[Fiction] BIMBANG (part 6)

Edisi Sebelumnya: Momen akad nikah Salma dan Raditya kian dekat. Hari-hari Salma diisi dengan kesibukan menyipkan aneka persiapan jelang ikrar suci. Memilih gaun pengantin, berkoordinasi dengan pihak wedding organizer, pesan gedung, catering, dan sebagainya. Termasuk mengirimkan undangan. Pertanyaannya, apakah Arya masuk daftar tamu dalam tasyakuran (resepsi) pernikahan ini?

Cerita #BIMBANG sebelumnya bisa dibaca di:

Part 1: https://bukanbocahbiasa.com/2014/09/05/fiction-bimbang-1/

Part 2: https://bukanbocahbiasa.com/2014/09/15/fiction-bimbang-part-2/

Part 3 https://bukanbocahbiasa.com/2014/10/07/fiction-bimbang-part-3/

Part 4: https://bukanbocahbiasa.com/2014/12/08/fiction-bimbang-part-4/

Part 5 : https://bukanbocahbiasa.com/2015/01/17/bimbang-part-5/

“Emang, Arya sekarang lagi dimana?”

Ibu bertanya pelan. Nada suaranya amat lunak. Seolah-olah, Ibu tak lagi menganggap Arya adalah ‘duri’ yang harus dienyahkan sesegera mungkin dari lubuk hati putri kesayangannya. Entahlah. Terkadang, semakin kuat kita berupaya mengeliminir nama seseorang, maka semakin deraslah memori-memori yang berlompatan, tanpa mengenal jeda.

“Arya… sepertinya lagi di Eropa, Ibu. Dia ada urusan kantor. Sama, kalo nggak salah, mau ngurus beasiswa.”

Ibu berdecak kagum. ”Itu anak, emang luar biasa ya? Semangat duniawinya menakjubkan.”

Apa ini perasaanku saja, tapi aku menangkap nada ‘nyinyir’ dalam kata ‘duniawi’. Seolah-olah ibu menganggap, apapun yang dilakukan Arya selalu berorientasi duniawi. Padahal? Hati orang, siapa yang tahu?

Aku tersenyum sambil menggigit bibir. Ciri khasku, ketika tengah kalut, itu yang dibilang Arya suatu ketika. Tanganku menggenggam satu undangan dengan begitu kuat. Rencananya, surat ini mau aku scan, lalu aku email ke dia. Tapi, pertanyaannya, apa iya Arya harus masuk daftar tamu?

***

Assalamualaikum, Arya. Apa kabar? Masih di Eropa ya? Kapan balik ke Indonesia? Nggh, gini. Aku mau undang kamu. Ke acara kawinanku. Datang ya. Ini undangannya aku lampirkan. Thanks.

Kirim… enggak… kirim… enggak. Duh. Susah amat jadi manusia dewasa? Ngirim undangan aja maju-mundur. Aah, bodo amat deh.

Tapii, kenapa surat ini begitu datar dan straight to the point? Tidakkah ini terlalu ‘kasar’? Oke, oke. Aku edit bentar deh.

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Buat Arya, saudara seiman yang dirahmati Allah.

Apa kabar, Arya? Semoga Allah senantiasa memberikan limpahan rizki dan keberkahan untuk engkau. Seorang mukmin yang begitu giat mencari ilmu maka malaikat mengepakkan sayap pertanda ridho kepadanya. Sungguh, aku salut akan semangat, kerja keras dan cerdas yang engkau lakukan. Agama ini butuh sosok seperti dirimu, Arya. Semoga Islam makin jaya dengan hadirnya generasi emas, yang siap menunjukkan pada dunia, bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Seperti yang sempat saya singgung, insyaAllah saya sudah bertemu sosok yang menjadi imam kehidupan. Namanya, Raditya. Ia laki-laki baik dan bertanggungjawab. Kami sudah melalui proses ta’aruf yang insyaAllah cukup memantapkan hati. Maka, dengan ini, saya sebagai saudara seiman, mengundang engkau untuk datang ke tasyakuran pernikahan kami. Semoga, pada hari akad nikah, engkau sudah berada di Indonesia.

Terima kasih sudah menjadi teman terbaik bagi saya. Di lubuk hati yang terdalam, saya yakin, Allah selalu mempersaudarakan kita semua, di dunia hingga di akherat kelak.

