Ibu Dothy, Perempuan Inspiratif Direktur Utama Terminal Teluk Lamong

Dothy, Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong, Surabaya

Terminal Teluk Lamong (TTL) adalah sebuah terminal pelabuhan yang canggih, semi-automatic, ramah lingkungan dan bertaraf Internasional. Sejumlah negara melakukan kunjungan dan belajar pada manajemen TTL yang berlokasi di Osowilangun, Surabaya ini.

Mendengar kata “terminal”, kebanyakan dari kita langsung mengasosiasikan dengan bisnis yang sangat maskulin alias “laki banget”. Aktivitas bongkar muat di pelabuhan memang sebuah pekerjaan yang identik dengan kaum pria.

Tahukah Anda, bahwa top leader di TTL adalah seorang perempuan? Yap, Ibu Dothy, itulah sosok perempuan tangguh yang diamanahi sebagai Direktur Utama Terminal Teluk Lamong. Beberapa waktu lalu, saya sempat bersua dan melakukan exclusive interview dengan beliau. Berikut petikan perbincangan kami.

DSCF8049

Bagaimana Ibu Dothy bisa menjadi Direktur Utama Terminal Teluk Lamong, menjadi pemimpin di sebuah korporasi yang mayoritas adalah laki-laki?

Secara pribadi, bergaul dan bekerja dengan laki-laki adalah hal yang sudah biasa bagi saya. Saudara kandung saya banyak yang laki. Saya kuliah di kampus ITB yang mayoritas mahasiswanya juga laki. Sebelum di TTL, saya juga bekerja di Terminal Petikemas, dan banyak berinteraksi dengan laki-laki juga. Jadi saya sudah terbiasa. Tidak menganggap bahwa bekerja bersama laki-laki itu menakutkan, atau membuat cemas.

Karena itulah, saya akhirnya mempunyai sikap yang setara ketika bekerja bersama kaum adam. Memilih karyawan baru tidak berdasar perbedaan gender, akan tetapi karena memang kemampuannya sudah mumpuni.

Meski demikian, ada beberapa hal terkait perbedaan fisik perempuan dan laki-laki yang harus kami perhatikan. Misalnya untuk pekerjaan sebagai operator crane manual yang harus naik sampai ketinggian 35-40 meter di atas tanah, tentu kami masih memilih pekerja laki-laki. Karena secara fisik, perempuan bisa mengalami perbedaan metabolisme tubuh yang mempengaruhi konsentrasi, misalnya ketika sedang haid, hamil atau sedang menyusui.

Jadi sebaiknya kita juga bersikap setara ketika harus bekerja dan bekerjasama dengan laki-laki. Tidak perlu minder, juga tidak perlu bersikap jumawa. Percaya diri dan bekerjalah sesuai dengan kemampuan masing-masing.

NH__0906

Mayoritas Karyawan di TTL berusia muda (generasi millennial). Bagaimana leadership yang Ibu terapkan di sini?

Saya harus melakukan shifting atau penyesuaian gaya kepemimpinan dengan karakter anak-anak muda yang bekerja di Terminal Teluk Lamong. Seperti halnya ciri khas generasi millenials yang harus connected to social media, innovative, fast moving and open mind, maka sayapun berusaha mengikuti ritme kehidupan sosial mereka. Gaya bekerja yang luwes, serius tapi santai dan pastinya digitalize

Yang jelas, perusahaan ini saya bawa ke arah spiritual. Bagaimanapun juga, sebagai orang beriman, dalam menghadapi setiap permasalahan hidup, baik susah maupun senang, harus selalu dibawa ke Allah. Kita memang tidak bisa memuaskan atau menyenangkan semua orang. Tapi selama kita niatkan sebagai sarana beribadah dan mengabdi pada Allah, maka hasilnya akan berkah.

Ada kajian keislaman yang rutin kami gelar setiap kamis di kantor. Lalu setiap Jumat pagi, kami juga membaca surat al-Kahfi bareng. Kami berusaha memberikan contoh untuk sama-sama bergerak dengan ranah spiritual. Setiap pekan, walaupun hanya 20 menit, apabila kita lakukan secara konsisten, insyaAllah hasilnya jauh lebih baik.

DSCF8071

Untuk menyeimbangkan karir dan keluarga, apa tips yang bisa Ibu berikan?

Yang jelas, dalam keluarga, yang kami tekankan adalah agama. Saya bilang ke anak-anak, “Mama-papa tidak bisa mengawasi kamu setiap saat, karena kami juga punya aktivitas masing-masing. Tapi camkan, bahwa Allah, Tuhan semesta alam, senantiasa mengawasi kita kapanpun di manapun. Nah, dengan berbekal keyakinan bahwa “Allah mengawasi aku setiap saat” niscaya bisa menjauhkan anak-anak dari keinginan dan kemungkinan untuk berbuat hal yang buruk.

Teorinya Rhenald Kasali juga saya praktikkan sebagai panduan menjadi Ibu. Delegate it, Do it, or Dump it. Banyak hal dalam hidup ini, kita harus bijak dan melakukan skala prioritas. Ada hal-hal yang bisa kita kerjakan (do it), ada yang bisa didelegasikan (delegate it), atau justru hal-hal tidak berfaedah yang harus kita ignore (dump it)

Misalnya, kita jarang bisa mendampingi anak belajar, berarti harus cari guru les, delegate it.

