Terpikat Kampung Lali Gadget di Sidoarjo

Harus diakui, gadget seperti handphone punya banyak banget dampak positif dalam hidup. Kita bisa makin mudah berkomunikasi, melakukan transaksi dengan gampil juga mendapatkan banyak wawasan, serta berburu cuan juga bisa dilakukan melalui gadget. Yap, banyak profesi baru yang sangat bergantung dengan gadget plus koneksi dunia digital. Sebut saja, pelaku bisnis online, kreator konten, kang ojek online, dan masih banyak lainnya.

Akan tetapi, sebuah terobosan di kancah teknologi, biasanya punya dua sisi bagaikan mata pisau. Ada faedah, ada juga masalah. Yang kerap dikeluhkan orang tua jaman now adalah: gadget membuat anak-anak kecanduan. Nomophobia, alias kayak ketakutan kalau nggak pegang gadget sebentaaarrr aja. Anak-anak jadi makin agresif, sering terdistraksi Ketika mau belajar/ ibadah, dan itu semua “gara-gara” gadget.

Yeah, begitulah. Temuan yang sangat WOW ini kerap menjelma jadi “tersangka utama” mengapa anak makin mudah cranky, rewel, adab kian merosot, sulit diajak konsentrasi dan sebagainya. Ada baiknya, orang tua juga melakoni instropeksi, jangan-jangan anak jadi adiksi gadget ini, juga bermula dari kesalahan mendidik anak? Jangan-jangan, orang tua yang justru punya peranan besar dalam hal melahirkan anak yang gadget addict?

Nah… pertanyaan retorik ini tidak perlu dijawab. Karena biarlah ini menjadi jatah instropeksi untuk masing-masing ortu. Akan tetapi, pastinya kita butuh inspirasi, motivasi dan aksi nyata. Bagaimana supaya kecanduan gadget pada anak bisa diatasi dengan baik.

Kali ini, saya akan mengulas profil inisiator Kampung Lali Gadget di daerah Sidoarjo Jawa Timur.

Bernama Achmad Irfandi, kelahiran Sidoarjo, 12 Mei 1993. Pria visioner ini adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa), putra bapak Khoiril Anam dan ibu Siti Mas’udah.

Irfandi merasa resah tatkala menyaksikan anak-anak yang kian berlebihan dalam menggunakan gadget. Terlebih lagi, manakala pandemic menyerang dunia, anak-anak semakin mudah mendapatkan akses bergadget ria lantaran semua pembelajaran dilakukan secara online. Orang tua pun tidak bisa melakukan pengawasan dengan baik, dikarenakan sibuk bekerja atau melakukan aktivitas lainnya, jadi MomBlogger misalnya. Bisa ditebak, lantaran overdosis penggunaan gadget, karakter anak-anak menjadi kacau.

Yang tadinya sopan, saat ini gampang banget berucap kata-kata tidak pantas.

Yang tadinya rajin dan disiplin, jadi lelet, dan malas-malasan.

Yang tadinya peduli, simpati dan empati, jadi cuek dan bodoamat dengan urusan orang lain.

Achmad Irfandi sadar bahwa anak perlu diawasi dalam penggunaan gadget. Selain diawasi, agar tidak berakhir menjadi kecanduan, pemakaian gadget juga harus dikurangi dan diatur.

Sebagai pemegang gelar Master dari kampus Unesa, sudah tentu “Pendidikan” adalah passion yang melekat pada diri Irfandi. Ia pun menginisiasi  Kampung Lali Gadget, atau kalau dalam Bahasa Melayu diartikan sebagai kampung yang lupa terhadap gawai. Achmad Irfandi membentuk sebuah lingkungan dengan mengembalikan suasana pedesaan yang selama ini telah terpinggirkan.

Bertempat di Pagerngumbuk, Kec. Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Kampung Lali Gadget siap memberikan manfaat optimal, agar anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang santun, cerdas dan tidak kecanduan perangkat elektronik.

Ada Banyak Hal yang Bisa Kita Temukan di Kampung Lali Gadget; Apa Saja?

Bertempat di Pagerngumbuk, Kec. Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kita bisa merasakan betapa banyak faedah yang diberikan Kampung Lali Gadget ini. Banyak permainan tradisional yang kita nikmati Bersama. Ingin permainan tanpa alat? Ada! Permainan dengan menggunakan bahan alam? Jelas ada. Bahkan, ingin reuni ke era ’90-an dan seru-seruan dengan permainan zaman kita kecil dulu? Yashhh, semua bisa kita temukan di sini. Mulai dari Gobak sodor, kelereng, layangan, telepon kaleng, ketapel, patil lele, engkle, egrang dan masih banyaaakkk lainnya.

