islam, parenting, Uncategorized

Felix Siauw: Saya Striker, Istri Defender sekaligus Kiper

Image
Kalau Anda rajin twitter-an, akun @FelixSiauw barangkali bukan nama asing. Ustadz muda ini mulai dikenal orang gara-gara rajin berdakwah via twitter. Kalimat-kalimat singkat, padat, mengena dan bernas adalah ciri khas tweet-nya. Follower beliau juga bejibun. Sudah menembus angka 500 ribu lebih. Belakangan, Ustadz Felix kian dikenal karena menulis buku yang cukup “menohok” anak muda Indonesia. Buku “Udah, Putusin Aja!” bernuansa pink, namun isinya amat “tajam”, mengkritisi fenomena pacaran. Berikutnya, Ustadz Felix meluncurkan “Yuk, Berhijab!” yang juga membuat para muslimah harus kembali berinstropeksi “Sudah sesuai syariatkah hijab yang kukenakan selama ini?”
 
Baru-baru ini, saya dan suami berbincang sejenak dengan beliau, sesaat sebelum Ustadz Felix mengisi acara di Unesa Ketintang Surabaya.
 
 
Bagaimana Anda mendeskripsikan profil keluarga Anda?
Dari awal, cita-cita besar yang kami canangkan adalah, ingin memiliki keluarga yang berintikan dakwah. Jadi, dakwah adalah semangat yang harus terus ada dalam segala aktivitas yang kami lakukan. Alhamdulillah, kami dikarunia banyak anak. InsyaAllah mereka lahir untuk mengemban dakwah. Mereka akan menjadi generasi berikutnya yang hadir untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Jadi, sedari kecil, saya membiasakan anak-anak untuk dekat dengan semangat dakwah. Misalnya, Alila (5 tahun), anak saya yang paling besar, selalu saya biasakan untuk pakai jilbab. Kami juga mengenalkan apa dan bagaimana profesi yang digeluti oleh Bapaknya. Saya ceritakan aktivitas dakwah yang saya lakukan, tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.
 
InsyaAllah, kalau nilai dakwah ini sudah tertanam dalam diri anak, maka dakwah akan menjadi“habbits” buat mereka. Seperti yang saya kupas dalam buku Master Your Habits. Bisa dipastikan, dalam kehidupan hasil-hasil yang kita dapatkan adalah buah dari kebiasaan kebiasaan yang kita lakukan. Oleh karena itu, bagaimana cara kita bisa mendapatkan habbit / kebiasaan yang baik adalah satu tuntutan yang mesti ada ikhtiar kita secara maksimal.
 
Lalu bagaimana cara agar kita bisa membuat sebuah kebiasaan? Caranya bermula dari apa yang kita pikirkan. Jika yang kita pikirkan adalah untuk menjadi orang kaya, maka tindakan tindakan kita juga akan merepresentasikan pikiran tadi. Jadi yang mesti kita perbaiki, ubah cara berpikir kita. Dari cara berpikir, lalu kita mampu merubah cara bersikap. Setelah itu, ubah cara bertindak. Dan bila kita konsisten dengan segala tindakan yang kita lakukan tadi, maka itulah yang akan membuat kebiasaan atau “habbits” kita. Intinya, apa yang dilakukan terus-menerus, jadi sesuatu yang diutamakan.
 
Jadwal Ustadz amat padat ya. Rutin isi kajian di Jakarta dan sekitarnya, juga sering keliling Indonesia dan luar negeri untuk berdakwah. Bagaimana Anda memainkan peran “ayah”, kendati jarang bertemu dengan keluarga?
Untuk orang tua yang sering pergi karena tugas dakwah, luangkanlah waktu untuk anak ketika kita tengah berada di rumah. Saya sering menceritakan kisah-kisah Rasul dan sahabat jelang tidur.
Lalu, saya membacakan Al-Qur’an. Saya minta anak untuk mengulang ayat yang baru saya baca. Setelah itu, kami saling mendiskusikan isi ayat. Tafsir dengan cara yang mudah dipahami oleh anak kecil.
 
Selain itu, saya juga berkomitmen agar anak-anak punya waktu seharian full untuk pergi sama bapaknya. Untuk apa? Bukan sekedar pergi bersenang-senang, tapi aktivitas ini kami lakukan untuk transfer karakter. Perlu digarisbawahi ya, transfer karakter, bukan sekedar transferknowledge. Karena kalau sekedar transfer knowledge, maka anak-anak kita bisa mendapatkan dari mana saja. Malah, mesin pencari google bisa lebih jago dari kita, para ortu atau ustadz(ah)nya di sekolah.
 
Transfer karakter tidak bisa tidak, harus dilakukan oleh orangtua. Di sinilah, kami menanamkan kecintaan kepada Islam, semangat untuk dakwah dan hal-hal baik lainnya. Jadi, peran “ayah” tetap bisa saya mainkan, kendati saya jarang berada di rumah.
 