Saya juga berupaya melibatkan anak-anak untuk tahu apa aktivitas mamanya setiap hari. Kalau mereka lagi libur sekolah, kadang saya ajak untuk berkunjung ke TTL. Gimana, mau lihat alat-alat? Saya ajak mereka untuk lihat crane dan alat berat lainnya.

Yang saya tularkan ke anak-anak adalah karakter pekerja keras dan harus passionate dalam setiap karir yang kita pilih. Harus serius dan sungguh-sungguh. Saya enginer, papanya dokter. Nah, anak-anak zaman now ini punya passion yang berbeda dengan orang tuanya. Tidak masalah, saya justru appreciate dengan cita-cita yang beragam. Yang penting mereka bertanggung jawab dengan apa yang sudah dipilih.

Anak pertama saya passion-nya lebih ke desain, atau keindahan. Sementara anak kedua suka bidang IT (Information Technology). Kami sering ngobrol soal banyak hal yang kekinian. Saya juga harus paham karakter anak, agar ngobrolnya nyambung dan bisa memahami apa yang ada di pikiran mereka. Anak nomor 2 nih, dia tuh adrenaline junkie. Sukanya main di wahana yang challenging, yang bikin dag dig dug, tapi dia malah hepi. Kalau wisata ke Jogja misalnya, dia paling suka yang model tour pakai jeep ke kawasan Merapi. Dia suka dengan hal-hal yang menantang, tapi ingin bekerja di bidang yang lebih fleksibel. Hal-hal semacam ini yang saya apresiasi.

Alhamdulillah, anak-anak sekolah di SD Islam. Jadi dasar keislamannya sudah lumayan kuat. Tapi sekarang mereka kan sekolah menengah di negeri… harus extra untuk memberikan tambahan pemahaman agama, karena memang sifat pergaulannya yang plural. Kadang saya pancing untuk ngobrol isu-isu yang lagi happening di anak muda. Yap, orang tua harus mau mengikuti perbincangan anak-anak zaman now. Misalnya, ada selebgram (selebritis di Instagram) yang suka memamerkan gaya hidup hedon, saya pancing, ”Kamu suka sama si A?”

Anak saya menjawab, ”Ya elah Maa, masak yang kayak begituan jadi idola?”

Kita harus bisa menjalin kedekatan dengan anak. Ini sekaligus sebagai upaya agar anak kita bisa menilai mana yang bagus dan bisa jadi idola, juga mana yang tidak patut dicontoh. (*)

 

Advertisements

“Aksi Ibu Peduli Nutrisi” by Minute Maid Nutriforce

“Aksi Ibu Peduli Nutrisi” Minute Maid Nutriforce bersama Ribuan Ibu di Surabaya

Siapa yang demen banget dengan sensasi bulir jeruk ala Minute Maid Pulpy Orange? Widiiih, yang ngacung banyaaaakkk! Yap, nyaris seluruh warga Indonesia dimanjakan dengan sensasi kenyil-kenyil-segar yang dihadirkan oleh bulir jeruk di minuman ini. Kalo Sidqi, anakku demen banget ama Nutriboost. Kalo dolan ke minimarket deket rumah, dia selalu bilang, ”Aku minta Nutriboost ya Buuu…”

Brand Minute Maid ini emang dicintai segenap lapisan masyarakat. Mulai anak-anak, remaja, orang dewasa, semuanya udah pasti terkiwir-kiwir dengan segarnya beverage ini. Nah, sekarang…. Ada varian baru lho. Namanya Minute Maid Nutriforce! Hari Senin, 26 Februari, saya ikutan media and bloggers gathering bareng dr Grace Judio-Kahl, nutrisionis, lalu ada Andrew Soendjojo, selaku Marketing Manager Minute Maid, juga Artika Sari Devi, public figure sekaligus ibu dari 2 anak.

Sebenarnya, apa sih Minute Maid Nutriforce ini?

Andrew, perwakilan dari brand menjelaskan, ”Nutriforce adalah inovasi terbaru dari Minute Maid diformulasikan secara khusus dengan 11 nutrisi bermanfaat Seperti, zat besi, kalsium dan zink, yang bermanfaat untuk memenuhi 1/3 (sepertiga) kebutuhan nutrisi harian anak. Istimewanya, produk ini tidak mengandung pengawet, pewarna dan pemanis buatan. Minute Maid Nutriforce bisa berperan sebagai minuman pilihan yang mendampingi kegiatan harian anak.”

IMG-20180226-WA0026

Artika Sari Devi, artis yang juga ibu dua putra hadir daam acara ini. Dia bilang, sebagai Ibu pastinya kita semua pengin kasih yang terbaik buat anak kan?

Ngomongin soal nutrisi, gizi dan sebagainya, ini adalah ilmu buat kita semua. “Bener sekali bahwa tumbuh kembang anak adalah sesuatu yang penting buat kita para orang tua. Tentu kita ingin anak jadi mandiri, aktif, kreatif, punya daya tahan tubuh yang kuat. Anak zaman sekarang jauuuuhh lebih aktif. Berangkat pagiiii banget, pulang sekolah lebih sore. Selain saya bekali makanan enak dan mengenyangkan, juga saya bekali dengan nutrisi seperti Minute Maid Nutriforce ini. Karena sesuai dengan tantangan mereka yang kian banyak,” ujar Artika.

IMG-20180226-WA0024

 

Artika juga sigap menyiapkan bekal untuk anak-anak, dan dia masak sendiri lhooo!

