cerita, Fiction, fiksi

[Fiction] BIMBANG (part 6)

Edisi Sebelumnya: Momen akad nikah Salma dan Raditya kian dekat. Hari-hari Salma diisi dengan kesibukan menyipkan aneka persiapan jelang ikrar suci. Memilih gaun pengantin, berkoordinasi dengan pihak wedding organizer, pesan gedung, catering, dan sebagainya. Termasuk mengirimkan undangan. Pertanyaannya, apakah Arya masuk daftar tamu dalam tasyakuran (resepsi) pernikahan ini?

Cerita #BIMBANG sebelumnya bisa dibaca di:

Part 1: https://bukanbocahbiasa.com/2014/09/05/fiction-bimbang-1/

Part 2: https://bukanbocahbiasa.com/2014/09/15/fiction-bimbang-part-2/

Part 3 https://bukanbocahbiasa.com/2014/10/07/fiction-bimbang-part-3/

Part 4: https://bukanbocahbiasa.com/2014/12/08/fiction-bimbang-part-4/

Part 5 : https://bukanbocahbiasa.com/2015/01/17/bimbang-part-5/

“Emang, Arya sekarang lagi dimana?”

Ibu bertanya pelan. Nada suaranya amat lunak. Seolah-olah, Ibu tak lagi menganggap Arya adalah ‘duri’ yang harus dienyahkan sesegera mungkin dari lubuk hati putri kesayangannya. Entahlah. Terkadang, semakin kuat kita berupaya mengeliminir nama seseorang, maka semakin deraslah memori-memori yang berlompatan, tanpa mengenal jeda.

“Arya… sepertinya lagi di Eropa, Ibu. Dia ada urusan kantor. Sama, kalo nggak salah, mau ngurus beasiswa.”

Ibu berdecak kagum. ”Itu anak, emang luar biasa ya? Semangat duniawinya menakjubkan.”

Apa ini perasaanku saja, tapi aku menangkap nada ‘nyinyir’ dalam kata ‘duniawi’. Seolah-olah ibu menganggap, apapun yang dilakukan Arya selalu berorientasi duniawi. Padahal? Hati orang, siapa yang tahu?

Aku tersenyum sambil menggigit bibir. Ciri khasku, ketika tengah kalut, itu yang dibilang Arya suatu ketika. Tanganku menggenggam satu undangan dengan begitu kuat. Rencananya, surat ini mau aku scan, lalu aku email ke dia. Tapi, pertanyaannya, apa iya Arya harus masuk daftar tamu?

***

Assalamualaikum, Arya. Apa kabar? Masih di Eropa ya? Kapan balik ke Indonesia? Nggh, gini. Aku mau undang kamu. Ke acara kawinanku. Datang ya. Ini undangannya aku lampirkan. Thanks.

Kirim… enggak… kirim… enggak. Duh. Susah amat jadi manusia dewasa? Ngirim undangan aja maju-mundur. Aah, bodo amat deh.

Tapii, kenapa surat ini begitu datar dan straight to the point? Tidakkah ini terlalu ‘kasar’? Oke, oke. Aku edit bentar deh.

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Buat Arya, saudara seiman yang dirahmati Allah.

Apa kabar, Arya? Semoga Allah senantiasa memberikan limpahan rizki dan keberkahan untuk engkau. Seorang mukmin yang begitu giat mencari ilmu maka malaikat mengepakkan sayap pertanda ridho kepadanya. Sungguh, aku salut akan semangat, kerja keras dan cerdas yang engkau lakukan. Agama ini butuh sosok seperti dirimu, Arya. Semoga Islam makin jaya dengan hadirnya generasi emas, yang siap menunjukkan pada dunia, bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Seperti yang sempat saya singgung, insyaAllah saya sudah bertemu sosok yang menjadi imam kehidupan. Namanya, Raditya. Ia laki-laki baik dan bertanggungjawab. Kami sudah melalui proses ta’aruf yang insyaAllah cukup memantapkan hati. Maka, dengan ini, saya sebagai saudara seiman, mengundang engkau untuk datang ke tasyakuran pernikahan kami. Semoga, pada hari akad nikah, engkau sudah berada di Indonesia.

Terima kasih sudah menjadi teman terbaik bagi saya. Di lubuk hati yang terdalam, saya yakin, Allah selalu mempersaudarakan kita semua, di dunia hingga di akherat kelak.

Wassalam,

Salma.