Wassalam,

Salma.

Tombol send… mana tombol send…. wait! Kenapa emailnya melankolis gini? Duh. Ini apa-apaan? Pakai bawa Islam rahmatan lil ‘alamin? Arya kaaan, alumnus Oxford? Mana peduli dia dengan Islam-Islaman macam gini? Apalagi, Ibu juga bilang, Arya sangat duniawi-oriented banget.

No… noo…. ntar dia GR lagi, dapat email ginian. Dikiranya aku masih ngarep. Gak bisa move on. Idih, no way!

Baiklah. Aku tulis surat yang lebih simple aja lah.

Assalamualaikum.

Hai, Arya. Gimana kabar? Makin membahana aja yak, karir dan kuliah kamu. Siiip, siip. Really proud of you, bro J Eh, btw, aku mau merit loh. Dateng yak. Udah, dateng ajaaa. Ini undangannya aku attach. Awas lo, kalo kagak dateng. Hehehe

Wassalam

Message Sent

***

“Salma. Punya akun skype kan? Skype-an sebentar yuk. Ada yang mau aku obrolin. Gak lama kok. 10 menitan.”

Yaaaaaa… dia ngajak skype. Aku kudu piyee? Oke, Salma. Tarik napas. Inhale…. exhale… inhale… exhale… Bismillah. Sekaliii ini aja. Sebelum aku jadi istri orang.

“Assalamualaikum, Arya.”

Nada suara aku bikin nyantai, rileks, dan sok girang. Padahaal…

“Waalaikumsalam. Kamu tahu nggak, aku lagi dimana?”

Kuamati background tempat Arya ber-skype. Ada bangunan mblenduk di belakangnya. Bertuliskan “Allianz”

“Masya Allah…. Kamuuu… Kamuuuu… di Allianz Arena! Bayern Muenchen! Ya ampuuun…!” Refleks aku membelalakkan mata. Ini kaaan, mimpi aku dari duluuu…!

“Hehehe… Guten Morgen, Ich bin in der Munchen.”

“Hiiihhh, Arya jahaaat…!”

“Hahahhaa…!”

Aku tahu, dia pasti sengaja melakukan hal ini. Sengaja bikin aku sakit hati, dengan sok narsis bin eksis di depan stadion ini. Dia tahu banget kalau aku ngefans sama gaya permainan tim panser Jerman. Sudah dari duluuu banget, Jerman masuk wish list untuk destinasi traveling. Sampai detik ini, impian itu tak kunjung tercapai. Dan, Arya?? Huh, nggak sopan banget dia!

“Kamu sengaja pamer kan? Bikin aku sakit hati banget tau gak. Huh! Alesan pake ngajak skype-an segala.”

“Hahaha…. Sabar, Salma. Calon pengantin harus sabar dong. Nggak boleh sering cemberut, apalagi marah-marah. Ntar tamunya pada ngibrit lo. ”

Mak klakep. Selalu begitu. Arya selalu punya jurus jitu untuk membuat nyap-nyapku berhenti seketika. Dia juga selalu pegang kendali untuk mengarahkan ke mana obrolan kami bermuara.

”Nggh, kamu udah baca email yang aku kirim kan? Gimana, bisa dateng nggak?”

“InsyaAllah. InsyaAllah, aku datang…pas banget, tanggal segitu aku insyaAllah udah ada di Surabaya. Ada acara sama salah satu non government organization di sana.”

Sejak kapan Arya jadi sedemikian religius? Dalam satu tarikan nafas, ia menyebut kata ‘insyaAllah’ sebanyak tiga kali. I know him very well. Nggak biasanya, dia begitu royal menebar kosakata Islam.

“Oh, Alhamdulillah kalau gitu. Kirain kamu terlalu sibuk, ngurus kerjaan sama MAIN SEPAKBOLA di ALLIANZ ARENA.”

“Hahahha… udah dooong sewotnya. Banyak yang bilang, sebelum nikah, manten itu ngadepin banyak ujian. Rentan bikin stres. Jangan sampai kayak gitu ya. Pokoknya kamu harus ikhlas menikah, karena Allah. Tunjukkan kalau keputusanmu untuk melangkahkan kaki ke jenjang pernikahan, karena kamu taat akan perintah Allah dan tuntunan dari Rasul.”