“Ini adalah investasi buat masa depan mereka. Bikin bekal juga menunjukkan sayang dan perhatian kita sebagai orang tua. Anak itu kegiatannya banyak, jadi harus kita support,” imbuhnya. (*)

 

Edukasi 1000 Hari Pertama Kehidupan bersama Nutrisi untuk Bangsa

Surabaya, Sabtu 3 Maret

Sejak pagi, hujan deras berpadu dengan geluduk yang menyambar-nyambar seolah menjadi orkestrasi outdoor di kota pahlawan ini. Jalanan macet di mana-mana. Beberapa kawasan digenangi air, plus kerumunan para rider yang cari tempat berteduh. Surabaya udah gloomy banget! Hujan juga nyaris tak kenal kompromi mengguyur pusat kota. Padahal, Sabtu siang ini, kami para blogger dan sejumlah ibu-ibu muda, dijadwalkan mengikuti acara “1000 Hari Pertama Kelahiran” bareng Nutrisi untuk Bangsa (NUB). Wedewww, kalo hujan deras kayak gini, terus pegimane?

Hamdalah… menjelang siang, air sudah tak lagi tumpah. Fyuuuh, dan cuaca setelah hujan itu kan seger-seger-bau-tanah-basah gitu kan? Makin semangaaaat deh kita, untuk cuss ke Bangi Kopitiam di jalan Walikota Mustajab (dekat kantor Pemkot Surabaya). Ada sejumlah narasumber yang bakal berbagi informasi penting seputar gizi untuk generasi bangsa.

NUB-Arif Mujahidin

Bapak Arif Mujahidin, Communications Director Danone Indonesia (perwakilan Nutrisi untuk Bangsa – NUB) mengapresiasi semangat para Bunda yang antusias hadir dalam acara ini, meski kondisi cuaca kurang mendukung. Yang jelas edukasi seputar 1000 Hari Pertama Kehidupan memang sangat krusial dilakukan.

NUB-slide-apa-1000-hari-pertama-1

Yuk, kita simak presentasi dr Nur Aisiyah Widjaja, Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKU Universitas Airlangga/ RSUD.Dr.Soetomo Surabaya.

NUB-upaya-peningkatan-kualitas-pelayanan-kes-ibu-bersalin-dan-nifas-28-638

Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)?

Dr Nuri menjelaskan, bahwa 1000 HPK adalah masa sejak anak masih berada dalam kandungan hingga ia berusia 2 tahun. Sekedar informasi saja, banyak yang salah kaprah, menyangka kalau 1000 HPK dimulai ketika anak sudah lahir… padahal BUKAN ya, ibu-ibu…. Periode 1000 HPK ini dimulai sejak bayi masih ngendon di dalam perut.

Nah, kenapa 1000 HPK begitu penting? Yap, karena ini merupakan PERIODE EMAS pertumbuhan bayi. Dalam retang waktu 100 HPK, terjadi pertumbuhan otak yang sangaaaaaaat pesat! Dan ini berkorelasi penting dengan bagaimana proses tumbuh kembang anak secara sempurna.

Jangan sampai bayi mengalami kurang gizi pada periode 1000 HPK. Karena, efeknya sungguh tidak enteng.

  • Pertumbuhan otak terhambat, anak menjadi tidak cerdas
  • Anak menjadi lemah dan mudah sakit
  • Karena gizi dan nutrisi tidak terpenuhi, maka pertumbuhan jasmani dan perkembangan kemampuan anak terhambat. Akibatnya anak bakal menjadi pendek (stunting)

NUB-Stunting

Berikutnya, Ibu bidan Atik Kasiati memaparkan pentingnya menjaga kandungan gizi dalam makanan yang dikonsumsi ibu sejak hamil. Jangan sampai ada alasan, “Aduh… aku kalo lihat makanan kok bawaannya pengin muntah ya?”

Ibu bidan mengingatkan, “Lho, memangnya di dalam perut Ibu ada kantinnya tah? Kalo Ibu nggak mau makan, apakah adik bayi bisa cari makan di kantin dalam perut Ibu? Kan enggak?”

Demi semangat melahirkan generasi Indonesia yang sehat dan berkualitas, yuk kita sama-sama menyebarkan informasi tentang pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) ini.

Tips Memilih Dress Anak dari Bunda Langganan Juara Kuis dan Lomba

Siapa di sini ibu-ibu yang demen ikutan kuis dan lomba foto di Instagram? Widiiih, banyak yang angkat tangan yes. Hehehe 🙂  Di zaman serba digital kayak sekarang, berburu rezeki tuh bisa dilakoni dengan banyak cara. Salah satunya ya dengan ikutan aneka kuis yang berserakan di jagat media sosial. Ada lomba foto (penilaiannya kombinasi jumlah ‘like’ dan selera juri), ada kontes blog, vlogging dan lain sebagainya.

Kenalin nih, salah satu sahabat saya yang bolak-balik langganan juara lomba foto di Instagram. Namanya, Furry Fransiska Fibriasari. Kalau lihat keberuntungan doi di jagat per-quiz hunter-an, rasanya mupeng beraaat!

IMG-20180126-WA0005

Keluarga Quiz Hunter yang Kompak dan Super Kece!

Mba Furry nih semangat banget ikutan aneka lomba foto, terutama yang mengandalkan ekspresi ketiga buah hatinya, yang super-kiyut semua. Udahlah wajahnya “khas tampang bintang iklan” para bocil ini jago banget kalo diminta pose! Nama anak-anaknya adalah: Javier Abyan Mursalin; Kaiannya Almahyra Mursalin (cewek, panggilannya Kay); Leonel Ayman Mursalin.

