Saat kuliah, aku rutin donor darah (ya kan perbaikan gizi tiap habis DD hehehe). Setelah kerja, aku mau melanjutkan kebiasaan itu. Tapi selalu ditolak karena anemia huhuhu

  3. Yuni Handono says:

    Masalah anemia sampai saat ini masih belum terselesaikan ya mbak…memang susah ya bila tidak ada kesadaran dalam diri sendiri. Kadang kita lebih mendahulukan ego ketimbang memperhatikan kesehatan sendiri. Seperti diet mati2an dsb….makanya yuk kita atur pola makan, jaga kesehatan dan rajin berolahraga secara teratur.

  4. bicaraahati says:

    kutermasuk pernah menderita anemia, gak enak rasanya jdi lemes dan kehilangan napsu makan. Yah cara terbaik yg aq bisa adalah mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi plus menambah meminum vitamin

  5. Hani says:

    Perempuan emang rentan ya kena anemia, apalagi kan haid tiap bulan ya…tambah-tambah deh. Bagus nih ada gerakan supaya kita waspada terhadap risiko anemia akibat defesiensi zat besi. Ibu-ibu jadi belajar menyiapkan menu yang nutrisinya baik.

  6. Mirna Kei Rahardjo says:

    aku nih ga peka sama kebutuhan zat besi sampe hampir di infus fenover gara-gara nilai ferritinnya jauh dari normal, semoga nanti anak-anak ga demikian, kudu disiapin nutrisinya lebih baik lagi

  7. hidayahsulistyowati says:

    Iya sama nih, aku kadang juga muncul biru-biru gitu, katanya karena kecapekan. Ternyata ada masalah di tubuh kita ya. KEkurangan zat besi ini bikin perempuan gampang lelah, padahal kehadirannya dibutuhkan oleh orang serumah.

    Aku ketinggalan info tentang webinar ini, nggak bisa diakses ya bagi yang telat pengen tahu isi materi nya?

  8. Maria Soemitro says:

    waktu remaja nih mbak Nurul, saya sering banget pusing dan ibu saya bilang “kurang darah tuh”, maklum sok diet jadi berpantang ini itu

    untung nggak keterusan, karena bakal jadi lemot anak anak saya kalo ibunya sok diet dan pingin langsing tanpa memperhatikan kebutuhan nutrisi

  9. Mutia Ramadhani says:

    Hahaha, sama kita mba. Badan pada biru-biru, malah sempat saya dibilangin dicubit setan. Hadeeeh ada-ada aja. Padahal semua bisa dijelaskan secara ilmiah. Ya itu ciri-ciri anemia defisiensi besi.

  10. Chela says:

    Saya kebetulan tidak mengalami memar2 gitu mbak. Cuma teman sekost dl pernah ngalamin dan baru tahu kalau itu dikarenakan kurangnya zat besi. Wah. Permasalahan pelik juga ya ternyata.

  11. Arda Sitepu says:

    Penting banget untuk mengetahui seberapa penting nutrisi yang baik serta pemenuhan zat besi untuk tubuh ya mbak. Apalagi anemia sangat berbahaya jika tidak diperhatikan dengan seksama.

  12. ysalma says:

    Aku termasuk salah satu pelaku dalam kilas balik kenangan jadul yg seperti pengalaman mba Nurul. Sering banget mengalami lebam dan pusing krn urusan kurang aware terhadap nutrisi yg diperlukan tubuh, akibatnya ya mengalami anemia. Penyakit yg seriang dianggap biasa, padahal kekurangan zat besi dalam darah itu fatal akibatnya.
    Semoga anak2 muda sekarang tidak mengulangi kekeliruan kita di masa lalu. Tetap cantik dan langsing tanpa kekurangan zat besi.

  13. Triyatni says:

    Ya Allah Mbak, aku enggak nyangka ternyata seefek itu pada ibu hamil kalau kena penyakit anemia defisiensi besi itu. Ternyata memang enggak boleh dianggap enteng ya. Perlu asupan nutrisi yang cukup saat hamil agar selain bayi sehat, ibu juga sehat.

