parenting, sekolah

Soal kelas 3 SD yang Bikin Pusing Pala Emak

Mumpung masih anget nih, mau ngedumel sekalian di blog hahahah. Semalam, saya ditodong Sidqi buat ngerjakan PR materi jam-menit-detik di buku Tema untuk kelas 3 SD. Inget ya, kelas 3 SD 🙂

Sebagai anak Teknik Informatika ITS yang desersi kemudian pindah ke jurusan lain saya ngerasa optimis bisa menyelesaikan soal kelas 3 SD dong. Gampiiil banget mah. 

Nomor 1, kelar. 

Nomor 2, beres. 

Nomor 3….. errrr… wait wait… iki maksude opo?

Soal nomor 3

Dayu meminta Udin dan Edo membuatkan kandang kelinci dari kayu. Udin bekerja selama 1 jam 30 menit. Edo bekerja 1 jam 45 menit. Berapa menitkah mereka bekerja bersama-sama? 

Sempat nggeliyeng baca soal nomor 3, lah kok dihantam lagi oleh mbuletisasi yang dipersembahkan oleh soal nomor 5 😦

Soal nomor 5

Jika Udin dan Edo bertugas merawat ayam setiap hari selama 2 jam 30 menit. Edo bekerja setiap hari 1 jam 45 menit. Berapa Jam dan Menit, mereka bersama-sama bekerja selama tiga hari? 

 

Errrrr…. saya mah emak yang anti pencitraan *blahh* terus terang, aku bilang ke Sidqi, “Ibuk bingung. Gak ngerti maksud soal ini apa?” 

Trus, aku ngelempar pertanyaan ke grup WA wali murid kelas 3. Beberapa emak menyambut dengan asumsi masing-masing. Pokoke, ada yang berpendapat “Itu kan tinggal dijumlahin aja…” ada yang pakai logika matematika ala dasar logika pemrograman 

Semakin malam, saya makin clueless. Ngelempar pertanyaan ke temen-temen di FB. Jawaban mereka? Ooooh, sungguh meriaaah, bikin pecaaaah!

FB-1

fb-2

fb-3

Sekali lagiiii, ini soal buat anak kelas 3 SD loh yaaa… KELAS TIGA SD…..! *sigh*

Sidqi udah bete surete banget. Bolak/balik dia menghapus hasil hitung-hitungan di bukunya. 

Aku kirim WA ke gurunya, “Pak, ini saya bingung dengan soal nomor 3 dan 5. Maksudnya gimana?”

Kuatirnya, aku udah ngajarin “logika matematika versi aku” tapi ternyata beda persepsi dengan logika gurunya. 

Gurunya Sidqi jawab lempeng ajah. “Besok saja Bu, langsung saya jelaskan ke anaknya secara langsung. Dikosongi saja.” 

Sidqi udah bobok pulessss, aku masih pusing mikirin PR dia. Karena yeah, soal ini rentan MULTI-INTERPRETASI. Aneh banget, emang. 

Karena mumet plus bonus insomnia, saya nge-tweet ke akun @bukik 

Oleh bapak psikolog yang super inspiring ini, tweet saya di RT ke para profesor matematika! @hgunawan82 dan @iwanpranoto 

Screenshot_2016-02-25-08-29-51Screenshot_2016-02-25-08-31-45Screenshot_2016-02-25-08-32-31Screenshot_2016-02-25-08-32-39

Enough, enooooughhh…!! *jambak jambak rambut** **banting BUKU NOVEL yang pada akhirnya tergeletak pasrah di lantai 😛 

 

***

Baca PR Sidqi ini, serasa de javu ke topik 4 x 6 atau 6 x 4 yang dulu rameeee banget di Facebook. Inget kan? Saya pernah nulis terkait hal ini, sampai dimuat di koran Jawa Pos segala.

Intinya, gini lo.

Kepada para pembuat kebijakan kurikulum, 

Kepada penyusun buku tema, 

Kepada segenap insan-insan brilian yang berkecimpung di dunia pendidikan Indonesia. 

Boleh-boleh aja sih, kalau memang mau “menantang talenta” atau… “men-challenge IQ” atau…. “uji coba nalar berpikir” anak-anak Indonesia raya. Silakan! Silakan!

Tapiiii, mbok yaaa.. plis plis plisss… perhatikan rentang usianya juga. Kelas 3 SD, kenapa harus dibombardir dengan pertanyaan seperti ini, di mana orang tua dewasa seperti saya aja masih klepek-klepek kebingungan? Kenapah? Kenapah? Jawab, Bang…! Adek lelah, Bang…!

