Muhammad Assad : Tekad Menjadi Mu’min yang Kuat

“Muda berkarya, tua kaya raya, mati masuk surga”.

Tidak sedikit, orang yang punya cita-cita seperti kalimat barusan. Siapa yang tak mau? Menjadi manusia penuh karya, berharta di atas rata-rata, sibuk beramal kebaikan, hingga akhirnya, surga menjadi hadiah untuknya? Slogan ini boleh jadi, amat cocok disematkan pada seorang Muhammad Assad. Usianya masih 27 tahun. Namun, pria berkepala plontos telah melakoni bisnis yang luar biasa. Ia adalah CEO Rayyan Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang investasi syariah, bisnis travel dan restoran. Ya, dunia bisnis memang menjadi passion putra bungsu Abdul Mughni dan Revy Tharmidi ini. Assad merampungkan kuliah S-1 di program Sistem Informasi Bisnis University of Technology Petronas, Malaysia. ”Saya mendapat beasiswa dari Petronas. Lanjut S-2-nya, saya ambil Islamic Finance di Qatar Faculty of Islamic Studies, atas beasiswa dari Emir Qatar, His Highness Sheikh Haad bin Khalifa Al-Thani,” ungkap alumnus MAN Insan Cendekia Serpong Tangerang ini.

Image

Usia muda, cerdas, semangat menyala-nyala. Assad menuangkan pengalaman hidupnya, plus mengaitkan dengan nilai-nilai Islam dalam buku bertajuk “Notes from Qatar”. Assad juga mengangkat profil 99 muslimah berhijab, yang ia kemas dalam buku “99 Hijab Stories”. Profil para hijabers itu ditayangkan dalam acara berjudul sama, di TVOne setiap Ahad sore. Saya sempat berbincang sejenak dengan peraih penghargaan mahasiswa terbaik dari Mahathir Mohammad.

Kenapa harus berbisnis? Apa yang membuat seorang Assad begitu bersemangat berbisnis?

Di mata saya, setiap mu’min itu harus kaya. Dalam salah satu sabdanya, Nabi berpesan, “Mu’min yang kuat lebih dicintai Allah dari mu’min yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersemangatlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah dan jangan merasa malas, dan apabila engkau ditimpa sesuatu maka katakanlah “Qodarulloh wa maa syaa’a fa’al, Telah ditakdirkan oleh Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.”

Allah lebih suka mu’min yang kuat. Tentu bukan hanya kuat secara fisik, tapi harus kuat secara materi. Coba kita lihat sahabat Utsman bin Affan, beliau itu raja poperti. Abdurrahman bin Auf, meninggalkan warisan senilai 6000 trilyun, kalau dikurskan ke rupiah saat ini. Rasul, ketika melamar Bunda Khadijah, memberikan mahar 100 ekor unta. Subhanallah, Islam itu harusnya identik dengan kaya. Yang jelas, menjadi kaya itu oke, tapi pertanyaannya, bagaimana kita memanfaatkan kekayaan dan harta yang kita punya untuk umat. Pada dasarnya, uang itu benda yang netral. Bagaimana kita menggunakannya, itulah yang menentukan apakah kita masuk surga atau neraka.

Bagaimana Assad memaknai konsep rezeki?

Rezeki itu kata dasarnya ‘rizq’ hampir mirip dengan ‘risk’ yang dalam Bahasa Inggris, berarti resiko. Artinya, semakin besar resiko yang kita hadapi, maka insyaAllah semakin besar rezeki yang bakal kita dapatkan. Hidup ini memang penuh dengan resiko kan? Bahkan sejak lahir, selalu ada resiko yang kita hadapi. Menurut saya, ada 3 (tiga) tipe rezeki. Pertama, rezeki yang sudah dijamin oleh Allah. Firman Allah dalam QS Huud:6, “Allah menjamin rezeki seluruh makhluk tanpa terkecuali.” Allah Maha Kaya dan Maha Baik. Siapa saja, orang kaya-miskin, baik-jahat, tua-muda, PASTI diberi rezeki oleh Allah. Tipe kedua, rezeki yang digantungkan. Rezeki ini hanya bisa didapat ketika seseorang berusaha. No pain, no gain. Persis seperti apa yang difirmankan Allah di QS Ar-Ra’d:11. Bekerja adalah ibadah, bekerja adalah aktivitas mulia. Tipe ketiga, rezeki yang dijanjikan. Rezeki ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan formil. Rezeki ini berhubungan dengan amal ibadah dan kebaikan yang kita lakukan. Salah satunya, ibadah sedekah. Life is all about giving. Tidak pernah seseorang dihormati karena apa yang ia terima. Kehormatan adalah penghargaan bagi mereka yang telah memberikan sesuatu yang berarti. Ketika bersedekah, tubuh kita akan mengeluarkan hormon endorfin. Rasul kita orang yang sangat dermawan. Tidak pernah ada orang yang minta kepada beliau dan tidak diberi.