  14. Dwi Ananta says:

    ADB ini momok ibu baget yang punya balita, ternyata bisa kena ke ibu juga ya. Tapi kalau pola makan sekeluarga dijaga, insyallah semuanya bisa bebas ADB ini.

    Terimakasih untuk artikelnya mbak, sangat informatif.

    • Uniek Kaswarganti says:

      Aku kadang-kadang juga mengalami loh Astin biru-biru gitu. Tapi kalau pas capeeekk banget sih. Trus dulu tuh pas remaja gampang kliyengan, padahal ya badannya super aktif loh. Mungkin ini dia penyebabnya yaaa…

  15. rafahlevi says:

    Temen sekolahku dulu punya anemia. Sering banget ga masuk karna sebentar2 sakit. Dan emang kegiatannya pun keliatan gampang lemes. Emang kasihan sih kalo masih kecil dah kena anemia

  16. annienugraha says:

    Aku kok jadi sedih ya baca kenyataan bahwa Indonesia itu masih mengalami 3 masalah stunting, wasting dan obesitas. Apalagi dalam tahap serius untuk urusan kebutuhan zat besi. Kaget tapi pada kenyataannya begitu.

    Semoga program yang diadakan/dicanangkan oleh DANONE ini bisa secara aktif ikut serta memecahkan dan memulihkan masalah kesehatan di atas.

  17. niaharyanto says:

    Huhu, dulu nih aku nyepelein anemia ini. Sejak SMA, tepatnya sejak dapet haid, aku anemia. Parah banget. Akirnya tiap hari selalu minum suplemen anti-anemia. Sekarang baru deh tahu efek dari anemia ini. Serem juga ya. Bisa sampai ngancam nyawa.

  18. Sio Nona Lita says:

    Anemia Defisiensi emang ga bisa diabaikan ya. Pantas saja temenku dulu waktu sma rajin diet sekarang malah kena autoimun. ternyata diet ga bagus juga ya…penyakitnya bisa nyasar kemana2.

  19. Shyntako says:

    Anemia memang tidak boleh diremehkan karena dampaknya gak main-main, apalagi untuk perempuan dan anak-anak ya, penting sih edukasi untuk memutuskan mata rantai anemia ini digalakkan dimana-mana

  20. fennibungsu says:

    Dari semenjak remaja udah harus di dorong juga ya untuk memerhatikan asupan zat besi karena nantinya akan menjadi orangtua, sehingga tidak berdampak pada generasi selanjutnya.

  21. Shyntako says:

    dampak anemia ini menyeramkan dan berbahaya ternyata yaa mba, sayangnya banyak yang menganggap remeh deh satuhma permasalahan yang satu ini

  22. Uniek Kaswarganti says:

    Selama ini, anemia sepertinya kurang mendapat perhatian khusus ya dalam perawatan kesehatan. Paling cuma dibilang, waah kurang zat besi, ayooo banyak makan ati ayam biar lekas sembuh. Lhaaa… padahal kan semuanya berawal dari pola makan yang mungkin tidak teratur ya dalam keseharian. Dampak anemia ternyata tidak bisa dianggap sebelah mata.

  23. lendyagasshi says:

    Aku dapat bukunya juga, kak Nurul.
    Alhamdulillah, panduan lengkap dan harusnya banyak orang memiliki buku panduan ini untuk setiap keluarga.
    Karena pola makan ini dibiasakan sejak kecil dan akan tertanam hingga dewasa.

    • lendyagasshi says:

      Aku baru ingat, kak…
      Kalau akutu langganan memar. Padahal iya, bener gak kejedut apapun.
      Ternyata oh ternyata…aku mungkin menderita defisiensi zat besi yaa..
      Rajin-rajin makan makanan yang mengandung zat besi.

      • lendyagasshi says:

        Senang sekali ketika topik ini diangkat dan dijelaskan dengan mudah seperti ini.
        Jadi terbayang mengapa dan bisa diatasi segera masalahnya. Semoga gak sampai terlambat.

