Tubuhmu Fana, Amalmu Abadi
Mari kita bernostalgia. Bicara soal guru paling paling berjasa, memori saya langsung terlempar ke sekian dekade silam. Circa tahun 1999, saya bersekolah di SMA Negeri 16, salah satu sekolah favorit di kota pahlawan.
Banyak guru yang menjadi pahlawan dalam hidup. Pak Herdik, misalnya. Pengampu mata Pelajaran Fisika. Beliau terkenal killer, tapi sekaligus lucu dan akrab dengan para murid. Pak Herdik sangat hobi menghukum siswa-siswi yang menyalahi aturan berbusana di sekolah. Terutama murid Perempuan yang gemar banget mengecilkan ukuran rok, jadi ngapret alias ketat banget! Hukumannya juga lumayan bikin kemringet/keringatan parah: Lari keliling lapangan siang-siang!
Melalui pak Herdik, saya belajar hal-hal paradoks dalam hidup. Ternyata bisa kok, menjadi manusia yang (so called) killer alias tegas dan asertif; tapi di saat yang sama, punya personality fun, reachable, sekaligus ngangenin. Pak Herdik nggak hanya ngajarin teori dan rumus njlimet ala Fisika, beliau juga mengajarkan hal-hal complicated dalam hidup, yang makin ke sini ternyata teruji kesahihannya.
Selain Pak Herdik, ada juga pak Prasojo, guru Bahasa Indonesia favorit. Pak Pras yang meng-encourage saya untuk aktif di Kropel (Klub Reporter Pelajar) Surabaya Post.
“Kamu berbakat menulis dan reportase, Nurul. Terus latih bakat itu. Bagus kalau kamu gabung dan aktif berkontribusi di klub khusus reporter remaja Surabaya Post,” begitu petuah beliau yang selalu saya jadikan pijakan dalam mengarungi kancah literasi.
Pak Arifin, guru Matematika. Beliau juga yang mendorong saya untuk makin menggemari Pelajaran “horror” ini. Ajaibnya, bertemu dengan pak Arifin, skill logika dasar saya jadi naik sekian strip. Matematika adalah bidang yang saya gemari. Yeah, walau nggak se-cethar Jerome Polin, at least “Mencintai Matematika dan pernak-perniknya” adalah prestasi pelajar lintas zaman.
Dari semua guru yang saya sebutkan, belum ada yang menandingi kontribusi Guru Kehidupan saya satu ini. Namanya Siti Fatimah, biasa dipanggil Bu Fat. Beliau pengampu Kimia di sekolah. Saya mendapatkan ilmu kimia ala bu Fat bukan dari bangku SMA 16, melainkan saat mengikuti les di rumah. Yap, Bu Fat adalah ibu kandung saya, kalau pagi mengajar di SMA Negeri 17 Surabaya, dan kalau sore membuka les kimia di rumah. Muridnya beragam, mayoritas memang dari SMAN 17, tapi ada juga SMAN 16, SMAN 14, SMA Santo Yosef, bahkan SMAN 5 (top notch sekolah menengah di Surabaya, saat itu)

Kalau pak Herdik punya karakter killer tapi fun; maka bu Fat pribadi yang hangat, ngemong/mengayomi, dan siap menjadi Bestie untuk semua orang. Beberapa kali ada murid yang berantem sama ortu, curhatnya ke ibuku. Ada yang nggak bisa bayar SPP sekolah, tentu saja ibuku turun tangan. Problema klasik ala remaja, seperti pacar selingkuh dan sebangsanya? Wohooo, ini topik curhat yang always ada dalam keseharian ibuku.
Ibu laksana kecipratan semangat Lady Diana atau Mother Teresa. “Curhat Magnet” begitu aku sematkan julukan padanya. Nggak bisa dengar kesulitan orang, entah gimana caranya, Ibu bakal berjibaku untuk cari solusi. Beliau juga memutuskan beberapa kali menampung warga marginal, dan mempersilakan tinggal di rumah kami. Bahkan, Bibik Siswani disuruh tidur sekamar ama beliau, beda ranjang doang! Padahal, cerita awalnya, Ibu cuma bertemu Bibik Siswani pas sholat jamaah di Masjid.
Kalau dipikir-pikir, barangkali Ibu menanam begitu banyak hal-hal baik… salah satu visinya adalah: supaya anak cucunya bisa memanen kemudahan. Contoh kecil, ketika saya belanja di pasar, ada pedagang yang berceloteh, “Putrinya Bu Fat, nggih?” “Inggih, Pak.” Tanpa banyak cang cing cung, saya dikasih bonus bawang putih atau merica.
Kali lain, saya lagi antre dokter, dapat nomor urut rada buncit. Tiba-tiba ada pasien yang mengenali saya sebagai anaknya bu Fat, kemudian, ”Ini saya kok mendadak dapat panggilan dari kantor. Saya dapat antrean awal nih Mba. Boleh Mba pakai saja ya.”
Keberuntungan yang datang tanpa diundang.

***
Role model kehidupan sudah ada di dekat saya. Kami bersua 7 hari 24 jam. Namun, kebaikan itu sejatinya tidak gampil untuk direplikasi. Ibu berteman dengan banyak orang, eh, anaknya malah kesulitan menjalin pertemanan. Ibu gampil akrab dengan siapa saja, eh, saya malah tipikal yang sulit punya chemistry klik dengan orang lain.
But it’s okay. Saya bersyukur, dianugerahi Guru Kehidupan yang paripurna. Beberapa kali, saya bersua dengan ibu-ibu pengajian kompleks ataupun eks muridnya, selalu kenangan indah tentang bu Fat yang mereka utarakan.
“Bu Fat itu enteng banget orangnya, kalau diminta tolong apa saja, selalu bisa.”
“Rajin sedekah, rajin mengkoordinir donasi, aktif di banyak kajian. Kangen banget sama bu Fat.”
“Saya dulu nggak tahu mau neruskan kuliah di mana. Bu Fat yang menyemangati. Bu Fat yang meyakinkan kalau saya bisa punya karir yang lebih baik, kalau mau ambil jurusan ini,” ujar salah satu muridnya, yang rela terbang jauh dari Kendari, demi takziyah di hari berpulangnya Ibuku.
Begitulah. Saya menulis artikel ini, sembari merapal doa-doa baik. Ada tiga amal yang tidak akan putus pahalanya, meski yang bersangkutan telah meninggal dunia. Salah satunya: Ilmu bermanfaat. Haqqul yaqin, semua guru mendapatkan poin dari aspek ini.
BarokAllah guru-guruku, terima kasih atas ilmu, wawasan, kehangatan dan kebaikan hati yang telah kalian contohkan.
Menjadi guru, mungkin bukan cita-cita kebanyakan anak manusia. Bagaimanapun juga, saya dan jutaan murid lain telah keciptratan spirit kehidupan yang paling bermanfaat untuk melanjutkan perjalanan di dunia yang penuh gejolak ini.
Tubuhmu fana, amalmu abadi.