“O my! Ini beneran Arya yang ngomong? Kok kamu jadi kayak Aa’ Gym kw super gini?”

“Salma… Kamu kenapa sih? Beneran terserang pre-marital syndrome nih kayaknya, hehehe…”

“Ini kayak bukan Arya banget. This is sooo not you.”

People do change, Salma. Rugi amat kalau sampe detik ini aku begini-begini aja. Terus mengejar pada dunia yang bagaikan minum air di lautan. Semakin diminum, rasanya semakin haus kan?”

“Nggh, maksud kamu?”

Arya berganti posisi. Ia berdehem sejenak, lalu menghembuskan napas perlahan. Tampak, balon uap ala-ala semburan napas orang-orang di Eropa.

“Begini. Sejak kuliah di Oxford, aku gabung di semacam lembaga kajian keislaman lokal. Ada ustadz yang menyemangati aku untuk terus aktif di forum ini. Apalagi, tahu sendiri kan, beberapa masyarakat masih punya stereotip buruk terhadap Islam. Beberapa, bukan semua. Nah, kami-kami yang masih muda ini ditugasi untuk membimbing mualaf, lalu charity ke panti jompo ke tempat orang-orang nggak mampu. Semacam itu. Dan, aku makin bangga jadi orang Islam…”

Oh. Apa karena itu, kamu sama sekali nggak mengontak aku, selama tinggal di Inggris?

“Nah, masalah jodoh dan sebagainya juga kerap dibahas di kajian. Tadinya aku juga sempat protes, kenapa kok aku tak bisa berjodoh dengan perempuan yang aku mau? Lalu aku mencoba menenangkan diri. Bahwa, tidak semua hal yang menurut kita baik, adalah hal yang juga baik di mata Allah. Kita tidak pernah tahu, bagaimana rahasia yang sedang dipersiapkan Allah untuk kita. Karena itu, aku belajar untuk ikhlas. Dan mendoakan saudara seimanku yang sedang berusaha menyempurnakan separuh agamanya…”

Buru-buru kupencet tombol sign out. Lalu kukirim pesan pada Arya, lewat emailnya. “Maaf, lagi fakir bandwith. Gak bisa skype-an lagi. Makasih ya. Salam buat Joachim Low.”

Aku mengetik sembari menahan derasnya air mata, yang tak bisa kubendung. Plus, perihnya hati yang demikian mengiris.

***

“Salmaaaa…” suara cempreng terdengar lagi. Itu kan, suara Tante Brin? Loh, dia udah balik dari Pekalongan? Sama Raditya juga? Dan, siapa itu? Seorang perempuan berwajah teduh, yang selalu menundukkan pandangan.

“Eh, tante… Masuk, masuuuk… Engggh, monggo, silakan masuk, tante…” aku berkata pada di perempuan berwajah teduh itu.

“Ini ibundanya Raditya. Ada yang ingin kita bicarakan. Penting. Pake bingits. Ibu kamu mana?”

“Ada. Bentar ya, aku panggil bentar. Monggo, monggo…”

Aneh. Ada sesuatu yang aneh. Wajah Radit begitu tegang. Sementara ibundanya tampak begitu layu. Entahlah, ada apa sebenarnya? (b e r s a m b u n g)

PS: Apabila Anda ingin membaca #BIMBANG edisi sebelumnya, silakan klik: https://bukanbocahbiasa.com/category/fiction/

[Fiction] BIMBANG (part 5)

Cerita Remaja

BIMBANG (part 5)

Ini adalah cerita remaja bersambung. Anda bisa mengikuti part 1,2,3,4 di sini 

Edisi Sebelumnya: Semakin hari, Salma kian mendapatkan beragam ‘clue’ bahwa Raditya adalah jodoh terbaik untuknya. Ayah-ibunda pro-Raditya. Begitu pula dengan beberapa famili Salma. Bahkan, para om dan tante mendesak Salma agar akad nikahnya dimajukan. Kemudian, datanglah Tante Sabrina—salah satu tante ‘gaul’ yang amat akrab dengan Salma—yang juga turut mendukung nama Raditya.