Bagaimana cara memotivasi diri agar kian rajin dan semangat dalam bersedekah?

Memang sedekah butuh keyakinan. Sedekah yang kita lakukan tidak serta merta diganti oleh Allah, berupa harta. Terkadang sedekah kita diganti dengan kebaikan yang lain. Misalnya, selama setahun, badan kita sehat, sama sekali tak pernah opname di RS. Percayalah, tatkala kita bersedekah, maka pintu rezeki kita terbuka. Kalaupun tak diganti di dunia, maka akan jadi amal akherat kita. Sedekah tidak akan bikin kita miskin. Coba lihat orang-orang kaya di dunia. Bill Gates, misalnya. Tahun 2005, ia menyedekahkan 50% kekayaannya. Tapi, tidak pernah terlempar dari 3 besar orang terkaya di dunia. Warren Buffett juga begitu. Ia sedekah 80% dari kekayaannya, yang kalau di-rupiahkan, senilai 310 Trilyun! Orang kaya yang senang berbagi tidak akan kehilangan kekayaannya.

Orang-orang muslim yang rajin bersedekah juga semakin kaya. InsyaAllah, ini karena hartanya berkah. Satu hal yang perlu saya garisbawahi. Kita jangan mematok angka 2,5 % sebagai takaran sedekah. Justru, 2,5% itu angka zakat. Bukan angka sedekah kita. Zakat itu berperan untuk membersihkan harta, sementara sedekah menyuburkan harta yang kita miliki. Karena itulah, sedekah yang kita keluarkan harus lebih besar dari 2,5%. Ketika ayat Al-Qur’an memerintah kita untuk ‘menafkahkan sebagian harta…’ maka kita harus meneladani sikap Rasul dan para sahabat. Bahwa, yang kita infakkan mestinya ‘sebagian besar’, bukan ‘sebagian kecil’. Sedekah itu bukan perkara BISA atau TIDAK. Melainkan perkara MAU atau TIDAK. Ikhlas tidak ikhlas, ayo kita sedekah terus. InsyaAllah, keikhlasan itu akan ditumbuhkan di hati kita.(*) 

Aam Amiruddin: Tips ‘Ngobrol Asik’ Ortu dan Anak

“Kok, anak zaman sekarang susah diatur ya? Berani ngelawan orangtua? Beda banget dengan anak-anak zaman dulu…”

Image

Sering dengar keluhan semacam ini? Kalau melihat tren perkembangan anak dan remaja, kita semua memang patut mengelus dada. Menjadi orangtua di era kekinian sama sekali bukan hal yang mudah. Sejumlah orangtua mengeluhkan perilaku anaknya yang kian temperamen. Nah, liburan akhir tahun kemarin, saya sempat ikuti kajian Ustadz Aam Amiruddin. Sebagai ustadz pemateri acara religi di TVOne, RCTI, SCTV dan Trans TV, Aam akrab dengan beragam curhat jamaahnya seputar parenting. Yuk, simak obrolan dengan Ketua Pembina Yayasan Percikan Iman ini.

Ustadz, sebenarnya mengapa anak-anak sekarang begitu gampang ‘naik darah’ dan amat sulit dikendalikan orang tua?

Mengapa anak temperamental? Kita tidak bisa menuding hanya dari satu aspek saja. Karena, karakter anak terbentuk sejak dalam kandungan. Maka dari itu, ketika seorang wanita sedang hamil, usahakan temperamen ibu hamil (bumil) tidak naik. Orang kalau marah, hormon adrenalin melewati ambang batas. Hormon masuk plasenta, sehingga bayi ikut marah. Kalau bumil sering marah, maka bisa menyebabkan anak menjadi temperamental.

Jadi, ketika anak kita kerap naik darah, coba lihat masa lalu, kita flash back sejenak. Ibunya sering marah atau tidak? Bagaimana dengan lingkungan tempat anak kita bertumbuh kembang? Apakah anak kita dibesarkan di lingkungan yang juga keras dan kasar?

