cerita, Fiction, fiksi

[Fiction] BIMBANG (part 5)

Cerita Remaja

BIMBANG (part 5)

Ini adalah cerita remaja bersambung. Anda bisa mengikuti part 1,2,3,4 di sini 

Edisi Sebelumnya: Semakin hari, Salma kian mendapatkan beragam ‘clue’ bahwa Raditya adalah jodoh terbaik untuknya. Ayah-ibunda pro-Raditya. Begitu pula dengan beberapa famili Salma. Bahkan, para om dan tante mendesak Salma agar akad nikahnya dimajukan. Kemudian, datanglah Tante Sabrina—salah satu tante ‘gaul’ yang amat akrab dengan Salma—yang juga turut mendukung nama Raditya.

“Salmaaa…. Salmaaaa…. ups. Lagi ‘girls talk’ sama Tante Sabrina ya? Ya udah. Sekalian aja ya, kita bahas di sini. Ini lho, nduk, ibu udah cariin wedding organizer untuk kamu. Gedungnya insya Allah di Hall An-Nuur. Trus, kateringnya juga udah ibu cariin. Sekarang, kamu pilih, mau pakai gaun pengantin yang mana? Ini udah dibawain sama Jeung Melati, yang punya wedding organizer. Ayo, dilihat… Trus kamu coba ya? Brin, kamu juga kasih masukan dong, buat Salma?”

Ibu memberondong laksana meriam confetti yang tak kenal kata berhenti. Pagi hariku yang cerah ceria berganti warna. Aku menghembuskan napas. Berat. Tante Brin melirikku penuh arti. ”Ayo, bride-to-be, coba dilihat tuh kebayanya… Eh, ada nggak, yang model Anne Avantie?”

“Husshh!! Emangnya Salma cewek apaan???” ibu mendengus sebal. ”Aku cuma cariin kostum yang syar’i. Walaupun jadi pengantin, Salma nggak boleh kehilangan identitasnya sebagai seorang muslimah. Aurat harus terbungkus rapat. Nanti, make-upnya juga kudu soft. Pulasannya nggak boleh tabarruj alias dandan berlebihan. Aku maunya, wedding Salma nanti kayak Oki Sektiana Dewi. Semua serba Islami, hijabnya juga panjang menjuntai…”

“Wohooo… how cool is that, Salma darling?? Musiknya timur tengah juga dong, Mbak? Waw, enggak sabar deh, pengin lihat wedding of the year! Sini, sini… aku bantuin pilih kostum yang cucoook buat lo, saay… Wuits.. ini warnanya putih-putih ala Kate Middleton… Whoops, ada yang shocking pink, keren bingits nih! Etapi, gue juga kudu lihat potonya Raditya siiih, gue kudu tahu dia oke apa kagak pake baju macem begindang… Lo ada potonya Radit??”

Pagiku terasa begitu berisik. Dua manusia dewasa menghujaniku dengan rangkaian kata yang tak kenal kata jeda.

***

Tante Brin sibuk melihat akun Facebook Raditya Abdurrahman. Mata belonya memandang tajam, dari satu foto ke foto yang lain. ”Nih bocah kagak ada narsis-narsisnya blas! Mosok setiap foto selalu barengan ama temen-temen SKI-laah.. temen kajian-laah… Muke die kan kagak jelassss! Pegimane gue bisa tahu kalo tampang doi bisa cocok dengan baju mantennya?? Arrrghhh!!”

“Ya udahlah tantee.. Kemungkinan besar, akhi Radit juga pasrah bongkokan kok, dengan kostum apapun yang bakal dia pakai. Asal, jangan pakai kostum Teletubbies aja…”

“Garing banget sih lo!”

Aku ngikik melihat tanteku sewot. Lumayan… keberadaan Tante Brin paling tidak bisa menjadi “hiburan” untuk hatiku yang tengah terhimpit. Yap, terhimpit sebuah kenyataan, bahwa hari terus berjalan, dan detik tak pernah melangkah mundur… Lah, kayak iklannya AADC-Line yak?