“Salmaaa…. Salmaaaa…. ups. Lagi ‘girls talk’ sama Tante Sabrina ya? Ya udah. Sekalian aja ya, kita bahas di sini. Ini lho, nduk, ibu udah cariin wedding organizer untuk kamu. Gedungnya insya Allah di Hall An-Nuur. Trus, kateringnya juga udah ibu cariin. Sekarang, kamu pilih, mau pakai gaun pengantin yang mana? Ini udah dibawain sama Jeung Melati, yang punya wedding organizer. Ayo, dilihat… Trus kamu coba ya? Brin, kamu juga kasih masukan dong, buat Salma?”

Ibu memberondong laksana meriam confetti yang tak kenal kata berhenti. Pagi hariku yang cerah ceria berganti warna. Aku menghembuskan napas. Berat. Tante Brin melirikku penuh arti. ”Ayo, bride-to-be, coba dilihat tuh kebayanya… Eh, ada nggak, yang model Anne Avantie?”

“Husshh!! Emangnya Salma cewek apaan???” ibu mendengus sebal. ”Aku cuma cariin kostum yang syar’i. Walaupun jadi pengantin, Salma nggak boleh kehilangan identitasnya sebagai seorang muslimah. Aurat harus terbungkus rapat. Nanti, make-upnya juga kudu soft. Pulasannya nggak boleh tabarruj alias dandan berlebihan. Aku maunya, wedding Salma nanti kayak Oki Sektiana Dewi. Semua serba Islami, hijabnya juga panjang menjuntai…”

“Wohooo… how cool is that, Salma darling?? Musiknya timur tengah juga dong, Mbak? Waw, enggak sabar deh, pengin lihat wedding of the year! Sini, sini… aku bantuin pilih kostum yang cucoook buat lo, saay… Wuits.. ini warnanya putih-putih ala Kate Middleton… Whoops, ada yang shocking pink, keren bingits nih! Etapi, gue juga kudu lihat potonya Raditya siiih, gue kudu tahu dia oke apa kagak pake baju macem begindang… Lo ada potonya Radit??”

Pagiku terasa begitu berisik. Dua manusia dewasa menghujaniku dengan rangkaian kata yang tak kenal kata jeda.

***

Tante Brin sibuk melihat akun Facebook Raditya Abdurrahman. Mata belonya memandang tajam, dari satu foto ke foto yang lain. ”Nih bocah kagak ada narsis-narsisnya blas! Mosok setiap foto selalu barengan ama temen-temen SKI-laah.. temen kajian-laah… Muke die kan kagak jelassss! Pegimane gue bisa tahu kalo tampang doi bisa cocok dengan baju mantennya?? Arrrghhh!!”

“Ya udahlah tantee.. Kemungkinan besar, akhi Radit juga pasrah bongkokan kok, dengan kostum apapun yang bakal dia pakai. Asal, jangan pakai kostum Teletubbies aja…”

“Garing banget sih lo!”

Aku ngikik melihat tanteku sewot. Lumayan… keberadaan Tante Brin paling tidak bisa menjadi “hiburan” untuk hatiku yang tengah terhimpit. Yap, terhimpit sebuah kenyataan, bahwa hari terus berjalan, dan detik tak pernah melangkah mundur… Lah, kayak iklannya AADC-Line yak?

Hehehe… Baiklah, harus aku akui, bahwa aku dilanda stres level dewa. Aku akan menikah dengan laki-laki yang belum bisa menerbitkan rasa apapun di hati. Dan, dengan berat hati, aku harus segera melepaskan jerat seorang pria yang telah menjadi pemicu detak jantung ini. Loh, sekarang kayak lagu “Pemeran Utama”-nya Raisa, hahaha… #heavy-stress-detected

“Salma!!”

Jus stroberi yang hendak kuteguk mendadak muncrat. “Apaan sih, Nte? Jangan bikin kaget, napa?”

“Aku mau nanya nih. Ini serius. Banget. Ini fotonya siapa?”

Aku lihat foto seorang perempuan yang ada di akun Raditya. Ia tengah menggendong seorang bayi—mungkin berusia sekitar 8 bulan—dengan latar belakang Merlion, patung singa khas Singapura.

“Oooh… ini ibunya Radit… Dulu, pas Radit bayi, sempat diajak bapak-ibunya kerja di Singapura… Kalau nggak salah, bapaknya kerja jadi semacam TKI gitu lo, Ntee.. Nah, ibu dan anaknya juga diajak…”

“Waktu lamaran kemarin, ibunya Radit ikut ke sini?”