Kalau orangtua mengajarkan dengan cara yang keras, dengan berteriak, “Sholaaaat!!!” maka anak kita pasti akan belajar untuk menjawab dengan cara serupa, “Bentaaaarrrr!!” Jadi, bentakan dibalas dengan bentakan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Misal anak main game, pas masuk waktu sholat. Elus punggungnya. Kita ajarkan bagaimana cara bernegoisasi. “Tadi kan sudah ibu kasih waktu main game selama 10 menit. Sekarang, ayo kakak berhenti dulu main game-nya. Sholat berjamaah dulu.”

Ingatlah, ibu-bapak, kalau anak dibesarkan dengan caci maki, maka ia akan belajar berkelahi. Kalau anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia akan belajar percaya diri. Besarkan anak kita dengan cinta kasih, supaya ia tidak menjadi anak yang temperamen tinggi.

Apa tips komunikasi yang bisa dibagikan pada kami?

Al-Qur’an sudah menjabarkan 6 (enam) strategi komunikasi yang harus dijalankan antara orangtua dan anak. Yang pertama, Qaulan Sadida, artinya perkataan yang benar, baik berdasarkan aspek isi, maupun cara penyampaian. Artinya, saat berbicara kepada anak, isi pembicaraannya harus benar menurut kaidah ilmu. Kalau anak bertanya, orangtua jangan asal menjawab, sebab bisa jadi jawaban kita itu salah menurut kaidah ilmu.

Misalnya, “Mama, kenapa ikan kok matanya nggak berkedip padahal ia ada di air?” Ibunya menjawab, ”Emang maunya gitu. Kamu yang gitu aja kok ditanyakan?” Ini adalah contoh jawaban yang asal-asalan dan tidak benar menurut kaidah ilmu.

Kalaupun orangtua tidak bisa menjawab pertanyaan anak, lebih baik berterus terang sambil memuji pertanyaan itu. Katakan, “Aduh sayang, pertanyaan kamu hebat sampai Mama nggak bisa jawab. Nanti kita cari jawabannya di buku ya.” Jawaban seperti ini adalah qaulan sadida.

Yang kedua, Qaulan Baligha. Artinya, perkataan yang berbekas pada jiwa. Agar ucapan berbekas pada jiwa anak, kita harus memahami psikis atau kejiwaan anak. Orangtua yang baik pasti mengetahui karakter anak-anaknya. Perkataan orangtua akan bisa menyentuh emosi atau perasaan anak, apabila mereka memahami karakter anaknya.

Yang ketiga, Qaulan Ma’ruufan. Perkataan yang baik, yang penuh dengan penghargaan, menyenangkan dan tidak menistakan. Apabila kita menemukan kesalahan dalam perilaku atau ucapan anak, tegurlah dengan tetap menjaga kehormatan anak, jangan dinistakan di depan orang banyak.

Yang keempat, Qaulan Kariiman. Perkataan yang mulia, yang memberi motivasi, menumbuhkan kepercayaan diri, perkataan yang membuat anak bisa menemukan potensi dirinya. Misal, ada anak yang mengeluh pada orangtuanya karena nilai fisika selalu jelek. Ayahnya berkata, “Waktu SMP, nilai fisika ayah juga selalu jelek. Tetapi, sekarang ayah malah jadi guru besar fisika. Ayah yakin kamu bukan bodoh, tapi belum menemukan teknik belajarnya.”

Ini contoh ucapan yang qaulan kariiman, ucapan mulia yang penuh motivasi. Apa contoh yang tidak qaulan kariiman? Ortu yang komentar, “Emang kamu nggak ada bakat di fisika, sampai kapan pun pasti jelek nilainya.” Hati-hati, ucapan ini bisa membunuh semangat dan karakter anak.

Yang kelima, Qaulan Layyinan. Perkataan yang lemah lembut. Ucapan lembut mencerminkan cinta dan kasih sayang, sementara ucapan kasar mencerminkan kemarahan dan kebencian. Islam mengajarkan kita layyin alias lembut, penuh cinta dan perhatian.

Dalam riwayat Imam Ahmad, diungkapkan bahwa Rasulullah bertemu dengan seorang sahabat yang sangat melarat. Rasul bertanya, “Mengapa kamu mengalami kesengsaraan seperti ini?” Sahabat itu menjawab, ”Ya Rasulullah, saya mengalami kemelaratan ini karena selalu berdoa, ’Ya Allah, berikanlah kepadaku kemelaratan di dunia, sehingga dengan kemelaratan itu aku bisa bahagia di surga.”