Hehehe… Baiklah, harus aku akui, bahwa aku dilanda stres level dewa. Aku akan menikah dengan laki-laki yang belum bisa menerbitkan rasa apapun di hati. Dan, dengan berat hati, aku harus segera melepaskan jerat seorang pria yang telah menjadi pemicu detak jantung ini. Loh, sekarang kayak lagu “Pemeran Utama”-nya Raisa, hahaha… #heavy-stress-detected

“Salma!!”

Jus stroberi yang hendak kuteguk mendadak muncrat. “Apaan sih, Nte? Jangan bikin kaget, napa?”

“Aku mau nanya nih. Ini serius. Banget. Ini fotonya siapa?”

Aku lihat foto seorang perempuan yang ada di akun Raditya. Ia tengah menggendong seorang bayi—mungkin berusia sekitar 8 bulan—dengan latar belakang Merlion, patung singa khas Singapura.

“Oooh… ini ibunya Radit… Dulu, pas Radit bayi, sempat diajak bapak-ibunya kerja di Singapura… Kalau nggak salah, bapaknya kerja jadi semacam TKI gitu lo, Ntee.. Nah, ibu dan anaknya juga diajak…”

“Waktu lamaran kemarin, ibunya Radit ikut ke sini?”

“Nggak, nte. Lagi nggak enak badan katanya. Yang kesini ayah Radit ama paman-pamannya gitu. Kenapa sih?”

“… nggh… lalu, apakah mereka sempat terpisah? Waktu di Singapura?”

“Aku kurang tahu siik. Wait, wait…. Kok tante nanya kayak gitu?”

“Enggak… enggak apa-apa…. Aku cuma, nggh… ehhh, si Radit itu aslinya mana ya?”

“Pekalongan. Kenapa nte?”

“Oh, Pekalongan yak? Wah, pas banget nih… Beberapa temen aku pesen batik asli pekalongan. Mungkin, kalo aku langsung kulakan di sana, bisa dapat corak dan harga yang sip! Eh, kasih aku nomornya Radit dong.. Aku mau nanya-nanya ke dia, soal sentra batik Pekalongan…”

Aku mengambil ponsel perlahan. Pandangan mata Tante Brin masih belum beranjak dari akun FB Raditya. Hmm, kok, firasatku mengatakan, tante favoritku ini merahasiakan sesuatu ya?

***

Dua hari kemudian. Di kantor wedding organizer.  

“Iya Jeung Melati… ambil yang soft pink aja.. Nanti, manten lakinya pake baju merah marun itu loo.. Kan udah senada tho yaaa.. Iyaaa… calon mantu saya itu guanteeeng, jeung, hehehe… Sholiiih lagii, mohon doanya ya jeung…“

“Putrinya Jeung juga ayu tenan kok. Wajahnya aristokrat, ala-ala putri kerajaan gitu, ya mirip ibundanya tho…”
“Waduuuh, jeung Melati ini, bisaa ajaa kalo bikin GR pagi-pagi, hihihi.. Jangan lupa ya jeung, ntar make-upnya soft aja.. O iya, undangannya dibikin warna pink soft juga yaa… Gelarnya Salma dicantumin juga aja… Raditya juga… Kan udah kuliah susah-susah, mbayarnya mahal, eman-eman tho kalo gak dicantumin…”

Untuk kali pertama, aku angkat bicara dalam obrolan rempong ini. “Nggh, maaf Ibu. Untuk gelarnya, Salma rasa, lebih baik nggak perlu dicantumin…”

“Lho? Kenapa? Kan biar tamu-tamunya ibu tahu, kalau kamu itu sudah lulus dari kampus Fakultas Ekonomi! Cum laude lagi. Kalau perlu, IPK-mu ibu taruh di undangan juga lo. Ibu juga ingin menghormati keluarga Raditya. Mereka kan bahagia, kalau gelar anaknya dicantumkan di undangan. Sarjana Elektro! Kamu kira gampang kuliah di elektro? Wah, praktikumnya beraaat! Berdarah-darah loh, perjuangan di kampus itu…”

“Maaf, Ibu. Sekali lagi, Salma minta maaf. Kalau dalam dunia pendidikan atau pekerjaan, mencantumkan gelar akademis memang masih relevan. Tapi, ini kan masalah personal. Sebuah tasyakuran pernikahan yang tidak ada urusannya dengan gelar kami. Apakah kami sarjana Ekonomi, atau elektro, sama sekali tak ada kaitannya kan?”