Bunda-bunda sejagat timeline tentu ingin tahu gimana tips yang mba Furry praktekkan, sehingga bisa menang di berbagai kontes kan?

Nah, ini petikan hasil kepo perbincangan saya dengan ibu 3 anak yang tetap terlihat cantik, langsing, menawan dan aduhai penuh pesona ini.

IMG-20180126-WA0011

Bunda Furry… selamaaat ya, beberapa waktu lalu, Kay menang kontes foto di Instagram. Cantiiiik banget, fotonya juga uhuy! Kalo boleh tahu, gimana tips memilih DRESS ANAK  yang Bunda Furry terapkan pada Kay?

Prinsip utama yang harus dikedepankan adalah, pilih baju dengan bahan yang nyaman dipakai. Apalagi Surabaya kan hawanya lumayan panas. Jadi, pilih yang kainnya menyerap keringat, supaya anak-anak tetap nyaman dan enjoy ketika beraktivitas.

Buat ketiga anak, saya lebih suka yang gayanya sporty look dan fashionable aja. Untuk mereka, saya sering pilihkan yang minimalis, nggak terlalu banyak gambar. Jadi, dress-nya Kay juga saya lebih suka yang polos, atau kalaupun ada gambar tapi tidak banyak.

 

Berapa budget belanja baju rata-rata per bulan yang Bunda  terapkan untuk anak?

Nggak ada budget khusus atau alokasi dana tersendiri. Yang jelas, saya beli baju tergantung kebutuhan aja.

Apakah Bunda selalu membeli baju baru tiap ada kontes baik fashion show maupun utk online quiz?

Kalau dulu, Biam (anak pertama) ikut kursus modelling kan? Jadi memang karena tuntutan lomba, saya sering banget beli atau jahitkan baju apabila ingin menang, karena busana juga jadi salah satu kriteria penilaian. Selain beli, saya juga suka bikin design dan diaplikasikan sama penjahit.

Kalau untuk lomba online saya nggak selalu beli. Kadang mix and match saja.  

Pernahkah Bunda berbeda pendapat dengan anak terkait pemilihan baju/kostum? Misalnya Kay (putri kedua) merasa baju atau dress anak yang Bunda pilihkan  terlalu sumuk/ribet dan dia ogah ikut lomba kalo tetap diminta pakai baju itu? Solusi apa yang Bunda terapkan?

Ya, pernah! Ini terjadi pada Biam (anak pertama). Dia agak selektif. Misalnya baju dia warnanya agak bernuansa pink. Dia complain, malu…. katanya kayak perempuan, padahal ya sedikit aja yang warna pinknya.

Kalau Kay (putri) itu agak penurut ya. Dia mau pakai dress anak yang model apa saja. Tapi terkadang dia tanya ke saya juga. Waktu itu, saya kreasikan dress anak berbahan koran bekas untuk kontes fashion di Ciputra World Surabaya. Trus, Kay tanya, ”Ma… lihat baju anak-anak yang lain semuanya bagus-bagus kayak Princess. Masak bajuku dibuat dari koran?”

IMG-20180126-WA0006

Saya jelaskan ke dia dengan Bahasa sederhana yang mudah dimengerti anak-anak. Intinya, baju Kay justru unik karena dibuat dari material ‘sampah kering’ alias daur ulang, jadi lebih ramah lingkungan. Akhirnya dia mau, dan…  Kay terpilih jadi Juara 1 di lomba itu.

 

Wohooo… kereen! Jadi intinya, Bunda menerapkan prinsip “Dress up like you mean it!” dan berpakaian sesuai karakter anak ya?

Betul! Saya selalu mengajarkan bahwa setiap orang punya karakter berbeda dalam berbusana. Dan semua pilihan pasti bagus. Saya bilang bahwa apa yang kita pakai dan miliki adalah yang terbaik dan harus kita syukuri. Itu saja.

Apabila Bunda sudah all out dalam memilihkan busana, make up, dll.. tapi anak belum menang di kontes tersebut, apa yg Bunda lakukan?

Ya kadang sedih kalau yang menang ternyata biasa aja. Bukan maksud merendahkan tetapi terlihat secara skill dan performance kurang bagus pasti kecewa ya. Bahkan kadang bikin ogah-ogahan ikut lomba lagi.

Tapi kalau yang menang memang bagus dan kreatif, saya sih oke aja. Ini justru memicu kami untuk lebih menggali ide-ide kreatif lagi di kontes berikutnya.

***

Yuhuuu! Ternyata gitu sekilas tips yang diterapkan Bunda Furry. Kalau lihat foto-foto keluarga muda ini di Instagram, rasanya gemesss banget pengin uwel-uwel Lionel, Kay dan Biam. Semoga keberkahan melingkupi rezeki keluarga ini dan kita semua yaaa. Aaamiiin aamiiin ya robbal alamiiin…. 

Hayuuuk, ikutan kuis di Instagram juga! 

#DearSon Stok Maaf buat Ibu Masih Banyak kan?

Watch Your Words! They become action!

Dari jaman purbakala, aku ada ‘secuil-masalah-besar-yang-sulit-ditemukan-solusinya’, dan ini sangat berkaitan erat dengan rongga wicara alias mulut. Yepps, aku tuh manusia yang lumayan ceplas-ceplos. Gampang banget melabeli seseorang atau sesuatu, dan langsung plosssss gitu aja!

