Begini Caraku Tunjukkan Cinta pada Ibunda

Tanah kubur Ibuku sudah mulai mengering. Matahari Surabaya sepertinya sedang garang-garangnya. Kuusap peluh yang mulai membanjir. Jilbab abu-abu kesayangan Ibu, yang kini kukenakan, mulai tampak noktah keringat di sana sini.

Ibu berpulang setahun lalu. Sudah 365 hari aku tak lagi punya Ibu. Tapi aku masih ingat setiap detil rasa sakit yang Ibu rasa di hari-hari terakhir beliau. Memori itu masih tersimpan di laci ingatan, tatkala Ibu harus berperang melawan nyeri, yang sekonyong-konyong hadir di rongga paru-paru beliau. Ibu kesakitan. Tapi dalam sakitnya, tak sekalipun ia mengeluh, ataupun menyalahkan takdir Sang Maha.

Baca: Surat untuk Ibu

Ibu memegangi dada beliau, yang ditusuk gelombang sakit akibat kanker yang terus merajam, beranak-pinak dan out of control. Ia tidak mengeluh. Ia tidak bertanya, “Ya Allah.. Apa salah saya? Kenapa harus saya?”

Ibu hanya bergumam pelan… “Laaa Ilaaha Illa Anta…. Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin…”

Doa Nabi Yunus yang selalu lirih ibu ucapkan. Selalu. Dan aku pamit keluar sebentar dari ruang opname Ibu… berpura-pura menerima telepon entah dari siapa, hanya untuk menuntaskan air mata yang menggerojok tanpa diminta.

Ibuku sudah pergi. Ia berangkat lebih dulu. Meninggalkan kami, anak-anaknya, yang tak terlampau paham, dengan cara apa dan bagaimana kami bisa mengikuti jejak amal shalih sedemikian rupa, yang telah ia goreskan sepanjang perputaran roda hidupnya?

***

”Salah satu di antara rahmat yang Allah berikan kepada orang yang beriman adalah mereka bisa saling memberikan kebaikan, sekalipun harus berpisah di kehidupan dunia. Karena ikatan iman, Allah abadikan sekalipun mereka sudah meninggal.

Doa mukmin yang hidup kepada mukmin yang telah meninggal, Allah jadikan sebagai doa yang mustajab. Doa anak soleh kepada orang tuanya yang beriman, yang telah meninggal, Allah jadikan sebagai paket pahala yang tetap mengalir.

Ilmu yang diajarkan oleh seorang guru muslim kepada masyarakat, akan menjadi paket pahala yang terus mengalir, selama ilmu ini diamalkan,” sang ustadz membeberkan tausiyahnya, di hadapan seluruh jamaah Masjid kompleks kami.

Baca: Jadilah Google Local Guides dan Bersiaplah Terbang ke Amerika!

Ibuku guru. Kurasa ilmu kimia yang ia sampaikan ke murid-muridnya masih bermanfaat hingga kini dan di masa nanti. Ibuku juga hobi mengajar ngaji, for free. Banyak ibu-ibu sepuh yang belajar ngaji dari nol… dan ibuku sangat semangat membuka buku iqro, halaman demi halaman… serta membenarkan makhroj dan tajwid untuk yang udah “level intermediate”. Rumah kami tak pernah sepi dari suara para eyang putri yang tengah belajar ngaji. Nanti, di akhir kajian, Ibuku akan mengulas dengan bahasa yang amat sederhana, seputar tafsir ayat yang tengah mereka kaji hari itu. Terkadang, ia request ke aku, ”Dek, nanti tolong carikan di internet, bahasan tentang persiapan mati dan urus jenazah ya. Besok Ibu mau angkat permasalahan itu dengan ibu-ibu yang lain.”

UTI FAT SAKIT

Aku—anak bungsu yang super ngalem ini—terkadang membalas sekenanya, ”Oke, Ibu. Mugo2 aku nggak lali ya.”

Astaghfirullah. Sampai detik ini, aku belum sanggup (atau tidak mau) meneruskan jejak Ibu. Tugas-tugas di kampus lagi ‘lucu-lucunya’. Tapi, aku pasti bisa mengirimkan amal buat Ibuku, meski beliau sudah berada di alam yang tak lagi sama.

“Jadi, saudara-saudaraku… kita harus selalu berpegang pada ikatan iman. Bahkan ikatan iman ini tetap Allah abadikan hingga hari kiamat. Karena ikatan iman ini, Allah kumpulkan kembali mereka bersama keluarganya di hari kiamat. Silakan baca di QS. At-Thur ayat 21) : ‘Orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.’