Mendengar jawaban ini, Rasul bersabda, ”Inginkah aku tunjukkan doa yang paling baik? Robbanaa aatina fid dunya hasanah, wafil aakhirati khasanah wa qinaa ‘adzaabannar (Ya Allah, berikan kepada kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akherat serta jauhkan kami dari azab neraka).”

Coba kita perhatikan kasus tersebut. Doa yang diucapkan sahabat itu salah. Ia minta melarat di dunia, karena berharap kebahagiaan di akherat. Akan tetapi, Nabi tidak memarahinya. Beliau menunjukkan doa terbaik dengan penuh kelembutan. Apa hikmah yang bisa kita ambil? Dalam berkomunikasi dengan anak, bila mereka melakukan kesalahan, jangan dihadapi dengan kemarahan, apalagi menggunakan bahasa yang kasar. Gunakanlah bahasa yang lembut, penuh cinta dan hikmah.

Yang keenam, Qaulan Maysuura, perkataan yang mudah. Maksudnya, ucapan yang mudah dicerna, tidak berbelit-belit. Bisa juga bermakna ucapan yang membuat anak merasa mudah untuk melaksanakan apa yang kita katakan. Misal, ada seorang anak mengeluh bahwa belajar Bahasa Inggris itu susah.

Ada orangtua berkomentar, ”Teman Mama sekarang sekolah di Amerika. Padahal dulu, nilai bahasa Inggrisnya jelek. Tapi, ia tekun, maka sesulit apa pun pelajaran, kalau kita tekun insyaAllah jadi biasa dan akhirnya bisa.”

Inilah contoh ucapan yang maysuura, ucapan yang membuat orang yang mendengarnya merasa mdah dan ringan. Sayangnya, ada ortu yang berkomentar begini, ”Emang Nak, kalau nggak cerdas, belajar sekeras apapun tetap aja bodoh!” Inilah contoh ucapan yang tidak maysuura karena ucapannya membuat anak menjadi semakin merasa sulit, bahkan jadi putus asa. (*)

ASMA NADIA : Sebarkan Virus Bunda Anti-Galau

Image

Asma Nadia (tengah) dan saya kompak pakai jilbab pink-fuschia gitu deeh 🙂

“Cerita-cerita yang tertulis di buku saya, memang sarat pesan khususnya buat para Ibunda. Tujuannya? Tentu supaya para Ibu tidak galau. Coba bayangkan, Ibu itu kan tugas utamanya mendidik dan membesarkan buah hati. Kalau ibunya galau, gimana nasib anaknya, coba? Seorang ibu tak boleh berlama-lama lemah, sebab ada anak-anak yang memerlukan senyum dan kehadirannya di sisi mereka.”(Asma Nadia)

Siapa tak kenal Asma Nadia?

Nama yang demikian kuat bercokol di dunia sastra. Nama dan karyanya kian melanglang buana, seiring dengan aneka novel, kumpulan cerpen dan karya literaturnya yang banyak bermuatan edukasi, khususnya bagi orangtua. Banyak misi menarik yang mencuat dari ragam karya yang ia lahirkan. Yang paling menonjol adalah, bagaimana supaya kita menjadi sosok orangtua yang semakin baik dari hari ke hari.

Sebagai novelis, Asma menurunkan bakatnya ke dua buah hatinya. Eva Maria Putri Salsabila dan Adam. Mereka berdua sudah menerbitkan novel anak-anak, dengan ciri khas masing-masing. Jiwa sastrawan nan puitis begitu kuat mengakar dalam diri Caca, panggilan akrab Putri Salsa. ”Pernah, suatu ketika Caca datang dan menyodorkan kertas yang ia hias seperti penghargaan. Di kertas itu tertulis: Number One Mom, atau The Best Mom in The World. Sering juga Caca membungkus kado untuk saya, terutama kalau saya baru pulang dari perjalanan jauh berhari-hari. Kado itu berisi barang-barang lama saya, seperti kotak tisu, bingkai foto, jepit rambut. Uniknya, selalu ada kalimat penuh cinta yang tertera di bungkusnya, seperti “For My Beloved Mom”.