Wah wah wah, seru sekaliii ya. Anak-anak bisa bermain dengan riang gembira dan semakin belajar bersosialisasi secara baik. Ada juga permainan bahan alam, di mana pengunjung Kampung Lali Gadget akan diarahkan untuk menggunakan bahan-bahan natural, dan membuat mainan secara DIY alias Do it Yourself. Konsep ramah lingkungan, sekaligus mengasah kreativitas!

Ada dua lokasi utama di Kawasan Kampung Lali Gadget ini, yaitu: Gubuk Baca dan Gubuk Kebun.

Kita bisa menikmati beragam aktivitas, yang berfungsi sebagai sarana membangun karakter. Meminimalisir penggunaan gadget, sehingga generasi di usia emas ini bisa lepas dari ancaman bahaya kecanduan gadget.

Atas kontribusi dan kiprahnya yang luar biasa ini, Achmad Irfandi mendapatkan apresiasi SATU Indonesia Astra Awards

Advertisement

Author: @nurulrahma

aku bukan bocah biasa. aku luar biasa

70 thoughts on “Terpikat Kampung Lali Gadget di Sidoarjo”

    1. Kampung Lali Gadget, namanya unik dan manfaatnya keren sih menurutku. Soalnya memang anak jaman skrg tuh banyak yg udah addict sama gadget dan itu punya dampak yang kurang baik juga ya mba

  1. Ya ampun lihat gambar di awal pargaraf dimana orang sedang bermain egrang jadi inget masa kecil dulu pas lomba egrang bulan agustus.

    Jadi pengen maen egrang lagi…

  2. MashaAllah inspiratif banget ini. Memang ya perkembangan teknologi ini “menggoda” banget. Manfaat banyak, godaannya juga banyak. Tapi mudah-mudahan dengan adanya Kampung Lali Gadget ini, anak-anak bisa sejenak menjauh dari gadget. Orang dewasa juga sebaiknya karena sejujurnya banyak kegiatan offline yang menarik untuk dilakukan ketimbang stuck dengan gadget.

    Semoga langkah Achmad Irfandi diikuti oleh organisasi atau personal lainnya ya. Bertumbuh tidak hanya di Sidoarjo tapi juga di belahan lain tanah air.

    1. Aamiin… sepakat, semoga muncul inisiator di daerah lain yang terinsipirasi dari keberadaan kampunglali gadget ini. Harapannya tak hanya anakanak sasarannya, tapi yang remaja, dewasa bahkan orang tua pun juga

  3. Permainan tradisional gobak sodor, egrang, kelereng, layangan mengingatkan jaman watu itu. Tentu saja era telah berubah ke digital. Kampung lali gadget inspirasi buat wisata edukasi anak dan keluarga.

  4. huhuhu namanya keren “kampung lali gadget”

    iya banget, tanpa gadget pun anak2 kita sudah melupakan permainan tradisional

    padahal manfaatnya banyak, mulai dari emlatih fisik hingga gotong royong

  5. Keren nih idenya, layak dapat penghargaan.
    Btw,
    Alhamdulillah ya masih ada yang peduli generasi muda disaat eranya serba digital ini.
    Salut

  6. Wah ternyata ada ya yang menggagas hal seperti ini, mengajak anak untuk sejenak melupakan gadget dan asyik bermain mainan tradisional. Mungkin akan menarik jika di daerah lain juga melakukan hal yang sama

  7. Ya Allah.. Kampung Lali Gadget ini mengingatkanku kalau anak-anak sedang fieldtrip.
    Dulu pernah ada temen bilang “Orang kota kalo berlibur bayar, ke desa, cuma buat main ke sawah. Sedangkan orang desa, menikmati hal-hal kaya gini (sawah, panen, dll) setiap hari.”

    Iya juga ya..
    Kalau dipikir-pikir, kita melakukan semuanya dengan membayar sejumlah uang. Alangkah baiknya menjadikan kebiasaan untuk berinteraksi dengan alam, lingkungan dan hal-hal yang jauh dari gadget.