Dalam hal mendidik anak, memang betul saya memberikan porsi lebih besar kepada istri. Karena itulah, istri saya tidak bekerja, beliau fokus mengurus anak. Karena kalau istri saya kerja, maka ia akan sibuk mengejar karir. Dan, beliau akan kehilangan masa pertumbuhan anak yang tidak mungkin berulang. Jangan sampai hal itu akan beliau sesali di masa mendatang. Kesepakatan ini saya buat bersama istri. Jadi, ibarat lagi main bola, peran saya sebagai strikeralias penyerang, sementara istri yang jadi defender sekaligus kiper alias jaga gawang.  
 
Apakah anak tidak pernah protes melihat kesibukan ayahnya yang seolah tak ada jeda?
Ya, baru-baru ini Alila, yang paling besar sudah bisa protes. Dia bilang, “Umi, abi kok nggak ada liburannya sih?”  
 
Ya, kami jelaskan, kalau abinya ini harus menjalankan aktivitas dakwah. Alila harus ikhlas dengan kondisi ini. Kami ajak membandingkan dengan anak-anak lain yang orangtuanya harus kerja berbulan-bulan atau bertahun-tahun tidak pulang, sebagai pelaut misalnya. Bahkan,ada anak yang tidak bisa bertemu lagi dengan ayahnya karena sang ayah sudah meninggal dunia. Jadi, bagaimanapun juga, anak-anak tetap harus bersyukur dengan kondisi sekarang. Karena apa yang abi lakukan ini aktivitas mulia.
 
Kok bisa anak saya protes? Ceritanya, waktu itu ada tugas dari sekolah. Murid-murid diminta menceritakan apa saja yang dilakukan selama liburan kemarin. Nah, karena tiap weekend, saya ada undangan dakwah, dan Alila nggak pergi kemana-mana, jadi dia nangis, nggak tahu harus cerita apa.
Anak saya sempat merasa kecil hati. Lalu, saya jelaskan, Alila nggak perlu kecil hati. Karena abinya ini kan dakwah dan pengusaha juga, bukan karyawan. Jadi, abi tidak libur di akhir pekan, seperti karyawan pada umumnya.
 
Saya kasih penegasan ke anak-anak bahwa libur itu tidak harus berupa kegiatan akhir pekan, pergi ke Puncak, atau kebun binatang, atau ke tempat semacam itu. Libur tidak harus kayak begitu. Libur adalah kegiatan yang dilakukan dengan seluruh anggota keluarga, bisa tujuannya ke mana saja, dan di hari apa saja. Misalnya, saya ajak dia ke Masjid. Atau, saya ajak untuk datang di salah satu acara dimana saya jadi pembicara. Aktivitas sejenis, yang bisa mengeratkanbonding antara orangtua dan anak, itulah esensi liburan yang sebenarnya.
 
Sebagai pegiat dakwah, Anda kerap mengusung hal yang anti-mainstream. Misalnya, ketika Anda mengkritisi style berhijab muslimah. Apa memang ciri khas Anda memang selalu anti-mainstream seperti ini?
Setiap kebenaran harus disampaikan. Ketika sekarang banyak style hijab yang macam-macam, dan itu memakan porsi besar dari muslimah kita, tidak serta merta kita harus ikut-ikutan porsi besar tadi. Walaupun kita harus mengapresiasi bahwa karena trend hijab itu ada positifnya. Banyak perempuan yang sekarang jadi mengenakan hijab, karena mereka melihat hijab itu tidak mengerikan dan tetap bisa tampil gaya.
 
Meski ada hal positif dari gelombang style hijab, bukan berarti syariat bisa diganti. Hijab itu tidak ribet, tidak perlu tutorial. Pada dasarnya, hijab sesuai syariat itu yang sederhana, dan sesuai panduan dalam Al-Qur’an.
Bagaimana dengan muslimah yang berhijab tapi belum sempurna? Ya, kita tetap harus apresiasi. Kemudian, kita ajak untuk kembali ke panduan hijab yang benar. Jangan sampai kita melakukan dakwah dengan pendekatan yang salah. Kita bilang hijab gaul itu salah, dosa, dll. Tapi, kita ajak dengan santun, bahwa sosok muslim(ah) yang baik itu harus terus-menerus membenahi diri. Termasuk, menghijabi diri sesuai syariat, bukan karena tuntutan mode.(*)
 
Nama lengkap: Felix Siauw
Nama Istri: Parsini
 
Nama Anak:
1.       Alila Shaffiya Asy-Syarifah
2.       Shifr Muhammad Al-Fatih 1453
3.       Ghazi Muhammad Al-Fatih 1453
4.       Aia Shaffiya Asy-Syarifah
 
Advertisements

3 thoughts on “Felix Siauw: Saya Striker, Istri Defender sekaligus Kiper”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s