Sekarang, makin ke sini, lidah ini bikin aku terbelit masalah yang tak berujung.

Objek penderita: 1 bocah bernama Sidqi.

Sebenernya Sidqi sama sekali bukan bocah yang nakal. Tapi, namanya bocah, pasti ada aja ulahnya yang kerap membuatku melontarkan kalimat pedas, “Heh! Dasar Anak Nakal!”

Gleg. Abis nyap-nyap, sepersekian detik kemudian, aku ngerasa heran, “Kalo nih bocah nakal, mesti diliat dulu dong ya, siapa Bapak-Ibunya?” #plak!

Ini cerita beberapa tahun silam, ketika Sidqi masih usia 4 tahun.

Salah satu “kenakalan” Sidqi adalah, dia hobi banget ngempet pipis. Kalo udah main *apalagi main Bike Champ, atau Truck Monster Destroyer* Sidqi secara haqqul-yaqin mengatakan bahwa ia tidak ingin pipis.

Dan, muntablah daku sebagai emaknya. “SIDQI! Kalo kamu gak mau pipis, nanti bisa disunat sama dokter! Mau dibawa ke dokter?!”

 

Dan, beberapa hari kemudian, ucapan seorang emak ‘durhaka’ ini nyaris jadi kenyataan.

Sidqi mengeluh Mr P-nya sakit. Setelah aku cek, ternyata ada ruam-ruam merah dan muncul bengkak tidak semestinya. Dia nangis menahan perih saban berkemih.

Kemudian kami bawa dia ke klinik kesehatan dekat rumah, “Wah, ini gara-gara ada sisa air seni yang mengumpul di ujung penis. Dan ini, harus disunat/khitan Bu…”

Gledeeerrr, vonis dokter barusan bikin gw merinding disko. 

 

Sidqi pucat. Bokapnya ga kalah pasi. Setelah lobi sana-sini, didapatkan kesepakatan bahwa “untuk sementara sidqi cukup konsumsi antibiotik dulu saja, dan jangan ngempet pipis, dan kalo pipis tolong dibersihkan dengan seksama & dalam tempo sesingkat2nya.” Halahdalah!

 

***

 

Sejak kejadian ‘tuah mulut’ vs ‘vonis sunat’ itu, bukannya tobat, ternyata aku makin menunjukkan tabiat sebagai emak yang kurang berbakat.

Suatu hari, Sidqi berbohong. Aku lupa tema bohongnya apa. Tapi, sebenernya it’s just kind of white lies, atau bukan sesuatu yang perlu dibesar2in.

Tapi dasar emak lebayyyy, aku spontan nyeletuk, “Eh, Sidqi! Mulai berani bohong sama Ibu ya?? Awas loh, kalo bohong, hidungnya makin panjang kayak Pinokio!”

 

Spontan, Sidqi memegang hidungnya. Saat itu aku terjebak pada dua kesalahan sekaligus:

(1). Nyumpahin anak;

(2). Ngajarin logika bohong yang tak berdasar. Pinokio itu cuman khayalan belaka bukan? #dasar emak dodol 😛

 

Selanjutnya? Hidung Sidqi tentu tidak memanjang atau memancung ala Prince William. Tapiii… Ada sebongkah jerawat yang nangkring dengan manisnya di hidung Sidqi. Bukankah itu artinya hidung Sidqi “memanjang” sekian milimeter?

 

Arrrghhhh….. LIDAHHHHH… kenapa siy lidah ini kok gampiiil banget mengucapkan kalimat-kalimat nir-faedah?

 

Ya Allah… Pemilik Kehidupan….

Berikanlah cahaya di Hatiku, di Lidahku, di Otakku, di Pendengaranku…

Berikanlah kesabaran, kebajikan…

Bimbinglah aku supaya ‘mikir dulu baru ngomong’…

 

 

Dear My Beloved son….

Stok Maaf buat Ibu Masih Banyak kan?

Dearest Ibu-Ibu, Yuk Ciptakan Bahagia ala Kita!

Baca berita belakangan ini sungguh bikin puyeng luar binasa. Adaaa aja isu-isu yang membuat kalimat istighfar bertaburan dari organ wicara. Sebut saja, ayah yang tega membunuh anak kandungnya. Ibu yang menyiksa balitanya. Macam-macam! Astaghfirullah…. 

Kalau kita telusuri, sebenarnya kasus kekerasan ini banyak yang bermula dari depresi tak tertangani yang dialami para orang tua. Terutama ibu-ibu ya. Banyak banget perempuan yang ketika masih lajang punya prestasi super-duper wow, kemudian harus merasa “terbelenggu” dalam ikatan rumah tangga. Bisa jadi karena panggilan jiwa, atau lantaran suaminya yang minta dia kudu jadi full-time-mom

Harus diakui, metamorfosa dari career lady menjadi stay-at-home-mom… terkadang menjadi fase yang super mengerikan. Apalagi kalau kita tipe achiever. Beberapa kali saya sempat berada di fase itu, dan rasanya stressful!

Mendingan stres ngadepin tuntutan boss dan aneka deadline yang berkejaran, ketimbang stres ngurusin anak yang GTM (Gerakan Tutup Mulut), anak yang masih ngompol dan BAB tidak pada tempatnya, anak yang membantah apa kata Mama, dan seterusnya dan semacamnya. 

