Ingat Mati bersama Diana Rikasari

Siapa sih yang enggak kenal Diana Rikasari?

Nih blogger paling kondang bambang gulindang seantero bumi pertiwi deh. Doi kan fashion blogger yang punya ciri khas tersendiri. Sangat-sangat colorful. gemar main tabrak warna, gayanya rada-rada childish, tapiiiii kok ya (menurut saya) tetep enak dilihat yak? Kalo doi yang make baju-baju atau konstum apapun itu, rasanya pantes-pantes wae.┬áCoba deh, eikeh yang pake. Dikira badut ancol lagi nyasar dah ­čśŤ

Intinya, saya suka ama profil Diana. Apalagi, kalo baca blognya, widiiih… Diana itu bisa banget meramu segala hal menjadi postingan yang membangkitkan semangat! Blognya itu semacam etalase kepribadian dan karakter doi. Serba girly, dominan warna pink, imut nggemesin gitu deh.┬áDiana juga sering┬ámenampilkan Quotes yang #HakJlebbb. Lebih asoy lagi, quotes itu doi kumpulin. Trus, Diana kerjasama dengan Dinda (ilustrator) untuk menerbitkan BUKU yang berisikan aneka Quotes penyemangat hidup!

Udah pada tau kaaan, bukunya? Yep. Buku berjudul #88LOVELIFE. Yang best seller di Indonesia Raya, plussss udah melanglang buana sampe Malaysia dan Belanda segala! Good job, Diana-Dinda, really proud of ya!! **sok ikrib**

IMG_20150613_162450 IMG_20150613_164033

Saking ngefansnya ama Diana Rikasari, saya juga follow dan sering stalking akun IG (Instagram)nya. Ternyataaaa… doi ada acara meet & greet di Ciputra World, Surabaya! Wiiiih, bergetar hatikuh. Langsung deh, ngajak Sidqi dan bapaknya untuk cusss ke sana.

Sebagaimana┬áacara pada umumnya, walopun di IG disebutkan kalo mulai jam 2 siang, ternyata jeung Diana-Dinda baru nongol jam 4 sore-an. ­čÖé┬áLangsung dibuka forum tanya jawab ama dedek dedek unyu plus tante-tante lupa umur seperti dirikuh tentang apaaaaa saja.

Perhatiin kostum doi deh. Anting2nya... Topinya.... Tas selempangnyaaa... Ada sedotannya cyiiin!
Perhatiin kostum doi deh. Anting2nya… Topinya…. Tas selempangnyaaa… Ada sedotannya cyiiin!

Ada yang nanya “Inspirasi datang dari mana?” –> ((enggak ada pertanyaan lain, mbak?┬áhuehehe))

Ada yang nanya “Abis gini mau bikin buku apa lagi?” errrrr….. ya wis, pokoke semacam itu deh.

Yang menarik adalah, salah satu dedek mengajukan pertanyaan seperti ini, “Bagaimana cara kak Diana mensyukuri hidup?”

Simple questions, but…. really hard to answer ­čÖé

Bukan Diana Rikasari kalau memberikan jawaban ala kadarnya.

Dari pertanyaan yang (nampak) sederhana itu, dia manggut-manggut sebentar, lalu menukas, “Buat saya, apapun yang kita lakukan, we have to do our best. Soalnya, kita enggak pernah tahu kan, kapan kita akan mati. Jadi saya selalu berpikir begini, kalaupun suatu hari nanti saya mati, paling tidak, saya sudah melakukan hal-hal terbaik yang bisa saya lakukan selama hidup di dunia ini. Dalam bekerja, berikan hasil terbaik. Sebagai ibu, lakukan yang terbaik untuk anak. Sebagai istri juga begitu. Itu cara kita mensyukuri hidup. Sehingga, ketika kita meninggal nanti, kita akan dikenang sebagai orang yang sudah memberikan pencapaian dan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita, atau untuk siapapun itu.”

Semriwiiiiing…..

Merinding saya, denger jawaban Diana. Dia mensyukuri hidup dengan cara mengingat kematian.

Luar biasa ­čÖé Awesome. Super sekali!

Pengunjungnya unyu-unyu kabeeeh :)
Pengunjungnya unyu-unyu kabeeeh ­čÖé

Kadang-kadang, kita hanya mengaitkan kematian ketika melakoni ibadah ritual saja kan? Atau, malah, kadang, saking happy-joy-nya kita hidup di dunia, nyaris sama sekali nggak ada kesempatan untuk dzikrul maut atau mengingat mati. Yang lebih ironis lagi, pas ada orang meninggal, beberapa manusia malah memanfaatkan momen untuk selfie-selfie. Inget yang kasus ibu2 selfie di depan TKP jatuhnya  Hercules tempo hari? Atau, selfie-selfie di depan makam Olga? Hiks.

Diana juga kasih semangat buat pengunjung untuk depend on ourselves. “Pada akhirnya, kita nggak bisa bergantung ke siapa-siapa. Ayah kita, suami kita, mereka kan juga punya kelemahan, kekurangan, dan sama-sama bisa meninggal kan? Jadi, kita sendiri yang harus bertanggungjawab atas hidup kita. Jangan mengandalkan orang lain. Justru semangati diri sendiri agar lebih disiplin lagi, bisa membagi waktu dengan baik, bertanggungjawab, dan insyaAllah, kesuksesan itu menjadi milik kita.”

Aaaah…. Diana. Nice to meet you, thanks much udah ngingetin tentang kematian dengan cara yang “anti-mainstream” banget. Yep, ingat mati bukan di pengajian. Tapi, malah di acara meet and greet di mal ­čśŤ

Sukaaa dengan filosofi yang udah kamu tularkan. Semoga kita juga bisa ikutan semangat dan independen seperti jeung Diana yak.

Btw, kalo ada yang nanya, mana foto aku bareng Diana? So sad. Sidqi keburu ngajak main di Fun World. Walhasil, sebagai emak yang baik walau sering ngomel-ngomel dan nyap-nyapin Sidqi, aku udah kudu cabut duluan dari acara ini.

See you next time, Diana…! (*)