Mengusung tujuan mempererat bonding antar-elemen keluarga, kami rutin wisata kulineran dan menjajal aneka resto atau kafe di Surabaya dan sekitarnya. Peserta tetap Wisata Kuliner 4 orang: saya, suami, anak, dan ibu mertua. Terkadang ada tambahan personel manakala ada saudara yang sedang bertandang ke rumah. Semua berjalan dengan lancar sentosa, hingga akhirnya… dollar naik naik ke puncak gunung.
Dolar Naik, nggak ada efeknya? Heyhey, kata siapaaa? Justru, semenjak dolar naik, banyak kebiasaan yang harus dieliminasi, minimal dikurangi. Salah satunya, ya wisata kulineran itu. Sejumlah resto memutuskan untuk “Ganti harga”, beneran banderol F&B diganti, lantaran kenaikannya agak susah dinalar. Bisa lebih dari 20 persen!

Alasannya ya itu tadi , dollar naik, harga plastik naik, semuanya naik. Otomatis, semua kenaikan harga ini dibebankan ke konsumen. Padahal kami udah pasang budget tertentu untuk urusan kulineran. Kalau memaksakan diri, bisa-bisa anggaran untuk hal lain bakal kocar-kacir alias berantakan.
Ya sudah, financial planning harus dijalankan secara matang dan dewasa. Mana kebutuhan primer, mana sekunder, mana yang mendesak vs tidak mendesak. Semua harus ditelaah secara bijaksana.
Memang wisata kulineran (Wiskul) ini banyak benefitnya. Selain untuk rekreasi tipis-tipis, program rutin memanjakan lidah dan perut juga memberikan dampak positif untuk ikatan emosional keluarga.
Hanya saja, karena kondisi makin kacrut, kami putuskan untuk mengurangi frekuensi. Kalau biasanya (minimal) sepekan sekali, maka sejak dollar naik, cukup satu kali dalam sebulan.
Sebelum memutuskan resto/kafe/depot mana yang jadi jujugan, ada beberapa tips yang kami terapkan.
(1). Cek menu di Google map atau akun socmed Resto
Supaya tahu berapa alokasi budget untuk Wiskul, kami harus tahu rincian daftar menu dan harganya. Katakanlah, ada beberapa daftar menu yang udah nggak updated. Maka, asumsikan kenaikan sebesar 10 hingga 20 persen. Atau, kirim direct message (DM)/ japri akun media sosial resto tersebut. Jangan segan untuk bertanya, menu ini berapa harga terbarunya, plus tambahkan pajak resto 10 persen. Sekali lagi, nggak usah sungkan. Kita kan niat kulineran sesuai budget, jadi harus make sure sedari awal. Yang malu-maluin tuh kalau sudah terlanjur datang ke sana, pesan ina inu it aitu, eh… ternyata duitnya kurang. Yhaaa
(2). Jangan FOMO dengan Konten Kuliner yang ada di Medsos
Jujur aja, beberapa kali kami putuskan datang ke Resto A, B, C, gegara konten para food vlogger/ reviewer. Kok kayaknya ambience asyik, kok sepertinya sajian menunya worth to try. Langsung gass ke sana. Padahal, belum tentu menu itu selaras dengan selera kami, kan? Apalagi, empat peserta Wiskul ini range usianya beda jauh. Ibu mertua 78 tahun, suami saya 56 tahun, saya 45 tahun, anak 20 tahun. Ya masaaa memaksakan selera GenZ untuk milenial dan boomers?
Maka dari itu, sekarang saya berusaha lebih bijak dalam menentukan mana destinasi Wiskul. Most of the time, ide “Mau ke mana nih?” datangnya dari saya. Tapi semenjak dolar naik, saya mulai rada Insaf, nggak pengin memaksakan keputusan. So, masing-masing bisa dan boleh mengajukan opsi, nanti dimusyawarahkan, lalu balik lagi, cek menu apakah masih on budget atau nggak.
Seringnya Ibu mertua dan suami punya preferensi masakan tradisional. Hamdalah, anak saya juga tidak se-FOMO emaknya dalam hal tren kuliner duniawi.
(3). Cek Promo atau Diskon Resto
Kiat menghemat berikutnya: Follow akun promo atau diskon kuliner. Bisa juga kita pantengin konten promo di akun Resto yang jadi inceran. Voucher potongan harga juga ada di sejumlah platform, seperti TikTok ataupun Grab Dine In. Baca baik-baik syarat ketentuannya. Beberapa kali saya dapat harga miring banget, gegara notice ada promo-promo penyelamat dompet dari kepunahan massal.
(4). Mulai Masak Sendiri
Sebenarnya, saban ke resto Korea, kami suka self-service, merebus dan grill daging dengan piranti di atas meja. Itu artinya, kebiasaan masak bareng ini bisa dialihkan ke dapur rumah saja kan? Kalau kurang asyik bin aesthetics, ya coba pakai kompor Listrik atau kompor yang buat kemping saja, trus bisa masak di teras rumah atau lapangan. (rumah kami ada di depan lapangan) Modal masak-masak cukup beli slice beef, bumbu, dan aneka sayuran plus jamur. Voilaaaa, jadi lebih hemat, dapatnya juga lebih banyak, kan?
(5). Belanja di Pasar Tradisional, Hemat Banyak!
Kalau selama ini, belanja sembako, sayur, protein hewani dst di retail modern, ada baiknya alihkan ke pasar tradisional. Selisihnya lumayan banget! Misal belanja tempe, kalau di toko retail modern bisa 12 ribu/papan. Sementara di pasar tradisional 5 ribu/papan. Malah kadang kalau sudah bestie dengan babang penjual, kita bisa dikasih bonus, entah daun bawang, sereh atau empon-empon/bumbu dapur.
***
Begitulah efek kenaikan dollar yang paling berasa di keluarga kami. Gimanapun juga, sebagai rakyat, kami berharap Rupiah bisa sehat lagi. Harga-harga bisa turun, normal dan stabil, sehingga nggak bikin Menteri keuangan Rumah Tangga sambat berjamaah.
Hidup makin ke sini banyak banget tantangannya. Di saat ekonomi rakyat makin melemah, plis plis… para pengambil kebijakan mohon untuk lebih berempati. Tentu perasaan sebal menggerojok hati; tapi yang lebih besar daripada itu, kami tetap mendoakan yang baik-baik untuk Bangsa ini. (*)