  24. puspitaheni says:

    Saya cenderung darah rendah dan HB mepet normal mba. Kalau keliyengan bisa jadi tek darah saya rendah dan HBnya nggak normal. Ini bisa berbahaya kalau misalnya terjadi pada ibu hamil. Rentan pendarahan. Alhamdulillah waktu itu saya hanya perlu transfusi 1 kantong saja.

  25. naniknara says:

    Angka stunting di Indonesia menempati nomor 4 dunia?
    Duh sedih deh dengan kenyataan ini. Pantesan ya, beberapa waktu lalu lihat berita di TV, pak presiden bicara masalah stunting ini. Semoga dengan berbagai upaya banyak pihak yang terkait, peringkat ini bisa turun ya

  26. Dian Restu Agustina (@dianrestoe) says:

    Salut akan komitmen dan upaya Danone dalam rangka merayakan Hari Gizi Nasional terkait edukasi risiko Anemia Defisisensi Besi. Karena sedemikian banyak bahaya mengancam baik bagi penderita usia anak, remaja maupun dewasa. Beneran butuh kepedulian kita dan semua pihak ini ya

  27. Riska Ngilan says:

    Ingat zaman kuliah dulu, saya berhasil turunkan berat badan sebanyak 25 kg dalam waktu 3 bulan. Tapi ternyata berkat diet yang asal-asalan tiba-tiba saya punya asma, Mba. Dada rasanya sesak dan tubuh lemas sekali. Seketika itu bapak bawa saya ke dokter dan kata dokter saya terkena anemia. Sungguh rasanya menyiksa sekali mau tubuh langsing tapi dengan cara yang salah maka hasilnya pun salah. Sampai sekarang saya rutin minum suplemen penambah darah apalagi kakau sedang datang bulan.

  28. Adriana Dian says:

    anemia ini tuh kayanya emang dianggap penyakit yang enteng ya mak, padahal defisiensi zat besi tuh bahaya banget buat tubuh kita ya.. Terutama untuk anak-anak dan juga bumil nih.. harusnya kita sebagai perempuan dan sebagai seorang ibu harus lebih aware dengan penyakit anemia defisiensi zat besi ini yaaa

  29. Susi says:

    Dulu, saya sering kena anemia. Gampang memar. Tapi tidak semenakutkan seorang teman yang cuma ditepuk aja sudah memar dan membiru.
    Saya harus minum penambah darah saat mendapat tamu bulanan. Makanya kalau hamil, saya sangat menjaga diri, dan anehnya tiap hamil, tensi saya normal dan sangat baik.
    Rahasianya sama seperti tips di sini.

  30. Dessy Achieriny says:

    Saya termasuk yang sering mengalami keluhan itu mbak, sering memar-memar tanpa sebab kaya kepentok sesuatu di kaki dan tangan. Ternyata bisa jadi awal gejala anemia juga ya, thanks infonya mbak makin aware dan lebih memperhatikan kesehatan dan gejalanya sejak dini nih. ❤️

  31. Diyanika says:

    Mbak, aku pas kecapekan banget nget, di lututku tuh kadang muncul lebam juga. Tapi ntar 3 hari ilang. Nah, sekarnag karena sedang hamil 4 bulan, asupan buah dan sayurku bener-bener aku perhatikan. Kalau kata bidanku, sekali makan, nasi 4 sendok, sayur bayam, sam atempe pun aslinya sudah tercukupi. Tapi, kita mau nggak telaten makan sederhana tapi tetap mengandung gizi seimbang tanpa jajan yang neko-neko.

  32. Grandys Mawarni says:

    setelah ikut workshop nya, aku jadi tersadar betapa pentingnya peran asupan zat besi untuk menghindarkan diri dari anemia. Apalagi untuk aku yg lagi persiapan masa kehamilan, ini penting bgtt

  33. Rhoshandha says:

    ooh pantesaaaan
    aku juga kadang ngalamin memar padahal gak sakit atau gak kejedug apa2
    dan selama ini gak kucari tahu penyebab
    ternyata anemia defensif yaaa
    kurang zat besi hmmm
    kok bisa ya
    padahal sepertinya makanku aman dan cukup

    • lendyagasshi says:

      Aku selama ini mikirnya karena zat mikro, teh..
      Jadi kaya yang dibutuhkan sedikit dalam tubuh, jadi cuek.
      Ternyata bahaya yaa…apalagi menyangkut lifestyle yang bisa menurun ke anak-anak.

