Begini Caraku Tunjukkan Cinta pada Ibunda

Tanah kubur Ibuku sudah mulai mengering. Matahari Surabaya sepertinya sedang garang-garangnya. Kuusap peluh yang mulai membanjir. Jilbab abu-abu kesayangan Ibu, yang kini kukenakan, mulai tampak noktah keringat di sana sini.

Ibu berpulang setahun lalu. Sudah 365 hari aku tak lagi punya Ibu. Tapi aku masih ingat setiap detil rasa sakit yang Ibu rasa di hari-hari terakhir beliau. Memori itu masih tersimpan di laci ingatan, tatkala Ibu harus berperang melawan nyeri, yang sekonyong-konyong hadir di rongga paru-paru beliau. Ibu kesakitan. Tapi dalam sakitnya, tak sekalipun ia mengeluh, ataupun menyalahkan takdir Sang Maha.

Baca: Surat untuk Ibu

Ibu memegangi dada beliau, yang ditusuk gelombang sakit akibat kanker yang terus merajam, beranak-pinak dan out of control. Ia tidak mengeluh. Ia tidak bertanya, “Ya Allah.. Apa salah saya? Kenapa harus saya?”

Ibu hanya bergumam pelan… “Laaa Ilaaha Illa Anta…. Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin…”

Continue reading

Advertisements

Lebaran Usai, Lalu?

Libur lebarannya udah (nyaris) kelar, mameeeennn…!

Yuk, yuk, kembali ke dunia nyata 🙂 Eniwei, sudah bertahun-tahun merayakan Lebaran, saya tak kunjung paham apa esensinya 🙂 Mudik, ketemu banyak orang, minta maaf pada orang yang bahkan kita nyaris tak pernah berinteraksi dengan mereka (dan itu artinya, aku ga punya salah dong, ke mereka) bahkan BANYAAK, BANYAK BANGET yang namanya pun tak aku tahu 🙂 Hanya ibu dan eyang menjelaskan bahwa mereka itu SAUDARA. Dan, yuk mari kita maaf-maafan.

Continue reading