“Nggak, nte. Lagi nggak enak badan katanya. Yang kesini ayah Radit ama paman-pamannya gitu. Kenapa sih?”

“… nggh… lalu, apakah mereka sempat terpisah? Waktu di Singapura?”

“Aku kurang tahu siik. Wait, wait…. Kok tante nanya kayak gitu?”

“Enggak… enggak apa-apa…. Aku cuma, nggh… ehhh, si Radit itu aslinya mana ya?”

“Pekalongan. Kenapa nte?”

“Oh, Pekalongan yak? Wah, pas banget nih… Beberapa temen aku pesen batik asli pekalongan. Mungkin, kalo aku langsung kulakan di sana, bisa dapat corak dan harga yang sip! Eh, kasih aku nomornya Radit dong.. Aku mau nanya-nanya ke dia, soal sentra batik Pekalongan…”

Aku mengambil ponsel perlahan. Pandangan mata Tante Brin masih belum beranjak dari akun FB Raditya. Hmm, kok, firasatku mengatakan, tante favoritku ini merahasiakan sesuatu ya?

***

Dua hari kemudian. Di kantor wedding organizer.  

“Iya Jeung Melati… ambil yang soft pink aja.. Nanti, manten lakinya pake baju merah marun itu loo.. Kan udah senada tho yaaa.. Iyaaa… calon mantu saya itu guanteeeng, jeung, hehehe… Sholiiih lagii, mohon doanya ya jeung…“

“Putrinya Jeung juga ayu tenan kok. Wajahnya aristokrat, ala-ala putri kerajaan gitu, ya mirip ibundanya tho…”
“Waduuuh, jeung Melati ini, bisaa ajaa kalo bikin GR pagi-pagi, hihihi.. Jangan lupa ya jeung, ntar make-upnya soft aja.. O iya, undangannya dibikin warna pink soft juga yaa… Gelarnya Salma dicantumin juga aja… Raditya juga… Kan udah kuliah susah-susah, mbayarnya mahal, eman-eman tho kalo gak dicantumin…”

Untuk kali pertama, aku angkat bicara dalam obrolan rempong ini. “Nggh, maaf Ibu. Untuk gelarnya, Salma rasa, lebih baik nggak perlu dicantumin…”

“Lho? Kenapa? Kan biar tamu-tamunya ibu tahu, kalau kamu itu sudah lulus dari kampus Fakultas Ekonomi! Cum laude lagi. Kalau perlu, IPK-mu ibu taruh di undangan juga lo. Ibu juga ingin menghormati keluarga Raditya. Mereka kan bahagia, kalau gelar anaknya dicantumkan di undangan. Sarjana Elektro! Kamu kira gampang kuliah di elektro? Wah, praktikumnya beraaat! Berdarah-darah loh, perjuangan di kampus itu…”

“Maaf, Ibu. Sekali lagi, Salma minta maaf. Kalau dalam dunia pendidikan atau pekerjaan, mencantumkan gelar akademis memang masih relevan. Tapi, ini kan masalah personal. Sebuah tasyakuran pernikahan yang tidak ada urusannya dengan gelar kami. Apakah kami sarjana Ekonomi, atau elektro, sama sekali tak ada kaitannya kan?”

”Haduuuh, Salmaa… kamu ini! Udahlah, kamu manut aja sama Ibu… Ibu udah cukup makan asam garam dengan hal beginian… Kemarin Pak Prayit waktu nikahin anaknya juga nyantumin gelar kok.. Biar tamu-tamu juga tahu, bahwa orangtua kalian sungguh-sungguh berjuang, ngabisin duit banyak untuk kelulusan kuliah kalian..”

“Ibu. Bukan maksud Salma tidak menghargai pengorbanan yang Ibu berikan. Sungguh, Salma sangat-sangat berterima kasih atas semua yang sudah Ibu dan Ayah berikan. Tapi, kita haruuus berhati-hati Ibu, jangan-jangan apa yang kita inginkan untuk mencantumkan gelar di undangan , adalah sebuah bisikan hati yang berujung riya’? Karena riya’ itu menelusup dengan begitu lembut… dan, terkadang kita tidak merasakannya… Ibu yang mengajarkan kepada saya untuk selalu berhati-hati dengan hati. Niat kita harus lurus. Harus ikhlas. Nggak boleh ada ujub sedikitpun. Salma ingin kita berdiri kokoh di prinsip itu.”