  8. Keren ini mas Achmadnya mendirikan kampung lali gadget. Itu kayaknya yang buat mainan sendiri aka DIY dari bahan yang berasal dari alam seru banget kayak anak2 90 an

  9. Konsep yang sangat bagus. DI zaman sekarang, lho, tak hanya anak yang harus “lali gadget”. Orangtuanya juga. Dan ini bisa jadi tempat asyik bagi semua untuk kembali ke alam, kembali kreatif juga

      1. Konsep semacam ini harus banyak diadopsi di luar Sidoarjo. Kalau perlu dibuat paguyuban sekalian agar cepat menyebar di seluruh Indonesia

  10. Masyaallah keren euy programnya. Emang gadget tu ya bikin lupa segala apalagi anak2 klo udah kadung kecanduan berat bgt efeknya. Dengan adanya prohram kek gini insyaallah menyadarkan ortu klo ngasih gadget ke anak ti bukan solusi tp malah cari perkara. Harus banyak diikuti daerah lain

  11. Kampung Lali Gadget ini cocok banget buat mengalihkan perhatian anak2 dari gadget. Seru banget lho mainan yang ‘real’ ngga cuma di dunia maya. Banyak juga permainan tradisional yang bisa meningkatkan kognitif anak dan motorik juga.

  12. Kalau lingkungan anak-anak bisa seperti di Kampung Lali Gadget ini, seneng banget ya Mbak, anak bisa terhindar dari kecanduan gawai. Tapi kalau gak tiap hari di lingkungan itu, yah mungkin kembali lagi ke gawai.
    Btw mas Achmad ini inovatif dan berani, ya. Keren.

  13. Baru tau ada kampung dengan nama unik ini. Seru ya Mbak. Andaikan ada di mana-mana, anak-anak pun bisa lebih banyak pengetahuan mengeksplorasi aneka permainan tradisional. Salut dengan inisiatornya yang sudah langsung aktif ambil bagian mewujudkan kampung ini.

  14. Salut pada Ahmad Irfandi yang menginisiasi kampung lali gadget, berawal dari keprihatinan melihat kondisi sekitar yang terpapar pengaruh buruk gadget, lalu membuat gebrakan nyata.

  15. Keren kiprah Irfandi, anak muda yang inovatif dengan kepedulian pada anak. Yang kerennya lagi apa yang dilakukan nya bersama komunitas nya membawa dirinya mendapat anugerah tokoh Satu Indonesia dari Astra

  16. Alhamdulillah masih ada yang peduli dengan generasi zaman sekarang biar gak terlalu tergerus perkembangan zaman dengan adanya gadget ya mbak. beneran menginspirasi ini idenya

    1. Perkembangan jaman dan tekhnologi memang ga bisa dibendung ya mas..iya bener ini gadget hampir semua orang tua mengalami masalah ini dengan anak-anaknya. Bagi yg lahir di thn 80an,keinget begitu senengnya kita main kelereng,grobak sodor,betengan,karet,lempar gambar duh jadi nostalgia ini

  17. Permainan yang dimainkan di Kampung Lali Gadget ini mengingatkan zaman kita semua pas masih kecil ya..
    Rasanya bermain Gobak sodor, kelereng, layangan, telepon kaleng, ketapel, patil lele, engkle, egrang ini bisa semaleman. Biasanya dimainkan ketika mengaji di sore hari, di masjid dekat rumah.

  18. Udah kebayang serunya berkunjung ke Kampung Lali gadget di Sidoarjo ini. Saya termasuk emak yang memperkenalkan mainan masa kecil ke anaknya, tapi karena gak ada teman sebaya yg jg melakukannya, akhirnya tetap terkalahkan jg oleh gadget, hiks.
    Nah kalau ada kampungnya, anak-anak pasti asyik bermain tanpa gadget.
    Salut untuk pak Achmad Irfandi menjaga keberadaan permainan tradisional sekaligus menjaga anak2 dr efek negatif gadget.

  19. jadinya sociopreneur ya?
    Atau gerakan sosial?
    Di bandung ada komunitas Hong yang ngumpulin sekian banyak permainan tradisional
    sehingga anak2 bisa bermain, permainan tradisionalpun terlestarikan

  20. Keren bener sih sosok Achmad Irfandi ini, pantas aja dapat SATU Indonesia Awards. Semoga kelak, di daerah lain di Indonesia, pada bisa menerapkan konsep serupa. Kampung yang membiasakan anak-anaknya bermain mainan tradisional atau melakukan hal lain, selain bermain gawai.