Tombol send… mana tombol send…. wait! Kenapa emailnya melankolis gini? Duh. Ini apa-apaan? Pakai bawa Islam rahmatan lil ‘alamin? Arya kaaan, alumnus Oxford? Mana peduli dia dengan Islam-Islaman macam gini? Apalagi, Ibu juga bilang, Arya sangat duniawi-oriented banget.

No… noo…. ntar dia GR lagi, dapat email ginian. Dikiranya aku masih ngarep. Gak bisa move on. Idih, no way!

Baiklah. Aku tulis surat yang lebih simple aja lah.

Assalamualaikum.

Hai, Arya. Gimana kabar? Makin membahana aja yak, karir dan kuliah kamu. Siiip, siip. Really proud of you, bro J Eh, btw, aku mau merit loh. Dateng yak. Udah, dateng ajaaa. Ini undangannya aku attach. Awas lo, kalo kagak dateng. Hehehe

Wassalam

Message Sent

***

“Salma. Punya akun skype kan? Skype-an sebentar yuk. Ada yang mau aku obrolin. Gak lama kok. 10 menitan.”

Yaaaaaa… dia ngajak skype. Aku kudu piyee? Oke, Salma. Tarik napas. Inhale…. exhale… inhale… exhale… Bismillah. Sekaliii ini aja. Sebelum aku jadi istri orang.

“Assalamualaikum, Arya.”

Nada suara aku bikin nyantai, rileks, dan sok girang. Padahaal…

“Waalaikumsalam. Kamu tahu nggak, aku lagi dimana?”

Kuamati background tempat Arya ber-skype. Ada bangunan mblenduk di belakangnya. Bertuliskan “Allianz”

“Masya Allah…. Kamuuu… Kamuuuu… di Allianz Arena! Bayern Muenchen! Ya ampuuun…!” Refleks aku membelalakkan mata. Ini kaaan, mimpi aku dari duluuu…!

“Hehehe… Guten Morgen, Ich bin in der Munchen.”

“Hiiihhh, Arya jahaaat…!”

“Hahahhaa…!”

Aku tahu, dia pasti sengaja melakukan hal ini. Sengaja bikin aku sakit hati, dengan sok narsis bin eksis di depan stadion ini. Dia tahu banget kalau aku ngefans sama gaya permainan tim panser Jerman. Sudah dari duluuu banget, Jerman masuk wish list untuk destinasi traveling. Sampai detik ini, impian itu tak kunjung tercapai. Dan, Arya?? Huh, nggak sopan banget dia!

“Kamu sengaja pamer kan? Bikin aku sakit hati banget tau gak. Huh! Alesan pake ngajak skype-an segala.”

“Hahaha…. Sabar, Salma. Calon pengantin harus sabar dong. Nggak boleh sering cemberut, apalagi marah-marah. Ntar tamunya pada ngibrit lo. ”

Mak klakep. Selalu begitu. Arya selalu punya jurus jitu untuk membuat nyap-nyapku berhenti seketika. Dia juga selalu pegang kendali untuk mengarahkan ke mana obrolan kami bermuara.

”Nggh, kamu udah baca email yang aku kirim kan? Gimana, bisa dateng nggak?”

“InsyaAllah. InsyaAllah, aku datang…pas banget, tanggal segitu aku insyaAllah udah ada di Surabaya. Ada acara sama salah satu non government organization di sana.”

Sejak kapan Arya jadi sedemikian religius? Dalam satu tarikan nafas, ia menyebut kata ‘insyaAllah’ sebanyak tiga kali. I know him very well. Nggak biasanya, dia begitu royal menebar kosakata Islam.

“Oh, Alhamdulillah kalau gitu. Kirain kamu terlalu sibuk, ngurus kerjaan sama MAIN SEPAKBOLA di ALLIANZ ARENA.”

“Hahahha… udah dooong sewotnya. Banyak yang bilang, sebelum nikah, manten itu ngadepin banyak ujian. Rentan bikin stres. Jangan sampai kayak gitu ya. Pokoknya kamu harus ikhlas menikah, karena Allah. Tunjukkan kalau keputusanmu untuk melangkahkan kaki ke jenjang pernikahan, karena kamu taat akan perintah Allah dan tuntunan dari Rasul.”

“O my! Ini beneran Arya yang ngomong? Kok kamu jadi kayak Aa’ Gym kw super gini?”

“Salma… Kamu kenapa sih? Beneran terserang pre-marital syndrome nih kayaknya, hehehe…”

“Ini kayak bukan Arya banget. This is sooo not you.”