***

Baju pengantin, checked. Perias manten, checked. Gedung, checked. MC, pagar bagus, pagar ayu, nasyid yang isi acara, checked. Dokumentasi wedding, checked. Catering, checked. Undangan, checked. Dan, Alhamdulillah, ibu setuju untuk tak mencantumkan gelar. Pfff, lega…!

Sekarang, tugasku berikutnya adalah, mencetak daftar tamu. Duh, duh… banyak bingits yang mau diundang Ayah-ibu… Daftar namanya 500! Masya Allah…

“Itu aja masih banyak yang belum diundang lho, Nduk.. Duh, gimana yaa… Kalau temen-temen ibu yang gak diundang pada protes.. Ya udahlah… tawakkal aja…”

Aku memijit punggung tangan ibu. Pernikahan putri tunggalnya ini rentan menerbitkan stres kecil. ”Santai saja, Ibu. InsyaAllah, Salma print-kan nama-nama undangan ya? Nanti, Salma minta bantuan teman-teman untuk mengirimkan.”

“O iya, jangan lupa, Raditya juga kamu tugasin untuk kirim-kirim undangan juga…”

“Siaap, Ibu… insyaAllah…”

“Siiip… eh iya… ibu baru keinget nih. Arya, kamu undang nggak?”

Nama itu lagi. Arya. Aku terkesiap. Mataku nanar, seolah menyaksikan sekelebat penampakan yang tiba-tiba datang.(b e r s a m b u n g)

[Fiction] BIMBANG (part 4)

BIMBANG (PART 4)

Cerita Remaja edisi lalu:

Ketika ayah Salma tengah dirawat di RS, Raditya dan Arya datang menjenguk. Suasana canggung tak terelakkan. Salma juga sempat “disidang” oleh ibunya. Yang jelas, hati orang tua Salma tetap terpaut dan condong pada Raditya. Sementara nama Arya, masih tak kunjung hengkang dari hati Salma.

Jika ingin baca cerita part 1, 2, dan 3 silakan kunjungi ini

“Saudara Raditya Abdurrahman bin Tole Suprapto. Saudara saya nikahkan dan kawinkan dengan putri kandung saya, Salma Khadija Salsabila binti Ganjar Adhyatma, dengan mas kawin senilai satu juta rupiah, dibayar tu…nai!”

“Saya terima nikah dan kawinnya Salma Khadija Salsabila binti Ganjar Adhyatma, dengan mas kawin tersebut, tunai!”

“Sah?? Sah??”

“Saaaahhh…!!!”

“Tunggu…!!”

Tergopoh-gopoh, seorang pria klimis mendatangi meja akad nikah. Nafasnya tersengal. Namun, itu tak mengurangi sorot matanya yang tersiram bara amarah.

“Mana Salma? Kenapa Anda-anda yang ada di sini tidak bertanya pada Salma? Bagaimana menurut dia? Apakah dia rela dan siap dengan pernikahan ini?”

“Arya!” aku berseru tertahan. Gila nih orang.

“Salma. Kamu punya hak dalam pernikahan ini! Saya tahu persis, kamu sebenarnya tidak mau menikah dengan Radit kan? Kamu masih menunggu saya kan?”

“Arya…! Cukup, Arya…!”

“Salma. Love is really worth fighting for, being brave for, risking everything for. Obstacles are placed in our way to see if what we want is really worth fighting for.”

“Aryaa….!! Stop it, Arya…!!”

Tell them. Bilang pada keluarga kamu, kalau hati kecilmu memilih saya. Bukan Raditya. Katakan Salma. Kamu masih punya kesempatan…”

“Aryaa… Hentikan…!!”

“Salma, this is your last chance…!”

“Aryaaaa….!!”

***

“Salma! Bangun! Istighfar, Nak… Istighfar…!!”

Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Aku bangun dengan nafas memburu. Masya Allah… Kenapa aku ini? Yang barusan itu…. mimpi? Aku melakoni ijab qabul dengan Raditya, kemudian Arya hadir dan mengacaukan suasana? Astaghfirullah….

Aku terpekur dalam kepiluan yang sangat. Dua laki-laki itu, sungguh telah mencerabut akal sehat.

