Siang Dipendam, Malam Balas Dendam

images
Baliho Iklan pagi (kiri) piring kosong melompong Baliho Iklan malam (kanan) piring dengan aneka makanan yang mak nyussss Sumber foto: http://sibocan.blogspot.com/2013/07/siang-dipendam-malam-balas-dendam-kata.html

Masih ingat iklan “Siang Dipendam, Malam Balas Dendam, Tanya Kenapa?”

Iklan ini out of the box banget. Kalau di pagi hari, tampilan balihonya adalah piring-mangkok yang kosong melompong. Trus, ketika malam mulai menjelang, alat-alat makan tadi langsung BERUBAH! Yang tadinya zonk, jadi berisi aneka penganan yang menggugah selera.

Well, suka enggak suka, beginilah “penyakit” yang kerap menyergap kita di bulan Ramadhan. Ketika puasa, bener-bener deh, itu nafsu dipendam habis-habisan. Ketika adzan Maghrib berkumandang? Dooooh, kayaknya semua isi dunia mau dijejel-jejelin ke dalam perut! Hahaha.

No wonder, banyak orang yang justru makin menggenduuuut abis puasa Ramadhan. Nggak usah jauh-jauh deh, contoh manusianya. **ambil kaca, lihat bayangan di cermin** *elus-elus perut*

Yep. Duluuuu, saya memang masuk dalam barisan ‘siang dipendam, malam balas dendam’ ntuh. Maklum lah. Gejolak kaum muda *tsah* Rasanya, ada euforia tersendiri, manakala bisa menghabiskan kolak, es sirup, nasi padang, semur daging, urap-urap, dan segala macam ragam hidangan yang terserak di atas meja makan.

Seiring bertambahnya usia, pola pikir harus diubah dong ya. Masak iya, bodi jadi makin menggelambir dan mirip karung beras sih? Errrr, emangnya itu bodi mau dizakat fitrahin? 😛

Walhasil, saya coba menggali dan meresapi sepenuh hati, kenapa ya, kok bodi bertransformasi jadi sak hohah setelah puasa Ramadhan?

  1. Tidur setelah Sahur

Habis sahur, enaknya? Tidur…! Hehehe. Yang setuju sama saya ngacung dong. Hihi. Ini habit yang syusyaaaah banget dienyahkan dari muka bumi. Abis sahur, lanjut sholat subuh, mata ini rasanya pediiiih banget. Entahlah…sulit buat diajak melek. Kasur juga melambai-lambai minta segera disamperin. Konspirasi jahat para penghuni semesta. 😦

Padahaaaal, sistem pencernaan kita nih jadi sulit bekerja kalau kita langsung bobok cantik, ganteng maupun jelek, setelah makan. Ini nih, yang bikin asam lambung meningkat sehingga terjadilah gangguan asam lambung. Kalau tidur abis sahur, pas bangun-bangun rasanya gimana? Jadi malessss banget gitu kan? Yoi, mood jadi hengkang, entah kemana. Dan, yang paling ngeri nih, tidur abis sahur (makan) bikin perut kita maju tak gentar! Hiks.

  1. Ogah Berolahraga

Puasa-puasa kok olahraga? Kan ntar haus? Laper? Batal dong, puasanya. Santai bro. Yang kudu kita lakukan adalah olahraga ringan di jam-jam tertentu. Misal, beberapa jam menjelang buka puasa. Kan bisa tuh, lari-lari santai keliling kompleks. Itung-itung sembari ngabuburit. Olahraga saat sore juga bertujuan agar kita tidak terpapar sinar matahari secara langsung.

Senam enteng2 ajah, jelang buka puasa
Senam enteng2 ajah, jelang buka puasa

  1. Kebiasaan Buka Puasa yang Lebay Akut

Buanyaaaak kebiasaan yang entah darimana asal muasalnya, dan terus kita lestarikan sampai detik ini. Kebiasaan beli baju pas Lebaran nooh, sampe sekarang masih misterius kan, siapa yang pertama mulai? Gitu juga dengan tradisi kebanyakan masyarakat Indonesia yang suka lebay manakala nyiapin buka puasa.