Kasih sayang yang tak terperi antara Ibu dan anak ini memang menggetarkan hati. Rasa sayang Caca terhadap Bundanya adalah buah dari cinta kasih yang membuncah dari orangtua kepada anak. Di tengah jadwalnya yang begitu padat, suatu ketika, Asma meluangkan waktu untuk hadir dalam pentas drama di sekolah Caca. ”Usai tampil dan turun dari panggung, Caca kontan menubruk saya dan mengatakan ‘Aku punya surprise untuk Bunda’. Tangan kecilnya menyodorkan sebuah hadiah yang ia bungkus dengan kertas putih berhias dan bertuliskan ‘Thanks for Watching Me, Mom!’ Subhanallah, perasaan saya langsung nyess ketika memeluknya saat itu. Tulisan Caca menyadarkan saya betapa berartinya kehadiran saya bagi anak seperti dia,” lanjut Asma.

Asma merasa bersyukur lantaran bisa menyaksikan performance buah hatinya. Betapa banyak orangtua yang enggan terlibat dalam kegiatan sekolah sang buah hati, dengan dalih kesibukan yang menggunung. ”Untunglah saya mengundurkan jadwal keberangkatan saya ke luar kota. Dengan membaca tulisan Caca, saya merasa menjadi sosok yang begitu berharga untuk dia.”

Selain melahirkan puluhan buku best seller, Asma Nadia juga kerap mengisi seminar seputar Keluarga Sakinah, di berbagai pelosok daerah, hingga ke mancanegara. Suami Asma, Isa Alamsyah adalah seorang motivator sekaligus penulis. Sepasang suami-istri ini begitu kompak dalam menjalani bahtera rumah tangga, dus memberikan pendidikan yang terbaik bagi buah hati mereka. ”Sebagai orangtua, tugas kita untuk terus mengompori anak-anak, agar mereka terpacu dan berbuat. Agar mereka percaya, they do own the ability to do something. Mereka bisa berbuat sesuatu dan lebih percaya diri untuk menjalani hari sekaligus menatap masa depan,” tukas Asma, “Jadi, ayolah kita para orangtua sama-sama memberi ruang seluas-luasnya, bagi anak-anak kita dan belajar mempercayai. Bahwa mereka bisa!”

Kendati tampak kompak luar dalam, bukan berarti sosok Asma Nadia tampil sebagai “super-mom” di keluarga mereka. ”Kadang ada kalanya anak-anak saya kalau lagi asyik main sama ayahnya, terus saya nyamperin ’Eh, udah pada belajar belum?’ Spontan, anak-anak saya nyeletuk, ’Waduh ada GAN nih… Gangguan Asma Nadia’ Hehehhe,” kelakar Asma. Pun ketika Asma dan suaminya menjalankan Ibadah Haji. Ketika tengah wukuf di Padang Arafah, di luar dugaan, Isa Alamsyah, sang suami, memanjatkan doa yang cukup ‘unik’, ”Ya Allah, semoga ibunya anak-anak tidak bawel-bawel amat…”

Asma percaya bahwa tidak ada pasangan ataupun keluarga yang sempurna. Sebagaimana yang tertulis di cover buku Sakinah Bersamamu. Begini bunyinya: Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna. ”Sakinah memang harus diusahakan. Berusaha menjadi pasangan yang menyenangkan, bersyukur atas bagaimanapun kondisi pasangan kita. InsyaAllah dengan memiliki tujuan yang sama, yaitu menggapai ridho Yang Maha Kuasa, maka perjalanan rumah tangga kita akan menjadi indah,” pungkasnya.(*)

Image

Sempat dinasihatin juga, supaya saya istiqomah berdiet *uhuk!*

 

Felix Siauw: Saya Striker, Istri Defender sekaligus Kiper

Image
Kalau Anda rajin twitter-an, akun @FelixSiauw barangkali bukan nama asing. Ustadz muda ini mulai dikenal orang gara-gara rajin berdakwah via twitter. Kalimat-kalimat singkat, padat, mengena dan bernas adalah ciri khas tweet-nya. Follower beliau juga bejibun. Sudah menembus angka 500 ribu lebih. Belakangan, Ustadz Felix kian dikenal karena menulis buku yang cukup “menohok” anak muda Indonesia. Buku “Udah, Putusin Aja!” bernuansa pink, namun isinya amat “tajam”, mengkritisi fenomena pacaran. Berikutnya, Ustadz Felix meluncurkan “Yuk, Berhijab!” yang juga membuat para muslimah harus kembali berinstropeksi “Sudah sesuai syariatkah hijab yang kukenakan selama ini?”
 