  21. woalaah di wonoayu yaa ini.. memang bagus ini yaa mba, karena sangat bermanfaat dalam memaksimalkan potensi anak. biar nggak gadgetan mulu dan energi anak juga bisa lebih tersalurkan dengan baik tentunya

  22. iya mba gadget emang bikin separah itu kalau udah kecanduan. pada anak2 usia dini bahkan bisa bikin speech delay yang itu gawat banget tentu saja buat perkembangan anak.. juga gangguan fokus dan konsentrasi lainnya

    1. Setuju kak Nabila. Kita harus mulai membatasi penggunaan gadget. Pakai secara wajar, dan sebaiknya lebih penting berbaur di lingkungan sosial. Biar dikenal orang2 terdekat/masyarakat sekitar.

      1. Benar banget mas Wahid, jika para orangtua bisa menunjukkan bahwa hidupnya baik-baik saja tanpa gadget,
        anak-anak juga akan menirunya. Apalagi anak2 sekarang, dibilang main diluar rumah tanpa gadget, tapi kitanya gak pernah lepas dr gadget.

    1. Kampungnya udah dikenal dari dulu ya mbak? Wah, dari stasiun Sidoarjo aja masih amat jauh, apalagi bagi saya yang tinggal di Lombok. Hahahah. Dadada dulu deh, sambil berdoa biar ada rezeki main-main ke sana.

  23. Benar sekali ini, Mbak. Dan saya pun merasakan hal itu. Anak-anak kalau sudah pegang gadget, jadi kurang perhatian. Ditanya apa, jawabnya apa.
    Jadi keren sekali ada kampung lali gadget ini. Anak-anak kembali bermain, membaca, dan bersosialisasi.

  24. Seru banget kegiatan di Kampung Lali Gadget. Ketika pandemi dan anak-anak mesti PJJ, memang susah memisahkan mereka dari gadget. Alasannya belajar, ada PR, dsb. Bagus banget kalau bisa diimbangi dengan kegiatan no gadget begini.

  25. Kali ini aku terpana dengan foto-fotonya Nur. Foto yang berbicara banyak. Ada pesan yang ingin disampaikan lewat foto tersebut. Tentang bagaimana asik dan gembiranya anak-anak bermain tanpa gadget. Kualitas fotonya juga apik bener. Bener-bener sekualitas photographer profesional

  26. Sebagai generasi 80an saya merasa rindu sama permainan tradisional yang dulu selalu ada di kampung. Satu kampung pada kenal karena tiap hari ketemu untuk main.
    Smogaaa kampung2 begini buka banyak cabang di tiap kota. Atau kalau ada modal, saya deh yang bikin, hehee
    Karena gemees dengan anak-anak sekarng yang tingkat empati dan sopan santunnya udah jauh bergeser dari generasi sebelumnya. Semua sepakat, sejak kenal gadget… hhuhuhuu

  27. Wah menarik banget konsep kampungnya nih
    Salut sama mas Achmad Irfandi yang mendedikasikan dirinya untuk membangun Kampung lali gadget ini
    Jadi pengen berkunjung langsung ke sana deh dan ikut main bareng anak-anak di sana

  28. Nama kampungnya keren: Lali Gadget
    Lali = bahasa Jawa
    Aihhh keren dah programnya
    Semoga kelak, enggak hanya di Sidoarjo, tp juga di mana-mana

  29. Kereeeeeeeeeen. Masyaallah. Pas aku tinggal di Surabaya, harusnya aku main ke sini. Kok lali yo? Wkwkwkwk.

    Aku baru tahu mba ini dari tulisanmu. KEren banget Mas Achmad Irfandi ini. Magister loh dia, tapi dia rela bali ke kampung membangun desanya. Memang pantas beliau mendapat apresiasi SATU Indonesia Astra Awards.

  30. Alhamdulillah, masih ada yang peduli dengan pendidikan anak-anak, sampai bikin kampung lali gadget demi bisa mendidik anak memiliki karakter-karakter positif. Inspiratif banget nih pak Irfandi. Jadi pengen bikin juga. Mulai dari mana ya enaknya? ada ide ndak mbak Nurul?

  31. Kak Nurul, kalau main ke Kampung Lali Gadget ini berbayarkah?
    Rasanya seru banget melihat anak-anak kembali berinteraksi dengan alam, dengan teman-temannya. Karena i know kalo Sekolah Alam lumayan, hehhe..
    Seneng masih ada alam tempat anak bermain dan explore.