Apalagi, stres ngurusin anak plus…. engga pegang duit dalam jumlah yang cukup. Ada perasaan “I’m worse than another career ladies” karena hidup kita cuma berkutat di popok, ompol, gumoh, nyiapin makanan bayi and so on and so on. 

Dari situlah bibit depresi bisa muncul.

Kemudian, setan mulai berkontribusi… sehingga kalbu kita berbisik, “Andaikan waktu itu aku nggak cepet-cepet nikah… andaikan waktu itu aku nggak cepet-cepet punya anak… Mungkin aku bisa terus mengejar karir! Promosi sampai ke kantor pusat, bisa meraih jabatan yang kian melesat!”

Ini nih… berandai-andai membuka kesempatan setan kian berbisik kencang! Kita nggak bisa kembali ke masa lalu kan? 

Saya selalu suka Quote ini nih….

‘Yesterday is history, tomorrow is a mystery, today is a gift of God, which is why we call it the present.’

gift

Hiduplah di masa kini dan masa depan. Stop berandai-andai! Apalagi kalau ngelihat teman-teman kita karirnya melesaaaaat, bolak-balik ngetrip ke luar negeri (dibayarin kantor pulak!), bisa fancy-dining di resto dan kafe mahal, plus Instagram-nya penuh dengan foto-foto yang rentan bikin dengki bin sirik. Uhuks.

Depresi bisa semakin bertambah tatkala kita meratapi masa lalu, dan membandingkan pencapaian hidup dengan orang lain.

Heiii… comparison is the thief of joy!

comparison

Buat apa kita membandingkan rezeki kita dengan rezeki orang lain? Toh, kita nggak pernah tahu kan, seberapa keras usaha teman-teman kita dalam menjemput kegemilangan dalam karir.

Aku kasih contoh, nih. Sohib ikribku, Xaveria (perasaan, contohnya dia dia melulu haha). Xave ini bolak-balik dikirim kantornya ke luar negeri. Ke Jepang, Dubai, Singapura, Hongkong, Thailand, semuanya for free, alias gretong, dan dia nginep di hotel-hotel yang prestisius gitu!

Kalau lihat bagian “having fun”-nya doang…. ya sudah pasti aku dengki tiada kepalang. Tapi, mari kita lihat, apa pengorbanan yang dilakukan ibu 3 anak ini? Yep, dia harus bangun subuh untuk mempersiapkan sekolah (plus nganterin) anak-anaknya. Lalu nyiapin makanan buat balita. Jam 1 pergi ke kantor, baru pulang sampai rumah jam 11 malam! SETIAP HARI. Dan besokannya udah harus bangun subuh lagi. SETIAP HARI. Repeat.

Apakah diriku siap melakukan hal-hal semacam itu? Belum tentu.

So…. Depresi sangat bisa kita eliminasi, manakala kita bersyukur dan berdamai dengan diri sendiri. Setiap makhluk sudah ada takaran rezekinya masing-masing. Sekuat dan sekeras apapun usaha kita, kalo memang bukan rezekinya, ya nggak akan nyampe kok. Eh, don’t get me wrong, saya bukannya bilang kalo kita males-malesan aja lah… bukan! Justru rezeki itu memang HARUS dijemput. Harus diusahakan. Tapi, jangan sampai membuat kita mengandalkan jurus “raja mabok” dan segala macam cara dilakukan.

***

Parenting Zaman Now is So Challenging!

CHALLENGING. TRICKY. PRETTY HARD.

Tiga hal itulah yang langsung nangkring di batok kepala, manakala ada yang nanya, “Gimana sih rasanya jadi ortu zaman now?”

Aku bukan pakar pendidikan. Aku juga emak-emak mediocre, yang kerap disambit rasa bersalah dan pengakuan dosa “Sepertinya aku gagal jadi orang tua.”

Banyaaaaak banget failure yang udah terjadi selama aku menapaki “karir” (yang ngga bisa cuti plus ngga bisa resign) sebagai ‘emaknya Sidqi’.

Mungkin, kalo karir ini disamakan dengan kerjaan di kantor, aku udah dapat SP3, saking seringnya kesalahan demi kekhilafan yang aku lakukan, baik sengaja maupun tidak.

But eniwei, supaya nggak jadi depresi, kadang kala rasa bersalah ini aku alihkan dengan traveling! Jadi, kalau teman-teman baca postingan saya yang (tampaknya) hepi tralala ketika ngetrip, trust me… itu adalah kelegaan luar biasa karena hamdalah diriku tetap waras di tengah perasaan ‘guilty feeling’ yang menerpa sebagai orang tua, hahahah.

***

Okai. Jadi, anakku baru satu. Namanya Sidqi. Dia sangat passionate dengan dunia YouTube, editing dan gaming. Bolak-balik minta dibelikan PC buat belajar editing, tapi yaaaah, karena ortunya sangat concern dengan financial planning (lebih tepatnya medhit) sampai detik ini Sidqi otak-atik akun YouTube-nya pakai HP aja.

Meski gitu, subscriber channel YouTube Sidqi sudah mencapai 1800. Google Adsense-nya juga udah approved, dan siap-siap nerima dollar nih, kalau traffic videonya OK.

Ada satu bocah Indonesia, masih berusia 10 tahun yang sepertinya bisa banget jadi role model buat Sidqi.

 

Namanya, Alfarizi Bay Haqi. Dia tuh yang udah bisa bikin aplikasi untuk belajar Matematika, namanya Good Math dan Quiz Matematika.