Seharusnya, para perumus soal bisa menyajikan kalimat yang lebih mudah dicerna. Tidak ambigu. Tidak menimbulkan multi-interpretasi sana-sini. Lebih baik, berikan saja soal yang mengasah logika “sesuai usia”. Mungkin adaaaa anak umur 3 SD yang apa istilahnya…..prodigy? Pokoke jenius luar biasa gitu lah. Tapiii, mayoritas siswa kelas 3 SD juga keliyengan dong, kalo disuguhi soal semacam ini. 

Saya bukannya pengin menghindarkan anak dari tantangan, nope.

Justru Sidqi malah SEMANGAT BANGET belajar di kelas 3 SD ini. Dan dia selalu punya ambisi untuk bisa menyelesaikan soal, dengan rumus paripurna plus hasil yang perfecto! 

Tapi, manakala disodori soal yang agak “ajaib”, bagaimana ortu mediokre seperti diriku ini memberikan encouragement buat sang buah hati? *sigh*

Enggak sabar nunggu Sidqi pulang sekolah. Penasaran banget, gimana cara wali kelasnya memberikan penjelasan dan jawaban atas soal yang super complicated ini. 

In the mean time, plis plis… mohon dengan amat sangat, supaya Pak Anies Baswedan dan seluruh timnya lebih wise lagi dalam menyajikan soal-soal buat bocil. 

Jangan bikin bocil trauma matematika deh. 

Okeh. Sekian curcol hari ini. SEMANGAT PAGI! :))))

DSC04377
Sarapan pagi duluuuu… biar gak salah paham #eh 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

34 thoughts on “Soal kelas 3 SD yang Bikin Pusing Pala Emak”

  1. Kedua soal itu memang pertanyaannya gak jelas, level anak kelas 3 SD cenderung mengartikan bahwa sejak menit pertama mereka sudah bekerja bersama-sama, dan mereka gak peduli apa manfaatnya menghitung berapa menitkah bekerja bersama-sama.

    Membuat soal harus sudah ada dalam pikiran bahwa “apa manfaatnya soal yang akan dibuat itu bagi anak”. Jadi tidak ngasal ngasih contoh soal.

  2. You are not a mediocre parent mbakyu. You are an amazing one. Ini soalnya yang emang keterlaluan. Jamanku kelas 3 aja pertanyaan masih soal cerita beli satu permen tiga perman dan berujung berapa permen yang dibeli. Ini mah pelajaran anak kelas 6 ato satu smp jaman dulu. Our kids don’t need this. They need their playing time dan gimana belajar sopan santun dan unggah ungguh sama orang tua. Aslik sedih bacanya makanya kemaren gak mau komen di postingannya njenengan. Spikles. Hiks.

  3. yang tiap akhir semester stress di sini malah emaknya… perasaan dulu belajar biologi, ngapalin bagian2 mata, jantung, paru2, tulang2, sampai bagian2 daun, dan pernafasan belalang itu jaman SMP. belum lagi ngitung daya, arus listrik, dll.. ya ampun pusiiiingggg

  4. Menurut saya ya mbak… kedua soal tersebut masih wajar untuk anak kelas 3 SD, hanya saja jika kedua soal itu lebih lengkap. Dengan ditambahi “Waktu start mereka bekerja bersamaan (bukan sistem shift)”, logikanya akan lebih mudah…

    Jawaban soal no. 3: 90 menit (waktu mereka kerja bersama), 15 menit sisanya edo kerja sendiri (karena udin udah selesai)

    Jawaban no 5: 105 menit (waktu mereka bekerja bersama) dikali 3 hari = 315 menit.

    Intinya, soal-soal itu hanya kurang lengkap saja…

  5. Nahh mba. Ini terlalu. Karena aku juga ngerasa sebagai korban kurikulum masa kini dan kurikulum bimbel…jadinya pas sekarang dikasih ksempatan ngajar mahasiswa..sistemnya beda. Aku ga mentingin mereka ngafal rumus..ujian open book. Bahan ajar juga ngga jlimet yang penting mereka tahu kaitan sama kehidupan nyata

  6. Maaf, ndak setuju—bukan ortunya yang medioker, tapi yang bikin soal yang ndak memenuhi syarat. 🙂 Semoga menteri yang sekarang berhasil dengan upaya pembenahannya. 🍸

  7. Saya juga gk ngerti kalau udah soal begituan, gagal paham dari awal soalnya.. jadinya kepikir, apa baiknya anak di suruh sekolah di kampung saja ya, gak punya banyak pr, tugas ini itu, les ini itu, tapi mereka bisa bermain sepuasnya, toh sambil bermain, mereka tetap belajar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s