  34. Reyne Raea / Rey says:

    Gagal fokus ama Pak Arif Mba, baru liat fotonya gitu, biasanya liat tampilannya langsung hahaha.

    Btw anemia ini memang jadi faktor yang paling sering dibahas ya, saking masih banyak yang belum tahu resikonya, jadinya masih banyak yang masih terkena kekurangan zat besi.
    Harus lebih ngeh lagi untuk memastikan kita semua terpenuhi zat besinya 🙂

  35. Iid Yanie says:

    Waktu hamil saya juga mengalami anemia mba, untungnya gak lama hanya beberapa bulan saja untungnya dokter sigap kasi resep buat saya hingga menjelang melahirkan, rasanya gak enak banget anemia itu bawaan lemes dan pusing terus

  36. Ruli retno says:

    Sepakat banget, bagiku anemia itu gak bisa di anggap sepele. Nyiksa banget deh. Hiks.. aku sendiri termasuk yang sering kena anemia 😦

  37. Helena says:

    dua kali hamil, dua kali pula aku kena anemia. Eh ketahuannya telat pula waktu mau melahirkan. Efeknya jadi ke badanku yang mudah capek dan janin juga tidak berkembang sesuai normalnya.
    Perlu waspada nih supaya jangan sampai kekurangan zat besi.

  38. Linimasaade says:

    Betul banget aneka gak boleh disepelekan. Soalnya almarhumah kakak juga mengidap anemia aplastik sampai seminggu sekali harus transfusi darah golongan darah nya juga langka. Sayangi diri sendiri dari sekarang.

  39. Rosanna Simanjuntak says:

    Tos, mba.
    Aku termasuk yang langganan memar juga ne.
    Tapi perasaan ga ada kejedug juga.
    Baru tahu lho kalau itu karena anemia.
    Untung mampir di sini, jadi bertambah deh wawasan.

    Sampai sekarang tekanan darah aku tetap saja mentok di 100.
    Kalau 100, masih normal kata dokter.
    Tapi ya gitu, kalau kurang sehat dikit aja, gampang nyut-nyutan.

  40. Sio Nona Lita says:

    Bener banget mba, kita ga boleh sepelekan Anemia. Penyakit Anemia bisa menjalar ke alat vital di dalam tubuh kita. Segera waspadai kalau ada gejala anemia. Jangan diabaikan begitu saja.

  41. pidafidaFida says:

    iyess.. penting banget zat besi. terutama di masa kehamilan.
    Aku juga termasuk yg kekurangan zat besi saat hamil. pergelangan tangaanku selalu sakit dan susah angkat barang, kayaknya karena zat besiku kurang, jadi janin/bayi mengambil zat besi dari tulang ibunya kata dokter.

  42. astin astanti (@astinas) says:

    Semoga makin meningkatkan kesadaran wanita tentang zar besi ini ya.

    Saya biasa mengkonsumsi susu dan kandungannya ada zat besinya. Tapi saat sedang mebutuhkan sekali zat besi, misal saat sedang menstruasi, saya mengkonsumsi zat ebsinya langsung

  43. Febrianty Rachma says:

    Anemia, penyakit yang sering dianggap ringan tapi ternyata tetep kudhu diwaspadai ya Mbak. Nah apalagi pola makanan juga harus dijaga, sering konsumsi yang mengandung zat besi itu perlu juga untuk mencegah anemia. Salut sama danone yang juga turut memperhatikan di hari gizi nasional ini

  44. monicaang says:

    Oalah, baru tahu, ternyata memar-memar yang suka muncul itu tanda anemia. Aku sering banget nih memar, padahal tak kepentok. Mesti aware banget berarti dengan pola makan dan asupan nutrisi. Makasi ya, Mbak, sudah berbagi tulisan mencerahkan ini

  45. Mia Yunita says:

    Kita sebagai perempuan memang harus waspada nih dah jangan remehkan resiko anemia. Sayangnya di klinik tempat saya untuk cek kadar besi dalam darah nggak terlalu umum, jadi sulit kan untuk mengetahui kita nih sedang anemia atau gimana hehe. Konsul ke dokter klinik pastinya dong ya berarti. Apalagi pas haid juga ya tentunya harus mengonsumsi asupan yang kadar zat besinya pas, supaya kita nggak lemes juga.