Tapi emang, kids zaman now luar biasa yaaaa… Mereka sangat akrab dengan teknologi. Ini saya comot info tentang para pemenang Kompetisi Inovasi Teknologi “Indosat Wireless Innovation Contest”. Salah satu juaranya ya si Alfarizi Bayhaqi itu.

Kategori Kids & Teens (apps)

Juara 1: Quiz Matematika (Muhammad Hafizh Bayhaqi / 10 Tahun / Bogor). Quiz Matematika merupakan game berbentuk kuis matematika yang dirancang untuk melatih kemampuan dan kecepatan berhitung anak-anak dengan cara yang seru dan menyenangkan.

Juara 2: AR Sistem Tata Surya (Ahmad Reihan Alavi / 14 Tahun / Jepara)?. AR Sistem Tata Surya merupakan solusi pemanfaatan teknologi Augmented Reality (AR) untuk mempermudah pembelajaran siswa-siswi di seluruh Indonesia mengenai sistem tata surya.

Juara 3: Life is Precious (Shaquille Shiddiq Priata / 15 Tahun / Tangerang Selatan). Life is Precious merupakan game interaktif dengan berbagai tantangan permainan yang fokus pada topik pembelajaran serta pencegahan kecanduan narkotika dan obat-obatan terlarang.

***

Jadii… gimana dengan perjalanan sebagai ortu zaman now?

Sepertinya saya mau mulai bikin road-map untuk Sidqi. Kalau dia memang sangat interest dengan dunia IT, ya sudah gapapa. Difasilitasi aja. Dan di-support supaya dia bisa jadi techno-freak yang bermanfaat bagi orang banyak dan memberikan kontribusi positif.

 

Sebuah Kisah yang Begitu Indah antara Aku dan Majalah

Kalau mau beli majalah atau buku, Anda cari di toko buku kayak Gramedia/ Toga Mas/ Gunung Agung, atau cari di toko buku bekas?

To be honest, saya lebih suka cari buku yang baru. Apalagi kalau ada pameran buku gede-gedean, kayak Big Bad Wolf. Makin demen deh eikeh… karena koleksinya segambreng, harganya juga lumayan reasonable.  Jadi, saya ngga punya opini sama sekali tentang buku atau majalah pre-loved 🙂

Baca: Tips Datang ke Pameran Buku Big Bad Wolf

Buat One Day One Posting kali ini, saya mau membahas soal kisah indah merekah apalah-apalah antara saya dan majalah.

Huwaduuh, ada apakah ituuu?

Kita flashback ke tahun 2012 ya sist. Waktu itu, saya lagi khusyu’ banget browsing medsos, dan menemukan sebuah informasi yang amat berharga. Dancow—salah satu merek susu formula yang kondang bambang gulindang—mengundang para Bunda, untuk ikutan pelatihan “Dancow Parenting Center”. Materinya komplet banget, membahas psikologi, gizi/nutrisi, financial planning, sampai dengan tips ber-social media.

Waaah, aku semangaaat dong buat daftar!

Kami mengikuti materi yang super padat bergizi, di sebuah hotel pusat kota Surabaya. Kelar ikutan workshop, para pemateri men-challenge peserta.

“Bunda bisa kan bikin event/ kegiatan yang mengacu pada message workshop ini?”

Well… siapa takuuut? Dengan bergandengan tangan bareng sohib ikrib di kantor, saya mengeksekusi sebuah program bertajuk “Outbound for Kids: Value for Money”.

Kenapa gitu? Soalnya, outbound yang kami gelar ini HTM-nya mursida alias murah banget boooo. Lupa persisnya, nggak sampe 100 ribu peserta udah dapat makan siang, tiket outbound, plus kaos. Assoy geboy kan?

Kelar menggawangi outbound ini, saya pun bikin semacam resume dalam format presentasi power point, dan dikirimkan ke panitia. Yep, rupanya.. .tim panitia sedang menyeleksi nama-nama Bunda yang bakal diberangkatkan ke Jakarta, buat ikutan Temu Bunda Dancow Parenting Center, level nasional, uhuuy!

Hepiiii tiada terkira. Program kami diapresiasi dengan segenap jiwa. Saya pun berangkat ke Jakarta, dengan semangat nothing to lose. Pokoke budal!

Eh, ternyata acara yang dihelat di Sahid Jaya Hotel Jakarta ini bener-bener padet! Kami lagi-lagi diberikan sejumlah mini workshop, plus… ada sesi penjurian juga! Materi presentasinya adalah resume kegiatan yang udah kami lakukan di kota masing-masing.

Kelar penjurian, tibalah saat pengumuman pemenang. Kami—para Bunda yang heri alias heboh sendiri ini—berlenggak lenggok di atas panggung, sambil menikmati acara yang dipandu Asty Ananta. Ada Rio Febrian juga lho! Dia nyanyi beberapa lagu, dan udah pasti bikin emak pada histeris. Daaaan…. Tibalah saatnya menantikan pengumuman pemenang…. Eng ing eng…. Dari 30 peserta dari lima kota besar se-Indonesia…. Atas izin Allah, saya ditahbiskan sebagai Juara 2! Alhamdulillaaaah…..

Baca : Kemenangan Sejati Pasca (Nyaris) Depresi 

***

Setelah sesi penganugerahan mahkota dan selempang juara, kami (tiga besar) digiring ke ruang press conference. Uhuks, biasa liputan, eh… sekarang saya yang kudu cang-cing-cung di depan panggung. Rasanya? Super awkward! Well, tapi… nikmati ajalah. Saya jawab setiap pertanyaan yang diajukan jurnalis, setelah sebelumnya dapat brief dari mbal-mba agency yang handle acara ini.