  32. Masya Allah .. keren Mas Achmad Irfandi. Memang perlu ada terobosan semacam kampung Lali Gadget di setiap wilayah ya agar anak2 Indonesia lebih menikmati dunia kanak2 yang sesungguhnya.

  33. Wah, kok kreatif bgt nih mas Ahmad.Semoga programnya utk mengembalikan anak2 bermain dan berinteraksi diluar rumah dgn permainan tradisional sukses utk membuat mereka lali gadget dan dicontoh kampung2 lainnya terutama org2 kota.

  34. Seru banget aktivitas di kampug lali gadget ini, anak-anak seolah dikembalikan pada aktivitas sesungguhnya, bermain dan bergembira tanpa harus tergantung pada gadget…ini yang sangat mendorong mereka menumbuhkan kebersamaan antar teman sebayanya.

  35. Wah keren banget nih Mba, jarang ada yang mengaplikasikan kepeduliannya dengan menciptakan inovasi program sangat bermanfaat seperti ini. Semoga lahir program seperti ini di berbagai tempat ya…

  36. Wah keren banget ya kak di Sidoarjo ini ada Kampung lali gadget. Padahal di saat sekarang ini, 5 menit nggak lihat gadget saja rasanya ketinggalan info rumpian di wag hehehe

  37. Iya nih mbak zaman sekarang rasa2nya org gak bisa lepas dari gadget. Anak usia dini pun dari lahir udah kenal gadget. Mereka jadi bisa belajar apapun tapi sayangnya hal2 negatif juga ikutan terserap kalau ortunya gak pnter2 membatasi. Keren banet nih ada kampung gini, sampai memperoleh apresiasi dari Asra ya. Jadi pengen tahu banyak dan berkunjung ke kampung ini deh.

  38. kalau saja tiap daerah ada kampung khususnya kayak gini ya, anak-anak bisa sesekali diajak kesana buat menikmati hidup lali gadget, biar mereka bisa tahu dan merasakan betapa indahnya permainan jaman dahulu kala 😀

  39. Auto ingat masa kecil dulu yang bebas gawai. Beda banget ya dengan masa anak kecil zaman sekarang yang udah nggak bisa jauh-jauh dari gadget. Tapi salut nih dengan langkah nyata yang dilakukan Irfandi, mendirikan kampung Lali Gadget. Jadi penasaran dan pengen ke sana biar bisa sekaligus nostalgia dengan permainana era 90-an ^^

  40. Keren banget konsepnya
    Pasti seru dan asyik main di sini
    Anak-anak juga sehat karena lebih aktif bergerak

    1. Gadget atau teknologi emang ibarat pisau bermata dua. Bisa bahaya jika tidak dikontrol dengan baik terutama bagi anak-anak kita. Keren sih mas Irfandi. Bisa menginisiasi kampung lali gadget.

  41. Ini kalo Deket aku udh masukin anak2 kesana juga mbaa. Baguuus konsepnya. Krn sebetulnya aku pun pengen anak2 ga terlalu addict Ama gadget. Mereka aku batasi pegang gadget hanya weekend, tapi di luar itu pengin juga ngajarin anak2 ttg permainan yg dulu sering kita mainin, tanpa perlu pakai gawai. Cuma ya itu, terkadang aku sendiri juga lupa caranya, atau tempatnya ga memungkinkan.

    Ini kalo main kesana, berbayar kah? Sbnrnya ga masalah juga kalo berbayar, toh para pengurusnya pasti perlu modal untuk melestarikan permainan2 yg bisa dimainkan bareng anak2 yg kesana.

  42. Jadi inget masa kecil, tiap sore main benteng2 an, masak-masakan, petak umpet.
    Ada benarnya ortu bisa yg bikin anak gadgetan krn d rumah minim kegiatan, di luar rumah, teman2nya main gadget

  43. Perkembangan teknologi memang seperti dua sisi mata uang ya. Kalau gak pinter-pinter menyikapi malah jadi kecanduan gadget dan berefk negatif. Bersyukur banget ada orang-orang seperti Achmad Irfandi yang bergerak secara nyata “menyelamatkan” anak-anak dari kecanduan gadget

  44. Dari namanya saja sudah bikin penasaran ternyata benar-benar bisa sampai lupa gawai kalau berkunjung ke desa ini. Kalau dekat pengen ajak anak deh buat coba main enggrang sambil belajar menyelami budaya leluhur dari pihak ayahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: