Fiction, fiksi

[Fiction] BIMBANG (part 4)

BIMBANG (PART 4)

Cerita Remaja edisi lalu:

Ketika ayah Salma tengah dirawat di RS, Raditya dan Arya datang menjenguk. Suasana canggung tak terelakkan. Salma juga sempat “disidang” oleh ibunya. Yang jelas, hati orang tua Salma tetap terpaut dan condong pada Raditya. Sementara nama Arya, masih tak kunjung hengkang dari hati Salma.

Jika ingin baca cerita part 1, 2, dan 3 silakan kunjungi ini

“Saudara Raditya Abdurrahman bin Tole Suprapto. Saudara saya nikahkan dan kawinkan dengan putri kandung saya, Salma Khadija Salsabila binti Ganjar Adhyatma, dengan mas kawin senilai satu juta rupiah, dibayar tu…nai!”

“Saya terima nikah dan kawinnya Salma Khadija Salsabila binti Ganjar Adhyatma, dengan mas kawin tersebut, tunai!”

“Sah?? Sah??”

“Saaaahhh…!!!”

“Tunggu…!!”

Tergopoh-gopoh, seorang pria klimis mendatangi meja akad nikah. Nafasnya tersengal. Namun, itu tak mengurangi sorot matanya yang tersiram bara amarah.

“Mana Salma? Kenapa Anda-anda yang ada di sini tidak bertanya pada Salma? Bagaimana menurut dia? Apakah dia rela dan siap dengan pernikahan ini?”

“Arya!” aku berseru tertahan. Gila nih orang.

“Salma. Kamu punya hak dalam pernikahan ini! Saya tahu persis, kamu sebenarnya tidak mau menikah dengan Radit kan? Kamu masih menunggu saya kan?”

“Arya…! Cukup, Arya…!”

“Salma. Love is really worth fighting for, being brave for, risking everything for. Obstacles are placed in our way to see if what we want is really worth fighting for.”

“Aryaa….!! Stop it, Arya…!!”

Tell them. Bilang pada keluarga kamu, kalau hati kecilmu memilih saya. Bukan Raditya. Katakan Salma. Kamu masih punya kesempatan…”

“Aryaa… Hentikan…!!”

“Salma, this is your last chance…!”

“Aryaaaa….!!”

***

“Salma! Bangun! Istighfar, Nak… Istighfar…!!”

Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Aku bangun dengan nafas memburu. Masya Allah… Kenapa aku ini? Yang barusan itu…. mimpi? Aku melakoni ijab qabul dengan Raditya, kemudian Arya hadir dan mengacaukan suasana? Astaghfirullah….

Aku terpekur dalam kepiluan yang sangat. Dua laki-laki itu, sungguh telah mencerabut akal sehat.

“Salma. Minum dulu Nak. Ambil wudhu. Sholat tahajud ya.”

Ibu menatapku prihatin. Kasihan “malaikat”-ku ini. Di saat Ayah sedang sakit fisik, putri semata wayangnya tengah sakit psikis.

***

Aku melangkah gontai menuju mushola rumah sakit. Banyak keluarga pasien yang nunut “meluruskan punggung” di sini. Bersiap tunaikan tahajud, samar-samar aku menangkap satu manusia yang tengah mengangkat kedua tangan, berucap doa dengan begitu khusyu’ diselingi isak yang tertahan. Lalu, laki-laki itu sujud, lamaaa sekali. Kemudian, ia bangkit lagi, bertahajud masih dengan isak, khas seorang hamba yang begitu pasrah dan berserah pada Sang Maha Tuan.

Aku kenal laki-laki itu. Dia yang tadi berjabat tangan dengan Ayah, dalam mimpiku barusan.

***

Hari beranjak pagi. Wajah kami terhiasi senyum penuh kelegaan. Ya, dokter mengizinkan ayah pulang. Tak sabar aku menginjak “surga dunia” kami. Rumah mungil yang begitu padat oleh cinta, yang terhambur dari tiga penghuninya. Ow, lebih “sempurna” lagi, karena ternyata, om dan tanteku juga tengah berkumpul di rumah kami. Menyambut kedatangan ayah.

Aroma cinta menguar di mana-mana. Ini yang paling aku suka dari keluarga besar ayah dan ibu. Meski tinggal berjauhan—ada yang di Sumbawa, Medan, Banjarmasin, Jakarta, dan sebagian di luar negeri—setiap ada kabar baik ataupun buruk, mereka selalu berusaha untuk peduli. Minimal, meringankan beban dengan transfer sejumlah rupiah. Kalau rezeki melimpah, dipadu izin sang waktu, maka om dan tanteku ini akan saling berkunjung. Bersilaturahim. Semuanya. Seolah kami sedang merayakan Idul Fitri saja.

“Abang sehat kan ya?? Waduh, mau mantu loh, dua bulan lagi. Dijaga kondisinya Bang…”

“Salma, kau harus jaga kesehatan ayahmu ini… Jangan bikin ayah ibumu pening lah Nak… Gimana? Kau sudah siap kan jadi pengantin?”

“Wah… kenapa musti dua bulan lagi sih kawinannya? Kenapa enggak sekarang aja? Kan kita semua sudah pada ada di sini. Dimajukan sajalah…”

“Hahahaha….”

Gayeng. Mereka semua melemparkan joke, gojlokan, apapun itu, dengan cara yang really lovely. Tapi, beberapa detik kemudian, Om Hafidz—pamanku yang (sesuai namanya) memang seorang penghafal Qur’an—mengajukan sebuah dalil yang menonjok.

“Salma. Om mau mengutip satu sabda Rasulullah. Beliau bersabda: ‘Jika datang kepadamu orang yang engkau ridha diin (agama) dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia segera. Karena kalau tidak, akan menimbulkan fitnah dan kerusakan.’ Kalau om lihat, insyaAllah, Raditya adalah pribadi yang sholih. Akhlaknya luar biasa. Om juga punya beberapa kenalan di Surabaya yang khusus Om tugasi untuk menginvestigasi Radit. Tidak ada berita buruk soal dia. Jadi, apa lagi yang kau tunggu? Tentu kita tidak ingin fitnah dan kerusakan akan timbul karena pernikahan yang berjarak jauh dari masa khitbah. Kalau pria yang sesholih Radit tak kunjung menjadi suami kamu, maka kepada siapa lagi seorang muslimah shalihah seperti kamu akan dipersembahkan?”

Jleb.

“Om Hafidz bener tuh…. Tiket pesawat Medan-Surabaya itu mahal… Tante setuju lah kalau kau majukan sekarang…”

“Ayeee…ayeee…. Gimana Salma?”

Aku menunduk. Tak siap menghadapi “tuntutan” dari para om dan tante. Mereka masih membombardir kami—aku, ayah, dan ibu—dengan ide “memajukan tanggal pernikahan”. Bagaikan kumpulan lebah yang baru saja keluar dari sarangnya, kalimat mereka terus menguing, tak menyisakan kesempatan bagi lisanku untuk menjawab “Tidak”.

“Assalamualaikuuuum, yuhuuuu….Salmaaaa…. darliiing….”

Alhamdulillah. Pertolongan Allah selalu datang di saat genting seperti ini. Tante Sabrina. Dialah “dewi penyelamat”-ku hari ini. Tante Brin, begitu aku biasa memanggilnya, adalah adik bungsu ayah. Tipikal fun fabulous lady, yang terus meniti jalan di belantara karir. Sekarang dia tinggal di Singapura. Bekerja jadi salah satu fashion stylist di sebuah majalah mode terkemuka. Syahrini kw super. Begitu biasanya om dan tanteku meledek tante centil ini.

“Ulala… Semua pada kumpul di sini yaaa.. Duh, Surabaya, panasnya cetharr membahana…”

Tuh kan. Baru nongol, udah “kumat”.

“Haii, Salma… Apa kabar lo, darling, dadar guling? Xixixi, mana calon laki lo? Gue udah gak sabar nih, pengin bully dia. Pengin kasih tahu kalo Salma ini aslinya jorse alias jorok sekali… Trus, Salma ini kalo tidur ngorok, xixixi….”

“Brin!” Om Hafidz bersuara, “Kamu tuh kerjaaaa aja yang dipikirin. Salma ponakan kamu udah mau nikah. Kamu sendiri, udah umur 40 lebih masiiiih aja gaya centil kayak ABG. Sadar umur, Brin… Cari jodoh noh! Jangan cari duit mulu!”

Ah, Tante Brin. Thanks for coming. Walaupun tante sudah mem-bully aku, at least perbincangan tentang nikah dipercepat tak lagi jadi topik utama.

***

Satu-satunya tante yang asyik diajak curhat ya si Tante Brin ini. Walaupun endhel nggak pakai takaran, tanteku ini insyaAllah sangat bisa menjaga rahasia “klien” curhatnya. Setelah panjang lebar kujelaskan soal Raditya vs Arya, Tante Brin mendesah pelan.

“Lo itu mirip gue banget. Tahu nggak, kenapa sampai sekarang gue nggak merit-merit? Ya kayak lo gini, kebanyakan galaunya, hahaha…”

Dahiku mengernyit. ”Jadi, nurut tante, aku musti gimana?”

“Lo udah bikin analisa SWOT?”

“Hah?!?”

“Iya…! Penting banget tuh. Lo analisa Strength, Weakness, Opportunities dan Threat dari dua cowok yang terkiwir-kiwir ama dirimu itu. Ntar kamu analisa deh. Mana yang paling oke, mana yang di mata lo bisa bikin lo bahagia.”

Selain endhel, ternyata kadar lebay tanteku juga overdosis.

“Gue serius, Salma. Memilih jodoh itu emang tricky. Kadang, yang tampak baik di mata kita justru enggak baik buat hidup kita, dan keluarga kita. Please note, bahwa lo juga kudu cari jodoh yang bisa bikin ortu lo bahagia. Lo nikah bukan cari suami buat lo sendiri, tapi juga jadi ‘anak baru’ buat ayah-ibu lo. Sometimes, we have to compromise. We don’t merely rely on our feelings, but also consider our parents. Berat, memang. Tapi… ya… gimana lagi…”

Andai memilih jodoh semudah menghitung kancing….

“Jadi, jadi, kalo gue lihat, Abang Ganjar dan Mbak Elly lebih suka ama Raditya kan?”

Aku mengangguk lemah. That’s the fact. Gak ada yang bisa disembunyiin dari tante Brin.

“Ya udin. Lo ambil aja tuh Radit. Gue kagak datang pas lamaran lo siiih, jadi sampe sekarang gue juga kagak tahu bentuk doi kayak begimane. Tapi, kalo ngeliat the way your parents adore him so much, sangat jelasss banget, kalo mereka berdua tuh udah ‘klik’ ama Radit.”

Kalimat Tante Brin sangat masuk akal. Realistis. Nyaris tak bisa dibantah. Is it the right clue? Is it time to let him go? Let Arya find another lady?

“Eh, btw, sayy… Kalo lo sama Radit, si Arya kan nganggur tuh. Kasian kalo dia bulukan. Gimana kalo Arya buat gue aja? Ide bagus kan? Kan? Kan?” (bersambung)

Advertisements

10 thoughts on “[Fiction] BIMBANG (part 4)”

    1. Tadinya mau aku ceritain kalo Salma sutris level dewa, trusss doi kabur ke Jepang, dan nunut di rumahnya Mama Nisa :))
      Hehhehehe… tapi ntar jadinya panjaaaaanggg… Tersanjung aja lewat deh maak 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s