Baru-baru ini, saya dan suami berbincang sejenak dengan beliau, sesaat sebelum Ustadz Felix mengisi acara di Unesa Ketintang Surabaya.
 
 
Bagaimana Anda mendeskripsikan profil keluarga Anda?
Dari awal, cita-cita besar yang kami canangkan adalah, ingin memiliki keluarga yang berintikan dakwah. Jadi, dakwah adalah semangat yang harus terus ada dalam segala aktivitas yang kami lakukan. Alhamdulillah, kami dikarunia banyak anak. InsyaAllah mereka lahir untuk mengemban dakwah. Mereka akan menjadi generasi berikutnya yang hadir untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Jadi, sedari kecil, saya membiasakan anak-anak untuk dekat dengan semangat dakwah. Misalnya, Alila (5 tahun), anak saya yang paling besar, selalu saya biasakan untuk pakai jilbab. Kami juga mengenalkan apa dan bagaimana profesi yang digeluti oleh Bapaknya. Saya ceritakan aktivitas dakwah yang saya lakukan, tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.
 
InsyaAllah, kalau nilai dakwah ini sudah tertanam dalam diri anak, maka dakwah akan menjadi“habbits” buat mereka. Seperti yang saya kupas dalam buku Master Your Habits. Bisa dipastikan, dalam kehidupan hasil-hasil yang kita dapatkan adalah buah dari kebiasaan kebiasaan yang kita lakukan. Oleh karena itu, bagaimana cara kita bisa mendapatkan habbit / kebiasaan yang baik adalah satu tuntutan yang mesti ada ikhtiar kita secara maksimal.
 
Lalu bagaimana cara agar kita bisa membuat sebuah kebiasaan? Caranya bermula dari apa yang kita pikirkan. Jika yang kita pikirkan adalah untuk menjadi orang kaya, maka tindakan tindakan kita juga akan merepresentasikan pikiran tadi. Jadi yang mesti kita perbaiki, ubah cara berpikir kita. Dari cara berpikir, lalu kita mampu merubah cara bersikap. Setelah itu, ubah cara bertindak. Dan bila kita konsisten dengan segala tindakan yang kita lakukan tadi, maka itulah yang akan membuat kebiasaan atau “habbits” kita. Intinya, apa yang dilakukan terus-menerus, jadi sesuatu yang diutamakan.
 
Jadwal Ustadz amat padat ya. Rutin isi kajian di Jakarta dan sekitarnya, juga sering keliling Indonesia dan luar negeri untuk berdakwah. Bagaimana Anda memainkan peran “ayah”, kendati jarang bertemu dengan keluarga?
Untuk orang tua yang sering pergi karena tugas dakwah, luangkanlah waktu untuk anak ketika kita tengah berada di rumah. Saya sering menceritakan kisah-kisah Rasul dan sahabat jelang tidur.
Lalu, saya membacakan Al-Qur’an. Saya minta anak untuk mengulang ayat yang baru saya baca. Setelah itu, kami saling mendiskusikan isi ayat. Tafsir dengan cara yang mudah dipahami oleh anak kecil.
 
Selain itu, saya juga berkomitmen agar anak-anak punya waktu seharian full untuk pergi sama bapaknya. Untuk apa? Bukan sekedar pergi bersenang-senang, tapi aktivitas ini kami lakukan untuk transfer karakter. Perlu digarisbawahi ya, transfer karakter, bukan sekedar transferknowledge. Karena kalau sekedar transfer knowledge, maka anak-anak kita bisa mendapatkan dari mana saja. Malah, mesin pencari google bisa lebih jago dari kita, para ortu atau ustadz(ah)nya di sekolah.
 
Transfer karakter tidak bisa tidak, harus dilakukan oleh orangtua. Di sinilah, kami menanamkan kecintaan kepada Islam, semangat untuk dakwah dan hal-hal baik lainnya. Jadi, peran “ayah” tetap bisa saya mainkan, kendati saya jarang berada di rumah.
 