”Haduuuh, Salmaa… kamu ini! Udahlah, kamu manut aja sama Ibu… Ibu udah cukup makan asam garam dengan hal beginian… Kemarin Pak Prayit waktu nikahin anaknya juga nyantumin gelar kok.. Biar tamu-tamu juga tahu, bahwa orangtua kalian sungguh-sungguh berjuang, ngabisin duit banyak untuk kelulusan kuliah kalian..”

“Ibu. Bukan maksud Salma tidak menghargai pengorbanan yang Ibu berikan. Sungguh, Salma sangat-sangat berterima kasih atas semua yang sudah Ibu dan Ayah berikan. Tapi, kita haruuus berhati-hati Ibu, jangan-jangan apa yang kita inginkan untuk mencantumkan gelar di undangan , adalah sebuah bisikan hati yang berujung riya’? Karena riya’ itu menelusup dengan begitu lembut… dan, terkadang kita tidak merasakannya… Ibu yang mengajarkan kepada saya untuk selalu berhati-hati dengan hati. Niat kita harus lurus. Harus ikhlas. Nggak boleh ada ujub sedikitpun. Salma ingin kita berdiri kokoh di prinsip itu.”

***

Baju pengantin, checked. Perias manten, checked. Gedung, checked. MC, pagar bagus, pagar ayu, nasyid yang isi acara, checked. Dokumentasi wedding, checked. Catering, checked. Undangan, checked. Dan, Alhamdulillah, ibu setuju untuk tak mencantumkan gelar. Pfff, lega…!

Sekarang, tugasku berikutnya adalah, mencetak daftar tamu. Duh, duh… banyak bingits yang mau diundang Ayah-ibu… Daftar namanya 500! Masya Allah…

“Itu aja masih banyak yang belum diundang lho, Nduk.. Duh, gimana yaa… Kalau temen-temen ibu yang gak diundang pada protes.. Ya udahlah… tawakkal aja…”

Aku memijit punggung tangan ibu. Pernikahan putri tunggalnya ini rentan menerbitkan stres kecil. ”Santai saja, Ibu. InsyaAllah, Salma print-kan nama-nama undangan ya? Nanti, Salma minta bantuan teman-teman untuk mengirimkan.”

“O iya, jangan lupa, Raditya juga kamu tugasin untuk kirim-kirim undangan juga…”

“Siaap, Ibu… insyaAllah…”

“Siiip… eh iya… ibu baru keinget nih. Arya, kamu undang nggak?”

Nama itu lagi. Arya. Aku terkesiap. Mataku nanar, seolah menyaksikan sekelebat penampakan yang tiba-tiba datang.(b e r s a m b u n g)

Advertisements

18 thoughts on “[Fiction] BIMBANG (part 5)”

  1. Nungguin aaah…

    Jd inget waktu mau nikah dulu, kayanya kalau orang ngga punya lebih adem ya nyiapin nikahnya hehe

    Kebayang ini Salma anak orang berada … blm baca 1,2,3 sama 4 nya 😀

      1. Khan udah dibilangin belum baca edisi sebelumnya… iya ntar mau baca-baca, mau goreng Bala-bala dulu buat temen, saya pan tukang jualan Bala-bala dll maak .. *informasi ngga penting hihi

      2. Iya betul pisan…sobat ulang tahun, pesen Bala-bala katanya… kumpulan emak2 Nuremberg pada pengen makan Bala-bala… 😀

        Eeh kayanya masih punya Petis deh… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s