People do change, Salma. Rugi amat kalau sampe detik ini aku begini-begini aja. Terus mengejar pada dunia yang bagaikan minum air di lautan. Semakin diminum, rasanya semakin haus kan?”

“Nggh, maksud kamu?”

Arya berganti posisi. Ia berdehem sejenak, lalu menghembuskan napas perlahan. Tampak, balon uap ala-ala semburan napas orang-orang di Eropa.

“Begini. Sejak kuliah di Oxford, aku gabung di semacam lembaga kajian keislaman lokal. Ada ustadz yang menyemangati aku untuk terus aktif di forum ini. Apalagi, tahu sendiri kan, beberapa masyarakat masih punya stereotip buruk terhadap Islam. Beberapa, bukan semua. Nah, kami-kami yang masih muda ini ditugasi untuk membimbing mualaf, lalu charity ke panti jompo ke tempat orang-orang nggak mampu. Semacam itu. Dan, aku makin bangga jadi orang Islam…”

Oh. Apa karena itu, kamu sama sekali nggak mengontak aku, selama tinggal di Inggris?

“Nah, masalah jodoh dan sebagainya juga kerap dibahas di kajian. Tadinya aku juga sempat protes, kenapa kok aku tak bisa berjodoh dengan perempuan yang aku mau? Lalu aku mencoba menenangkan diri. Bahwa, tidak semua hal yang menurut kita baik, adalah hal yang juga baik di mata Allah. Kita tidak pernah tahu, bagaimana rahasia yang sedang dipersiapkan Allah untuk kita. Karena itu, aku belajar untuk ikhlas. Dan mendoakan saudara seimanku yang sedang berusaha menyempurnakan separuh agamanya…”

Buru-buru kupencet tombol sign out. Lalu kukirim pesan pada Arya, lewat emailnya. “Maaf, lagi fakir bandwith. Gak bisa skype-an lagi. Makasih ya. Salam buat Joachim Low.”

Aku mengetik sembari menahan derasnya air mata, yang tak bisa kubendung. Plus, perihnya hati yang demikian mengiris.

***

“Salmaaaa…” suara cempreng terdengar lagi. Itu kan, suara Tante Brin? Loh, dia udah balik dari Pekalongan? Sama Raditya juga? Dan, siapa itu? Seorang perempuan berwajah teduh, yang selalu menundukkan pandangan.

“Eh, tante… Masuk, masuuuk… Engggh, monggo, silakan masuk, tante…” aku berkata pada di perempuan berwajah teduh itu.

“Ini ibundanya Raditya. Ada yang ingin kita bicarakan. Penting. Pake bingits. Ibu kamu mana?”

“Ada. Bentar ya, aku panggil bentar. Monggo, monggo…”

Aneh. Ada sesuatu yang aneh. Wajah Radit begitu tegang. Sementara ibundanya tampak begitu layu. Entahlah, ada apa sebenarnya? (b e r s a m b u n g)

PS: Apabila Anda ingin membaca #BIMBANG edisi sebelumnya, silakan klik: https://bukanbocahbiasa.com/category/fiction/

Advertisements

34 thoughts on “[Fiction] BIMBANG (part 6)”

    1. Hihihi… ini mah iseng2 maaak :)) Hayuk hayuk coba nge-fiksi juga… InsyaAllah minggu besok aku ikut kampusfiksi di Balai Pemuda. Jadi gak bisa kopdar blogdetk #sundaysharing deh. Hiks.

  1. Mbakyuuu. tadi aku nemu ini:
    “… aku menangkan nada nyinyir…”, maksudnya menangkap kah?
    Btw apakah Raditya ini sodara seayah beda ibu sama Salma?

    1. Jreeeeenggg :)) Daniiii… dikau selain berbakat jadi banker slash blogger juga bakat bingits jadi editor naskah buku!! Printhilan gini kethoook ae :))

      Yang soal Raditya, hohoho… tunggu di part berikutnya. Don’t miss it! Peace, love, and gaoool **serasa balik ke Planet Remaja taon ’90-an**

  2. Mbaaaaaaaaak, langsung nanti malem aja di post yang selanjutnyaaaaaah *pembaca brutal dan nggak sabaran.
    O ya mbak, bagai minum air lautan itu sama kayak rasanya aku tiap abis ngabisin duit buat beli sepatu, sepatu dan sepatu lagi, hihihihi

  3. Kalo soal fiksi, Nurul jagonya. Mulai SMA, cerpen-cerpennya udah sliwar sliwer di majalah-majalah remaja dan koran remaja. Pokoke top markotop emak e Sidqi iki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s