  46. ameliatanti says:

    Oalah aku baru tahu memar itu termasuk anemia defisiensi zat besi, juga kesulitan berlutut
    .
    Aku memang belum lepas dari aneka vitamin sih, dan memang secara ketat tidak sarapan berlebihan itu membantu tubuh saat beraktivitas

  47. nikennawangsari says:

    Aku jadi ingat waktu SMA tuh periksa ke puskesmas katanya aku kena anemia mbak. Terus sering pusing gitu sih rasanya. Habis itu disuruh konsumsi penambah darah, cuma kalau lagi males ya males banget soalnya berasa aneh kayak vampir pas minum penambah darah. 🤣

    Pas hamil kemarin baru tau kalo anemia nih efeknya tidak baik untuk janin, jadi sadar deh konsumsi penambah darah secara rutin sesuai dosis yang diberikan oleh tenaga medis.

  48. sulis says:

    Oh, memar kebiruandi lutut itu salah satu tada anemia to mba? aku juga sering gitu e.. Tak kira karena aku kecapekan. Biasanya aku paling ngerasa letih lesu loyo itu klo pas mens.. pernah sih dulu aku pake dopping vitamin penambah darah itu..tapi sekarang malah udah lama nggak konsumsi

  49. Siti Nurjanah says:

    Zat besi punya peranan yang cukup krusial didalam tubuh, pun dalam sistem kekebalan tubuh atau sistem imun. Sebab kandungan zat besi bisa meningkatkan produksi hemoglobin yang akan membawa oksigen ke sel, jaringan, dan otot-otot

  50. Siti Nurjanah says:

    Zat besi punya peranan yang cukup krusial didalam tubuh, tidak terkecuali dalam sistem kekebalan tubuh atau sistem imun. Sebab kandungan zat besi bisa meningkatkan produksi hemoglobin yang akan membawa oksigen ke sel, jaringan, dan otot-otot

  51. kiky says:

    Semoga program ini bisa diduplikasi sama perusahaan-perusahaan lainnya juga. Aku juga gampang lelah apa mungkin ya aku juga mengalami anemia. Waduhhh. Udah usaha ternyata masih belum maksimal. Fighting deh untuk lebih banyak baca. Thx 4 sharing ya mbaaa ❤

  52. Damar Aisyah says:

    Aku dulu suka nggak percaya ada temen pingsan karena anemia. Bayanganku lemes karena belum sarapan. Eh pas udah Emak-emak daku percaya karena melihat sendiri tetanggaku yang lagi hamil sampai bolak-balik pingsan dan opname. Sekarang karena punya anak gadis aku juga makin aware, Mak. Gak mau giman-gimana nantinya.

  53. Adindarara Rachmanita says:

    bener banget anemia defisiensi besi ini memang tidak bisa disepelekan dan kita harus bisa mencegah dengan pola makan yang baik

  54. Diah Kusumastuti says:

    Zat besi penting banget ya buat kesehatan kita. Kalau dah anemia karena kekurangan zat besi, duh risikonya gak main-main juga ya.
    Semoga dengan webinar-webinar seperti yang dilakukan Danone itu semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya zat besi.

  55. juliastrisn says:

    Iya, ya. Dulu sering menganggap enteng anemia. Sering anggap remeh, ah biasa. Cuma kecapekan doang, ntar juga sembuh sendiri. Ternyata sangat membahayakan juga ya apalagi untuk ibu hamil, rentan bagi perkembangan janin. Hm, ya..mulai sekarang harus lebih aware akan kebutuhan zat besi untuk tubuh sebelum terlambat..

  56. Mutia Nurul Rahmah says:

    Harus lebih teratur lagi makannya ini ya, makasih sudah menginformasikan mengenai Anemia Defisiensi ini. Akan segera dipelajari lebih lanjut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s