Anda yang beriman, orang tua beriman, anak cucu beriman, berbahagialah, karena insyaaAllah akan Allah kumpulkan kembali di surga.”

Aku kangen Ibu. Aku ingin sekali segera berkumpul dengan Ibu. Karena itu, pas kapan hari aku dapat kesempatan naik pesawat ke lain benua, aku tunjukkan semua dokumen penting, seperti pin ATM, buku tabungan, surat-surat berharga lainnya ke suamiku.

“Opo iki? Kenapa semua ditunjukkan ke aku?”

“Aku nitip ini semua. Kalo ada apa-apa pas aku naik pesawat atau ada kejadian yang mengharuskan takdir hidupku selesai, biar nanti gampang ngurusnya.”

***

Rupanya, Allah punya kehendak yang berbeda. Belum waktunya hidupku berakhir. Aku pulang dalam kondisi sehat wal afiat, tak kurang suatu apapun. Bahkan aku bisa menyajikan artikel seputar tips dan trik untuk sholat di Amerika.

Baca: Ngetrip ke Amrik, Gimana Sholatnya

“Saudara harus bersyukur… Allah beri kita umur panjang… karena itu menjadi kesempatan agar kita tetap beramal dan menunjukkan bakti kepada orang tua. Jangan justru larut terus-menerus dalam duka. Anda boleh bersedih karena memang sedih itu manusiawi dan menunjukkan bahwa kita punya hati. Akan tetapi, Anda harus tahu dan paham, bahwa orang tua kita butuh bukti cinta kita untuk mereka. Dengan cara  bagaimana?

Dari Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, ‘Ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seseorang dari Bani Salamah. Orang ini bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara bagiku untuk berbakti kepada orang tuaku setelah mereka meninggal?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

‘Ya, menshalatkan mereka, memohonkan ampunan untuk mereka, memenuhi janji mereka setelah meninggal, memuliakan rekan mereka, dan menyambung silaturahim yang terjalin karena sebab keberadaan mereka.’ Menyambung silaturahim. Ini yang amat penting tapi kerap kita lupakan.”

Aku terpekur dalam istighfar. Ya! Kuingat wajah-wajah sahabat Ibu…. Bu Nunung… Bu Asmin… Bu Anis… Bu Yun… Bu Endang…. Mereka lah yang selalu menghiasi hari-hari Ibu… menguatkan dengan membaca doa dan ngaji bersama selama di Rumah Sakit… menjenguk dengan wajah (pura-pura) bahagia (padahal hati laksana disayat belati) dan cerita-cerita konyol lainnya, supaya Ibu tak merasa sendiri.

Aku tahu apa yang harus kulakukan. Pedih itu boleh jadi masih singgah, tapi Ibuku butuh wujud nyata, bahwa aku, putri kesayangannya bakal melakukan nasihat Rasul, untuk membuat amal baik ibuku kian bertambah.

“Ibu… aku pulang dulu yaa… Aku mau silaturahim ke rumah teman-teman Ibu. Paling nanti aku minta Mbak Lala, menantu Ibu buat bikin ayam panggang. Buat dianter ke rumah Ibu Nunung dan yang lainnya juga. Ibu…. Makasih udah jadi ibu yang baik. Semoga aku bisa sekuat Ibu.” (*)

Ini adalah collaborative blogging Grup Rini Soemarno. Baca juga artikel rekan-rekan saya ya

Ike Yuliastuti: Mencintai Suami Lebih Muda

Maria Soraya  : Pilar Penting Mewujudkan Rumahku Surgaku 

Yurmawita : Memilih untuk Dicintai dan Mencintai

Kanianingsih : Tips LDR 

 

 

 

 

 

Advertisements

8 comments

  1. kania · 21 Days Ago

    sedih bacanya, saya baru aja liat banyak uban di rambut, serasa diingatkan maut 😦

  2. kegagalau · 21 Days Ago

    Sedih Ka. Yang tegar ya ka. Manusia abadi dalam pikiran dan karyanha di dunia walau bentuk fisik sudah tiada.

  3. lfitriany · 21 Days Ago

    Terharu..

  4. titialfakhairia · 20 Days Ago

    turut berduka ya mba, semoga ibu tenang di alam sana

  5. Agung Rangga · 20 Days Ago

    Saya jadi kangen dengan Mama saya. 😦

  6. vlaurentina · 17 Days Ago

    Tumor paru itu pasti sakit sekali ya.. 😦

  7. Maria Soraya · 10 Days Ago

    makasih sharingnya mak nurul … enjleb

  8. Pingback: Ini Lho 3 Pilar Penting Untuk Mewujudkan Rumahku Surgaku | mariasoraya.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s