Yakaliii, mau buka puasa macem gini
Yakaliii, mau buka puasa macem gini

Coba deh, di hari-hari non-Ramadhan, emangnya kita rutin makan kolak pisang dengan santan yang demikian kental? Menggelontor kerongkongan dengan aneka es, entah es sirup, es oyen, es blablabla lainnya? Yang sarat dengan kandungan gula, plus zat-zat kimiawi entahlah, yang bakal menyisakan residu plus penyakit di sekujur bodi?

Nnaaah, ini yang kudu direvisi. Buka puasa itu secukupnya saja. Lambung kita justru akan shock, kaget dan terjengkang *widih* manakala kita “menyiksa”-nya dengan gerojogan material penganan dan minuman yang lebay surelebay.

  1. Buka Bersama yang Sarat Lemak

Haduuh, ini lagi! Ajang bukber alias buka bersama. Modusnya sih silaturahim, dll. Padahal, acara ini rentan bikin angka kolesterol kita meningkat tajam! Ya kan? La wong buka bersama mesti di tempat-tempat yang elit bin prestisius. Yang dipesan makanan-makanan ala #horangkayah. Pantesan jarum timbangan terus menerus bergerak konstan ke kanan.

  1. Makan Lagi abis Tarawih….

….dilanjut Tidur. Hahahha. Emang sih, abis tarawih suka laper kan? Karena itu kita tergoda buat makan berat lagi. Lah kok abis makan, mendadak ngantuk yak? Ngorok, deh. Penjelasannya balik lagi ke nomor 1. Sama kayak habit habis sahur, lanjut tidur.

Trus, trus, gimana dong kakaak?

Kita simak dulu penjelasan Dr Ir Annis Catur Adi Msi. Doi adalah Ketua Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Gini. Kata doi nih, kalau setelah puasa, berat badan naik 5-10 persen, ya wajar saja. Apalagi kalau terjadi pada orang yang berat badannya normal. Penyebabnya kayak uraian saya di atas tadi. Nafsu makan enggak terkontrol. Intinya, siang dipendam, malam balas dendam deh.

Biar enggak galau, apakah BB (Berat Badan) kita jadi obesitas atau masih taraf normal, silakan cek dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (IMT)

rumus-menghitung-massa-tubuh-imt

Jika hasilnya adalah 18-25, berarti berat badan kita normal.

Nilai 25,1-27 menandakan bahwa berat badan kita berlebihan

Kalau angka lebih dari 27 berarti kita obesitas.

***

Solusinya?

Oke. Setelah mengupas penyebab, sekarang kita masuk ke bagian, “Bagaimana Mengatasi Ini Semua?”

Semua itu, intinya ada di pola konsumsi kita.

Ayo kita atur konsumsi air, sayur dan buah untuk meredakan sekaligus melawan kegemukan.

Did you know, guys…. Bahwa air itu berpotensi menjadi katalis, yang penting untuk menurunkan berat badan. Selain itu, air bisa mengendalikan nafsu makan. Karena volume air dalam lambung bisa membikin kenyang. Eh, harus digarisbawahi yaaa… Air ini, adalah air mineral. Bukan air kopi, air teh, soft drink dan air-air bergula lainnya. Malah jadi bengkak deh tuh bodi 🙂

Air itu komponen utama dalam tubuh manusia. Iya lo, komponen UTAMA yang berperan sangat penting!

Pada pria dewasa, 55% sampai 60% berat tubuh adalah air, dan 50 – 60% pada perempuan dewasa 50% sampai 60%. Kita semua tentu udah paham dong yaa…. Tanpa air, nggak mungkin ada proses tumbuh dan berkembang pada makhluk hidup manapun! Reaksi kimia dalam tubuh juga nggak bisa berlangsung, jika tidak ada air.

Sayangnya niih, ternyata belum banyak yang bersahabat akrab dengan air. The Indonesian Hydration Regional Study (THIRST) pernah bikin riset nih. Ada 46,1% subyek yang diteliti mengalami kurang air atau hipovolemia (kondisi kekurangan cairan) ringan. Meh! Daaaan, fakta ini lebih tinggi pada remaja (49,5%) dibandingkan pada orang dewasa (42,5%). Doh doh doooh.

THIRST juga mengungkap bahwa prevalensi hipovolemia ringan pada daerah dataran rendah yang panas lebih tinggi dibandingkan dengan di dataran tinggi yang sejuk.