Dalam hal mendidik anak, memang betul saya memberikan porsi lebih besar kepada istri. Karena itulah, istri saya tidak bekerja, beliau fokus mengurus anak. Karena kalau istri saya kerja, maka ia akan sibuk mengejar karir. Dan, beliau akan kehilangan masa pertumbuhan anak yang tidak mungkin berulang. Jangan sampai hal itu akan beliau sesali di masa mendatang. Kesepakatan ini saya buat bersama istri. Jadi, ibarat lagi main bola, peran saya sebagai strikeralias penyerang, sementara istri yang jadi defender sekaligus kiper alias jaga gawang.  
 
Apakah anak tidak pernah protes melihat kesibukan ayahnya yang seolah tak ada jeda?
Ya, baru-baru ini Alila, yang paling besar sudah bisa protes. Dia bilang, “Umi, abi kok nggak ada liburannya sih?”  
 
Ya, kami jelaskan, kalau abinya ini harus menjalankan aktivitas dakwah. Alila harus ikhlas dengan kondisi ini. Kami ajak membandingkan dengan anak-anak lain yang orangtuanya harus kerja berbulan-bulan atau bertahun-tahun tidak pulang, sebagai pelaut misalnya. Bahkan,ada anak yang tidak bisa bertemu lagi dengan ayahnya karena sang ayah sudah meninggal dunia. Jadi, bagaimanapun juga, anak-anak tetap harus bersyukur dengan kondisi sekarang. Karena apa yang abi lakukan ini aktivitas mulia.
 
Kok bisa anak saya protes? Ceritanya, waktu itu ada tugas dari sekolah. Murid-murid diminta menceritakan apa saja yang dilakukan selama liburan kemarin. Nah, karena tiap weekend, saya ada undangan dakwah, dan Alila nggak pergi kemana-mana, jadi dia nangis, nggak tahu harus cerita apa.
Anak saya sempat merasa kecil hati. Lalu, saya jelaskan, Alila nggak perlu kecil hati. Karena abinya ini kan dakwah dan pengusaha juga, bukan karyawan. Jadi, abi tidak libur di akhir pekan, seperti karyawan pada umumnya.
 
Saya kasih penegasan ke anak-anak bahwa libur itu tidak harus berupa kegiatan akhir pekan, pergi ke Puncak, atau kebun binatang, atau ke tempat semacam itu. Libur tidak harus kayak begitu. Libur adalah kegiatan yang dilakukan dengan seluruh anggota keluarga, bisa tujuannya ke mana saja, dan di hari apa saja. Misalnya, saya ajak dia ke Masjid. Atau, saya ajak untuk datang di salah satu acara dimana saya jadi pembicara. Aktivitas sejenis, yang bisa mengeratkanbonding antara orangtua dan anak, itulah esensi liburan yang sebenarnya.
 
Sebagai pegiat dakwah, Anda kerap mengusung hal yang anti-mainstream. Misalnya, ketika Anda mengkritisi style berhijab muslimah. Apa memang ciri khas Anda memang selalu anti-mainstream seperti ini?
Setiap kebenaran harus disampaikan. Ketika sekarang banyak style hijab yang macam-macam, dan itu memakan porsi besar dari muslimah kita, tidak serta merta kita harus ikut-ikutan porsi besar tadi. Walaupun kita harus mengapresiasi bahwa karena trend hijab itu ada positifnya. Banyak perempuan yang sekarang jadi mengenakan hijab, karena mereka melihat hijab itu tidak mengerikan dan tetap bisa tampil gaya.
 
Meski ada hal positif dari gelombang style hijab, bukan berarti syariat bisa diganti. Hijab itu tidak ribet, tidak perlu tutorial. Pada dasarnya, hijab sesuai syariat itu yang sederhana, dan sesuai panduan dalam Al-Qur’an.
Bagaimana dengan muslimah yang berhijab tapi belum sempurna? Ya, kita tetap harus apresiasi. Kemudian, kita ajak untuk kembali ke panduan hijab yang benar. Jangan sampai kita melakukan dakwah dengan pendekatan yang salah. Kita bilang hijab gaul itu salah, dosa, dll. Tapi, kita ajak dengan santun, bahwa sosok muslim(ah) yang baik itu harus terus-menerus membenahi diri. Termasuk, menghijabi diri sesuai syariat, bukan karena tuntutan mode.(*)
 
Nama lengkap: Felix Siauw
Nama Istri: Parsini
 
Nama Anak:
1.       Alila Shaffiya Asy-Syarifah
2.       Shifr Muhammad Al-Fatih 1453
3.       Ghazi Muhammad Al-Fatih 1453
4.       Aia Shaffiya Asy-Syarifah