DUTA DPC-2

Dan, karena udah diwawancara wartawan…. Udah menjalani sesi foto… itu artinya, muka-muka kami nampang di majalah. Haha, noraaaaak bingits. Waktu itu, saya foto bertiga dengan mba Aryzana (Juara 1) dan mba Debby Shinta (Juara 3). Yang saya sesalkan adalah… kenapa waktu itu bodi eikeh lagi super-menggelembung yak? Huhuhu.

Gitu deh, kisah kasih antara saya dan majalah. Sampai hari ini, saya emang baru satu kali mejeng di back cover. Itu aja udah yang tengsin banget, bodi segede alaihim gambreng jadi menuh-menuhin sampul majalah deh, hihi.

DUTA DPC-5

Eniwei… dari perjalanan saya dan majalah ini ada beberapa hal yang saya garisbawahi

(1). Komunitas Dancow Parenting Center ini sudah terbentuk. Isinya adalah para Bunda yang demikian antusias untuk mempraktikkan ilmu dalam workshop, dan mau bikin event dengan skala yang beraneka. Ada yang bikin di Posyandu, di TK atau Paud anaknya, ada juga yang bikin program massal dengan melibatkan rekan-rekan di komunitas atau tempat kerja. Ini sudah menunjukkan sense of ownership terhadap brand.

Sayang seribu sayang… program ini cuma one hit wonder aja gitu. Berjalan hanya di periode 2012-2013 saja. Padahal, ketika ketemu dengan tim Dancow pas event di Surabaya beberapa waktu lalu, saya sudah kirim masukan, agar program ini dilanjutkan aja. Komunitasnya udah terbentuk dan udah melakukan BANYAK hal lho.

(2). Gegara lihat foto yang terproduksi di acara ini, saya jadi sadar bahwa bodi saya amat sangat mblegenuk. Sorry, saya bukannya nge-bully mbak-mbak big size ya, lha wong saya dewe juga ndut kok. Gimanapun juga, timbunan lemak gelambir di tubuh adalah sebuah isyarat bahwa “something wrong in our body”. Nah… dari sini, semangat saya jadi terlecut, ”Saya kudu diet!” Kan nggak asyik, kalo besok-besok ada tawaran pemotretan dan masuk majalah, eh… bodi saya masih tetap dijejali gajih di seluruh penjuru bodi.

(3). Ini pelajaran ketika sesi pemotretan. Walaupun belum terlalu akrab, kita musti langsung nge-blend dengan seluruh kru (fotografer, penata gaya, penata rias, dll) ketika terlibat pemotretan. Santaaaaai aja, jangan kaku, jangan tegang! Mungkin waktu itu, saya masih feel surprised lantaran dapat rezeki nomplok sebagai Runner-Up. Padahal, kalo saya lebih rileks, bisa jadi foto-fotonya bakal lebih sip markosip.

Jadi, kira-kira kapan ya bisa masuk majalah lagi? Huuummm, cuss ahh, mau nge-draft artikel buat dikirim ke Majalah juga! Supaya ada Kisah yang Begitu Indah antara Aku dan Majalah jilid 2.

Yeayyy!

 

 

 

Semiliar Stok Cinta Ibuk untuk Sang Ananda

“Loooh, ini ponakan apa adeknya?”

“Ini anak saya.”

“HAH? Anaknya? Mosok iya, Mbak? Mbaknya emang umur berapa?”

Tidak sekali dua kali saya terima compliment kayak begini. Biasanya kalau saya jalan berdua sama Sidqi doang, ada aja ibu-ibu (atau uti-uti) yang bilang kalau kami lebih mirip kakak-adik ketimbang ibu-anak.

Oh, well. Hormon pertumbuhan Sidqi memang lagi dahsyat-dahsyatnya. Suara dia sekarang nge-bass. Padahal, dulu pas kecil cempreng dan innocent abis. Tinggi badannya juga sudah hampir menyamai Emak. Jadi ya gitu lah, tidak sedikit yang miss-interpret dan menyangka kami adalah siblings.

Continue reading

Begini Caraku Tunjukkan Cinta pada Ibunda

Tanah kubur Ibuku sudah mulai mengering. Matahari Surabaya sepertinya sedang garang-garangnya. Kuusap peluh yang mulai membanjir. Jilbab abu-abu kesayangan Ibu, yang kini kukenakan, mulai tampak noktah keringat di sana sini.

Ibu berpulang setahun lalu. Sudah 365 hari aku tak lagi punya Ibu. Tapi aku masih ingat setiap detil rasa sakit yang Ibu rasa di hari-hari terakhir beliau. Memori itu masih tersimpan di laci ingatan, tatkala Ibu harus berperang melawan nyeri, yang sekonyong-konyong hadir di rongga paru-paru beliau. Ibu kesakitan. Tapi dalam sakitnya, tak sekalipun ia mengeluh, ataupun menyalahkan takdir Sang Maha.

Baca: Surat untuk Ibu

Ibu memegangi dada beliau, yang ditusuk gelombang sakit akibat kanker yang terus merajam, beranak-pinak dan out of control. Ia tidak mengeluh. Ia tidak bertanya, “Ya Allah.. Apa salah saya? Kenapa harus saya?”

Ibu hanya bergumam pelan… “Laaa Ilaaha Illa Anta…. Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin…”

Continue reading