Ironisnya, 6 dari setiap 10 subjek yang diteliti (sekitar 60%) tidak mengetahui bahwa diperlukan minum lebih banyak bagi ibu hamil, bagi ibu menyusui, bagi orang yang berkeringat dan bagi orang yang berada dalam lingkungan atau ruang dingin.

Hanya sekitar separuh dari subjek orang dewasa dan remaja yang mengetahui kebutuhan air minum sekitar 2 Liter sehari. Waduhh waduuuh *tepokjidat*

Kagak mau kan mengalami aneka macam penyakit akibat kurang cairan? Yo wis. Berarti, meskipun lagi puasa, kita kudu banget memenuhi kebutuhan tubuh kita akan air. Jumlah air minum yang dibutuhkan tubuh memang bergantung pada ukuran tubuh, tahap pertumbuhan (usia), jenis kegiatan, dan suhu lingkungan.

Khusus untuk kaum remaja-dewasa dengan aktivitas sedang, kita butuh 7-8 gelas air sehari. Piye tuh, ngaturnya? Ikutan saran Mas Ferdy Hasan aja dong deh ya.

aqua 2421

Yeppp, 2-4-2! #AdaAQUA 

Minumlah 2 gelas saat berbuka (setelah Adzan berkumandang). Lalu 4 gelas di malam hari, dan 2 gelas di kala sahur.

Saya ulangi lagi yaaa… Supaya memenuhi kebutuhan tubuh akan air, maka kita kudu meminum: 2 gelas air sesudah berbuka, 4 gelas air saat makan malam hingga menjelang tidur, dan 2 gelas air minel pada saat sahur

Tunggu, tungguuu…!

Yang 4 gelas ketika malam itu, gimana pengaturannya?

Gini. Bisa 1 gelas ketika (sebelum) makan malam… lalu 2 gelas setelah makan malam, 1 gelas menjelang tidur. Atau, formasinya dibolak-balik juga boleh.

IMG_20150619_053343
Om… Tanteee… Mas…. Mbaaak… Jangan lupa… 2-4-2! ^^salam dari duo kece, sidqi dan faiz^^

Jangan lupa, sebelum tidur, kita kudu minum AQUA deh. Kenapa? Kan ntar bakal kebelet pipis. Jadi, bisa bangun jam 3 pagi buat sahur! Hahaha :)))

Puasa yang baik dan benar akan membuat fisik dan jiwa kita menjadi sehat. Tentu, kalau dilakukan dengan metode yang tepat. Enggak ngawur. Karena, kalau prinsip “Siang Dipendam, Malam Balas Dendam” masih kita usung, ya itu artinya puasa kita belum sempurna.

Ini nih, manfaat puasa  Dibaca seksama ya manteman  Sumber: alamnoor.com
Ini nih, manfaat puasa
Dibaca seksama ya manteman
Sumber: alamnoor.com

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Semoga kita masuk golongan yang BERHASIL di bulan Ramadhan ini. Berhasil mengalahkan hawa nafsu. Berhasil menambah derajat iman dan taqwa. Berhasil untuk menjadi diri yang jauuuuh lebih baik, dari hari ke hari.

Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya di dalam Surga itu terdapat pintu yang dinamakan Ar-Rayyan. Orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada Hari Kiamat kelak. Tidak boleh masuk seorangpun kecuali mereka. Kelak akan ada pengumuman: Di manakah orang yang berpuasa? Mereka lalu berduyun-duyun masuk melalui pintu tersebut. Setelah orang yang terakhir dari mereka telah masuk, pintu tadi ditutup kembali. Tiada lagi orang lain yang akan memasukinya” [Bukhari-Muslim]

InsyaAllah, bersama-sama kita bisa masuk surga, melalui pintu Ar-Rayyan, dengan amal puasa yang kita lakukan. Ada “AMIN” Saudara-saudara?

Sumber penulisan: 

LEMBAR FAKTA – PUASA SEHAT BERSAMA AQUA 2+4+2

http://sibocan.blogspot.com/2013/07/siang-dipendam-malam-balas-dendam-kata.html

https://duniatehnikku.wordpress.com/2011/08/21/22-hadits-tentang-kemuliaan-bulan-ramadhan/

alamnoor.com

Jawa Pos, edisi Sabtu, 11 Juli 2015

https://tips.123sehat.com/kesehatan/ibu-hamil-kandungan/persiapan-kehamilan-asupan-gizi-sebelum-kehamilan/