Antara Bolpen, Konjen Amerika dan Ancaman Pembunuhan

Waduh, judulnyaaa….!! Panjang amiiir…!! Udah kayak koran Lampu Merah Kuning Ijo belum? 😛 Huhehehe.

Pagi ini saya menemukan sebuah cerpen yang #HakDesshhh banget. Diramu dengan begitu indah oleh fiksioner favorit aku. Yapp, mak Orin a.k.a Rinrin Indrianie a.k.a Agus Noor ‘syariah’ 🙂 Si jagoan fiksi yang sukses menampilkan karakter-karakter cihuy, sensasi thriller, plus ending yang unpredictable. Dooooh, pengin uyel-uyel mak Orin deeeh 🙂

Sampe mana tadi?

O iya. Yang mau baca fiksi mak Orin, silakan cuss ke sini ya: http://emak2blogger.web.id/2015/07/09/cerpen-lebaran-sebentar-lagi/#comment-34305

Baca fiksi itu, saya jadi inget pengalaman pas ngelamar sebagai apa yaaa… lupa deh, job tittle persisnya. Yang jelas, duluuuu, tahun 2007-an kali ya (aduh! Kok saya pelupa berat gini sih? #AdaAQUA? #atauGinkgoBiloba?) saya pernah apply kerjaan sebagai staf di Konjen (Konsulat Jenderal) Amerika Serikat.

Tesnya ada beberapa tahap. Yang pertama, tes tulis. Namapun tes tulis yak, sudah pasti saya bawa ALAT TULIS dong. Ada bolpen, pensil, dkk. Plus, waktu itu saya juga bawa novel (dan pembatas buku si novel itu) yang saya taruh di dalam tas.

Apakah judul novelnya? Lupa 🙂 ((ini kenapa sih, dari tadi ngebahas lupa-lupa melulu??? Grrrhhh!))

Bagian ini nih, yang mau saya ceritain.

Jadi, sebelum masuk ke areal Konjen Amrik (waktu itu, masih berlokasi di jalan Dr Soetomo Surabaya) saya harus melewati pemeriksaan sebagaimana mau masuk ke airport. Dicek sekujur bodi gitu. Barang bawaan kita juga dimasukkan ke alat security.

“Mbak, ini bolpen, pensil dan pembatas bukunya saya amankan sebentar ya,” kata mbak security yang meriksa saya.

“Loh, kenapa?”

“Iya. Ini kan ujungnya tajam, jadi harus kami amankan sementara.”

“Saya butuh alat tulis untuk tes tulis nanti kan?”

“Sudah disiapkan oleh teman-teman di dalam. Silakan masuk ke ruangan, bersama Mas Ari yaaa…”

Ouchhh…!! Waktu itu, saya yang ngerasa….Dddaaaaangg…!! Paranoid banget sih, jadi orang!  Etapiii, si mbak security ini kan hanya menjalankan sistem yak. Jadi, ya, emang paranoid banget sih, sistem si Ameriki ini! Huh.

Ya karena saya lagi posisi mau ngelamar kerjaan, yo wis, harus menampakkan wajah ramah dan senyum merekah. Walo sebenarnya hati lagi dongkol merongkol

Setelah tes usai, saya masih nggak habis pikir. Segitunya yaaa, mereka “takut” kalo-kalo bolpen dan bolo-bolonya itu saya gunakan sebagai alat untuk melakukan aksi penyerangan. Rasa penasaran saya terjawab, manakala ngelihat film RED EYE di Trans TV. Ini film udah lumayan jadul, dibintangi si imut, yang punya senyum “maut” Rachel McAdams.

RED EYE, film yang menjawab penasaran akan bolpen sebagai sarana penyerangan

RED EYE, film yang menjawab penasaran akan bolpen sebagai sarana penyerangan

Inti ceritanya, si Rachel (manajer di sebuah hotel) naik pesawat yang last flight gitu deh, makanya dikasih istilah “Red Eye”. Karena cuaca buruk dll, pesawat delay, para penumpang keleleran, wis pokoke secara psikologis semua serba muram. Ndilalah, Rachel ketemu ama cowok yang (sekilas) tampak demikian simpatik, baik, trus mereka ketemu di cafe, ehh, ternyata di pesawat duduk sebelahan. Sounds too good to be true dah.

Nah, ternyata yang tampak terlalu baik, biasanya malah enggak baik sama sekali. Itu yang terjadi pada cowok ini. Rupanya, dia semacam pembunuh bayaran yang bakal menghabisi nyawa klien VVIP-nya Rachel. Walhasil, selama di pesawat, Rachel diintimidasi oleh tokoh yang diperanin Gillian Murphy. Teroris abis dah pokoknya.

Hingga akhirnya, tatkala pesawat nyaris landing, Rachel memakai ujung bolpen untuk menusuk lehernya si Murphy. Croooot…!! Darah pun muncrat dari leher si teroris ntuh.

Naaaah, sampai di sini, saya baru paham. Hoalaaaah. Ternyata gitu ya? Bolpen, sekilas cuma benda ringkih yang gitu-gitu aja….Ternyata, bisa banget, jadi alat untuk menyerang. Sekaligus survivor tools seperti yang dilakukan Rachel di film RED EYE.

Moral of the story adalah…. Hati-hati kalau anak kita mulai main bolpen dll. Kudu waspada! Sebagaimana security girl yang waspada banget dan langsung mengamankan bolpen saya… Begitu pula yang kudu kita lakukan dengan anak-anak di rumah. Tahu sendiri kan, film-film zaman sekarang itu, duuuuh, mengajarkan agresivitas banget. Beberapa kali, saya kecolongan mengizinkan Sidqi nonton film di TV. Lah kok, adegannya duh-duh-duuuuh….

Sekian cerita hari ini. Ehhh, minggu depan insyaAllah udah Lebaran. pada mau mudik kemana?