“Salma. Minum dulu Nak. Ambil wudhu. Sholat tahajud ya.”

Ibu menatapku prihatin. Kasihan “malaikat”-ku ini. Di saat Ayah sedang sakit fisik, putri semata wayangnya tengah sakit psikis.

***

Aku melangkah gontai menuju mushola rumah sakit. Banyak keluarga pasien yang nunut “meluruskan punggung” di sini. Bersiap tunaikan tahajud, samar-samar aku menangkap satu manusia yang tengah mengangkat kedua tangan, berucap doa dengan begitu khusyu’ diselingi isak yang tertahan. Lalu, laki-laki itu sujud, lamaaa sekali. Kemudian, ia bangkit lagi, bertahajud masih dengan isak, khas seorang hamba yang begitu pasrah dan berserah pada Sang Maha Tuan.

Aku kenal laki-laki itu. Dia yang tadi berjabat tangan dengan Ayah, dalam mimpiku barusan.

***

Hari beranjak pagi. Wajah kami terhiasi senyum penuh kelegaan. Ya, dokter mengizinkan ayah pulang. Tak sabar aku menginjak “surga dunia” kami. Rumah mungil yang begitu padat oleh cinta, yang terhambur dari tiga penghuninya. Ow, lebih “sempurna” lagi, karena ternyata, om dan tanteku juga tengah berkumpul di rumah kami. Menyambut kedatangan ayah.

Aroma cinta menguar di mana-mana. Ini yang paling aku suka dari keluarga besar ayah dan ibu. Meski tinggal berjauhan—ada yang di Sumbawa, Medan, Banjarmasin, Jakarta, dan sebagian di luar negeri—setiap ada kabar baik ataupun buruk, mereka selalu berusaha untuk peduli. Minimal, meringankan beban dengan transfer sejumlah rupiah. Kalau rezeki melimpah, dipadu izin sang waktu, maka om dan tanteku ini akan saling berkunjung. Bersilaturahim. Semuanya. Seolah kami sedang merayakan Idul Fitri saja.

“Abang sehat kan ya?? Waduh, mau mantu loh, dua bulan lagi. Dijaga kondisinya Bang…”

“Salma, kau harus jaga kesehatan ayahmu ini… Jangan bikin ayah ibumu pening lah Nak… Gimana? Kau sudah siap kan jadi pengantin?”

“Wah… kenapa musti dua bulan lagi sih kawinannya? Kenapa enggak sekarang aja? Kan kita semua sudah pada ada di sini. Dimajukan sajalah…”

“Hahahaha….”

Gayeng. Mereka semua melemparkan joke, gojlokan, apapun itu, dengan cara yang really lovely. Tapi, beberapa detik kemudian, Om Hafidz—pamanku yang (sesuai namanya) memang seorang penghafal Qur’an—mengajukan sebuah dalil yang menonjok.

“Salma. Om mau mengutip satu sabda Rasulullah. Beliau bersabda: ‘Jika datang kepadamu orang yang engkau ridha diin (agama) dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia segera. Karena kalau tidak, akan menimbulkan fitnah dan kerusakan.’ Kalau om lihat, insyaAllah, Raditya adalah pribadi yang sholih. Akhlaknya luar biasa. Om juga punya beberapa kenalan di Surabaya yang khusus Om tugasi untuk menginvestigasi Radit. Tidak ada berita buruk soal dia. Jadi, apa lagi yang kau tunggu? Tentu kita tidak ingin fitnah dan kerusakan akan timbul karena pernikahan yang berjarak jauh dari masa khitbah. Kalau pria yang sesholih Radit tak kunjung menjadi suami kamu, maka kepada siapa lagi seorang muslimah shalihah seperti kamu akan dipersembahkan?”

Jleb.

“Om Hafidz bener tuh…. Tiket pesawat Medan-Surabaya itu mahal… Tante setuju lah kalau kau majukan sekarang…”

“Ayeee…ayeee…. Gimana Salma?”

Aku menunduk. Tak siap menghadapi “tuntutan” dari para om dan tante. Mereka masih membombardir kami—aku, ayah, dan ibu—dengan ide “memajukan tanggal pernikahan”. Bagaikan kumpulan lebah yang baru saja keluar dari sarangnya, kalimat mereka terus menguing, tak menyisakan kesempatan bagi lisanku untuk menjawab “Tidak”.

“Assalamualaikuuuum, yuhuuuu….Salmaaaa…. darliiing….”

Alhamdulillah. Pertolongan Allah selalu datang di saat genting seperti ini. Tante Sabrina. Dialah “dewi penyelamat”-ku hari ini. Tante Brin, begitu aku biasa memanggilnya, adalah adik bungsu ayah. Tipikal fun fabulous lady, yang terus meniti jalan di belantara karir. Sekarang dia tinggal di Singapura. Bekerja jadi salah satu fashion stylist di sebuah majalah mode terkemuka. Syahrini kw super. Begitu biasanya om dan tanteku meledek tante centil ini.

“Ulala… Semua pada kumpul di sini yaaa.. Duh, Surabaya, panasnya cetharr membahana…”

Tuh kan. Baru nongol, udah “kumat”.

“Haii, Salma… Apa kabar lo, darling, dadar guling? Xixixi, mana calon laki lo? Gue udah gak sabar nih, pengin bully dia. Pengin kasih tahu kalo Salma ini aslinya jorse alias jorok sekali… Trus, Salma ini kalo tidur ngorok, xixixi….”

“Brin!” Om Hafidz bersuara, “Kamu tuh kerjaaaa aja yang dipikirin. Salma ponakan kamu udah mau nikah. Kamu sendiri, udah umur 40 lebih masiiiih aja gaya centil kayak ABG. Sadar umur, Brin… Cari jodoh noh! Jangan cari duit mulu!”

Ah, Tante Brin. Thanks for coming. Walaupun tante sudah mem-bully aku, at least perbincangan tentang nikah dipercepat tak lagi jadi topik utama.

***

Satu-satunya tante yang asyik diajak curhat ya si Tante Brin ini. Walaupun endhel nggak pakai takaran, tanteku ini insyaAllah sangat bisa menjaga rahasia “klien” curhatnya. Setelah panjang lebar kujelaskan soal Raditya vs Arya, Tante Brin mendesah pelan.

“Lo itu mirip gue banget. Tahu nggak, kenapa sampai sekarang gue nggak merit-merit? Ya kayak lo gini, kebanyakan galaunya, hahaha…”

Dahiku mengernyit. ”Jadi, nurut tante, aku musti gimana?”

“Lo udah bikin analisa SWOT?”

“Hah?!?”

“Iya…! Penting banget tuh. Lo analisa Strength, Weakness, Opportunities dan Threat dari dua cowok yang terkiwir-kiwir ama dirimu itu. Ntar kamu analisa deh. Mana yang paling oke, mana yang di mata lo bisa bikin lo bahagia.”

Selain endhel, ternyata kadar lebay tanteku juga overdosis.

“Gue serius, Salma. Memilih jodoh itu emang tricky. Kadang, yang tampak baik di mata kita justru enggak baik buat hidup kita, dan keluarga kita. Please note, bahwa lo juga kudu cari jodoh yang bisa bikin ortu lo bahagia. Lo nikah bukan cari suami buat lo sendiri, tapi juga jadi ‘anak baru’ buat ayah-ibu lo. Sometimes, we have to compromise. We don’t merely rely on our feelings, but also consider our parents. Berat, memang. Tapi… ya… gimana lagi…”

Andai memilih jodoh semudah menghitung kancing….

“Jadi, jadi, kalo gue lihat, Abang Ganjar dan Mbak Elly lebih suka ama Raditya kan?”

Aku mengangguk lemah. That’s the fact. Gak ada yang bisa disembunyiin dari tante Brin.

“Ya udin. Lo ambil aja tuh Radit. Gue kagak datang pas lamaran lo siiih, jadi sampe sekarang gue juga kagak tahu bentuk doi kayak begimane. Tapi, kalo ngeliat the way your parents adore him so much, sangat jelasss banget, kalo mereka berdua tuh udah ‘klik’ ama Radit.”

Kalimat Tante Brin sangat masuk akal. Realistis. Nyaris tak bisa dibantah. Is it the right clue? Is it time to let him go? Let Arya find another lady?

“Eh, btw, sayy… Kalo lo sama Radit, si Arya kan nganggur tuh. Kasian kalo dia bulukan. Gimana kalo Arya buat gue aja? Ide bagus kan? Kan? Kan?” (bersambung)